Bab 1

Bab 1 – Dua Garis Biru

"Radit..." Tasya menaruh sendok dengan hati-hati ke piring.

"Hm?"

"Aku hamil."

Suara sendok Radit berhenti berdenting. Dia menoleh pelan, menatap mata istrinya untuk pertama kali malam itu. Wajahnya tidak menyimpan kegembiraan, juga tidak marah. Hanya bingung. Atau takut?

"Hamil?" ulangnya, seolah tak percaya telinganya.

Tasya mengangguk pelan. "Dua bulan."

Keheningan menyelimuti ruang makan itu. Bunyi jam dinding terdengar seperti detak bom waktu. Radit menatap istrinya lebih lama dari biasanya.

"Anak siapa?" tanyanya akhirnya.

Pertanyaan itu seperti cambuk. Namun Tasya tidak terkejut. Dia bahkan sudah menyiapkan jawabannya, tapi justru bungkam. Bibirnya tak bergerak, dan matanya mulai berkaca.

Dia tidak tahu.

Karena dua bulan lalu, malam hari sebelum ulang tahun pernikahan mereka yang keempat, dia mabuk. Dan malam itu, dia bersama Galvin. Tapi dua hari sebelumnya, secara tak sengaja, dia dan Radit tidur Bersama, satu-satunya malam dalam setahun di mana mereka tidak bertengkar dan benar-benar berbagi ranjang seperti suami istri sesungguhnya.

Tasya mencoba mengingat detail-detailnya. Tapi kepalanya hanya penuh kabut. Apakah ini karma karena mengkhianati pernikahan yang sejak awal pun tak pernah benar-benar utuh?

Radit berdiri perlahan. Tangannya meraih gelas air putih yang tersisa di atas meja. Dia meneguknya cepat, lalu menarik napas panjang.

"Jadi kamu nggak tahu siapa ayahnya," ucapnya, lebih sebagai kesimpulan daripada pertanyaan.

Tasya menunduk. Dadanya sesak, tapi dia tahu dia pantas disalahkan. Sama seperti Radit pantas dipertanyakan.

"Kalau kamu minta aku pergi, aku bisa keluar dari rumah ini malam ini juga," katanya, berusaha terdengar tenang.

Radit tertawa sinis. "Keluar ke mana? Ke rumah Galvin?"

"Dan kamu? Mau bawa Sheila masuk ke sini besok pagi?"

Satu detik, dua detik. Wajah Radit berubah tegang. Suara Tasya terlalu tenang untuk tuduhan sekeras itu.

"Aku nggak akan debat soal siapa lebih salah, Radit. Kita sama-sama salah dari awal," lanjut Tasya. "Kita ini dua orang asing yang dipaksa hidup serumah demi perusahaan orang tua kita. Dan sekarang... kita menuai hasilnya."

Radit berjalan menuju balkon, membuka pintu geser dan berdiri di ambang, membiarkan angin malam masuk. Jakarta di luar sana ramai, tapi di dalam sini hanya sunyi.

"Aku benci hidup seperti ini," gumam Radit.

Tasya menatap punggung suaminya. Dulu, dia pikir dia bisa menjalani pernikahan ini. Pura-pura bahagia, pura-pura mencintai. Tapi bertahun-tahun berpura-pura justru menghancurkannya perlahan.

"Aku juga," bisiknya. "Tapi sekarang ada nyawa di dalam tubuhku. Dan dia nggak minta dilahirkan dari hubungan seberantakan ini."

Radit menutup mata. Di satu sisi, dia ingin marah. Tapi kepada siapa? Kepada Tasya? Dirinya sendiri? Atau orang tua mereka yang menulis takdir mereka di atas selembar kontrak perjanjian merger perusahaan?

"Kalau memang harus diuji, kita tunggu sampai bayi lahir," ucapnya akhirnya, suara berat.

"Tes DNA. Setelah itu, kita tentukan semuanya."

Tasya mengangguk pelan. Entah lega, entah justru lebih takut dari sebelumnya.

"Tapi Radit..." katanya, suaranya nyaris tak terdengar. "Kalau ternyata ini anakmu... kamu mau tetap jadi ayahnya? Maksudku... benar-benar jadi ayahnya?"

Radit terdiam lama.

"Entahlah," jawabnya lirih. "Aku bahkan nggak tahu gimana caranya jadi suami. Apalagi jadi ayah."

Kata-kata itu lebih menusuk daripada teriakan. Tasya mengusap perutnya. Masih datar. Tapi di sana ada kehidupan. Nyawa kecil yang tumbuh di tengah kekacauan, dan entah akan tumbuh dalam cinta... atau luka yang diwariskan.

Tasya berdiri, meninggalkan meja makan. Malam itu, mereka tidur di ranjang yang sama tapi saling membelakangi, seperti biasa.

Di luar jendela, lampu kota menyala. Dan di dalam kamar itu, satu rahasia baru saja membuka bab baru dalam hidup mereka.

Salam Penulis

darkcom

Bab 2

Bab 2 – Luka yang Tak Pernah Sembuh

Matahari belum tinggi saat Tasya duduk di dapur, sendirian, memandangi layar ponselnya yang kosong dari notifikasi. Sudah seminggu sejak malam itu. Seminggu sejak pengakuannya mengubah sisa-sisa keheningan rumah menjadi jurang yang tak bisa dijembatani.

Radit bersikap seolah semuanya baik-baik saja. Dia bangun pagi seperti biasa, sarapan dengan diam, lalu berangkat kerja tanpa pamit. Sepanjang minggu, mereka hampir tidak bicara, kecuali soal logistik rumah tangga. Tidak ada pembicaraan tentang kehamilan. Tidak juga tentang tes DNA yang mereka sepakati.

Tasya menghela napas panjang. Perutnya masih datar, tapi rasa mual di pagi hari sudah mulai rutin. Galvin beberapa kali menelepon, tapi belum dia jawab. Bukan karena dia tidak ingin bicara, tapi karena dia sendiri belum tahu harus mengatakan apa. Galvin tidak tahu tentang malamnya bersama Radit. Galvin hanya tahu bahwa dia dan Tasya saling mencintai, meski terjebak dalam kenyataan yang tak berpihak.

Tasya menggenggam mug hangat di tangannya. Pandangannya kosong, namun pikirannya berlari ke mana-mana. Bagaimana jika bayi ini anak Radit? Apakah lelaki itu akan tetap dingin dan jauh? Atau, bagaimana jika ini anak Galvin? Apakah dia harus memperjuangkan kebebasan dan membesarkan anak itu sendirian?

Pintu apartemen terbuka. Radit pulang lebih cepat dari biasanya. Jam baru menunjukkan pukul empat sore.

"Kamu nggak ke kantor hari ini?" tanyanya, memecah keheningan.

"Libur. Aku butuh istirahat," jawab Tasya pelan.

Radit berjalan ke kulkas, mengambil botol air mineral, lalu duduk di kursi seberangnya. Ada jeda aneh dalam gerakannya, seperti seseorang yang ingin bicara tapi tidak tahu dari mana harus mulai.

"Aku udah cari dokter kandungan," katanya akhirnya. "Kita bisa periksa minggu ini."

Tasya mengangguk. "Kamu mau ikut?"

Radit menatapnya sebentar. "Kurasa aku harus."

Satu kalimat sederhana, tapi mengandung begitu banyak kebingungan. "Harus" karena tanggung jawab. Bukan karena cinta. Dan Tasya tahu itu.

"Aku juga udah cari klinik yang bisa tes DNA pas bayi lahir nanti. Biar semuanya jelas," tambah Radit.

"Aku ngerti." Tasya menggigit bibirnya. Suaranya mulai bergetar. "Tapi kalau hasilnya ternyata bukan kamu..."

"Kamu akan pergi?"

Tasya diam sejenak. "Mungkin. Tapi bukan karena aku ingin kabur. Aku cuma nggak mau hidup di rumah yang penuh kemarahan dan ketidakpastian. Anak ini butuh cinta. Bukan hanya status orang tua."

Radit menunduk. Jemarinya mengetuk permukaan meja pelan.

"Aku pernah berpikir..." katanya lirih, "...kalau saja kita ketemu di kondisi yang berbeda. Mungkin semuanya nggak akan seburuk ini."

Tasya menatapnya, terkejut. Ini kali pertama Radit bicara tentang 'jika saja'. Tentang kemungkinan yang tak pernah diberi kesempatan.

"Kamu nyesel nikah sama aku?" tanya Tasya pelan.

"Aku nyesel nggak pernah coba kenal kamu," jawab Radit jujur. "Kita terlalu sibuk membenci takdir, sampai lupa kita berdua sama-sama korban."

Kata-kata itu membuat mata Tasya panas. Tapi dia tahan air matanya. Bukan karena gengsi, tapi karena tangis tak lagi cukup untuk memperbaiki semua yang sudah pecah.

"Aku juga salah," ucap Tasya. "Aku nyari cinta di luar, karena aku pikir nggak akan pernah nemu di rumah ini."

Radit menatap istrinya lama. Wajah Tasya lelah, tapi tegar. Dan entah mengapa, di tengah semua kehancuran itu, dia merasa sedang duduk di depan seseorang yang sebenarnya... masih bisa dia perjuangkan. Kalau dia berani. Kalau dia mau.

"Kita ke dokter, ya. Sama-sama," katanya pelan.

Tasya mengangguk, untuk pertama kalinya dengan senyum kecil. Meski retak, senyum itu adalah awal. Awal dari perjalanan yang belum tentu berakhir bahagia, tapi setidaknya, jujur.

Dan di luar sana, langit sore mulai berganti warna. Seolah ikut menyambut dua hati yang, meski penuh luka, masih mencoba bertahan demi satu kehidupan baru yang sedang tumbuh di antara mereka.

Salam Penulis

darkcom

Bab 3

Bab 3 – Pilihan yang Mengguncang

Aroma roti panggang dan telur orak-arik memenuhi dapur pagi itu. Radit menuangkan kopi ke dua cangkir, satu untuknya, satu lagi ia geser pelan ke hadapan Tasya yang duduk di meja dengan tangan memegangi perutnya.

Untuk pertama kalinya sejak lama, pagi itu terasa seperti milik mereka berdua. Tidak ada tatapan sinis, tidak ada saling diam yang menyakitkan. Hanya keheningan yang tidak terlalu dingin.

"Kita janji ke dokter jam sepuluh, ya?" tanya Tasya sambil menyeruput kopinya perlahan.

Radit mengangguk. "Aku kosongkan jadwal meeting hari ini. Nanti kita berangkat jam setengah sepuluh."

Mereka makan dalam diam, tapi kali ini bukan karena dendam. Mungkin karena keduanya masih menata ulang keberanian mereka untuk menghadapi kenyataan. Apapun hasilnya nanti, hidup mereka tidak akan pernah sama lagi.

Tasya memainkan garpu di piringnya, sementara Radit menyalakan laptop sambil mendengarkan musik youtube di sudut dapur. Saluran pagi itu menayangkan iklan layanan masyarakat tentang kesehatan reproduksi, namun tak lama kemudian berganti ke iklan klinik yang menyamar sebagai "konsultasi kehamilan tak diinginkan". Bahasa halus dari praktik aborsi.

"Dokter terpercaya untuk penanganan kehamilan yang belum siap. Aman, cepat, rahasia terjaga."

Gambar seorang wanita muda yang tersenyum dengan latar klinik putih bersih mengisi layar laptop milik radit.

Tasya menoleh ke arah layar laptop. Radit ikut melirik, dan tiba-tiba suasana menjadi berbeda. Suara iklan itu menggantung di udara, seperti sesuatu yang tak ingin mereka dengar... tapi juga sulit untuk diabaikan.

Mereka saling menatap. Tak satu pun berbicara, tapi mata mereka bicara terlalu banyak.

"Kamu mikir apa yang aku pikir?" tanya Radit akhirnya, dengan suara rendah.

Tasya menggigit bibirnya. "Aku nggak tahu. Tapi... iklan itu muncul kayak tahu isi kepala kita."

Radit menarik napas panjang. "Kita belum siap. Kita bahkan nggak tahu siapa ayahnya. Kita masih saling marah, saling asing."

Tasya menunduk. Kata-kata itu seperti peluru, karena semuanya benar. Dan lebih dari itu, dia sendiri belum siap menjadi ibu, apalagi untuk anak yang bisa saja memperparah luka yang sudah ada.

"Aku takut, Radit," katanya pelan. "Takut kalau anak ini malah tumbuh di tengah kebencian. Di antara dua orang tua yang bahkan nggak tahu cara saling percaya."

Radit tidak menjawab. Ia hanya memandangi cangkir kopinya, seolah berharap jawabannya ada di dasar gelas itu.

"Kita bisa batalkan janji ke dokter," lanjut Tasya. "Dan pergi ke tempat itu..."

"Dan habisin semuanya?" potong Radit, suaranya datar.

Tasya menatapnya dengan mata yang tak bisa menyembunyikan keraguan. "Mungkin ini yang terbaik. Untuk kita. Untuk dia juga..."

Radit menatap istrinya lama. Di matanya, ada konflik yang begitu besar. Hatinya ingin menolak gagasan itu, tapi pikirannya mengatakan itu mungkin satu-satunya jalan untuk menghentikan siklus luka yang mereka jalani.

"Kalau kita pilih itu, nggak ada jalan balik, Tas."

Tasya mengangguk. "Aku tahu."

Radit berdiri. Ia berjalan ke jendela, menatap lalu lintas pagi di bawah sana. Mobil-mobil bergerak seperti biasa. Kota tetap sibuk. Dunia tetap berputar, seolah tak peduli pada keputusan berat dua manusia di sebuah apartemen sepi.

"Kalau kita gugurkan... berarti kita menyerah total," ucap Radit akhirnya.

Tasya berdiri dari kursinya, mendekatinya.

"Mungkin kita memang sudah kalah dari awal," katanya lirih. "Pernikahan ini... hidup kita... semuanya sudah ditentukan tanpa kita sempat memilih."

Radit menatapnya. "Tapi anak ini belum salah apa-apa."

Tasya memejamkan mata, menahan air mata yang menggantung.

"Kalau kita tetap lanjut, dan ternyata semua makin hancur, kamu bisa janji nggak bakal nyalahin anak yang sedang ku kandung?" tanyanya.

Radit diam. Tapi akhirnya, dia menunduk, karena di sendiri belum siap menjadi ayah.

Salam Penulis

darkcom

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED