“Kau berhak memilih. Mommy tidak akan pernah memaksa jika kau tak menyukainya, William. Dan jika hari itu tiba, tapi Mommy sudah tidak ada di sampingmu, maka perjuangkan pilihanmu.”
Seorang pria perlahan membuka mata saat suara itu kembali terngiang di telinganya. Helaan napasnya berembus dan bersamaan itu ia pun memutuskan bangkit untuk membersihkan diri.
“Pemilihan waktu yang tepat.”
William memastikan penampilannya setelah melihat pada jam di atas nakas yang menunjukkan waktu sarapan hampir saja usai.
Bukan tanpa alasan pria itu selalu menghindar di saat seperti ini. Apalagi jika bukan karena Daddy-nya, Michael Johnson yang selalu membicarakan hal yang tak ia sukai selama sarapan berlangsung.
Setelah semuanya rapi, William keluar membawa tas kerja berisi beberapa dokumen penting yang akan diperlukan untuk rapat bersama salah satu relasi bisnisnya, Franklin Corporation.
Dari kejauhan pria bermanik kebiruan itu mendengar sayup-sayup perbincangan yang terjadi antara dua pria berbeda usia di Keluarga Besar Johnson.
“Masih saja membicarakan perjodohan itu,” gumam William lirih.
Berniat menghindar, pria itu lantas memelankan langkahnya, dan berbelok ke pintu utama. Namun, suara sang pelayan yang tiba-tiba menyapa membuat perhatian Michael Johnson tertuju padanya.
“Mau ke mana kau, William?” tanya Michael Johnson dengan raut wajah tak bersahabat.
“Ke kantor. Willy ada rapat yang tidak bisa ditunda,” jawab William datar dan dingin.
Melihat akan terjadi peperangan di sana, Christian Johnson memanggil cucu semata wayangnya duduk dan menemaninya makan.
Mau tak mau, William mendekati sang kakek, dan menarik kursi tanpa memandang sedikit pun kepada ayahnya, Michael Johnson.
Tak ada yang bersuara sampai Christian Johnson meninggalkan meja makan dibantu oleh pelayan yang bertugas menjaganya. Dan saat pria tertua di Keluarga Johnson itu tak terlihat lagi, di situlah perdebatan antara William dan Michael dimulai.
“Kau harus mempersiapkan diri menikahi putri dari Mr. Franklin, William,” ucap Michael tegas dan tak mau dibantah. Bahkan pria itu mengeluarkan tatapan tajam pada putranya yang menjadi CEO di Johnson Corporation sebagai penggantinya.
“Aku tidak mau,” tolak William tanpa berpikir lama.
“Dan kau pikir kau bisa menolak?” Michael menyeringai. “Aku sudah merancang pertemuan malam ini untuk mempertemukan kalian dan membicarakan pertunangan secepatnya. Jadi, kuharap kau tidak banyak bertingkah.”
Alih-alih segera membantah, William memasukkan potongan roti ke dalam mulutnya, lantas meneguk air putih yang tersedia, sebelum mengelap mulutnya dengan sehelai tisu.
Wajah laki-laki tiga puluh tahun itu berubah menjadi serius ketika berhadapan dengan sang ayah yang selalu bertindak arogan.
“Sampai kapan pun aku tidak akan menuruti keinginan Daddy,” ucap William tanpa meredupkan tatapan tajamnya.
“William!” Michael menggeram dengan wajah memerah, marah.
“Perlu Daddy ketahui, aku tidak bisa menikah dengan wanita lain sementara aku sudah memiliki kekasi, yang bahkan lebih baik dari yang Daddy tawarkan,” ucap William tanpa rasa takut. Tak ingin membuang waktu, ia lantas bangkit seraya membawa tas kerjanya.
“Berani-beraninya kau membantah keputusan Daddy, William!” seru Michael yang mengepalkan tangannya di atas meja. “Apa kau tidak tahu kalau Daddy bisa mencabut semua yang kau miliki saat ini jika kau menolak keinginanku, hah?”
Langkah William terhenti. Tanpa membalikkan badan ia lanjut berkata, “terserah apa yang akan Daddy lakukan. Dan perlu Daddy ingat, sampai kapan pun aku tak ingin jadi boneka seperti yang dialami Jeremy.”
“Kau—”
“Dan satu lagi ....” William memotong ucapan Michael dengan cepat. “... kalau Daddy menginginkan wanita itu menjadi bagian keluarga ini, Daddy bisa menikahinya.”
Tanpa mengatakan apa pun lagi William segera melangkahkan kedua kakinya keluar, mengabaikan teriakan Michael Johnson yang menggelegar.
Masuk ke dalam Lamborghini Aventador kesayangannya, William membelah jalanan kota New York yang masih tampak lengang. Ia mendengkus saat emosi tiba-tiba menguasai kewarasannya.
Tak ingin tersiksa, mobilnya lantas berbelok ke salah satu unit apartemen yang akhir-akhir ini sering ia kunjungi.
Sementara itu, seorang gadis yang sudah siap dengan celana panjang hitam, dipadukan kemeja putih, dan disempurnakan dengan blazer berwarna hitam tampak menyunggingkan senyuman di depan cermin.
Setelah penampilannya rapi, ia mengambil I-Pad, dan meraih tas kerjanya sebelum duduk di pantry untuk menikmati sarapan kilat yang telah ia siapkan sejak tadi.
Sambil mendengarkan lagu favorit melalui earphone yang kemudian terpasang di kedua telinga, gadis dua puluh enam tahun itu mulai menyendokkan salad ke dalam mulutnya. Di sela-sela itu, ia pun meneliti kembali isi dokumen yang akan digunakan untuk rapat pagi ini.
Terlalu larut dalam alunan musik dan layar datar di hadapannya membuat gadis itu terlonjak saat ada tangan yang tiba-tiba mendekapnya dari belakang.
“William?” gumam gadis itu dengan mata terpejam dan senyum kecil yang tersungging di bibirnya.
Tak ada jawaban alih-alih pelukan yang semakin erat diikuti kecupan-kecupan di puncak kepalanya. Dan bagi gadis itu tak perlu memastikan dua kali siapa pria yang mendekapnya saat ini.
Dengan posisi masih memeluk dan menunggu sang pujaan hati menyelesaikan sarapan, William menatap datar pada isi dokumen di layar itu. Dalam hati ia mendengkus kesal dengan sebuah nama yang membuat emosinya mencuat beberapa minggu terakhir.
“Sampai kapan kau akan memelukku, Willy?” Suara gadis itu menarik William dari lamunannya.
Wajah kesal itu perlahan berubah menjadi datar dan berubah lagi ketika berhadapan dengan sang kekasih.
“Kau belum menjawab pertanyaanku, Willy.”
Alih-alih segera menjawab, pria itu melabuhkan kecupan di kening sang kekasih dalam, dan kembali memeluknya erat.
“Sampai kau menjadi istriku dan berada di sampingku selamanya,” jawab William pada akhirnya.
“Istri?” Dahi gadis itu mengerut bingung. “Kau tidak lupa bukan, jika kita tidak bisa menikah dalam waktu dekat?”
Mendesah sesaat, William lantas mengangguk.
“Lalu? Apa maksud perkataanmu?”
Pria yang masih belum bisa mengutarakan niatnya itu menarik diri. Menangkup wajah sang kekasih dan mengalihkan topik pagi ini dengan tawaran yang membuat perdebatan di antara mereka.
“Kau tidak bisa menolak, Maria,” ucap William tegas, memotong segala penolakan sang kekasih sejak ia tadi. “Kalau kau takut ketahuan, aku akan menurunkanmu di tempat yang aman, Oke?”
Pemilik nama lengkap Maria Ashley itu hanya memejamkan mata sesaat dan memijit pelipisnya yang mendadak berdenyut.
“Baiklah, Tuan William. Untuk kali ini saja, aku berbaik hati menuruti keinginanmu. Tetapi, tidak untuk lain kali,” jawab Maria kemudian.
Pria bermanik kebiruan itu menarik sudut bibirnya, membentuk satu seringai penuh arti. “Bagimu satu kali, tapi untukku mulai hari ini, dan seterusnya.”
Mengabaikan peringatan dari manik keabu-abuan milik Maria, William menggenggam tangan wanita itu, dan mengambil alih tas kerja di atas meja.
Tak ada obrolan sepanjang perjalanan menuju kantor. Mereka hanya fokus memandang ke depan dan hanyut dalam pikiran masing-masing.
Dan sampai di persimpangan, tak jauh dari gedung bertingkat milik Franklin Corporation, William menghentikan mobilnya.
“Kau bisa turun di sini jika takut ketahuan rekan kerjamu,” ucap William membuyarkan lamunan Maria.
Wanita itu menoleh ke kanan dan kiri seraya melepas seat belt miliknya. Saat ia bersiap membuka pintu, sebuah tarikan lembut menghentikan gerakan tangannya.
“Kenapa?” tanya Maria tanpa basa-basi.
Pria itu tak berbicara, tapi memajukan wajah, dan menunjuk bibirnya.
“Asal kau tahu, aku tidak pernah mencium laki-laki di pagi hari. Apalagi ketika akan berangkat ke kantor,” ucap Maria dengan wajah tegas tanpa berkedip sedikit pun.
“Ck!” William berdecak. “Tak bisakah kau mengubahnya saat bersamaku? Ya, anggap saja ini ucapan terima kasih.”
Masih mempertahankan raut wajahnya, Maria lantas membuat laki-laki itu diam tanpa membantah.
“Aku tidak akan pernah mengubahnya sebelum ada ikatan pasti di antara kita. Jadi, jangan meminta hal yang sudah menjadi kebiasaanku, dan satu lagi ....” Maria menjeda ucapannya.
“Apa?”
“Bukan hanya aku saja yang beradaptasi, tapi kau pun harus melakukannya.” Setelah mengatakan itu Maria memanfaatkan keterpanaan William untuk melepaskan diri dan segera turun dari mobil dengan hati-hati.
Tanpa menoleh lagi ke belakang, Maria berjalan dengan tegas menuju kantor di mana ia telah bekerja selama lebih dari setahun. Sedangkan William masih berada di dalam mobilnya tanpa mengedipkan mata sedikit pun, seraya memikirkan hal-hal yang membuat sudut bibirnya perlahan tertarik ke atas.
“Dan aku akan segera membuatmu mengubah keputusan tentang pernikahan, Baby. Kau tunggu saja.”
.
.
.
Bersambung ...
.
.
.
Spoiler bab selanjutnya
“Maksud Anda, proyek dengan Johnson Corporation, Sir?”
George mengangguk. “Ya. Proyek yang akan kita bahas pagi ini.”
Wanita dua puluh enam tahun itu mendadak bingung. Dan semuanya tertangkap jelas oleh George Franklin yang menarik sudut bibirnya.
.
.
.
Halo para pembaca, ini adalah novel kedua yang akan tayang secara eksklusif di Bakisah, Ceriaca, Pobaca, dan MoboReader setelah novel pertama Gairah Liar Sang CEO sukses membuat para pembaca baper.
Semoga kalian suka dengan semua karya-karyaku selanjutnya yang akan tayang di Bakisah.
Langkah teratur dari kedua kaki jenjang Maria menimbulkan suara ketukan nyaring hingga menarik perhatian para karyawan Franklin Corporation yang saat ini baru saja tiba di sekitar lobi.
Sapaan demi sapaan yang wanita itu terima membuat ia tak henti-hentinya menganggukkan kepala diikuti seulas senyuman. Senyum yang membuat banyak laki-laki terpesona dan perempuan lain iri karenanya.
“Selamat pagi, Ms. Ahsley,” sapa salah satu resepsionis bername tag Bella hari ini, menyodorkan sebuah dokumen kepada Maria. “Ini ada titipan untuk Anda.”
“Pagi ...” Maria melirik name tag dan kemudian tersenyum. “Bella. Sepertinya aku belum pernah melihatmu di sini?”
Maria dengan cekatan menerima dokumen itu, menelaah singkat, dan memasukkan ke dalam tas kerjanya.
“Saya memang baru masuk hari ini atas rekomendasi Mr. Johannes.”
“Ah, Mr. Johannes. Aku mengerti.” Maria mengangguk sesaat, lalu mengingat ucapan pria itu. “Kau keponakan Mr. Johannes, right?”
Wanita itu mengangguk. “Benar, Ms. Ahsley.”
“Baiklah kalau begitu. Selamat bekerja dan semoga kau betah berada di sini,” ucap Maria sebelum ia berlalu dari sana.
“Terima kasih.”
Setelah berbasa-basi sejenak, Maria melanjutkan langkahnya menuju salah satu lift khusus yang akan membawanya naik ke lantai dua puluh sembilan. Tempat di mana ruangan CEO berada.
“Aku rasa hari ini lebih awal lima menit dari kemarin,” gumam Maria melirik pada jam di pergelangan tangan kirinya. Seulas senyum kembali terbit di bibirnya mengingat wajah kesal sang kekasih beberapa saat lalu. “Kau harus membiasakan diri, Willy.”
Kedatangan Maria pagi itu langsung disambut oleh tarikan lembut dari teman baiknya, yang merupakan sekretaris kedua.
“Kenapa?” tanya Maria dengan dahi mengernyit bingung, tapi ia menurut saat Kate memintanya segera duduk.
“Kau tahu, Mr. Franklin sudah di dalam bersama adiknya,” bisik Kate lirih.
Sepasang manik keabu-abuan Maria membulat. “Sudah datang?”
Kate mengangguk sekali.
“Sejak tadi? Atau baru saja?” tanya Maria dengan raut wajah terkejut.
“Sepuluh menit yang lalu.”
Maria tampak berpikir. Namun, saat ia akan bertanya pada Kate yang masih berada di sampingnya, suara pintu ruangan CEO terbuka. Menampilkan sosok pria yang sangat ia kenal.
“Kakakku mencarimu, Ms. Ashley,” ucap laki-laki bertubuh tinggi dengan suara beratnya diikuti lirikan mata jahil kepada Maria.
Wanita dua puluh enam tahun itu seketika berdiri dan membungkukkan badan dan menyapanya. “Selamat pagi, Mr. Franklin.”
“Panggil aku Charles saja, Ms. Ashley. Tidak perlu bersikap terlalu formal,” balas pria yang perlahan mendekat kepada Maria. Sedangkan Maria sendiri mundur selangkah demi menjaga jarak di antara mereka.
Melihat reaksi itu, mata liar Charles menyipit. Egonya tersentil untuk ke sekian kalinya karena wanita itu berusaha menghindar.
Sial!
Meredam amarah yang ingin meletup, Charles kemudian meletakkan kedua tangannya mengepal ke dalam saku celana, demi menjaga harga dirinya.
“Masuklah ke dalam. George Franklin menunggumu,” ucap pria itu datar dan terkesan dingin.
“Baik, Sir. Terima kasih mengingatkan saya,” jawab Maria singkat dan sopan.
Pria dengan sudut bibir terangkat sebelah itu berlalu setelah menatap lama pada penampilan Maria pagi ini.
Berbeda dengan Maria yang masih tampak tenang, Kate sudah menggigil di tempatnya berdiri. Jangankan untuk bersuara, menopang berat badan pun rasanya tak lagi bisa ia lakukan.
“Aku akan menemui Mr. Franklin dulu, Kate,” ucap Maria tanpa melihat kepada sahabatnya yang masih membatu.
Menarik napas dan mengembuskan pelan, Maria mengetuk pintu di hadapannya tiga kali. Kemudian ia masuk setelah mendengar suara dari dalam.
“Selamat pagi, Mr. Franklin.”
Seorang pria yang baru saja duduk di kursi itu segera menengadah. “Duduklah, Ms. Ashley.”
Tanpa berpikir lama Maria segera duduk dan tak kama kemudian bertanya, “Anda memanggil saya, Sir?”
Tak menjawab, pemilik nama George Franklin itu memberikan satu dokumen kepada Maria. Lantas, ia menegakkan tubuh dan memberi isyarat kepada sang sekretaris untuk membuka file itu.
“Bawa dokumen ini dan pelajari dengan baik, Ms. Ashley,” ucap George tegas. “Aku ingin kau membantu Dariel Johannes mengambil alih kendali pada proyek perusahaan bulan depan.”
Maria tampak berpikir. Proyek terbaru yang sedang dalam rencana hanya satu dan ia tak yakin dengan perintah atasannya itu. “Maksud Anda, proyek dengan Johnson Corporation, Sir?”
George mengangguk. “Ya. Proyek yang akan kita bahas pagi ini.”
Wanita dua puluh enam tahun itu mendadak bingung. Dan semuanya tertangkap jelas oleh George Franklin yang menarik sudut bibirnya.
“Dariel Johannes sedang bertugas. Jadi, kau yang akan menemaniku rapat bersama CEO Johnson Corporation.” Pria itu melihat pada jam di pergelangan tangannya. “Kita akan berangkat dua puluh menit lagi. Masih ada waktu untuk bersiap, Ms. Ashley.”
Tanpa perlu bertanya lagi Maria mengangguk sopan dan segera mengambil dokumen itu sebelum berpamitan.
“Saya akan bersiap-siap, Sir.”
Sementara itu, di lobi Johnson Corporation, seorang pria dengan penampilan yang menghipnotis para wanita berjalan tegas tanpa memerhatikan keadaan sekitar.
Aura dingin dan mematikan yang biasanya terlihat, kini menghilang digantikan dengan senyuman tipis.
Pria yang tak lain adalah William, pemilik tahta tertinggi di perusahaan itu bahkan membalas sapaan para karyawan yang memiliki kepentingan di sana. Hal langka yang belum pernah ia lakukan sebelumnya.
Masih mempertahankan senyuman di bibir, William masuk ke dalam lift menuju ruangannya. Running text yang menampilkan deretan angka membuat pria itu menghitung hingga pintu itu membuka.
Dan kedatangannya pagi ini disambut seperti biasa oleh sang asisten. Pria bersetelan jas itu membungkukkan badan.
“Selamat pagi, Mr. Johnson.”
William membiarkan sang asisten mengambil alih tas kerjanya dan berjalan di belakang hingga ia masuk ke ruangannya.
“Di ruang berapa meeting pagi ini, Erick?” tanya William yang baru saja duduk di kursi kebesarannya.
“Ruang delapan, Sir,” jawab pria itu sopan. “Ah, hampir saja saya lupa. Tuan Besar akan datang dalam meeting kali ini.”
“Daddy?” tanya William ragu.
“Ya, Sir. Baru saja beliau mengatakan akan segera tiba sepuluh menit lagi.”
William yang mendadak merasa pusing memijit pangkal hidungnya. Meeting kali ini pasti akan tersabotase dengan pembahasan tak berguna. Begitu pikirannya menganalisa.
“Ada sesuatu yang mengganggu Anda, Sir?” tanya Erick hati-hati.
Tangan William melambai. “Tidak. Siapkan berkasnya dan usahakan dalam meeting nanti kau melakukan presentasi dengan baik. Jangan beri celah pada Daddy untuk merusak pembahasan pagi ini dengan hal lain.”
Ada satu hal yang tak dimengerti oleh Erick. Namun, saat William melayangkan tatapan mata penuh arti, ia tahu apa yang harus dilakukannya.
Waktu yang telah disepakati tiba. Bersama sang asisten, William memasuki ruangan yang akan digunakan untuk meeting bersama Franklin Corporation.
Pemandangan yang tersaji kali ini membuat pria bermanik kebiruan itu terkejut. Kehadiran Maria membuatnya kaku dan nyaris lupa diri.
Sial!
Dua jam lamanya meeting antara dua perusahaan yang paling berpengaruh di New York itu berlangsung tanpa hambatan. Baik dari William selaku CEO Johnson Corporation dan George Franklin selaku CEO Franklin Corporation menemui kata sepakat setelah perwakilan dari masing-masing pihak mempresentasikan proposal yang dibuat dengan baik.
Sepasang manik kebiruan William tak henti-hentinya hanya tertuju pada Maria yang tampak tenang dan menyimak dengan baik meeting kali ini.
Lain dengan William, wanita dua puluh enam tahun itu menunjukkan sikap profesional dengan pandangan tertuju pada layar di depan, dan dokumen bergantian. Mengabaikan sepasang mata yang menghunjam lurus padanya.
“Jadi, bagaimana jika kita memulai pembangunan ini bulan depan di tanggal muda, Mr. Johnson?” tanya George Franklin memastikan jika proyek ini akan dikerjakan secepatnya. Mengingat ini adalah kesempatan emas untuk mendekat ke dalam lingkaran bisnis Keluarga Johnson.
Alih-alih segera menjawab, William melirik pada sang ayah untuk melihat reaksi pria itu. Namun, tak ada tanda-tanda Michael memberikan pendapat.
“Sesuai proposal yang kalian ajukan saja. Aku tidak keberatan kapan pun proyek ini dimulai,” jawab William dengan pandangan tertuju pada Maria sepenuhnya. “Lebih cepat lebih baik.”
Senyum di bibir George mengembang. Ia melirik pada Maria sekilas dan mendapat anggukan singkat dari sekretarisnya itu.
“Baiklah, Mr. Johnson. Dan untuk memaksimalkan keberhasilan proyek ini, saya akan melibatkan sekretaris andalan Franklin Corporation memantau dari awal hingga selesai.”
“Bagus. Aku pikir ini ide yang cukup brilliant,” sahut William tanpa basa-basi. Memangnya siapa juga yang menolak kesempatan sebagus ini.
Setelah kata sepakat diikuti penandatanganan dokumen dari kedua belah pihak selesai, George bangkit, dan menjabat tangan William. Pun dengan Michael. Sedang Maria hanya tersenyum tipis ketika pandangannya bertemu dengan sang kekasih.
Beberapa detik saja mereka hanyut dalam pembicaraan tanpa kata. Dan suara Michael menyadarkan Maria hingga wanita itu mendadak kaku.
.
.
.
Bersambung ...
.
.
.
Spoiler bab selanjutnya
“Kenapa? Masih mau menolakku?” tanya Stefanie lirih. “Sebentar lagi, aku akan membuktikan jika aku bisa memilikimu sepenuhnya Liam.”
Rahang William mengeras. Mendengar gadis itu memanggil nama kecil yang diberikan sang ibu membuatnya geram. Namun, ia tak bisa berkutik karena tatapan dua orang pria saat ini menghunjam tajam.
Maria tampak tenang setelah berhasil menguasai diri. Celetukan dari Michael Johnson barusan memberikan dampak yang cukup mengejutkan hingga membuatnya sempat goyah.
Beruntung, gadis dua puluh enam tahun itu mampu mempertahankan sikap profesional saat terlibat dalam pekerjaan ketimbang urusan pribadi.
Lain Maria lain pula dengan William. Pria tiga puluh tahun itu mengepalkan kedua tangannya di saku celana dan tak sedikit pun mengalihkan pandangan mata dari sang kekasih.
Manik kebiruan yang menenggelamkan lawan bicaranya itu tampak berubah menjadi tajam, dingin, dan mengisyaratkan peperangan. Diikuti bagaimana William ingin sekali menyeret Maria untuk memberikan penjelasan.
“Apa ini tidak terlalu terburu-buru, Mr. Johnson? Sepertinya anak-anak selalu memiliki pilihan sendiri tentang pendamping hidup,” tanya George Franklin ramah.
“Tidak,” jawab Michael cepat. “Sudah seharusnya kita segera mengambil keputusan ini. Bagaimanapun juga usia William dan Stefanie sudah pantas untuk menjalin hubungan yang lebih serius. Apalagi mereka sudah saling mengenal.”
George Franklin membenarkan hal itu. Bahkan berulang kali putri semata wayangnya sempat mengatakan secara langsung jika dia hanya akan menikah dengan William Johnson.
“Aku rasa, pernikahan adalah hal paling tepat ketimbang pertunangan yang akan membuat gosip di sana sini bila ada sesuatu di antara mereka,” imbuh Michael dengan sorot menggebu-gebu. “Bukankah begitu?”
“Anda benar,” timpal George menganggukkan kepalanya.
Secercah senyuman di bibir Michael mengembang diikuti ucapan yang membuat suasana semakin mencekik bagi Maria dan William.
“Aku tunggu kedatangan kalian malam ini.”
*
[Hadapi dengan jantan, Willy.]
[Kau tahu bukan, spesifikasi menjadi pendampingku adalah pria yang akan menghadapi rintangan apa pun ketimbang lari, dan bersembunyi.]
[Ingat! Aku tidak ingin melihat paparazi menuliskan sebuah berita jika William Johnson adalah seorang pecundang.]
[Di sini, aku baik-baik saja.]
Sederet pesan yang dikirimkan Maria siang tadi membuat William menggeram kesal. Pasalnya, sampai malam datang, nomor wanita itu tak bisa dihubungi, setelah mengatakan akan lembur.
Pria dengan setelan jas mewah yang telah bersiap untuk menghadiri makan malam itu pun masih tak bergeming dari atas ranjang. Padahal waktu pertemuan akan berlangsung dua puluh menit lagi.
“Kau ke mana, Maria?” desis William meremas ponsel di tangannya. Seolah saat ini benda itu ingin ia hancurkan karena dianggap tak berguna.
Melihat waktu semakin menipis, mau tak mau, suka tak suka, ia pun segera bangkit. Meraih kunci mobil kesayangannya dan menuju tempat yang telah ditentukan.
Sesampainya di sebuah restoran yang telah di privasi oleh Michael, William bisa melihat banyaknya paparazi menunggu di tempat itu.
Pria bermanik kebiruan yang kini masuk ke portal pintu masuk tak yakin jika salah satu di antara mereka tak melihat kedatangannya. Tak ingin menjadi bulan-bulanan mereka, ia kemudian mengambil tempat parkir di lantai satu.
Tak heran bila kedatangannya saat itu langsung disambut oleh pelayan dengan ramah. Pasti ini salah satu rencana sang ayah yang telah menyiapkan semuanya.
“Mari, Tuan.”
William mendengkus, tapi tak menolak saat ia harus berjalan mengikuti arahan pelayan yang membawanya ke salah satu lantai di mana ruangan itu berada.
Pintu keemasan dengan ukiran mewah menjulang di hadapan William. Dalam sekejap pintu itu dibuka dan menampilkan kehadiran tamu yang tidak ia harapkan.
Masih mengingat pesan sang kekasih, William terpaksa menyapa mereka satu per satu tanpa terkecuali. Termasuk seorang gadis yang duduk di dekat sang ayah dan tersenyum manja sejak melihat kehadirannya.
“Duduklah di sini, William.” Michael berpindah ke tempat duduk yang lain dan mengisyaratkan putranya segera mengambil tempat yang telah ia berikan.
Tak menolak, William pun mendaratkan bokongnya di sana tanpa sepatah kata apa pun, dan dengan raut wajah yang tak ramah.
“Bagaimana kabarmu, Wil?” tanya gadis pemilik nama Stefanie Aurora Franklin dengan suara mendayu manja.
Menahan untuk tidak mengeluarkan nada tak ramah, William menyembunyikan tangannya yang mengepal di bawah meja.
“Seperti yang kau lihat. Aku baik-baik saja,” jawab William dingin dan datar. Namun, dasarnya gadis itu tak tahu malu hingga mencondongkan tubuhnya.
“Kenapa? Masih mau menolakku?” tanya Stefanie lirih. “Sebentar lagi, aku akan membuktikan jika aku bisa memilikimu sepenuhnya Liam.”
Rahang William mengeras. Mendengar gadis itu memanggil nama kecil yang diberikan sang ibu membuatnya geram. Namun, ia tak bisa berkutik karena tatapan dua orang pria saat ini menghunjam tajam.
“Jangan tegang, Liam.” Stefanie dengan sengaja melarikan tangannya ke bawah meja. Ia menyeringai tipis saat melihat apa yang terjadi. “Ini baru permulaan.”
Berniat tak merusak suasana, ia pun menarik diri setelah berhasil melabuhkan kecupan spontan di pipi William. Tak ada penolakan membuat dirinya tersenyum kemenangan dan berubah menjadi manis saat pandangannya bertemu dengan sang ayah serta calon mertuanya.
Diam-diam baik Michael maupun George saling berbicara dengan isyarat mata dan mengangguk ketika saling memahami.
Suasana yang semua tegang berubah menjadi tenang saat hidangan tertata rapi di atas meja. Berkali-kali Michael memberikan isyarat kepada William agar tahu diri. Namun, semuanya berakhir sia-sia.
Dan pada akhirnya, sampai makan malam itu berakhir, William tak banyak bicara demi mengendalikan emosi. Berbeda dengan Stefanie yang aktif menimpali ucapan Michael, sehingga pria 57 tahun itu semakin tak terkendali.
“Kau memang paling tahu kesukaan Daddy, Fanie,” ucap Michael tanpa sadar. Atau memang pria itu sengaja.
Hal sekecil itu membuat ego Stefanie melambung. Seolah tanpa cinta, ia bisa memikat William dengan mendekati Michael terlebih dahulu.
“Kita lihat saja, Liam. Aku atau kau yang menang,” batin Stefanie dengan seringai tipis di bibirnya.
Atmosfer di dalam ruangan itu berubah begitu cepat. Apalagi saat dengan terang-terangan Michael memerintah William mengantar Stefanie pulang.
“Baiklah. Satu kali ini saja,” ucap William tanpa basa-basi. Setelah mengucapkan itu, ia pun berpamitan, dan segera bangkit.
Mengabaikan teriakan Stefanie, pria bermanik kebiruan itu merogoh ponsel dalam saku jas. Menghubungi seseorang yang ia yakini bisa membantunya.
Sementara itu, di kantor Franklin Corporation, Maria ditemani Kate baru saja selesai mengerjakan tumpukan dokumen yang diperlukan untuk rapat anggota dewan. Berbeda dengan Maria yang tampak tenang, Kate tampak mengeluh sejak sepuluh menit lalu.
“Oh, Maria. Pekerjaan ini bahkan bisa kita kerjakan besok, tapi mengapa kau mengerjakan semua hari ini?” tanya Kate dengan bibir mengerucut setelah mendekat pada rekan kerja sekaligus sahabatnya itu.
Alih-alih menanggapi pertanyaan itu, Maria dengan cekatan membereskan mejanya berikut mematikan layar komputer yang digunakan untuk bekerja. Setelah semua selesai, barulah ia memutar kursi, menghadap kepada Kate yang sejak tadi mengeluh.
“Kau dengar, Kate. Pekerjaan itu lebih baik cepat diselesaikan daripada menundanya,” jawab Maria kemudian.
“Aku tahu, tapi apa harus selalu lembur? Ini sudah hari ketiga, Maria. Come on, aku butuh bertemu kasur dan guling untuk memulihkan kepintaranku yang jauh di bawah ini,” pungkas Kate masih tak mau kalah.
“Baiklah. Lain kali kau tidak perlu menemaniku, OK.” Maria beranjak, tapi langsung dicegah oleh gadis yang kini membulatkan matanya.
“Mana bisa begitu!” sergah Kate tak terima. “Di sini terlalu berbahaya untukmu, Maria. Jangan bercanda!” Ucapan itu diikuti raut wajahnya yang berubah menjadi ngeri.
Maria tertawa, lantas memeluk sahabatnya erat. Kembali teringat di mana kejadian tak menyenangkan terjadi padanya tiga bulan lalu. Dan beruntung waktu itu, Kate harus mengambil barangnya yang tertinggal. Sehingga tak ada apa pun menimpanya.
“Kalau begitu, kau harus menemaniku setiap lembur, OK?” Maria menepuk punggung Kate sebelum mengurai pelukannya.
Tak ada jawaban lain, selain anggukan dari gadis itu.
“Ayo kita pulang,” ajak Maria kemudian.
Akan tetapi, lagi-lagi Kate menahan lengan sahabatnya, dan menatap gadis itu lekat.
“Apa kau tidak berpikir untuk memiliki seorang kekasih, Maria?”
.
.
.
Bersambung ...
.
.
.
Spoiler bab selanjutnya
“Menikah denganku, Maria,” ucap William yang sudah menarik bibirnya. Dan kini ia menyatukan kening mereka masih dengan mata tertutup.
Deg
Hati Maria berdebar hebat. Jantungnya terpacu cepat diikuti deru napas yang memburu.
“Menunda hanya akan membuka celah bagi orang lain untuk merusak hubungan kita, Maria. Jadi, aku berpikir untuk segera menikahimu,” lanjut William dengan penuh ketegasan yang tak ingin dibantah.