Bab 2

"Bang! Aku mohon, jangan usir aku dan anak kita. Apa yang akan aku katakan pada Ayahku!" mohon Laila, ia berharap sang suami masih memiliki rasa perduli, minimal pada anaknya.

"Itu bukan urusanku! Memang kamu tidak bilang pada Ayahmu, saat kita baru selesai melangsungkan akad nikah? Aku bilang, kamu harus bisa melahirkan keturunan untuk keluargaku dengan jenis kelamin perempuan. Jika kamu tidak cerita, itu deritamu! Aku tidak perduli! Yang jelas, jika tidak sesuai harapan, maka kamu harus angkat kaki dari rumahku!" ungkapnya enteng, seakan ia tetap pada pendiriannya.

"Tega kamu Bang! Jika aku tahu isi dari kertas itu mengharuskan aku melahirkan anak dengan jenis kelamin perempuan, mungkin aku tidak akan menerima pinanganmu!" balas Laila murka.

"Itulah bodohnya kamu! Dasar Gadis desa! Salah aku memilihmu menjadi Istriku. Aku kira kamu berbeda dari Gadis desa lainnya, dan akan melahirkan anak yang aku inginkan. Tapi kenyataannya sama saja! Tidak berguna sama sekali," cibir Zidan seraya menatap sebelah mata pada Laila.

"Keterlaluan kamu Bang!" jerit Laila menatap nyalang suaminya.

Entah bagaimana awal perjanjian itu dibuat. Tiba-tiba saja malam hari selepas acara pernikahannya. Laila diminta menandatangani sebuah surat perjanjian. Dalam isi surat itu, jika kelak dirinya hamil, maka harus melahirkan anak perempuan. Jika tidak, ia harus siap diusir dan diceraikan oleh Zidan.

Terdengar gila memang, namun itulah adanya. Di saat orang-orang ingin memiliki keturunan laki-laki, sebagai penerus atau pewaris harta milik orang tuanya. Berbeda dengan Zidan, ia justru mengharuskan Laila melahirkan anak berjenis kelamin perempuan.

Laila tak pernah tahu alasannya apa, karena Zidan tak pernah mau memberitahu alasan itu. Tulisan itu hanya sebuah kalimat memintanya melahirkan anak perempuan. Itu saja.

"Sudah cepat! Kemasi barang-barangmu! Dan pergi dari rumahku! Setelah kamu pergi, aku akan mengurus perceraian kita!" ucap lelaki yang memiliki paras tampan itu dengan arogan.

"Tapi Bang ..."

"Tidak ada tapi! Kamu harus pergi sekarang juga!" selahnya dengan tegas.

Aku ternganga dengan mata membulat sempurna kala mendengar kalimatnya yang terkahir.

"Tega kamu Bang padaku! Untuk apa aku kau nikahkan jika akan diperlakukan begini! Aku ini Istrimu! Aku kamu nikahi dengan baik! Begini caramu menghukumku hanya karena aku melahirkan anak laki-laki?" rintih Laila. Namun, tetap saja apapun yang ia ucapkan hanya dianggap angin lalu oleh Zidan dan keluarganya.

"Pak. Tolong saya," mohon Laila pada Fernando, laki-laki yang sedari tadi menyimak duduk di kursi roda. Ya, ia adalah ayah Zidan. Tapi, ia tak bergeming. Hanya duduk termenung dengan tatapan nanar ke arah perempuan yang tengah menggendong anaknya, ia tak menolong Laila sama sekali.

Di mana hati nurani keluarga ini. Begitu tega memperlakukan Laila bak sampah tak berharga, tak ada secuil rasa empati pada hati keluarga ini. Dengan terpaksa karena desakan Zidan dan keluarganya, Laila masuk kamar dan mengemasi pakaiannya.

Ia keluar membawa tas besar di tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya, masih setia menggendong anak yang baru saja ia lahiran beberapa jam yang lalu.

"Oeek, oeeek." Tangisannya seakan tak membuat hati mereka terketuk. Bayi malang itu hanya bisa menangis di gendongan ibunya.

"Pak ..." Sekali lagi Laila memanggil ayah mertuanya, berharap ia menolongnya. Namun, Fernando hanya menatapnya sejenak, lalu kembali menunduk. Hanya dia orang yang paling mencintai dirinya setelah menjadi istri Zidan. Tak kali ini, seakan bungkam, tak ada jawaban apapun dari bibirnya, Laila yang sadar semua hanya sia-sia, tak lagi berharap.

Ia mulai berjalan meninggalkan rumah besar itu dengan kesedihan mendalam, ia sadar dirinya tidak bisa berbuat apa-apa dengan keadaannya yang sekarang. Namun baru melangkah, tiba-tiba saja ...

Bab 3

"Sejak dulu aku 'kan sudah peringatkan,.jangan terima tawaran Suami saya. Dasar Gadis bodoh!" hina Anggraini.

Sejak awal menikah, Anggraini dan kedua anaknya tak suka dengan Laila. Baginya, Laila hanya benalu dalam keluarganya. Gadis desa yang berharap jadi tuan putri di rumahnya sama sekali tidak diharapkan. Kehadirannya hanya akan mengancam posisinya. Anggraini benar-benar beruntung ketika Laila melahirkan anak perempuan. Tak perlu membujuk Zidan menceraikan, ia diceraikan dan di usir langsung oleh anaknya.

Laila keluar rumah membawa luka teramat dalam. Sakit pasca melahirkan saja belum pulih, ini ditambah dengan sakitnya diusir dan dicampakkan oleh suami sendiri. Hanya menangis, meratapi nasib Laila menerima semuanya.

"Tunggu! Ini untukmu. Biar tidak sedih-sedih sekali hidupmu!" Anggraini menghampiri Laila yang sudah keluar dari pekarangan keluarga Fernando itu. Ia melempar beberapa lembar seratusan ribu di wajah Laila. Sontak, perbuatannya membuat si bayi menangis histeris.

Setelah Laila berhasil keluar dari rumah besar nan megah itu. Pintu ditutup kembali dengan keras, hingga meninggalkan bunyi nyaring.

"Nanti kita akan cari calon Istri untukmu lagi." ucap Anggraini yang langsung dijawab dengan anggukan oleh Zidan.

****

Sepanjang perjalanan menuju rumah. Tak henti-hentinya Laila menangis, bayi yang digendongnya pun ikut menangis seperti mengetahui perasaan ibunya. Ia terus membawa anak dan tas itu seiring berjalannya kaki melangkah.

"Laila! Kamu kenapa?" Diperjalanan, Laila bertemu teman satu perjuangan dengannya, Fitri namanya. Ia syok dengan keadaan Laila yang tengah menangis membawa bayi dan tas besar.

"Aku di usir Bang Zidan Fit, huhu." Pecah sudah tangisan Laila dihadapan Fitri. Ia tersedu sedan dengan nasib yang menimpanya.

"Astaga. Bagaimana bisa?" tanya Fitri syok. Ia tahu betul bagaimana Zidan begitu mencintai Laila. Fitri melihat langsung, saat Zidan memperlakukan Laila lembut waktu dirinya hamil.

"Ia tidak terima saat aku melahirkan anak laki-laki," kata Laila.

"Apa? Gila sekali alasannya. Kenapa bisa begitu?" Fitri begitu terkejut dengan alasan yang baginya tak masuk akal.

"Aku tidak tau Fit," jawab Laila.

"Fitri! Ngapain kamu disitu! Jangan dekati Laila atau mencampuri urusannya!" Dari kejauhan, terdengar teriakan dari pak Kasman, orang tua Fitri. Ia begitu marah ketika melihat anaknya tengah bersama Laila.

"Tapi Yah, aku hanya ..."

"Pulang!" bentak Pak Kasman melototi Fitri.

"Tapi ..."

"Ayah bilang pulang!" Tidak ada pilihan lain selain pulang. Fitri tak mau membatah perkataan ayahnya. Sekilas ia melirik Laila yang masih sedih.

"Maaf La, aku harus pulang," lirih Fitri.

Laila tak menjawab, ia hanya mengangguk lemas. Padahal, ia beruntung bertemu Fitri, setidaknya memiliki teman untuk bercerita sebentar. Sejujurnya, ia takut untuk pulang. Takut jika ayah dan ibunya sedih.

Laila paham mengenai tindakan Pak Kasman. Ia hanya tidak mau terlibat dengan keluarga Pak Fernando, semua warga desa bergantung hidupnya pada mereka, karena hanya mereka orang terpandang sekaligus penyedia lapangan pekerja untuk warga di desanya.

Laila pun berjalan melewati kebun karet milik keluarga Fernando. Perlahan tapi pasti, akhirnya ia sampai di depan rumah orang tuanya.

Rumah sederhana terbuat dari anyaman bambu itu sudah dua puluh tahun menemaninya. Baru saja setahun berlalu sejak ia menikah dan tinggal bersama keluarga Zidan. Laila tidak pernah lagi tinggal di rumah sederhana itu. Paling sesekali ia bertemu ayah dan Ibunya di kebun karet.

Ada keraguan di hati Laila saat ingin mengetuk pintu kayu yang sudah usang itu. Hati dan pikirannya tak sejalan. Ia ragu.

"Oek, oek." Belum lepas keraguan itu, tiba-tiba anaknya menangis.

"Cup, cup. Anak Ibu, laper yah Nak? Sebentar yah Sayang, nanti kita Mimi di rumah Kakek dan Nenek," ucap Laila menenangkan si kecil. Namun, bayi itu semakin menangis histeris.

Kreeet.

Terdengar pintu lapuk itu dibuka, mata Laila langsung menangkap sosok kedua orang tuanya di depan menatapnya sejenak. Mereka terpana dan ...

"Ya Allah Laila! Kamu kenapa?" Kedua orang tua itu kaget bukan main saat melihat Laila, putri kandungnya berdiri di depan pintu dengan menggendong anaknya. Di samping Laila pun ada tas besar yang membuat kedua orang tuanya sempat beradu pandang.

"Ada apa Nak?"

Tak ada jawaban dari bibir Laila, Susi yang melihat bayi di gendongan Laila, segera menghampiri.

"MashaAllah, jadi benar yang dikatakan orang-orang di perkebunan, kalo kamu sudah lahiran?" tanya Susi sumringah.

Namun, Laila tak menjawab, ia hanya diam saja. Hingga sedetik kemudian ia menangis memeluk tubuh ibunya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED