Bab 1

Laluna Cattline melempar tas kulitnya ke sofa dengan gerakan kasar. Musik dari klub malam masih bergaung di kepalanya, membuat pikirannya terasa berat. Wajahnya merah karena emosi, bukan karena minuman yang ia teguk tadi malam. Ibunya, Elena, baru saja menelponnya untuk kesekian kalinya hari itu, memaksanya pulang ke rumah keluarga mereka yang megah namun terasa seperti penjara.

"Laluna, kau tidak bisa terus hidup seperti ini! Pulanglah, kita perlu bicara!" Suara Elena di telepon tadi menggema dengan nada putus asa.

Laluna menghela napas panjang, matanya berkilat penuh kemarahan. "Bicara apa? Tentang bagaimana aku harus hidup seperti boneka yang kau kontrol?" jawabnya dengan nada penuh cemooh sebelum menutup telepon tanpa mendengarkan balasan.

Namun, rasa penasaran akhirnya mengalahkan egonya. Dua jam kemudian, Laluna berdiri di depan pintu rumah besar bergaya kolonial milik keluarganya. Aroma bunga mawar dari taman depan bercampur dengan aroma kemewahan yang selalu membuatnya muak.

"Laluna," panggil Elena, yang langsung menghampirinya dengan wajah penuh tekanan.

"Ada apa, Mom? Kenapa harus aku yang datang ke sini? Bukankah kalian cukup puas mengontrol hidupku dari jauh?" tanya Laluna dengan nada sarkastik.

Elena tidak menjawab. Sebaliknya, ia menyeret Laluna masuk ke ruang kerja ayahnya yang sudah lama kosong sejak pria itu meninggal beberapa tahun lalu. Di sana, duduk seorang pria asing. Matanya tajam seperti pisau, dengan setelan jas hitam sempurna yang menonjolkan aura bahaya.

"Laluna, ini Leonidas Draven," kata Elena dengan suara bergetar.

Laluna mengernyit, menatap pria itu dengan sinis. "Dan aku peduli kenapa?"

Leonidas berdiri perlahan, posturnya tinggi dan penuh wibawa. Tatapan dinginnya membuat udara di ruangan terasa mencekik. "Kau harus peduli, karena mulai hari ini, kau adalah milikku."

Laluna tertawa kecil, seolah mendengar lelucon buruk. "Maaf, apa? Milikmu? Ini abad berapa? Siapa kau yang berani bicara seperti itu?"

Elena menarik napas panjang, menundukkan kepalanya seolah tak berani bertemu pandang dengan Laluna. "Laluna, ini adalah... keputusan ayahmu. Sebelum ia meninggal, ia membuat kesepakatan dengan keluarga Draven. Untuk melindungi kita dari... bahaya, kau harus menikah dengan Leonidas."

Dunia Laluna seolah berhenti sejenak. Ia memandang ibunya dengan tatapan tak percaya, lalu beralih ke Leonidas yang hanya berdiri diam, seolah mengamati reaksinya dengan dingin.

"Kalian gila," desis Laluna. "Aku tidak akan pernah menikahi pria ini."

"Kau tidak punya pilihan," Leonidas akhirnya bicara, suaranya dalam dan penuh ancaman. "Kesepakatan ini bukan untuk didiskusikan, apalagi ditolak. Jika kau menolak, keluargamu akan kehilangan segalanya, termasuk hidup mereka."

Laluna menggertakkan giginya, tangannya mengepal di sisi tubuhnya. Ia tahu Leonidas tidak bercanda. Tatapan dingin pria itu cukup untuk memberitahunya bahwa ia terbiasa memegang kendali, terbiasa mengancam, dan terbiasa menang.

"Ini hidupku!" seru Laluna. "Aku tidak peduli dengan permainan kotor kalian. Aku bukan boneka yang bisa dipaksa!"

Leonidas mendekatinya perlahan, membuat jarak di antara mereka begitu tipis. Ia menunduk sedikit, wajahnya begitu dekat dengan Laluna hingga ia bisa merasakan napas pria itu.

"Hidupmu sudah menjadi milikku, Laluna. Semakin cepat kau menerima kenyataan ini, semakin mudah semuanya untukmu," bisiknya dingin.

Hati Laluna bergetar, bukan karena takut, tapi karena amarah yang mendidih di dalam dirinya. Ia tahu hidupnya berubah malam itu, namun ia bersumpah, jika pria ini berpikir ia bisa mengendalikan dirinya, maka Leonidas Draven akan segera belajar bahwa Laluna Cattline bukan wanita yang mudah ditundukkan.

Bab 2

Udara malam itu dingin menusuk tulang, tapi hati Laluna Cattline jauh lebih beku. Ia duduk di kursi penumpang sebuah mobil hitam mengkilap yang membawanya pergi dari rumahnya-atau lebih tepatnya, mengantarnya menuju sangkar emas milik Leonidas Draven. Diam-diam, ia merutuki dirinya sendiri karena tak sempat kabur sebelum pria itu memaksanya masuk ke dalam dunia yang sama sekali tak ia inginkan.

Leonidas duduk di sebelahnya, tenang namun penuh dominasi. Tatapannya lurus ke depan, memerintah tanpa perlu bicara. Laluna ingin sekali meledak, berteriak, atau bahkan memukul pria itu, tapi ia tahu, di dalam permainan ini, ia adalah pion kecil. Untuk saat ini.

"Kau bisa berhenti menatapku seperti ingin membunuh," suara Leonidas terdengar, tenang namun menusuk. "Kemarahanmu tidak mengubah apa pun."

Laluna mendengus. "Tentu saja tidak. Kau sudah mengambil semuanya dariku, bukan?"

Leonidas hanya mengangkat alis. "Aku tidak mengambil apa pun. Kau memberikannya sendiri. Kau hanya tidak menyadarinya."

Pernyataan itu membuat Laluna ingin membalas, tapi ia tahu pria itu hanya akan memutarbalikkan kata-katanya. Jadi, ia memilih diam, menatap keluar jendela, mencoba meredam amarah yang terus membara di dadanya.

Setelah perjalanan yang terasa seperti seabad, mobil berhenti di depan sebuah mansion besar yang lebih mirip kastil. Bangunan itu megah dan gelap, dengan pintu besi besar yang tampak seperti penjara. Laluna menelan ludah, merasa ngeri namun menolak untuk menunjukkannya.

"Selamat datang di rumah barumu," ujar Leonidas sambil membuka pintu mobil dan keluar.

Laluna menatap mansion itu dengan mata menyipit. Rumah baru? Lebih tepat disebut neraka, pikirnya. Namun, ia keluar dari mobil dengan langkah mantap, menolak terlihat lemah di depan pria ini.

Seorang pria berbadan besar dengan wajah dingin membuka pintu untuk mereka. Laluna tidak sempat melihat siapa namanya, karena Leonidas sudah berjalan masuk tanpa menunggu.

"Jangan tertinggal," ucap Leonidas tanpa menoleh.

Laluna mendesis pelan namun tetap mengikuti. Di dalam, rumah itu lebih mengerikan daripada yang ia bayangkan. Tidak ada tanda-tanda kehangatan. Semua serba hitam, putih, dan abu-abu, seperti cerminan jiwa pemiliknya.

"Ini kamarmu," kata Leonidas, berhenti di depan sebuah pintu kayu besar di lantai dua. Ia membuka pintu itu, memperlihatkan ruangan luas dengan tempat tidur besar di tengahnya. Dekorasinya mewah namun dingin, tanpa sentuhan pribadi.

"Dan di mana kamarmu?" Laluna bertanya dengan nada sarkastik.

Leonidas menoleh, menatapnya dengan ekspresi datar. "Aku tidak perlu menjelaskan hal-hal yang tidak relevan. Ini rumahku. Kau hanya tamu sementara di sini."

"Bagus," Laluna membalas dengan cepat. "Karena aku tidak berniat tinggal lama."

Leonidas tertawa kecil, suara itu dalam dan penuh sindiran. "Kita lihat saja. Tapi ingat, Laluna, semakin keras kau melawan, semakin sulit hidupmu di sini."

Pria itu berbalik dan pergi, meninggalkan Laluna sendirian di kamar itu. Ia menatap pintu yang tertutup di depannya, napasnya terengah-engah karena menahan emosi.

Malam itu, Laluna tidak bisa tidur. Ia duduk di dekat jendela besar yang menghadap ke taman belakang mansion, menatap bulan yang menggantung di langit. Pikirannya penuh dengan pertanyaan, ketakutan, dan rencana pelarian. Tapi di atas segalanya, ia dipenuhi oleh amarah.

Pagi harinya, ia dibangunkan oleh suara ketukan di pintu. Sebelum ia sempat menjawab, pintu itu terbuka, dan seorang wanita muda dengan seragam pelayan masuk.

"Nona Laluna, Tuan Leonidas meminta Anda bersiap-siap untuk sarapan."

Laluna menatap wanita itu dengan mata tajam. "Apa aku terlihat seperti seseorang yang perlu diperintah?"

Wanita itu tampak bingung sejenak, namun Laluna menghela napas dan bangkit. "Baiklah, aku akan turun. Tapi jangan pernah masuk tanpa izin lagi."

Wanita itu mengangguk cepat, lalu pergi. Laluna berdiri di depan cermin, memandang bayangannya sendiri. Ia tahu ia harus memainkan permainan ini dengan cerdas jika ingin keluar hidup-hidup.

Saat ia turun ke ruang makan, Leonidas sudah duduk di ujung meja panjang, membaca sesuatu di tablet. Ketika Laluna masuk, ia mengangkat pandangannya sebentar, lalu kembali fokus pada tabletnya.

"Kau suka menyuruh orang, ya?" Laluna berkata sambil duduk di ujung meja yang lain.

Leonidas tersenyum tipis. "Itu bagian dari pekerjaanku."

"Dan pekerjaanmu apa? Mengancam orang dan memaksa mereka menyerahkan hidup mereka padamu?"

Leonidas menatapnya, senyum di wajahnya menghilang. "Pekerjaanku adalah memastikan semua orang tahu tempat mereka, termasuk kau."

Laluna mendengus. "Kau tidak tahu siapa yang sedang kau hadapi, Leonidas."

Pria itu memiringkan kepalanya, menatapnya dengan ekspresi ingin tahu. "Kau pikir aku tidak tahu? Kau keras kepala, pemberontak, dan tidak tahu kapan harus menyerah. Tapi percayalah, Laluna, aku adalah orang terakhir yang ingin kau tantang."

Mereka saling menatap, suasana di ruangan itu penuh dengan ketegangan. Laluna tahu Leonidas bukan tipe orang yang mudah dihadapi, tapi ia juga bukan tipe wanita yang menyerah begitu saja.

Hari-hari berlalu, dan Laluna mulai memahami bahwa hidup bersama Leonidas adalah sebuah ujian. Pria itu tidak pernah secara langsung menyakitinya, tapi ia memastikan Laluna tahu siapa yang berkuasa. Setiap langkahnya diawasi, setiap kata yang ia ucapkan dianalisis.

Namun, di balik semua itu, Laluna mulai melihat sesuatu yang aneh. Leonidas mungkin dingin dan penuh kontrol, tapi ada momen-momen ketika ia terlihat... manusiawi. Ia tidak pernah berbicara tentang masa lalunya, tapi Laluna tahu ada sesuatu yang menghantui pria itu.

Dan seperti perang yang tak terhindarkan, Laluna menyadari satu hal: jika ia ingin mengalahkan Leonidas Draven, ia harus lebih dari sekadar pemberontak. Ia harus memahami musuhnya, mempelajari kelemahannya, dan pada akhirnya, mengubah aturan permainan.

Tapi, apakah ia sanggup melakukannya tanpa kehilangan dirinya sendiri?

Bab 3

Laluna duduk di tepi ranjangnya, menatap langit-langit kamar yang sepi. Sudah dua minggu sejak ia pindah ke rumah besar Leonidas, dan setiap harinya terasa seperti perang dingin. Leonidas menjalankan hidupnya seolah-olah Laluna tidak ada, kecuali jika ia perlu menegaskan kekuasaannya. Tapi justru itulah yang membuat Laluna semakin ingin melawan.

Malam itu, ia memutuskan sesuatu. Jika Leonidas berpikir dia bisa mengontrol segalanya, maka Laluna akan memastikan dirinya menjadi duri di sisi pria itu. Ia keluar dari kamarnya, mengenakan gaun merah sederhana, rambutnya tergerai indah, dan langkahnya penuh percaya diri.

Ketika ia sampai di ruang tamu, beberapa pria berbadan besar sedang berjaga, dan mereka menatapnya dengan curiga.

"Di mana Leonidas?" tanyanya dingin.

Salah satu dari mereka menjawab singkat, "Dia di ruang kerjanya, Nona."

Laluna berjalan tanpa ragu menuju ruang kerja itu. Ia mengetuk pintu sekali sebelum membukanya tanpa menunggu izin.

Leonidas duduk di balik meja besar, mengenakan setelan hitam yang membuatnya tampak seperti raja neraka. Ia mengangkat pandangannya dari dokumen-dokumen di depannya, alisnya terangkat melihat Laluna berdiri di sana.

"Laluna," katanya pelan, tapi nada suaranya seperti peringatan. "Apa yang kau lakukan di sini?"

Laluna melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya dengan suara keras. "Kita perlu bicara."

Leonidas bersandar di kursinya, menautkan jari-jarinya. "Baiklah, kau punya perhatianku. Katakan apa yang ingin kau katakan."

"Pernikahan ini-apa yang sebenarnya kau inginkan dariku?" Laluna bertanya, langsung ke intinya. "Kau jelas tidak membutuhkan seorang istri. Jadi, kenapa aku?"

Leonidas tersenyum tipis, tapi tidak ada kehangatan di sana. "Kau ingin jawaban jujur?"

"Tentu."

"Karena aku bisa," jawabnya datar. "Ayahmu menawarkanmu sebagai bagian dari kesepakatan. Dan aku menerima karena aku tahu kau akan menjadi aset berharga. Keluargamu mungkin lemah, tapi namamu membawa pengaruh."

Laluna terdiam. Ia tahu ada alasan bisnis di balik pernikahan ini, tapi mendengar Leonidas mengatakannya begitu dingin membuat amarahnya mendidih.

"Jadi aku hanya sebuah pion dalam permainanmu?" tanyanya dengan nada getir.

Leonidas berdiri, berjalan mengelilingi meja hingga berdiri di depannya. Ia menatap Laluna dengan intensitas yang membuatnya sulit bernapas. "Kita semua adalah pion dalam permainan yang lebih besar, Laluna. Bedanya, aku tahu cara menang."

Laluna tidak mundur. Ia balas menatap Leonidas, meskipun jantungnya berdegup kencang. "Kau mungkin berpikir kau bisa mengontrol segalanya, tapi aku tidak akan pernah tunduk padamu."

Leonidas tertawa kecil, suaranya rendah dan dalam. "Aku tidak butuh kau tunduk, Laluna. Aku hanya butuh kau bermain sesuai aturanku. Dan jika kau mencoba melawan, aku pastikan kau akan kalah."

Hari-hari berikutnya menjadi lebih rumit. Laluna mulai menyusun rencananya. Ia tahu tidak bisa melawan Leonidas secara langsung, tapi ia bisa mencoba memahami pria itu lebih dalam. Ia memperhatikan setiap gerak-geriknya, setiap perintah yang ia berikan pada orang-orangnya, dan setiap momen di mana Leonidas tampak... rapuh.

Suatu malam, Laluna mendengar suara ribut dari ruang kerja Leonidas. Ia mengintip dari celah pintu yang sedikit terbuka. Leonidas sedang berbicara dengan seorang pria yang lebih tua, mungkin salah satu anggota keluarga mafia lain.

"Kau pikir aku tidak tahu siapa yang mengkhianatiku?" suara Leonidas penuh kemarahan. "Aku akan memastikan dia membayar dengan nyawanya."

Pria itu tampak gugup, tapi ia mengangguk. "Kami akan menyelesaikannya, Tuan."

Setelah pria itu pergi, Leonidas duduk di kursinya, wajahnya terlihat lelah. Laluna terkejut melihat sisi itu darinya. Selama ini, Leonidas selalu tampak tak terkalahkan, tapi malam itu, ia terlihat seperti seseorang yang membawa beban dunia di pundaknya.

Laluna memutuskan untuk masuk. Leonidas menatapnya sekilas, lalu menghela napas. "Kau seharusnya tidak ada di sini."

"Kau juga terlihat seperti seseorang yang tidak ingin sendirian," jawab Laluna.

Leonidas tertawa kecil, tapi tidak ada kebahagiaan di sana. "Kau tahu, Laluna, hidupku bukan sesuatu yang ingin kau pahami."

"Aku tidak mencoba memahami hidupmu," jawabnya. "Tapi aku ingin tahu kenapa kau memilih hidup seperti ini."

Leonidas menatapnya lama, seolah mempertimbangkan apakah ia harus menjawab. Akhirnya, ia berkata pelan, "Karena aku tidak punya pilihan lain."

Jawaban itu membuat Laluna terdiam. Untuk pertama kalinya, ia melihat Leonidas sebagai seseorang yang tidak hanya hidup untuk kekuasaan, tapi juga terjebak dalam sesuatu yang lebih besar darinya sendiri.

Hari-hari berikutnya, hubungan mereka berubah. Leonidas tidak lagi terlalu keras pada Laluna, dan Laluna mulai melihat bahwa di balik sikap dinginnya, Leonidas adalah seseorang yang penuh luka. Tapi ini juga membuat segalanya lebih sulit, karena Laluna tahu semakin ia memahami Leonidas, semakin ia sulit membencinya.

Namun, ia tidak lupa tujuan utamanya: menemukan cara untuk bebas. Dan untuk itu, ia harus tetap bermain cerdas.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED