Cindy…!"
Teriakan yang terdengar jelas dari kamar Misyel. Adik tiri Cindy yang bermuka dua jika berada di hadapan sang ayah. Cindy pun segera berlari ke arah kamar Misyel setelah mendengar teriakkan sang adik tiri.
"Ada apa Syel?"
"Kamu masih tanya ada apa?" pekik Misyel. Cindy menatap Misyel yang tengah menggenggam gaun biru di tangannya. "Apa kamu sengaja mengotori gaun yang akan aku pakai malam ini hah! Aku sudah bilang jangan menyentuh barang-barangku tanpa seizinku."
"Aku hanya mengantungnya sesuai perintahmu tadi pagi."
"Kamu bohong, kamu pasti sudah mencoba baju ini di tubuh kotormu itu kan? aku tahu kamu sangat iri dengan perhatian papah untukku? karena itu kamu sengaja merusak acaraku."
"Sedikitpun aku tidak pernah merasa iri padamu Syel."
"Heh, dasar menjijikkan."
"Ada apa ribut-ribut?" tanya Sonya yang tak lain adalah ibu Misyel.
Misyel seketika berubah dan bergelayut manja pada ibunya. "Mah, liat gaunku ini, anak kotor ini sudah mengotori gaun yang akan aku pakai malam ini di pesta ulang tahun temanku," ucap Misyel dengan suara manja pada ibunya.
Sonya menatap dan mengelus pipi Misyel dengan lembut. "Coba sini mamah lihat sayang," ucapnya. Ia mengambil gaun di tangan putrinya dan melihat gaun yang sudah kena sedikit noda itu, ia langsung menyunggingkan senyuman sinis kearah Cindy. Meski noda tersebut tidak terlalu terlihat, namun itu cukup untuk menjadikan sebuah alasan untuk menyalakan Cindy.
Plakkk!
Sonya memberikan tamparan di pipi mulus Cindy, "Apa kamu sedang mencari masalah, beraninya kamu membuat gaun Misyel kotor seperti ini,"
"Bu aku minta maaf, tapi aku tidak mengotorinya. Lagipula kotorannya tidak terlalu terlihat," jawab Cindy yang masih mengelus pipinya yang sakit karena tamparan tadi.
"Aahhh," rintih Cindy saat rambutnya di tarik Sonya. "Kamu masih mengelaknya? cepat bersihkan sebelum aku menghukum kamu lebih berat," ucap Sonya sambil melepas rambut Cindy dan menyodorkan gaun di tangannya.
Cindy keluar dari kamar Misyel sambil membawa gaun biru tersebut untuk di bersihkan. Air matanya mulai mengalir membasah pipi mulusnya. Ia langsung mencuci bagian yang kotor dan mengeringkannya dengan hairdryer, kemudian menggantungnya kembali di kamar Misyel.
"Apa yang kamu lakukan di kamarku?" ucap Misyel yang sudah berdiri di ambang pintu.
"Aku hanya menaruh gaunmu. Tadi aku melihat pintunya terbuka jadi aku masuk kedalam untuk menyimpannya."
"Sudah, sudah pergi sana. Cepatlah keluar dari kamarku." Cindy pun hendak keluar dan melewati Misyel yang tengah berkacak pinggang di ambang pintu.
Brug!
Cindy tersungkur ke lantai karena tersandung kaki Misyel. "Makannya kalau jalan, pakai tuh mata," ucap Misyel menyeringai sambil berlalu masuk kamar.
Braaakk!
Misyel menutup pintu dengan keras. Sementara Cindy berusaha bangun dari jatuhnya dan menatap pintu kamar Misyel yang tertutup sambil bergumam dalam hati. "Ibu aku merindukanmu, aku merasa lelah dengan keadaan ini. Bu, kenapa aku terlalu lemah dan tak mampu melawan?" Cindy menyeka air matanya dan berlalu.
Terdengar pintu gerbang terbuka dan tak lama suara mobil pun terdengar memasuki garasi. Cindy menatap arah garasi yang terlihat jelas dari jendela dapur, ia melihat pria paruh baya yang keluar dari dalam mobil tersebut. Seorang pria yang menjadi alasan dia tetap bertahan berada di dalam rumah bersama ibu dan adik tirinya. Dia adalah Rudi, ayah kandung Cindy.
Cindy tersenyum saat sang ayah menoleh ke arah jendela dapur dan tersenyum kearahnya, kemudian ia kembali melanjutkan kegiatan memasaknya, setelah sang ayah masuk ke dalam rumah. Masakan hampir selesai, Cindy mulai menata makanan di meja saat semua orang sudah berkumpul, dan mereka pun menikmati makanan bersama.
"Emmm, masakan mba Cindy pokoknya the best deh," ucap Misyel. Ia tersenyum sambil mengacungkan jempolnya ke arah Cindy, namun Cindy hanya tersenyum untuk membalas ucapan Misyel.
"Pah, selesai makan nanti Misyel mau ijin keluar ke acara ulang tahun teman. Bolehkan pah?" ucap Misyel.
"Tentu boleh sayang. Yang penting pulang tepat waktu dan jaga diri baik-baik."
"Tenang saja pah. Mba Cindy mau ikut juga nggak?"
Cindy menoleh ke arah Misyel yang saat ini wajahnya bagaikan kucing anggora yang imut. "Tidak Syel. Mba lebih betah di rumah."
"Sekali-kali pergi keluar kan bagus juga sayang, bisa buat refreshing pikiran," ucap Sonya.
"Sudahlah, kalian jangan memaksa Cindy. Mungkin dia sedang tidak ingin keluar malam ini." Rudi mencoba melerai istri dan anaknya.
Cindy berdiri dari duduknya dan mengangkat piring bekas makannya yang sudah kosong, ia berlalu ke arah dapur. Tak berapa lama saat ia tengah mencuci piring, Misyel datang menghampirinya. "Seharusnya kamu bersedia ikut denganku agar bisa aku permalukan di depan taman-tamanku nanti," ucap Misyel.
Cindy hanya melirik sekilas kearah adik tirinya. Ia pun sudah sangat hafal dengan basa-basi mereka di depan sang ayah. Mana mungkin Misyel serius mengajaknya untuk keluar, semua itu semata-mata hanya untuk kedok mereka di hadapan Rudi.
Misyel meletakkan piring di tempat cuci piring, dengan sengaja ia mengambil sabun cuci piring dan mengoleskannya ke wajah Cindy. "Cuci piring yang bersih ya mba Cindy sayang, hahaha," ucap Misyel kembali dan langsung berlalu meninggalkan dapur. Sementara Cindy hanya mendengus kesal.
Semua pekerjaan di dapur sudah selesai. Cindy hendak masuk kedalam kamarnya, namun langkahnya terhenti saat melihat sang ayah yang duduk murung di depan televisi. Ia pun menghampiri ayahnya.
"Pah, papah baik-baik saja?" tanyanya sambil menghampiri sang ayah.
"Papah baik-baik saja Cindy."
"Papah tidak bohong kan?"
Rudi menatap Cindy kemudian menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. "Istirahatlah sayang, ini sudah malam. Kamu pasti sangat lelah bukan?"
"Cindy tidak merasa lelah selama Cindy bisa melihat papah tersenyum."
"Percayalah, papah baik-baik saja."
"Cindy akan masuk kamar dan beristirahat jika papah juga pergi beristirahat sekarang."
"Hmmm. Baiklah, papah akan ke kamar dan beristirahat. Kamu memang tidak jauh beda dengan mamahmu dulu." Cindy tersenyum mendengar ucapan sang ayah. Mereka akhirnya melangkah ke kamar masing-masing.
Seperti biasa, di pagi hari Cindy selalu bangun pagi membereskan rumah dan menyiapkan sarapan untuk semua anggota keluarganya. Sonya menghampiri Cindy yang tengah memasaknya di dapur. "Apa yang kamu katakan semalam dengan ayahmu?" tanyanya.
"Tidak ada mah."
"Dengar aku baik-baik Cindy. Aku tidak suka kamu mencari perhatian yang berlebihan pada ayahmu, apalagi kamu berani berkata buruk tentang aku dan Misyel."
"Aku tidak akan pernah melakukan hal itu mah. Selama papah bahagia bersama mamah, aku akan selalu menurut sama mamah."
"Bagus. Jika kamu berani macam-macam, kamu tahu sendiri akibatnya."
Ding dong
Suara bel pintu terdengar di pagi hari. "Siapa pagi-pagi seperti ini datang bertamu, apa dia tidak melihat ini jam berapa sekarang?" gerutu Sonya sembari melangkah meninggalkan dapur.
"Siapa pagi-pagi seperti ini datang bertamu, apa dia tidak melihat ini jam berapa sekarang?" gerutu Sonya sembari melangkah meninggalkan dapur.
Sonya membuka sedikit tirai jendela untuk melihat siapa orang yang sepagi ini sudah berdiri di pintu gerbang rumahnya.
"Pak Haris?" gumamnya. Ia bergegas membuka pintu rumah dan berlari membuka gerbang. "Selamat pagi pak Haris?" sapanya.
"Hmmmm." jawaban datar dari pemilik tubuh tinggi besar tersebut.
"Mari masuk pak." Sonya mempersilahkan orang yang bernama Haris tersebut untuk masuk kedalam rumahnya. Dia adalah tangan kanan keluarga Adam, keluarga kaya raya dan terpandang di kota tersebut.
"Silahkan pak, saya akan membuatkan teh hangat dulu dan memanggil suami saya."
"Aku datang untuk melihat anak gadismu. Segera panggil dia kemari."
"Ba-baik pak." Dengan langkah tergesa-gesa, Sonya melangkah menuju kamar anaknya dan langsung membuka pintu kamar. "Dasar anak manja. Sayang cepat bangun,"
"Emmm, ada apa sih mah? ini kan masih pagi banget."
"Kalau kamu tidak segera bangun, maka kamu akan kehilangan kesempatan menjadi menantu orang terkaya di kota ini."
"Maksud mamah? apa pria kaya itu sudah menyuruh anak buahnya datang kemari untuk menjemputku?"
"Jangan banyak bicara. Cepat rapikan penampilanmu, atau kita akan mengecewakannya."
Mendengar ucapan ibunya, seketika mata Misyel terbuka lebar. Ia segera bangun dan cepat-cepat merapikan rambutnya. Mereka berdua segera ke ruang tamu menemui Haris.
"Jadi ini anak gadismu?"
"Iya, pak," jawab Sonya. Ia langsung menyenggol bahu anaknya dengan bahunya, seakan menyuruh Misyel melakukan sesuatu.
"Selamat pagi pak. Maaf semalam saya kerja lembur jadi kesiangan," ucap Misyel. Dia memang orang yang pandai berbohong. Mana mungkin dia kerja lembur, yang ada pulang dari pesta temannya menjelang pagi.
Haris menatap Misyel dari atas sampai bawah. "Kamu sama sekali tidak pantas berdampingan dengan tuan Brian, apalagi untuk menyandang status sebagai istrinya," ucapnya yang langsung berdiri dari duduknya.
"Ta-tapi pak Haris. Mungkin anda bisa memikirkannya lagi, dan tuan Brian juga kan belum melihat putri saya."
"Kalau aku saja melihatnya tidak pantas. Lalu apa menurutmu pendapat tuan Brian hah!"
"Ma-maaf tuan." Suara lantang Haris membuat Sonya dan Misyel tertunduk takut. Haris hendak melangkah keluar, namun langkah kakinya terhenti saat melihat Cindy yang lewat sambil membawa sekeranjang pakaian kotor.
"Siapa kamu," tanya Haris sambil menatap Cindy tajam.
"Saya tuan?" ucap Cindy lirih.
"Pak Haris. Dia hanya seorang pembantu di keluarga kami," jawab Sonya cepat sebelum Cindy menjawabnya. Cindy mengernyitkan dahinya, hatinya seperti teriris mendengar ucapan ibu tirinya.
"Saya permisi tuan," ucap Cindy sopan dan langsung berlalu. Tanpa mengucapkan sepatah katapun Haris pun meninggalkan rumah tersebut.
"Mah, bagaimana ini?"
"Diamlah. Aku akan membujuk nyonya Margaretha agar mereka jadi memilihmu sebagai menantu bayaran keluarga Adam."
"Siapa tadi mah?" tanya Rudi.
"Papah ini dari mana saja sih? dari tadi nggak kelihatan?"
"Papah habis mandi mah, kan mau berangkat ke kantor. Memang ada apa?"
"Tadi ada pak Haris datang kemari."
"Pak Haris? bukankah dia orang kepercayaan keluarga Adam?"
"Itu papah tahu," ucap Sonya sambil melipat kedua tangan di dadanya.
"Ada urusan apa beliau datang kemari sepagi ini?"
"Papah bagaimana sih? kan sudah mamah ceritakan tempo hari tentang anak nyonya Margaretha, Brian Adam."
"Jadi mamah serius tentang hal itu? mamah yakin akan mengizinkan Misyel menikah dengan Brian?"
"Tentu saja serius pah. Lagipula Misyel juga sangat menginginkannya. Benarkan sayang?" tanya Sonya menatap putrinya.
"Iya pah. Siapa juga yang nggak mau menikah dengan orang kaya raya dengan harta yang berlimpah. Meski cuma sebagai istri bayaran, tapi setidaknya aku bisa menikmati kemewahan gaya hidup mereka," jelas Misyel.
"Sebenarnya Papah tidak setuju."
"Maksud papah apa? apa papah tidak ingin Misyel bahagia tanpa kekurangan harta?" hardik Sonya. Ucapan Rudi berhasil menyulut kemarahannya.
"Papah hanya mengkhawatirkan Misyel. Mamah tahu sendiri bagaimana sifat keluarga Adam. Apalagi anaknya yang bernama Brian yang akan menikahi Misyel."
"Itu hal yang mudah pah. Jika Misyel selalu menurut pada peraturan mereka, mamah yakin semua akan baik-baik saja."
Rudi menatap Misyel. "Apa kamu sudah yakin dengan hal itu?" tanyanya pada Misyel.
"Misyel sudah memikirkannya dan merasa yakin pah. Ini adalah kesempatan bagus bukan? derajat keluarga kita akan terangkat, dan secara otomatis kita pun tidak akan dipandang sebelah mata oleh orang lain, seperti selama ini. Dan semua itu akan terjadi jika kita memiliki hubungan baik dengan keluarga Adam. Dan yang paling penting, kita pasti akan kecipratan harta mereka yang melimpah."
Rudi menggelengkan kepalanya mendengar jawaban Misyel. "Terserah kalian saja. Aku tidak akan melarang jika kalian tetap bersikeras dengan keputusan konyol itu," ucap Rudi yang langsung berbalik badan dan melangkah ke kamarnya. Sonya menyusul suaminya ke kamar.
Sonya menutup pintu kamar. "Pah, kenapa sih kamu tuh kayaknya berat banget ngizinin Misyel nikah sama Brian. Atau papah berharap keberuntungan ini di dapatkan anak manjamu itu," ucap Sonya.
"Kamu tuh ngomong apa sih ma? Misyel saja aku kuatirkan, apa lagi Cindy. Aku benar-benar tidak suka dengan keluarga Adam meskipun mereka orang paling berpengaruh di kota ini. Jadi, bagaimana aku menyebut hal ini sebuah keberuntungan?"
"Kekerasan mereka hanya rumor pah. Mamah yakin mereka orang-orang baik."
"Terserah kamu saja mah. Tapi ingat, jika sesuatu terjadi sama Misyel, maka jangan pernah salahkan papah," ucap Rudi. Ia mengambil tas kantornya dan keluar kamar menuju ruang makan. Setelah menikmatinya sarapannya, ia pun segera berangkat bekerja.
Sonya yang merasa kecewa dengan kedatangan Haris tadi pagi pun tak pantang mundur. Ia berusaha membujuk Margaretha agar tetap memilih Misyel menjadi menantu keluarga Adam. Bukan hal yang sulit untuk Sonya menemui wanita terhormat tersebut. Setiap dua hari sekali, Margaretha selalu datang ke salon tempat Sonya bekerja untuk mencuci rambut, dan kebetulan Margaretha adalah langganannya.
"Hmmm, jadi Haris sudah menemui anakmu," ucap Margaretha yang tengah menikmati pelayanan Sonya.
"Sudah Nyonya."
"Baiklah, nanti malam suruh anakmu bersiap. Aku akan datang kerumahmu, biar aku yang menilainya. Tapi ingat, jika ternyata penilaian Haris benar, maka aku akan berhenti berlangganan di salon ini dan kamu akan aku jadikan alasan mengapa aku berhenti datang kemari. Jika aku menilai pantas pada putrimu, aku akan memberikan seratus juta untuk uang muka. Dan aku bisa saja langsung membawanya ke rumahku.Tapi ingat aku tidak pernah main-main dengan ucapanku. Jadi jangan sampai kamu mengecewakan aku, atau kamu akan tahu akibatnya."
"Saya mengerti Nyonya."
Seperti yang dikatakan Margaretha, ia datang kerumah Sonya di temani Haris. Misyel sudah berdandan secantik mungkin berharap agar Margaretha memilihnya untuk masuk kedalam keluarga Adam sebagai istri bayaran sementara. Meski mereka belum tahu pasti alasan keluarga Adam mencari seorang wanita untuk di nikahkan dengan Brian, namun karena tergiur sebuah harta mereka tidak mempedulikan alasan tersebut.
Sonya dan Rudi menyambut kedatangan Margaretha, mereka melangkah masuk kedalam rumah. "Mana anakmu?"
"Sebentar Nyonya, saya akan panggilkan dia." Sonya melangkah ke kamar Misyel dan memanggilnya keluar. Sementara Rudi menemani Margaretha dan Haris di ruang tamu. Mau tidak mau Rudi harus menuruti keinginan istrinya. Sementara Cindy tengah pergi keluar karena Sonya menyuruhnya untuk mengantarkan barang kerumah saudaranya. Lebih tepatnya dia tidak ingin Cindy berada di rumah saat Margaretha datang.
"Ingat, berperilaku sopan di hadapan Nyonya Margaretha dan jangan mengecewakan mamah," ucap Sonya sebelum mereka keluar kamar.
"Aku mengerti mah."
Misyel dan Sonya melangkah menuju ruang tamu, namun sesampainya ia di ruang tamu, Margaretha justru menatap Misyel dengan tajam. Terlihat jelas raut wajah penuh amarah, Sedangkan Misyel tertunduk karena merasa takut saat melihat Margaretha.
Misyel dan Sonya melangkah menuju ruang tamu, namun sesampainya ia di ruang tamu, Margaretha justru menatap Misyel dengan tajam. Terlihat jelas raut wajah penuh amarah, Sedangkan Misyel tertunduk karena merasa takut.
"Jadi gadis kurang ajar ini adalah anakmu?" pekik Margaretha.
"I-iya Nyonya. Apa ada yang salah."
"Heh, dia gadis yang tadi siang menabrakku dan berani melawanku, sekarang berharap menjadi menantuku. Cihhh! Sonya aku harap kamu tidak melupakan perkataan ku tadi siang?"
"Sa-saya tidak akan melupakan apa yang Anda katakan Nyonya," ucap Sonya gelagapan. Ia menatap Misyel. "Apa yang sebenarnya terjadi? apa yang kamu lakukan Misyel?"
"Mah, ma-maafkan Misyel. Misyel tidak tahu jika dia adalah Nyonya Margaretha."
Rudi yang sedari tadi diam pun ikut bicara. "Maaf Nyonya Margaretha, mungkin ada kesalahpahaman. Jika putri saya melakukannya kesalahan, mungkin karena dia tidak tahu siapa anda."
"Apa kamu pikir aku peduli alasan sampahmu dan semudah itu aku memaafkan?"
Rudi pun terdiam, ia tahu Margaretha tidak akan memaafkan kesalahan Misyel, dia tidak akan peduli kesalahan itu dilakukan sengaja ataupun tidak sengaja.
Sonya yang sadar akan akibat dari semua ini pun langsung bersimpuh dan memohon di kaki Margaretha. "Nyonya Margaretha, saya mohon maafkan anak saya yang bodoh itu. Saya tidak mempermasalahkan jika Nyonya membatalkan niat Anda memilih Misyel. Tapi tolong jangan membuat saya berhenti dari pekerjaan saya."
Plakk!
"Beraninya kamu mengaturku. Seharusnya kamu tahu, jika aku sudah mengatakan sesuatu maka hal tersebut tidak akan pernah bisa berubah."
"Nyonya saya mohon maafkan saya," ucap Sonya memohon, kali ini dia memeluk erat kaki Margaretha. Namun Margaretha justru menarik rambut.
"Beraninya kau menyentuhku," ucap Margaretha sambil mendorong Sonya dengan kakinya hingga ia tersungkur di lantai. Rudi dan Misyel langsung menghampiri Sonya.
"Nyonya tolong maafkan ibu saya, ini salah saya."
Margaretha berdiri dan hendak menampar Misyel, namun dengan sigap tangannya di cegat Rudi. Melihat ada yang berani melawan majikannya, Haris pun maju. Ia menarik tangan Rudi menjauh dari Margaretha.
Bugg!
Sebuah pukulan melayang di wajah Rudi hingga tersungkur, dan cairan berbau anyir keluar dari hidungnya.
"Papah!" teriak Cindy yang baru saja tiba di rumah. Ia berlari ke arah ayahnya dan langsung memeluknya. "Pah, apa yang terjadi? Siapa mereka?" ucap Cindy.
"Siapa gadis ini?" hardik Margaretha.
"Dia, dia anak tiri saya Nonya," jawab Sonya.
Haris menyeringai. "Heh, bukankah waktu itu kamu bilang dia pembantumu?"
Sonya hanya tertunduk tanpa bisa menjawab apa-apa. Margaretha menatap ke arah Cindy yang tengah menyeka darah dari hidung ayahnya. Ia memperhatikan Cindy secara teliti.
"Aku akan membawanya," ucap Margaretha. Rudi yang mendengar pun langsung terbelalak kaget.
"Maaf Nyonya, tapi saya tidak bersedia jika Nyonya membawa Cindy," ucap Rudi.
"Aku tidak meminta keputusanmu. Dan jika kalian berani melawanku, maka bersiaplah kalian untuk hancur bahkan aku akan membuat kalian kehilangan segalanya. Haris! bawa gadis itu ke dalam mobil."
"Baik Nyonya."
"Tunggu, apa yang sebenarnya terjadi?" ucap Cindy penuh kebingungan.
"Menurutlah jika kamu ingin keluargamu selamat," ucap Margaretha yang langsung berlalu keluar rumah.
Haris menghampiri Cindy dan menggenggam tangannya. "Apa yang kamu lakukan, lepaskan aku."
"Tuan, tolong jangan bawa Putri saya."
"Apa kamu tidak mendengar ucapan Nyonya Margaretha tadi!" hardik Haris. Ia mendorong tubuh Rudi dengan kakinya hingga tersungkur ke lantai kembali.
Haris berusaha menarik kembali tangan Cindy, namun Rudi memegangi kaki Haris untuk menghentikannya. "Kurang ajar!" pekik Haris. Ia langsung memukul Rudi tepat di bagian pelipis hingga tak sadarkan diri.
"Papah. Tolong jangan sakiti ayah saya."
"Diam dan menurut lah." Bentakan Haris tidak membuat Cindy merasa takut. Dia justru berusaha memberontak agar bisa menolong ayahnya.
"Lepaskan aku,"
Haris melepaskan tangan Cindy, seketika Cindy langsung berlari memeluk ayahnya. "Pah, sadarlah," ucapnya sambil berlinang air mata.
"Aahhh," pekik Misyel saat Haris menarik rambutnya. Sambil menatap Cindy dengan tajam, Haris pun mengucapkan sebuah ancaman. "Aku tidak bisa menyakitimu karena Nonya Margaretha menginginkanmu. Tapi jika kamu tidak menurut, maka aku akan menyakiti anggota keluargamu satu persatu bahkan aku bisa menghilangkan nyawa ayahmu dengan mudah."
"Cindy lakukan sesuatu," ucap Misyel yang menahan sakit. Cindy terdiam sambil memeluk tubuh sang ayah yang tak sadarkan diri. Karena merasa geram melihat Cindy yang masih diam, Sonya pun langsung berdiri menghampiri Cindy.
"Anak sialan, cepat bangun dan segera ikut Nyonya Margaretha," ucapnya. Ia menarik tangan Cindy hingga dengan terpaksa Cindy melepas pelukannya pada sang ayah.
"Mah, aku tidak bisa meninggalkan papah."
"Diam anak sialan. Apa kamu ingin kita berada dalam masalah." Terlihat jelas kini Sonya berada dalam keadaan takut dan marah, Haris hanya menatap mereka tanpa melepaskan rambut Misyel.
"Tuan, tolong lepaskan Putri saya, Cindy akan menurut dan ikut Anda bersama Nyonya Margaretha," ucap Sonya. Haris menyeringai dan melepaskan rambut Misyel sambil mendorong kepalanya. Sonya segera bergegas menghampiri Misyel yang merintih kesakitan.
Haris mendekati Cindy. "Ayahmu akan mati jika kamu membantah," ucapnya. Sekarang untuk menyelamatkan keluarganya, mau tidak mau Cindy harus mengikuti mereka. Setelah melihat anggukan Cindy, Haris menyuruhnya untuk segera ikut keluar dari rumah tersebut. Dengan air mata mengalir Cindy melangkahkan kakinya, ia menatap ayahnya yang mulai sadarkan diri di samping Sonya dan misyel, ia melihat sang ayah yang menangis melihat kepergiannya. Rudi pun hanya bisa melihat Cindy di bawa paksa tanpa bisa menghentikan semuanya. Apa yang bisa dia lakukan untuk melawan orang yang lebih kuat, usahanya Han akan sia-sia dan jika dia tetap melawan yang ada hanya akan menyiksa semua anggota keluarga. Dia tahu betul bagaimana keluarga Adam.
"Tuan, saya akan di bawa kemana?"
"Diamlah dan segera masuk ke dalam mobil."
Haris membuka pintu mobil dan menyuruh Cindy untuk masuk kedalamnya. Cindy duduk di kursi depan sementara Margaretha berada di kursi belakang. Tanpa menoleh kebelakang Cindy terus menunduk sambil berlinang air mata. Entah kemana mereka akan membawanya dan entah apa yang akan terjadi padanya, saat ini rasa takut menyelimuti hati Cindy, ia benar-benar tidak mengenal siapa orang yang bersamanya saat ini, tapi apa yang ia lihat tadi di rumahnya membuatnya merasa amat takut.
Mobil melaju kencang menembus keramaian kota. Debaran jantung karena takut seakan menyiksa. Beribu pertanyaan memenuhi pikiran. Namun ketakutan memaksa untuk diam.
Cindy menatap rumah megah bagaikan istana, matanya tak berhenti memandang saat mobil mulai memasuki pintu gerbang. Ini adalah pertama kalinya ia melihat kemegahan sebuah rumah. "Kenapa mereka membawaku ke sini?" batinnya.
"Turunlah," ucap Haris. Ia keluar terlebih dahulu membukakan pintu untuk Margaretha. Sementara Cindy dengan tubuh yang masih sedikit gemetar berusaha turun dari mobil. Ia mengikuti langkah Margaretha dan Haris memasuki rumah tersebut.
"Mom, kalian sudah kembali?" ucap seorang pria dengan tubuh yang terlihat sempurna. Cindy menoleh ke arah suara, namun perasaan takut semakin menjadi saat ia melihat tatapan tajam yang mengarah kepadanya.
Cindy langsung menundukkan kepalanya dan hanya bisa bergumam dalam hati. "Siapa dia? mengapa tatapannya sangat menakutkan?"