Tanpa sepatah kata pun, sebuah tamparan mendarat di pipi pria itu dengan cepat. Membuatnya merasa nyeri.
“Sebaiknya lo perbaiki etika dan belajar cara menghargai seorang wanita,” tegas Neysa.
Dia pun bergegas pergi dari hadapan pria itu. Bersama dua sahabatnya yang terus mengekor. Sementara pria itu, tampak dendam dengan Neysa, dan memandangi langkah wanita itu dengan penuh kekesalan.
“Sialan, awas lo ya,” gerutunya, seraya mengusap-usap pipinya. “Lo belum tahu siapa gue sebenarnya,” keluhnya. Lalu berlalu dari tempat itu.
Sementara itu, Neysa baru tiba di depan ruangan Exel berada. Bersamaan dengan itu, si dokter keluar dari ruangan itu, bersamaan dengan jenazah yang sudah ditutupi kain kapan.
“Dok, itu jenazah siapa?”
“Korban kecelakaan maut beberapa menit yang lalu.”
Deg!
Neysa langsung berlari dan meminta petugas untuk berhenti. Dengan perasaan rapuh dan takut, dia membuka kain kapan di bagian wajah.
“TIDAK!!!!” teriak Neysa, histeris. “Sayang! Lo nggak boleh ninggalin gue. Kita mau nikah. Bangun, sayang! Bangun!” teriaknya.
Suasana menjadi penuh dramatis. Linda dan Serly hanya pasrah melihat kenyataan itu. Dia tidak menyangka kalau Exel akan meninggalkan mereka secepat ini.
Mereka memahami perasaan sahabatnya sekarang. Tidak mudah menghadapi itu semua. Apalagi, Neysa baru satu bulan menjalani kebersamaan setelah berpisah lama. Tentu itu akan menjadi pukulan keras bagi Neysa.
“Ney, sabar ya. Exel udah tenang di sana,” ucap Linda mencoba memotivasi.
“Semua udah takdir Tuhan, Ney,” sambung Serly.
Neysa sangat rapuh, dan terus menangis. Semua orang di sana juga merasakan kesedihan yang dirasakan oleh Neysa sekarang. Tidak ada satu wanita pun yang tidak akan rapuh menerima kenyataan sepahit itu.
“Kenapa Tuhan tega sama gue. Kenapa Tuhan jahat sama gue,” keluh Neysa, yang sudah tekulai lemas di ranjang Exel.
“Nggak boleh bicara begitu, Ney. Lo harus tahu, nggak ada ketentuan Tuhan yang salah. Semua pasti ada hikmahnya,” tutur Linda dengan bijak.
“Iya, Ney. Lo harus ikhlas ya. Semua pasti ada maksud dari Tuhan.”
Dua sahabatnya langsung mengangkat tubuh Neysa yang rapuh. Lalu merema memeluk wanita itu dengan penuh kasih sayang.
Setelah itu, petugas membawa jenazah Exel ke kamar mayat menunggu keluarga Exel datang untuk membawa jenazah Exel kembali ke Bandung.
Beberapa jam berlalu, kedua orang tua Exel tiba di rumah sakit. Sang calon ibu mertua langsung memeluk Neysa. Kedua sama-sama rapuh atas kematian Exel. Sungguh kematian memang rahasia Tuhan, bahkan mereka tidak menyangka kalau Exel akan pergi lebih dulu di usia muda.
“Ma, Exel udah pergi ninggalin aku, Ma. Apa yang harus aku lakukan Ma,” lirih Neysa, meneteskan air matanya.
Lalu wanita patuh baya itu, memegang bahunya dan tersenyum kepadanya.
“Kamu boleh sedih, tapi jangan sampai kamu larut dalam kesedihan. Exel bukan punya kita, dia hanya titipan dan udah waktunya kembali kepada penciptanya. Mama berharap, kamu bisa menemukan pria yang baik,” ujar wanita itu.
“Benar, Neysa. Kamu wanita yang baik. Kami tahu kamu akan sulit menerima kepergian Exel. Tapi takdir berkata lain, kalian nggak bisa bersama. Papa harap, kamu nggak rapuh banget, dan jangan menutup diri kalau ada pria yang datang melamarmu,” tutur pria paruh baya menasehati Neysa.
“Makasih, Ma, Pa. Aku benar-benar sedih. Hanya itu yang aku rasakan saat ini,” ungkap Neysa.
Wanita itu kembali memeluk Neysa. Dia mencoba menenangkan wanita itu. Meski dia sendiri sangat kehilangan putranya. Namun, mereka sadar kalau anak adalah titipan dari sang maha kuasa.
Setelah lama berbincang di sana, kedua orang tua Exel membawa jenazah putranya ke Bandung. Tentu Neysa akan bertolak ke Bandung untuk mengikuti prosesi pemakaman kekasihnya.
“Kami akan ikut denganmu, Ney,” ujar Linda.
“Iya, Ney. Sebaiknya kita ambil pakaian dulu, lalu kita berangkat ke Bandung.”
“Thanks banget ya. Karena mau menemaniku.”
Linda dan Serly memeluk sahabatnya. Mereka bisa merasakan kesedihan yang dirasakan oleh Neysa sekarang.
Keesokan harinya, Neysa dan dua temannya sudah berada di pemakaman Exel. Banyak orang yang datang melayat. Banyak sekali yang datang mendoakan pria itu. Satu persatu meninggalkan tempat itu setelah pemakaman selesai.
Berbeda dengan Neysa yang masih belum ingin beranjak. Air matanya tidak berhenti sejak tadi malam. Kesedihannya begitu dalam. Dia pun menangis di kuburan kekasihnya itu.
“Sayang, aku tahu takdir nggak bisa ditolak. Tapi jujur, aku belum terbiasa tanpamu, sayang,” lirih Neysa.
Isakannya membuat Linda dan Serly ikut bersedih. Sejenak mereka membiarkan Neysa meluapkan kesedihannya. Beberapa menit kemudian, Linda memegang bahu Neysa.
“Ney, udah ya. Kita balik. Exel udah tenang di sana,” ucap Linda.
Neysa tampaknya sudah lega setelah meluapkan kesedihannya di depan makam sang kekasih. Ketiganya lalu pergi meninggalkan tempat itu menuju ke Jakarta.
***
Satu minggu telah berlalu. Neysa masih merenung di dalam kamarnya. Tiba-tiba sang nenek datang ke kamar menemui Neysa.
“Nenek boleh bicara sebentar?”
“Iya, Nek.”
Mira lalu duduk di samping cucunya dengan penuh keprihatinan. Wanita itu mengusap-usap bahu cucuknya. Lalu dengan cepat, Neysa yang sejak tadi sedih langsung memeluk neneknya.
“Nenek tahu perasaanmu. Tapi apapun itu, kamu harus tetap menjalani hidupmu tanpa Exel,” pinta Mira.
“Iya, Nek. Tapi berat, Nek. Aku udah terbiasa dengan sapaan Exel, dengan canda tawanya, dengan perhatiannya, dan semua tentangnya,” ungkap Neysa, merengek.
“Nenek tahu, Ney. Nggak mudah melakukan itu.”
Mira memeluk cucuknya dengan penuh kasih sayang. Dia tidak menyangka kalau kejadian ini akan terjadi. Apalagi lusa adalah acara pernikahan cucunya. Undangan juga sudah tersebar.
“Ney, ada seseorang yang ingin bertemu denganmu. Di menunggu di luar,” ujar Mira.
“Siapa, Nek?”
“Dia sahabat baik Nenek. Kita temuin dia ya.”
Mira dan Neysa melangkah ke ruang tamu menemuai wanita tua yang ingin berbicara dengan Neysa. Sesampainya di ruang tamu, wanita itu menyambut Neysa dengan penuh senyum dan kebahagiaan.
“Cucumu sangat cantik, Mira. Dia sangat cocok jadi istri cucuku,” sahut wanita bernama Zainab.
Neysa terkejut dengan kalimat itu.
“Apa maksudnya, Nek?”
Nenek Zainab mengajaknya duduk. Lalu memandang Neysa dengan penuh harapan. Dia bisa melihat kesabaran dan ketulusan di dalam diri Neysa.
“Neysa, nenek momohon sama kamu. Nenek ingin kamu menikah dengan cucu nenek. Dia bernama Alby. Nenek udah mendengar apa yang terjadi denganmu. Sejak lama, nenek udah kenal sama kamu. Hanya kamu yang pantas mendampingi Alby. Nenek mohon, menikahlah dengan cucu nenek,” pinta nenek Zainab.
Sejenak Neysa bingung harus menjawab apa. Apalagi permintaan itu datang dari wanita tua di depannya. Dia bisa melihat ada harapan yang mendalam di dalam mata itu.
Mira memandang cucunya, dan mengangguk seolah memberi isyarat kepada Neysa untuk menerima permintaan dari Zainab.
Tatapan sang nenek berbeda dari sebelumnya. Neysa melihat sebuah harapan besar di dalam mata kedua wanita dua itu.
“Maafin nenek ya. Nenek rasa inilah waktunya, Neysa. Nenek harap kamu menerimanya, Ney,” pinta Mira. “Nenek mohon,” pintanya memelas.
Neysa tidak bisa melihat neneknya memohon seperti itu. Dia merasa bersalah karena membuat neneknya harus melakukan hal semacam itu.
“Nenek, aku sayang banget sama nenek. Bagaimana mungkin aku membiarkan nenek menangis dan bersedih. Kalau emang itu pilihan nenek yang terbaik. Aku menerimanya, Nek,” ungkap Neysa tersenyum tipis.
Mira langsung memeluk cucunya. Tidak ada tujuan lain menikahkan Neysa dengan cucunya Zainab. Dia hanya ingin hidup Neysa lebih baik dari sekarang.
“Makasih, Neysa. Makasih udah memenuhi permintaan nenek,” ucap Zainab dan memeluk Neysa juga.
Dua hari berlalu, Neysa tetap menikah di hari pernikahan yang telah ditentukan. Namun, mempelai prianya berbeda. Tidak pernah terbesit di benak Neysa kalau akan menikah dengan pria selain Exel.
Anehnya lagi, dia menikah dengan pria menyebalkan yang dua kali membuatnya naik darah. Seolah takdir telah merencanakan ini semua. Pria itulah yang harus menjadi suaminya.
“Andai lo masih ada, sayang. Gue pasti nikah sama lo. Dan gue nggak tahu, apa gue bisa melupakan semua tentang lo atau nggak,” ucap Neysa, dalam hati. Lima detik setelah ijab kabul selesai.
Mira yang menyadari kesedihan cucunya ikut memberinya semangat. Dia sangat mengerti bagaimana perasaan Neysa sekarang. Dia tahu kalau Neysa menerima pernikahan itu bukan karena menyukai pria itu, tapi karena tidak ingin membuatnya sedih.
Wanita tua itu menatap wajah cucunya yang memandang ke arahnya, seolah memberi isyarat supaya Neysa tak boleh bersedih.
Nenek Zainab juga ikut memberikan selamat kepada cucunya yang bernama Alby Delano Prabu dan Neysa. Dia tampak senang sekali karena berhasil menikahkan Alby dengan wanita yang dia inginkan.
Bahkan setelah ini, Neysa akan menetap di rumah mereka. Karena itulah tradisi yang ada di keluarga Prabu. Semua menantu harus berada di dalam rumah besar itu.
“Jadilah suami terbaik dan bijak bagi Neysa,” anjur nenek Zainab memandang cucunya. Dia tahu bagaimana watak cucunya selama ini. Sehingga, ia perlu memperingatinya setiap waktu.
Berbeda dengan kedua orang tua Alby. Tampaknya mereka tidak pernah menyukai kehadiran Neysa dalam keluarganya. Bukan hanya mereka, akan tetapi adik Alby juga keluarga yang tidak setuju dengan keputusan nenek Zainab.
Setelah acara prosesi akad nikah berjalan dengan lancar. Neysa dan Alby pun resmi menjadi pasangan suami-istri hari ini.
Kedua tentu tidak bahagia dengan pernikahan itu, karena terdapat unsur paksa dan tidak saling mencintai. Namun, di depan keluarga besar, mereka seolah memakai topeng untuk menyenangkan hati nenek mereka masing-masing.
Kini Alby dan Neysa melangkah menuju pelaminan diiringi oleh keluarga dan sahabatnya serta alunan lagu “Beautiful in white” terus mengiringi langkah mereka.
Mereka melangkah melewati para tamu undangan yang sudah hadir sejak tadi. Rekan-rekan kantor dan teman-teman alumni serta kerabat hadir. Mereka seperti raja dan ratu sehari.
Sesampainya di pelaminan, mereka berdiri di depan para tamu undangan dengan penuh kebahagiaan.
Neysa tidak bisa berbohong dengan segala hal yang dia rasakan saat ini. Siapa yang tidak akan sedih, di hari bahagianya ini ia seharusnya berdampingan dengan Exel, malah dengan pria menyebalkan yang sama sekali tidak dia cintai.
“Lo baik-baik aja, kan?” tanya Alby berbisik pelan. “Nggak usah cengeng, senyum aja.”
“Bukan urusan lo,” ketus Neysa.
“Tapi gue nggak mau mereka menilai kita buruk. Paham!”
Neysa muak dengan semua perintah suaminya. Dua berharap acara ini segera selesai karena ia ingin menangis sepuasnya di kamar.
Semua tamu undangan sudah memberi selamat. Tidak lama kemudian, terlihat seorang wanita yang dengan pakaian mewah dengan tatapan tajam mengarah ke mata Neysa.
Wanita itu tiba di depan Neysa, dan tersenyum sinis. Dia langsung memeluk Neysa dengan begitu akrab.
“Gue akan membuat lo menyesal telah merebut Alby dari gue,” bisiknya.
Deg!
***
Neysa terkejut dengan kalimat yang baru saja diutarakan oleh wanita asing yang baru dia kenal. Namun, dia tidak ingin menggubris ucapan itu.
Setelah memberi selamat kepadanya, lalu wanita itu beralih ke suaminya. Kedua orang itu tampak akrab. Bahkan di depannya saling memberikan cipika-cipiki.
“Siapa wanita ini? Kenapa dia mengancam gue?” tanya Neysa dalam hati.
Dia memandang wanita itu sebelum berlalu dari hadapannya. Wanita asing itu juga memandangnya dengan tatapan sinis penuh dendam.
Prosesi acara resepsi pernikahan telah selesai dilakukan. Neysa dan Alby sudah berada di dalam kamarnya. Keduanya tampak tidak akur, apalagi sikap Alby yang seakan tidak peduli dengan keberadaan istrinya di rumah itu.
“Gue peringati lo ya...” Alby menggantung kalimatnya. Lalu Neysa memandang ke arah suaminya dengan cepat. “Sampai kapanpun gue nggak akan pernah menyukai lo,” tegasnya.
Neysa tidak bisa memaksa Alby menyukainya. Karena dia juga belum menyukai Alby. Hanya saja, sebagai seorang istri. Dia wajib mengabdikan diri pada pria itu, sekalipun tanpa adanya cinta.
“Gue udah tahu tanpa lo ngomong. Lagipula, ini pernikahan yang sama-sama kita nggak inginkan,” sahut Neysa.
“Kalau begitu, biarkan gue bersenang-senang dengan wanita lain di luar sana. Lo nggak usah lapor nenek, atau protes apapun. Deal?” tanya Alby.
Sejenak Neysa terdiam mendapat tawaran tersebut. Sungguh, ini bukan hal yang bagus untuknya. Bahkan dia tidak pernah berpikir akan memiliki seorang suami yang playboy.
“Terserah lo. Tapi jangan coba-coba sentuh gue. Karena gue nggak akan rela disentuh sama pria yang mengobral tititnya ke sana kemari,” tegas Neysa, ketus. Dia sama sekali tidak takut dengan Alby, meski dia hanya wanita miskin yang mencoba menjadi seorang cinderella.
Alby langsung tertawa renyah mendengar ucapan yang barusan diutarakan oleh Neysa. Sungguh dia meremehkan wanita yang tengah duduk di ranjang itu.
“Nggak usah terlalu percaya diri. Gue nggak tertarik sama tubuh lo. Masih banyak tubuh seksi yang bisa puasin gue di luar sana. Jadi, nggak usah sok suci lo ya. Paling juga udah nggak perawan,” hina Alby. “Oh iya, lo ingat satu hal ya. LO BUKAN LEVEL GUE!” tegasnya.
Deg!
Terasa hati Neysa seperti remuk mendengar penghinaan di hari pertama pernikahan. Bukannya mendapatkan kebahagiaan, malah sebuah kepedihan.
Namun, wanita itu tidak ingin terlihat lemah di depan suaminya yang arogan itu. Dia tetap tegar dan menunjukkan kelasnya sebagai wanita berpendidikan dan berwawasan luas.
“Terserah lo. Gue nggak peduli,” ucap Neysa. “Lagian lo nggak perlu sok kegantengan. Gue nggak tertarik sama pria brengsek kayak lo,” ungkapnya.
Alby yang kesal langsung mendekat ke arah Neysa. Pria itu benar-benar tak terima dengan ucapan Neysa barusan.
Sesampainya di depan Neysa. Dia langsung menarik lengan wanita itu, dan mendorong wanita itu ke atas ranjang.
“Mau ngapain lo?” tanya Neysa.
Alby tidak menggubris, lalu dia menahan kedua tangan Neysa. Menahan tenaga Neysa yang berusaha lepas cari cengkramannya.
“Lepasin gue!” titah Neysa.
“Diam!”
Brukkk!
Suara pintu kamar mereka tiba-tiba terbuka. Terlihat kedua nenek mereka terdungkur di pintu. Neysa dan Alby langsung menoleh ke arah yang sama.
Tampaknya kedua neneknya sedang menguping mereka sejak tadi. Hingga tanpa sengaja, pintunya terbuka dan membuat mereka terjatuh.
Alby langsung bangkit dari tubuh Neysa. Begitu juga dengan Neysa yang tampak malu.
“Nenek, kok bisa kalian di situ?” tanya Alby.
“Anuh... tadi... anuh...” Nenek Zainab tampak bingung harus menjawab apa.
“Nenek nguping ya?” tanya Neysa lagi.
“Emm... nggak kok. Tadi cuma...” Nenek Mira juga tidak tahu harus menjawab apa sekarang.
Setelah itu, kedua nenek itu langsung bergegas pergi meninggalkan tempat itu. Namun, sebelum pergi dari sana. Nenek Zainab berteriak.
“Lanjutkan aja, Alby!”
Ceklek!
Pintu tertutup kembali. Lalu Alby dan Neysa kembali saling menatap satu sama lain. Tampak ada kebencian di dalam mata mereka masing-masing.
“Tuh kan lo liat. Nenek-nenek kita emang udah gila ya. Bisa-bisanya membuat perjodohan konyol ini. Menyebalkan,” keluh Alby melotot ke Neysa.
“Udahlah nggak perlu salahin mereka. Ini udah terjadi. Tinggal jalanin aja, kan?”
Alby tampak kesal sekali dengan ketidakpedulian Neysa kepada hubungan konyol itu. Pria itu sedikit frustasi dengan kehidupannya sekarang. Dia memegang keningnya yang tidak pening.
“Lo dan mereka semua sama aja. Arggh!” kesal Alby. “Tapi jangan salahin gue kalau gue menyakiti lo,” ancam Alby.
“Silakan kalau bisa.” Neysa malah menantang suaminya. Sungguh, dia benar-benar tidak memiliki rasa takut sedikit pun kepada pria sombong itu.
Sejenak mereka terdiam. Tidak ada perbincangan apa-apa lagi di antara mereka. Suasana di dalam ruangan itu menjadi hening sekali. Hanya terdengar suara jarum jam yang berputar.
Setelah itu, Alby berniat pergi dari kamarnya. Dia akan bertemu dengan kekasihnya yang sudah menunggu di apartemen. Baru saja membuka pintu, terlihat dua neneknya yang tersenyum di sana.
“Mau ke mana, Alby?” tanya nenek Zainab.
“Mau cari angin, Ma. Lelah banget. Permainan istriku sangat jago sekali,” puji Alby berpura-pura berbohong kepada neneknya.
Kedua neneknya tersenyum lebar. Tampaknya mereka sangat senang dengan keadaan itu. Mereka puas dengan perjodohan yang mereka lakukan.
“Iya udah ya, Nek. Aku pergi dulu.”
Alby bergegas pergi dari tempat itu, seraya berakting kalau dia begitu lelah sehabis bermain kuda-kudaan dengan istrinya.
Selepas Alby pergi. Kedua neneknya langsung masuk ke kamar Neysa. Mereka langsung memeluk Neysa dengan penuh kebahagiaan.
“Selamat ya, Ney. Sebentar lagi kamu akan hamil. Dan kami berdua akan memiliki cicit pertama. Wah, kami sangat senang sekali. Iya kan, Mira?” tanya Zainab.
“Iya, Zainab. Akhirnya kita mendapatkan cicit,” kekeh Mira.
Neysa yang sejak tadi mendengar ocehan kedua neneknya. Tampak bingung sekali. Dia tidak mengerti apa maksud dari kalimat-kalimat yang mereka sampaikan.
“Hamil apa, Nek?” tanya Neysa polos.
“Lah. Kamu dan Alby kan udah gitu-gitu kan. Barusan Alby muji kamu loh. Kami yakin kamu pasti akan hamil,” tutur nenek Zainab.
“Iya, akhirnya cucuku lepas segel juga,” ledek nenek Mira.
Neysa sekarang tahu maksudnya. Dia mengerutu dalam hati karena kebohongan Alby. Namun, dia juga ikut berbohong demi kebaikan mereka.
Dia tidak ingin kebohongan Alby terbongkar, hingga membuatnya ikut dalam permainan yang Alby buat.
“Iya, Nek. Doakan aja aku segera hamil ya. Apalagi ini yang pertama buat aku. Jadi, aku merasa deg-degan,” ungkap Neysa.
“Tenang aja. Nenek akan mempersiapkan semuanya. Dari dokter spesialis, perawat dan pembantu yang akan mengurusmu. Pokoknya kamu nggak boleh capek-capek ya. Harus jaga kesehatan, jaga pola makan, dan terakhir jangan begadang,” pinta nenek Zainab begitu antusias.
Neysa yang melihat hal itu, membuat hatinya sangat sedih. Dia tidak menyangka kalau nenek Zainab begitu mempedulikannya.
Neysa tersenyum kepada dua neneknya.
“Iya, Nek. Terima kasih banyak ya.”
Nenek Zainab mengusap pipinya dengan penuh cinta. Setelah itu, mereka berlalu dari kamar itu. Setelah kepergian mereka, Neysa merenung di atas ranjangnya. Dia tidak bisa membayangkan kesedihan kedua neneknya kalau sampai tahu kebohongan mereka.
“Apa yang harus gue jelasin ke nenek kalau sampai gue nggak hamil-hamil?” gumam Neysa, bingung.
Sejenak dia membayangkan apa yang akan terjadi nantinya. Tiba-tiba lamunannya buyar ketika mendapat telepon dari dua sahabatnya melalui panggilan video. Dia langsung menerimanya.
“Halo, Neysa. Cie yang udah buka segel,” ledek Linda.
“Ehm, beruntung sekali suami lo yang dapatin gadis perawan. Eh, sakit nggak, perih, atau ...”
“STOP!” potong Neysa. “Ser, lo nggak usah mikir aneh-aneh deh. Gue masih perawan. Gue belum disentuh,” ungkap Neysa.
“WHAT! KOK BISA!?” serempak Linda dan Serly mengatakan kalimat yang sama. Keduanya tampak heran dengan penuturan yang Neysa berikan.
Neysa mengangkat kedua bahunya. Dia benar-benar tidak bisa menjelaskan apapun kepada kedua sahabatnya.
“Iya udah ya, gue nggak mau bahas ini lagi. Gue capek. Sampai ketemu di kampus ya. See you,” ujar Neysa melambaikan tangannya.
Setelah itu, Neysa menutup teleponnya secara sepihak. Dia bangkit dan mencuci wajahnya di washtafel. Dia memandang pantulan bayangannya di dalam cermin.
“Gue cantik dan menarik. Jadi, bagaimana mungkin tuh cowok nggak tertarik sama gue. Itu hal yang mustahil,” gumam Neysa tersenyum penuh percaya diri.
Dia mengambil handuk, dan mengelap wajahnya. Dia merasa sedikit lebih segar sekarang. Baru saja duduk di depan cermin. Pintu kamarnya terbuka.
Pandangan Neysa langsung tertuju pada seseorang yang baru saja masuk ke kamarnya. Senyum hangat langsung terlukis di wajah Neysa menyambut ibu mertuanya yang melangkah ke arahnya.
“Nggak usah sok manis deh!” seru ibu mertuanya. Wanita itu bernama Maura. Dia merupakan ibu tiri Alby.
Neysa langsung mengubah ekspresianya ketika tahu ibu mertuanya tidak menyukainya. Dia tidak gentar dengan siapapun, kebetulan usia mereka tidak terpaut jauh. Neysa tiga tahun lebih muda dari ibu mertuanya. Dia bangkit dan berdiri tepat di depan ibu mertuanya.
“Gue mau lo ninggalin Alby secepatnya!”
***