Bab 1

"Mas bicara apa sih? Ayok pulang," Ujar

Ana.

Kakinya sudah berjalan meninggalkan pria itu, dia benar-benar malu, mengapa bisa ada seorang pria sepeka itu terhadap sekelilingnya.

Di dalam Mobil.

"'Ah sial!" Maki Aris dalam hati. Saat merasakan celananya yang terasa sedikit sesak.

Betapa dia menginginkan gadis itu malam ini, tubuhnya benar-benar membuatnya candu, apalagi sudah lama dia menahan hasratnya semenjak berpisah dengan mantan istrinya itu, andai mereka sudah menikah, mungkin saat ini gadis itu sudah berada di bawah tubuhnya.

"Kyaaa." Tanpa sadar Ana langsung histeris saat melihat celana pria itu yang tampak menonjol, dia benar-benar malu. Andai tadinya dia tidak mengabulkan permintaan pria itu, yang pastinya sekarang ini dia tidak akan menemukan pemandangan yang begitu menjijikan itu, dia sempat menyesal karena sudah menuruti kemauan pria itu tadinya.

"Apa kau ingin menyentuhnya sayang?"

Tawar Aris. Bibirnya tersenyum menggoda.

"lihh mas mesum!" Maki Ana lalu membuang pandangannya ke arah luar kaca mobil. Dia kesal sekali dengan ulah nakal pria itu.

Sementara Aris lagi-lagi hanya terkekeh lalu melajukan mobilnya untuk pulang.

Walau bagaimanapun begitu bernafsunya dia saat ini, dia tetap berusaha menahannya.

Karena alasan status mereka yang belum menikah.

******

Beberapa hari kemudian.

Puk..

Tepukan lembut di bahu Ana.

"Lho kok murung gitu sih wajahnya?"

Tanya Sheri khawatir saat melihat ulah sahabatnya itu.

Ana sengaja kembali mengajak sahabatnya itu untuk menginap di rumahnya, demi menemaninya di sana selama kepergian calon suaminya itu.

"Gak kok, gue lagi kangen aja sama mas

Aris, Jawab Ana jujur.

"Ihh cie..ciee... Yang sekarang lagi kangen kangenan, Ledek Sheri.

"Kenapa Iho gak telepon aja sih? kalau lagi kangen' Ujar Sheri memberi saran.

"Gue gak mau ganggu mas Aris, lagian kayaknya mas Aris lagi sibuk banget, buktinya sudah beberapa hari kepergian dia ke luar negeri, dia gak ada telepon gue sampai sekarang," Jawab Ana lesu.

"Yang sabar ya sayang, ujian, lagi pula kan kalau udah pulang nanti kalian langsung nikah, kan enak tu, pas malam pertama kalian bisa langsung curahin semua gejolak kerinduan yang ada di dada ya kan, ya kan,'

Jjar Sheri. Sembari mengedip-ngedipkan matanya untuk menggoda sahabatnya itu.

"Ihhh lu apaan sih, bikin malu tau gak"

Jawab Ana. Wajahnya sudah memerah.

"Hahaah, duhhh perut gue mendandak sakit ni gara-gara ngerujak tadi, gue tinggal kebelakang dulu ya an?" Pamit Sheri. Seraya memegangi perutnya yang sakit.

"Ya Jawab Ana.

Setelah kepergian sahabatnya itu Ana pun memilih untuk keluar rumah demi untuk duduk di bangku taman yang ada di hadapan rumahnya itu.

Angin sore berhembus menerpa tubuhnya,

Ana menyesal karena baru kali ini duduk di sana setelah sekian lama tinggal di rumah itu.

Pemandangan yang ada di depan rumahnya itu benar-benar mengingatkannya akan kampung halamannya dulu.

"*Ah rindunya, andai nantinya bisa kembali e kampung halaman bareng mas Aris*" Gumam Ana.

"Non, bibik mau belanja dulu ya, kebetulan semua keperluan rumah udah pada habis' Jjar pembantu rumah tangganya itu meminta izin. Seketika langsung membubarkannya dari lamunannya itu.

"Ah iya bik, sekalian beliin Ana martabak di tempat biasa yang Ana pesan sama bibik beberapa waktu yang lalu ya' Pesan Ana.

"lya non," Jawab bibik itu.

Tak lama setelah kepergian pembantu rumah tangganya itu. Telinga Ana pun langsung menangkap sebuah suara deru mesin mobil yang tepat berhenti di hadapannya itu.

Ana sempat bertanya-tanya dalam hatinya saat melihat mobil yang tak di kenalinya itu berhenti di sana. Matanya terus menatap ke arah mobil itu untuk mengetahui siapa pemiliknya dan juga apa maunya.

Tak.takkk.

Suara langkah kaki si pemilik mobil berjalan mendekat ke arahnya.

Deg...deggg.

Jantung Ana seketika berdetak sangat kencang saat mengenali siapa perempuan itu, tubuhnya langsung gemetaran dan bermandikan keringat.

Sepanik apapun dia saat ini, namun bibirnya tetap dia usahakan untuk terus tersenyum ke arah perempuan itu. Entah sejak kapan

Ana menyadari, dirinya yang sekarang benar-benar sudah cocok untuk terjun ke dunia entertainment karena kemampuan aktingnya yang sudah cukup hebat.

"lbuk' Sapa Ana lembut. Lalu cepat-cepat berdiri dari duduknya untuk menyambut kedatangan mantan majikannya itu.

Tangannya sudah terulur demi untuk menyalimi perempuan itu.

Plakkk..

Bella pun langsung mendaratkan tamparannya di pipi gadis itu. Dia benar-benar geram saat melihat ulah gadis itu.

"Lancang sekali gadis ini, masih bisa memasang tampang polosnya itu untuk mencoba mengelabuiku' Maki Bella dalam hatinya.

Sementara Ana hanya terlonjak kaget dengan perlakuan mantan majikannya itu. Perih, pipinya terasa perih akibat tamparan wanita itu. Namun bibirnya tetap ia paksakan agar terus tersenyum ke arah perempuan itu.

"lbuk, kenapa ibu menampar Ana? apa Ana ada melakukan kesalahan sama ibuk' Ujar

Ana meminta penjelasan.

Plakkk..

Bella kembali mendaratkan tamparannya di pipi gadis itu saat mendengar ucapannya yang sok pura-pura bodoh itu.

Sementara

Ana lagi-lagi hanya bisa meringis kesakitan saat merasakan pipinya yang semakin bertambah perih.

"*****! Apa kau pikir aku sebodoh itu heh! aku tidak akan tertipu lagi dengan tampang pura-pura polosmu itu sekarang, seharusnya sejak jauh hari sebelum kau merebut mas Aris dariku kau harus pikirkan beberapa kali terlebih dahulu dengan siapa kau akan berhadapan ehhh!" Maki Bella geram.

Matanya menatap tajam ke arah gadis itu.

Dia geram sekali karena selama ini bisa tertipu saat melihat tampang polos wanita

Srigala berbulu domba itu.

Degg...deg.degg

Debaran jantung Ana pun semakin berpacu dengan sangat cepatnya. Seakan-akan dirinya baru saja menyelesaikan lomba lari maraton, saat mendengar penuturan wanita itu.

Dia tak menyangka kalau perasaan tak tenang yang terus menghinggapinya selama beberapa hari terakhir ini benar-benar terjadi.

"lbuk, maksud ibuk apa? Ana gak pernah ada niatan sekalipun buat rebut bapak dari ibuk' Ujar Ana membela diri.

"Gak pernah ada niatan sekalipun buat rebut mas Aris dari aku kamu bilang!?"

Kecam Bella. Tangannya sudah mengepal erat karena semakin geram.

"Buk, sungguh Ana gak pernah rebut bapak dari ibuk, bahkan kami menjalin hubungan saja pas bapak udah resmi cerai sama ibuk" Ujar Ana menjelaskan.

"Heh kau pikir aku akan percaya begitu saja dengan kata-katamu itu heh, aku lebih mengenal mas Aris di banding kamu, aku benar-bernar gak nyangka ya An kalau kamu itu rupanya diam-diam goda mas Aris di belakang aku, dasar kamu pelakor! wanita murahan, apa kamu segitu gak lakunya ehh sampai harus merusak rumah tangga orang lain!" Maki Bella lagi.

Tangannya sudah menjambak rambut gadis itu, sementara Ana hanya meringis kesakitan.

"Buk, Ana gak salah, Ana gak pernah menggoda suami ibuk sekalipun." Ana masih bersikeras membela diri, karena nyatanya dia memang tak pernah menggoda pria itu.

Deg.

Saat dia mengucapkan kata-kata itu.

Tiba-tiba memory ingatannya kembali melintas tentang kejadian saat pertama kali dia tinggal di rumah itu.

Yang mana dengan santainya dia meminta pertolongan pada majikan prianya itu untuk menemaninya tidur di saat mati lampu waktu itu. "Ah, apakah itujuga termasuk menggoda?"

Batin Ana.

Ana pun baru tersadar kalau perbuatannya waktu itu benar-benar sudah salah. Tidak seharusnya dia meminta pertolongan kepada seorang pria untuk menemaninya tidur di kamar walaupun situasi saat itu tidak memungkinkan, terlebih pria itu juga sudah beristri.

Bahkan karena ulahnya itu,mereka juga sempat bercumbu walaupun tanpa ****

"Ehhh di dunia ini mana ada maling yang ngaku maling, dasar ******! wanita murahan!" Caci makian tak hentinya terlontar dari mulut Bella.

Tangannya semakin kuat untuk menjambak rambut gadis itu.

"Buk maafin Ana buk, Ana emang pernah ngajak pak Aris buat nemenin Ana tidur di kamar, karena waktu itu situasinya lagi darurat, tapi sungguh buk, Ana hanya memintanya untuk menemani Ana tidur di kamar, tanpa melakukan apa-apa, di hati

Ana gak pernah ada niatan sekalipun buat rebut bapak dari ibuk' Jawab Ana.

Tubuhnya sudah beringsut ke kaki perempuan itu, untuk mendapatkan pengampunannya.

Bab 2

"Heh hebat Ana! kau benar-benar hebat, lihatlah! betapa murahannya dirimu sanmpai berani meminta majikanmu sendiri untuk menidurimu, dan parahnya lagi, pria yang kau mintai tidur denganmu itu sudah beristri ehhh!"

Kemarahan Bella semakin memuncak saat mendengar pengakuan langsung dari mulut gadis itu. Semua amarahnya ia lampiaskan pada gadis itu, terlebih saat membayangkan pria yang begitu dia cintainya itu pernah tidur dengan wanita lain di saat status mereka masih suami istri.

Di saat seperti itu memangnya mereka bisa menahan diri tanpa melakukan apa-apa.

Sesetia apapun suaminya padanya waktu itu kalau di saat seperti situasi yang Ana ceritakan padanya barusan. Sangat tidak memungkinkan kalau di antara keduanya tidak terjadi apa-apa.

Terlebih kalau gadis itu memang secara sengaja melakukannya untuk menggoda suami tampannya itu.

"******| kau perempuan rendahan perempuan tak tahu malu!" Segala caci makian habis-habisan Bella lontarkan pada gadis itu.

"Hiks..hiks' Tangis Ana pun akhirnya pecah. Saat merasakan jemari tangannya yang terus-menerus di injak-injak oleh mantan majikannya itu. Dari semenjak dia mengakui kesalahannya kepada wanita itu.

Warna kulitnya yang semula putih mulus, kini sudah berubah merah karena memar akibat perbuatan Bella.

"******| kenapa kau menangis ehh!? kau pantas menerimanya' Maki Bella lagi.

Sepatu hak satu incinya itu terus menginjak-nginjak kedua tangan gadis yang tengah meratap memohon ampunan darinya itu.

"Ya tuhan, Bella udah Bel! kalau elho terus-terusan nyakitin fisiknya dia gue gak tahu lagi apa yang bakal Aris lakuin sama elho' Sela rekannya Bella yang dari tadi hanya diam di dalam mobilnya demi menyaksikan adengan itu.

Entah kenapa sejak dia melihat Ana yang wajahnya tampak polos dan seakan-akan tak punya dosa itu hatinya menjadi terenyuh, terlebih gadis itu tak ada melawan

Bella barang sedetikpun.

"Ngapain elho sekarang malah Belain dia? elho kan tadi dengar sendiri kalau dia itu emang pernah ngajak mas Aris tidur sama dia, Jawab Bella dengan kasarnya.

"Hiks...hikssss.... Ibuuu maafin Ana buk"

Ana masih bersikeras meminta maaf pada perempuan itu. Sesakit apapun fisiknya saat ini karena ulah perlakuan Bella, namun dia tetap menerimanya.

Dia sadar akan kesalahannya, andai dia tidak meminta majikannya untuk menemaninya tidur malam itu, kejadian memalukan itu pasti tak akan pernah terjadi.

"Ya tuhan ampuni dosa hambamu ini"

Batin Ana.

Dia merasa menyesal sekali, terlebih dirinya bersangkutan dengan pria yang sudah beristri. Walaupun hari itu dia juga turut menyesali perbuatannya, akan tetapi perasaan bersalahnya itu kembali mencuat bahkan semakin bertambah dari sebelumnya saat di labrak oleh mantan majikannya itu.

Plakkkk...

Rekan kerja Bella yang sudah tidak sanggup lagi menyaksikan adegan itu pun langsung menampar pipinya Bella, agar perempuan itu kembali tersadar.

"Hiks...hikss.." Kali ini Bella pun justru ikut menangis.

"Bell, maaf, gue gak ada maksud buat nyakitin elho, gue cuma mau bikin elho sadar, kalau elho itu udah kelewatan banget sama dia," Ujar temannya itu menjelaskan.

"Hiksss.Hiks...

Tangis Bella pun justru semakin pecah dari sebelumnya.

Hatinya terasa sakit sekali dengan pengakuan langsung dari Ana. Dia tak pernah menyangka kalau selama ini dia justru sudah berbagi pria dengan pembantunya itu.

"Anaaaa!" Teriak Sheri yang saat itu baru saja menemukan sahabatnya itu. Semenjak dia keluar dari kanmar mandi tadinya dia bermaksud untuk mencari Ana dengan berkeliling di rumah itu.

Namun belum sempat dia berkeliling, telinganya sayup-sayup sempat menangkap suara ribut-ribut dari luar rumah. dan malangnya saat sudah berada di luar rumah. dia justru menemukan pemandangan yang mengenaskan di bangku taman yang ada di luar rumah sahabatnya itu.

"Hiks...hiksss maafin Ana buk" Ratap Ana lagi. Bahkan tangannya pun sampai terasa kebas karena ulah Bella.

Halaman rumah yang tadinya tampak sejuk dan asri, kini di penuhi dengan suara tangisan, dan untungnya lokasi rumah Aris berada di pedalaman, bukan di jalanan raya besar, kalau tidak, mungkin saat ini mereka sudah menjadi tontonan orang banyak.

"Bel udahan, kita balik yuk! gue rasa pelajaran yang udah elho kasih sama di, tanpa elho mintapun dia bakalin ninggalin

Aris buat elho" Ujar temannya itu memberi saran.

Dia yakin sekali, kalau Ana tak sejahat seperti kebanyakan pelakor lainnya. Setelah melihat Ana yang secara sukarela sampai mengakui kesalahannya kepada Bella tadinya.

"Ya, antar gue pulang sekarang!" Pinta

Bella. Setelah itu keduanya pun langsung berjalan ke arah mobilnya. Bella dapat merasakan kalau setelah kejadian ini tanpa diminta pun Ana pasti akan meninggalkan

Aris dengan sendirinya. Saat melihat ulah gadis itu saat ini.

"Woyyy buka!" Teriak Sheri sembari menggedor-gedor kaca mobilnya Bella.

Hatinya ikut sakit, karena sempat menyaksikan perlakuan Bella pada sahabatnya itu tadi, dia sudah bertekad akan membalaskan dendam Ana pada wanita itu.

Namun orang yang berada di dalam mobil itu tak kunjung menghiraukannya. Rekannya

Bella justru menyalakan mobilnya lalu meninggalkan halaman rumah itu.

Sementara Bella hanya terbenam dalam kekalutannya atas pengkhiatan kedua sejoli itu. Nyeri. Ya itulah yang Bela rasakan.

Saat ini pikirannya benar-benar terasa kosong karena syok atas pengakuan Ana.

"'Sial!" Maki Sheri. Saat melihat mobil itu sudah menjauh.

Setelah itu Sheri pun langsung berbalik untuk menghampiri sahabatnya itu.

"Na kenapa elho bisa gini sih? satu lagi cewek itu siapa? kenapa dia menyiksa elho, dan kenapa elho malah diam aja, mana Ana yang selalu ngelawan di saat orang lain nindas elho?" Brondong Sheri setelah berada di dekat sahabatnya itu.

Sembari memapah tubuh Ana untuk membangunkannya.

"'Sher maafin gue, nanti aja gue cerita sama elho, tapi yang jelas di sini gue yang salah, elho bisa kan papah gue ke rumah dulu?" Tanya Ana. Airmata yang tadinya terus bergulir dari pipi putihnya itu perlahan mulai menghilang, walaupun tangannya masih terasa perih dan sakit akibat ulah

Bella.

"Kita ke rumah sakit sekarang ya! gue takut tangan elho kenapa-kenapa," Ujar

Sheri. Wajahnya tampak panik saat melihat kondisi gadis itu.

"Gak usah di rumah aja, please!" Ana sudah memohon.

"Tapi An, Iuka elho parah banget tu' Ujar

Sheri prihatin. Saat melihat jarinya yang sampai mengeluarkan sedikit darah akibat di injak oleh Bella tadinya.

"Udahan, gak papa, kalau besoknya belum sembuh juga baru kita ke rumah sakit," Ujar

Ana menenangkan.

Setelah mendengar penuturan sahabatnya itu, Sheri pun terpaksa menurutinya lalu memapah tubuhnya untuk membawanya ke dalam

"Hahaaaa gila, ternyata tu cewek cuma seorang pelakor, pantesan pak Aris tiba-tiba mau sama dia yang gak ada apa-apanya di banding Bella.!"

"lya ya, pantesan, ternyata cuma wanita murahan yang suka menggoda suaminya orang" Jawab teman di sebelahnya.

Kebetulan saat adegan itu sedang berlangsung, kedua wanita itu tengah berkendara di komplek perumahan elit situ. Jadi saat keduanya melihat adegan itu, mereka pun langsung menghentikan motornya sejenak demi menonton adegan itu.

"Tu mulut bisa di jaga gak!?" Kecam Sheri kepada kedua perempuan itu.

"Udahan sher, gak usah di gubris, tangan gue harus segera di obatin, Sela Ana.

Entah mengapa ada perasaan familiar di wajahnya saat melihat kedua wanita itu.

Dia juga tahu diri apa yang mereka katakan adalah kebenarannya, jadi baginya tak ada gunanya untuk menyangkalnya.

"Tapi Na."

"Udahan, bawa gue masuk sekarang!" Pinta

Ana.

Sheri Pun terpaksa menuruti gadis itu.

Bab 3

"Hahaaa sadar diri juga ternyata tu cewek, makannya dia gak mau ngelawan karena dia sadar akan statusnya yang hanya pelakor" Ujar salah satu dari perempuan itu.

"Hahaa iya, puas banget gue bisa nyaksiin dia menderita hari ini, Jawab temannya. "Itulah karma, salah sendiri, di saat kita meminta maaf baik-baik sama dia, dia justru gak maafin kita, makan tu karma.!" "Yoi, kalau orang-orang pada tahu kalau dia itu seorang pelakor, pasti lebih seru lagi, ya gak?"

"lya hahaa." Kedua wanita itu benar-benar puas saat melihat Anak yang tampak begitu menderita hari ini, bahkan gara-gara Ana sampai sekarang mereka berdua belum bisa menemukan pekerjaan di perusahaan manapun, karena akses mereka sudah di blokir oleh Aris.

Ting...tong..

Cklek

"Cari siapa?" Tanya Sheri saat melihat siapa yang bertamu ke rumah sahabatnya itu. "Cari Ana lah siapa lagi" Jawab Wanti.

Lalu langsung melengos masuk ke dalam rumah.

Di lihatnya sepupunya itu tengah duduk di ruang tengah sambil di mejanya di penuhi dengan kotak obat-obatan karena

Sheri baru saja akan mengobati lukanya.

Namun saat dia mendengar suara Bell rumahnya berbunyi, Sheri pun langsung mengurungkan niatnya demi membukakan pintu bagi tamunya itu.

"Ya ampun Na, kok tangan lo bisa kayak gini? kayak habis di injak-injak sama orang,

Iho Sheru Wanti.

Wajahnya dibuat sepanik mungkin, tapi hatinya bersorak kegirangan saat melihat kondisi sepupunya itu.

"Apa dia juga sempat menyaksikan adegan itu?" Batin Ana. Saat melihat ulah sepupunya itu.

"Ngapain lo ke sini?" Tanya Ana sinis.

"Aduh Na, jangan sinis-sinis gitu dong ama gue, mentang-mentang lo bakal jadi istrinya orang kaya, kalau tiba-tiba kalian gak jadi nikah gimana? lo kan gak punya siapa-siapa lagi selain keluarga lo yang miskin ini?" Ujar

Wanti.

"Udah, lo kemari mau ngapain? kita gak ada waktu buat ladenin lo' Sela Sheri.

"Nih gue cuma mau nganterin semur jengkol kesukaan lo, disuruh sama papa,"

Jawab Wanti acuh.

"Ya udah gue balik duluan ya, semoga tangan lo cepat sembuh' Lanjut Wanti lagi lalu langsung keluar dari rumah itu.

"Benar-benar hebat, kau tak perlu bekerja susah payah untuk menghancurkan hubungan mereka Wanti" Batin Wanti.

Bibirnya tersenyum menyeringai menatap ke arah ponselnya itu.

"Uhh belagu banget tu cewek, dia masih berani ngomong gitu sama lo, meskipun lo bakal jadi calon istrinya pria terkaya di kota ini, Ujar Sheri geram.

"Udahan, lo kan tau sendiri dia itu orangnya kayak gimana' Jawab Ana.

"lya, iya." Setelah itu Sheri pun langsung mengobati luka sahabatnya itu.

*****

Malamnya.

"Ah sudah lama aku tidak menghubungi wanita pujaan hatiku itu, karena terlalu sibuk mengurus pekerjaan di sini*" Gumam Aris.

Dia rindu sekali pada kekasihnya itu, tapi apalah daya ini semua dia lakukan demi untuk segera menyelesaikan semua pekerjaannya, agar mereka secepatnya bisa menikah.

Dret..dret..

Ponsel Ana berbunyi.

"Na, calon suami lo nelpon' Ujar Sheri memberitahu. Saat melihat nama yang tertulis di layar ponsel sahabatnya itu.

Ah ingin sekali Ana mengangkat telepon itu lalu mengatakan pada Aris kalau dia saat ini begitu rindu pada pria itu. Tapi sekarang ceritanya sudah berbeda, dia sadar akan kesalahannya, di sini statusnya hanyalah seorang pelakor yang tanpa sengaja sudah merebut pria itu dari istrinya.

"Andai saat itu kau tak pernah berbohong padaku mas" Batin Ana.

Dia benar-benar kecewa pada Aris.

Pantas saja saat dia menanyakan alasan pria itu pisah dari istrinya, Aris justru enggan menceritakannya. Semuanya sudah jelas bagi Ana, dari semenjak dia di labrak oleh mantan majikannya itu.

"Na dia nelpon lagi, Ujar Sheri lagi saat melihat panggilan yang keduanya sudah masuk di ponsel gadis itu.

"Lo aja yang angkat, lo tau kan apa yang harus lo bilang sama mas Aris' Jawab Ana.

Sheri pun hanya mengangguk menanggapi gadis itu, dia ikut sedih atas apa yang gadis itu alami saat mendengar semua ceritanya tadi. Entah kenapa lubuk hatinya menyangkal dengan sendirinya kalau gadis itu bukanlah seorang pelakor.

Namun saat dia memikirkan kembali cerita sahabatnya itu, dia juga tak dapat menyangkal, cerita gadis itu memang mengarah ke sana. Karena sudah melakukan kesalahan besar dengan mengajak pria beristri untuk menemaninya tidur.

Bahkan karena ulahnya itu, dengan tanpa sengaja sahabatnya itu sudah membuat majikannya jatuh cinta dari semenjak malam itu, yang berarti sama saja sudah menjadi penyebab kehancuran rumah tangga mereka.

"Apakah dia sudah tidur?" Gumam Aris lagi saat mendapati teleponnya itu tak kunjung dijawab oleh kekasihnya itu.

"Ah tidak mungkin, ini kan belum larut malam Batin Aris lagi. Saat mengingat waktu di tempatnya saat ini tak berbeda jauh dengan di Indonesia.

Tangannya kembali memencet nomor telepon kekasihnya itu.

Tut....

"Hallo Ujar suara dari seberang sana.

Sementara Aris sempat mengerutkan keningnya saat tahu kalau bukan kekasihnya yang mengangkat telepon itu.

"Hallo Ujar Sheri lagi.

"Ah ya, Hallo, kenapa kau yang mengangkatnya, Ana mana?"

"Ananya baru saja tidur pak! Jawab Sheri.

Matanya melirik ke arah sahabatnya itu. Dia dapat merasakan bagaimana terlukanya gadis itu saat ini atas kebohongan yang

Aris lakukan.

"Benarkah? aku tak menyangka kalau dia akan tidur secepat ini Jawab Aris.

Wajahnya tampak kecewa. Karena tak bisa mendengarkan suara wanita yang dapat menjadi penyemangatnya dalam hal pekerjaannya itu.

"iya pak."

"Baiklah kalau begitu, tolong kau beritahu padanya kalau aku akan pulang lebih cepat, 2 hari lagi aku sudah ke Indonesia" Ujar Aris memberitahu.

"Baik pak Jawab Sheri lagi.

Setelah itu panggilan pun langsung terputus.

"*Ah tak apalah kalau aku tak bisa mendengar suaranya, yang penting dua hari lagi aku sudah bisa menatap wajah cantiknya itu" Batin Aris. Bibirnya tersenyum mengembang saat memikirkan hari itu.

Setelah itu Aris pun lalu memejamkan kedua matanya demi mengistirahatkan tubuh lelahnya agar besoknya lebih fit untuk menyelesaikan semua pekerjaannya itu.

"Na, lo yakin mau batalin pernikahan kalian?"Tanya Sheri.

Dia dapat merasakan kalau gadis itu sangat menyayangi Aris, dan tak rela jika harus berpisah dengan pria itu.

"Tentu saja Sher, gue gak mau jadi orang egois, hanya karena demi kebahagian gue, gue sampai harus nyakitin orang lain, terlebih mas Aris juga udah buat gue kecewa banget' Jawab Ana.

Tanpa terasa saat dia mengucapkan kata-kata itu air matanya kembali bergulir, sakit, dadanya terasa nyeri saat membayangkan dirinya yang sebentar lagi akan berpisah dengan pria itu.

"Na yang kuat ya! gue yakin kalau kalian memang jodoh tuhan pasti punya caranya sendiri buat persatuin kalian lagi" Ujar Sheri prihatin Seraya mengelus-ngelus punggung gadis itu untuk menenangkannya.

"Hiiks...Hiks, kenapa tuhan gak adil banget sama gue Sher, gue baru aja mulai bahagia setelah lama hidup menderita tanpa orangtua gue selama ini, sekarang gue malah di bikin lebih terpuruk lagi dari itu' Ujar Ana di sela-sela tangisnya itu.

Air matanya semakin bergulir dengan derasnya.

Tekadnya sudah bulat, setelah calon suami dan mertuanya itu tiba di Indonesia, dia akan mengutarakan maksudnya. Alasan dia masih berada di rumah itu, hanya karena dia tengah menunggu kedatangan mereka.

Saat mengingat dia bisa masuk ke rumah itu dengan cara baik-baik, maka, jika dia ingin meninggalkan rumah itu, dia juga harus melakukannya dengan cara baik-baik.

Terlebih saat mengingat calon mertuanya yang sangat baik dalam memperlakukannya selama ini, dia akui dia sudah merasa nyaman dengan keluarga itu, bahkan sudah menganggap mereka seperti keluarganya sendiri.

"Sabar sayang, lo gak boleh berburuk sangka sama tuhan hanya karena elho putus asa kayak gini, gue yakin kalau tuhan sudah punya rencana buat hidup lo kedepannya, gue yakin semua ini ada hikmahnya" Ujar Sheri memberi nasihat.

Deggg..

Ana pun langsung tersadar saat mendengar ucapan sahabatnya itu, tidak seharusnya dia berburuk sangka seperti itu.

"Ya tuhan maafkan hambamu ini, hamba ikhlas jika kau kembali memberi ujian kepada hamba yang lemah ini Batin

Ana.

"Udahan, sebaiknya kita tidur sekarang ya!" Ujar Sheri seraya mengusap air mata sahabatnya itu.

Dia juga turut sedih atas apa yang gadis itu alami.

Sementara Ana hanya mengangguk, lalu memejamkan kedua matanya agar besoknya pikirannya sedikit tenang.

*******

Esoknya.

"Uhhhhh," Rintih Ana saat merasakan tangannya yang bertambah nyeri dari sebelumnya itu.

"Kenapa Na, tangan lo masih sakit?" Tanya

Sheri prihatin. Wajahnya sudah tampak panik.

"Iya Sher."

"Ya udah, kita ke rumah sakit sekarang!"

Ajak Sheri.

"Lho, non Ana mau kemana? tangannya kenapa?" Tanya pembantu rumahnya Ana saat melihat ulah kedua gadis itu yang tampak tergesa-gesa untuk segera keluar rumah.

"Gak papa bik, tadi malam Ana sempat kepleset, jadi tangan Ana kesleo, kita cuma mau ke panti pijat aja kok, jadi bibik gak usah khawatir, karena Ana baik-baik aja kok' Jawab Ana.

Wajahnya dibuat setenang mungkin agar pembantunya itu tak panik. Walau sejujurnya betapa dia menahan rasa sakit yang ada di tangannya saat ini.

"Oouh iya non, mau bibik temanin sekalian?"

"Gak usah bik, sama Sheri aja" Tolak Ana cepat.

"Ya sudahlah, hati-hati ya non, semoga cepat sembuh."

"iya, makasih doanya bik' Jawab kedua gadis itu serentak.

Setelah itu keduanya pun sudah terlihat meninggalkan rumah.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED