Acasha Agape
Acasha Agape merupakan seorang yatim setelah Alva Addi, Ayah Kandungnya meninggal dunia, karena terkena penyakit kanker darah atau leukimia.
Sel-sel di sumsum tulang Ayahnya tidak berkembang dengan normal, karena sel darah putih normal yang seharusnya akan mati, sel leukemia terus hidup, tetapi tidak membantu tubuh melawan infeksi dan malah menekan perkembangan sel-sel darah lain.
Athena Bellansha
Ella terpaksa berhutang ke rentenir demi bisa menyelamatkan nyawa Alva Addi, Suaminya. Ella awalnya hanya meminjam lima ratus juta saja, tapi ternyata bunganya naik terus-menerus, tidak sesuai dengan kesepakatan di awal yang hanya 0,5% dari lima ratus juta, yaitu sekitar dua juta lima ratus ribu.
Kesepakatan di awal, hanya sekali bunga yaitu 0,5% namun saat Ella menyicilnya, hutangnya menjadi satu milyar rupiah, karena keputusan dari Lucas.
Ella bekerja dari pagi, hingga larut malam, untuk melunasi hutangnya, namun saat jatuh tempo pelunasan hutang, uang Ella belum cukup terkumpul, yang membuatnya dipukuli oleh para debt Collector.
Aca yang baru pulang dari kantor langsung berlari menyelamatkan Ibunya.
Lucas Philotra
Melihat kaki putih, mulus Aca membuat Lucas terkesima.
Lucas menarik tangan Aca dan mengajaknya untuk bernegosiasi.
"Saya akan membebaskan Kamu dan Ibumu dari semua hutang dan bunganya asal Kamu mau menuruti syarat yang saya berikan pada Kamu," ucap Lucas.
"Apa syaratnya?" tanya Aca menatapnya.
"Sini!" pinta Lucas pada Aca.
Lucas membisikkan syarat yang diajukan pada Aca, agar Aca bisa terbebas dari segala hutang yang ada.
"Bagaimana?" tanya Lucas.
Aca terdiam sejenak memikirkan tawaran dari Lucas.
"Sebenarnya, aku masih mencintai Deryl, walaupun Deryl bukan kekasihku, hanya sebatas gebetanku semata, tapi Deryl sudah memiliki Wanita Idaman Lain ..."
"... Deryl saja bisa hidup tanpa aku, kenapa aku harus tidak bisa hidup tanpa Dia? Lagipula, jika aku menerima tawaran Lucas, aku bisa berhenti dari pekerjaan ku, tapi enggak deh! ..."
"... Aku gak mau! Aku yakin, masih ada cara lain untuk melunasi segala hutangnya, tanpa harus mengikuti syarat yang Lucas berikan," batin Aca.
"Hei! Kenapa diam saja?" tanya Lucas memetikkan jari di depan wajahnya.
"Maaf, aku tidak bisa menerima syarat yang Kamu berikan itu, aku berjanji, aku akan melunasi hutang Ibuku, tanpa harus memenuhi persyaratan yang Kamu ajukan itu," ucap Aca menatapnya.
"Sombong sekali Kamu! Oke baiklah! Jika hal itu yang Kamu inginkan," jawab Lucas memberikan isyarat pada Anak Buahnya untuk pergi dari sana.
Deryl Hector
Deryl dan Aca sudah saling mengenal sejak kecil. Sekolah Dasar Aca dan Deryl pada saat itu bersebelahan, tetapi Aca merupakan Kakak Kelas Deryl.
Deryl dan Aca kembali bertemu di Sekolah Menengah Kejuruan yang kembali berdekatan juga.
Classica Clein
Ica mendorong Aca sewaktu berada di kantin, hingga hampir menabrak Deryl.
Deryl yang sudah lama memendam rasa cintanya pada Aca pun meminta nomornya.
Hubungan keduanya semakin dekat, namun Deryl tidak berani untuk mengungkapkan perasaannya pada Aca.
Deryl yang nampaknya paham akan perasaan Aca pun sedikit mundur dari Aca.
Deryl melihat Aca sedang ribut dengan seorang Pria, namun Deryl tidak tahu, jika Pria itu merupakan Abang Sepupu Aca yang bernama Derma Dorymene.
Aca melihat Deryl sedang bersama dengan seorang Wanita yang membuatnya cemburu, dan akhirnya selalu menghindar dari Deryl.
Semenjak saat itu, Aca semakin frustasi, karena memikirkan kisah percintaannya dengan Deryl, dan juga hutang Ibunya.
Aca mencari kerja tambahan di media sosial dan melihat lowongan pekerjaan sebagai Lady Companion atau yang bisa disebut dengan LC.
Aca awalnya terlihat ragu akan hal itu, namun karena Aca membutuhkan kerja tambahan, akhirnya Aca mendatangi tempat itu, dan diterima kerja sebagai salah satu LC, karena bentuk tubuh Aca yang sesuai dengan kriteria yang diinginkan.
Pagi harinya Aca bekerja sebagai waiter, sedangkan malam hari, hingga pukul tiga pagi sebagai seorang LC.
Ibunya yang jarang pulang, karena juga sibuk bekerja mengumpulkan uang untuk membayar hutang pun tidak tahu, jika Aca bekerja sebagai seorang LC di malam harinya.
Aca membayar cicilan hutangnya tiap bulan, namun Lucas yang nampaknya sengaja, membiarkan hutang Aca tetap berjumlah satu milyar, walaupun Aca sudah membayarnya lima kali dari jumlah yang biasa Ibunya bayarkan.
"Kenapa hutangku tetap segitu sih? Kan selama ini aku sudah mencicil hutangku!" ucap Aca kesal.
"Semua atas perintah Bos Besar," jawab Debt Collector.
Lucas turun dari dalam mobilnya dan berjalan menghampiri Aca.
"Aku akan melakukan apapun, agar Kau mau menerima syarat yang aku ajukan padamu dulu," ucap Lucas tersenyum miring menatapnya.
"Tapi itu tidak adil!" jawab Aca menatapnya.
"Tidak ada yang adil di dunia ini, Acha! jika adil yang Kamu maksud adalah tentang uang, maka lihatlah sekelilingmu! Ada orang mampu dan tidak mampu! Keadilan macam apa yang Kamu maksud kan itu Nona?" tanya Lucas tersenyum miring menatapnya.
Mendengar hal itu, sontak membuat Aca terdiam menahan emosinya.
"Kamu pikirkan saja dulu baik-baik tawaran dariku itu, ini kartu namaku, jika Kamu sudah yakin dengan keputusanmu, hubungi aku! Aku akan tunggu jawaban darimu!" ucap Lucas tersenyum dan pergi meninggalkannya dengan mengajak para Anak Buahnya.
"Aku harus apa sekarang? Dia tidak mungkin membiarkanku untuk bisa melunasi hutangku itu. Semakin banyak uang yang aku keluarkan untuk membayar hutang-hutang ku, semakin rugi aku, karena nyatanya, semua itu tidak dianggap olehnya ..."
"... Kenapa takdirku harus berakhir seperti ini Ya Allah? Kenapa Engkau memberikan ku pilihan yang sulit seperti ini? Jika aku tidak menerima tawaran darinya, sampai aku dan Ibu menghembuskan nafas terakhir juga hutang-hutang itu tidak akan bisa lunas, kalau Dia menginginkan sesuatu dariku ..."
"... Aku tahu, jika aku sudah mengambil jalur yang salah dengan menjadi Wanita Penghibur, tapi aku terpaksa melakukannya untuk melunasi hutang-hutang Keluarga ku ..."
"... Aku mohon, berikanlah aku petunjuk-Mu. Jika memang itulah takdir yang terbaik untukku, maka kuatkan aku, dan yakinkan aku untuk mengambil keputusan itu, karena sungguh, aku tidak ingin mengambil jalan yang salah akan hal itu ..."
"... Aku mohon, bantulah aku! Bantulah aku dalam memilih takdirku! Aku percaya padamu, aku serahkan semuanya kepadamu, jika memang itulah yang terbaik untuk ku, aku akan belajar untuk menerimanya ..."
"... Walaupun rasanya berat sekali untuk diterima, mengingat hatiku yang masih tertaut pada Deryl, namun hati Deryl tidak terhubung denganku ..."
"... Aku mencintainya, tapi nyatanya Dia tidak mencintaiku. Dia mencintai seorang Wanita, namun Wanita itu ternyata bukanlah diriku," ucap Aca menghapus air matanya.
Tawaran apa yang sebenarnya Lucas ajukan pada Aca? yang akhirnya membuat Aca selalu menolak tawarannya.
"Siapa ya itu cewek? Cantik banget! samperin ah!" batin Deryl saat melihat seorang Perempuan yang ada di depannya.
"Hai," panggil Deryl, karena tidak tahu siapa nama Perempuan itu.
"Oh hai!" ucap Dia yang nampak kebingungan.
"Boleh kenalan?" tanya Deryl.
"Boleh!" jawab Aca tersenyum menganggukkan kepala.
"Aku Deryl Hector, panggil aja Deryl, nama Kamu siapa?" tanya Deryl.
"Acasha Agape, panggil aja Aca," jawab Aca tersenyum menatapnya.
"Kamu kelas berapa? Kok aku gak pernah lihat Kamu ya di sini?" tanya Aca.
"Aku gak sekolah di sini, aku sekolah di SD sebelah," jawab Deryl tersenyum menatapnya dan menunjuk sekolahnya yang tepat berada di sampingnya.
"Oh... Dari SD 03," ucap Aca menganggukkan kepala.
"Iya, Kamu kelas berapa?" tanya Deryl menatapnya.
"Aku kelas lima, Kamu?" tanya Aca.
"Aku kelas empat," jawab Deryl.
"Berarti lebih tua aku sama Kamu," ucap Aca.
"Iya!" jawab Deryl tersenyum menganggukkan kepala.
"Ya udah, aku duluan ya!" ucap Aca.
"Iya!"
Aca pergi bersama Ica temannya, sedangkan Deryl senyam-senyum sendiri dibuatnya.
Bel pulang sekolah berbunyi, Aca yang baru ke luar dari sekolahnya, sudah dihampiri oleh Deryl yang sedari tadi menunggu di depan sekolah Aca.
"Aca," panggil Deryl mengangkat tangannya.
Aca yang mendengar pun langsung mencari asal suaranya.
Aca yang melihat Deryl, segera menghampirinya.
"Lu balik duluan aja! Gw ada urusan!" ucap Aca yang langsung berlari meninggalkan Classica.
"Yeh! Dasar! Dapat cowok aja gw ditinggal!" gerutu Ica.
Ica pun pulang terlebih dahulu meninggalkan Aca.
"Ada apa Deryl?" tanya Aca menghampirinya.
"Pulang bareng yuk!" ajak Deryl.
"Ayok!" jawab Aca tersenyum.
"Yes! Akhirnya! Dengan begitu, gw jadi tahu, di mana rumah Aca!" batin Deryl menatapnya.
"Kenapa?" tanya Aca menatapnya kebingungan.
"Gak apa-apa kok!" jawab Deryl tersenyum menggelengkan kepalanya.
Setelah beberapa langkah berjalan, Mereka tiba di rumah Aca.
"Mau mampir dulu gak?" tanya Aca menatapnya.
"Boleh," jawab Deryl tersenyum menganggukkan kepala.
Aca membuka pintu pagarnya dan mengajak Deryl untuk masuk ke dalam rumahnya.
"Siapa Dia?" tanya Ayahnya.
"Dia teman aku," jawab Aca ketus.
"Ke kamar aku aja yuk!" ajak Aca menarik tangan Deryl.
Setibanya di kamar, Deryl menanyakan siapa Pria tadi.
"Tadi itu Ayahmu ya?" tanya Deryl.
"Iya, itu tadi Ayahku," jawab Aca menundukkan kepalanya.
"Kamu kelihatannya kayak gak akur gitu deh sama Ayah Kamu, ada masalah apa?"
"Gak apa-apa kok!" jawab Aca menggelengkan kepalanya.
"Hm... Ya sudah, kalau Kamu gak mau menceritakannya padaku tak apa."
"Iya!"
"Hm Aca, aku langsung balik ya, takut Ibu aku nyariin aku!" ucap Deryl tersenyum menatapnya.
"Oke!" jawab Aca mengantarkan Deryl ke depan.
Baru saja Deryl pergi dari rumahnya, Ayahnya menghampirinya.
"Aca, ikut Papa!" pinta Ayahnya yang langsung menarik tangan Aca.
Aca berusaha melepaskan diri, namun tidak bisa.
Alva membawa Aca ke sebuah hotel mewah.
"Papa mau apa?" tanya Aca panik.
"Udah diam saja! Nanti Kamu juga akan tahu dengan sendirinya kok!" jawab Ayahnya.
Alva mengajak Aca ke salah satu kamar hotel dan bertemu dengan seorang Pria paruh baya.
"Aca, Kamu tunggu di sini sebentar, Papa mau ngomong sama Om ya!" ucap Ayahnya tersenyum mengelus pundak Aca.
"Enggak Pah! Aca gak mau di sini Pah!" jawab Aca menggelengkan kepalanya dan nampak ketakutan.
Alva dan Pria paruh baya itu ke luar dengan menutup pintunya, sedangkan Aca menunggu di dalam kamar hotel.
"Jadi itu Anak Kamu?" tanya Pria itu.
"Iya!" jawab Alva.
"Cantik juga! Oke! Baiklah! Sesuai dengan kesepakatan Kita diawal, jika hutang Kamu akan aku anggap lunas, tinggalkan Kami berdua dulu, nanti baru Kamu balik lagi untuk menjemputnya, oke!"
"Oke!"
Alva pergi meninggalkan Aca bersama dengan Pria paruh baya itu. Pria paruh baya itu masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu kamarnya.
"Papa mana? Kenapa pintunya dikunci?" tanya Aca.
"Papa Kamu lagi ada urusan sebentar, Kamu main sama Om saja ya!" ucap Pria itu berusaha mendekatinya.
"Gak mau!" teriak Aca yang berusaha untuk terus melawannya, namun akhirnya tubuh kecilnya kalah, dan akhirnya Mereka pun bermain.
Beralih pada Alva, setelah meninggalkan anaknya begitu saja, Alva pergi ke suatu tempat untuk bertemu teman-temannya.
Ternyata Alva merupakan seorang pen ju di, dan Aca sebagai bayarannya, karena Alva sudah tidak bisa lagi untuk membayarnya.
Aca terpaksa bermain dengan Pria paruh baya itu dengan terus berusaha berteriak dan melawannya. Air matanya jatuh menetes, karena tidak bisa melakukan apapun.
Rupanya ini bukan pertama kalinya Alva melakukan hal itu padanya yang membuat Aca tadi menjawab pertanyaan Alva dengan ketus, karena Ia sangat membencinya.
Pria itu meninggalkan Aca begitu saja seorang diri di dalam kamarnya.
Pria itu menghubungi Alva untuk menjemput Aca, karena Ia sudah selesai bermain dengan Aca.
"Jemput Anak Lu tuh! Gw udah selesai mainnya sama Dia!" notifikasi WhatsApp dari Pria paruh baya itu.
"Oke!" jawab Ayah Aca.
Aca duduk termenung dan terus meneteskan air matanya mengenang nasib buruknya.
"Kenapa Papa se-tega itu padaku? Hingga berulangkali Ia menjadikan ku sebagai pelunasan hutang ju di-nya. Apa salahku sebenarnya? Aku sering sekali memberitahukan hal ini pada Mama, namun Mama selalu menganggap itu hanyalah sebuah lelucon semata, padahal itu nyata adanya ..."
"... Mama selalu membela Papa, dan bahkan Mama selalu menampar pipiku disaat aku mengatakan sesuatu hal yang buruk tentang Papa, padahal aku hanya ingin terbebas dari semua ini ..."
"... Aku berharap Mama bisa menghentikan Papa, namun kenyataannya, malah aku lagi yang salah, padahal aku di sini adalah korbannya, tetapi mengapa, seolah aku adalah pelakunya ..."
"... Mama selalu marah saat aku berani melawan Papa, padahal Papa dengan teganya menjadikanku sebagai pelunasan semua hutangnya ..."
"... Apakah seumur hidupku harus seperti ini Ya Allah, aku lelah! Aku juga ingin hidup bahagia dan tenang, sama seperti Anak-anak se-usia ku, namun mengapa, Engkau tidak mengizinkannya? Apa salahku, Ya Allah?" tanya Aca menangis tersedu-sedu memeluk dirinya sendiri.
Aca berulangkali menghapus air matanya, namun berulangkali juga air matanya menetes.
Aca menatap tubuhnya yang terlihat memperihatinkan setelah bermain dengan Pria paruh baya tadi.
Sekujur tubuhnya memerah. Aca harus menahan perih di sekujur tubuhnya, dan juga perih di dalam hati dan pikirannya.
Ayah yang katanya cinta pertama bagi seorang Anak Perempuan, malah justru menjadi perusak mental pertamanya.
Mental Aca hancur, karena perbuatan Ayahnya yang semena-mena pada dirinya itu.
"Mengapa aku harus diberikan Papa yang berbeda seperti itu? Alih-alih menjadi pelindungku, justru malah merusak mentalku," ucap Aca meneteskan air matanya dan memejamkan matanya.
Aca mengingat saat pertama kali dirinya menjadi jaminan pelunasan hutang ju di Bapaknya.
Kala itu, Aca baru pulang sekolah dengan seragam yang basah kuyup, karena hujan deras, disertai petir, dan angin kencang.
Pria yang duduk bersama Bapaknya nampak terkesima melihat tubuh Aca yang kala itu terlihat jelas lekukan pinggangnya.
Walaupun saat itu Aca masih duduk di bangku kelas 4 sekolah dasar, tapi bentuk tubuhnya berbeda dari Anak-anak se-usia dirinya.
Tingginya kala itu sudah 145 CM, dan berat 45 KG. Berat dan tinggi badan Aca sudah seperti Wanita Dewasa, padahal, kala itu usia-nya baru menginjak 11 tahun.
"Itu Anak Lu?" tanya Teman Ayah Aca, Kita sebut saja Bagas.
"Iya, gimana? Cantik kan?" tanya Ayah Aca.
"Hm cantik sih! Berapa emang umurnya? Lagi cosplay jadi anak SD ya? Kok pakai seragam SD?" tanya Bagas.
"Cosplay lagi! Bukan! Coba tebak! Berapa umurnya?"
"Kalau dilihat dari badannya sih, kayak Cewek usia 17 tahun deh!"
"Salah!"
"Terus berapa dong?"
"Umur Dia baru 11 tahun."
"Hah? 11 tahun? Gak salah?"
"Ya enggak lah! Kan Dia, Anak Gw! Yakali salah!"
"11 tahun berarti masih SD dong?"
"Ya Lu kagak liat rok-nya apa?"
"Liat sih! Tapi kayak gak masuk akal aja gitu! Masa anak 10 tahun bentuk badannya kayak gitu!"
"Dia suka ngemil, tapi gak suka nasi, makanya kayak gitu tuh badannya!"
"Balik ke topik, jadi kapan Lu melunasi hutang-hutang Lu hah?" tanya Bagas.
"Apa Lu suka sama Anak Gw?" ucap Alva yang malah balik bertanya pada Bagas.
"Gw nanya, kenapa Lu malah nanya balik?" tanya Bagas kesal.
"Pertanyaan gw adalah jawaban Lu!" jawab Alva tersenyum menatapnya.
"Maksud Lu gimana?" tanya Bagas yang terlihat kebingungan.
"Itu bayarannya! Masa masih gak ngerti juga sih, Lu?" tanya Alva yang nampak kesal.
"Jadi Lu mau menjadikan anak Lu sebagai pelunasan hutang, Lu?"
"Benar sekali! Sana! Mumpung Dia habis hujan-hujanan!"
"Wahh...! Gila banget, Lu! Masa Anak sendiri Lu korbankan sih? Tapi beneran gak nih? Kalau beneran ya gw mau-mau aja! Walaupun gw gak suka Bocah, tapi badan Dia kayak bukan bocah."
"Ya kalau Lu mau, sana! Ayok! gw antar Lu ke kamarnya!" ajak Alva yang mengarahkannya untuk mengikutinya.
Bagas pun mengikuti Alva untuk pergi ke kamar Aca.
"Aca, buka pintunya, Nak!" pinta Ayahnya mengetuk-ngetuk pintunya.
"Iya, Pah!" jawab Aca membukakan pintunya.
Aca sedari tadi sedang mencari baju gantinya, dan masih mengenakan seragam sekolahnya yang basah kuyup.
"Kenapa, Pah?" tanya Aca yang berdiri di hadapan Mereka.
Alva dan Bagas langsung masuk ke dalam kamar Aca dan mengunci pintunya.
"Ada apa, Pah?" tanya Aca yang perlahan mundur sedikit demi sedikit.
Alva memberikan isyarat pada Bagas dengan tersenyum miring mengernyitkan dahinya.
Aca mulai nampak ketakutan, hingga akhirnya Ia sampai di ujung ranjang dan terduduk di ranjang.
Alva langsung mengangkat kedua tangannya, hingga Aca berbaring, sedangkan Bagas membuka rok dan kancing baju Aca.
"Gw gak tega sama nih Anak!" ucap Bagas menggelengkan kepalanya dan nampak merasa bersalah.
"Papa mau apa?" tanya Aca yang pucat karena ketakutan.
"Jadi Lu gak mau mulai duluan nih?" tanya Alva menatapnya.
"Enggak! Gw gak tega! Kalau Lu tega, ya Lu aja! Gw gak mau mulai duluan!" jawab Bagas menggelengkan kepalanya.
Alva melepaskan tangan Aca dan membuka resleting celananya.
Aca yang tidak mengerti apapun, hanya terdiam melihatnya, terlebih yang berdiri di hadapannya itu Ayah Kandungnya sendiri.
"Ahh ...!" teriakan Aca terdengar sangat nyaring yang membuat Bagas memejamkan matanya.
Bagas nampaknya masih memiliki hati nurani, berbeda dengan Alva yang tega memakan Anaknya sendiri.
"Ahh ...!" lenguhan Alva menghiasi suasana kamar yang menegangkan.
Aca yang merasa kesakitan, terus berusaha melepaskan diri, dan air matanya terus menetes, karena nasibnya di hujan kala itu.
"Sini Lu!" ajak Alva memanggil Bagas yang nampak tertekan, hingga tubuhnya gemeteran.
Bagas duduk diatas meja belajar dan nampak tidak tega pada Aca.
Alva yang terus sengaja bermain di depan mata Bagas yang akhirnya Bagas terlena, walaupun sebenarnya hatinya juga merasa bersalah pada Aca.
Mengingat hal itu, badan Aca gemeteran, dan air matanya terus menetes.
"Jika benar Ayah adalah cinta pertama bagi Anak Perempuannya, namun mengapa tidak denganku? Bahkan Ayahku sendiri yang tega membuatku mengalami trauma Medusa terus-menerus ..."
"... Aku tidak tahu apa yang diinginkan oleh takdir padaku, hingga harus sedalam ini luka dan trauma yang harus aku terima. Aku dipaksa dewasa sebelum waktunya ..."
"... Disaat Anak-anak se-usia ku sedang bahagia-bahagianya bermain, justru aku malah sedang menangis sejadi-jadinya, hanya karena perbuatan Papa terhadapku ..."
"... Aku hanya bisa berharap, dan terus berharap, hingga akhirnya, Medusa pergi dengan sendirinya meninggalkan ku. Entah sampai kapan, aku harus hidup berdampingan dengan Medusa ..."
"... Tapi semoga saja, ada hal baik di depan sana, yang akan membuatku bisa mengatakan "inilah yang aku tunggu selama ini!" dan entah kapan," ucap Aca tertawa dengan air matanya yang menetes.
Aca terdiam sejenak dan menertawakan dirinya sendiri.
"Sekarang, siapa Pria yang mau menerimaku nantinya? Pasti nanti, Orang-orang bilang aku murahan, segala macamnya, padahal aku menjadi seperti ini, karena ulah Ayah Kandungku sendiri ..."
"... Deryl, aku berharap, suatu saat, Kamu akan datang untuk menyelamatkanku dari Ayah Kandung ku sendiri, atau semoga saja, takdir berpihak padaku, dengan menjauhkan ku dari Ayah Kandung ku sendiri ..."
"... Ya Allah, ini happy ending kan? Atau justru malah sad ending? Jika Medusa tetap bersamaku sampai aku tutup usia, aku lebih memilih mempercepat usiaku, daripada aku terus-menerus dihantui oleh rasa trauma ku ..."
"Ya Allah, aku mohon, akhiri penderitaan ku secepatnya, aku lelah! Aku lelah terus-menerus dihantui oleh bayang-bayang Medusa! AKU JUGA BERHAK BAHAGIA KAN?" tanya Aca tersenyum meneteskan air matanya.
Aca tersenyum dan menghapus airmata yang terus membanjiri pipinya itu.
Aca tiba-tiba menampar pipinya sendiri dan memukul-mukul tubuhnya sendiri.
"Ahh ...!" teriak Aca yang nampak kesal.
"Aku membenci diriku sendiri yang bahkan tidak bisa berbuat apapun untuk menolong diriku sendiri! Mengapa aku begitu bodoh? Mengapa?" tanya Aca berteriak kencang dan langsung menunduk, memejamkan matanya.
Airmatanya kembali menetes walaupun dengan matanya yang terpejam.
"Ya Allah, tolong aku! Tolong selamatkan aku! Tolong hadirkan Pria yang bisa menyembuhkan segala luka dan traumaku terhadap Ayah Kandung ku sendiri! Aku tahu ini salah, tapi aku mohon, cabut nyawaku, atau cabut nyawa Ayah Kandung ku! Aku sudah tidak sanggup lagi hidup dengan semua ini!" ucap Aca menangis sesenggukan.