Bab 1

"Ya ampun, mampus gue!"

Kepanikan terlihat di wajah cantik wanita berusia dua puluh satu tahun bernama Neysa Ayunda. Dia akan menghadapi ujian pagi ini. Kalau telat, dia harus mengulang sendirian. Wanita berbola mata cokelat itu baru saja memakai pakaiannya. Penampilan sedikit berubah, tidak seperti biasanya.

Dia tidak lagi memakai kemeja dengan kaos di dalamnya. Penampilan Neysa sekarang terlihat sedikit lebih feminim dari sebelumnya, memakai jeans dan baju wanita sewajarnya. Wajahnya sudah sedikit diberi make up dan lipbalm untuk menambah kesegaran bibirnya.

Langkah kakinya terayun menuju meja makan. Wanita tua yang satu-satunya dia miliki di dunia ini telah menunggu kehadirannya.

“Maaf ya, pagi ini kita sarapan apa adanya. Dagangan nenek kemarin lakunya sedikit, jadi kita nggak bisa...”

“Iya, Nek. Nggak apa-apa. Apapun yang Nenek masak untukku, adalah menu terenak yang aku sukai. Jadi, nenek nggak perlu merasa bersalah ya,” ujar Neysa, mengembangkan senyumnya.

“Syukurlah, kamu memang cucu nenek yang paling baik.”

“Selalu dan selamanya, Nek,” ucap Neysa, seraya memeluk neneknya.

Setelah itu, dia mengambil posisi di depan neneknya. Lalu mereka menikmati sarapan yang apa adanya tersebut. Neysa menghabiskan sarapannya dengan cepat, karena dia harus segera ke kampus. Dia meneguk teh hangatnya dan berniat untuk beranjak.

“Neysa, kamu sehat, kan?” tanya sang Nenek.

“Emangnya kenapa, Nek?”

“Penampilanmu lucu,” ledek Mira.

Sebenarnya Mira lebih senang penampilan Neysa yang sekarang. Namun, karena ia baru melihatnya, sehingga ia merasa lucu melihat cucunya tampil feminim.

“Ih! Nenek apaan sih. Ngeledek deh,” keluh Neysa, tampak malu.

“Nggak jelek kok. Malah ini penampilanmu yang paling cantik. Kalau kayak gini, baru cewek namanya,” sahut Mira yang terlihat senang dengan perubahan cucunya. “Pasti karena Exel, kan?”

“Nggak karena siapa-siapa kok, Nek,” dalih Neysa. Dia mengembangkan senyumnya. “Exel itu baik, Nek. Aku berpenampilan gimana pun, dia tetap akan sayang aku, Nek,” sambungnya terkekeh.

“Masa sih,” ledek sang nenek lagi.

“Ihh, Nenek reseh deh. Udah ya, aku berangkat dulu.”

Wanita cantik itu lalu mengecup punggung tangan neneknya sebelum beranjak. Dia melangkah penuh semangat menuju motor matik pink kesayangannya.

Sebelum ia melajukan motor dan meninggalkan kediamannya. Lagu selow, turut menghiasi paginya seraya menikmati macetnya kota Jakarta pagi ini.

Imajinasinya pun melayang. Dia membayangkan jika kelak akan memakai gaun berwarna putih di acara pernikahannya, sangat romantis. Lalu diringi lagu “Beautiful in White” seperti yang dia impikan selama ini.

“Uhh, aku nggak sabar ingin menjadi nyonya Exel,” ucap Neysa.

Dia menyalakan motor, dan menarik gasnya dengan santai. Dia tidak ingin buru-buru mengemudi motornya, dan memilih menikmati setiap detik waktunya hingga tiba di kampus.

Di tengah perjalanan, sebuah mobil menabrak genangan air sisa hujan kemarin. Hingga membuat pakaian Neysa basah dan kotor. Emosinya meluap, langsung mengejar mobil sedan merah tersebut.

Sesampainya di depan sedan merah itu, dia menghentikan motornya di depan mobil yang tengah melaju itu. Dengan cepat mobil itu berhenti mendadak.

“Woy, bosan idup lo?” teriak seorang pria yang mengeluarkan kepalanya dari dalam mobil.

Neysa tampak kesal, lalu melepas helmnya. Dia ingin membuat perhitungan dengan pria itu. Lalu menghampiri pemilik mobil itu dengan penuh amarah. Tanpa diduga, pemilik mobil juga keluar dari mobilnya.

“Napa lo? Mau marah?” tanya pria asing itu.

“Mobilmu udah membuat pakaianku kotor, ngerti!”

“Iya udah, marah aja sama mobilnya. Silakan!” seru pria itu dengan ekspresi yang menyebalkan.

Neysa benar-benar kesal dengan sikap pria di depannya. Bukannya minta maaf, malah memamerkan wajah yang menyebalkan.

“Kenapa? Lo nggak tahu caranya marah sama mobil?” ejek pria itu.

Neysa merasa buang waktu berada di tempat itu. Dia langsung menendang tulang kaki pria itu, hingga membuatnya menjerit.

“Mampus lo,” ujar Neysa, dan bergegas naik ke motornya.

“Woy, tunggu lo. Arghhh, sakit!” jerit pria itu.

Neysa tidak peduli dengan keadaan itu. Dia memilih meninggalkan pria tak tahu diri itu. Sepanjang perjalanan, dia menggerutu dan mengumpat-umpat pria sombong itu.

***

Neysa baru saja membuka ponselnya ketika tiba di parkiran kampus. Dia membaca pesan dari sang kekasih tercinta. Lantas bibirnya membentuk senyuman setelah tiga kalimat itu ia baca.

Segera ia membalasnya dengan perasaan bahagia. Jangan tanya sebahagia apa Neysa hari ini, tidak bisa dideskripsikan dengan apapun, sangat bahagia.

“Thanks ya! Gue seneng lo selalu menyapa pagi gue dengan kata-kata manis lo.”

Neysa membalas pesan kekasihnya. Ketika selesai mengetik pesan tersebut, dia lalu turun dari motornya dan melangkah menuju lobi fakultas. Tanpa diduga dua sahabatnya sudah menunggu Neysa.

“Ney, Wait! Wait!” panggil Linda.

Neysa pun berhenti melangkah. Dia menduga ada hal yang ingin disampaikan oleh sahabatnya. Tentu saja ratusan pertanyaan sudah siap dia terima dari dua sahabat yang super kepo ini.

“Cieee, yang udah nggak LDR lagi,” ejek Serly.

“Hemmmm! Katanya bosen LDR mulu,” ledek Linda lagi. “Sekarang udah enak dong endehoy-nya,” ledeknya lagi.

“Kalian apaan sih, pagi-pagi ghibahin orang aja. Exel juga lagi bahagia, kalian omongin. Entar dia gigit lidah sendiri, gimana?”

“Ah lebay lo. Percaya aja sama mitos,” kekeh Linda.

“Iya nih. Udah nggak ngaruh di zaman sekarang,” sambung Serly.

Mereka pun bergegas menuju kelas, karena akan ada mata kuliah semester bawah yang harus mereka ulang.

Namun tanpa diduga, di perjalanan mereka bertemu dengan Exel yang baru saja keluar dari ruangannya. Linda dan Serly pun memahami keadaan itu, dan bergegas meninggalkan Neysa sendirian.

“Kalian memang sahabat yang peka. Tahu aja kalo gue lagi ingin berdua sama calon suami,” gumam Neysa, dalam hati seraya mengedipkan mata melihat dua sahabatnya yang naik ke lantai dua.

Exel yang menyadari kehadiran Neysa. Langsung menghampiri wanita itu dengan senyum hangat terlukis di wajahnya. Jantung Neysa berdegup kencang menyambut calon suaminya yang super tampan itu.

“Ada kelas?” tanya Exel canggung. Padahal sudah 7 tahun hubungan percintaan mereka sejak SMA.

“He-em,” jawab Neysa, dengan sedikit gugup.

“Semangat ya. Kali ini lo harus lulus. Jangan ngulang lagi,” ujar Exel, bernada ejekan ke kekasihnya karena tidak lulus di semester sebelumnya.

Pria tampan itu lalu tersenyum lagi, dan mengacak-acak poni wanita cantik di depannya. Neysa mengembangkan senyumnya mendapatkan perlakukan manis itu.

“Lo tahu nggak?” tanya Exel dengan sorot mata yang menyenangkan.

“Apa?”

“Tiap kali lo senyum, gue merasa jadi manusia paling beruntung di dunia. Tolong, jangan pernah sedih di hadapan gue ya. Lo harus janji sama gue. Apapun yang lo hadapi, lo harus tetap bahagia sama gue,” pinta Exel.

Neysa hanya tersenyum mengangguk, ia berharap demikian sekalipun ia tidak pernah tahu bagaimana keadaannya nanti. Dia cuma bisa pasrah dan berusaha mempercayai janji yang pernah Exel ucapkan di depan sunset di kota Amsterdam kala itu.

Beberapa jam berlalu, Neysa yang tengah bersenda gurau bersama dua sahabatnya, tiba-tiba terhenti ketika suara ponselnya berdering. Sebuah panggilan masuk dari nomor calon suaminya.

“Halo, sayang...”

“Maaf, Anda keluarganya?” potong seseorang yang Neysa tidak kenal. “Pemilik ponsel ini mengalami kecelakaan maut!”

Deg!

Degup jantungnya seolah berdetak dengan cepat mendapat kabar buruk itu. Dia seperti mimpi di siang bolong.

“Exel, ini nggak benar. Ini hanya mimpi,” gumam Neysa mencoba memukul-mukul pipinya pelan. Hanya untuk memastikan kalau berita yang barusan dia dengar hanyalah sebuah mimpi.

Namun, ia merasakan perih di pipinya, yang menandakan kalau semua ini bukanlah mimpi. Kedua sahabatnya tampak bingung dengan ekspresi yang ditunjukkan oleh Neysa. Lalu Linda menyentuh bahu wanita itu, memastikan kalau wanita itu baik-baik saja.

“Ada apa, Ney? Apa yang terjadi?” tanya Linda, penasaran.

Neysa tidak menjawab pertanyaan itu. Dia langsung bangkit meninggalkan dua sahabat. Tentu saja Linda dan Serly langsung mengikuti Neysa yang melenggang pergi.

“Ney, ada apa dengan Exel?” tanya Serly.

“Dia kecelakaan, Ser,” jawab Neysa, sebelum menyalakan motornya.

Linda yang peka, langsung mengajak sahabatnya naik mobil bersamanya. Serly juga ikut dengan mereka.

Keduanya sangat sedih melihat Neysa yang menangis sepanjang perjalanan. Padahal ini merupakan bulan pertama yang Neysa dan Exel lewati semenjak Exel kembali dari Prancis.

“Semoga Exel nggak kenapa-napa ya. Lo tetap berdoa ya. Gue nggak mau lo mikir yang nggak-nggak sekarang,” pinta Linda seraya fokus menyetir.

Bukannya tenang. Neysa malah menangis dengan kencang. Tampaknya wanita itu tidak mampu lagi menangan kesedihan dan ketakutannya kalau sampai terjadi sesuatu dengan calon suaminya.

“Neysa, everything will be okay,” ucap Serly mencoba menenangkan sahabatnya.

Neysa malah terus menangis dengan keras.

“Bagaimana bisa gue nggak khawatir. Satu minggu lagi gue dan Exel mau nikah. Undangan udah tersebar. Dan kalau sampai Exel kenapa-napa, bagaimana nasib pernikahan kami,” lirih Neysa.

Kedua sahabatnya sangat memahami keadaan yang dihadapi oleh Neysa. Bukan situasi yang baik-baik saja sekarang. Apalagi waktu pernikahan sudah mepet sekali.

Di tengah perjalanan, Neysa menghubungi orang tua Exel yang ada di Bandung. Dia benar-benar rapuh dengan situasi itu.

Sesampainya di rumah sakit, Neysa bergegas menuju UGD tempat Exel berada. Dua sahabatnya mengekor dari belakang dengan langkah yang sangat cepat.

Karena tidak memperhatikan arah langkahnya, Neysa bertabrakan dengan seorang pria berjas hitam yang juga sedang buru-buru.

“Shit! Pake mata kalau jalan,” teriak pria itu.

Neysa tidak peduli, terus melangkah melewati pria itu.

“Jangan kabur lo!” seru pria itu menarik tangan Neysa, hingga membuat wanita itu terjatuh di lantai.

“Seenaknya udah nabrak, malah pergi-pergi aja. Minta maaf sama gue. SEKARANG!” titah pria itu.

Neysa merasa kesal, ketika melihat pria yang sama yang menabrak genangan air yang membuat pakaiannya kotor. Dua kali pria itu membuat masalah dengannya.

Serly dan Linda membantu sahabatnya bangkit. Lalu Neysa melangkah ke arah pria itu.

Plakk!

***

Bab 2

Tanpa sepatah kata pun, sebuah tamparan mendarat di pipi pria itu dengan cepat. Membuatnya merasa nyeri.

“Sebaiknya lo perbaiki etika dan belajar cara menghargai seorang wanita,” tegas Neysa.

Dia pun bergegas pergi dari hadapan pria itu. Bersama dua sahabatnya yang terus mengekor. Sementara pria itu, tampak dendam dengan Neysa, dan memandangi langkah wanita itu dengan penuh kekesalan.

“Sialan, awas lo ya,” gerutunya, seraya mengusap-usap pipinya. “Lo belum tahu siapa gue sebenarnya,” keluhnya. Lalu berlalu dari tempat itu.

Sementara itu, Neysa baru tiba di depan ruangan Exel berada. Bersamaan dengan itu, si dokter keluar dari ruangan itu, bersamaan dengan jenazah yang sudah ditutupi kain kapan.

“Dok, itu jenazah siapa?”

“Korban kecelakaan maut beberapa menit yang lalu.”

Deg!

Neysa langsung berlari dan meminta petugas untuk berhenti. Dengan perasaan rapuh dan takut, dia membuka kain kapan di bagian wajah.

“TIDAK!!!!” teriak Neysa, histeris. “Sayang! Lo nggak boleh ninggalin gue. Kita mau nikah. Bangun, sayang! Bangun!” teriaknya.

Suasana menjadi penuh dramatis. Linda dan Serly hanya pasrah melihat kenyataan itu. Dia tidak menyangka kalau Exel akan meninggalkan mereka secepat ini.

Mereka memahami perasaan sahabatnya sekarang. Tidak mudah menghadapi itu semua. Apalagi, Neysa baru satu bulan menjalani kebersamaan setelah berpisah lama. Tentu itu akan menjadi pukulan keras bagi Neysa.

“Ney, sabar ya. Exel udah tenang di sana,” ucap Linda mencoba memotivasi.

“Semua udah takdir Tuhan, Ney,” sambung Serly.

Neysa sangat rapuh, dan terus menangis. Semua orang di sana juga merasakan kesedihan yang dirasakan oleh Neysa sekarang. Tidak ada satu wanita pun yang tidak akan rapuh menerima kenyataan sepahit itu.

“Kenapa Tuhan tega sama gue. Kenapa Tuhan jahat sama gue,” keluh Neysa, yang sudah tekulai lemas di ranjang Exel.

“Nggak boleh bicara begitu, Ney. Lo harus tahu, nggak ada ketentuan Tuhan yang salah. Semua pasti ada hikmahnya,” tutur Linda dengan bijak.

“Iya, Ney. Lo harus ikhlas ya. Semua pasti ada maksud dari Tuhan.”

Dua sahabatnya langsung mengangkat tubuh Neysa yang rapuh. Lalu merema memeluk wanita itu dengan penuh kasih sayang.

Setelah itu, petugas membawa jenazah Exel ke kamar mayat menunggu keluarga Exel datang untuk membawa jenazah Exel kembali ke Bandung.

Beberapa jam berlalu, kedua orang tua Exel tiba di rumah sakit. Sang calon ibu mertua langsung memeluk Neysa. Kedua sama-sama rapuh atas kematian Exel. Sungguh kematian memang rahasia Tuhan, bahkan mereka tidak menyangka kalau Exel akan pergi lebih dulu di usia muda.

“Ma, Exel udah pergi ninggalin aku, Ma. Apa yang harus aku lakukan Ma,” lirih Neysa, meneteskan air matanya.

Lalu wanita patuh baya itu, memegang bahunya dan tersenyum kepadanya.

“Kamu boleh sedih, tapi jangan sampai kamu larut dalam kesedihan. Exel bukan punya kita, dia hanya titipan dan udah waktunya kembali kepada penciptanya. Mama berharap, kamu bisa menemukan pria yang baik,” ujar wanita itu.

“Benar, Neysa. Kamu wanita yang baik. Kami tahu kamu akan sulit menerima kepergian Exel. Tapi takdir berkata lain, kalian nggak bisa bersama. Papa harap, kamu nggak rapuh banget, dan jangan menutup diri kalau ada pria yang datang melamarmu,” tutur pria paruh baya menasehati Neysa.

“Makasih, Ma, Pa. Aku benar-benar sedih. Hanya itu yang aku rasakan saat ini,” ungkap Neysa.

Wanita itu kembali memeluk Neysa. Dia mencoba menenangkan wanita itu. Meski dia sendiri sangat kehilangan putranya. Namun, mereka sadar kalau anak adalah titipan dari sang maha kuasa.

Setelah lama berbincang di sana, kedua orang tua Exel membawa jenazah putranya ke Bandung. Tentu Neysa akan bertolak ke Bandung untuk mengikuti prosesi pemakaman kekasihnya.

“Kami akan ikut denganmu, Ney,” ujar Linda.

“Iya, Ney. Sebaiknya kita ambil pakaian dulu, lalu kita berangkat ke Bandung.”

“Thanks banget ya. Karena mau menemaniku.”

Linda dan Serly memeluk sahabatnya. Mereka bisa merasakan kesedihan yang dirasakan oleh Neysa sekarang.

Keesokan harinya, Neysa dan dua temannya sudah berada di pemakaman Exel. Banyak orang yang datang melayat. Banyak sekali yang datang mendoakan pria itu. Satu persatu meninggalkan tempat itu setelah pemakaman selesai.

Berbeda dengan Neysa yang masih belum ingin beranjak. Air matanya tidak berhenti sejak tadi malam. Kesedihannya begitu dalam. Dia pun menangis di kuburan kekasihnya itu.

“Sayang, aku tahu takdir nggak bisa ditolak. Tapi jujur, aku belum terbiasa tanpamu, sayang,” lirih Neysa.

Isakannya membuat Linda dan Serly ikut bersedih. Sejenak mereka membiarkan Neysa meluapkan kesedihannya. Beberapa menit kemudian, Linda memegang bahu Neysa.

“Ney, udah ya. Kita balik. Exel udah tenang di sana,” ucap Linda.

Neysa tampaknya sudah lega setelah meluapkan kesedihannya di depan makam sang kekasih. Ketiganya lalu pergi meninggalkan tempat itu menuju ke Jakarta.

***

Satu minggu telah berlalu. Neysa masih merenung di dalam kamarnya. Tiba-tiba sang nenek datang ke kamar menemui Neysa.

“Nenek boleh bicara sebentar?”

“Iya, Nek.”

Mira lalu duduk di samping cucunya dengan penuh keprihatinan. Wanita itu mengusap-usap bahu cucuknya. Lalu dengan cepat, Neysa yang sejak tadi sedih langsung memeluk neneknya.

“Nenek tahu perasaanmu. Tapi apapun itu, kamu harus tetap menjalani hidupmu tanpa Exel,” pinta Mira.

“Iya, Nek. Tapi berat, Nek. Aku udah terbiasa dengan sapaan Exel, dengan canda tawanya, dengan perhatiannya, dan semua tentangnya,” ungkap Neysa, merengek.

“Nenek tahu, Ney. Nggak mudah melakukan itu.”

Mira memeluk cucuknya dengan penuh kasih sayang. Dia tidak menyangka kalau kejadian ini akan terjadi. Apalagi lusa adalah acara pernikahan cucunya. Undangan juga sudah tersebar.

“Ney, ada seseorang yang ingin bertemu denganmu. Di menunggu di luar,” ujar Mira.

“Siapa, Nek?”

“Dia sahabat baik Nenek. Kita temuin dia ya.”

Mira dan Neysa melangkah ke ruang tamu menemuai wanita tua yang ingin berbicara dengan Neysa. Sesampainya di ruang tamu, wanita itu menyambut Neysa dengan penuh senyum dan kebahagiaan.

“Cucumu sangat cantik, Mira. Dia sangat cocok jadi istri cucuku,” sahut wanita bernama Zainab.

Neysa terkejut dengan kalimat itu.

“Apa maksudnya, Nek?”

Nenek Zainab mengajaknya duduk. Lalu memandang Neysa dengan penuh harapan. Dia bisa melihat kesabaran dan ketulusan di dalam diri Neysa.

“Neysa, nenek momohon sama kamu. Nenek ingin kamu menikah dengan cucu nenek. Dia bernama Alby. Nenek udah mendengar apa yang terjadi denganmu. Sejak lama, nenek udah kenal sama kamu. Hanya kamu yang pantas mendampingi Alby. Nenek mohon, menikahlah dengan cucu nenek,” pinta nenek Zainab.

Sejenak Neysa bingung harus menjawab apa. Apalagi permintaan itu datang dari wanita tua di depannya. Dia bisa melihat ada harapan yang mendalam di dalam mata itu.

Mira memandang cucunya, dan mengangguk seolah memberi isyarat kepada Neysa untuk menerima permintaan dari Zainab.

Tatapan sang nenek berbeda dari sebelumnya. Neysa melihat sebuah harapan besar di dalam mata kedua wanita dua itu.

“Maafin nenek ya. Nenek rasa inilah waktunya, Neysa. Nenek harap kamu menerimanya, Ney,” pinta Mira. “Nenek mohon,” pintanya memelas.

Neysa tidak bisa melihat neneknya memohon seperti itu. Dia merasa bersalah karena membuat neneknya harus melakukan hal semacam itu.

“Nenek, aku sayang banget sama nenek. Bagaimana mungkin aku membiarkan nenek menangis dan bersedih. Kalau emang itu pilihan nenek yang terbaik. Aku menerimanya, Nek,” ungkap Neysa tersenyum tipis.

Mira langsung memeluk cucunya. Tidak ada tujuan lain menikahkan Neysa dengan cucunya Zainab. Dia hanya ingin hidup Neysa lebih baik dari sekarang.

“Makasih, Neysa. Makasih udah memenuhi permintaan nenek,” ucap Zainab dan memeluk Neysa juga.

Dua hari berlalu, Neysa tetap menikah di hari pernikahan yang telah ditentukan. Namun, mempelai prianya berbeda. Tidak pernah terbesit di benak Neysa kalau akan menikah dengan pria selain Exel.

Anehnya lagi, dia menikah dengan pria menyebalkan yang dua kali membuatnya naik darah. Seolah takdir telah merencanakan ini semua. Pria itulah yang harus menjadi suaminya.

“Andai lo masih ada, sayang. Gue pasti nikah sama lo. Dan gue nggak tahu, apa gue bisa melupakan semua tentang lo atau nggak,” ucap Neysa, dalam hati. Lima detik setelah ijab kabul selesai.

Mira yang menyadari kesedihan cucunya ikut memberinya semangat. Dia sangat mengerti bagaimana perasaan Neysa sekarang. Dia tahu kalau Neysa menerima pernikahan itu bukan karena menyukai pria itu, tapi karena tidak ingin membuatnya sedih.

Wanita tua itu menatap wajah cucunya yang memandang ke arahnya, seolah memberi isyarat supaya Neysa tak boleh bersedih.

Nenek Zainab juga ikut memberikan selamat kepada cucunya yang bernama Alby Delano Prabu dan Neysa. Dia tampak senang sekali karena berhasil menikahkan Alby dengan wanita yang dia inginkan.

Bahkan setelah ini, Neysa akan menetap di rumah mereka. Karena itulah tradisi yang ada di keluarga Prabu. Semua menantu harus berada di dalam rumah besar itu.

“Jadilah suami terbaik dan bijak bagi Neysa,” anjur nenek Zainab memandang cucunya. Dia tahu bagaimana watak cucunya selama ini. Sehingga, ia perlu memperingatinya setiap waktu.

Berbeda dengan kedua orang tua Alby. Tampaknya mereka tidak pernah menyukai kehadiran Neysa dalam keluarganya. Bukan hanya mereka, akan tetapi adik Alby juga keluarga yang tidak setuju dengan keputusan nenek Zainab.

Setelah acara prosesi akad nikah berjalan dengan lancar. Neysa dan Alby pun resmi menjadi pasangan suami-istri hari ini.

Kedua tentu tidak bahagia dengan pernikahan itu, karena terdapat unsur paksa dan tidak saling mencintai. Namun, di depan keluarga besar, mereka seolah memakai topeng untuk menyenangkan hati nenek mereka masing-masing.

Kini Alby dan Neysa melangkah menuju pelaminan diiringi oleh keluarga dan sahabatnya serta alunan lagu “Beautiful in white” terus mengiringi langkah mereka.

Mereka melangkah melewati para tamu undangan yang sudah hadir sejak tadi. Rekan-rekan kantor dan teman-teman alumni serta kerabat hadir. Mereka seperti raja dan ratu sehari.

Sesampainya di pelaminan, mereka berdiri di depan para tamu undangan dengan penuh kebahagiaan.

Neysa tidak bisa berbohong dengan segala hal yang dia rasakan saat ini. Siapa yang tidak akan sedih, di hari bahagianya ini ia seharusnya berdampingan dengan Exel, malah dengan pria menyebalkan yang sama sekali tidak dia cintai.

“Lo baik-baik aja, kan?” tanya Alby berbisik pelan. “Nggak usah cengeng, senyum aja.”

“Bukan urusan lo,” ketus Neysa.

“Tapi gue nggak mau mereka menilai kita buruk. Paham!”

Neysa muak dengan semua perintah suaminya. Dua berharap acara ini segera selesai karena ia ingin menangis sepuasnya di kamar.

Semua tamu undangan sudah memberi selamat. Tidak lama kemudian, terlihat seorang wanita yang dengan pakaian mewah dengan tatapan tajam mengarah ke mata Neysa.

Wanita itu tiba di depan Neysa, dan tersenyum sinis. Dia langsung memeluk Neysa dengan begitu akrab.

“Gue akan membuat lo menyesal telah merebut Alby dari gue,” bisiknya.

Deg!

***

Bab 3

Neysa terkejut dengan kalimat yang baru saja diutarakan oleh wanita asing yang baru dia kenal. Namun, dia tidak ingin menggubris ucapan itu.

Setelah memberi selamat kepadanya, lalu wanita itu beralih ke suaminya. Kedua orang itu tampak akrab. Bahkan di depannya saling memberikan cipika-cipiki.

“Siapa wanita ini? Kenapa dia mengancam gue?” tanya Neysa dalam hati.

Dia memandang wanita itu sebelum berlalu dari hadapannya. Wanita asing itu juga memandangnya dengan tatapan sinis penuh dendam.

Prosesi acara resepsi pernikahan telah selesai dilakukan. Neysa dan Alby sudah berada di dalam kamarnya. Keduanya tampak tidak akur, apalagi sikap Alby yang seakan tidak peduli dengan keberadaan istrinya di rumah itu.

“Gue peringati lo ya...” Alby menggantung kalimatnya. Lalu Neysa memandang ke arah suaminya dengan cepat. “Sampai kapanpun gue nggak akan pernah menyukai lo,” tegasnya.

Neysa tidak bisa memaksa Alby menyukainya. Karena dia juga belum menyukai Alby. Hanya saja, sebagai seorang istri. Dia wajib mengabdikan diri pada pria itu, sekalipun tanpa adanya cinta.

“Gue udah tahu tanpa lo ngomong. Lagipula, ini pernikahan yang sama-sama kita nggak inginkan,” sahut Neysa.

“Kalau begitu, biarkan gue bersenang-senang dengan wanita lain di luar sana. Lo nggak usah lapor nenek, atau protes apapun. Deal?” tanya Alby.

Sejenak Neysa terdiam mendapat tawaran tersebut. Sungguh, ini bukan hal yang bagus untuknya. Bahkan dia tidak pernah berpikir akan memiliki seorang suami yang playboy.

“Terserah lo. Tapi jangan coba-coba sentuh gue. Karena gue nggak akan rela disentuh sama pria yang mengobral tititnya ke sana kemari,” tegas Neysa, ketus. Dia sama sekali tidak takut dengan Alby, meski dia hanya wanita miskin yang mencoba menjadi seorang cinderella.

Alby langsung tertawa renyah mendengar ucapan yang barusan diutarakan oleh Neysa. Sungguh dia meremehkan wanita yang tengah duduk di ranjang itu.

“Nggak usah terlalu percaya diri. Gue nggak tertarik sama tubuh lo. Masih banyak tubuh seksi yang bisa puasin gue di luar sana. Jadi, nggak usah sok suci lo ya. Paling juga udah nggak perawan,” hina Alby. “Oh iya, lo ingat satu hal ya. LO BUKAN LEVEL GUE!” tegasnya.

Deg!

Terasa hati Neysa seperti remuk mendengar penghinaan di hari pertama pernikahan. Bukannya mendapatkan kebahagiaan, malah sebuah kepedihan.

Namun, wanita itu tidak ingin terlihat lemah di depan suaminya yang arogan itu. Dia tetap tegar dan menunjukkan kelasnya sebagai wanita berpendidikan dan berwawasan luas.

“Terserah lo. Gue nggak peduli,” ucap Neysa. “Lagian lo nggak perlu sok kegantengan. Gue nggak tertarik sama pria brengsek kayak lo,” ungkapnya.

Alby yang kesal langsung mendekat ke arah Neysa. Pria itu benar-benar tak terima dengan ucapan Neysa barusan.

Sesampainya di depan Neysa. Dia langsung menarik lengan wanita itu, dan mendorong wanita itu ke atas ranjang.

“Mau ngapain lo?” tanya Neysa.

Alby tidak menggubris, lalu dia menahan kedua tangan Neysa. Menahan tenaga Neysa yang berusaha lepas cari cengkramannya.

“Lepasin gue!” titah Neysa.

“Diam!”

Brukkk!

Suara pintu kamar mereka tiba-tiba terbuka. Terlihat kedua nenek mereka terdungkur di pintu. Neysa dan Alby langsung menoleh ke arah yang sama.

Tampaknya kedua neneknya sedang menguping mereka sejak tadi. Hingga tanpa sengaja, pintunya terbuka dan membuat mereka terjatuh.

Alby langsung bangkit dari tubuh Neysa. Begitu juga dengan Neysa yang tampak malu.

“Nenek, kok bisa kalian di situ?” tanya Alby.

“Anuh... tadi... anuh...” Nenek Zainab tampak bingung harus menjawab apa.

“Nenek nguping ya?” tanya Neysa lagi.

“Emm... nggak kok. Tadi cuma...” Nenek Mira juga tidak tahu harus menjawab apa sekarang.

Setelah itu, kedua nenek itu langsung bergegas pergi meninggalkan tempat itu. Namun, sebelum pergi dari sana. Nenek Zainab berteriak.

“Lanjutkan aja, Alby!”

Ceklek!

Pintu tertutup kembali. Lalu Alby dan Neysa kembali saling menatap satu sama lain. Tampak ada kebencian di dalam mata mereka masing-masing.

“Tuh kan lo liat. Nenek-nenek kita emang udah gila ya. Bisa-bisanya membuat perjodohan konyol ini. Menyebalkan,” keluh Alby melotot ke Neysa.

“Udahlah nggak perlu salahin mereka. Ini udah terjadi. Tinggal jalanin aja, kan?”

Alby tampak kesal sekali dengan ketidakpedulian Neysa kepada hubungan konyol itu. Pria itu sedikit frustasi dengan kehidupannya sekarang. Dia memegang keningnya yang tidak pening.

“Lo dan mereka semua sama aja. Arggh!” kesal Alby. “Tapi jangan salahin gue kalau gue menyakiti lo,” ancam Alby.

“Silakan kalau bisa.” Neysa malah menantang suaminya. Sungguh, dia benar-benar tidak memiliki rasa takut sedikit pun kepada pria sombong itu.

Sejenak mereka terdiam. Tidak ada perbincangan apa-apa lagi di antara mereka. Suasana di dalam ruangan itu menjadi hening sekali. Hanya terdengar suara jarum jam yang berputar.

Setelah itu, Alby berniat pergi dari kamarnya. Dia akan bertemu dengan kekasihnya yang sudah menunggu di apartemen. Baru saja membuka pintu, terlihat dua neneknya yang tersenyum di sana.

“Mau ke mana, Alby?” tanya nenek Zainab.

“Mau cari angin, Ma. Lelah banget. Permainan istriku sangat jago sekali,” puji Alby berpura-pura berbohong kepada neneknya.

Kedua neneknya tersenyum lebar. Tampaknya mereka sangat senang dengan keadaan itu. Mereka puas dengan perjodohan yang mereka lakukan.

“Iya udah ya, Nek. Aku pergi dulu.”

Alby bergegas pergi dari tempat itu, seraya berakting kalau dia begitu lelah sehabis bermain kuda-kudaan dengan istrinya.

Selepas Alby pergi. Kedua neneknya langsung masuk ke kamar Neysa. Mereka langsung memeluk Neysa dengan penuh kebahagiaan.

“Selamat ya, Ney. Sebentar lagi kamu akan hamil. Dan kami berdua akan memiliki cicit pertama. Wah, kami sangat senang sekali. Iya kan, Mira?” tanya Zainab.

“Iya, Zainab. Akhirnya kita mendapatkan cicit,” kekeh Mira.

Neysa yang sejak tadi mendengar ocehan kedua neneknya. Tampak bingung sekali. Dia tidak mengerti apa maksud dari kalimat-kalimat yang mereka sampaikan.

“Hamil apa, Nek?” tanya Neysa polos.

“Lah. Kamu dan Alby kan udah gitu-gitu kan. Barusan Alby muji kamu loh. Kami yakin kamu pasti akan hamil,” tutur nenek Zainab.

“Iya, akhirnya cucuku lepas segel juga,” ledek nenek Mira.

Neysa sekarang tahu maksudnya. Dia mengerutu dalam hati karena kebohongan Alby. Namun, dia juga ikut berbohong demi kebaikan mereka.

Dia tidak ingin kebohongan Alby terbongkar, hingga membuatnya ikut dalam permainan yang Alby buat.

“Iya, Nek. Doakan aja aku segera hamil ya. Apalagi ini yang pertama buat aku. Jadi, aku merasa deg-degan,” ungkap Neysa.

“Tenang aja. Nenek akan mempersiapkan semuanya. Dari dokter spesialis, perawat dan pembantu yang akan mengurusmu. Pokoknya kamu nggak boleh capek-capek ya. Harus jaga kesehatan, jaga pola makan, dan terakhir jangan begadang,” pinta nenek Zainab begitu antusias.

Neysa yang melihat hal itu, membuat hatinya sangat sedih. Dia tidak menyangka kalau nenek Zainab begitu mempedulikannya.

Neysa tersenyum kepada dua neneknya.

“Iya, Nek. Terima kasih banyak ya.”

Nenek Zainab mengusap pipinya dengan penuh cinta. Setelah itu, mereka berlalu dari kamar itu. Setelah kepergian mereka, Neysa merenung di atas ranjangnya. Dia tidak bisa membayangkan kesedihan kedua neneknya kalau sampai tahu kebohongan mereka.

“Apa yang harus gue jelasin ke nenek kalau sampai gue nggak hamil-hamil?” gumam Neysa, bingung.

Sejenak dia membayangkan apa yang akan terjadi nantinya. Tiba-tiba lamunannya buyar ketika mendapat telepon dari dua sahabatnya melalui panggilan video. Dia langsung menerimanya.

“Halo, Neysa. Cie yang udah buka segel,” ledek Linda.

“Ehm, beruntung sekali suami lo yang dapatin gadis perawan. Eh, sakit nggak, perih, atau ...”

“STOP!” potong Neysa. “Ser, lo nggak usah mikir aneh-aneh deh. Gue masih perawan. Gue belum disentuh,” ungkap Neysa.

“WHAT! KOK BISA!?” serempak Linda dan Serly mengatakan kalimat yang sama. Keduanya tampak heran dengan penuturan yang Neysa berikan.

Neysa mengangkat kedua bahunya. Dia benar-benar tidak bisa menjelaskan apapun kepada kedua sahabatnya.

“Iya udah ya, gue nggak mau bahas ini lagi. Gue capek. Sampai ketemu di kampus ya. See you,” ujar Neysa melambaikan tangannya.

Setelah itu, Neysa menutup teleponnya secara sepihak. Dia bangkit dan mencuci wajahnya di washtafel. Dia memandang pantulan bayangannya di dalam cermin.

“Gue cantik dan menarik. Jadi, bagaimana mungkin tuh cowok nggak tertarik sama gue. Itu hal yang mustahil,” gumam Neysa tersenyum penuh percaya diri.

Dia mengambil handuk, dan mengelap wajahnya. Dia merasa sedikit lebih segar sekarang. Baru saja duduk di depan cermin. Pintu kamarnya terbuka.

Pandangan Neysa langsung tertuju pada seseorang yang baru saja masuk ke kamarnya. Senyum hangat langsung terlukis di wajah Neysa menyambut ibu mertuanya yang melangkah ke arahnya.

“Nggak usah sok manis deh!” seru ibu mertuanya. Wanita itu bernama Maura. Dia merupakan ibu tiri Alby.

Neysa langsung mengubah ekspresianya ketika tahu ibu mertuanya tidak menyukainya. Dia tidak gentar dengan siapapun, kebetulan usia mereka tidak terpaut jauh. Neysa tiga tahun lebih muda dari ibu mertuanya. Dia bangkit dan berdiri tepat di depan ibu mertuanya.

“Gue mau lo ninggalin Alby secepatnya!”

***

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED