Bara terbangun di pukul tiga dini hari ini, dinginnya malam akibat hujan diluar sana yang menyisakan gerimis, buat heningnya malam semakin kelam. Ada senyum tipis yang terukir di ujung bibir tipisnya, saat ia menyadari ada tangan seorang wanita yang melingkar di perut berototnya.
Perlahan Bara singkirkan tangan putih Helena dari tubuhnya, lalu beringsut turun dari pembaringan, tersenyum lagi saat ia lihat tubuh polos kekasihnya. Selimut yang mereka gunakan berdua, tersingkap saat Bara bangkit dari pembaringan. Helana nampak begitu nyenyak dan lelah.
Bagaimana tak lelah, ini hari ketiga mereka keluar kota bersama, menginap dan tidur di kamar hotel yang sama. Setelah urusan pekerjaan dan meeting panjang yang melelahkan, tetap membuat keduanya mengakhiri malam dengan percintaan tanpa jeda.
Ini malam terakhir mereka, besok sore sudah harus terbang kembali ke Jakarta, mengeksekusi proyek yang mereka dapatkan.
Jangan ditanya bagaimana Ganasnya Bara memperlakukan Helena tadi diatas ranjang. Sedikit sentuhan alkohol yang ia tenggak tadi di meeting terakhir, buat libidonya dua kali lipat terbakar panas.
“Ampun, Mas, udah dong.” Keluh Helena, saat Bara tak henti menghentaknya dari belakang, bahkan tubuh bagian depan Helena sudah tersungkur diatas kasur, sebab deraan kenikmatan yang diberikan Bara di tubuhnya. Namun seperti biasa, Bara bak bagai kuda jantan, ia tak ingin berhenti sebelum waktunya. Tak ada belas kasihan untuk Helena bila menyangkut tentang seks yang Bara inginkan.
“Akkkhhhh, Mas udah ampun.” Lalu lolongan kenikmatan birahi itu lolos lagi dari kerongkongan Helena yang sudah parau.
Bara tersenyum lagi, melihat wajah polos kekasihnya. Ia kecupi sebentar hidung bangir itu lalu masuk ke kamar mandi.
Bara ambil sebatang nikotin yang ada diatas nakas dekat jendela, ia hisap sebatang cerutu itu setelah membuka jendela kamar. Terasa hawa dingin langsung menguar kedalam kamar, menyapa tubuh telanjang Bara yang nampak mempesona dengan otot-otot yang menyembul. Ah, otot-otot itu yang membuat Selena tergila-gila padanya, selain permainan ranjang mereka tentunya.
Apa yang Helena cari dari Bara yang secara ekonomi jauh dibawahnya? Seks liar. Itu yang Helena suka dan Bara memperlakukannya demikian.
Saat batang nikotin itu sudah berubah jadi puntung rokok, Bara tergelitik untuk mengecek ponsel hitam mahalnya. Hadiah ulang tahun yang ketiga puluh satu dari Helena tiga bulan lalu.
Ia nyalakan benda pipih itu. mengamati sebentar kemudian matanya tertuju pada banyak panggilan tak terjawab dari Abelia, istrinya. Bahkan nomor itu terakhir terlihat melakukan panggilan tak terjawab sekitar pukul sebelas malam. Itu berarti saat Bara dan Helena masih sibuk di ranjang, saling memuaskan birahi dengan hebatnya.
Hanya panggilan saja, tak ada pesan yang dikirim wanita dua puluh lima tahun itu padanya.
Rupanya selain panggilan tak terjawab dari Abel, juga ada dua panggilan tak terjawab dari nomor mamanya.
Ada apa gerangan? Hingga Abel begitu berani melakukan panggilan hingga lebih dari sepuluh kali. Padahal Bara telah mengingatkan, bila dirinya sedang keluar kota, jangan sering ditelepon, kecuali masalah penting. dan ini Abel menelponnya lebih dari sepuluh kali. Benak Bara bertanya-tanya. Saat ia ingin melakukan panggilan balik ke nomor Abel, Helena menggeliat, bangun dan memanggil namanya.
“Mas Bara.” Suara serak Helena menimbulkan denyut gairah di tubuh pria berkulit coklat ini.
“Disini, Sayang.” Bara mendekati Helena yang nampak mencari-carinya. Segera ia naik dan berbaring tepat di sebelah kanan keponakan bosnya ini. kadang Bara heran mengapa harus bertemu Helena setelah menikah dengan Abelia tiga tahun lamanya. Dan rasa tergila-gila janda tanpa anak ini padanya yang jelas-jelas hanya bawahan pamannya. Sebegitu lucu takdir ini. bertemu cinta yang menggila setelah salah jodoh dengan orang yang tak dicintai. Cintakah, atau hanya nafsu?
“Habis, ngapain?” Helena menyusupkan kepala di dada bidang prianya ini.”
“Habis ngerokok.” Bara kecupi pucuk kepala Helena, menghirup dalam-dalam wangi shampo yang menguar dari rambut sebahu yang diwarnai coklat itu.
“Jangan sering-sering.”
“Heem.”
Kemudian jemari Helena kembali bermain di dada bidang itu, matanya terpejam, tubuhnya rasanya sudah remuk, namun intinya berdenyut lagi, sebab ia melihat Bara belum mengenakan pakaian sama sekali.
Sikap penyayang dan perhatian yang Helena dapatkan dari Bara, buatnya terlena dan nekat mengacaukan hubungan rumah tangga pria itu dengan istrinya. Pengakuan Bara yang mengucapkan bila tak ada cinta antara dirinya dan Abel, buat Helena semakin nekat. Tubuh yang terjaga, kemapuan handal mengendalikan dan menyelesaikan proyek-proyek yang mangkrak oleh pak Subroto, buat Helena benar-benar terpikat pada suami wanita lain ini.
Perhatian yang Helena tak pernah dapatkan di pernikahan pertamanya dengan Dipta Sancaka. Kesibukan Dipta mengembangkan usaha peninggalan ayahnya dan merawat ibunya yang lumpuh, buat Helena merasa tak mendapatkan perhatian yang cukup. Padahal mereka menjalin kasih hampir dua tahun lamanya, sebelum memutuskan menikah. Dipta pun telah jujur tentang keadaan ibunya saat itu, namun Helena yang terbiasa dilayani di rumah pamannya, buatnya enggan hidup bersama mertuanya. Padahal Dipta tak memintanya mengurus ibu, sebab ada suster yang khusu merawat mama Tika.
Jadilah Dipta harus bolak balik antara rumah mereka dan rumah ibunya. Kadang bila kelelahan Dipta izin untuk tidur di rumah ibunya, meski jaraknya tak jauh, namun Helena enggan menyusul.
Sementara untuk aktivitas inti mereka, Dipta tak pernah mengecewakan Helena, namun Helena ingin dimanja setelahnya, ingin dicumbu sebelumnya, dan Dipta jarang melakukan itu. setelah bercinta biasanya Dipta akan pamit melihat ibu sebentar. Helena tak suka di tinggalkan.
Lalu perkenalannya dengan Bara saat menghadiri meeting di luar Jakarta, buat Helena semakin tertarik, sebab pria itu begitu perhatian mendengarkannya berbicara saat Helena curhat tentang rumah tangganya yang sudah bubar. Perhatian-perhatian yang Bara berikan, dan rasa tertarik semakin dalam. Buat Helena nekat mengakui perasaanya pada supervisor proyek itu.
“Mbak Helena sudah makan?”
“Jangan panggil mbak, Mas. panggil Helen aja, kita rekan kerja, aku juga digaji sama om.” ucap Helena sambil tertawa, dan Bara tersenyum manis ke arahnya, buat Helena berdebar tak karuan.
Jadwal pertemuan sambil survey lokasi dari seminggi mundur jadi dua minggu, sebab cuaca yang tak menentu, menghambat perjalanan mereka ke lokasi proyek. Hujan lebat beberapa hari malah membuat keduanya terkurung di penginapan saja.
Puncaknya saat pak Adi, sang manager proyek yang memang terkenal sedikit nakal mengajak keduanya dan beberapa rekan yang lain menikmati beberapa kaleng beer. Helena tak minum, sebab takut akan mabuk, namun Bara mampu habiskan lima kaleng minuman haram itu, buat tubuhnya sedikit sempoyongan saat akan kembali ke kamarnya. Helena yang tak bisa tidur malam itu, memilih berjalan-jalan di sekitar penginapan sederhana di pinggiran kota ini.
“Awas, Mas. hati-hati.” Cukup berdebar Helena saat berdekatan dan bersentuhan kulit sedekat itu dengan Bara.
Namun saat Bara menariknya masuk ke kamar pria itu, bahkan menjatuhkan tubuh langsingnya di pembaringan, Helena tak menolak, hanya sedikit takut.
“Mas…Jangan…” kata-kata yang Helena keluarkan begitu berbanding terbalik dengan reaksi tubuhnya.
“Aku sayang, kamu Helena.” Ucapan Bara buat Helena melayang, seperti ada kupu-kupu yang beterbangan dalam dirinya. Helena memejam, tak percaya bila perasaannya bersambut dengan baik. Bahkan kenikmatan yang ia damba, langsung Bara eksekusi malam itu.
Helena begitu lena dengan perlakuan jantan Bara diatas tubuhnya, belaian, ciuman, kecupan hingga lumatan dan sentuhan, Bara berikan begitu mesranya. Bahkan Helena merasa seperti berbulan madu.
Helena bahkan tak menolak, saat Bara melolosi pakaian keduanya. Dengan tatapan yang mengunci netra bersoftlens coklat itu, Bara menyatukan tubuh mereka dibawah temaram lampu tidur yang redup.
Begitu melenakan dan memabukkan bagi Helena, hentakan yang Bara berikan dibawah sana, buatnya terpekik sesaat, sebab ukuran Bara yang diatas rata-rata, buat Helena merasa penuh dibawah sana. Bukan hanya mengentak berulang, namun juga menyentuh, meremas, dan mengecupi setiap inci tubuh Helena, buat wanita itu merasa nikmat dan ngilu hingga ke rusuknya, rahimnya yang lama kering, bagai oase yang tersiram air hujan di tengah gurun tandus.
Bara menghentak dan menumbuk dengan cepat dibawah sana, buat Helena mengerang puas. Lalu terjangan birahi buat keduanya kembali mengulang permainan itu lagi dan lagi.
Selanjutnya untuk urusan keluar kota, sebisa mungkin Helena meminta agar dirinya dan Bara saja yang pergi, biar pak Adi mengurus yang dalam kota saja. Tentu saja, permintaannya dituruti dengan baik oleh pamannya itu. Namun pak Adi yang sudah berpengalaman dengan wanita, tentu tahu maksud keduanya.
Helena masih sibuk memainkan tubuh bagian bawah Bara, saat ponsel pria itu kembali bergetar. Bara kemudian mengambil gawainya yang ia letakkan di samping tempat tidur, melihat sebentar siapa yang menelponnya sesubuh ini.
“Sebentar, Sayang, mama nelpon.” Kebiasaan bu Aida bangun subuh dan menunaikan sholat dua rakaat.
Helena sedikit manyun, sebab aktivitas nikmat yang ia lakukan sedikit terganggu.
“Halo, Ma…”
“….”
“Walaikumsalam, ada apa, Ma? Bara masih di luar kota.”
“Pulanglah…”
“Apa…?”
Berita yang mamanya sampaikan, sungguh buat Bara terkejut bukan main, kelu sesaat, tak bisa berkata apa-apa. Bahkan permainan tangan Helena diatas tubuhnya tadi, ia singkirkan.
Bara tercekat, entah bagaimana perasaannya sekarang. Seperti ada gada yang menghantam lubuk hatinya. Semua mata pelayat tertuju padanya. Didepan sana, di ruang tamu rumah yang tak luas itu, diatas lantai yang dialasi karpet motif berwarna hijau tua, Jenazah ibu Shalima sebentar lagi akan di sholatkan. Sementara di samping jenazah mertuanya, nampak Abel begitu terpukul. Mata yang sembab dan bengkak dengan wajah yang terlihat begitu lelah, menandakan beberapa hari ini Abel tak tidur. Wajahnya menyiratkan kesedihan yang begitu mendalam. Bara…merasa bersalah.
Apa yang harus Bara lakukan sekarang melihat Abel, menangis dengan rapuhnya di depan sana. Abel butuh sandaran, Abel butuh kekuatan, namun Bara…bagaimana sekarang, apa dirinya harus memeluk Abel? Ya, dia ingin memeluk istrinya itu, namun rasa enggan begitu merajai. Tiga tahun hidup serumah, tak sekalipun ia menyentuh Abel, tahun pertama, bu Aida terus meyakinkan Abel, bila Bara nanti akan jatuh cinta padanya. Tahun kedua bu Aida kembali meminta Abel untuk bersabar, Bara sedang sibuk dan mengejar karir. Wanita paruh baya ini, benar-benar hanya menginginkan Abel sebagai menantunya, bukan wanita lain. Tahun ini, tahun ketiga, mungkin saatnya untuk Abel…menjauh dan menepi. Bukan hanya raganya yang harus ia jauhkan dari Bara, namun juga…perasaannya.
“Bel, aku…maaf, aku ketiduran semalam.”
Abel tak menanggapi kata-kata lelaki yang bergelar sebagai suaminya. Netranya nanar menatap satu-satunya wanita yang jadi sandaran hidupnya selama ini, wanita yang akan menerimanya kembali, mengambil Abel kembali dari kehidupan Bara. Lalu sekarang bagaimana, saat Abel ingin kembali ke pangkuan wanita yang melahirkan dirinya, justru Abel kehilangan beliau untuk selamanya.
Sementara pak Masri dan Bu Aida yang duduk tepat di belakang Abel, menatap tajam kearah mereka. Jika tak mereka sedang berkabung, ingin rasanya bu Aida ingin menampar kuat-kuat putra tunggalnya itu. subuh tadi saat menelpon Bara, bu Aida mendengar cekikikan suara wanita diseberang. Tentu wanita itu yang membuatnya tak bisa mengangkat telepon semalam.
Abel berusaha kuatkan hati di tengah rasa sakit yang mendera.
Bukankah selama ini Bara menganggap Abel, sebagai parasit? Tiga tahun menjadi parasit di rumah suami sendiri, rasanya sudah cukup buat Abel, untuk sadar diri dan sadar posisi. Tak sengaja Abel pernah baca chat mesra antara Bara dan Helena, si wanita kota yang modis. Disitu mereka membahasakan Abel sebagai parasit.
“Ini menantunya kan?, silahkan do’akan mertuamu, Nak. Sebentar lagi jenazahnya akan di sholatkan.” Ucapan pak Imam, membuyarkan Bara dan Abelia dari pikiran-pikiran yang berkejaran di benak keduanya.
Bara mengangkat tangan, memohon pengampunan untuk almarhumah mama mertuanya.
__
Harusnya Bara yang memeluk Abel, harusnya Bara yang menenangkan istrinya. Namun laki-laki ini hanya diam terpaku. Rasa tak enak dan malu hati menjalari nuraninya. Bahkan tadi saat dirinya diminta oleh pak Sobri, imam masjid yang memimpin jalannya sholat jenazah, Bara berusaha menolak. Penolakan yang terdengar tega di pendengaran beberapa pelayat, sebab hampir semua pelayat laki-laki berdiri, dan gegas mengambil wudhu untuk sama-sama menyolati jenazah wanita baik ini. lalu Bara…ia nampak aneh, berdiri sendiri di dekat kerumunan para ibu-ibu. Tentu Bara tak bisa menunaikan kewajiban terakhir pada almarhumah mertuanya, bukan karna tak tahu caranya, namun karna tubuhnya masih kotor, masih ada sisa-sisa perzinahannya bersama Helena. Bara tak sempat mandi wajib. tiket pesawat yang ia dapat sepagi tadi untuk dirinya sendiri, buat Helena tak melepasnya sedikitpun dari atas pembaringan. Dua jam sebelum jadwal penerbangan barulah keduanya memisahkan diri. Terburu dan tergesa, bahkan namanya berulang kali dipanggil dari intercom, di ruang tunggu bandara tadi. Padahal hotel tempatnya menginap, sangat dekat bandara. Bahkan masih sempat juga dirinya saling melumat lama dengan Helena yang belum berbusana, saat taksi yang akan mengantarnya sudah mengklakson tiga kali.
Setega apa Bara ini, saat Abel menelpon di jam sepuluh malam karna menuruti permintaan ibunya, yang sangat ingin berbicaraa dengan menantu laki-lakinya itu, sebelum ajal menjemput, Bara sibuk bercumbu dengan Helena tanpa sehelai benang. Saat Abel menelpon berulang di jam sebelas malam, ingin mengabari tentang kematian ibunya, Bara sibuk menghentak tubuh Helena yang sedang terbakar birahi. Saat Abel menelpon dua kali di jam satu malam, ingin minta izin agar kiranya boleh membawa jenazah ibunya ke rumah mereka, Bara sibuk menenangkan Helena dari siksaan gairah birahi yang membakar. Bahkan saat sirine mobil jenazah sedang meraung membawa jenazah ibu mertuanya, Bara dan Helena sedang sibuk melolong, meluapkan gairah birahi binal mereka yang sempurna. Saling memuaskan dengan cara yang binal, saling menunggangi gairah mereka yang berkobar. Bergantian kadang Bara yang menumbuk Helena dari diatas, kadang Helena yang menggoyang Bara dari atas, lagi dan lagi hingga keduanya terkapar bersamaan dengan mobil jenazah yang tiba di depan rumah almarhumah.
Akhirnya semalam Abel menelpon Pakde Har, saudara sepupu ibunya yang di kampung, mengabari jika jenazah almarhum dibawa ke rumah di desa saja. sementara jarak kota dan rumah orang tua Abel, sekitar tiga jam perjalanan. Cukup jauh perjalanan yang Abel tempuh semalam, membawa jenazah ibunya dinihari tadi dengan mobil ambulance. Air mata wanita ini menganak sungai sepanjang perjalanan. Sebab Abel hanya di temani oleh sopir ambulance dan seorang petugas rumah sakit. kedua mertuanya menyusul dengan mobil lain di belakang.
Tangisan yang Abel tahan-tahan dari tadi tumpah dengan derasnya di depan batu nisan ibunya. Terdengar pilu menyayat hati suaranya. Apalah sekarang Abel, dia kini yatim piatu yang akan benar-benar sendiri setelah ini.
Sesekali Abel harus menekan dadanya sendiri, sebab rasa sakit seolah menekan rongga dadanya dari dalam. Dina dan Lisa, kawan akrab Abel baru saja tiba saat jenazah akan di makamkan. Lisa tadi harus menjemput suaminya dulu di bandara, sebelum melayat, kebetulan suaminya tadi satu pesawat dengan Bara, bahkan satu hotel dengan Bara dan Helena.
Tangisan Abel pecah di pelukan kedua kawannya. Dina berusaha menenangkan dengan mengucap istigfar, sementara Lisa, hanya bisa berkata sabar, dan sesekali memandang marah ke arah Bara.
Bu Aida dan pak Masri memberi kesempatan Abel untuk mendoakan almarhumah ibunya. keduanya biarkan menantu kesayangan mereka bersama Dina dan Lisa. Hati pak Masri dan bu Aida benar-benar sedih melihat Abel yang terpuruk seperti ini.
Bu Aida dan pak Masri berdiri mengapit Bara yang nampak berdiri sendirian dengan wajah yang salah tingkah.
“Habis ini, papa ingin bicara dengan kamu.” Suara berat pak Masri, buat Bara menoleh sebentar lalu menunduk. Bara tahu setelah ini ia akan dihunjami banyak pertanyaan dari orang tuanya, mungkin juga Abel.
Bara perlu menyiapkan diri setelah ini.
Helena berjalan kearah jendela kamar hotel, kemarin pagi Bara, sang kekasih hati, sudah pulang duluan meninggalkannya. Seminggu menghabiskan waktu berdua di hotel selepas pertemuan di kota makassar ini, buat Helena benar-benar puas.
Kemarin ia sedikit keberatan saat Bara akan pulang duluan, namun mengingat mertua kekasihnya meninggal, Helena terpaksa merelakan, namun ia minta satu ronde dulu dan bara tak menolaknya.
Helena tersenyum mengingat lagi, betapa nakalnya mereka seminggu ini. Sebisa mungkin jadwal meeting di percepat dan Bara menolak bila proyek dibahas secara bertele-tele. Helena tersenyum penuh arti menatap Bara yang sedikit bersuara tegas di hari kedua, saat meeting berlangsung. Bukan apa-apa sebenarnya, hampir tiga minggu Bara tak dapat jatah seks dari Helena, selain karna datang bulan, Pak Subroto juga meminta wanita itu untuk lembur berhari-hari, meghitung dan mengaudit secermat mungkin keuangan perusahaan yang akan digunakan nanti untuk menjalankan proyek yang akan Bara tangani.
Tiga minggu tanpa hubungan intim dengan kekasihnya, buat Bara uring-uringan.
“Kan kamu punya istri, Mas. Pakai aja dulu tahan-tahan.” Helena menggoda Bara saat mereka berpapasan di depan toilet. Tentu saja Bara langsung manyun. Tak ada niat sedikitpun untuk menyentuh Abel. Wanita yang dijodohkan dengannya. Pernah Bara tak tahan dan hampir saja menyentuhnya, namun perkenalannya dengan Helena, buat dirinya semakin menjauh dari sang istri.
Bara langsung meremas dada milik Helena yang membusung indah di balik kemeja kantor ketat yang ia gunakan.
“Ihh, Mas dilihat orang.”
“Kangen tahu.”
“Kangen apanya Sayang?”
“Kangen ini sama ini.” Bara arahkan tangan ke dada dan bokong Helena yang montok.”
“Ih Mas mesum, nakal.”
“Kamu yang bikin mas mesum.”
“Sabar ya, minggu depan kita jalan dinas ke Makassar. Nanti kita…pesta seks, Sayang.” Lalu Helena meremas kejantan Bara sebelum berlari sambil terkekeh, meninggalkan kekasihnya dengan nafsu yang sudah di ubun-ubun.
Helena tahu Bara seorang pria beristri, namun pesona tubuh, kemampuan menaklukkan lawan bisnis dan kemampuannya menaklukkan wanita di atas ranjang, buat Helena begitu tergila-gila pada anak buah pamannya ini.
Bara juga bukan pria baik-baik. Tiga tahun menikah dengan Abel, bukannya melampiaskan nafsunya pada wanita itu secara halal, malah sibuk menghubungi nomor-nomor wanita yang open BO. Mulai dari pelajar SMA, mahasiswi hingga karyawati sudah pernah Bara coba. Namun semuanya tak ada yang perawan. Bahkan rata-rata mereka sudah longgar. Bahkan Bara pernah nekat melayani seorang istri pengusaha, selain kenikmatan yang didapat, uang belasan juta rupiah juga masuk di rekening Bara malam itu.
Kadang Helena merasa kasihan pada istri Bara. Sebab sepertinya wanita itu hanya menjadi pajangan saja di rumah. Bara yang seorang pemain sementara Abel seorang wanita desa yang polos. Helena tahu dan pernah melihat Abel. Bara pernah membawanya sekali saat acara malam tahun baru yang diadakan perusahaan. Bahkan Bara memperkenalkan Abel dengan baik pada mereka.
Namun melihat penampilan Abel yang sederhana dibanding dirinya, nampak kurang sepadan memang kelihatannya antara Abel dan Bara. Kurang serasi dari segi penampilan. Abel yang sederhana sementara suaminya nampak modis dan berwibawa. Abel…terlalu kalem juga untuk Bara.
Memang Bara cocoknya dengan Helena.
Wanita itu sesekali mengusap dadanya yang masih polos, ada beberapa tanda cinta yang Bara tinggalkan di dada putih mulusnya. Lalu tersenyum lagi, mengingat bagaimana Bara memperkosanya dengan membabi buta malam itu, selepas meeting di hari kedua.
[Mas, aku udah selesai haid] Helena mengirim pesan pada Bara yang nampak duduk di kursi depan sana dengan dahi berkerut.
[Beneran?] Bara sigap membalas pesan Helena.
[Bener sayang, udah siap nih diperkosa sama rudal gede kamu. Emoticon mengedip dan kiss]
[Entar malam, mas perkosa beneran kamu.]
Lalu ya… Bara membuktikannya. Bahkan tak perlu menunggu mandi dulu, keduanya gegas masuk ke kamar Bara di lantai tujuh hotel yang terletak di jantung kota Makassar itu. Bara benar-benar memperkosa tubuh Helena, memberikan kenikmatan yang membabi buta diatas tubuh telanjang Helena. Bara lupakan bila dia seorang laki-laki yang bergelar suami dari seorang wanita. Bara luapkan birahi liarnya pada Helena yang siap mengangkang dan menunggingkan tubuh untuknya.
“Akhhh Mas Bara pelan-pelan, Sayang.bisa sobek ini.” Rintih Helena dengan erotis saat benda tumpul suami Abel itu menumbuknya dengan kuat dibawa sana.
“Akhh, sempit banget, Sayang. Enak.” Bara menggeram, seperti singa yang terluka saat Helena dengan binalnya naik turun diatas tubuhnya.
Keduanya bersahutan meneriakkan kata-kata kotor dan vulgar yang semakin membakar birahi mereka.
Helena menikmati permainan seks liar itu dengan suami orang lain. Helena lupa bila dia sedang menyakiti hati perempuan lain. Helena lupa bila laki-laki yang sedang menyodok kemaluannya dibawah sana, bukanlah suaminya. Helena lupa bila laki-laki yang sedang ia tunggangi benda tumpulnya adalah pria beristri, Helena lupa bila laki-laki yang sedang menggeram puas dibawah tubuhnya adalah suami dari Abel. Perempuan yang ia kenal dengan baik.
“Akhhhh, oohhhh” lalu lolongan dan jeritan puas keduanya menandakan selesainya permainan seks liar mereka di jam tiga pagi saat itu.
Helena tersenyum puas, meski tubuhnya terasa remuk dan kewanitaannya terasa kebas.
Ouhh membayangkan permainan mereka saja, sudah buat Helena basah dan banjir di bawah sana.
Sungguh Helena berharap suatu saat Bara akan melepas Abel dan memilihnya menjadi istri. Meski secara materi Bara jauh dibawahnya.
Yang jelas Helena begitu mencinta dan begitu berhasrat pada Bara, suami Abelia Rahayu.
__
“Koq banyak daun kelapa?” Bara sedikit heran saat melihat Abel dengan mata yang masih bengkak, menyimpan daun-daun kelapa yang mulai mengering, bahkan ada juga yang sudah dianyam jadi seperti bentuk ketupat.
“Ibu tahu mas Bara lagi jalan Dinas. Sebelum asmanya kambuh, ibu tanyain kapan mas Bara pulang, aku bilang mungkin minggu depan. Ibu rencananya mau berkunjung ke rumah, mau bawain ketupat santan kesukaan kamu, Mas.” sahut Abel kemudian kembali sibuk memasukkan daun-daun kelapa yang tak jadi dibuat ketupat itu.