🇵🇰bab.2
Rumah eama Hanifah dan eamm Hassan dekat dengan rumah abu dan ummu. Dua puluh lima menit sudah sampai. Mohammed dan Mohammad membantu menurunkan semua barang bawaanku. Eama Hanifah berteriak...
" Kembar, tolong sekalian bawakan masuk ke kamar ukthy Adiba".
Aku gak tega melihat si kembar adik-adik sepupuku membawa banyak barangku.
" Di ruang tamu saja, eama Hanifah. Adiba mau buka koper bagi-bagi oleh-oleh".
Abu menghampiri kami.
"Ayoo kita harus makan bersama, nanti saja bagi-bagi oleh-oleh, Adiba".
Eama Hanifah memelukku dan menangis..
" Aku merindukanmu Adiba tapi kamu gak perdulikan eama mu ini karena kamu sudah hidup enak di Russia. Sungguh jahat dirimu padahal aku anggap dirimu itu anakku bukan keponakanku".
Abu tertawa terbahak-bahak, berkata ..
"Hanifah adikku, kamu terlalu sayang pada Adiba anakku.Sudahlah berhentilah menangis, Adiba sudah ada di dekatmu, dari tadi kamu peluk Adiba".
Eama Hanifah menjawab..
"Dari Adiba kecil, aku sudah ikut merawatnya sampai dia tumbuh menjadi gadis remaja dan dia meninggalkanku pergi ke Russia, betapa sedihnya hatiku. Hari ini dia pulang ke lahore, aku mau selalu memeluk Adiba kesayanganku ini".
Kucium pipi eama Hanifah dan berkata ...
" Alloh tau Adiba sayang eama Hanifah seperti Adiba sayang ummu. Sengaja Adiba bikin kejutan mendadak pulang biar eama Hanifah kaget".
Eama Hanifah mencubit pipiku. Ummu tertawa, berkata ...
" Adiba dan saudara-saudara sepupunya meski sudah dewasa tapi masih saja seperti anak kecil kalau berkumpul".
Kami makan masakan ummu. Eama Hanifah menyuapiku, berteriak kegirangan..
" Kalian semua lihat betapa bahagiaku..hari ini aku menyuapi Adiba lagi. Bagiku dia tetap gadis kecil yang suka melompat-lompat seperti kelinci".
Semua tertawa mendengar ucapan eama hanifah. Setelah makan, kami semua berkumpul di ruang keluarga. Eamm Hassan mendekati eama Hanifah...
"Masya ALLOH, Hanifah istriku.. dari tadi kamu memeluk Adiba. Kami semua juga kangen dan ingin dekat Adiba tapi kamu monopoli Adiba ".
Semua tertawa mendengar protesnya eamm Hassan. Eama Hanifah menyahut..
"Alloh tahu aku masih sangat merindukan Adiba ini, Hassan suamiku".
Semua tersenyum, gak ada yang bisa membantah perkataan eama Hanifah. Aku melirik si kembar adik-adik sepupuku.
"Mohammed..Mohammad.. jika kalian gak lelah, tolong bantu aku pindahkan barang-barang bawaanku dari ruang tamu ke ruang keluarga ini".
Mereka berdua langsung berdiri, melompat kegirangan..
" Yes, ukthy Adiba... Kami pindahkan sekarang".
Eama Hanifah benar-benar gak melepaskan aku dari pelukannya. Ummu sampai berkata..
"Masya ALLOH, Hanifah... Bagaimana Adiba bisa membuka barang bawaannya kalau kamu selalu memeluknya".
Aku tersenyum pada ummu..
"Tak apa, ummu. Adiba juga rindu pelukan eama Hanifah".
Aku mulai membuka koper..
"Ini ada koper tulisan abu dan ummu..isinya semua untuk abu dan ummu".
Aku memegang satu koper lagi...
"Ini ada koper tulisan eamm Hassan and familly... Semua isinya buat eamm Hassan, eama Hanifah dan anak-anaknya yang kembar si Mohammed dan Mohammad".
Aku melihat ada tas koper lagi tulisan Aisyah chayank..
" Ummu... tolong simpan koper ini isinya khusus untuk Aisyah, Alif, tiga anak mereka".
Aku masih melihat tas koper tulisan Alif family..
"Ummu, ini ada satu koper isinya khusus untuk mertuanya Aisyah".
Abu langsung menoleh padaku..
"Kalau Adiba tidak lelah, nanti atau besok kita antar oleh-oleh itu ke mertuanya Aisyah".
Aku mengangguk.Yaa ALLOH, aku bahagia dengan suasana kekeluargaan seperti ini. Mereka tampak bahagia sekali menerima kepulanganku. Hilanglah rasa ngantuk, lelah selama perjalanan dari Rusia ke Pakistan, karena berkumpul dengan keluarga. Yaa ALLOH, aku benar-benar bahagia berkumpul dengan keluarga. Semalaman kami tidak tidur tapi bertukar cerita, bergurau, tertawa terbahak-bahak. Eama Hanifah tersenyum bahagia, makin memelukku sambil ngobrol Gak terasa .. aku tertidur di pangkuan eama Hanifah.
----------
Suara adzan subuh berkumandang, aku terbangun.
"Adiba ketiduran di pangkuan eama Hanifah. Kasihan pasti eama Hanifah kecapekan kan ".
Eama hanifah tersenyum keibuan...
"Eama hanifah gak merasa kecapekan tapi bahagia sekali melihatmu tidur di pangkuan eama Hanifah. Ayo kita sholat subuh berjamaah di masjid ".
Setelah mandi, wudhu.... Beramai-ramai ke masjid dekat rumah abu.. untuk sholat subuh berjamaah. Yaa ALLOH, rasanya kembali ke masa kecil. Sepulang dari masjid langsung sarapan di rumah abu. Ummu meletakkan samosa hangat di atas meja makan, aku dan si kembali Mohammed Mohammad langsung berebutan mengambil samosa. Eama hanifah berkacak pinggang...
" Si kembar dan Adiba.. benar-benar luar biasa semangat tiap sarapan samosa hangat."
Aku teringat masa kecil, seringkali aku yang menghabiskan banyak samosa sampai si kembar menangis karena kehabisan samosa.Aku berdiri, membuka kulkas.. mengambil coklat dan berteriak..
"Ini coklat sebagai permintaan ukthy Adiba buat si kembar..kan ukthy Adiba dulu suka menghabiskan samosa sampai kalian berdua menangis. Ayooooo ambil coklat ini".
Si kembar lari mengambil coklat di tanganku sambil berteriak...
" Terima kasih, ukthy Adiba... Terima kasih".
Aku lebih menganggap si kembar sebagai adik-adik kandungku daripada sebagai adik-adik sepupuku. Bahagia rasanya melihat si kembar lahap makan coklat.Tiba-tiba si kembar berhenti makan coklat, melihatku..
"Ukthy Adiba, terima kasih sudah membiayai kami sekolah".
Aku tertegun mendengar ucapan si kembar..
" Ehmmmm.. janganlah berterima kasih padaku. Memang sudah kewajiban ukthy Adiba membiayai kalian berdua sekolah".
Si kembar keheranan menatapku..
"Ukthy Adiba marah pada kami berdua ?.".
Aku tersenyum sambil menggelengkan kepala ..
"Ukthy Adiba sayangi kalian berdua, berterima kasihlah pada ALLOH yang menolong ukthy Adiba menepati janji pada kalian".
Si kembar makin bingung saling berpandangan, dengan santai kujelaskan...
"Apa kalian lupa dulu waktu ukthy Adiba mau pergi ke Russia,. menangis memeluk kalian berdua. Ukthy Adiba bisiki kalian... Kalau ukthy Adiba kerja pasti bayarin kalian sekolah. Apa kalian ingat ?".
Si kembar diam sesaat, tersenyum..
"Iya, kami ingat.. ukthy Adiba ".
Aku memegang pipi si kembar..
"Maafkan ukthy Adiba dulu sering mengganggu kalian sampai menangis."
Si kembar langsung memelukku..
" Terima kasih, ukthy Adiba tetap kakak sepupu yang baik buat kami berdua".
Abu, ummu, eama Hanifah dan eamm Hassan memandangi kami bertiga. Eamm Hassan menatapku..
"Adiba, terima kasih ...sudah menolong membiayai sekolah anak-anak eamm Hassan. Kasihan Adiba tidak bisa menabung ".
Aku tertawa sambil memeluk bahu si kembar...
"Apakah Adiba harus jujur tentang kehidupan perekonomian Adiba selama merantau di Russia ?".
Semua melihatku, mengangguk. Pelan-pelan mulutku berkata...
"Alhamdulillah, Adiba bekerja pertama itu setengah dari gajian kan Adiba kirim ke abu ummu.. Adiba tinggal di rumah Rowena , tapi gaji kedua.. Adiba ngirim buat abu ummu dan si kembar... Langsung Adiba terima banyak sekali pesanan desain interior sampai Adiba kewalahan".
Lembutnya tatapan mata ummu selembut ucapannya..
"Bismillah hirohman nirohim, jika orang tua membesarkan anak sesuai kehendak ALLOH pasti ALLOH memberikan yang terbaik menurut ALLOH bagi anak tersebut ".
🇵🇰bab.6.
Sepulang dari sekolah si kembar adik sepupuku, kami ke Andaaz restoran... Makanannya khas Pakistan.. lezat sekali. Aku memegang tangan si kembar...
" Ukthy Adiba pengen makan kue-kue Lahore. Yuk kita lihat kue-kue itu".
Si kembar berteriak kegirangan...
"Iya ayoo ukthy adibaaaaa.."
Aisyah merajuk...
" Aisyah juga mau, ukthy Adiba".
"Ayooooo... Aisyah, Alif...".
Abu tersenyum...
" Mereka tetap seperti anak-anak kecil. Lihatlah mereka melompat-lompat sambil tertawa".
Kami kembali duduk dan seorang pelayan mengantar kue-kue. Eama Hanifah terbelalak melihat kue - kue yang di letakkan di atas meja...
"Banyak sekali kue-kue ini".
Aku memeluk bahu eama Hanifah..
"Iyaaaaaaaaa... Adiba mauuuuuu.. ayooo semua makan kue dulu ".
Alhamdulillah, kue-kue langsung ludes gak tersisa. Dua orang pelayan mengantar makanan pesanan kami. Kok cuma sedikit. Aku pesan lagi.
" Tolong tambahkan lagi yaa.."
Semua melongo melihatku. Aku langsung bersembunyi di balik bahu abu...
"Lima tahun Adiba gak makan makanan lengkap khas Pakistan... Jadi Adiba sekarang mau banyaaakkk makaaaaannnn".
Semua tertawa mendengar abu bicara...
" Lihatlah... Anak yang satu ini masih suka sembunyi di balik bahu abu. "
Ummu tersenyum..
"Iya Adiba sekarang bisa makan sepuasnya".
Aku keluar dari belakang bahu abu...
"Benarkah, ummu ?".
Ummu tersenyum sambil mengangguk. Langsung aku memanggil pelayan yang berdiri di dekat meja kasir, pelayan itu datang.
"Ada yang perlu di bantu ?".
Dengan ramah kujawab...
"Tadi saya pesan tambahan sepaket makanan ini buat makan di sini. Sekarang saya pesan lagi dua paket makanan di bungkus dan dua dos kue-kue. Semua nota berikan ke saya ya ".
Semua melongo. Dengan tenang Kujawab..
"Ummu bolehkan Adiba makan sepuasnya. Nanti eamm Hassan, eama Hanifah, si kembar harus menginap di rumah abu ummu ".
Eama Hanifah menatapku..
"Allohu Akbar, Adiba... Sudah cukup pesan makanan. Nanti eama Hanifah ini tambah bulat seperti bola".
Semua tertawa terbahak-bahak melihat badan eama Hanifah.Tiba-tiba ada notifikasi beruntun di HP ku, semua melirik ke HP ku . Aku membaca message masuk, mataku terbelalak kaget, spontan mulutku berteriak....
"Allohu Akbar.... Masya ALLOH... Dua puluh order desain interior dari Rusia masuk beruntun.. Alhamdulillah, yaa ALLOH".
Aku memandang si kembar adik sepupuku...
"Ini rizki dari Alloh.. kalian berdua harus kuliah.".
Si kembar berteriak kegirangan...
"Alhamdulillah... Terima kasih , ukthy Adiba ".
Abu dan ummu memelukku..
"Alhamdulillah, Adiba anakku... Alloh melapangkan rizki. Ingat tanggung jawabmu membiayai kedua adik sepupuku kuliah".
'insya Alloh, abu".
Kami makan sampai kenyang. Aku langsung rekam suara pada Rowena.
... ALHAMDULILLAH, ROWENA.. DUA PULUH ORDER DESAIN INTERIOR MASUK.
Rowena langsung membalas. rekam suara...
ALHAMDULILLAH, ADIBA.
______
Pulang ke rumah abu ummu, sholat berjamaah, tidur. Bangun tidur kulihat Alif bersama eamm Hassan , abu, si kembar sedang asyik mencari universitas di laptop Alif. Aku duduk di ayunan halaman depan rumah, telpon ke Rowena. Bahagia sekali ... Ngobrol dengan Rowena, Morgan, Syden , ibunya Syden. Tiba-tiba Aisyah adikku berteriak...
"Ukthy adibaaaa di panggil abu ummu".
Kututup telpon, masuk ke ruang keluarga.... Lengkap... Abu, Ummu, Eamm Hassan, Eama Hanifah, Alif, Aisyah.
" Mana si kembar ?".
Si kembar berteriak dari dalam kamar..
"Kami main laptop di kamar ukthy Adiba ".
Aku duduk dekat eama Hanifah. Ummu dengan sikap lembut keibuan, membuka pembicaraan...
"Alhamdulillah, Alloh ijinkan Adiba pulang ke lahore, berkumpul dengan kami semua di sini".
Abu menimpali...
"Sengaja abu dan ummu meminta Adiba pulang ke sini karena kami sebagai orang tua merasa Adiba menyembunyikan masalah ".
Langsung aku melihat abu dan ummu. Abu melanjutkan bicaranya..
"Kami ini orang tua yang selalu mendoakan semua terutama Adiba dan Aisyah. Kami selalu bangun di sepertiga malam hanya untuk sholat tahajud dan setelah sholat tahajud, pikiran kami selalu ke Adiba saat itu jauh di Russia. Alloh memberi tahu kami jika ada sesuatu yang terjadi pada Adiba ".
Eama Hanifah memeluk bahuku..
"SubhanaAlloh, sungguh baik Alloh. Adiba tolong sekarang bicaralah... Ada apa sebenarnya. Kami semua siap mendengarkan".
Eamm Hassan melihatku..
"Insya Alloh, kami membantumu Adiba".
Aku menghela nafas panjang., perlahan-lahan aku bicara...
"Adiba di tipu ".
Semua serempak melihatku,
"Astaghfirullah al adziimmm...yaa ALLOH, Adiba ".
Kupejamkan kedua mataku.
" Adiba kenal Adit laki Indonesia yang tinggal di solo.. mengaku duda cerai hidup mempunyai satu anak perempuan usia lima belas tahun, Adit mengaku kerja di salah satu partai politik Indonesia dan ibunya yang janda cerai mati itu punya butik batik di solo... Nyatanya semua itu bohong ".
Abu dengan sikap kebapakan,
" Abu menghargai kejujuran Adiba. Lanjutkan bicaramu, nak".
Aku menatap wajah abu...
"Abu... Adiba baru tahu ternyata Adit pengangguran dan tidak cerai dengan istrinya. Ibunya tidak memiliki butik batik di solo tapi ibunya seorang mucikari pemilik tempat hiburan malam. Adit gemar berfoya-foya, berkelahi di tempat hiburan malam milik ibunya.. bahkan Adit hobi nikah siri dengan para anak buah ibunya".
"Kamu yakin, adiba anakku ?".
"Ya, abu. Seringkali Adiba di teror... di labrak dengan banyak perempuan yang mengaku punya hubungan khusus dengan Adit ".
Aku menunjukkan semua bukti screenshot mesengger dan chatting, rekaman video, rekaman suara, foto-foto Adit dengan para perempuan penghibur. Semua terkejut. Eama Hanifah mencium keningku...
" Kenapa Adit melakukan hal buruk, Adiba ?".
"Eama Hanifah, sengaja Adit memancing emosi Adiba karena Adiba menolak permintaan Adit ".
"Permintaan apa, Adiba ?".
" Eama Hanifah.. Adit mau Adiba ke Indonesia, diam-diam menikah siri dengannya tanpa sepengetahuan orang tua Adiba. Setelah nikah siri Adit mau minta ikut Adiba ke Rusia. Jelas Adiba tolak akhirnya Adiba ambil keputusan... Memutuskan hubungan dengan Adit ".
Abu mengulurkan kedua tangannya padaku ..
"Kemarilah, Adiba anakku ".
Aku hampiri abu dan tenggelam dalam pelukan abu".
"Abu... Adiba kerja benar-benar kerja untuk keluarga, bukan untuk laki jahat yang menipu Adiba. Apa Adiba salah dengan keputusan yang adiba ambil ?".
Abu mengelus-elus kepalaku...
"Alhamdulillah, Alloh melindungi dirimu dan tepat sekali.. keputusan yang kamu ambil, Adiba anakku.Ummu tolong ambilkan segelas air zamzam untuk Adiba anak kita ".
Ummu mendekatiku, mengelus punggungku...
"Minumlah ini, Adiba.".
Setelah minum, dengan nada rendah aku bertanya..
" Sebetulnya ada yang ingin Adiba tanyakan.. ".
Semua makin menatapku,
"Adiba bingung .. dulu pertama Adiba kenal Adit. Adit minta tolong agar Adiba mau menjadikannya laki islam sholeh ternyata Adit malah liar. Adiba sudah memutuskan hubungan dengan Adit tapi Adit menuduh Adiba membohonginya . Apa salah jika Adiba memutuskan hubungan dengan Adit ?.
Dengan lembut ummu menjawab..
" Bismillah hirohman nirohim, adiba anakku, Sudah cukup pengorbananmu pada laki yang pernah dekat dengan ALLOH, Adiba. Tak perlu kau paksa dirinya berubah baik karena dirinya berhak menentukan hidupnya sendiri. Untuk berubah baik itu dari diri sendiri bukan paksaan darimu. Mencintai itu bukan menyakiti perasaan pasangannya tapi melindungi pasangannya dan tak mempermalukan diri pasangan di depan banyak orang. Apa dia bersikap demikian padamu, nak ?. Ingat, tidak ada seorang pun perempuan Islam yang rapuh meski perasaannya disakiti, anakku. Alloh dan abu ummu amat sangat menyayangimu , Adiba anakku".
Eamm Hassan pun menjawab...
" Adiba, memang benar jika ALLOH menerapkan aturan kita sebagai sesama orang Islam harus saling mengingatkan jika ada yang khilaf hidup melanggar aturan Alloh, namun bukan berarti kita tunduk menuruti ancaman bodoh".
"Apa maksud ancaman bodoh, eamm Hassan ".
" Ancaman bodo seperti.... Saya tidak mau hidup baik jika kamu meninggalkan saya... Atau... Kamu sudah janji menjadikan saya baik tapi kamu meninggalkan saya.. ancaman bodoh ini membuat kita merasa bersalah dan ingin selalu mempertahankan hubungan yang tidak sehat secara Islam, Adiba. Jika kita menuruti ancamannya itu tidak membuatnya hidup menjadi baik tapi malah membuat dia menjadi semena-mena. Jika kita di hadapkan pada orang yang demikian, maka kita harus ambil sikap tegas untuk tidak terlalu dekat berhubungan dengan orang tersebut. "