Kutatap jam dinding di atas televisi, jarum pendek itu mengarah ke angka sembilan, "Ardila, kamu mau kemana? Ini sudah malam," ucapku padanya yang kini sudah berdandan cantik menuju pintu keluar rumah.
"Aku bosan sendiri terus di rumah."
"Aku kerja, aku lagi berusaha untuk membahagiakanmu."
"Kebahagiaan apa? Kalau pulang gak pernah bawa apa-apa, boro-boro makanan, barang yang aku suka aja kamu gak tau!"
"Emang kamu mau apa? Nanti ketika sudah ada uang, pasti akan kubelikan."
"Alah, kalaupun aku kasih tau sudah pasti kamu gak akan bisa belikan!"
"Katakan padaku, barang apa yang kau mau? Jika harganya mahal, aku kumpulkan uangnya dulu," jawabku penuh keyakinan.
"Oke, aku mau berlian. Berlian asli ya, bukan imitasi." Sinis dan meremehkan tampak di wajah cantiknya.
"Berlian, ya? Berapa harga berlian? Aku belum pernah beli berlian. Sekalinya membeli perhiasan, hanya mas kawin kita. Itu pun bukan berlian."
"Terus gimana? Gak bisa beli, kan? Ya sudah aku pergi, Anggi sudah nunggu aku. Uang, aku minta uang," ucap istriku ditemani jemarinya yang menadah.
Akupun memberikan uang seratus ribu satu-satunya yang ada di saku, hasil ojek online hari ini. Dengan ibu jari dan telunjuk ia mengapit selembar uang pemberianku, seolah jijik.
"Kamu tidak makan dulu? Aku sudah belikan pecel lele kesukaanmu dan sepertinya nasi sudah matang, temani aku makan, yuk!" Ajakku mencoba meraih bahunya namun nihil, ia menolak sentuhanku.
Aroma parfum wanita menyengat kuat hingga mampu menaikan birahi kejantananku. Aku menginginkannya, aku ingin hakku, namun aku bisa menebak apa yang akan terjadi, penolakan ditemani kalimat kasarnya akan menghiasi telingaku nanti. Bisa saja aku memaksa kasar demi hasratku tersalurkan, namun cinta tulusku tak punya nyali untuk menyakitinya. Aku hanya mampu memejamkan mata menikmati aroma parfumnya saat ini.
"Lele terus, keseringan makan gorengan bisa-bisa kulitku rusak. Kamu makan sendiri ajalah, manja! Aku udah kesorean. Ingat pintu jangan dikunci!"
"Keseringan pergi malam juga bisa merusak kulit," balasku pelan dan langsung membiarkannya pergi begitu saja.
Begitulah rumah tangga yang selalu kami lalui, tak ada harmonis kata ketika saling berbicara. Selalu ada perdebatan kecil, beda cara berpikir dan saling menuntut hak masing-masing.
Ternyata, berpacaran selama dua tahun tak membuat kami saling mengenal seutuhnya, hingga pernikahan kami berjalan tiga tahun, justru perbedaan itu semakin terlihat jelas.
Dulu ketika masa kuliah, hubungan kami begitu harmonis, selalu dibanggakan, dielu-elukan, seolah kami adalah pasangan sangat sempurna tanpa cela.
Bayangkan saja, aku laki-laki tampan dan Ardila istriku itu, primadona seangkatanku. Kami mahasiswa berprestasi dengan IPK di atas 3,5 dan selalu menjadi kandidat di setiap pemilihan ketua organisasi mahasiswa. Bagaimana seluruh penghuni kampus tak merasa iri! bahkan mereka berkata 'rumah tangga kami akan sukses bahagia, anak-anak kami akan cantik rupawan dan dilimpahi banyak materi, karena kecerdasan kami.'
Namun nyatanya, terlalu bangga dan merasa jaya itu sungguh tak baik. Kita harus merendah bukan berarti merendahkan diri, namun merendah karena masih ada si hebat di atas yang terhebat. Kesombongan justru membuatku terjatuh, arogansi justru membuatku lupa jati diri.
Teman dekatku bilang, faktor usia mudalah yang membuat hubungan kami tak harmonis. Tetapi entahlah, yang kutau, saat itu logika dan hati kami sudah sangat siap untuk selalu bersama, menjalani biduk rumah tangga.
"Huft, makan sendiri lagi!"
Aku terduduk sambil menengadah di kursi meja makan. Kuteguk segelas air dan pikiranku melayang ke hari dimana sahabatku Alex dan Miranda melangsungkan pernaikahan; hari dimana harga diriku sebagai suami terkoyak habis-habisan.
"Ingat! jangan pernah biarkan aku sendirian, kamu harus selalu ada di dekatku!" Hal yang selalu Ardila ucap ketika kami akan bertemu orang banyak.
"Hem."
"Kamu gak punya sepatu yang lebih bagusan? Kamu gak malu pake sepatu kaya gitu?"
Kuarahkan pandangan pada sepatuku, 'uang sepatunya, dipakai untuk beli make upmu. Kamu lupa?' hanya mampu kuungkap dalam hati, karena jika terdengar olehnya aku yakin supir grab ini akan menurunkan kami di jalan.
"Keren-keren! ck-ck-ck Alex ... selamat ... luar biasa ... akhirnya loe dapetin juga ..." Aku langsung memeluk Alex bangga dan bahagia.
"Balikan lagi loe? Kata anak-anak loe mau cerai?" bisiknya di telinga kiriku.
"Ngaco! Primadona mana bisa gue lepas!" Julukan itulah yang selalu kami sematkan pengganti namanya.
"Bucin akut ... makan, sana! Kondangan pinter loe ya, datang selalu duluan!" ucap sahabatku sambil melepas pelukan.
'Ardila yang mau,' batinku.
"Bodo amat! Gue ngamplop ya, jangan lupa!"
"Iya ... udah sana!"
Kami mulai menikmati acara, satu persatu wajah-wajah yang kami kenal tiba dan sebagian datang menyapa.
"Kamu cerita apa sama anak-anak?"
"Maksudnya?" Aneh dengan pertanyaannya.
"Iya, kamu ngomongin apa aja ke mereka tentang aku? Gak mungkin 'kan sikap mereka berubah kalau kamu gak ngejelekin aku!"
"Oh, kalau begitu kamu baru kenal aku. Selama ini kamu ngapain aja? Masa, sifat suami sendiri gak tau?"
"Ooo, jadi benar! Kamu bilang apa aja? Bilang, kalo kamu gak bahagia? Bilang kalo hubungan kita sebenarnya gak harmonis? Bilang kalo aku gak ngurusin kamu? Bilang kalo aku ngabisin uang kamu terus? Bilang juga, kalo aku suka mabuk-mabukan dan suka pulang malam?"
"Heh! Gak nyangka, gue nikah sama laki-laki ember!" kata-kata sinis dan ejekan yang selalu ia ungkapkan dan kini sudah menjadi langganan bagiku.
"Kita pulang saja, yu. Kondangannya 'kan sudah." Kuraih jemarinya yang masih menikmati cake-cake lezat dan cantik.
"Hai Zal, datang duluan? Mana yang lain?" sapa salah satu teman kuliahku. Upz ralat, aku tidak lulus kuliah, istrikulah yang mampu menyelesaikam S1nya.
"Eh. Iya, met! Anak-anak pada mencar."
"Met, belum nikah loe? Cepat nikah, sebelum stock cowok ganteng abis!" Selalu saja mampu membuat orang lain sakit hati atau malas meladeni. Dan benar saja, Meta pun pergi begitu saja.
Seperti menghadiri acara lainnya, sikap Ardila berubah 360 derajat ketika bertemu banyak orang. Gaya manja padaku ia tampakan dengan sangat jelas. Bersandar di otot lenganku, bergelayutan di sisi tubuhku, memeluk bahkan menyuapi makanan dan terkadang memcium pipiku tanpa ragu. Panggilan sayang, perkataan lembut menghiasi lisan manisnya, seolah hubungan kami baik-baik saja.
"Kerjaan loe gimana? Kontrak sama pak Dirga udah di ACC?" Andika sahabatku buka suara tentang kontrak kerja yang sedang kukembangkan.
"Dika ... ini tuh pesta ya, orang ke sini mau senang-senang. Bisa gak sih, gak usah bahas kerjaan!"
Hanya Andika sahabatku yang tau sikap asli Ardila kepadaku, dan aku tau persis alasan istriku berkata seperti itu. Dia malu dengan pekerjaanku, ia malu karena di antara kami semua hanya aku yang tak lulus kuliah dan tak berpenghasilan jelas.
"Perlu gue minta tolong Rosa?" balas Andika masih membahas pekerjaanku.
"Gak perlu, tar juga lolos. Kali ini gue yakin."
"Jangan telalu percaya diri, nanti kalo jatuh sakitnya berhari-hari. Yang sudah-sudah 'kan begitu. Dunia kuliah dengan dunia kerja, beda!" Bisik Ardila di telingaku.
Seperti itulah cara Ardila mensuportku. Dengan kata-kata kejamnya ia mampu memporak porandakan hatiku namun lima menit kemudian, kata-kata itu bisa meningkatkan adrenalinku lebih tinggi. Seolah ia berkata aku harus berusaha membahagiakannya dan lebih keras berusaha untuk kehidupan kami.
Jemari kami masih saling menggenggam, aku tak akan mau melepaskan karena hal ini sudah lama tak kami lakukan. Aku selalu senang jika bertemu banyak orang, dengan begitu kemesraan kami akan kembali, dan aku selalu berharap kemesraan itu terbawa sampai kami di rumah.
"Tadi itu, Lina ngeliatin kamu terus. Ada hubungan apa kamu sama dia?"
"Lina siapa?" tanyaku santai, sambil memesan kendaraan online dengan telepon di tangan kanan.
"Anak psikologi, mantan Teguh. Dulu dia kan sempet gangguin hubungan kita."
"Oh,"
"Oh doang! Kamu tuh kebiasaan sok kegantengan, itu yang membuat cewek-cewek kegeeran kalo di deket kamu! Gak perlulah tebar pesona, kamu tuh sudah nikah! Awas aja kalau sampai macem-macem, aku gak akan segan ngancurin hidup kamu!" ucapnya sambil melepas kasar jemariku.
"Kamu jangan ngaco dan gak perlu juga ngancam-ngancam suami! Tebar pesona bagaimana, kamu gak lihat sepatu aku sudah gak layak? Kamu gak liat kerah baju aku sudah rusak? Bahkan saat ini, aku gak tau sudah berapa lama tidak keramas, demi mengirit! Seharusnya kamu yang berkaca," lanjutku sambil menaik turunkan pandangan melihat penampilannya. "Lihat dirimu, setiap kondangan, baju selalu mau baru. Sepatumu beli belum ada dua minggu. Belum lagi makeup yang berlebihan itu, siapa di sini yang layak disebut tebar pesona?"
Kata-kataku keluar begitu saja, ketika logika kesabaran melewati garis batas maksimalku. Aku paling tak suka dicemburui, dan ia sangat tau itu namun tetap saja melakukannya.
Langkah kami terhenti ketika sebuah lamborgini menghampiri, kaca mobil sang pengengemudi turun perlahan. Tampak seorang wanita cantik berkaca mata hitam menyapa ramah. "Zal, jangan berantem di jalan. Bahaya."
"Siapa yang berantem! Inilah bumbu-bumbu rumah tangga, jika tak ada rumah tangga akan terasa hambar. Cup." Lagi-lagi, Ardila mengeluarkan pertunjukannya. Aku cukup senang dengan sikap sepontannya, karna dengan itu aku mampu mengobati rindu kemesraan kami yang dulu. Ingin sekali aku membalas kecupan itu, namun aku yakin dia akan sangat marah seperti kejadian sebelumnya.
"Zal, aku dengar kau dan papa akan melakukan kerjasama? Aku sudah baca sebagian proposalnya, ide-idemu sangat bagus, trobosan terkeren yang pernah aku pelajari, aku suka!" ucap Rosa semangat, sambil membuka seatbeltnya.
"Sorry, jemputan kita sudah datang. Ngobrolnya dilanjut kapan-kapan, ya ..."
Dan kami langsung menaiki mobil pesananku, mobil online dengan harga fantastis. Dan karena nominalnya, aku harus menggantinya dengan besok berangkat lebih pagi.
"Kalau tadi aku gak stop, sampai kapan kamu akan ngobrol sama dia?"
"Mana aku tau, kan tadi gak sempat terjadi."
"Selalu aja jawabannya begitu. Pokoknya aku gak mau tau! Aku mau, kamu gak usah kontrak kerja dengan orang tuanya Rosa!"
"Kenapa? Ini kesempatan besarku, aku sudah persiapkan semua ini dengan matang."
"Ya pokoknya aku gak mau tau! Kamu kan bisa cari orang lain, gak mesti orang tuanya Rosa!"
"Terus siapa?" tanyaku kesal.
"Ya siapa kek! Kamu usaha dong! Cari yang bener! Jika perlu, cari orang asing. Orang kaya di dunia ini kan banyak, gak mesti ayahnya si Rosa!"
"Gak bisa! Aku akan tetap lanjut. Ini kesempatan besar untukku dan keluarga kecil kita. Kalau kontrak ini lancar aku janji, aku akan langsung belikan kamu berlian." Ia diam sejenak, sepertinya ia sedang mempertimbangkan penawaranku yang menggiurkan.
"Gak usah sok bae. Aku gak mau tau, pokoknya batalin kontraknya! Kalo gak mau batalin, kita cerai!"
DEG
lagi-lagi kalimat itu keluar dari lisannya dengan mudah. Entah sudah berapa kali ia lontarkan kata-kata itu ketika kami ada masalah.
"Aku gak suka dengan suami yang nanti kerjaannya sama wanita lain. Kalau kamu masih melanjutkan kontrak kerja itu, kita cerai! Kali ini aku gak main-main. Besok aku akan ke pengadian dan layangkan gugatan!"
Jahat, jahat sekali ia melakukan itu padaku. Hanya karena rasa cemburunya, ia rela menghancurkan impianku, impian yang di dalamnya selalu ada dirinya.
Aku diam, di dalam kendaraan itu aku terdiam sama sekali tak mengeluarkan suara. Genggaman tangan kami sudah terlepas sejak tadi, aku hanya mampu mengepalkan jemari dengan kuat. Aku kesal dengan cara berfikirnya, aku kesal dengan caranya memandang kehidupan.
Seharusnya dia lebih dewasa, aku melakukan semua ini demi dia. Dia menggantungkan kebahagiaan padaku, aku rela pergi gelap hari dan pulang larut malam demi dia yang sangat kucintai. Tapi lagi-lagi keegoisannya mendominasi dan setiap saat aku harus memahami.
Yang kutau, Ardila istriku tak seperti itu. Dulu ia begitu manis, penurut, baik dan menerimaku apa adanya. Hingga akhirnya, aku memutuskan berhenti kuliah dan lebih fokus bekerja demi menafkahi istriku yang saat itu sedang hamil muda.
Saat itu aku sedang fokus bekerja di salah satu perusahaan games yang sedang naik daun. Istriku menghubungi dan mengabarkan bahwa saat itu ia di rumah sakit mengalami pendarahan hebat. Singkat cerita kami memutuskan untuk melakukan oprasi, karena anak kami tak dapat diselamatkan.
Entah apa yang terjadi pada dirinya, sejak kejadian itu sifatnya benar-benar berubah. Ia bukan lagi Ardila istriku yang dulu, ia mulai menunjukan sifat aslinya. Ia penikmat nikotin berat, dan terkadang ia mengkonsumsi minuman beralkohol dengan pulang ke rumah dalam keadaan mabuk.
Penyesalan masih hinggap dalam diriku hingga kini. Perubahan drastisnya aku fikir karana kehilangan bayi kami, bayi yang sangat kuharapkan untuk mengisi hari-hari kami berdua, namun hilang karena tuhan lebih menyanginya.
Ribuan bahkan jutaan kata maaf aku ucapakan tiap kali melihatnya bersedih dan kesal sendiri. Aku salah, karena membiarkannya sedirian di rumah. Aku salah seharusnya memberinya fasilitas kehamilan yang lebih baik. Aku salah, seharusnya saat itu kuturuti semua keinginannya. Dan akhirnya akupun berusaha memenuhi segala keinginannya, bahkan terkadang di luar logikaku.
Demi memperbaiki hubungan kami, aku rela menjual rumah peninggalan kedua orang tuaku, hanya untuk membeli kendaraan roda empat demi menutupi gengsinya. Aku pun rela tak kuliah, demi membiayai S1nya. Dan akupun rela berhenti kerja, demi meluangkan banyak waktu bersamanya, hingga akhirnya kuputuskan berprofesi sebagai ojek online.
Aku tak pernah merasa diriku benar sendiri, aku yakin setiap masalah pasti kedua belah pihaklah yang salah. Masing-masing dari kami memiliki andil di dalamnya.
Aku tau salahku, aku belum cukup bisa membahagiakannya. Dan saat ini aku sedang berusaha memberi kebahagiaan untuknya. Dengan cara aku kerja lebih giat dan lebih banyak menghasilkan uang. Namun usahaku disalahgunakan, kepulanganku yang terkadang larut malam membuatnya semakin liar dan tak lagi menghiraukan keberadaanku. Kemiskinan yang kami rasakan saat ini selalu ia jadikan alasan.
Segala cara telah kucoba, dari mengajaknya berbicara, merayunya, mengajak jalan-jalan ke tempat yang ia suka, menginap di hotel meski bukan hotel mewah, hingga melarang dan menguncinya rumah, cara itu pun telah aku lakukan. Namun percuma, tak satupun cara menemukan titik terang. Justru terkadang membuat kami bertengkar hebat dan semakin membuat jarak lebih parah.
Dan kini, aku memutuskan untuk pasrah. Pasrah dengan kami tak pernah lagi melakukan hubungan suami istri. Pasrah dengan apa yang ingin ia lakukan, dan berusaha pasrah atas perlakuannya padaku.
Aku masih teramat mencintainya, dan akupun yakin ia masih merasakan hal yang sama. Dari tatapannya aku masih bisa melihat cintanya, dari rasa bangganya di depan teman-temanku aku masih bisa merasakan kasih sayangnya. Hanya karna kemiskinan dan ketidaksabarannya, ia mampu menutupi hati nuraninya sendiri. Itu yang kutau.
Sudah tiga hari kami tak saling bicara, ia akan berbicara hanya ketika meminta uang dan merasa lapar ketika tak ada makanan di rumah.
"Kapan kamu ada uang lagi?"
"Bonus belum keluar, mungkin tanggal 25," jawabku sambil mencuci piring di wastafel.
"Oh, aku order sesuatu. Mungkin akan sampai tanggal 24, nanti kamu yang bayar, ya," ucapnya santai sambil menikmati sarapan pagi yang kubuat.
"Satu juta yang kemarin, sudah habis?"
"Ya udahlah. Itu kan hanya satu juta, cukup apa uang satu juta jaman sekarang? Mulai deh perhitungan, waktu pacaran kamu gak pernah hitung-hitungan, kenapa sekarang jadi perhitungan? Kalau aku tau kamu begini, ogah banget aku nikah sama kamu!"
"Pokoknya, aku gak mau tau. Barang datang, kamu harus ada uang!"
Hanya cukup diam, untuk meladeninya ketika banyak bicara. Yang kutau wanita dalam sehari harus berbicara 20.000 kata, maka dari itu kubiarkan saja ia puas berbicara. Namun inti dari perkataannya tetap kucerna, dan tentu saja mampu membuatku pusing, "cari uang kemana? Huft."
Hari berlalu begitu cepat, dan sikap istriku Ardila semakin parah. Ia semakin seenaknya, bayangkan saja seluruh aktifitas melelahkan kini aku yang kerjakan. Ia hanya cukup bangun tidur sarapan, membuat kopi sendiri karena katanya kopi buatanku tidak enak, dan menaruh bekas makannya begitu saja. Siang hari menonton televisi sambil menghisap nikotinnya dalam, terkadang ditemani cemilan hasil dagangan penjual lewat depan rumah. Mungkin dengan begitu ia bahagia, dan aku berusaha merasakan kebahagiaan yang sama.
Aku berharap ia paham, bahwa aku sedang berusaha membahagiakannya. Aku sedang berjuang untuk memenuhi seluruh kebutuhan, meski usahaku terkadang ia patahkan, termasuk kontrak kerjak yang terpaksa kubatalkan demi menghindari perceraian.
Dan satu lagi, seharusnya ia tak pernah lupa, bahwa aku bukanlah orang kaya. Aku hanya anak yatim piatu miskin, dengan kecerdasan cukup baik, yang kedua orang tuanya meninggal dunia tak lama sebelum kami menikah.
TOK TOK TOK
"Pakeeett ..."
Rumah mungil ini mampu mendengar suara apapun yang ada di luar sana, maklum saja ukurannya hanya 10 X 5 meter persegi. huft, ia cuek, masih saja asik menonton televisi. Meski agak kesal, namun aku bersyukur karena hari ini ia tak keluar rumah.
Kuletakan ember berisi pakaian yang telah aku cuci, kulangkahkan kaki menuju pintu mencoba memastikan bahwa teriakan itu salah alamat.
"Siang mas, atas nama Rizaldi Takki?"
"Iya, saya sendiri."
"Total 3.750.000, uang pas ya mas," ucap kurir itu sambil menyerahkan bon beserta sebuah kardus besar tepat di sampingnya.
"Mau diletakan dimana, mas?"
Kini kertas tertera angka-angka ada dalam genggamanku, entah apa yang harus kulakukan padanya dan entah dengan apa aku harus membayarnya.
"Mas, saya tidak jadi membeli. Bisa dikembalikan lagi? Untuk ongkosnya saya yang akan tanggung."
"RIZAL! apa-apan sih, kamu! Itukan sudah aku beli, kamu tinggal bayar."
"Kita tidak ada uang, mau bayar pake apa?"
"Aku kan sudah bilang, aku CODan. Seharusnya kamu persiapkan uangnya, dong. Kecuali aku belum bilang!"
"Iya kamu bilang, tapi barangnya tak perlu semahal ini. Aku belum ada uang."
"Aku ga mau tau, aku mau beli kulkas itu. Kulkas apaan butut gitu! gak berguna dan sudah tua!" Menunjuk kulkas satu pintu di sisi dapur. "Harusnya kamu tuh bersyukur, aku mau diajak susah. Tapi kesabaran orang ada batasnya, aku gak maulah terus-terusan susah!"
"Dan kamu juga harusnya bahagia karna aku gak minta macam-macam, kulkaskan untuk kebutuhan kita juga, dan aku hanya order yang dua pintu. Kalau aku jahat, pasti sudah kuorder yang empat atau yang enam pintu!"
Lagi-lagi, ocehannya mampu membuatku diam, ocehan benar dan lumayan menyakitkan.
"Aku pingin minum air dingin, nanti gak mesti lagi kamu membuat es batu, karena kulkas itu sudah canggih dan kamu gak perlu lagi tiap bulan bersihkan."
"Yaaa, beli kulkasnya yaaa ..." Perkataan manja dan wajah sedihnya mampu membuatku terbuai dan terharu. Lagi-lagi aku luluh.
"Kamukan bisa pinjam uang lagi sama Andika. Kalau kamu pinjam, pasti dia kasih. Yaaa ... beli yaaa ... aku mau kulkas ini, ini bagus dan designnya juga moderen." Sambil menyentuh kardus besar di samping si kurir.
"Beliii ... beliin, Zal."
"Huft. Baiklah."
Jemari dan telepon genggamku langsung kompak beraksi. Tak menunggu lama, M-bankingku pun memberikan kabar, uang yang kupinjam telah sampai.
"Huft. Dilebihin lagi. Biasa banget neh anak! Dik, semoga gue bisa bales semua kebaikan loe."
Tepat dua bulan kulkas dua pintu itu menjadi saksi rumah tangga kami, kini kontrakan minimalis ini memiliki satu barang mewah. Sebuah kulkas dua pintu yang cukup mengurangi ruang gerak penghuninya, namun sayang interaksi penghuni di dalamnya semakin jarang dan berkurang karena kini tepat satu bulan, istriku mulai bekerja.
Berniat membantu memenuhi kebutuhan keluarga dengan cara bekerja, mengasah kembali kecerdasan otaknya dan mengisi kekosongan waktu, itulah alasan Ardila hingga aku mengizinkannya bekerja. Namun sepertinya itu adalah keputusan yang salah, kegiatan di luar rumah banyak menyita waktu dan pekerjaannya itu semakin merubah sikap Ardila menjadi lebih parah.
Tak ada lagi kata-kata mesra yang kadang ia ucapkan di tempat umum, tak ada lagi sikap manja yang ia tunjukan, dan tak ada lagi sentuhan-sentuhan hangat yang ia berikan ketika kami di depan banyak orang. kini ia benar-benar telah berubah, sikapnya dingin, acuh dan masa bodo.
Mungkin baginya, pernikahan kami tak ada artinya lagi, hanya tinggal status, karena kini ia mampu memenuhi kebutuhan dirinya sendiri. Dan seolah ia telah menemukan pelabuan baru, untuk mengisi seluruh kekuranganku. Rasa curigaku ini selalu berusaha kutepis, karena aku yakin Ardila masih sangat mencintaiku.
lamunan panjangku terganggu, tampak Ardila menjatuhkan tubuh berbaring membelakangiku dengan pakaian seksinya. Entah tak sengaja atau itu niatnya, hingga membuatku ingin sekali memeluk tubuhnya dan mengecup permukaan leher jenjangnya. Namun tiga detik kemudian pakaian tipisnya menampakan sesuatu, penglihatanku terganggu, ada tanda kemerahan di sana, berfikir itu tanda kepemilikian, namun dengan cepat kualihkan. Tak ingin berprasangka jahat padanya dan tak ingin mengotori pemikirian tanpa sebuah bukti, hasil penglihatanku sendiri.
Aku yakin, ia masih sangat mencintaiku. Ia hanya kurang sabar dengan proses yang saat ini sedang kami jalani. Setelah pekerjaanku lancar, aku yakin ia akan kembali seperti Ardila istriku yang dulu. Istriku yang cantik, baik dan penyayang di tambah predikat baru sebagai wanita karir, cantik, dan cerdas.
Dari pada berfikir yang tidak-tidak, lebih baik aku kerja. Pikirku. Kuaktifkan aplikasi tranportasi onlineku, TRING!
Entah siapa dia, sepagi ini ordranku masuk. 'Ok, kerja-kerja-kerja. Demi Ardila.' Berusaha menyemangati diri sendiri.
"Bang rumah sakit Hermina, ya."
"Siap! pake helm dulu, ka."
"Oh iya, lupa. Makasih, bang."
Motor maticku melaju membelah ibu kota yang masih sepi, hanya ada beberapa kendaraan berlalu-lalang, karna saat ini masih jam dua pagi.
"Bang bisa lebih cepat? Kakak saya lahiran, dia sendirian."
"Oh, iya ka. Semoga lahirannya lancar, ya kak. Em ... emang suaminya kemana, ka?" Sumpah demi apapun, baru kali ini aku lancang.
"Di luar kota."
'Laki-laki bodoh! Jangan sampai kau menyesal sepertiku dulu!'
Uang yang kugenggam begitu banyak lebihnya, "kembaliannya, ka!" ucapku di balik helm full face yang kupakai.
"Ga usah, buat abang aja. Terima kasih, ya bang." Ia lepas helmku yang berlogo hijau dan berlalu pergi, di akhiri dengan senyuman indah.
"Pagi-pagi dapet rejeki."
Kini, waktu menunjukan pukul dua belas malam dan istriku belum juga datang. Aku menunggunya sejak sore tadi, aku buru-buru pulang karena aku berniat memberikan kabar gembira perihal kontrak kerja yang akan aku dapatkan.
Sebuah kontrak kerja, dalam bidang pelatihan tenaga kerja IT di sebuah instansi pemerintah. Dengan kemampuanku dan kelihaianku dalam bidang komunikasi dan jaringan, para penghasil uang di dunia teknilogi tak segan-segan memberdayakan kami yang tak bertitel ini.
Kesuksesan aku dan istriku, didepan mata. Hal-hal penunjang kebahagiaan Ardila, akan aku penuhi seluruhnya dan rumah tangga kami akan harmonis setelah ini. Gambaran itu terpancar dalam benakku.
Hingga kini pukul dua pagi, ia belum juga kembali. Rasa kantukku mulai menghantui, akhirnya kuputuskan untuk membiarkan diri tertidur sejenak di sofa yang sudah jelek.
Suara pintu terbuka mengganggu tidur nyenyaku, kuarahkan pandangan pada jam dinding di atas televisi. Saat ini pukul empat pagi, dan istriku baru pulang dengan penampilan di luar logikaku.
Rambut indah yang biasa tertata rapih, kini berantakan. Pakaian sederhana yang biasa ia kenakan, kini berganti menjadi pakaian yang menjijikan. Lipstik merah merona, terlihat menggoda. Dan_
'Tidak, tidak mungkin. Ini tidak mungkin.'
Aku mengusap kedua mataku, berharap apa yang kulihat hanya pantulan cahaya atau hanya kotoran mata. Namun percuma, langkahnya yang semakain mendekat membuat tanda merah itu semakin terlihas dan nyata.
Aku berusaha mengendalikan diri dan berniat berbicara baik-baik demi masa depan rumah tangga kami. Aku bangkit kemudian berjalan kearahnya, "itu apa?" Tunjuk jemariku.
Menundukan wajah, "oh, ini?" mengusap bagian merah tepat di atas belahan dada. "Ulah si Anggi," jawabnya santai sambil berjalan menuju kamar.
Aku mempercayainya, aku berusaha percaya walau ia berbohong. Aku yakin ia punya alasan, ia kesepian karena aku selalu pulang larut malam. Dan ia kesal karena aku belum bisa memenuhi seluruh kebutuhannya, hingga ia harus ikut mencari nafkah.