Bab 1

Ketika istriku memutuskan untuk kembali bekerja, kemudian di tahun yang lalu ia mengalami kenaikan posisi yang berdampak penghasilannya menjadi jauh berada diatasku, awalnya masih terasa biasa saja. Namun kira-kira di 6 bulan terakhir, perlahan ada perubahan yang mulai dirasakan pada sikap istriku.

Lidya, begitulah nama istriku. Sebagai seorang istri sikapnya memang masih sama seperti Lidya yang sudah aku nikahi 3 tahun yang lalu. Ia masih hormat dan patuh kepadaku, juga masih dengan sepenuh hati melayani segala kebutuhanku di rumah. Aku sebagai suaminya seharusnya merasa beruntung mendapatkan istri secantik dan sebaik dia. Namun diluar peran istri yang masih ia lakukan dengan baik, ada perbedaan yang menurutku cukup mengganggu, yaitu perkara dia yang sudah hampir tidak pernah melibatkanku untuk bepergian. Misalnya untuk berbelanja, jalan-jalan, menghadiri undangan, dll.

Jika dulu setiap hendak bepergian tanpaku, ia selalu meminta izin, kini hanya pemberitahuan saja. Tahu kan bedanya? Jika izin tentunya harus menunggu keputusanku sebagai kepala keluarga, apakah diizinkan atau tidak. Sedangkan jika pemberitahuan, ya sekedar memberi tahu saja kalau dia ada rencana keluar, mau diizinkan atau tidak... ya kegiatannya akan tetap berlangsung. Begitulah kira-kira.

Mungkin jika aku mau bersikap keras, bisa saja aku melarang dia bepergian jika memang aku tidak berkenan. Tapi jujur selama 6 bulan terakhir ini power-ku sebagai seorang suami memang sedang down. Aku bukanlah seorang yang memiliki penghasilan tetap dari gaji bulanan, aku hanya seorang penjual t-shirt yang usahanya menyewa di sebuah trade centre. Namanya bisnis, pendapatannya naik dan turun, bahkan bulan-bulan terakhir terasa sangat berat, omzet penjualan menurun drastis.

Dari pendapatanku, setelah dikurangi biaya sewa tempat dan gaji pegawai toko, yang bisa kudapatkan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok rumah tangga saja. Ada untungnya kami belum dikaruniai anak, kalau sudah… tentu semakin banyak kekurangan untuk menutupi biaya rumah tanggaku. Sementara cicilan rumah dan mobil, istrikulah yang menanggung selama 6 bulan terakhir ini. Memang Lidya tidak pernah perhitungan, sepertinya dia sangat ikhlas dengan apa yang sudah dia keluarkan, walaupun itu sesungguhnya adalah kewajiban suami. Namun aku dengan segala harga diriku, merasa sudah jatuh harkat dan martabat sebagai seorang suami dihadapannya.

Itulah mengapa kini aku tak memiliki keberanian untuk melarang setiap istriku pergi. Jikapun aku memaksakan untuk ikut pergi bersamanya, UANG DARIMANAAAA???!?!?!!? Dibayarin pun rasanya gengsi.

Aku memang sudah tidak pernah mengajaknya jalan-jalan, aku juga selalu menolak dengan beragam alasan apabila dia mengajakku, apalagi ketika Lidya mengatakan akan mentraktirku… tidak!!! Mungkin dari sikapku itulah awal mula mengapa Lidya sekarang jika ada kegiatan di luar rumah sudah tidak mau melibatkanku lagi.

Lidya yang masih berusia 25 tahun rasanya memang masih pantas untuk merasakan bahagia bermain di luar sana, lagipula dia punya uang. Biarlah dia pergi tanpaku, namun pertanyaannya, dengan siapa dia berbahagia diluar sana? Makin hari kecurigaanku semakin besar, kalau dia bisa saja tak keluar bersama sahabat kantornya yang perempuan, lalu dengan siapa? entahlah, akupun belum bisa memastikan.

***

PAGI YANG TAK BIASA​

Aku terbangun dari tidur, sambil memicingkan mata aku melihat jam dinding yang tergantung di kamarku sudah menunjukan jam setengah delapan pagi. Aku memang meliburkan diri setiap hari Minggu. Dan di hari itulah aku sengaja ‘mengistirahatkan’ tubuh dan pikiranku dengan sedikit bermalas-malasan. Kemudian bercengkrama dengan istriku di sepanjang hari, menonton Netflix atau apapun itu, pokoknya masih aktivitas di seputaran rumah yang tak mengeluarkan uang. Tapi sepertinya itu semua tidak akan terjadi di hari ini.

Istriku kemarin malam sudah mengatakan bahwa dia akan pergi hari ini jam 10 bersama Vina, sahabat kantornya. Dan lagi-lagi aku hanya mengangguk tanpa berusaha untuk mencegahnya. Dia bilang hari Minggu ini akan ke salon, creambath, facial, skin care-an, kemudian lanjut dengan gym… jika masih ada waktu. Tidak ada yang aneh dengan kegiatannya itu, Lidya memang rutin merawat wajah dan tubuhnya. Tapi untuk gym, jadwalnya biasanya setiap hari Rabu malam sepulang dia bekerja, tapi entahlah… yang pasti dia mengatakan akan nge-gym di hari Minggu ini.

Biasanya setiap aku bangun kesiangan seperti ini di hari Minggu, aku tidak akan mendapati istriku di kamar. Dia sudah sibuk di dapur memasak masakan favoritku, atau sekedar membuatkan sarapan, seperti itulah kebiasaanya sejak awal pernikahan kami. Namun di pagi ini, aku melihat Lidya masih ada di kamar ini, ia sedang duduk di depan meja riasnya sambil berdandan, posisinya membelakangi tempat tidur. Dengan handuk yang masih membungkus tubuhnya, aku melihat begitu sexy-nya istriku ini. Saking asyiknya dia memoles wajahnya, tampaknya dia tidak menyadari bahwa aku sudah terbangun. Akupun memang sengaja tidak membuat gerakan atau suara yang mungkin akan mengganggu aktivitasnya. Saat ini aku menikmati pemandangan yang membuat batang kemaluanku lebih mengeras dibanding pagi-pagi sebelumnya.

Dari belakang, aku melihat pundaknya yang putih bersih terasa begitu menggairahkan dan bulatan payudara yang kulihat dari pantulan kaca menyembul dibalik lilitan handuknya. Ukurannya 34d, cukup membuat mata lelaki tak berkedip apalagi jika Lidya mengenakan pakaian yang sedikit ketat atau belahan dada yang sedikit terbuka. Pantatnya yang padat kini menempel di kursi rias kecil itu, membuat lekuk di kedua tepinya membulat dan tampak menggemaskan.

Lalu kini aku melihat wajahnya, Lidya bukanlah perempuan yang membuat make up sebagai topeng kecantikan. Tanpa make up sekalipun wajahnya sudah cantik, bulu alis hitam terurai rapi, mata yang bulat… namun selalu teduh setiap kali ia memandang, hidungnya yang mancung asli bukan hasil operasi, bibir tipis, dagu sedikit lancip (INGAT YA….. TAK SELANCIP LUCINTA LUNA!!!) dan lesung pipit yang hanya terlihat saat dia tertawa… ah Lidya istriku, kamu memang begitu sempurna.

Keseharian Lidya termasuk saat ia berangkat kerja biasanya hanya memoles wajahnya dengan sapuan make up yang tipis-tipis saja. Tapi mengapa kali ini dia serius sekali berdandan? Memang kali ini yang dia lakukan belum termasuk kategori menor, tapi cukup diluar kebiasaannya. Entah dari jam berapa dia berdandan, sekarang masih menunjukan jam setengah 8 lebih, sedangkan dia rencana berangkat jam 10. Selama itukah dia mempercantik diri? Se-spesial apa kegiatannya hari ini? Bukankan dia mengatakan hanya bepergian bersama Vina ke salon dan gym saja?

Dengan pikiranku yang liar kesana kemari, tanpa sengaja kakiku tersentak saking kesalnya dengan apa yang kupikirkan, gerakanku itu membuat bunyi yang menyadarkan Lidya dari kegiatan berdandannya.

“Sayang, udah bangun?”, tanya Lidya menoleh ke arahku sambil tersenyum dengan sangat cantiknya.

“Eh… iya, u.. udah Mah”, jawabku terbata seperti seorang anak yang sedang ketahuan mengintip.

Aku langsung beranjak dari tempat tidur, masuk ke kamar mandi yang masih ada di dalam kamar tidurku. Kencing, cuci muka, sikat gigi kemudian aku keluar dan melihat Lidya masih serius di depan meja riasnya. Bahkan kali ini dia seolah tidak menghiraukanku. Melihat hal itu aku langsung keluar kamar menuju ruang makan untuk sarapan.

Begitu terkejutnya ketika aku tidak melihat makanan apapun di atas meja makan… bahkan air minum sekalipun tak ada. Aku sedari kecil bukanlah lelaki manja yang harus disiapkan segala sesuatunya termasuk makan dan minum. Aku sebenarnya bisa menyiapkannya sendiri, aku juga tak pernah menuntut istriku untuk memperlakukanku seperti itu. Tapi sejak pernikahan hingga hari kemarin, tanpa diminta pun Lidya selalu tidak pernah absen menyajikan sarapan setiap pagi dan juga makan malam, air minum untukku pun biasanya sudah dia sediakan di meja makan ini. Bahkan sedang sakit sekalipun, Lidya tetap melakukan pekerjaan itu. Itu yang membuatku kini menjadi sedikit manja dan cukup shock dengan kenyataan yang kudapatkan di pagi ini.

Aku kemudian duduk di meja makan yang kosong. Aku tidak marah, tidak….! Sedikitpun aku tidak merasa marah. Hanya aku bertanya-tanya, ada apa dengan Lidya?

Tak lama kemudian dari arah kamar, Lidya berlari ke arahku, gerakan lari tergopoh-gopoh dengan kondisi tubuhnya yang masih terbalut handuk membuat payudaranya naik turun dengan jelas.

“Pah, maaf… Mamah lupa belum nyiapin sarapan”, kata Lidya panik dan seperti sangat menyesal dengan kekhilafannya. Kemudian dia bergegas hendak ke arah dapur bersih yang berada tepat di belakangku. Aku kemudian menghentikan langkahnya dengan memegang lengannya, akupun berdiri dan mengecup keningnya.

“Sudah Mah, lanjutin aja dulu pake pakaiannya, Papah bisa rebus telur sendiri koq, kasian Mama udah cantik… masa harus masak?”, ucapku mencoba tersenyum untuk menenangkan Lidya. Ucapanku dibuat setegar mungkin seolah aku baik-baik saja, padahal apa yang bergemuruh di dalam hatiku berkata lain.

“Beneran Pah?”, tanya Lidya dengan mata membulat memandangku untuk memastikan kalau aku tidak marah.

“Iya, Sayang…..”, jawabku singkat kemudian berusaha mengecup bibirnya. Namun Lidya menolak ciumanku dengan cara menjauhkan wajah dan tubuhnya dari pelukanku. Jujur, aku sangat kecewa dan semakin bertanya-tanya, mengapa dia sampai menghindar seperti itu? Padahal selama ini tak pernah sekalipun dia menolak setiap kali aku ingin mengecupnya. Apakah takut riasannya menjadi rusak? Atau karena hal lain?

“Nanti malam aja ya Sayang”, Lidya berucap dengan senyuman terukir indah di wajahnya, kedua telapak tangannya pun kini mengelus-elus pipiku, sepertinya ia tahu aku kecewa dari perubahan ekspresi wajahku, dan kini dia sedang mencoba untuk menghiburku.

Belum juga aku terhibur, tak sempat juga aku membalas senyumannya, ia sudah berbalik menuju kamar dan melanjutkan aktivitasnya yang tertunda. Kembali mempercantik diri, yang entah kecantikannya itu akan ditunjukan pada siapa?​

Bersambung

Bab 2

Dihadapanku kini sudah tersaji 3 telur rebus campur kecap yang kusajikan sendiri, namun rasanya pagi ini aku sangat tidak berselera, pikiranku masih berkutat dengan kekhawatiran pada istriku yang entah akan pergi dengan siapa. Sampai terdengar suara nada dering dari ponsel milik Lidya di kamar, dari meja makan aku mendengar Lidya kemudian berbincang dengan seseorang, tak jelas apa yang dibicarakan.

Aku yang sudah diliputi penuh rasa curiga sedari tadi, langsung berdiri dan mendekati arah kamar sambil mengendap-endap agar suara langkahku tak terdengar oleh Lidya. Beruntung pintu kamarnya terbuka sehingga suara Lidya kini semakin terdengar jelas. Setelah jarak jangkauan suara terasa cukup walau masih di luar kamar, aku menghentikan langkah dan coba fokus dengan apa yang kudengar dari dalam kamar. Walaupun sudah mencoba fokus, tapi sesungguhnya aku terganggu oleh suara gemuruh dari degup jantungku sendiri yang berdetak cepat tak beraturan.

“iya… iyaaaa…..”, dengan suara manja Lidya menjawab pertanyaan dari lawan bicaranya. Seolah Lidya menyetujui sesuatu. Kemudian hening.

“ini juga udah ampir beres koq”, lagi-lagi Lidya berucap dengan nada manja. Sepertinya aneh jika kemanjaannya itu ditujukan pada seorang perempuan.

“iya, ini juga pake yang waktu itu…. Ga bosen emangnya?”, ucap Lidya melanjutkan percakapan. Nadanya kali ini sedikit merajuk, atau kurang lebih seperti seorang wanita yang sedang mencoba bersabar dengan keinginan dari lawan bicaranya. Hening sejenak, lalu terdengar tawa Lidya namun tak lepas karena sepertinya ia tahan agar suara tak terdengar keluar kamar…. “ih, dasaaaar”, suara Lidya kini semakin manja.

Darahku semakin mendidih namun tak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku hanya bisa mematung sambil mendengarkan percakapan Lidya, pikiranku menerka-nerka apa yang sebenarnya mereka obrolkan. Bahkan mungkin aku berpikir terlalu jauh, di benakku saat ini… Lidya sedang ditelepon oleh seorang pria, dan aku curiga jika kalimat “pake yang waktu itu” adalah permintaan lelaki tersebut pada Lidya untuk mengenakan pakaian yang pernah Lidya kenakan saat dulu bertemu dengan orang itu, apakah pikiranku ini terlalu mengada-ada?

“iya udah….. iiiih jangan disini ah”, kali ini Lidya berkata, entah apa maksudnya.

“iya, iya… nanti aja… kan ketemu”, Lidya seolah menolak dengan halus sebuah permintaan dan menawarkan sesuatu yang entah apa disaat pertemuan nanti.

“ssst, udah ah ga beres-beres aku dandannya”, kali ini suara Lidya terlihat normal dan sedikit tegas.

“ih, ngga… ngga di telepon… udah ah”, kali ini Lidya menutup pembicaraan seperti dengan nada kesal namun tetap dengan suara yang manja.

Aku kira percakapan sudah berakhir, tapi ternyata Lidya kemudian berkata lagi, “iya janji…. Pokoknya terserah aja mau gimana hiihihihi”, walau dibarengi tawa namun kali ini Lidya berbicara dengan sedikit berbisik. Seolah ucapannya itu tak ingin terdengar oleh orang lain selain mereka. Dan ucapannya kali itu benar-benar mengakhiri percakapan telepon mereka.

Aku langsung bergegas kembali ke meja makan dan melanjutkan sarapanku. Sambil mengunyah telur rebus aku terus berpikir, mencoba untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang berkecamuk, apanya yang jangan disini? Apanya yang nanti aja? Apanya yang ngga di telepon? Lidya, kamu berjanji untuk apa? Terserah mau gimana… itu maksudnya apa, Lid? Kamu mau diapain Lid?!?!?

Aku sudah tak mampu mengontrol pikiranku, aku sudah berprasangka jauh, bahkan sangat jauuuuuh. Dan dengan segala kekalutanku ini, mengapa batang penisku ikut-ikutan menegang? Mengapa begini? Seolah-olah penisku turut mengiyakan apa yang ada di dalam benakku, tentang Lidya…. tentang yang akan dilakukannya bersama lelaki itu!!!​

***

Jika yang tadi menelepon adalah driver taxi online, itu sangat mungkin, biasanya sang driver menelepon untuk menanyakan posisi atau memberitahukan kalau ia sudah hampir sampai. Tapi tak seharusnya juga Lidya menjawab hanya dengan kata ‘hmmm’. Terdengar sangat kaku dan tak seperti biasa Lidya lakukan saat berkomunikasi dengan driver online, petugas pengirim paket, tukang antar galon air mineral. Ia biasanya ramah, tak kaku dan secanggung itu.

Lalu mengapa juga ia begitu panik dan terburu-buru? Bahkan ia melupakan hal yang sangat mendasar dalam berumah tangga. Biasanya cium tangan sudah otomatis ia lakukan disaat hendak pergi, apapun kondisinya.

Hal yang tak biasa lainnya adalah ketika Lidya memilih duduk di kursi depan sebelah sopir. Memang tidak ada aturan penumpang taxi online duduk di depan atau belakang, bebas dan aku tahu itu. Tapi kebiasaan Lidya tidak seperti itu. Ia biasanya selalu memilih kursi belakang jika menaiki taxi online.

Keganjilan yang lain adalah jenis mobil sedan buatan eropa yang menurutku terlalu mewah untuk ukuran taxi online. Tapi ini juga bukan sesuatu yang mutlak, bisa saja itu terjadi… walau sepanjang pengalamanku menumpang taxi online, tak pernah aku mendapatkan kendaraan semewah itu, mobil yang aku taksir harganya diatas 2 M!!!

Banyak sekali pertanyaanku yang berkecamuk di kepala, semua tentang Lidya, istriku di pagi ini. Tapi aku tak tahu harus mencari tahu mulai darimana, semuanya terasa sangat janggal. Akupun masuk ke kamar tidurku dan membaringkan tubuh di ranjang. Sambil memandang langit-langit kamar aku mencoba untuk memulai berpikir, namun kali ini kuusahakan untuk lebih relax.

Ok, kali ini aku akan berpikir seperti seorang detektif. Aku mulai dengan teka-teki kalimat yang Lidya ucapkan saat ia menelepon dengan seseorang di kamar ini tadi. “pake yang waktu itu”. Kalimat itu sempat aku tangkap dan aku menduga bahwa itu berhubungan dengan permintaan sang penelepon pada Lidya untuk mengenakan pakaian yang sama, saat Lidya pernah bertemu dengan orang itu sebelumnya. Aku harus mengingat-ingat kapan saja dress berwarna biru muda itu Lidya kenakan.

Memang setiap kali Lidya pergi, tidak selalu aku melihatnya, terkadang Lidya pamit pergi disaat aku berada di toko, jadi aku tidak pernah tahu pakaian apa saja yang pernah ia gunakan saat bepergian. Tapi aku mencoba mengingat semampuku saja.

Setelah berpikir keras mengandalkan memori otakku yang memang jarang terpakai, akhirnya aku ingat kalau Lidya memang pernah mengenakan dress biru itu saat pergi bersamaku, ya… tapi itu sudah lama sekali, saat ekonomiku masih baik-baik saja. Dan seingatku saat pergi dengan pakaian itu, kita tidak bertemu dengan siapa-siapa. Entahlah, memang itu sudah terlalu lama.

Sampailah aku mengingat pada saat Lidya hendak pergi ke sebuah undangan pernikahan teman kantornya. Sekitar 1 atau 2 bulan yang lalu, itupun aku tidak ikut. Tapi aku ingat kalau Lidya memang mengenakan pakaian itu. Kalau tidak salah, saat itu Lidya memadukan dress birunya bahkan tanpa pakaian luar lagi. Aku masih ingat karena saat itu aku memang terkagum-kagum walau sebenarnya dalam hati tidak setuju pada penampilannya yang terlalu sexy.

Aku seperti mendapat ilham, langsung melompat dan bergegas untuk membuka laptopku yang berada di meja depan ruang TV. Akupun langsung membuka halaman InsXXXXram dari browser. Kemudian login menggunakan fake account yang memang sengaja aku buat untuk men-stalking kegiatan istriku. Akupun langsung masuk ke halaman InsXXXXram istriku.

Lidya cukup aktif membagikan foto-foto aktivitas kesehariannya di sosmed ini. Bahkan setiap kali ia pergi pun, tak pernah lepas dari kegiatan berfoto, dasar perempuan! Tapi ada untungnya juga, setidaknya aku jadi tahu kemana dia pergi. Kemudian aku men-scroll dan memperhatikan dengan seksama setiap foto Lidya yang selalu terlihat cantik (aku yakin dia tak pernah menggunakan filter), dari angle manapun. Di bagian awal tidak ada satupun foto Lidya yang memakai dress biru! Sampai kemudian aku menemukan sebuah foto bersama diatas pelaminan. Aku menemukannya!

Aku zoom foto itu, ya… foto ini memang pernah aku lihat, bahkan Lidya sendiri yang memperlihatkannya kepadaku dari ponselnya. Foto grup kantor bersama mempelai itu sebenarnya cukup miris, di saat orang lain berpasangan, hanya Lidya yang sendiri tanpa pendamping.

Namun di layar kanan foto ada tanda panah, yang menandakan bahwa Lidya memang meng-upload lebih dari 1 foto. Aku langsung mengklik tanda panah itu, DEGGGGG!!!

Tampak foto yang memperlihatkan 4 orang dengan wajah menghadap kamera dengan tersenyum bahagia. Dari background-nya aku yakin kalau foto ini diambil masih di acara pernikahan itu. Lidya ada di sisi paling kanan, wajah cantiknya semakin terpancar dengan senyuman yang ia lepaskan saat berpose, tubuh Lidya tampak condong ke sosok di sebelahnya, bahkan lengan putih mulus Lidya menempel di dada lelaki itu. Lelaki tampan dengan mata sedikit sipit itu memiliki postur yang tinggi dan atletis, dari penampilannya tampak kalau dia orang berduit, wajahnya putih namun tulang wajahnya yang tegas menampakan kejantanannya. Aku perhatikan dengan seksama, aku belum pernah sekalipun bertemu dengan lelaki ini, sepertinya bukan teman kantor Lidya, itu mungkin mengapa lelaki ini tidak ada di foto pertama, saat seluruh teman kantornya berfoto bersama pengantin. Sedikitnya juga aku tahu teman-teman kantor istriku, yang sering aku temui saat aku mengantar atau menjemput Lidya bekerja.

Usia lelaki yang tampak seperti keturunan Asia Timur itu mungkin sama sepertiku, 32 tahun. Atau mungkin dia sedikit lebih tua, hanya dia awet muda, sedang aku tampak lebih tua.

Sementara disamping lelaki itu, aku tahu persis kalau itu adalah Pak Ridwan, atasan langsung Lidya.. satu level diatas Lidya. Kemudian di samping Pak Ridwan, tampak seorang perempuan yang sepertinya seusia dengan Pak Ridwan, sekitar 45 tahunan, aku belum pernah melihatnya. Tapi aku menduga kalau itu adalah istri Pak Ridwan.

Aku kembali fokus pada lelaki di samping Lidya, aku men-zoom foto itu hingga kini hanya memperlihatkan Lidya dan lelaki itu, posisi tubuh mereka sangat dekat bahkan bersentuhan sehingga tampak seperti pasangan yang serasi.

Tidak seperti di postingan Lidya yang lain yang penuh dengan comment, di foto itu hanya ada 4 komentar saja, dimana 3 komentar tampaknya biasa saja….. hanya comment dari @Ridz_XXOOXXOOXX (yang setelah aku klik ternyata itu adalah Pak Ridwan), hanya menuliskan kata ‘ehm’, kata pendek namun mengandung seribu arti dan penuh teka-teki, komentar pendek itu kemudian di-reply oleh Lidya hanya dengan emoticon wajah pipi merona merah. Penisku menegang maksimal!

Aku menyandarkan tubuhku ke sofa bed yang terletak di ruang keluarga rumahku ini, dengan tatapan yang masih tak berpaling dari layar laptopku, tanpa berpikir lagi aku turunkan celana dan mengeluarkan penisku yang mulai meronta-ronta. Kukocok batang kemaluanku dengan tempo cepat, diiringi racauan yang keluar dari mulutku.

“Oooooouch Lidya, itukah selingkuhanmu….? Kamu datang ke undangan itu sama dia kaaaan?...., aaaaah, tega kamu sa…yaaang!”

“Sekarang kamu pergi sama dia lagiiii? Kamu udaaah diapain, Yaaang…. ??? ngenttooootin kamu Yaaaang”

“Bibir yang tadi aku mau cium tapi kamu tolak…… sekarang udah dikasihin ke diaaa???? Lidah kalian sekarang udah saling iseepppp, ouuuuch Lidya.. sampe air liur kamu netes-netes, nakal kamu Lidyaaaa!!! Uuuh Aaaaaaaach”

Tak ada jeda aku mengocok penisku ini, aku semakin dekatkan wajahku agar menatap lebih jelas foto yang ter-zoom antara Lidya dan terduga selingkuhannya itu, sepertinya ini masturbasi paling menggairahkan sepanjang hidupku.

“Sayaaang, toketmu itu sayang…. lagi diapain sekaraaang? Pasti badan kamu lagi ditindih badan pacarmu yang gede itu yaaa…?? kenap..pa kaaamu ke…eeenaakan Lidyaaaaa???? Kenapa kamuuu mendesaah Istrikuuuuu? Memekmmmmu…. Aaaaaah ouuuuuch aaaaaaaaaaaaaaah!!!!!”

CROTTTT CROTTTT CROTTTT

Belum selesai aku berimajinasi tentang istriku, cairan spermaku sudah menyembur 3 kali tembakan, yang sengaja aku arahkan pada foto Lidya dan ‘kekasih gelapnya’ itu di layar laptopku. Dalam bersenggama, biasanya aku kuat bertahan minimal 15 menit, tapi entah kenapa dengan sensasi gila ini aku hanya mampu bertahan mungkin kurang dari 3 menit. Cemburu yang membawa nikmat, sekaligus cemburu yang berlebihan ini telah mengantarkanku pada kondisi ejakulasi dini.​

Bersambung

Bab 3

Aku merebahkan tubuhku ke senderan sofa, memejamkan mata dan mencoba mengatur nafas yang tak beraturan.

Setelah sedikit tenang, aku coba meraih-raih ponselku… aku akan coba menghubungi istriku.

TUUUUT…. TUUUUUT……TUUUUUT

Nada memanggil… namun tak jua diangkat sampai nada terakhir. Aku coba menghubunginya kembali, dengan perasaan kesal.. sekilas aku melihat lagi foto Lidya dan selingkuhannya itu yang kini sudah berlumuran cairan sperma kentalku. “Anjg!!! Nambah-nambah kerjaan aja!”, gerutuku lalu berdiri beranjak mencari lap khusus laptop dan cairan pembersih screen, sambil masih mencoba menghubungi Lidya.

Kubersihkan laptopku sampai bersih dan ini adalah panggilan teleponku yang keempat namun belum terjawab juga. Aku lempar ponselku ke sofa. Aku termenung menatap layar laptop. Kemudian aku mencoba mencari petunjuk lain, siapa tahu bukan cowok itu yang kini sedang jalan dengan Lidya. Pencarian kumulai lagi.

Setelah aku ubek-ubek semua postingan istriku, setiap comment pun kini aku baca, memang banyak lelaki tak dikenal yang memuji kecantikan dan kemolekan tubuh istriku. Tapi tak ada satupun yang Lidya tanggapi. Hanya ada satu nama lelaki yang selalu ditanggapi Lidya, yaitu Pak Ridwan. Bahkan Pak Ridwan tak ragu memberikan pujian tentang fisik Lidya. Begitu juga istriku terkadang genit membalas komentar atasannya itu. Menurutku sebagai orang yang bersikap kaku, hal itu agak berlebihan untuk ukuran hubungan atasan-bawahan.

Tapi jika dilihat dari wajah Pak Ridwan, maaf bukan maksud merendahkan, sepertinya aku tidak kalah dengan dia. Tubuhnya pendek, perawakannya kecil, rambutnya hampir habis.. hanya menyisakan bagian belakang dan pinggirnya saja. Masa iya Lidya tertarik dengannya? Pada lelaki tua yang lebih pantas menjadi ayahnya.

Aku juga berpikir meskipun Pak Ridwan jabatannya sudah lumayan tinggi, tapi aku yakin ia belum mampu membeli mobil seharga 2 M. Tetapi Pak Ridwan menjadi cocok jadi tersangka, karena tadi pagi aku sempat melihat di ponsel Lidya, nama awalnya tertulis ‘BA’, bisa saja Bapak Ridwan kan? Auk ah gelap!

Itu menurutku, tapi bagaimana menurut pikiran pembaca semua disini? kira-kira istriku ini lagi dekat dengan Pak Ridwan atau lelaki pertama yang sementara kita sebut saja sebagai Mr. X?

Siapapun lelaki itu, aku harus mengorek informasi yang lebih banyak. Darimana? Dari siapa? Aku cukup lega karena sudah menemukan jawabannya. Aku harus mendekati Vina!!! sahabat kantornya Lidya.

Akupun masuk ke halaman Insxxxxram-nya Vina, mudah saja menemukan akunnya karena dia rajin comment di setiap postingan Lidya. Akupun mengirimkan direct message berbunyi,

‘Vin, ini Kang Arief suaminya Lidya.. kamu ada waktu ga? Ada yang pengen dibicarain, tapi ini rahasia… jangan bilang-bilang Lidya’.

Setelah mengirimkan pesan itu, aku mencoba menelusuri postingan Vina. 3 foto pertama adalah postingan terbaru yang ia post sekitar pukul 12, sekitar satu jam yang lalu. Anehnya ia berfoto bersama sekumpulan orang yang diperkirakan sebaya dengannya, namun tidak kutemukan sosok istriku. Lebih kaget lagi ketika di caption-nya tertulis….

“Reuni Angkatan XX SMA Kasih Harapan Ilmu, Bandung… yeaaay akhirnya balik Bandung ketemu temen2 lama, selalu kangen dgn kota ini”.

Vina tidak sedang di salon atau gym! Vina sedang di Bandung! Lidya tidak mungkin juga ikut reuni tersebut karena Lidya SMA-nya di Bogor, beda angkatan pula! Sudah terang benderang kali ini, Lidya memang sudah membohongiku!!!! Tanpa perlu mengorek info dari postingan yang lain, aku sudah semakin yakin dan misteri ini sedikit terkuak, sambil berharap-harap cemas kalau Vina membalas pesanku, namun kutunggu hampir satu jam setengah, pesan itu belum terbalas.

Sampai akhirnya jam setengah 3 Lidya menelepon, aku langsung angkat telepon itu.

“Pah, tadi telepon?...”, Lidya membuka percakapan. Tapi dari suaranya seperti orang yang sedang mengatur nafas keletihan. Namun mungkin ini aku yang salah mendengar.

“Iya, Mamah kemana aja koq ga diangkat-angkat?”, jawabku dengan tegas dan to the point.

“i…iya Paah”…………………………………..

TUT TUT TUT TUT TUT

Telepon terputus, dan aku mencoba kembali menghubunginya, namun kali ini teleponnya tidak aktif. Berkali-kali aku coba tapi tetap sama.

Jika nada suara yang pertama mungkin aku salah dengar, tapi suara yang terakhir sebelum terputus aku mendengar jelas ada suara nafas Lidya yang tersengal. Pikiranku kembali melayang jauh, mungkin akibat terlalu sering menonton film JAV yang menceritakan seorang istri yang berselingkuh, kemudian menelepon suaminya saat sedang berhubungan badan dengan selingkuhanya. TIDAAAAAAAAAAK!!!!!!

Aku merutuki diri sendiri, bodohnya aku yang tidak menanyakan lokasi salon dan tempat Gym, walaupun aku tahu itu bohong. Tapi setidaknya aku bisa mengeceknya langsung sekarang, membuktikan bahwa itu benar-benar bohong. Tapi sekarang? Aku harus mencari istriku kemana???? Bagaimana cara membuktikannya????

Saking lelahnya dengan pikiranku aku tertidur di sofa bed depan TV, karena aku tak tahu lagi harus berbuat apa, selain pasrah!​

***

Aku terbangun di sebuah ruangan gelap, “ah sial.. aku ketiduran. Lampu-lampu belum dinyalakan!”, gumamku masih keadaan belum sadar 100%. Setelah kunyalakan seluruh lampu di rumahku kulihat jam sudah menunjukan pukul setengah 7 malam.

“Mah…. Maaah!!”, aku memanggil-manggil istriku dan mencarinya ke dalam kamar dan juga kamar mandi, namun tak kutemui sosoknya. Aku memaki diriku sendiri, mengapa aku terlalu bodoh, sudah tahu lampu tadi gelap, sudah barang tentu istriku belum pulang!!!

Aku ingat ucapan Lidya di hari kemarin kalau ia akan pulang jam 5 sore, tapi kini sudah satu jam setengah melebihi waktu kepulangan sesuai janjinya. Aku ambil bungkusan rokok yang disembunyikan di salah satu jaketku yang tergantung di kamar. Tadinya aku memang perokok berat, tapi setelah pendapatanku menurun, aku merasa malu untuk merokok di rumah apalagi depan istriku, walaupun tak ada larangan dari dia. Cuma ya malu saja, udah ga punya uang masih ‘bakar-bakar uang’. Tapi malam ini dengan segala kekalutanku, aku sulut sebatang rokok dan kuhisap di ruang tamuku.

Aku pilih ruangan ini karena letaknya paling depan sehingga dari kaca jendela besarnya aku bisa tahu kalau istriku pulang. Aku coba kembali menghubungi nomor ponselnya, tapi masih tidak aktif. Aku gelisah, benar-benar gelisah, kemana perginya istriku ini?

Sambil menghisap rokok dalam-dalam aku mondar-mandir di dalam rumahku sendiri. Aku yakin, seyakin-yakinnya kalau istriku memang berselingkuh. Mungkin kini dia sedang berada di kamar hotel, apakah dia tidak akan pulang malam ini? Atau jangan-jangan ia tak akan pernah kembali lagi ke rumah ini, yang masih menyisakan angsuran 12 tahun lagi? Mungkin ia memilih berbahagia dan melepas beban bersama lelaki tampan gagah rupawan pemilik mobil seharga 2 M. Cuiiiih!!!

TIK TEK TIK TEK TIK TEK TIK TEK

Suara detak jarum jam dinding seolah sedang mengolok-olokku yang gelisah sepanjang hari. Jam 7 ia belum pulang, jam 8 belum juga pulang. Jam 9, aku masih tetap berada di ruang tamuku. Jujur, harapanku semakin menipis akan kedatangan Lidya, tapi aku masih berharap istri kesayanganku itu pulang, apapun yang telah dia lakukan, akan aku terima dengan lapang dada. Meskipun sangat sakit dikhianati, tapi bagiku ditinggalkan untuk selamanya jauh lebih sakit.

Setiap kendaraan yang melintas di depan rumahku membuat kepalaku menoleh ke arah jendela. Aku berharap itu Lidya. Tapi yang kutunggu tak kunjung tiba.

Sampai pukul sepuluh malam kurang delapan menit akhirnya sebuah minibus berwarna silver berhenti di depan rumahku. Sepertinya taxi online, karena kali ini yang datang adalah jenis mobil sejuta umat. Aku kegirangan, istriku pulang!!!

Namun rasa bahagiaku hanya sesaat, berganti dengan gemuruh yang kembali bergejolak di dalam dada. Tak ada tanda-tanda orang turun dari mobil itu. Sekitar 2 menit, atau mungkin itu berlebihan karena aku tidak memegang stopwatch. Yang pasti terasa lama olehku….. oleh aku yang sedang menunggu seseorang yang paling aku cintai.

Entah perasaanku saja atau benar ini terjadi, aku melihat mobil yang terhenti itu sedikit bergoyang…. pelan. Aku coba memperhatikan lagi lebih seksama, ah entahlah.

Setelah goyangan misterius (sumpah aku tak bisa memastikan apakah mobil goyang itu benar atau tidak), kemudian memang benar Lidya yang turun dari mobil itu, namun lagi-lagi mengapa dia duduk di kursi depan?

Setelah Lidya menuruni mobil, pintunya masih belum ia tutup. Lalu setengah tubuhnya kembali masuk ke dalam mobil itu dengan posisi tubuh Lidya sedikit condong ke dalam, sehingga aku bisa melihat setengah bulatan pantat indah Lidya, setengah lagi terhalang oleh pintu mobil. Tidak terlalu lama Lidya berbuat seperti itu, sampai akhirnya ia menutup pintu mobil dan langsung melangkah masuk ke halaman rumah.

Dari kaca jendela jelas terlihat wajahnya lelah, langkahnya pun tak sesemangat saat ia pergi. Mengapa ‘selingkuhannya’ berganti mobil? Jika benar si Mr. X berganti mobil, rasanya terlalu jomplang antara mobil yang tadi pagi dengan mobil yang barusan aku lihat. Ah suka-suka si Mr. X lah, kenapa harus aku pikirin? Atau jangan-jangan….. beda laki-laki, Ah Lidyaaa!!!

Lidya membuka pintu rumah, aku sudah berdiri di baliknya sambil menatap tajam wajahnya. Aku memang senang dengan kepulangannya, tapi rasa kesal terlalu tebal menyelimutiku. Melihat ekspresi wajahku yang tampak marah, Lidya langsung memelukku sambil berucap manja, “Papaaah ma’aaaaf”.

“Darimana aja jam segini baru pulang?”, aku bertanya secara tegas. Ketegasan yang hampir tak pernah aku tampakkan selama beberapa bulan terakhir. Aku memang tidak punya uang, tapi demi mempertahankan harga diri sebagai seorang kepala rumah tangga... rasanya malam ini aku harus berani bertindak tegas.

“Iya nanti aku cerita, aku mandi dulu yaaa?”, Lidya meminta izin masih dengan posisi memelukku erat. “Papah, udah makan?”, lanjut Lidya dengan mengangkat wajahnya yang letih, sorot mata sayu itu kini menatapku. Kami bertatapan, tapi aku masih menampakkan wajah kesal.

“Udah! ya udah sana mandi dulu”, jawabku dengan nada ketus, aku melepaskan pelukannya dengan sedikit memaksa. Aku berbalik menuju ruang TV, kunyalakan televisi berpura-pura menonton walau sebenarnya pikiranku masih dilanda kekalutan.

Lidya yang seharusnya masuk ke kamar untuk mandi malah kembali menghampiriku, kali ini dia bersimpuh dihadapanku yang sedang duduk di sofa. Lidya menggenggam kedua tanganku dan menciuminya berkali-kali. Kulihat dari sudut bola matanya tampak menetes butiran air mata.

“Udah sana, katanya mau mandi?”, aku masih belum menurunkan tensi bicaraku.

Lidya kembali mencium tanganku tiga kali lagi, kemudian tanpa berbicara ia langkahkan kakinya pelan untuk masuk kedalam kamar.

Sekitar 10 menit kemudian aku menyusulnya, tampaknya dia masih mandi. Aku lalu menyenderkan tubuhku di kepala tempat tidur, menunggu istriku selesai mandi. Pikiran kotorku kembali mendatangi, Lidya istriku mungkin sedang membersihkan bekas sperma yang berceceran di vagina dan tubuhnya. Bangsat!

Istriku keluar kamar mandi dengan berbalut handuk. Setengah bagian atas payudaranya terlihat menyembul. Lidya tersenyum manis ke arahku, kali ini sudah tidak ada butir air mata seperti yang ia perlihatkan saat tadi dia memohon maaf.

Aku tak menghiraukan senyumannya, tapi konsentrasi memperhatikan setiap inchi tubuh istriku yang aku lihat jelas dari tempatku bersandar, aku tidak menemukan tanda merah sisa ‘pertempuran’ atau apapun di tubuhnya yang putih mulus itu. Hmmmm, main aman rupanya…..​

Bersambung

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED