"Mama, mau nikah lagi?" Pekik seorang gadis cantik bernama Ariana.
"Sayang? Kita sudah lama tidak ada figur sosok seorang ayah. Jadi, apa salahnya kalau mama nikah lagi?" jelas sang bunda.
"Ma? Lalu bagaimana dengan papa? Papa pasti sedih, mama tega banget sih?" Protes Ariana dengan wajah memerah.
"Ari? Papa sudah lama meninggalkan kita. Mama ingin ada sosok pria dirumah ini yang bisa menjaga kita." Terang sang bunda.
Ariana terdiam. Ia masih tidak sanggup percaya dengan permintaan sang bunda. Pasalnya ia sangat dekat dengan sang ayah. Memang sudah hampir 7 tahun sang ayah meninggalkan mereka karena kanker. Sang ayah tidak mampu bertahan dan akhirnya pergi meninggalkan mereka berdua. Ariana masih menganggap ayahnya masih hidup dan selalu melindunginya. Untuk itu, ia sangat terpukul dengan keputusan ibunya. Kalau ibunya nikah lagi, suasana akan menjadi canggung dan ia pun pasti tidak terima. Bukankah sulit menerima orang baru, apalagi harus memanggilnya ayah.
"Aku pergi sebentar ma!" Ariana pergi meninggalkan sang ibu yang masih termangu di sampingnya.
"Ari, ini sudah malam. Kamu mau kemana sayang?" Tanya sang bunda sambil mencekal tangan putri satu-satunya itu.
"Ari ada janji dengan teman-teman." Ariana melepas cekalan tangan ibunya dan pergi keluar.
"Ari, ARIAANNNAAA!!" pekik sang bunda, namun tidak digubris oleh sang putri.
Bu Sarah merasa frustasi. Ia terduduk lesu di sofa panjang dan menyenderkan punggungnya di sandaran sofa tersebut.
"Hah, aku tahu ini pasti akan terjadi. Aku tahu bahwa Ariana akan menentang keputusanku. Tapi mau bagaimana lagi. Aku pun juga ingin melanjutkan hidupku. Aku masih ingin merasakan bagaimana pergi dengan pasangan ke acara-acara penting. Agar aku tidak sendirian lagi. Aku tahu aku salah. Karena aku mengkhianati ayahnya. Tapi ...." Sarah mengusap wajahnya kasar.
Ia memejamkan matanya sejenak. Entah mengapa, wajah putrinya, juga wajah calon suaminya bergilir memenuhi pikirannya. Tiba-tiba wajah mendiang sang suami seakan menyapanya.
"Mas Robby ...." Lirihnya pelan. Kemudian ia membuka matanya dengan kepala yang masih menengadah keatas dengan bersandar pada sofa.
"Resti aku ya mas. Maafkan aku karena menikah lagi. Tapi, bukan maksudku untuk melupakan ataupun mengkhianati kamu mas. Aku hanya tidak ingin sendiri. Aku akan mengunjungi makammu untuk meminta restu sekaligus mendoakan kamu." Kemudian ia memejamkan lagi matanya dan menghela nafas panjang, untuk merilekskan pikirannya.
***
Ariana melajukan mobilnya menuju club' malam. Ia berbohong pada ibunya jika ada janji dengan teman. Padahal ia ingin pergi ke club' untuk menenangkan pikirannya.
Ia memarkirkan mobilnya kemudian masuk ke pintu utama club'.
"Berikan aku satu botol!," ucapnya tiba-tiba pada bartender yang sedang melayani pembeli.
"Nona? Anda yakin? Dengan siapa anda kemari? Bagaimana jika anda mabuk?" Tanya seorang bartender.
"Buatkan saja! Aku sedang frustasi," jawabnya sinis kemudian pergi mencari tempat duduk.
Sang bartender menggeleng pelan. Memang banyak gadis seusia dia yang datang sendirian. Namun setelah itu mereka mabuk, dan dibawa pria entah kemana.
"Hah, apakah dia akan berakhir seperti itu." Ucap bartender kemudian menyiapkan pesanannya.
"Sayang, mama akan menikah lagi,"
"Hah," Suara bundanya terus terngiang didalam benaknya. Antara mengizinkan atau tidak. Ia bingung. Salah satunya ia tidak ingin mengkhianati sang ayah, tapi juga kasihan melihat mamanya yang mengurus semuanya sendiri. Baik perusahaan dan bisnis yang ditinggalkan papanya.
"Sayang? Mama ingin ada yang membantu mama mengelola bisnis papa. Mama sudah izin sama papa untuk memberikan restunya. Kini, mama meminta restu itu darimu juga." Kembali kata-kata sang bunda terngiang-ngiang di pikirannya.
"Aahh, fuucckkk. Apa yang harus aku lakukan? Bagaimana bisa aku hidup dengan pria besar yang baru aku kenal, dan langsung memanggilnya papa. Ih, lagipula dia pasti jelek, perutnya bergelambir , hitam, dan berkacamata. Jika iya, mamaku masih cantik dan kencang, masa mau sama orang kaya gitu. Aaahhh, fucking shit." Umpatnya.
"Silahkan pesanan anda!" Ucap sang pelayan.
"Terimakasih." Ucapnya acuh. Kemudian ia langsung menenggak minuman itu tanpa menggunakan gelas.
Ariana Chelsea Wijaya. Adalah seorang gadis putri tunggal keluarga Wijaya, yang memiliki bisnis yang besar. Diantaranya bisnis tambang emas dan berlian, perusahaan dibidang teknologi dan juga makanan.
Ia memiliki wajah yang cantik dan manis. Ia kuliah jurusan bisnis di salah satu kampus ternama di Indonesia. Walaupun umurnya masih timur, tapi ia memiliki tubuh sintal yang sanggup membuat para lelaki melirik kearahnya. Dada super besar dan bokong super padat. Sehingga membuat para pria selalu menelan ludah ketika melihat dirinya.
Tanpa terasa satu botol minuman beralkohol itu sudah habis ia tenggak. Tubuhnya menjadi panas dingin dan ingin terus minum dan minum lagi.
"Ahhh, dasar. Ada-ada saja yang selalu membuatku pusing. Hmm, kenapa lampu diskonya berputar-putar? Orang-orangnya juga. Mereka melayang, apakah mereka hantu?" Racau Ariana yang sudah mabuk, namun ia masih bisa berjalan. Club' ini menyediakan hotel untuk menginap juga. Ariana tahu jika ia tidak mungkin pulang dan menyetir. Untuk itu, ia memutuskan untuk bermalam di hotel saja.
"Hmm. Nona, anda baik-baik saja?" Sapa sang bartender.
"Ricky. Itukah namamu? Hmm, manis sekali." Kemudian Ariana kembali berjalan tertatih menuju kamar hotelnya.
"Hah, astaga. Dasar gadis aneh," Ricky menggelengkan kepalanya dan menatap aneh pada Ariana.
Ariana menyusuri satu persatu kamar. Banyak dari mereka yang melakukan hubungan hanya di luar, walaupun tidak sampai intim.
"Menjijikkan. Apakah mereka tidak bisa menyewa kamar." Ariana terus berjalan dan memastikan setiap angka dan mencari angka kamarnya.
"Okay. 103, 104, 105, ah ini dia, 106, kamarku." Kemudian ia membuka kunci pintunya. Namun tidak bisa. Bahkan sudah berkali-kali mencoba, tetap pintu tidak terbuka.
"Haiisshh, kenapa pintunya tidak bisa dibuka dengan kunci? Masuk saja tidak, menyebalkan. Aahh kepalaku tambah pusing sekali." Ucap Ariana sambil memegangi kepalanya.
Namun tiba-tiba ia memegang daun pintu itu dan membukanya. Kemudian pintu itu berhasil terbuka.
"Loh, kenapa tidak dikunci? Apakah pintu ini ajaib, sampai-sampai tidak memerlukan kunci? Ah peduli setan." Kemudian dengan tertatih, Ariana masuk kedalam kamar. Kamarnya begitu gelap dan iapun segera mencari tombol lampu. Namun itu hanya lampu tidur yang baik remang.
"Aahh, kenapa tiba-tiba tubuhku panas? Apakah aku lagi pengen? Hahaha, menjijikkan. Aku kan belum pernah melakukannya. Aku aja belum tahu rasanya." Ucap Ariana.
Tiba-tiba datang seorang pria dengan perawakan tinggi dengan badan besar berotot.
"Hei, siapa kamu? Berani sekali memasuki kamarku?" Pekik pria itu.
"Apa? Ini kamarmu? Ck ck ck, tidak mungkin. Ini kamarku. Ini nomor 106, ini kamarku." Kekeh Ariana.
"Heh, kamarmu ada disebelah. Ini nomor 107," kekeh pria itu juga.
"Tidak mungkin." Ariana berjalan gontai menuju pria besar itu.
Pria yang sangat maskulin, dengan badan atletis dan dada bidang serta perut sixpack yang tercetak jelas di balik kaos tipis yang ia kenakan.
"Ow, apakah aku salah kamar? Tapi, kepalaku sudah sangat pusing. Tubuhku juga rasanya panas. Kalau begitu, aku nginep disini aja ya malam ini," ucap Ariana dengan mudahnya.
"Apa? Tidak bisa. Ya sudah, kalau begitu aku antar kamu ke kamar sebelah. Merepotkan saja," kemudian pria itu mendekati Ariana, bermaksud untuk mengantarkan Ariana ke kamarnya.
"Mau kemana? Aku tidak mau, aku mau tidur disini. Jangan!" Berontak Ariana.
"Apa? Kamu tidak bisa tidur disini. Ini kamarku!" Kekeh pria itu.
"Tidak mungkin. Ini pasti kamarku." Kemudian Ariana mendorong pria itu hingga terjerembab ke atas ranjang.
"Ehh, apa yang kau-"
"Om sangat tampan dan menggoda. Bolehkah aku memeluk om?" Ucap Ariana dengan mata sayu dan wajah yang merah.
Jujur saja, perlakuan ariana membuat bulu kuduk pria itu merinding. Wajah yang cantik dan ayu, dengan blush on natural di pipinya. Dada besar yang menggantung menggoda. Dengan rok pendek yang disibakkan kapan saja.
Tidak terasa, big junior pria itu mengeras. Tiba-tiba ia ingin menuntaskan hasratnya dan berpetualang panas malam ini.
"Om, kenapa diam saja? Apakah aku secantik dan sexy itu, hm?" Goda Ariana.
Tiba-tiba Ariana menyambar bibir tebal pria itu dan melumatnya rakus.
"Euunnghhh," pria itu berusaha keras melepaskan Ariana darinya. Namun Ariana adalah gadis yang kuat. Ia mampu bertahan dan terus melumat bibir tebal itu dengan bringas.
"Hei, hen-ti-kan!" Hardik Pria itu.
Puas menikmati bibir itu, Ariana langsung turun menuju leher sambil memilin puncak kembar sang pria asing itu. Nafas pria asing itu memburu. Tubuhnya berdesir dan merasa nikmat dengan semua perlakuan Ariana.
"Aaahhhh fuck, kenapa dia pintar sekali. I-ini ...." Racau sang pria asing.
Tiba-tiba, Ariana berhenti melakukan kegiatannya. Jujur itu membuat sang pria kecewa. Ia pikir, perlakuan gadis asing ini akan berhenti. Namun ia salah. Gadis ini dengan kasar melepas tasnya dan membuangnya sembarangan. Kemudian ia membuka kancing bajunya satu persatu, sehingga nampaklah gunung kembar yang super dupper besar.
"B-besar sekali?" Glup, sang pria menelan salivanya berat.
Terlihat bukit kembar itu menggantung sempurna dengN puncak pink kemerahan.
"Bagaimana om, apakah kita akan berhenti atau lanjut?' tanya Ariana dengan nada menggoda.
"Fucking shit." Pria itu kemudian meraih tubuh sintal itu dan membalikkan keadaan. Kini posisi Ariana berD dibawah Kungkungan sang pria besar.
"Kau yang membangunkanku. Jadi, jangan harap kamu bisa lepas dariku dengan mudah," ucap sang pria besar sambil membuka bajunya, sehingga menampilkan enam otot perut yang berjejer rapi disana.
"Aku harap kau tidak menyesal,"
Bersambung
"Kau yang membangunkanku. Jadi, jangan harap kamu bisa lepas dariku dengan mudah," ucap sang pria besar sambil membuka bajunya, sehingga menampilkan enam otot perut yang berjejer rapi disana.
"Aku harap kau tidak menyesal,"
Pria itu langsung menyambar bibir ranum itu dengan kasar namun mematikan. Lidah saling membelit dan erangan demi erangan terdengar di ruangan itu. Ariana mengalungkan kedua tangannya ke leher kokoh pria itu dan memberikan ciuman terbaiknya untuk mengimbangi pria itu. Namun, saking kuat dan lihainya pria itu, ia sampai kualahan dan serasa kehabisan pasokan oksigen.
"Hah ... hah ... hah," Ariana mengambil nafas dalam-dalam dan membuangnya cepat.
"Kenapa sayang? Apa kau sudah lelah? Ini belum masuk dalam pemanasan. Ini baru awal permulaan," ucap pria itu dengan seringai tajam di bibirnya.
"Om terlihat kuat banget. Apa aku bisa mengimbanginya?" Lirih Ariana dengan manja.
"Tenang saja sayang! Aku akan bermain pelan. Jika bisa," ucap pria itu.
Pri itu memiliki perawakan yang tinggi gagah dengan kumis dan jambang halus di wajahnya. Tubuh atletis dengan cetakan otot perut yang sixpack dan otot bisep Trisep yang kuat dan meliuk-liuk gagah. Tangan Ariana saja terlihat mungil ketika disentuh pria itu. Sungguh bagaikan raksasa yang kuat dan sedang memainkan mainannya.
Pria itu bernama Evan. Sebenarnya ia adalah salah seorang pebisnis sukses di Indonesia. Ia memiliki beberapa perusahaan besar dan salah satunya adalah hotel ini. Ia hanya singgah untuk beristirahat malam ini di hotelnya. Namun, pucuk dicinta ulampun tiba. Ia mendapatkan rezeki durian runtuh, berupa gadis manis yang kesepian dan sedang mabuk.
Evan langsung menyambar leher putih dan jenjang milik Ariana. Ariana sangat menikmatinya hingga ia menggigit bibirnya dan menengadahkan kepalanya ke atas.
Evan terus memberikan rangsangan hingga sampai ke bukit kembar yang mengacung sempurna dengan puncak kemer4han.
"Ahhhhhh, nik-mat sekali-hh," Ariana menekan kepala pria itu untuk lebih dalam mempermainkan bukit kembarnya.
Puas bergerilya dengan buah dada besar. Evan terus turun memberikan rangsangan mengitari pusar. Lidahnya yang lihai, mampu membuat aliran listrik di sekujur tubuh Ariana.
"Mari kita lihat, bagaimana kamu dibawah sana." Evan menyentuh bagian bawah Ariana dan ternyata benar, itu sudah basah.
"Wow, basah sekali. Apakah kau sudah tidak sabar, hm?" Ucap Evan dengan smirk diwajahnya.
Evan memasukkan satu jarinya untuk melihat reaksi Ariana.
"Aaahhhhhh ...." Ariana menggelinjang hebat sambil terus memejamkan matanya.
"Wow, apakah aku mengenai titik spotmu hm?" Ucap Evan. Ia menambah kecepatan jarinya sambil memainkan biji kecil milik Ariana dengan lidahnya yang lihai.
"Aaahhhhh, t-tubuhku serasa terbakar." Racau Ariana.
Hingga Ariana memuntahkan cairan yang banyak, seperti air terjun.
"HN, hah-hah-hah. Aku lemas om," ucap Ariana.
"Hei, jangan lemas dulu! Inti dari permainan ini belum selesai baby." Evan membuka resleting celananya pelan. Kemudian melepas celananya dan bersiap memasukkannya.
"Pelan-pelan ya," Evan dengan pelan memasukkan kejantanannya dan perlahan tubuh mereka mulai menyatu.
"Aaahhh, s-sakit. Tubuhku serasa terbelah." Pekik Ariana.
"Sabar sayang! Sebentar lagi. Pasti sebentar lagi akan nikmat. Percayalah!" Ucap Evan sambil terus berusaha memasukkan miliknya dan memberikan rangsangan pada Ariana.
"Kenapa sempit sekali. Tapi, ini hebat. Milikku belum masuk semua saja, miliknya sudah sangat memijat milikku dengan nikmat. Aahhhh," racau Evan.
Setelah berhasil memasukkan semua, ia berhenti untuk memberi ruang Ariana untuk tenang.
"Apakah kamu sudah siap untukku bergerak baby?" Ucap Evan dengan senyum smirk di wajahnya.
Tanpa menunggu jawaban dari Ariana, Evan mulai memaju mundurkan pinggulnya dengan tempo pelan.
"Aaahh, s-sakit. Sakit banget," ucap Ariana dengan bulir air mata yang menetes di pipi mulusnya.
"Sabar sayang. Sebentar lagi pasti akan berubah nikmat." Balas Evan, kemudian menyerang leher Ariana lagi.
Benar kata Evan. Perlahan rasa sakit itu berubah menjadi nikmat. Ariana merasakan aneh pada tubuhnya, bahkan bergerak sendiri mengimbangi permainan Evan.
"Yes baby, begitu. Aahh fucking fuck. Siapapun kamu, tubuh kamu benar-benar nikmat," ucap Evan sambil merem melek menahan gejolak nikmat ditubuhnya.
Berbagai gaya sudah mereka coba. Mulai dari doggy style, misionaris, bahkan WOT. Sangat berani untuk kelas pertama.
"Aku pengen pipis om." Racau Ariana.
"Keluarkan saja sayang! Jangan ditahan!" Balas Evan.
Akhirnya benar. Kembali Ariana menyemburkan cairan nikmat yang banyak, sehingga membuat lantai basah.
"Wow. Sangat hebat. Tunggu aku sayang, aku akan sampai sebentar lagi." Ucap Evan dengan peluh yang semakin deras menetes.
"Ah, aku sudah lelah om. Kapan selesainya. Om kuat banget sih." Ucap Ariana..
"Sebentar lagi sayang. Yaaahh, ini dia ... Aaahhhhhh," Evan segera mencabut keperkasaannya dari milik Ariana dan menyemburkannya ke atas perut Ariana.
Cairan putih yang pekat dan banyak.
Deru nafas keduanya semakin memburu karena kelelahan. Sungguh pertempuran yang sengit, bahkan sprei yang rapi kini sudah kusut tak berbentuk.
Ariana terlihat sangat kelelahan. Ia langsung tertidur pulas dengan tubuh yang masih basah.
"Hemm, ternyata dia tetap anak-anak. Tapi, hebat juga dia bisa mengimbangi ku. Wanita dewasa saja bisa kualahan. Tapi dia hebat." Ucap Evan sambil tersenyum dan menggelengkan kepalanya lemah. Ia mengambil tisu untuk membersihkan cairan yang ia tumpahkan ke atas perut Ariana. Ia harus melakukan ini untuk mencegah kehamilan. Ia tidak ingin karena one night stand, ia menjadi ayah dari wanita yang tidak ia kenal sebelumnya.
"Hah, kamu pun juga menguras tenagaku. Kalau begitu, mari kita tidur." Evan menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka dan Evan mulai memejamkan matanya.
***
Pagi menjelang. Suara burung berkicau dan berterbangan kesana kemari. Sangat indah dengan nuansa pagi yang cerah untuk semangat pagi yang cerah juga, harusnya.
Evan sudah terbangun lebih dulu. Ia sudah membersihkan tubuhnya dan bersiap untuk pergi ke kantor. Namun, ia memilih untuk menunggu gadis one night standnya ini bangun dulu. Ya, minimal tahu namanya, agar terlihat tidak terlalu brengsek. Ia memeta setiap lekukan wajah dan tubuh gadis itu. Sangat manis, cantik dan sedap dipandang. Badannya juga bagus. Meskipun tubuhnya ramping, tapi ia memiliki postur tubuh ideal. Dada yang super dupper besar, juga bokong padat berisi. Jangan lupakan kulit putih, bibir merah, dan rambut panjang terurai yang berawana hitam sedikit kecoklatan. Namun, bukan hanya terpesona dengan paras ayu gadis itu, tapi sesuatu yang lain telah menarik perhatiannya.
"D-darah?" Mata Evan membulat penuh melihat kenyataan bahwa ternyata gadis ini, masih ... Perawan?
"Eeeuunngghhhh," lenguh Ariana sambil meregangkan otot-ototnya.
"Aahh, kenapa tubuhku sakit sekali." Ariana mencoba menggerakkan tubuhnya. Yang terasa kaku. Apalagi sangat nyeri dibawah sana. Ia membuka matanya perlahan dan mengerjakapkannya. Sampai ia melihat seorang pria yang tengah berdiri gagah didepannya.
"Aaaarrggghhhhh, siapa kamu?" Pekik Ariana.
"Hei, jangan teriak-teriak! Aku tidak tuli tahu," sarkas Evan.
"L-lagipula kau. Ngapain kamu di kamarku? Kamu mau macam-macam ya?" Tanya Ariana.
"A-apa? Hei, kau yang pergi kekamarku lebih dulu dan menggodaku. Kau tidak ingat semalam?" Balas evan.
"S-semalam?" Kemudian Ariana berusaha mengingat kejadian semalam. Ia teringat pertempuran sengit tadi malam secara samar-samar.
"Aaaarrgghhhhhh, apa yang sudah kau lakukan padaku, dasar brengsek!" Pekik Ariana.
"Apa? Berani sekali kau mengatakan. Kau yang masuk kekamarku dan mengajakku bercinta. Bahkan kau mendesah keenakan akibat ulahku, apa kau tidak mengingat itu, ha?" Goda Evan.
"Tidak. Ini pasti salah. Ini kamarku, 106. Kau pasti mengambil kesempatan dalam kesempitan karena aku sedang mabuk. Dan kau telah mengambil ... kesucianku." Lirih Ariana sambil menunduk
"Ini kamar 107. Kau salah masuk kamar, tahu tidak. Tapi tunggu! Jadi benar. Kau, masih ... perawan?" Tanya Evan lagi untuk memastikan.
Ariana hanya menu Duk dan tidak berani menatap Evan.
"Fuck," umpat Evan pelan.
Kemudian Ariana mulai beranjak dari tempat tidur. Ia perlahan bangun dan memungut pakaiannya yang berserakan dilantai satu persatu.
"Aku tidak tahu siapa kamu. Tapi, semoga saja tidak terjadi sesuatu diantara kita lagi. Tapi misalkan terjadi dan aku sampai hamil. Tenang saja, aku tidak akan mencarimu. Aku akan mengurusnya sendiri." Ucap Ariana sambil memakai pakaiannya satu-persatu.
Evan hanya berdiri terdiam. Ia merasa iba dengan gadis ini. Ia menjadi semakin brengsek karena menodai kesucian seorang gadis yang masih muda. Seandainya ia sadar dan tahu, dan dirinya bisa menahan nafsunya. Mungkin kejadiannya tidak akan terjadi sejauh ini." Batin Evan.
Ariana berjalan tertatih melewati Evan. Terlihat wajahnya yang sayu dengan bekas merah di sekujur leher dan tubuhnya. Itu semakin membuat Evan merasa bersalah.
Tiba-tiba Evan mencekal tangan Ariana dan seketika menghentikannya.
"Setidaknya, beritahu aku dimana rumahmu. Aku akan mengantarmu," ucap Evan.
"Tidak perlu." Ariana menepis tangan Evan untuk melepaskannya.
"Sudah ku bilang. Aku tidak akan mencarimu. Aku tidak akan mau tahu tentang kamu dan aku tidak ingin peduli lagi siapa kamu. Jadi, apa yang terjadi pada kita saat ini, anggap saja hanyalah kecelakaan." Kemudian Ariana berjalan meninggalkan Evan dan benar-benar pergi.
"D-dia ...."
Bersambung
Ariana berjalan tertatih menuju pintu utama rumahnya. Rasanya ia tidak percaya dengan apa yang sudah terjadi terhadapnya. Mabuk dan tidur dengan pria asing semalam, sehingga ia kehilangan kesuciannya. Kesuciannya berakhir ditangan pria tidak dikenal. Mengerikan.
Ceklek ....
Pintu utama terbuka. Ia melihat sang bunda tengah terduduk di sofa ruang tamu sambil membaca majalah mingguan.
Namun Ariana hanya diam. Ia seakan tidak menghiraukan bundanya yang duduk di sana.
"Ari, Ariana!" Panggil Bu Sarah.
Ariana tetap terdiam dan berjalan menuju kamarnya.
Bu Sarah bangun dari duduknya dan menghampiri Ariana.
"Dari mana saja kamu? Kenapa pagi begini baru pulang?" Tanya Bu Sarah dengan nada sedikit tegas.
"Kenapa ma? Mama kan mau nikah sama pria lain. Untuk apa mama masih peduliin aku?"
"ARIII!!!" Hardik Bu Sarah.
"Sudahlah! Ariana capek. Mau kekamar." Tanpa menghiraukan sang ibu, Ariana langsung pergi begitu saja meninggalkan sang ibu.
"Tunggu dulu! Kamu belum jawab pertanyaan mama. Apa yang kamu lakukan semalam, dan dimana kamu menginap semalam? Apa jangan-jangan kamu bergaul dengan orang gak bener ya? Mau jadi apa kamu, kalau kamu sudah gak mau dengerin kata-kata mama,ha?" Hardik sang mama seakan hilang kesabaran.
"Itu sudah bukan urusan mama. Urus saja calon suami mama," jawab Ariana.
"ARIII!" Pekik Bu Sarah dengan posisi tangan yang terangkat untuk menampar Ariana namun ia urungkan.
"Kenapa ma? Kenapa tidak jadi? Tampar aja ma, tampar!! Apa gunanya Ari sekarang, buat mama? Sudah gak ada kan. Ari sekarang sudah seperti sampah, Yang suatu saat akan dibuang." Lirih Ariana.
"Ari, kenapa kamu jadi seperti ini? Mama menikah lagi, Karena mama butuh pendamping. Kamu tahu sendiri kan, perusahaan peninggalan papa banyak. mama tidak kuat kalau harus mengurus semuanya sendiri sayang, mama mohon mengertilah!" Iba Bu Sarah.
"Cih, mama yang ingin bantuan atau mama yang rindu dibelai seorang pria?"
"Ariana, jaga mulutmu! Mama tidak pernah mengajarimu berkata tidak sopan seperti itu," bentak Bu Sarah.
"Yayaya, bulshit. Aku lelah, mau pergi kekamar." Ariana seakan tidak memperdulikan sang ibu. Ia berjalan menuju kamar.
"Ya Tuhan, berikan aku kesabaran!" Batin Bu Sarah.
Kemudian Bu Sarah mengeluarkan ponselnya dan menelepon seseorang.
***
Sementara itu di kantor megah. Pria berbadan besar tengah duduk di kursi kebesarannya. Ia adalah tuan Evan Pradipta Wijaya. Seorang pria yang memiliki banyak perusahaan di berbagai cabang. Ia masih mengingat kejadian semalam. Dimana ia menghabiskan malam yang panas dengan gadis yang tidak ia kenal. Bahkan namanya saja ia tidak tahu.
"Fuck. Kenapa aku kepikiran gadis itu terus. Apakah benar, kita tidak akan bertemu lagi." Batin Evan. Ia memejamkan matanya dan menyandarkan kepalanya pada kursi kebesarannya.
Namun dalam pikirannya, tiba-tiba terlintas gadis itu lagi. Bagaimana bentuk tubuhnya, desahannya, dan juga servisnya dalam memuaskannya.
"Fuck, " umpat Evan dalam diam.
Tok-tok-tok, suara pintu diketuk dari luar.
"Masuk!"
"Selamat siang pak. Ada tamu untuk anda." Ucap Larisa, sekretaris Evan.
"Hmm, siapa?" Tanya Evan.
"Pak Adam." Jawab Larisa.
"Untuk apa lapor, biasanya dia akan langsung nyelonong masuk." Sarkas Evan.
"Katanya ingin sesuai protap pak." Kikik Larisa.
"Hah, bulshit. Suruh masuk saja! Ada apa dia mengganggu waktuku yang berharga, dasar tidak berguna." Ucap Evan.
"Baik pak," kemudian Larisa pergi dari ruangan Evan.
Tidak membutuhkan waktu lama. Adam datang dengan tawanya yang khas.
"Hahaha, hallo my brother. Bagaimana harimu ha?" Sapa Adam.
"Ngapain kesini njing, buang-buang waktuku aja." Hardik Evan.
"Wowowo, santai aja bro. Aku kesini mau ngasih tahu kamu sesuatu yang sangat penting." Jawab Adam. Sebenarnya mereka adalah sahabat baik dari kecil. Saking baiknya, sudah tidak ada jarak antara mereka lagi. Bahkan berkata kasar satu sama lain pun sudah tidak akan ada yang sakit hati.
"Aku sibuk. Cepet mau ngomong apa?" Sarkas Evan.
"Santai dulu napa. Nih!" Balas Adam dengan menyodorkan sesuatu.
"Apaan nih?" Evan menerima sebuah benda kecil dari sahabatnya itu.
"Buka aja! Bentar lagi kan kamu mau nikah. Itu buat kamu," ucap Adam.
"Tapi ini, leontin permata biru?" Ucap Evan mengerutkan dahinya.
"Yap. Hanya beberapa buah di dunia. Dan itu peninggalan nenekmu, yang dititipkan pada ayahku. Maaf, aku lupa memberikannya padamu saat kau menikah dengan Laura dulu." Terang Adam.
Laura Andini, adalah istri pertama Evan. Mereka bercerai karena perbedaan tujuan. Disamping itu, Laura pergi meninggalkannya karena lebih memilih bersama pria lain. Karena ketidakcocokan ini, mereka memutuskan untuk berpisah. Dan kini Evan sudah mendapat penggantinya.
"Tidak masalah. Aku akan memberikannya pada calon istriku." Balas Evan.
"Aku harap ini pernikahanmu yang terakhir my big brother. Ya, meskipun aku selalu berlaku keras padamu, aku juga peduli terhadapmu. Dan juga, aku selalu mendoakan untuk kebahagiaanmu." Terang Adam.
Evan tersenyum. Memang diantara mereka selalu bertengkar. Tapi mereka adalah sahabat sejati yang selalu saling mendukung dan saling memecahkan masalah bersama.
"Thanks." Ucap Evan singkat.
"Oke. Kalau begitu aku pergi dulu." Pamit Adam.
"Mau kemana?"
"Aku ada janji dengan Natasha." Balas Adam cepat.
"Siapa lagi itu, kenapa kau selalu bermain-main dengan gadis-gadis. Kenapa kau tidak serius dengan salah satu saja. Kau juga belum menikah sampai sekarang." Protes Evan.
"Aku belum ingin. Lagipula, petualanganku dengan gadis-gadis masih harus berlanjut." Kikik Adam.
"Dasar, kau tidak pernah berubah. Usia kita sudah tidak lagi muda. Sudah hampir menginjak 45 tahunan. Kau belum menikah. Mau sampai kapan?" Tanya Evan.
"Nanti lah aku pikirkan. Sudah ya, Natasha sudah menunggu. Sampai nanti," Adam pergi begitu saja dari ruangan Evan.
Evan hanya menggeleng lemah, melihat kelakuan sahabatnya itu.
Kemudian ia melihat kembali liontin permata biru yang indah itu.
"Leontin ini sangat indah nenek. Nenek ingin aku memberikannya pada istriku ya. Akan kuberikan. Tapi apakah ini semua takdir? Seandainya aku memberikannya pada Laura pun, kita tidak bertahan lama. Seolah dunia tahu bahwa kita tidak berjodoh bukan?" Lirih Evan.
Kemudian, ia mendapat pesan.
Ting
"_Jangan lupa nanti kerumah ya, aku akan perkenalkan dengan anakku."_ Isi pesan tersebut ternyata dari calon istri Evan.
Evan tersenyum, dan langsung membalas pesan tersebut.
"_Baiklah sayang. Aku akan kerumah setelah pulang dari kantor."_
Kemudian ia menyandarkan kembali tubuhnya pada kursi.
"Ahh, sebentar lagi aku akan menikah. Aku hanya berharap semua ini lancar. Semoga ini juga yang terakhir." Tiba-tiba ia teringat kembali dengan gadis malam itu.
"Fuck. Kenapa aku selalu teringat gadis itu." Gumam Evan.
Namun, ketika ia tiba-tiba mengingat gadis itu, tubuhnya berdesir dan big juniornya terbangun dengan otomatis.
"Shit. Lama-lama dia membuatku gila karena penasaran.
***
Jam kantor telah usai. Evan memutuskan untuk segera pulang dari kantor dan menuju rumah kekasihnya, atau lebih tepatnya calon istrinya.
Calon istrinya juga seorang janda anak satu. Bedanya Evan belum dikaruniai anak, jadi ia harus belajar menjadi seorang ayah sambung yang baik, tentunya.
***
Kita tinggalkan Evan. Kita lihat dikediaman Sarah.
"Sayang ayolah!" Ucap Sarah pada Ariana.
"Apa sih ma, aku gak mau. Mama sendiri saja yang ketemu." Sarkas Ariana.
"Ari please! Kenapa kamu tidak mau, ini penting sekali buat mama."
"Penting buat mama, tapi tidak penting buatku." Sarkas Ariana lagi.
Sarah terdiam. Ia sangat sedih karena anak perempuan satu-satunya sangat menentangnya. Ya wajar saja, mungkin Ariana masih kecewa dengannya karena keputusan ini.
"Ari, ini sangat penting buat mama. Ini kebahagiaan mama juga, apa kamu sudah tidak peduli dengan kebahagiaan mama? Mama minta maaf, tapi mam juga wanita biasa yang butuh pendamping. Kenapa kamu tidak mengerti?" Lirih Sarah.
Deg
Ariana kembali tersambar. Ia pun sedikit merasa bersalah karena menentang keputusan mamanya. Ia pun harus mengerti dengan keputusan mamanya. Bu sarahpun masih muda, masih pantas untuk melanglang buana mencari calon suami. Dan ini sudah diputuskan, maka Ariana harus menghormati keputusan tersebut.
"Baiklah-baiklah, aku akan bersiap." Kemudian Ariana beranjak dari tempat tidurnya dan bersiap menyambut tamu ibunya.
Sarah tersenyum, dan menghela nafas lega. Memang Ariana sangat keras kepala, tapi masih ada sisi lembut di hatinya.
Kemudian Sarah pergi keluar untuk mempersiapkan menu hidangan nanti.
***
Sarah dan Ariana sudah siap. Mereka menunggu di ruang tamu.
"Mana ma? Kenapa lama sekali?" Tanya Ariana sedikit kesal.
"Sabar, sebentar lagi juga datang." Jawab Sarah.
"Hah, pasti jelek. Tidak setampan papa." Sarkas Ariana.
"Ya begitu juga boleh. Tapi om ini juga sangat keren. Ia memiliki banyak cabang perusahaan juga. Kita saling mengenal Karena perusahaan kita bekerjasama waktu itu. Itulah kenapa kita sampai di detik ini." Jelas Sarah.
Ariana memutar bola matanya malas.
"Dan om ini juga tampan. Tinggi gagah, badannya atletis karena dia sering nge gym." Jelas Sarah lagi.
"Berarti sudah pernah lihat, mama sudah macam-macam ya?" Tanya Ariana mengintimidasi.
"Tidak. Mama pantang melakukan itu sebelum sah. Mama bukan wanita seperti itu tahu." Ucap Sarah membela diri.
Ting-tong
Suara bel pintu berbunyi.
"Wah, itu pasti dia. Mama buka dulu ya." Sarah beranjak ke arah pintu untuk membukanya.
Ceklek
"Hai,"
"Hai juga, yuk masuk!" Ajak Sarah dengan senyuman yang tidak pudar dari wajah cantiknya.
Mereka berdua memasuki rumah dan bertemu Ariana.
"Ari, kenalin ini om Evan. Dan Evan, kenalin ini Ariana putriku," jelas Sarah.
Namun keduanya membeku. Mereka saling menatap dalam dengan mulut menganga lebar.
"K-kamu?" Ucap mereka berdua bersamaan.
Bersambung