Baskara memeluknya, membuat wanita berambut cokelat itu semakin erat di dekapannya. Wajah rupawan pria itu sengaja ia benamkan ke leher jenjang sang kekasih yang juga telah melingkarkan tangan di pinggang Baskara, membalas pelukannya.
Setelah berbagi kehangatan selama beberapa saat, perlahan ia memundurkan wajah untuk kembali menatapnya yang terlihat sedih. Suasana di antara mereka sedang runyam kini.
Apalagi kalau bukan tentang masalah perjodohan yang akan memisahkan hubungan mereka berdua.
Mata hazel milik wanita itu berkaca-kaca, menatap lurus obsidian sekelam malam yang juga menatapnya.
"Bas, apa kamu bisa memegang semua janjimu padaku?"
"Aku berjanji, Sayang." Pria berkulit putih itu mengangguk pelan. "Sudah kukatakan berapa kali padamu?" Ia memberi jeda. Nadanya serius. "Aku tidak akan pernah menyentuhnya walaupun sudah terikat hubungan sakral seperti pernikahan."
Jujur, perasaan lega menjalar di dada Viona ketika mendengar pernyataan tadi. Namun ia tetap merasakan ada sebuah hal yang mengganjal.
"Tapi tidak mungkin kau tetap enggan menyentuhnya, Sayang. Dia akan menjadi istri sah yang selalu ada di sisimu," Lirihnya sambil menunduk menyembunyikan kesedihan yang mendalam. "Lagi pula untuk saat ini, aku memang kekasihmu. Tapi setelah kau benar-benar menikahinya, dengan otomatis statusku akan berubah juga sebagai kekasih gelap, kan?"
Baskara terdiam, perkataan Viona membuat dadanya terasa sesak.
"Aku tidak ingin dianggap sebagai pihak ketiga dari hubungan kalian."
Tiba-tiba saja jemari Baskara meraih dagu Viona, memaksanya untuk mempertemukan tatapan mata mereka. "Kau salah, Sayang. Dialah pihak ketiga dari hubungan kita."
Lalu secara perlahan ia pun mengeliminasi jarak dengan mempertemukan bibir tipisnya ke bibir Viona.
"Kuharap kamu akan terus seperti ini ...."
"Pasti." ucapnya meyakinkan Viona pun hatinya.
***
Di saat jarum jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam, pintu rumah besar itu dibuka oleh seorang pria. Setelah masuk, ia menutup pintu dan mulai mencari saklar lampu yang berada di dinding.
Tapi sewaktu sinar cahaya sudah menerangi ruangan, tampaklah sebuah sosok berwajah tegas, persis sepertinya, namun lebih dewasa. Itu ayahnya. Dia duduk di sofa ruang tengah. Alisnya bertaut dan kedua tangannya terlipat rapi di dada.
Dia marah, dan Baskara tahu apa sebabnya.
"Dari mana saja kau?" suaranya berat seakan menggema ke seluruh ruangan, tapi Baskara Tidak menganggap suara itu ada.
"Sampai kapan kau akan bersamanya?"
"Ini bukan urusanmu." Ia kembali berjalan, tidak peduli dengan pertanyaan omong kosong yang terlontar. Sampai akhirnya ia terpaksa berhenti karena sudah ada lima orang berbadan tegap dan besar yang serentak menutupi jalannya menuju kamar.
Tentu saja mereka berani menghalangi Baskara, secara itu adalah sebuah perintah dari tuan rumah.
"Tentu saja itu ada hubungannya denganku, Baskara Adiputra!" Hardiknya keras.
Baskara mendengus kesal. Dengan terpaksa ia berbalik untuk menatap wajah Ayahnya.
"Ayah mau apa lagi?"
"Kuharap kau bisa mengakhiri hubunganmu bersama wanita itu ...." Ia memberi jeda untuk lebih menekankan kalimat selanjutnya. "Kau sudah dijodohkan."
Mendengar kalimat tadi, ia tertawa sinis. "Ayah menjualku bukan menjodohkanku."
"Apa?" Teno menggeram.
"Memangnya ada alasan lain? Aku tahu Ayah mau menjodohkanku dengan putri keluarga Soemarno hanya untuk meningkatkan kerja sama bisnis, kan?" Baskara tersenyum mengejek. "Dari pada aku yang dinikahkan, kenapa tidak Ayah saja yang menikahi putri dari sahabatmu itu?"
"Baskara! Dasar anak kurang ajar!" Mata Teno membulat, emosinya mulai naik ketika Baskara membalasnya dengan sebuah kalimat yang merupakan pukulan telak baginya, semua yang dikatakan oleh Baskara itu benar. Perjodohan ini bertujuan sebagai langkah awal dari kerja sama perusahaan Adiputra Group dan Soemarno Company yang akan menutupi kebangkrutan keluarga besarnya.
Pria yang sudah berumur setengah abad itu berdiri. Ia menghampiri putranya dengan telapak tangan yang siap melemparkan tamparan kencang, namun sebelum kejadian itu terjadi ke pipi Baskara, istrinya sudah keburu muncul dan menengahi. Ia menahan langkah Teno dan mengelus pelan bahu suaminya agar kembali tenang.
"Sayang ... tenanglah sedikit." Pintanya memohon, berusaha mencairkan suasana yang tegang itu.
Dan untungnya usaha tersebut berhasil, walaupun wajah Teno masih terlihat merah menahan amarahnya.
Lalu dengan lembut ia pindahkan pandangannya. "Baskara, ibu mohon, untuk sekali ini saja turuti saja permintaan Ayahmu. "
Baskara membuang muka. Ia tidak bisa melawan. Baginya tidak sepantasnya ia sergah kalimat Ibunya. Jadi dengan terpaksa ia juga menurunkan tingkat amarahnya.
"Kalian menjodohkanku dengan orang asing yang sama sekali aku tidak kenal." Ucapnya setengah membentak. "Lebih parahnya lagi, besok ia akan kunikahi." Baskara mendengus kesal. Kepalan tangannya mengerat.
***
Kedua mata Hanna mengerjap pelan. Ia menganga, tapi sebagian mulutnya yang terbuka telah ia tutupi oleh jemari lentiknya. Tatapannya terus tertuju pada sebuah foto yang baru diberikan padanya. Tubuh Hanna melemas. Orang di foto itulah yang besok akan menikahinya.
"Bagaimana Hanna, apa sekarang kamu sudah mengetahui calon suamimu nanti?"
Masih dengan posisi tadi, perlahan Hanna mengalihkan pandangannya ke mata sang Ayah.
"Ini ... calon suamiku nanti?" Tanyanya dengan berbisik.
Sang Ayah mengangukkan kepalanya. Perlahan Hanna mengigit bibir bawahnya, Dia sama sekali tidak mengenal calon suaminya kelak. Sebenarnya Hanna ingin protes tentang pernikahan yang tiba-tiba ini, dirinya tidak yakin esok akan berjalan mulus. Tapi mengingat Hanya tinggal Ayahnya yang Hanna punya sebisa mungkin gadis itu tidak ingin menyakiti perasaan orang yang dicintainya itu.
***
Hari ini adalah hari yang berbahagia. Bahagia menurut keluarga Adiputra dan Soemarno tapi tidak untuk Baskata ataupun Hanna yang mungkin akan mengetahui kebenaran yang sengaja disembunyikan oleh pihak keluarganya.
Dekorasi Ballroom hotel itu serba putih. Bukan hanya itu, ratusan hiasan berwarna putih gading merajai dekorasi yang terpajang. Mereka memang memilih putih sebagai warna tema karena bagi kedua keluarga mempelai, putih memancarkan sinar yang elegan dan suci.
Di ruang rias, Hanna masih saja tersenyum sendiri sampai kedua pipinya memerah membuat orang lain yang melihatnya langsung ikutan tersenyum. Bayangkan, wajah Hanna yang belum memakai riasan saja sudah cantik dan manis seperti ini.
"Nona, Anda tampak sedikit gugup." Seorang penata rambut memandangnya melalui cermin tata rias.
Sebenarnya, Hanna kalut sekali. Bahkan sejak semalam ia tidak bisa memejamkan mata. Dirinya merasakan firasat yang tidak menyenangkan.
Perasaan yang otomatis menyuruhnya untuk mencari waktu sendiri.
"Aku mau cari angin sebentar." Hanna bangkit, dirinya ingin segera pergi meninggalkan tempat itu.
"Baik, Nona. tolong jangan ke lantai atas agar tamu undangan tidak dapat melihat wajah Anda yang belum di poles."
"Iya, terima kasih," ucap Hanna cepat. Langkah kakinya setengah berlari pergi meninggalkan ruangan itu.
***
Sedangkan di ruang rias pengantin pria, Baskara duduk di kursinya dengan wajah tertekuk dan kedua tangan yang menyilang di dada. Tak ada satu pun yang berani mengatakan kalau hari ini dia lagi bahagia. Lihat saja dari aura gelap yang dipancarkannya.
Tapi kenapa?
Itulah yang menjadi pertanyaan semua penata rias Baskara.
Kursi yang diduduki Baskara berdecit. "Dimana calon istriku?"
"Hm ... kau sudah tidak sabar, ya? Padahal tinggal beberapa jam lagi kalian bertemu." Jawaban yang berasal dari seseorang di arah pintu masuk sontak membuat sosoknya menjadi perhatian.
Melihat siapa yang ada di sana, Baskara memasang wajah kesal. "Kak, untuk apa kau ke sini?"
Wanita yang dipanggil Kak itu merapikan kebaya yang di kenakan, lalu tersenyum kecil. "Untuk melihat pernikahan adikku, memangnya apa lagi?"
"Aku tidak butuh kau melihatku!" bentaknya pada sang Kakak.
"Sudahlah, ributnya nanti saja. Hari ini seharusnya kau menghabiskan waktu untuk tersenyum."
"Jangan bercanda." Baskara berjalan cepat mendekati pintu keluar. "Kau tau di mana dia?"
Sarah mengangguk. "Tadi aku ingin mengunjunginya di ruang rias, tapi dia sedang tidak ada. Sepertinya dia ada di lantai atas."
Baskara berjalan memasuki lift, setelah di dalam ia menekan tombol lantai atas untuk menemui calon istrinya. Ia ingin bertemu bukan karena ingin melihat penampilan dari wanita yang akan ia nikahi nanti, melainkan untuk menawarkan sebuah kesepakatan.
Tapi kalau wanita itu tidak mau menerima, tanpa sungkan ia akan memaksa.
Di saat pintu lift sudah terbuka sempurna, ia keluar. Dengan pandangan serius ia menjelajahi seluruh sudut ruangan sepi itu. Sepertinya di sana hanya terlihat beberapa orang yang berlalu lalang.
Merasa tidak menemukan seorang wanita manapun, ia langsung bertanya kepada salah satu staff yang kebetulan ada di sebelahnya. Orang itu mengangguk kemudian mengacungkan jari telujuknya ke arah kanan sambil memberikan sedikit informasi.
Tanpa basa-basi lagi Baskara berjalan cepat menuju arah yang ditunjuk. Setelah mengikuti pengarahan, ternyata jalannya berakhir dengan sebuah pintu kayu besar yang sedikit terbuka. Perlahan Baskara membuka pintu. Dan saat matanya memandang lurus ke depan, ia menemukan seorang berbaju pengantin yang sedang menatap keluar jendela, sehingga ia hanya dapat melihat rupanya dari belakang.
"Kau ...." Ia mendekati wanita berambut hitam panjang itu. "Sedang apa?"
Orang yang dipanggil sedikit menoleh, lalu membalikkan badannya untuk menjawab. "Mencari angin. Ruang tata rias terlalu banyak orang."
Langkah Baskara akhirnya berhenti setelah tepat di hadapannya. Karena jarak pria itu sudah sangat dekat, Hanna mendongakan wajah untuk melihatnya. Tapi karena mendapat tatapan tajam dari yang punya mata, ia menunduk lagi karena takut. "kamu sendiri?"
"Apa kau calon istriku?" Tanyanya langsung, matanya masih menatap mata Hanna dengan tajam.
Ia menatap Baskara lagi, lalu mengangguk. "Apa kamu melihat gadis selain aku yang memakai gaun pernikahan?"
Basakara terdiam, tempat ini sudah di sewa untuk pernikahanya seorang dan sejak tadi dia hanya menemui Hanna yang memakai baju pengantin dengan warna senada dengan warna bajunya.
"Aku mau buat perjanjian."
Tiba-tiba saja sebuah suara yang Hanna kenal betul memanggil namanya, Ayahnya mencari keberadaan putrinya itu. Dan tanpa permisi Hanna pergi meninggalkan Baskara sendiri.
***
Hanna tampak gugup meski tangannya digandeng Ayahnya. Pasalnya semua mata yang berada di tempat itu menatapnya kini, hanya mata Baskara yang memalingkan pandangannya.
Hadi mengantar putri semata wayangnya ke depan altar, menghadap calon mempelai pria dan seorang Pastur yang telah menunggunya, upacara pernikahan mereka segera di mulai.
"Baskara Adiputra, bersediakah kau menerima Hanna Laveda Soemarno sebagai pendamping hidupmu dalam suka dan duka, sakit maupun sehat, miskin dan kaya, hingga kematian memisahkan kalian?" suara Pastur begitu jelas terdengar menanti jawaban Baskara.
Di bangku paling depan, Teno harap-harap cemas pada anaknya meski istrinya itu sejak tadi mengelus punggung tangannya untuk menenangkan. Teno tetap merasa gugup.
Baskara mengedarkan pandangannya, mencari Viona di bangku tamu. Tapi lelaki itu tidak juga menemukan kekasihnya. Ia sengaja mengulur waktu jika saja Viona datang dan Ia akan membuat ke hebohan terjadi, tak peduli jika reputasi keluarganya hancur.
Pastur itu mengulang pertanyaan yang ditunjukan untuk Baskara, beberapa tamu juga ikut menunggu, dengan enggan Baskara menjawab. "Aku bersedia."
Mendengar jawaban dari putra bungsunya membuat napas Teno lega, setidaknya anak itu tidak membuat hal konyol yang akan mencoreng namanya.
"Hanna Laveda Soemarno bersediakah kau menerima Baskara Adiputra sebagai pendamping hidupmu dalam suka dan duka, sakit maupun sehat, miskin dan kaya, hingga kematian memisahkan kalian?" pertanyaan berulang itu kini ditunjukan pada Hanna.
Gadis itu menatap ayahnya. Senyum sumringah itu tampak terpampang diwajahnya, Hanna membelasnya dengan senyum getir yang sebisa mungkin ditutupi dirinya.
"Aku bersedia." kalimat itu terlontar dari mulutnya.
Pastur mengangguk dan tersenyum kepada mereka. "Kalian boleh mencium pasangan kalian masing-masing."
rona merah sudah mendominasi wajah Hanna, mereka saling berhadapan dan bertatapan. Lalu Baskara membuka jaring putih yang menutupi wajah milik istrinya.
Melihat jarak mereka sudah semakin minim, Hanna langsung mendorong dada Baskara berharap bibir pria itu tidak berhasil mengenai bibir merahnya. Namun, seakan tau pergerakan Hanna, Baskara langsung menahan dorongan itu dan kembali mendekatkan jarak.
"Sudahlah, jangan buat ini jadi lama." Dengan nada dingin Baskara meraih tengkuknya agar bisa mendiamkan penggerakan sang istri.
Tapi kali ini Hanna melawan dengan menutup bibir dengan kedua tangan. Tampaknya ia masih bersikeras.
"Tidak! Tidak mau," tolaknya cepat.
Melihat kelakuan mereka berdua, pastur berserta semua tamu undangan langsung mengernyitkan alis. Tapi ada beberapa yang malah menonton dengan serius melihat siapa yang akan kalah dan menang.
Lalu, tanpa aba-aba Baskara langsung membuka paksa kedua tangan Hanna dan menarik wajahnya mendekat sampai akhirnya bibir mereka saling bertemu dengan keras.
Mereka berciuman. Pupus sudah keinginan Hanna untuk berciuman di hari pernikahan dengan lembut selayaknya pangeran dan putri kerajaan dongeng. Dan kecupan itu berlangsung lama, karena Baskara sempat memagutnya perlahan.
Hanna sesak napas sendiri. Wajahnya memerah, kedua matanya terpejam, dan jantung yang berdegup tak normal, sampai aliran darah di dalam tubuhnya terasa pecah berhamburan.
Setelah berhasil mendapatkan bibir merah Hanna, beberapa saat kemudian Baskara melepaskannya. Tapi bukannya disambut oleh tepuk tangan, para tamu malah menyempatkan diri untuk berteriak karena mendadak Hanna jatuh pingsan.
Dan yang lebih hebatnya lagi, Hanna terjatuh sambil meniban Baskara, dan secara otomatis membuat bibir mereka kembali bertemu.
"Sejak kapan ciuman di hari pernikahan menjadi dua kali?" tanya seorang tamu di belakang.
Sarah yang mendengar pertanyaan itu malah tersenyum dan melihat baskara yang sekarang sudah dibantu orang-orang kembali mendirikan Hanna yang pingsan.
***
Setelah pingsan selama beberapa saat, akhirnya disinilah ia berada. Duduk di kasur yang sudah tertabur bunga-bunga yang wanginya memenuhi ruangan.
Dengan pakaian pengantin yang lengkap, ia menutup wajahnya yang dipenuhi oleh air mata, membuat satu-satunya penghuni lain ruangan itu menjadi terganggu. Baskara yang dari tadi hanya menyandar di tembok akhirnya menghela napas berat dan berjalan mendekat.
"Apa kau tidak tau kalau tangisanmu itu berisik?" Desisnya yang sontak saja membuat tangisan Hanna semakin terisak. "Kau menangis seakan tidak pernah dicium orang lain."
"Itu memang pengalaman pertamaku." sahutnya jujur
"Sudahlah, itu hanya ciuman dan aku belum berbuat lebih padamu," tuturnya malas
Tangisan Hanna semakin menjadi, sepertinya ia semakin terpuruk dengan kalimat barusan. "Aku tidak akan bisa lagi menikah ...."
"Kau sudah menikah denganku!" Potongnya langsung. "Dan aku mau bicara padamu."
Suara bentakan Baskara membuatnya terdiam meski mata hitam Hanna tetap mengeluarkan air mata yang tak kunjung berhenti.
"Kau ...." Baskara menatap gadis itu dari kejauhan. Dengan tangan yang sudah terkepal erat, ia melangkahkan kakinya mendekati Hanna yang sudah terduduk di tepi ranjang.
Masih dengan mata yang basah, Hanna terdiam memandangi wajah Baskara yang lagi-lagi hanya berjarak beberapa senti di hadapannya. Air mata memang masih mengalir dari pelupuk mata Hanna, tapi kali ini pandangannya lurus menatap Pria itu.
Sepertinya orang yang baru jadi Suaminya itu sudah sangat kesal. "Dengar, kau tidak menyukaiku, dan aku pun juga tidak menyukaimu. Kita ini hanya dijodohkan dan aku ingin kita mempunyai kesepakatan."
"Ke-Kesepakatan apa?" nada Hanna terdengar gugup ketika melihat mata Baskara yang mengintimidasi.
"Aku ingin kau menganggap pernikahan ini main-main!" Katanya tegas
"Eh?" Hanna tak mengerti, tampaknya kalimat Baskara yang barusan belum sepenuhnya terserap otaknya.
"Anggap pernikahan ini tidak pernah terjadi. Kita baru bertingkah seperti Suami-Istri jika berada di depan keluarga kita. Mengerti?" Jelasnya dengan suara yang sama seperti sebelumnya, tegas dan memaksa.
Hanna tidak bergeming, pandangannya masih lurus ke Baskara. Kemudian Baskara membenahi posisinya untuk terduduk di tepi ranjang bersama Istrinya.
"Dan satu lagi. Aku sudah mempunyai seseorang yang sangat kusayang. Orang itu adalah kekasihku." Suaranya mendadak pelan namun penuh penekanan dalam setiap katanya.
Mendengar hal itu, entah kenapa suasana berat langsung tercipta di sekitar mereka seakan tidak ada oksigen yang cukup untuk pernapasannya atau lebih tepatnya khusus untuk Hanna.
Lalu secara perlahan belahan bibir Hanna bergerak, ingin membuat sebuah kalimat pertanyaan. Tapi ketika suaranya hampir keluar, ia menggigit lidahnya sendiri.
Baskara benar. Ini hanya perjodohan Baskara tidak mencintainya, dan ia pun tidak mencintai pria yang telah menjadi Suaminya kini.
"Iya." Hanna menatap pria yang sedang duduk di sampingnya itu dengan tatapan sayu. "Siapa namanya?"
"Viona."
Hanna menghela napas panjang. Rasanya ada yang aneh dari dalam dirinya saat nama itu terucap. Benar-benar berat, dan membuat hatinya sedikit teremas.
"Namanya indah."
"Dan malam ini aku akan bersama dengannya. Kuharap kau mengerti." Ada keraguan dalam dirinya, Baskara menatap Hanna. Berusaha melihat wajahnya yang ternyata tanpa ekspresi apapun.
Hanna terdiam, benar-benar mencerna semua keadaan ini, matanya menyapu ke sekeliling. Berharap bahwa ini hanya mimpi, ia mulai menyesali keputusannya.
"Bagaimana?" desaknya lagi
Hanna mengangguk pelan dan Baskara mulai berdiri, mengambil kunci mobilnya yang tergeletak di atas sofa kecil di dekat tempat tidur. Lalu sebelum pria bersifat dingin itu keluar dan menutup pintu, mata hitamnya nya menatap Hanna sebentar, lalu akhirnya ia benar-benar pergi.
Suasana hening tercipta sesudah kepergian Baskara. Sekarang Baskara bukan hanya menghancurkan impiannya untuk mendapatkan ciuman pertama yang lembut di hari pernikahan tapi juga kesan malam pertama baginya.
Walau sebenarnya ia juga tidak mau bercinta dengan pria itu. Lalu pandangan matanya berpindah ke sebuah foto besar yang menampangkan foto pernikahan yang terpajang di dinding. Laju pandangannya menjadi lambat sesudah ia menemukan wajah datar Baskara di sana.
Bahkan itu tidak pantas disebut foto pernikahan.
Melihat foto itu, Hanna langsung menggigit bibir bawahnya dan meremas rok pengantin yang masih ia pakai. Dan lagi-lagi Baskara menghancurkan impiannya untuk membuat keluarga kecil yang bahagia.
"Sepertinya memang tidak akan menjadi keluarga bahagia." Lirihnya. "Ini hanya perjodohan bersama orang asing, dan bahkan dia sudah memiliki kekasih."
Hanna terdiam. Ia menggigit permukaan bibir bawahnya. Sambil menarik nafas ia menjatuhkan diri ke kasur dan membenamkan seluruh wajahnya ke bantal empuk itu.
***
Hanna mencoba untuk membuka kedua matanya. Setelah pandangannya jelas, ia melihat langit-langit kamar. Tapi meskipun ia sedang melihat, kupingnyalah yang berkerja mencari suara apapun yang mungkin menandakan kepulangan seseorang.
Seseorang yang sudah ia tunggu sampai seminggu lamanya.
Setelah yakin tidak mendengar suara apa-apa, ia menghela napas pasrah dan kembali menutup kedua mata. Tapi ketika ia membalikkan badan untuk meregangkan otot, tiba-tiba saja tangannya memeluk sesuatu yang sepertinya sudah lama berada di sebelahnya.
Sontak saja kedua matanya terbuka lebar, dengan jantung yang berdetak kencang ia membenarkan posisinya menjadi terduduk.
Tapi saat mata sayu itu melihat kebenaran yang tersedia, ia menghela napas berat. Itu bantal guling. Dan hening kembali menyelimutinya.
Sambil menyelipkan poni berserta anak rambut lain ke belakang telinga, ia mengarahkan pandangannya ke pintu kamar membayangkan seberapa lama lagi ia harus menunggu Baskara kembali.
Apakah aku sebegitu merindukannya?
Ia meremas lembut selimut yang berada di pahanya, lalu ia tarik untuk menutupi tubuh yang hanya terbalut gaun tidur tipis.
Kapan kamu kembali?. Hati dan pikirannya merasa berkecamuk.
***
Suara pisau yang beradu di atas talenan memenuhi dapur tempat di mana ia sedang berdiri sendirian. Tangannya memgambil daging dan memotongnya, secara perlahan ia masukan semua bahan ke penggorengan, lalu melanjutkannya dengan memberi penyedap dan sauce.
Setelah matang, Hanna mempersiapkan semuanya di atas meja makan beserta sup yang dari tadi sudah dihangatkan. Lalu ia mengambil piring dan mengisinya dengan nasi.
Dengan pandangan tanpa ekspresi, matanya beralih ke satu lagi piring dengan posisi terbalik. piring yang selalu ia taruh di atas meja yang berhadapan dengannya untuk Baskara.
***
Dengan shirt dress birunya, ia menggenggam tas belanjaan berwarna coklat. Menelusuri jalanan dengan santai, berniat untuk menuju salah satu supermarket langganannya yang lumayan dekat dari Apartemen.
Ia kembali melihat daftar barang keperluan yang sudah tersusun rapi di secarik kertas putih, lalu menggumamkannya dalam hati. Sesudah berjalan sekitar ratusan meter, ia sedikit mendongakkan wajah untuk melihat ke sekitar.
Dilihatnya banyak pasangan kekasih yang saling berbagi senyum, membuat dirinya terdiam beberapa saat. Hari ini akhir Minggu, pantas banyak pasangan yang berlalu lalang di depannya. Setelah kembali tersenyum, ia menaruh lagi pandangannya ke kertas melanjutkan kegiatan membaca.
Saking seriusnya, ia sampai tidak sadar kalau dirinya menginjak tumpukan dedaunan yang licin, membuatnya terpeleset sampai akhirnya ia terjatuh dengan posisi lutut yang membentur aspal.
"Auu sakit." Dengan sudut bibir yang sudah melengkung turun, ia meringis dan menepuk pelan lututnya yang memerah.
"Kau bisa berdiri?"
Suara itu membuatnya membeku di tempat. Meskipun Hanna hanya pernah mendengar beberapa kali, ia sangat hafal siapa pemiliknya.
Dengan perlahan ia menolehkan wajahnya ke belakang, asal suara itu terdengar. Tapi dengan cepat pula pemandangan itu membuat sinar kebahagiaan di matanya meredup.
Justru itu pemandangan yang membuat kinerja tubuhnya terhenti, bahkan ia lupa cara bernapas hanya karenanya.
Suara yang terdengar memang kepunyaan Baskara, tapi kalimat itu bukan untuknya. Melainkan wanita berwajah bule yang juga terjatuh akibat tumpukan daun yang licin saat terinjak.
"Iya, Hehe." Dengan pipi yang merona, wanita itu meraih tangan Baskara yang disodorkan untuknya berdiri.
"Makanya jangan lari-lari, Sayang." Baskara tersenyum lalu mengelus rambutnya, dan kembali melanjutkan perjalanan untuk memasuki kedai kopi yang mereka tuju. Meninggalkan Hanna yang mereka tidak sadari kehadirannya.
Hanna terduduk sendiri di atas aspal yang dingin. Melihat kejadian barusan sambil mencoba berdiri, matanya terus memandang pintu kedai kopi yang baru di masuki Baskara dengan seorang wanita.
Apa wanita tadi yang bernama Viona?