Amanda Santika tidak dapat mempercayai matanya sendiri. Dia melihat seorang mayat yang tergeletak sudah dibungkus dengan kain kafan tak bernyawa di hadapannya adalah Raka putranya sendiri.
"Tidak... Raka... Ini ibu, Nak. Ibu sudah kembali!" teriak Amanda Santika bersimpuh di sisi ranjang rumah sakit dan menutupi wajahnya saat dia menangis!
Suara tangisannya dipenuhi rasa tidak percaya, putus asa, dan rasa bersalah yang luar biasa. Hanya dalam waktu lima tahun telah berlalu sejak anaknya dilahirkan. Amanda Santika jarang memikirkan putranya, selain melihatnya ketika anaknya lahir.
Itu adalah sebuah tamparan yang keras di dalam hidupnya yang tidak pernah memperhatikan putranya.
"Ibu! Tenanglah kakak sudah ada di sini," ucap seorang pria muda tersentak kaget menghampiri wanita yang sudah cukup tua dan Amanda Santika.
Kemudian, seorang wanita yang sudah cukup tua memarahi Amanda Santika dengan berkata, "Apakah yang kamu tahu hanyalah menangis? Amanda Santika! Apa gunanya menangis sekarang? Pernahkah kamu peduli pada anakmu Raka setelah dia lahir? Di mana kamu saat itu? Dia menangis karena kerinduan akan sosok ibu. Di mana kamu saat dia belajar berjalan dan terjatuh?”
Wanita yang sudah cukup tua itu berhenti sejenak karena tidak kuat menahan rasa sakit dihatinya.
"Dalam lima tahun terakhir, tahukah kamu betapa Raka sangat merindukanmu? Betapa dia sangat merindukan ibunya? Tapi kamu bahkan tidak punya waktu untuk memeluknya dan mengajaknya untuk bermain!" ucap wanita tua itu dengan berderai air mata.
Wanita itu diliputi emosi, dan dia menangis secara tersedu-sedu. Dia meratap dan memarahi Amanda Santika dengan berkata, "Kasihan Raka, cucuku yang telah kamu sia-siakan. Bagaimana kamu bisa meninggalkan anakmu dan nenekmu begitu saja? Di mana hati nuranimu, Amanda Santika?"
Kemudian dia menunjuk ke arah Amanda Santika dan terus mengkritiknya, "Kamu telah gagal total sebagai seorang ibu. Kamu tidak peduli dengan Raka setelah dia lahir. Kamu adalah ibu yang jahat! Ketika anakmu membutuhkan kasih sayang. Sekarang kamu hanya bisa menangis sepuasnya di hari kematiannya.”
Pria muda itu adalah Salman yang merupakan adik laki-laki dari Amanda Santika, dia juga terlihat sedih tersedu-sedu. Dia mencoba membujuk ibunya dengan berkata, "Bu, Ibu harus tenang, ya. Ditambah lagi, kakak Amanda Santika sudah merasa sangat bersalah dan sedih atas kepergian Raka."
Sakit hati muncul di mata wanita tua itu lalu menegur Amanda Santika dengan berkata, "Apa? Kamu membelanya dia yang seolah-olah dia merasa bersalah! Yang bisa aku lihat hanyalah betapa busuknya dia!"
Salman tidak tahu bagaimana menghibur saudaranya yang sedang sedih, dia juga tidak tahu bagaimana menghibur ibunya yang sedang marah. Dia hanya bisa menghela nafas dan berkata pada mereka, "Ibu dan Kakak, kalian harus berhenti bertengkar. Aku mohon, biarkan Raka beristirahat dengan tenang!"
*********
Bulan April seharusnya menjadi bulan yang memiliki cuaca cerah dan indah. Namun hujan turun terus menerus. Hujan mengguyur kota dan menyelimutinya dengan suasana dingin yang menusuk kulit.
Amanda Santika terbangun dalam keadaan pandangan yang kabur. Saat dia perlahan membuka matanya, dia merasakan ada sesuatu yang tidak beres dan dirinya merasa kebingungan.
“Apa yang sedang terjadi?” tanya Amanda Santika sambil memijat kepalanya karena pusing.
Amanda Santika menjadi bingung dengan kondisi disekitarnya. Begitu Amanda Santika sadar kembali, kemarahan dan rasa malunya kembali muncul.
"Kamu sudah bangun dari tidur lelapmu? Kamu sangat cantik untuk seorang wanita perawan."
Pada saat itu, suara laki-laki terdengar di telinganya. Hati Amanda Santika tersentak mendengar suara itu.
“Suara ini,” gumam Amanda Santika dengan kebingungan dan ini adalah sesuatu yang tidak akan pernah dia lupakan seumur hidupnya.
“Bagaimana ini mungkin? Apakah aku?” kata Amanda Santika dengan kebingungan.
Amanda Santika sangat bingung dengan kondisi ini lalu dengan rasa amarah membakar dirinya dan berkata, “Apakah pria itu menculikku? Apakah dia mengetahui tenang anakku Raka? Bukankah Raka sudah wafat? Akankah dia akan membalas dendam padaku?”
Segala pertanyaan itu menghantam jiwa Amanda Santika seperti sebuah tamparan keras di hidupnya. Kematian Raka telah menguras semua emosinya dan dia kehilangan semangat untuk menjalani hidup ini.
"Ada apa?" tanya pria itu bertanya dengan penuh perhatian hingga memiringkan kepalanya. Dalam ruangan yang minim pencahayaan, senyuman jahat muncul di wajah pria tampan itu. Ini adalah pertama kalinya dia memedulikan seseorang dalam hidupnya.
Kehancuran di hatinya telah menelan Amanda Santika yang saat ini sedang kebingungan, dan dia hanya bisa menyerah pada mati rasa. Karena dia sudah kehilangan semangat untuk hidup, dia membiarkan pria itu melakukan apa pun yang dia ingin lakukan.
*********
Langit cerah dan sinar matahari di pagi hari menyinari menembus jendela. Di tempat tidur berukuran besar, sebuah lengan kurus cantik terlihat di luar selimut. Rambut hitam pekat dan halus yang mengalir menutupi wajah pemilik lengan itu.
Akhirnya, dengusan lembut terdengar dari bawah selimut. Lalu wajah yang sebelumnya tertutup rambut perlahan muncul.
Wajahnya tirus kecil dengan tekstur halus dan kulit putih. Bagian yang paling menarik perhatian adalah mata indah yang tersembunyi di bawah bulu mata tebal yang menyebar. Seperti keindahan alam semesta dapat ditemukan di dalam mata itu.
Amanda Santika mengangkat tangannya untuk menghalangi cahaya matahari yang menyilaukan matanya masuk menembus jendela kamarnya. Matanya dipenuhi rasa kebingungan dengan kondisinya saat ini.
Karena sudah terbiasa dengan kegiatan sehari-harinya, dia menoleh untuk melihat ke meja samping tempat tidur untuk memeriksanya. Namun, ketika pandangannya tertuju pada pernak-pernik mahal dan dekorasi mewah di lemari samping tempat tidur, pikirannya tiba-tiba menjadi jernih.
“Tempat apa ini? Aku sedang ada di mana ini?” tanya Amanda Santika di dalam hatinya. Lalu pikiran lain muncul memikirkan anaknya, “Raka!”
"Raka!" teriak Amanda Santika menarik kembali selimutnya dan melompat dari tempat tidur.
Saat Amanda Santika mencoba mencubit perutnya dan tubuh bagian bawahnya meringis kesakitan lalu berkata, “Itu bukan mimpi!”
Matanya tiba-tiba membelalak tak percaya dengan kondisi saat ini. Amanda Santika bergumam, "Pria itu akan kembali? Pasti karena dia mengetahui tentang anakku Raka."
Pikiran Amanda Santika kacau, tapi dia yakin akan satu hal, pria itu datang mencari Raka.
“Tidak! aku tidak bisa membiarkan dia mengganggu anakku Raka!” gumam Amanda Santika tidak akan membiarkan pria itu mengganggu anaknya Raka. Pikiran itu membuatnya marah dan panik sekaligus takut.
Amanda Santika memegang ponselnya, dan menatap layar ponselnya dengan mebelalakkan matanya karena tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
Amanda Santika melihat sekeliling ruangan dengan tatapan gelisah. Dia merasa sudah akrab menetap di sini lalu berkata, “Mengapa rasanya aku pernah ke sini sebelumnya?”
Bersambung...
Amanda Santika memegang ponselnya, dan menatap layar ponselnya dengan mebelalakkan matanya karena tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
“Apa? Waktu dan tanggal sekarang telah berubah!” gumam Amanda Santika dengan terkejut seolah-olah tidak percaya.
Amanda Santika ingat betul jika kemarin adalah pemakaman Raka, tepat pada 11 Oktober 2028. Namun waktu yang ditampilkan di layar adalah 19 Juli 2022!
“Apa? Sekarang tanggal 19 Juli 2022? Mungkinkah telepon aku rusak?” tanya Amanda Santika kebingungan sambil menggaruk kepalanya.
Amanda Santika segera memeriksa masuk ke dalam akun ponselnya, dan kemudian dia menyadari ada hal lain yang tidak beres. Itu bukan ponsel miliknya, setidaknya dia ingat jika dia memiliki ponsel pintar!
Ponsel yang dipegang oleh Amanda Santika adalah ponsel yang dia beli saat pertama kali mendapat gaji pertama dalam pekerjaannya. Dia tidak punya banyak uang, jadi dia membeli ponsel bekas yang murah hanya untuk menjawab panggilan ketika dibutuhkan.
Bahkan setelah dia punya cukup uang, dia tetap menggunakan telepon karena dia rindu dan teleponnya tidak pernah rusak. Namun, empat tahun lalu, dia harus menghentikan ponselnya karena rusak terjatuh, dan dia menggantinya dengan ponsel pintar.
Sambil memegang telepon lamanya, Amanda Santika merasa seperti transmigrasi ke masa lalunya sendiri untuk memperbaiki kesalahannya. Amanda Santika menampar wajahnya dengan keras beberapa kali untuk membangunkan dirinya dari mimpinya.
“Apakah ini mimpi?” ucap Amanda Santika lalu menampar pipinya sekali lagi dan berkata, “Aw... Sepertinya ini nyata”
Rasa sakitnya nyata, dan teleponnya nyata. Hal ini membuat Amanda Santika merasa lebih kebingungan.
“Apa yang terjadi dengan diriku? Bukankah aku sedang berduka atas kematian anakku Raka,” gumam Amanda Santika tidak tahu apa yang sedang terjadi.
Sesaat lalu, dia masih menangisi pemakaman anaknya. Saat berikutnya, dia berada di kamar mewah. Amanda Santika melihat ke kamar itu lagi dengan panik.
Ruangan itu besar dan bergaya arsitektur klasik. Itu terlihat sangat berkelas. Ada tempat tidur besar dan empuk dan tirai yang indah disulam dengan lapisan tipis kain kasa jendela.
Meja dan kursi berwarna cerah berkilau. Tata letaknya sungguh sangat megah. Kamarnya begitu mewah dan nyaman untuk ditempati.
Amanda Santika sangat akrab dengan ruangan ini. Dia pernah ke sini sebelumnya, tapi dia tidak ingat kapan.
"Kring.... Kring..." suara ponsel lawas milik Amanda Santika berdering dengan keras.
Amanda Santika melihatnya ponsel dan Identitas peneleponnya adalah Rekan Kerja. Amanda Santika menjadi semakin bingung dengan kondisinya saat ini. Lima tahun lalu, dia menghapus kontak ini karena sebuah insiden.
Tapi sekarang dia malah ditelepon olehnya seolah-olah Amanda Santika tidak menghapus nomor kontaknya. Dengan kebingungan, Amanda Santika menjawab panggilan itu.
“Halo...”
"Amanda Santika, kamu di mana? Ini sudah jam sembilan, kenapa kamu belum bekerja? Siapkan semua berkas untuk rapat pagi ini!" ucap suara wanita yang agresif terdengar dari telepon lalu berkata, "Apakah kamu tidak menginginkan bonus bulan depan lagi?"
Kemudian wanita itu menutup telepon tanpa menunggu jawaban Amanda Santika.
Ketika Amanda Santika meletakkan teleponnya, dia terdiam membeku dengan ekspresinya masih bingung. Dia melihat sekeliling ruangan kamarnya dengan tatapan kosong.
Amanda Santika melihat jam dan kalender di atas mejanya dekat dengan kasurnya. Mengabaikan rasa sakit di sekujur tubuhnya, dia menyeret dirinya menuju meja.
Dia meraih kalender dengan kedua tangannya. Amanda Santika memfokuskan pandangannya dengan mendekatkan kalender itu ke wajahnya dan pupil matanya mengecil.
“Hm... Di kalender ini tertulis tahun 2022. Apa? Sekarang tahun 2022?” gumam Amanda Santika terkejut bukan main setelah melihat tahun yang tertulis di kalender itu.
Amanda Santika merenungkan kejadian ini. Waktu di telepon dan kalender di depannya menunjukkan kebenaran yang tak terbantahkan. Dia berada di tahun 2022, beberapa tahun sebelum kematian Raka.
Kemudian sesuatu yang lain terlintas di dalam pikirannya dan berkata, "Tunggu, kalau ini tahun 2022, maka anakku Raka bahkan belum lahir!"
Amanda Santika mengeluarkan ponselnya lagi, dan tanggalnya tidak berubah. Saat itu masih tertulis tanggal 19 Juli 2022. Dia tiba-tiba memikirkan sesuatu, dan napasnya terhenti sejenak akibat rasa bahagia yang membanjiri tubuhnya. Matanya dipenuhi kegembiraan.
"Mungkinkah aku kembali ke masa laluku?" ucap Amanda Santika menganggapnya sulit dipercaya lalu berkata, "Aku telah melakukan perjalanan kembali ke masa lalu? Sungguh sulit diterima akal sehatku. Tapi aku sangat bersyukur sekali."
Tangannya berpindah ke perutnya dan mengelusnya dengan lembut lalu berkata, "Kalau begitu, kali ini, aku akan melindungi Raka apapun yang terjadi agar dia bisa tumbuh dengan sehat! Aku berjanji”
Amanda Santika berhenti sejenak karena rasa bahagia yang tidak dapat terbendung.
"Raka, kali ini Ibu tidak akan meninggalkan kamu lagi. Aku akan memastikan kamu bisa tumbuh dengan aman dan penuh cinta kasih sayang seorang ibu!"
“Kring... Kring...” suara ponsel lawas milik Amanda Santika berdering lagi.
Identitas Penelepon kali ini adalah Raiden. Bibir Amanda Santika melengkung dan memperlihatkan senyuman sinis.
Amanda Santika menolak panggilan itu dan meletakkan teleponnya di tempat tidur. Karena dia telah diberi kesempatan untuk memulai kembali, maka dia tidak akan melakukan kesalahan yang sama seperti yang dia lakukan.
Amanda Santika menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Dia melihat sekeliling dan menemukan pakaiannya di samping tempat tidur. Dia segera mengenakan pakaiannya dan pergi secepat mungkin sebelum pemilik kamar kembali!
*********
Di sisi lain, di kantor Grup Solusi Sinergi, wajah seorang pria tampan dipenuhi kebencian ketika panggilannya tidak diangkat oleh Amanda Santika.
Di sampingnya, ada seorang wanita bertubuh tinggi dengan riasan tebal dan menawan. Alisnya sedikit panjang dan tipis yang dihiasi dengan riasan unik.
Dia mempunyai pandangan yang tajam dan sangat mengintimidasi. Dia mengangkat alisnya dan mencibir, "Kenapa? Amanda Santika itu tidak mengangkat teleponmu?"
Sepasang matanya menatap alat perawatan yang baru saja dia lakukan, tapi ada kilatan di matanya dengan rasa sombong dan penuh perhitungan di matanya.
Dia mengejek dengan berkata, "Bukankah Amanda Santika itu sangat mencintaimu? Dia baru saja berhubungan intim dengan pria lain. Dia mungkin terlalu malu untuk menjawab teleponmu."
Raiden mengerutkan kening dan menatap Wayan dengan ragu-ragu. Dia bertanya, "Wayan, apakah kita harus bersikap sangat kejam?"
Wayan mengamati ekspresi wajah pria itu, mengepalkan tinjunya, lalu melepaskannya. Dia langsung mencibir dan berkata, "Kenapa? Apakah kamu merasa kasihan padanya?"
Begitu Wayan mengatakan hal ini, ekspresinya tiba-tiba berubah menjadi dingin.
Dia berkata dengan tajam, "Karena kamu sangat mencintainya, maka baiklah. Aku akan pergi dan memberi tahu ayahku bahwa pertunangan kita dibatalkan. Aku akan mencari suami lain. Sebagai putri dari ketua Grup Solusi Sinergi, banyak pria muda yang menawarkan diri ke arahku. Raiden, aku tidak harus menikah denganmu!”
Wayan berhenti sejenak lagi kembali mengoceh kembali kepada Raiden.
"Kau anak desa, kau harus ingat itu! Suatu kehormatan bagimu kalau aku menyukaimu. Kau harusnya bersyukur karena aku akan menikahimu dan menyelamatkanmu dari kerja keras selama puluhan tahun. Ayahku tidak menyetujui pertunangan itu. Saat aku memberitahunya pertunangan kita telah dibatalkan, dia akan sangat bahagia. Karena kamu telah memilih pelacur itu daripada aku, aku berharap kalian berdua mendapatkan akhir yang bahagia.”
Ketika Raiden mendengar ucapan yang merendahkan dirinya, wajahnya langsung memerah. Dia marah, tapi dia menarik napas dalam-dalam. Pada akhirnya, dia tersenyum dan berkata dengan nada merendahkan, "Wayan, apa yang kamu bicarakan? Aku tidak memiliki perasaan apa pun padanya. Yang aku cintai adalah kamu. Mengapa aku harus merasa kasihan padanya?" ucap Raiden dengan tersenyum paksa.
Lalu ia menambahkan dengan berkata, "Hanya saja kami berasal dari kampung halaman yang sama, jadi aku kasihan padanya."
Wayan mencibir, "Kasihan sekali dia? Jika kami tidak mengatur ini dan mencari alasan bagimu untuk mencampakkannya, ketika kita bertunangan, semua orang akan mengatakan bahwa kamu telah meninggalkan Amanda Santika untuk menaiki tangga perusahaan. Saat itu, siapa yang akan merasa kasihan padamu? Pertunangan kita akan dikritik habis-habisan. Raiden, kamu mungkin bisa menerima kritik karena pelacur itu, tapi aku tidak akan pernah tahan.”
Wayan berhenti sejenak karena kesal kepada Raiden yang terus memikirkan Amanda Santika lalu berkata, "Jadi kamu hanya punya dua pilihan. Kamu memutuskan hubungan dengannya, atau kita membatalkan pertunangan kita!"
Ekspresi Raiden menjadi kaku sesaat sebelum dia tersenyum palsu lalu berkata, "Astaga, pilihannya sudah sangat jelas! Aku tetap memilih dirimu Wayan.”
Wayan tersenyum dan berkata, "Anak baik, Raiden, aku tidak salah memilihmu. Kamu berani dan berhati dingin. Ditambah lagi, kamu tahu siapa yang baik padamu!"
Raiden melangkah maju dan memeluknya. Dia meletakkan dagunya di bahu wanita itu dan berkata sambil tersenyum, "Kamu harus berhati dingin terhadap aku yang hina dan yang tidak penting ini, atau mereka hanya akan menyeretmu ke bawah! Wayan, terima kasih sudah menunjukkan itu padaku."
“Kring... Kring...” suara telepon Raiden berdering.
Bersambung...
“Ah... Aku harus mengabaikan ketidaknyamanan di sekujur tubuhku,” gumam Amanda Santika segera meninggalkan kamar hotelnya.
Amanda Santika tahu bahwa kehidupan sulit menantinya di perusahaan.
Di kehidupan sebelumnya, pikirannya kosong ketika dia terbangun di hotel. Itu karena dia baru saja tidur dengan seorang pria yang merupakan jebakan dari dua orang brengsek itu. Dia tidak tahu bagaimana hal itu bisa terjadi, tapi dia sangat malu karena tindakannya itu.
Ketika Amanda Santika bangun dan melihat darah dan bintik-bintik merah lainnya di tempat tidur, dia diliputi rasa takut, ngeri, dan rasa bersalah yang besar terhadap pacarnya. Dia telah kehilangan kesuciannya, dan ini merupakan pengkhianatan serius terhadap pacarnya.
Amanda Santika pingsan di tempat tidur dan mulai menangis sampai teleponnya berdering. Ketika dia melihat nama di telepon, dia menangis semakin keras.
“Raiden,” kata Amanda Santika membaca identitas penelepon di ponselnya.
Amanda Santika tidak tahu sudah berapa lama berlalu sebelum dia akhirnya meraih telepon dengan tangan gemetar. Pada saat itu, dia rapuh dan membutuhkan kenyamanan. Dia yakin dia bisa mengetahuinya dari pacarnya.
Saat dia mengangkat telepon, suara seorang pria terdengar dari ujung sana. Suaranya dipenuhi kekhawatiran dan kecemasan.
Raiden bertanya dengan cemas mengkhawatirkan kondisi Amanda Santika, "Amanda, kenapa kamu tidak mengangkat teleponku tadi? Di mana kamu sekarang?"
Suara Amanda Santika menjadi sedikit serak basah karena dia menangis tersedu-sedu. Air matanya terus mengalir di matanya. Namun agar Raiden tidak mengkhawatirkan, dia berusaha menyeka air matanya dan memaksakan senyum di wajahnya lalu berkata, "Raiden, aku baik-baik saja!"
Tapi Raiden terus bertanya seolah-olah dia bisa merasakan ada sesuatu yang salah dan berkata, "Amanda, kenapa suaramu menjadi sedikit serak? Apakah kamu sedang menangis?"
Pertanyaan itu memecahkan bendungan tangisan dalam diri Amanda Santika. Dia menangis lagi sejadi-jadinya. Tidak peduli seberapa keras pacarnya menghiburnya, semua hal itu sekarang tidak ada gunanya.
Raiden tidak menutup teleponnya. Setelah beberapa waktu, Amanda Santika mendengar pria itu berkata, "Amanda, apa yang terjadi padamu? Apa pun yang terjadi, aku akan selalu berada di sisimu."
Raiden mencoba menghibur Amanda Santika dan Amanda Santika merasa sangat terhibur setelah mendengarnya. Setelah menutup telepon, dia memutuskan untuk putus dengan Raiden.
Raiden adalah pria yang terlalu baik, dan dia pantas mendapatkan seseorang yang lebih baik darinya. Raiden tidak boleh terikat dengan gadis yang hancur selama sisa hidupnya.
Setelah itu Amanda Santika berkemas, dia meninggalkan kamar hotel dan kembali ke perusahaan untuk bekerja. Dia berencana mengundurkan diri dari pekerjaannya dan kemudian putus dengan Raiden.
Lalu dia akan pergi. Namun, Amanda Santika, di kehidupan masa lalunya, mengalami masalah di perusahaan. Memikirkan kembali, Amanda Santika memiliki senyum dingin di wajahnya, tetapi cahaya gelap muncul di matanya yang seperti sangat putus asa.
Di kehidupan sebelumnya, dia dijebak. Tapi kali ini, dia telah kembali agar dia tidak melakukan kesalahan yang sama.
Saat dia memikirkan apa yang harus dilakukan, telepon Amanda Santika berdering lagi. Matanya berkilat jijik dan benci saat melihat identitas sang penelepon. Ternyata identitas penelepon adalah Raiden.
Amanda Santika memikirkannya lalu menjawab panggilan diteleponnya itu.
"Amanda, kamu dimana sekarang?" tanya Raiden dengan nada yang dipenuhi kekhawatiran.
"Aku sudah pergi ke departemen tempat kamu bekerja, tetapi karyawan lain bilang kamu belum datang. Apakah terjadi sesuatu?" ucap Raiden menambahkan dan sepertinya sedang menggali informasi tentang Amanda Santika.
Mendengar orang munafik itu, Amanda Santika merasakan rasa jijik dan benci kepada Raiden. Dia menahannya dan menarik napas dalam-dalam. Suaranya sangat tenang saat dia berkata, "Aku baik-baik saja, Raiden. Tadi aku bertemu dengan seekor anjing gila. Tapi aku sudah mengusirnya. Aku akan bergegas ke perusahaan sekarang!"
Amanda Santika menutup telepon tanpa menunggu jawaban.
Raiden memegang telepon dan mengerutkan kening. Dia merasa ada sesuatu yang tidak beres pada diri Amanda Santika.
Berdasarkan pemahamannya tentang Amanda Santika, dia tahu bahwa dia akan menangis putus asa setelah mengetahui apa yang terjadi padanya. Dia akan dipenuhi rasa bersalah terhadapnya. Namun setelah Raiden mendengar suara Amanda Santika tadi ditelepon, dari nada suaranya sepertinya dia baik-baik saja.
Dengan pemikiran itu, hati Raiden terbakar amarah. Dia mengertakkan gigi dan mengutuk pelan, "Amanda Santika, jadi kamu tidak pernah peduli padaku!"
Ini berarti Amanda Santika sedang berleha-leha. Itu akan menjelaskan mengapa dia tidak terpengaruh oleh jebakan yang mereka siapkan untuknya.
Wayan, yang duduk di sofa mendengarkan Raiden. Matanya bersinar, dan sudut mulutnya sedikit terangkat. Dia tampak sangat bangga dan sinis.
Dia tersenyum dan bertanya, "Lihat wajahmu yang muram. Apa yang terjadi? Apakah pelacur itu menutup teleponmu lagi?"
Raiden berkata dengan nada sedikit tinggi, "Bukan itu! Tapi dia bilang dia akan segera sampai di perusahaan."
Ketika Wayan mendengar itu, dia tampak bersemangat. Dia berkata sambil tersenyum, "Bagus, itu bagus sekali. Saat perempuan jalang itu sampai di perusahaan, dia akan tahu seperti apa kesalahannya yang telah dia perbuat. Aku perlu berada di sana untuk memastikan jebakan ini berhasil!"
Wayan tidak sabar untuk melihat Amanda Santika jatuh ke neraka yang dalam. Ini akan sangat menarik. Wayan mengangkat telepon mahal dan menelepon. Dia memerintahkan seseorang dengan dingin, "Bersiaplah!"
Saat dia mengatakan itu, ekspresi Raiden berubah. Tapi dengan cepat kembali normal, dan dia menatap Wayan dengan penuh kasih sayang lagi.
Amanda Santika datang ke pintu depan Grup Solusi Sinergi dan berhenti. Ekspresinya menghiraukan setiap yang memandangnya, tapi tatapan matanya sedingin es. Dia mengepalkan tangannya erat-erat dan melihat ke pintu masuk perusahaan.
Amanda Santika berkata, "Aku telah sampai di perusahaan brengsek ini. Sepasang brengsek itu mempermalukanku dan menghancurkan kehidupan masa laluku. Tapi kali ini, aku tidak bisa membiarkan mereka mencapai tujuan itu!"
Amanda Santika menghirup napas dalam-dalam untuk menenangkan diri. Saat dia hendak memasuki pintu, dia mengerutkan kening dan berbalik. Dia melihat seorang pria duduk di sebuah trotoar jalan.
Pria itu memiliki wajah tampan dan sosok berotot. Dia jauh lebih baik dari pacarnya sekarang, Raiden. Tapi terlihat pakaiannya sangat kotor.
Amanda Santika memikirkannya dan berjalan mendekat. Dia berkata kepada pria itu, "Mohon maaf, bisakah kamu membantu aku? Setelah semuanya selesai, aku akan memberikanmu sebuah imbalan!"
Amanda Santika membujuk pria itu dan berjanji kepadanya untuk memberikan imbalan jika dia berkenan untuk membantunya. Namun, dia akan memastikan uangnya dibelanjakan dengan baik.
Maulana memandang wanita yang berjalan mendekat. Dia bingung mendengar apa yang dia katakan. Dia melihat sekeliling dan kemudian menunjuk dirinya sendiri. Dia bertanya dengan bingung, "Nona cantik, Anda sedang berbicara dengan aku?"
Amanda Santika menghela napas panjang dengan berkata, "Hah...”
Lalu melanjutkan ucapannya, “apakah aku terlihat seperti sedang berbicara sendiri? Hanya kamu yang duduk di sini!"
Maulana merasa geli dan berkata di dalam hatinya, “Gadis ini memiliki kepribadian yang menarik. Bahkan saat dia meminta bantuan. Bahkan tidak ada satu pun wanita di Kota ini yang berani berbicara seperti itu kepadaku.”
Maulana mengangkat alisnya dan bertanya, "Apakah kamu tahu siapa aku?"
"Wajahmu itu sangat tampan dan sepertinya aku baru saja mengenalmu, jadi bagaimana aku bisa tahu siapa kamu!" ucap Amanda Santika berhenti lalu berkata, "Aku sangat terdesak sekarang. Ya atau tidak membantuku?"
Maulana sangat tercengang mendengar ucapan Amanda Santika. Dia mengangkat bahu dan bertanya, "Baiklah, tapi apa yang bisa aku bantu?"
“Anggaplah kamu baru saja melakukan cinta satu malam denganku!”
"Apa?" ucap Maulana secara terkejut mendengar ucapan Amanda Santika.
Bersambung...