Bab 1

"Sudah kubilang, jika kamu melahirkan anak laki-laki. Kamu harus terima akibatnya!" Dengan wajah penuh amarah, Zidan berkacak pinggang dan menatap Laila tajam.

"Tapi Bang ...? Abang tidak bisa menyudutkanku begini! Aku melahirkan anak laki-laki atau perempuan, itu sudah menjadi takdir ilahi. Aku tidak bisa memilih Bang," balas Laila membela diri. Ia tak suka dengan kalimat sang suami.

"Cukup! Aku tak butuh alasanmu! Yang jelas, aku tidak akan menerimanya. Kamu ingat kan? Bagaimana perjanjian kita? Jika kamu melahirkan anak laki-laki, maka siap-siap untuk keluar dari rumah ini!" ucap Zidan tegas.

"Tapi Bang ..." Laila masih bersikukuh membantah kalimat suaminya. Ia tak bisa disalahkan seperti ini. Laki-laki atau perempuan, itu semua sudah ketetapan. Bagaimana bisa Zidan menyalahkan sepihak seperti ini.

"Sudahlah Zidan. Apa lagi yang kamu tunggu! Cepat usir dia," timpal Anggraini, mamah mertua Laila.

"Betul! Dia itu tidak berguna Bang! Sejak awal aku memang tak setuju kau menikah dengannya," sambung Vallen penuh cemooh.

"Iya! Heran, kenapa pula kau menikahi wanita ini! Sudah jelas terlahir dari kasta yang berbeda. Derajatnya saja jauh di bawah kita," hina Jonathan, kakak dari Zidan.

Semua seakan kompak menghina dan merendahkan Laila karena melahirkan anak laki-laki yang tidak sesuai harapan mereka.

Laila hanya menatap sendu anak dalam gendongannya. Tak disangka bayi yang seharusnya disambut dengan kegembiraan, justru harus terasingkan oleh keluarga ayahnya sendiri.

Laila Putri Cantika, gadis yang terlahir dari keluarga sederhana. Ia dinikahi lelaki tampan bernama Zidan Fernando, anak pemilik perkebunan karet yang terkenal kaya di desanya. Orang tua Laila merupakan buruh di perkebunan itu.

Awal mula Laila dipersunting Zidan karena kecantikan Laila yang mampu memikat hati Zidan, anak dari pemilik perkebunan karet itu.

Saat itu Laila mengantar makanan ke kebun karet untuk orang tuanya, saat itu juga ia berpapasan dengan Zidan, ia baru pulang dari kota.

Katanya, ia baru selesai belajar di luar kota dan akan mengabdikan diri di desanya. Zidan kembali ke kampung halaman untuk mengembangkan usaha ayahnya bersama Kakak lelaki dan perempuannya yang bernama Vallen dan Jonathan. Namun, bukan mengembangkan usaha sang ayah, ia justru bertemu Laila terpikat dengan kecantikannya.

Ia meminta sang ayah untuk menikahinya dengan Laila. Awalnya, Laila menolak karena ia masih belum yakin dengan Zidan, pemuda yang baru saja menyelesaikan pendidikannya itu. Saat itu juga, Laila baru saja lulus sekolah tingkat SMA.

Menurut yang ia dengar, Zidan terkenal dengan sifat yang manja dan suka menghabiskan harta kekayaan milik ayahnya, hidupnya di kota juga suka berfoya-foya. Namun, karena bujukan ibu dan ayah, serta pak Fernando, ayah dari Zidan sekaligus pemilik perkebunan karet itu, yang menyukai sifat dan kecantikan Laila, Laila pun tak bisa menolak. Ia lantas menerima pinangan Zidan, lelaki yang belum sepenuhnya ia cintai.

Bohong jika ia tak tertarik pada Zidan. Ia lelaki tampan di desa itu. Mungkin karena hidupnya di kota, cara berpakaian dan wajahnya tidak seperti lelaki desa. Itulah yang membuat Laila menyukai Zidan. Selain itu, Laila tak bisa menolak permintaan sang ayah, karena Pak Fernando sudah baik pada keluarganya. Ia sering menolong Ayah Laila, kala mereka kesusahan dalam hidup.

Di desa pun masih enggan menolak perjodohan, apalagi jika di jodohkan dengan orang yang berada. Bagi mereka, menikah dengan orang nomor satu di desa, menjadi sesuatu yang diinginkan banyak orang.

"Apa lagi yang mau kamu tunggu! Cepat pergi dari rumah ini!" usir Anggraini tak ada rasa iba dengan menantu dan cucunya, ia menatap sengit kedua manusia di depannya, memerintah agar segera meninggalkan kediamannya yang megah itu.

Bab 2

"Bang! Aku mohon, jangan usir aku dan anak kita. Apa yang akan aku katakan pada Ayahku!" mohon Laila, ia berharap sang suami masih memiliki rasa perduli, minimal pada anaknya.

"Itu bukan urusanku! Memang kamu tidak bilang pada Ayahmu, saat kita baru selesai melangsungkan akad nikah? Aku bilang, kamu harus bisa melahirkan keturunan untuk keluargaku dengan jenis kelamin perempuan. Jika kamu tidak cerita, itu deritamu! Aku tidak perduli! Yang jelas, jika tidak sesuai harapan, maka kamu harus angkat kaki dari rumahku!" ungkapnya enteng, seakan ia tetap pada pendiriannya.

"Tega kamu Bang! Jika aku tahu isi dari kertas itu mengharuskan aku melahirkan anak dengan jenis kelamin perempuan, mungkin aku tidak akan menerima pinanganmu!" balas Laila murka.

"Itulah bodohnya kamu! Dasar Gadis desa! Salah aku memilihmu menjadi Istriku. Aku kira kamu berbeda dari Gadis desa lainnya, dan akan melahirkan anak yang aku inginkan. Tapi kenyataannya sama saja! Tidak berguna sama sekali," cibir Zidan seraya menatap sebelah mata pada Laila.

"Keterlaluan kamu Bang!" jerit Laila menatap nyalang suaminya.

Entah bagaimana awal perjanjian itu dibuat. Tiba-tiba saja malam hari selepas acara pernikahannya. Laila diminta menandatangani sebuah surat perjanjian. Dalam isi surat itu, jika kelak dirinya hamil, maka harus melahirkan anak perempuan. Jika tidak, ia harus siap diusir dan diceraikan oleh Zidan.

Terdengar gila memang, namun itulah adanya. Di saat orang-orang ingin memiliki keturunan laki-laki, sebagai penerus atau pewaris harta milik orang tuanya. Berbeda dengan Zidan, ia justru mengharuskan Laila melahirkan anak berjenis kelamin perempuan.

Laila tak pernah tahu alasannya apa, karena Zidan tak pernah mau memberitahu alasan itu. Tulisan itu hanya sebuah kalimat memintanya melahirkan anak perempuan. Itu saja.

"Sudah cepat! Kemasi barang-barangmu! Dan pergi dari rumahku! Setelah kamu pergi, aku akan mengurus perceraian kita!" ucap lelaki yang memiliki paras tampan itu dengan arogan.

"Tapi Bang ..."

"Tidak ada tapi! Kamu harus pergi sekarang juga!" selahnya dengan tegas.

Aku ternganga dengan mata membulat sempurna kala mendengar kalimatnya yang terkahir.

"Tega kamu Bang padaku! Untuk apa aku kau nikahkan jika akan diperlakukan begini! Aku ini Istrimu! Aku kamu nikahi dengan baik! Begini caramu menghukumku hanya karena aku melahirkan anak laki-laki?" rintih Laila. Namun, tetap saja apapun yang ia ucapkan hanya dianggap angin lalu oleh Zidan dan keluarganya.

"Pak. Tolong saya," mohon Laila pada Fernando, laki-laki yang sedari tadi menyimak duduk di kursi roda. Ya, ia adalah ayah Zidan. Tapi, ia tak bergeming. Hanya duduk termenung dengan tatapan nanar ke arah perempuan yang tengah menggendong anaknya, ia tak menolong Laila sama sekali.

Di mana hati nurani keluarga ini. Begitu tega memperlakukan Laila bak sampah tak berharga, tak ada secuil rasa empati pada hati keluarga ini. Dengan terpaksa karena desakan Zidan dan keluarganya, Laila masuk kamar dan mengemasi pakaiannya.

Ia keluar membawa tas besar di tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya, masih setia menggendong anak yang baru saja ia lahiran beberapa jam yang lalu.

"Oeek, oeeek." Tangisannya seakan tak membuat hati mereka terketuk. Bayi malang itu hanya bisa menangis di gendongan ibunya.

"Pak ..." Sekali lagi Laila memanggil ayah mertuanya, berharap ia menolongnya. Namun, Fernando hanya menatapnya sejenak, lalu kembali menunduk. Hanya dia orang yang paling mencintai dirinya setelah menjadi istri Zidan. Tak kali ini, seakan bungkam, tak ada jawaban apapun dari bibirnya, Laila yang sadar semua hanya sia-sia, tak lagi berharap.

Ia mulai berjalan meninggalkan rumah besar itu dengan kesedihan mendalam, ia sadar dirinya tidak bisa berbuat apa-apa dengan keadaannya yang sekarang. Namun baru melangkah, tiba-tiba saja ...

Bab 3

"Sejak dulu aku 'kan sudah peringatkan,.jangan terima tawaran Suami saya. Dasar Gadis bodoh!" hina Anggraini.

Sejak awal menikah, Anggraini dan kedua anaknya tak suka dengan Laila. Baginya, Laila hanya benalu dalam keluarganya. Gadis desa yang berharap jadi tuan putri di rumahnya sama sekali tidak diharapkan. Kehadirannya hanya akan mengancam posisinya. Anggraini benar-benar beruntung ketika Laila melahirkan anak perempuan. Tak perlu membujuk Zidan menceraikan, ia diceraikan dan di usir langsung oleh anaknya.

Laila keluar rumah membawa luka teramat dalam. Sakit pasca melahirkan saja belum pulih, ini ditambah dengan sakitnya diusir dan dicampakkan oleh suami sendiri. Hanya menangis, meratapi nasib Laila menerima semuanya.

"Tunggu! Ini untukmu. Biar tidak sedih-sedih sekali hidupmu!" Anggraini menghampiri Laila yang sudah keluar dari pekarangan keluarga Fernando itu. Ia melempar beberapa lembar seratusan ribu di wajah Laila. Sontak, perbuatannya membuat si bayi menangis histeris.

Setelah Laila berhasil keluar dari rumah besar nan megah itu. Pintu ditutup kembali dengan keras, hingga meninggalkan bunyi nyaring.

"Nanti kita akan cari calon Istri untukmu lagi." ucap Anggraini yang langsung dijawab dengan anggukan oleh Zidan.

****

Sepanjang perjalanan menuju rumah. Tak henti-hentinya Laila menangis, bayi yang digendongnya pun ikut menangis seperti mengetahui perasaan ibunya. Ia terus membawa anak dan tas itu seiring berjalannya kaki melangkah.

"Laila! Kamu kenapa?" Diperjalanan, Laila bertemu teman satu perjuangan dengannya, Fitri namanya. Ia syok dengan keadaan Laila yang tengah menangis membawa bayi dan tas besar.

"Aku di usir Bang Zidan Fit, huhu." Pecah sudah tangisan Laila dihadapan Fitri. Ia tersedu sedan dengan nasib yang menimpanya.

"Astaga. Bagaimana bisa?" tanya Fitri syok. Ia tahu betul bagaimana Zidan begitu mencintai Laila. Fitri melihat langsung, saat Zidan memperlakukan Laila lembut waktu dirinya hamil.

"Ia tidak terima saat aku melahirkan anak laki-laki," kata Laila.

"Apa? Gila sekali alasannya. Kenapa bisa begitu?" Fitri begitu terkejut dengan alasan yang baginya tak masuk akal.

"Aku tidak tau Fit," jawab Laila.

"Fitri! Ngapain kamu disitu! Jangan dekati Laila atau mencampuri urusannya!" Dari kejauhan, terdengar teriakan dari pak Kasman, orang tua Fitri. Ia begitu marah ketika melihat anaknya tengah bersama Laila.

"Tapi Yah, aku hanya ..."

"Pulang!" bentak Pak Kasman melototi Fitri.

"Tapi ..."

"Ayah bilang pulang!" Tidak ada pilihan lain selain pulang. Fitri tak mau membatah perkataan ayahnya. Sekilas ia melirik Laila yang masih sedih.

"Maaf La, aku harus pulang," lirih Fitri.

Laila tak menjawab, ia hanya mengangguk lemas. Padahal, ia beruntung bertemu Fitri, setidaknya memiliki teman untuk bercerita sebentar. Sejujurnya, ia takut untuk pulang. Takut jika ayah dan ibunya sedih.

Laila paham mengenai tindakan Pak Kasman. Ia hanya tidak mau terlibat dengan keluarga Pak Fernando, semua warga desa bergantung hidupnya pada mereka, karena hanya mereka orang terpandang sekaligus penyedia lapangan pekerja untuk warga di desanya.

Laila pun berjalan melewati kebun karet milik keluarga Fernando. Perlahan tapi pasti, akhirnya ia sampai di depan rumah orang tuanya.

Rumah sederhana terbuat dari anyaman bambu itu sudah dua puluh tahun menemaninya. Baru saja setahun berlalu sejak ia menikah dan tinggal bersama keluarga Zidan. Laila tidak pernah lagi tinggal di rumah sederhana itu. Paling sesekali ia bertemu ayah dan Ibunya di kebun karet.

Ada keraguan di hati Laila saat ingin mengetuk pintu kayu yang sudah usang itu. Hati dan pikirannya tak sejalan. Ia ragu.

"Oek, oek." Belum lepas keraguan itu, tiba-tiba anaknya menangis.

"Cup, cup. Anak Ibu, laper yah Nak? Sebentar yah Sayang, nanti kita Mimi di rumah Kakek dan Nenek," ucap Laila menenangkan si kecil. Namun, bayi itu semakin menangis histeris.

Kreeet.

Terdengar pintu lapuk itu dibuka, mata Laila langsung menangkap sosok kedua orang tuanya di depan menatapnya sejenak. Mereka terpana dan ...

"Ya Allah Laila! Kamu kenapa?" Kedua orang tua itu kaget bukan main saat melihat Laila, putri kandungnya berdiri di depan pintu dengan menggendong anaknya. Di samping Laila pun ada tas besar yang membuat kedua orang tuanya sempat beradu pandang.

"Ada apa Nak?"

Tak ada jawaban dari bibir Laila, Susi yang melihat bayi di gendongan Laila, segera menghampiri.

"MashaAllah, jadi benar yang dikatakan orang-orang di perkebunan, kalo kamu sudah lahiran?" tanya Susi sumringah.

Namun, Laila tak menjawab, ia hanya diam saja. Hingga sedetik kemudian ia menangis memeluk tubuh ibunya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED