Bab 1

Bab 1

Karin merasa sangat bahagia ketika sampai di kampung halamannya, Bandar Lampung, kota yang paling dicintainya. 

Kota Bandar Lampung itu asri, tentram, damai, tidak ada macet, pokoknya kalau secara pribadi Karin ditanyai komentarnya tentang kota pilihan mana yang bisa dijadikan referensi di seluruh dunia dengan yakin ia akan menyebutkan Bandar Lampung is the best in the world!

Seluruh keluarganya datang menjemputnya di bandara. Ia sangat merindukan mereka Karena keadaan, ia harus meninggalkan kampung halamannya. Ia merasa sedih jika mengingat saat itu.

Kesedihannya langsung menguap saat melihat keceriaan kedua keponakannya yang berlarian masuk ke dalam pelukannya. Mereka menciuminya dengan gembira dan wajahnya jadi basah karena ciuman basah mereka.

“Mereka begitu merindukanmu,“ kata Selina sambil menyerahkan tissue basah kepada Karin.

“Aku tahu.“ Karin tertawa sambil mengusap wajahnya dengan tissue pemberian Selina dan memeluk semua saudaranya dengan perasaan gembira.

Karin merasa sedikit heran melihat Chika, adik bungsunya yang murung dan tampak menyembunyikan sesuatu darinya tapi ia menahan diri untuk mencari tahu, paling tidak setelah mereka sampai di rumah.

Meskipun kepalanya sedikit berdenyut karena celotehan ribut kedua keponakannya tapi ia membiarkannya dan hanya bisa tertawa ketika salah satu di antara mereka saling mengadukan saudaranya sendiri kepada Karin.

“Pusing yah?“ 

Karin hanya tersenyum dan menyandarkan kepalanya lalu menggeleng sambil meraih kedua keponakannya.

Dengan tenang kedua keponakannya masuk ke dalam pelukan Karin.

“Seandainya saja mereka bisa begini setiap hari,“ keluh Selina.

Karin sangat sedih mendengar keluhan kakak perempuannya. Beruntunglah Selina masih bisa mendengar celotehan dan keaktifan anak-anaknya. Sementara dia?

Selina tahu, ia telah salah bicara. Ia menghela napas sambil menggenggam tangan Karin dan memberinya semangat tanpa sanggup mengatakan apa-apa.

Ia sangat merindukan Matthew, putra tunggalnya yang kini tinggal bersama suaminya. Mereka masih berstatus suami istri tapi harus hidup terpisah. 

Perbedaan prinsip di antara mereka terlalu sulit untuk disatukan. Keinginan Steven untuk menuruti keinginan kedua orang tuanya tinggal bersama mereka menjadi faktor utama perpisahan mereka. 

Kilas balik...

Awalnya Karin mengikuti kemauan Steven dan tinggal bersama kedua orang tua Steven tapi Karin tidak betah kalau hanya berperan sebagai ibu rumah tangga saja tanpa berkarir seperti biasanya.

Ia tidak terbiasa hanya seharian menunggui Steven pulang apalagi seluruh penghasilan Steven diberikan semuanya untuk diatur mertuanya tapi yang membuatnya merasa sesak, mertuanya tidak pernah memberinya uang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya apalagi kebutuhan Matthew. Ia merasa tidak tahan harus terus-menerus menekan perasaannya.

Berulang kali, ia sudah mencoba membicarakan masalah ini kepada Steven tapi jawaban Steven tidak memberi jalan keluar baginya. Steven tidak mau perduli dengan semua tekanan yang ia alami! Sampai akhirnya ia tidak tahan lagi dan memutuskan untuk pulang kerumahnya sendiri.

Permintaannya langsung disetujui mertuanya dengan syarat Matthew harus tinggal bersama mereka! Hatinya langsung mencelos dan berharap Steven membelanya tapi yang membuatnya kecewa Steven tidak berani mengatakan apapun dihadapan orang tuanya! 

Steven memang mencegahnya pergi tapi tanpa memberikan jalan keluar bagi keluarga kecil mereka. Yang dia mau hanya memiliki rumah tinggal sendiri,  meski kecil dia rela,  tidak masalah tapi Steven merasa berat kalau harus meninggalkan kedua orang tuanya.

Ia merasa sangat kecewa. Ia merasa Steven tidak lagi mencintainya! Akhirnya ia mengalah dan pergi dari rumah. 

Masa kini

Lebih kurang satu jam lamanya perjalanan dari bandara kerumahnya. Karin tersenyum ketika melihat bangunan tingkat empat yang menjulang dihadapannya. Rumahnya memiliki sedikit halaman yang kini sudah berubah menjadi kolam ikan yang imut! 

Lucu juga menurutnya karena sebelum ia pergi, halamannya masih luas dengan rerumputan.

“Siapa yang punya ide?“ tanya Karin sambil menunjuk ke arah kolam.

“Papi,“ jawab

Karin mengangguk-angguk. “Gimana usaha penginapan? Lancar?“ 

“Penuh,“ jawab Papi tiba-tiba nongol.

“Puji Tuhan!“ sahut Karin sambil memeluk papinya. “Mami nggak datang, Pi?“

Papinya mendengus. “Dia mah orang sibuk, mana sempet liat-liat Papi.“

Mami dan papi memang sudah tinggal terpisah. Papinya dan adik bungsunya tinggal bersamanya sementara maminya tinggal bersama Selina, kakak perempuannya. 

Alasan Karin membawa papi tinggal bersamanya dan mami di rumah lamanya karena Karin sudah capek mendengar pertengkaran dan kecemburuan-kecemburuan di antara mereka yang tidak pernah ada habis-habisnya.  

Rupanya keputusan Karin membawa papinya tinggal bersamanya adalah keputusan yang tepat, di samping keadaan emosi papinya menjadi lebih stabil dan tidak tertekan lagi, sekarang  papi sudah mulai berpikir mengembangkan lagi jiwa bisnisnya dengan membuka bisnis penginapan di samping ruko Karin.

Rumah itu terhubung langsung dengan ruko yang sekarang mereka tempati. Rukonya memiliki 2 pintu utama. Satu pintu digunakan untuk masuk ke showroom bridal milik Karin yang sekarang dikembangkan oleh adiknya, Chika. Sementara pintu satunya lagi mengarah ke tingkat selanjutnya yang dibuat studio foto. Sedangkan untuk tingkat 3 dipergunakan untuk rumah persekutuan. Lebih kurang seperti gereja tetapi lebih mengarah ke perkumpulan PA (Persekutuan Alkitab ). Di dalam kegiatan ini sesama jemaat bisa saling sharing tentang masalahnya apapun juga, mulai dari  masalah keluarga, keterikatan obat-obatan, atau apapun juga dan  mereka bisa dibina dan diajarkan untuk bisa lebih dekat dengan Tuhan agar tidak jatuh lagi dalam dosa yang sama. 

Sebelum membeli tempat ini, Karin sudah berkomitment untuk membentuk dan membangun Mezbah Tuhan di rumahnya, dan yang jelas sih, setan-setan nggak pernah tuh mau ngelirik untuk ngeganggu tempat tinggalnya. 

Tingkat 4 dipergunakan untuk tempat tinggal Karin bersama keluarga kecilnya. 

Kamar Karin masih tertata rapi dan foto pernikahannya dengan Steven masih terpajang dikamarnya. 

Dia tidak menyangka kehidupan rumah tangganya akan berakhir pahit seperti ini!

Steven selalu mempergunakan Matthew untuk membujuk Karin agar mau mengalah dan tinggal bersama-sama di Surabaya dengan mereka tapi Karin merasa tidak sanggup kalau harus hidup tanpa bekerja, bagi dirinya sendiri dan keluarganya. Ia sudah terbiasa untuk hidup mandiri dan tidak terbiasa meminta-minta. 

Keluarganya dulu hidup sangat sederhana. Itulah yang membuat Karin terus memotivasi dirinya untuk terus maju dalam berusaha dan bekerja sehingga ia bisa membeli tempat tinggal sekaligus tempat usaha yang menguntungkan. Ia juga bisa membantu kedua orang tuanya dalam menjalani masa-masa tua mereka dengan lebih nyaman lagi dalam segi materi.  

Meskipun mereka telah berpisah lama tapi dalam hati yang paling dalam, ia mengakui meskipun Steven telah mengecewakan hatinya, ia masih sangat mencintai Steven.

Ketika memutuskan berpisah dari Steven, Karin merasa separuh napasnya diambil dari raganya. Ada kehampaan ketika ia harus menjalani hidup tanpa Steven dan juga anaknya. 

Selama ini, kehidupan rumah tangga mereka sangat baik-baik saja juga dibumbui dengan kehidupan seks yang hebat dan mereka bisa saling mengisi satu sama lain, Karin merasa sempurna sebagai wanita saat bersama Steven tapi keadaan berubah saat mereka harus pindah ke Surabaya karena orang tuanya sedang sakit. Sampai pulihpun mereka tidak diperbolehkan kembali ke rumah orang tua Karin di Bandar Lampung, tempat mereka merajut keluarga kecil mereka. 

Karin merasa sendirian karena Steven merasa serba salah. Hanya Matthew penghiburnya saat berada di rumah orang tua Steven tapi itupun kebanyakan Matthew selalu diajak jalan-jalan oleh mertuanya.

Dia merasa sangat kesepian. Dia juga menyalahkan dirinya sendiri kenapa begitu tertutup dan tidak bisa berlama-lama untuk mendekatkan diri dengan keluarga Steven. Ia tidak mengerti kenapa mertuanya selalu saja bersikap sinis dan selalu menyalahkannya apapun yang ia lakukan.

Apapun yang ia lakukan selalu salah dan kurang! Tidak ada satupun yang bisa ia lakukan yang bisa menyenangkan mertuanya. Ia merasa frustrasi dan putus asa menghadapi semua tekanan yang ia alami selama tinggal bersama orang tua Steven.

Ia terbiasa menghasilkan uang dan tidak terbiasa meminta kepada orang lain. Meskipun ia sudah berumah tangga dengan Steven, Karin tetap terbiasa mencari penghasilannya sendiri.

Ia memiliki usaha penyewaan gaun pengantin, studio foto dan wedding organizer yang cukup sukses dan diakui di Bandar Lampung. 

Keputusan Steven untuk menuruti keinginan kedua orang tuanya dan memisahkan dia dengan anaknya membuat Karin sakit hati dan semakin tidak respek dengan sikap orang tua Steven. Terlebih lagi sepertinya Steven lebih memilih hidup bersama kedua orang tuanya dibanding membentuk keluarga mandiri bersamanya. Karin seperti mau mati rasanya karena mengalami hal itu.

Kebahagiaan yang ia rasakan bersama keluarga kecilnya tiba-tiba terenggut begitu saja darinya.

Dia marah dan meratapi keadaannya tapi ia tahu semua itu tidak akan mengubah apapun dan malah akan menghancurkan dirinya! 

Ia mulai bangkit dan mulai membuka dirinya kepada lingkungan bisnisnya. Terlalu banyak kenangan manis di rumah itu, maka ketika Dani teman satu kuliahnya menawarkan kepada Karin untuk memimpin salah satu perusahaan percetakan milik orang tuanya, Karin menerimanya dengan konsekuensi ia harus meninggalkan Bandar lampung.

Bab 2

Bab 2

Kilas balik...

Ketika Karin sedang makan malam bersama keluarga Dani, adiknya Chika menghubunginya.

Ia mengatakan dirinya sedang hamil dan pria yang menghamilinya tidak mau bertanggung jawab!

Chika merasa bimbang dan juga merasa malu, ia mempertimbangkan untuk menggugurkan bayi yang ada dalam kandungannya. 

Karin langsung permisi masuk ke kamar kecil agar bisa secara leluasa bertukar pikiran dengan Chika.

“Jangan pernah pikirkan untuk menggugurkan kandunganmu, Chik!“ ucap Karin secara tegas, setelah menutup pintu. 

Dia duduk sambil memegang keningnya. Ia ikut merasakan kecemasan yang tengah dialami adik bungsunya itu.

“Tapi kak, … aku malu.“

“Sama siapa hah! Malu sama siapa? Gunjingan orang? Sayang, kita tidak hidup dengan mendengar gunjingan orang, lama-lama juga mereka capek sendiri. Yang kakak mau kamu pertahankan bayimu. Dia adalah keajaiban yang sudah Tuhan berikan kepada kamu. Berarti Tuhan sudah percaya sama kamu untuk memiliki seorang anak kecuali pertimbanganmu mengenai kehidupan asmara ke depannya!“ tuding Karin.

“Aku mah udah nggak mikirin hubungan asmara aku kedepannya kak, tapi aku mikirin keluarga kita, termasuk kakak. Aku sudah bikin malu kakak, bikin malu keluarga! “ kata Chika sambil menangis.

Karin menenangkan Chika dan mencoba mengatur emosinya sendiri. “Chika, kamu sayang ‘kan sama kakak?“

Chika mengiyakan.

“Kamu percaya ‘kan sama kakak?“

Chika kembali mengiyakan.

“Kalau begitu kamu harus mempertahankan bayimu. Sekarang kamu berdoa, mohon ampun atas dosa yang kamu lakukan dan mulai lagi dari awal. Chika, Tuhan mencintai umat-Nya yang mau mengakui kesalahannya. Tuhan kita itu baik, Chika! Itu yang mesti kamu ingat. Sama manusia, kamu tidak perlu takut, tapi sama Tuhanlah semestinya kamu takut. Jadi Chika dengar kakak yah, Chika harus mempertahankan bayi Chika, itu anak Chika loh, iya 'kan?! Harusnya Chika bersyukur bisa dipercaya Tuhan. Berapa banyak wanita di luar sana yang berjuang untuk bisa memiliki anak tapi mereka kesulitan.“

Chika merasa lebih tenang mendengar kata-kata kakaknya. Kakaknya tidak menyalahkannya atau memarahinya! Sebelumnya, ia merasa dunianya sudah kiamat ketika mengetahui dirinya telah hamil dan tidak tahu apa yang harus ia perbuat. 

Berri telah merayunya sehingga ia bisa dengan bodohnya melupakan nilai-nilai moral dan agama yang sudah ditanamkan kedua orang tuanya sejak kecil. 

Yang paling ditakutinya adalah mendengar reaksi kakaknya, Karin! Chika sangat sayang dan merasa kedekatan antara dia dan Karin melebihi siapapun juga. 

Orang pertama yang ia beritahu tentang kehamilannya adalah Karin dan saat ini ia menangis lega karena memiliki kakak seperti Karin. Karin selalu bisa berpikir positif dan tidak menghakiminya.

“Apakah kau ingin tinggal bersama kakak di sini?“ tanya Karin menawarkan.

Chika menghapus air matanya. “Tidak usah, kak. Chika sudah tenang setelah mendengar nasehat kakak. Chika sayang sekali sama kakak.“

“Itu baru adik kakak. Apa kakak perlu pulang ke Lampung?“

“Tidak usah, kak. Chika bisa menghadapi masalah ini sendiri. Kakak tenang saja.“

“Chik, untuk lebih legalnya sebaiknya kamu menggunakan nama kakak dan kartu keluarga kakak agar anak kamu bisa mendapat legalitas yang jelas, bagaimana?“ tawar Karin kepada adiknya.

“Terima kasih kak, Chika sangat menghargai bantuan kakak. Chika sayang kakak.“

“Kakak juga sayang Chika," balas Karin.

Setelah menutup telepon. Karin segera menghubungi keluarganya untuk menjelaskan posisi Chika agar tidak membuat tekat Chika mempertahankan bayinya goyah. Untung saja keluarganya segera bisa memahami dan bisa menenangkan diri.

Mereka berjanji akan mendukung langkah Chika. Karin merasa tenang sambil menutup teleponnya.

Keluarga Dani sangat baik menyambut kehadiran Karin baik di dalam perusahaan, juga di lingkungan keluarga Dani.

Karin berusaha menjelaskan posisinya sebagai wanita yang masih memiliki suami dan anak agar tidak terjadi salah pengertian tapi ternyata keluarga Dani sudah mengetahui tentang status gantung Karin.

Setelah mengetahui status Karin bukannya mereka menjaga jarak malahan terlihat jelas, mereka ingin menjodoh-jodohkan dirinya dan Dani, anak tunggal mereka. Dan yang membuatnya lebih sebal  lagi, sepertinya Dani menyambut baik dukungan orang tuanya.  

Karin sudah menegaskan, ia tidak tertarik untuk menjalin hubungan dengan lawan jenis lagi karena sampai saat ini dia masih mencintai suaminya, Steven.

Padahal dalam hatinya, ia sudah terlalu sakit hati untuk mengingat Steven apalagi kalau harus bersatu lagi dengannya, ia merasa Steven sudah menghianati komitmen yang telah mereka bina berdua. 

Dani menjadi satu-satunya teman baiknya, malahan terlalu baik. Bisa di bilang Danilah satu-satunya sahabat yang selalu setia menemaninnya menghabiskan waktu di akhir pekan. 

Berulang kali Karin mencoba membujuk Steven untuk datang berkunjung ke tempat tinggalnya tapi ia selalu membuat alasan yang terlalu konyol untuk diucapkan. Mertuanya berpendapat bukan Steven yang meninggalkan Karin tetapi Karinlah yang meninggalkan Steven dan juga anak mereka. Jadi Karinlah yang mesti mengalah dan memutuskan untuk ikut kehendak suami, bukan sebaliknya.

Masa kini ...

Karin memeluk foto keluarga kecilnya dalam tidurnya. Ketika bangun ia merasa matanya agak sembab karena menangis semalam. Ia sangat merindukan belahan jiwanya dan merasa sangat kesepian!

Ia memiliki keluarga tetapi semu. Terkadang ingin sekali Karin marah pada dirinya sendiri. Ia berusaha mengalahkan egonya sendiri tapi mengingat kepribadian yang sudah terpupuk dari kecil rasanya mustahil untuk dapat ia ubah. 

Ia merasa mungkin sudah waktunya ia harus menyerah dan berpisah secara baik-baik dengan Steven agar ia bisa memiliki Matthew lagi. 

Ia merasa berdosa karena telah memilih jalan perceraian, padahal pernikahannya didasarkan cinta dan diberkati di Gereja. Janji pernikahan itulah yang menahannya selama ini dalam mengambil keputusan perceraian ini. 

“Apa!?“ seru Karin tidak percaya mendengar penjelasan Chika tentang bayinya.

“Dia mengancam akan mencelakai keluarga kita kalau kita tidak menyerahkan anaknya. Jadi …“

“Bodoh!“ teriak Karin tidak menyangka perkataan itu bisa meluncur dari mulutnya.

Tangis Chika bertambah keras mendengar umpatan yang keluar dari mulut kakaknya.

Karin mencoba menenangkan diri. “Sekarang coba katakan kenapa kau begitu yakin dia bisa menyakitimu?“

“Dia …, hmm membawa pengawal bertampang seram seperti preman. Dia juga sempat menyakiti papi karena mencoba mencegah mereka membawa Wendy!“

“Apa? Jadi papi bagaimana sekarang kondisinya? Lalu kenapa tidak langsung lapor polisi!? Dan kenapa tidak langsung memberitahu kakak? Mau menunggu berapa lama, hah!?“ sahut Karin sambil memeriksa kondisi papinya. 

Papinya menenangkan Karin dan mengatakan dia sudah tidak apa-apa. 

“Dia mengancam akan membakar rumah ini, Kak! Chika nggak tahu harus bagaimana!?“ Chika meratap sambil menutupi wajahnya. 

Keluarganya hanya menunduk takut terkena dampratan dari Karin. 

Belum pernah sepanjang sejarah hidup Karin, ia begitu marah. Karin menutup matanya sambil memegang lehernya yang tiba-tiba terasa kencang. Kemudian Karin meminta alamat rumah Berri tapi Chika bilang mereka sudah pindah dan Chika tidak pernah mendengar tentang kabar mereka lagi.

“Yah, sudah, kakak minta maaf. Kakak berjanji akan membawa Wendy ke tengah-tengah kita lagi!“ kata Karin sambil meraih tubuh Chika yang masih terisak. Ia menepuk-nepuk punggung Chika sambil menahan sakit pada lehernya. Ia lalu permisi masuk ke dalam kamarnya. Ia mengoleskan krim oles untuk melancarkan kembali otot-ototnya yang menegang.

Karin menghubungi Dani untuk meminta nomor  telepon detektif professional yang biasa digunakan keluarga Dani untuk melacak keberadaan klien yang bermasalah. 

Dani malah berkeras untuk datang dan menemani Karin tapi dengan halus Karin menolak dan berkeras untuk menangani masalah ini sendiri. Akhirnya Dani mengalah dan memberikan nomor telepon yang Karin minta. 

“Dia mau main keras, yah coba saja!“ ucap Karin dengan geram. 

Ia langsung menghubungi beberapa orang  “kenalannya“ yang terkenal suka menegakkan keadilan secara pasti.

Karena sudah beberapa bulan kasus perampasan Wendy tidak dilaporkan maka pihak kepolisian meminta waktu untuk melakukan penyelidikan terlebih dahulu. Dengan tidak sabaran, Karin meninggalkan kantor polisi.

Hanya dibutuhkan waktu setengah hari sejak dipekerjakannya detektif professional berhasil menemukan jejak Berri. 

Karin merasa perlu menambahkan bonus dari pembayaran yang sudah disepakati sebagai tanda terima kasih tapi lagi-lagi Dani sudah mengambil alih masalah pembayaran! 

Karin mendesah sambil memikirkan kemungkinan ia bisa menerima Dani sebagai kekasihnya tapi kenyataannya, hatinya sama sekali tidak bergetar sama sekali berada di dekat Dani. Karin merasa kesal. Mengapa ia tidak bisa dengan mudah mencintai Dani yang sudah begitu baik menjaga dan mendukungnya selama ini!? Karin tidak tahu lagi keinginan hatinya.

Bab 3

Bab 3

Karin membawa mobil jaguarnya dengan empat orang pengawal di mobil kijang. Meskipun ia memerlukan jasa pengawalan bukan berarti ia harus terus menerus berdekatan dengan mereka ‘kan! 

Karin memberi ultimatum sebentar agar bisa menghemat waktu saat mengambil Wendy lalu langsung pergi dari rumah itu.

Dengan nada yang menyakinkan, Karin menyuruh kepala keamanan untuk membukakan pintu. 

Entah kenapa kepala keamanan itu tidak membantah dan langsung membukakan pintu gerbang yang berdiri kokoh itu. 

Karin berpesan agar tidak usah menutup kembali gerbang karena urusan yang akan ia bicarakan tidak akan lama.

Setelah pintu utama dibukakan, Karin langsung bertanya di mana kamar Wendy dan menyuruh pengawalnya untuk mengambil Wendy dan mengamankan pelayan itu agar tidak berbuat ulah yang bisa memancing keributan.

Dengan santai Karin duduk dengan elegannya di sofa monaco yang mewah milik keluarga Berri. Dia sama sekali tidak gentar dengan semua kekayaan keluarga Berri! 

Tampak seorang pria keluar dari sebuah kamar dan ia belum menyadari kehadiran Karin yang tengah duduk menunggu di sofanya. 

Karin menenangkan dirinya sambil memperhatikan pria itu dengan seksama. 

Barulah ketika Wilson melintasi ruang tamu, ia akhirnya menyadari kehadiran seorang wanita cantik dirumahnya dan berjalan mundur lalu mempertanyakan maksud kedatangan wanita itu dirumahnya. 

Pantas saja Chika bisa terbuai dengan kata-kata lelaki bajingan ini, gumam Karin sambil memperhatikan Berri dengan sinis.

Tampan bukanlah kata-kata yang tepat untuk Berri, tapi maskulin barulah tepat dan seksi dapat ditambahkan sebagai nilai tambahannya.

Cepat-cepat ia mengusir jauh-jauh perasaannya terhadap Berri. Ia merasa heran kenapa ia bisa dengan mudah tertarik dengan Berri.  Sekali bajingan tetap saja bajingan! keluh Karin dalam hati.

“Nona, halo… apa ada yang bisa saya bantu?“ tanya Wilson dengan tidak sabaran.

“Yah, saya ingin mengambil apa yang menjadi milik saya di rumah ini.“

“Maaf tapi saya tidak mengerti maksud anda.“

“Untuk orang bar-bar seperti anda, saya tidak menyangka kata-kata anda bisa begitu terpelajar.“

Wilson menarik tubuh Karin dengan kasar. “Apa maksud perkataanmu!“ ucapnya dengan kasar. Wilson meminta penjelasan dari wanita cantik yang saat ini jelas-jelas sedang menghinanya.

Dengan kasar pula Karin menghentak tubuhnya dari cengkraman tangan Berri, tapi Berri malah menariknya semakin dekat dengan tubuhnya.

Ia bisa merasakan hembusan napas Berri. Ia merasa seperti tidak sanggup bernapas berada dalam pelukan Berri. Ia mencoba melepaskan diri dari pelukan Berri. “Lepas!“ ucap Karin dengan tegas sambil memelototi Berri.

Tiba-tiba Karin merasa cengraman tangan Berri pada tubuhnya agak melembut dan gilanya dengan tiba-tiba Berri mencium bibirnya!

Karin tidak menyangka Berri akan menciumnya! Karin merasa tubuhnya meleleh saat bibir Berri menyentuh dan mencium bibirnya dan yang lebih gilanya lagi, bukannya menampar dan mendorong Berri menjauh darinya, ia malah menikmati sentuhan bibir Berri pada bibirnya.

Gila! ucap Karin menyadarkan dirinya sendiri.

Sebelum Karin sempat meronta kembali. Bibirnya kembali dilumat dengan liarnya dan gilanya lagi, Karin kembali menikmati dan membalas ciuman Berri secara tidak sadar.

Tanpa sadar tangannya menekan dada Berri. Untuk sesaat Karin tidak bisa berpikir apa-apa. Semuanya tampak indah dan … 

“Paman?“ panggil seorang pemuda mengagetkan Karin dan Wilson.

Karin langsung mendorong tubuh Berri dengan kasar. Dengan cepat ia menyentuh bibirnya dan ia merasa jijik pada dirinya sendiri!

“Wah, aku tidak menyangka Paman bisa se-hot ini!“ ucapnya dengan santai sambil memainkan jenggot klimisnya.

“Diam, Berri!“ sentak Wilson dengan marah.

“Berri? Dia Berri!“ tanya Karin langsung tersadar. Menunjuk ke arah Berri yang sebenarnya.

“Oh, my God. Jangan bilang kau memberikan ciuman itu karena menyangka Pamanku sebagai diriku. Paman, kau sungguh sangat tidak sopan.“ 

Wilson menatap tajam ke arah Berri. 

Karin mendekati Berri dengan berani. “Jadi kau yang namanya Berri, sorry kalau hadiahmu rupanya salah sasaran tapi sekarang karena aku sudah bisa mengenalimu maka aku ingin memberikan hadiah yang sebenarnya kepadamu.“

Mata Berri berbinar nakal sambil menyambut Karin dengan tangan terbuka. 

Sebuah tendangan keras dan memutar cepat tepat mengarah dan menghantam wajah Berri hingga jatuh terhuyung.

“Itu hadiah sebenarnya, Berri! Dan kalau sampai kau berani-berani datang lagi kerumahku dan mengancam keluargaku, aku akan memastikan, keluargamu tidak akan pernah menemukan potongan tubuhmu dengan utuh, mengerti kau!“

Karin menendang perut Berri dengan keras. “Dan itu untuk papiku!“ katanya lagi.

Wilson tidak bergeming ketika Karin mendekatinya. 

“Ngomong-ngomong aku senang, kau bukan Berri.  Sayangnya kau masih keluarganya, bajingan kecil yang menjijikkan ini!“

Karin kembali menendang Berri. “Tapi kau tahu, aku menikmati ciumanmu, sungguh! Tapi mudah-mudahan kita tidak bertemu lagi.“ Karin menepuk wajah Wilson dengan sinis.

Kening Wilson berkerut tidak mengerti. 

“Oh, yah silakan nasehati keponakanmu tersayang ini jangan pernah menculik Wendy lagi atau aku tidak akan segan-segan membayar pembunuh bayaran untuk menembaknya. Ingat itu, dah!“ ucap Karin sebelum pergi.

Karin langsung pergi ke kantor polisi untuk melapor dan meminta surat peringatan yang harus dikirimkan kepada Berri agar tidak mendekati anaknya lagi, secara legalitas tentunya. 

Mereka berjanji akan mengirimkan petugas untuk menyampaikan peringatan dan menegaskan sangsi berlaku jika benar tuduhan penculikan atas Wendy terbukti.

Karin memutuskan untuk tetap tinggal selama dua minggu ke depan untuk melihat perkembangan.

Ia memasang CCTV di segala penjuru rumahnya dan alarm yang langsung tersambung ke kantor polisi terdekat. Karin juga mempekerjakan empat orang pengawal yang selalu bertugas aplusan sehingga keamanan keluarganya terjamin. 

Karin menceritakan pelajaran yang sudah didapatkan Berri tapi ia tidak menceritakan tentang ciuman yang didapatnya kepada keluarganya. Ia merasa malu dengan dirinya sendiri karena hal itu! 

Karin mengurung dirinya sepanjang malam.

Sungguh, aneh! Kenapa dia tidak bisa menghapus ingatan tentang ciuman pria asing yang ia sangka Berri itu.

Karin menyalahkan dirinya sendiri dan kenapa ia bisa dengan bodohnya membalas ciuman pria itu! 

Mungkinkah karena dia merasa kesepian? Tapi kenapa dia tidak pernah bisa mengijinkan Dani untuk menciumnya? 

Dengan sedikit merasa bersalah dan kesal dengan dirinya sendiri, ia berjanji akan membiarkan Dani menciumnya dan membuktikan pada dirinya kalau dia memang kesepian dan ciuman pria itu tidak akan berarti apa-apa baginya!

Dengan kesal Karin menutup wajahnya dengan bantal sambil mengerang.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED