"Aduh, Lia! Lo itu kayak bidadari turun dari langit, tapi kenapa hatinya kayak batu es yang dibekuin di freezer 10 tahun, sih?"
Suara cempreng Rina, sahabat paling cerewet Aurelia Safira, langsung memenuhi sudut coffee shop yang lagi lumayan sepi itu. Di depan Lia, ada dua cewek lain, Shasa dan Dara, yang kompak ngangguk setuju sambil nyeruput iced latte mereka.
Lia, si empunya nama, cuma bisa mutar bola mata. Dia udah tahu banget ke mana arah pembicaraan ini. Lagi-lagi, topik tentang 'kebekuan hati' Lia. Gimana nggak beku? Sampai usianya menginjak 19 tahun-usia yang seharusnya lagi hot-hotnya ngerasain cinta monyet atau bahkan cinta serius-Lia itu zero. Nol besar. Nggak pernah naksir siapa-siapa, apalagi sampai jatuh cinta.
"Bisa nggak sih, sehari aja kita nggak bahas soal status jomblo abadi gue?" Lia menyandarkan punggungnya ke sofa kulit, memajukan bibir, ekspresinya murni bete. Dia cantik, beneran cantik parah. Kulitnya putih bersih, rambut hitam panjangnya ikal alami, dan matanya itu lho, kayak ada bintangnya. Cowok mana yang nggak nengok kalau dia lewat? Masalahnya, tatapan mata itu selalu datar kalau udah menyangkut urusan asmara.
Shasa, yang lebih bijak, mencoba menjelaskan. "Bukan gitu, Sayang. Kita gemes! Lo kuliah udah semester tiga. Sejuta cowok ganteng di kampus udah ngantri dari Maba sampai BEM, tapi lo tolak semua. Alasannya selalu sama: 'Gue nggak ada rasa.'"
"Ya, terus kenapa? Emang salah kalau gue nggak mau pacaran cuma buat ikut-ikutan tren?" Lia membela diri. Jauh di lubuk hatinya, dia memang merasa ada yang salah. Semua temannya heboh kalau udah bahas gebetan, crush, atau drama putus-nyambung. Lia? Dia cuma bisa dengerin, nggak pernah bisa ikutan ngerasain deg-degan atau sakit hati yang mereka ceritain. Rasanya kayak dia datang dari planet lain yang nggak punya gravitasi emosi.
Dara, yang biasanya pendiam, tiba-tiba pasang tampang serius. "Kita tahu lo nggak pernah jatuh cinta karena lo belum pernah beneran ngerasain momen 'terbang'. Lo terlalu jaga jarak, Lia. Lo harus take a risk."
Lia ketawa sinis. "Take a risk? Maksud lo, gue harus loncat dari lantai sepuluh?"
Rina, si biang kerok, langsung menjulurkan tangan ke tengah meja, menampakkan senyum iblisnya. Matanya berbinar penuh rencana jahat.
"Nggak perlu loncat dari gedung, Honey. Tapi, lo harus buktiin ke kita kalau lo bisa ngerasain sesuatu, minimal ketertarikan fisik yang gila, sekali aja. Atau lo selamanya bakal kita cap sebagai Ice Queen yang cuma peduli sama buku sama tugas."
"Gila, lo nantang gue?" Lia menantang balik, tapi ada sedikit rasa takut dan penasaran yang mulai merayap di dadanya.
Tantangan itu, singkatnya, adalah tentang sebuah tempat yang nggak sembarangan.
"Lo tahu 'Elysium', kan?" tanya Rina, suaranya pelan dan misterius, seperti menyebut nama dewa yang tersembunyi.
Lia mengernyit. Tentu dia tahu. Elysium bukan kelab biasa. Itu adalah private lounge super eksklusif di lantai paling atas gedung pencakar langit yang terkenal hanya bisa diakses oleh kalangan tertentu-para pebisnis gila, seniman nyentrik, dan orang-orang super kaya yang nggak pengen diganggu. Tempat itu terkenal gelap, musiknya lembut tapi menggoda, dan katanya, di sana nggak ada aturan.
"Terus?" tanya Lia.
"Tantangannya gini. Malam minggu besok, lo datang sendirian ke sana. Lo harus dandan total, dress up yang paling gila yang lo punya. Dan lo harus bawa pulang cerita. Cerita kalau lo udah ngerasain sesuatu yang baru. Sesuatu yang membuat lo lupa diri. Sesuatu yang membuat lo ngerasa lo bukan lagi Lia yang kaku," jelas Rina, menekan kata 'sesuatu' dengan sangat ambigu.
Shasa menimpali, nadanya sedikit khawatir. "Lia, dengerin. Ini cuma tantangan buat unlock emosi lo, bukan buat nyari jodoh. Lo harus tunjukkin ke diri lo sendiri, lo itu cewek normal, bukan robot. Kalau lo nggak berani, kita nggak maksa, kok."
Gengsi Lia langsung naik sampai ubun-ubun. Dicap sebagai 'bukan cewek normal' gara-gara nggak bisa jatuh cinta? Nggak, itu nggak bisa dia terima. Dia bisa ngerasain emosi! Dia bisa marah, bisa sedih, bisa senang! Cuma urusan cinta aja yang jadi misteri buat dia.
"Oke. Deal," kata Lia cepat, suaranya mantap, meski tangannya di bawah meja udah dingin sedingin es. "Tapi denger ya, kalau gue berhasil, kalian nggak boleh bahas soal Ice Queen lagi selama setahun ke depan."
Rina, Shasa, dan Dara langsung bersorak kemenangan, seolah mereka baru aja berhasil menjual tiket ke neraka buat Lia.
Malam itu datang. Malam yang dijanjikan, malam yang ditakdirkan untuk mengubah segalanya dalam hidup Aurelia Safira.
Sejak sore, Lia udah kayak kesurupan. Dia bukan tipe cewek yang suka dandan menor atau pakai baju seksi. Paling pol, dia cuma pakai jeans dan oversized hoodie buat ke kampus. Tapi malam ini, dia memaksa dirinya. Dia menarik keluar little black dress yang belum pernah dia pakai, gaun sutra yang memeluk lekuk tubuhnya dengan elegan dan hanya ditutupi sedikit kain. Backless, parah.
Dia mematut dirinya di depan cermin. Ada sensasi aneh yang menjalar, campuran rasa cemas, rasa bersalah, dan yang paling aneh, rasa penasaran yang menggebu-gebu.
"Aurelia, lo itu mau ngapain sih?" gumamnya pada bayangan di cermin.
"Lo mau buktiin ke mereka kalau lo bisa ngerasain 'sesuatu'. Tapi... gimana caranya?"
Lia menghela napas panjang. Dia nggak punya rencana. Rencana Lia cuma satu: datang, cari cowok yang good looking tapi nggak mencurigakan, ngobrol sebentar, dan... melakukan sesuatu yang bisa dia ceritain ke teman-temannya besok pagi. Tapi, apa yang disebut 'sesuatu' itu? Apa cukup cuma pegangan tangan? Atau ciuman? Jantungnya mulai berdebar kencang, dan itu bukan karena rasa cinta, tapi murni karena rasa takut dan adrenalin.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, dia mengoleskan lipstik merah gelap, warna yang benar-benar asing di wajahnya. Selesai. Di depannya berdiri seorang Aurelia yang baru, seorang Aurelia yang siap berbohong pada dirinya sendiri demi sebuah tantangan gila.
Dia memesan taksi online. Sepanjang perjalanan ke gedung megah itu, Lia terus-terusan mengamati lampu jalanan. Perutnya serasa diaduk. Dia mulai menyesal. Seharusnya dia nggak usah sok berani menerima tantangan Rina si iblis itu. Tapi, mobil taksi itu sudah berhenti.
Di depannya, berdiri sebuah gedung kaca menjulang tinggi, yang puncaknya diselimuti kabut malam. Di sanalah Elysium berada.
Melangkah masuk ke Elysium, Lia merasa seperti masuk ke dimensi lain.
Semuanya gelap. Bukan gelap menyeramkan, tapi gelap yang mewah dan intim. Penerangan hanya datang dari lampu sorot berwarna amber yang diarahkan ke dinding bertekstur, dan dari lampu-lampu kristal rendah di bar. Aromanya mahal: campuran wiski tua, parfum desainer, dan udara dingin AC. Musiknya, ya Tuhan, musiknya itu. Slow jazz dengan ritme yang sangat lambat, sensual, dan seperti bisikan.
Lia, yang selalu merasa nyaman di keramaian kampus, mendadak merasa asing di sini. Semua orang di sana seolah punya cerita rahasia yang terukir di raut wajah mereka. Mereka semua cantik, tampan, dan yang paling penting, terlihat berbahaya.
Dia berjalan menuju bar dan memesan mocktail paling manis yang ada. Dia nggak mau minum alkohol; dia perlu kesadaran penuh untuk menjalankan misi bunuh dirinya ini.
Dia duduk di kursi tinggi. Sendirian, dengan punggung telanjang terekspos gaun backless-nya, Lia adalah target empuk. Dan benar saja, baru lima menit dia duduk, seorang pria-paruh baya, dengan jas mahal dan cincin emas tebal-sudah berdiri di sampingnya.
"Malam, Cantik. Sendirian?" suara bariton yang berat itu terdengar menjijikkan di telinga Lia.
Lia tersenyum tipis-senyum yang paling dingin yang bisa dia berikan. "Malam. Nggak, saya lagi nunggu teman."
Pria itu mundur, wajahnya menunjukkan kekalahan. Lia menghela napas lega. Phew. Ini lebih susah dari yang dia bayangin. Tantangannya bukan cuma soal berani, tapi soal berani di tempat yang isinya orang-orang dengan niat yang kayaknya cuma satu: bersenang-senang tanpa batas.
Dia melirik jam tangannya. Baru pukul sembilan. Dia harus bertahan setidaknya sampai tengah malam, atau Rina pasti akan menganggapnya gagal total.
Lia mulai memaksakan diri untuk melihat sekeliling, mencari 'target' yang kira-kira bisa diajak ngobrol santai tanpa harus menjual jiwanya. Matanya menyapu deretan sofa beludru, kemudian berhenti di sebuah sudut yang paling gelap dan paling jauh dari keramaian.
Di sana, duduk seorang pria.
Pria itu sendirian, persis seperti Lia. Tapi, auranya beda banget. Kalau Lia itu 'sendirian' karena kaku dan takut, pria ini 'sendirian' karena memilih untuk itu. Dia dikelilingi pagar tak kasat mata yang terbuat dari aura superioritas dan bahaya.
Dia duduk santai, mengenakan kemeja hitam yang kerahnya sedikit terbuka, menunjukkan tulang selangka yang tegas. Dia tidak minum, atau setidaknya, gelas di depannya masih penuh. Tapi yang paling membuat Lia terpaku adalah matanya.
Bahkan dari jarak sejauh itu, Lia bisa merasakan intensitas tatapannya. Pria itu menatapnya, bukan dengan tatapan mesum seperti pria di bar tadi, tapi dengan tatapan analitis. Seolah dia sedang mengamati sebuah spesies baru yang menarik. Tatapan yang menguliti, membuat Lia merasa semua kebohongannya-gaun mahal, lipstik merah, keberanian palsu-terkuak telanjang di bawah sorot mata itu.
Jantung Lia, yang tadinya cuma berdebar karena adrenalin, sekarang berdebar karena alasan yang benar-benar baru. Ini bukan deg-degan cinta. Ini... tertangkap.
Lia berusaha memalingkan wajah, tapi gagal. Matanya terkunci. Dia merasakan sensasi panas dingin menjalar dari lehernya sampai ke ujung kaki. Otaknya berteriak, 'Kabur! Dia bahaya!' Tapi tubuhnya malah terpaku.
Tiba-tiba, pria itu tersenyum. Tipis, sangat sedikit, tapi cukup untuk mengirimkan gelombang listrik ke saraf Lia. Senyum itu seolah berkata, 'Aku tahu apa yang kamu lakukan di sini, Aurelia Safira.'
Lia nggak tahu dari mana asalnya, tapi nama 'Aurelia Safira' seolah terucap di benaknya, disuarakan oleh senyum dingin pria itu.
Dan kemudian, hal yang paling Lia takuti-sekaligus paling dia tunggu-terjadi.
Pria itu bangkit. Tinggi, sangat tinggi. Posturnya tegap, dan setiap langkahnya terasa berbobot, berirama, seolah dia pemilik tempat ini dan semua orang di dalamnya harus menyingkir.
Dia berjalan ke arah Lia. Semua orang di bar itu seolah berhenti bernapas, termasuk Lia.
Lia berusaha membuka mulut untuk bilang, "Stay away," tapi yang keluar cuma napas pendek.
Pria itu berhenti tepat di depannya. Aroma parfumnya bukan wangi maskulin biasa. Ada bau kayu yang kuat, tembakau yang elegan, dan sedikit mint. Memabukkan.
Dia membungkuk sedikit, membuat wajahnya dekat dengan Lia, cukup dekat hingga Lia bisa melihat bayangan dirinya sendiri di mata pria itu. Mata yang tajam, hitam kelam, tanpa belas kasihan.
"Kamu... bukan dari sini," suaranya berat, dalam, seperti gema di ruangan kosong. Dia menggunakan kata 'kamu', yang terasa lebih intim daripada 'Anda', tapi jauh lebih berkuasa daripada 'lo'.
Lia menelan ludah. Rasa panas yang dia rasakan tadi kini bercampur dengan rasa dingin yang menusuk. Ini dia, 'sesuatu' itu. Perasaan nggak nyaman, tapi adiktif.
"Maksudnya?" Lia berhasil memaksakan suaranya keluar, terdengar lebih serak dari yang dia mau.
Pria itu tidak menjawab. Dia hanya menatap lurus ke mata Lia, seolah sedang membaca database di otaknya. Kemudian, dia mengangkat tangannya-tangan besar, dengan jari-jari panjang dan bersih-dan dengan gerakan yang sangat pelan, dia menyentuh pipi Lia.
Sentuhan itu nggak sensual, nggak agresif. Hanya sentuhan yang sangat, sangat yakin. Sentuhan yang seperti claim.
"Kamu datang ke tempat ini untuk mencari sesuatu yang kamu sendiri nggak tahu namanya. Benar?" tanyanya, suaranya kini berbisik, hanya untuk didengar Lia.
Lia kaget setengah mati. Bagaimana dia tahu?
"Saya... saya nggak ngerti," dusta Lia, mencoba menepis tangan pria itu, tapi pria itu menahan dagunya, lembut tapi tak terhindarkan.
"Jangan bohong. Di matamu ada rasa penasaran, tapi juga rasa takut. Campuran yang menarik," Dia memiringkan kepalanya sedikit. "Kamu tahu risikonya datang ke sini sendirian, dengan penampilan seperti ini?"
Lia memberanikan diri. "Terserah saya. Saya di sini karena tantangan."
Pria itu tertawa pelan. Tawa yang jarang, tapi membuat Lia merinding. "Tantangan? Kalau begitu, biar aku yang ambil alih tantangan itu."
Tanpa menunggu persetujuan Lia, pria itu menarik kursi di samping Lia, duduk di sana, dan memanggil pelayan.
"Satu botol Dom Pérignon yang paling dingin. Bawa ke kamar 305," katanya, suaranya tegas dan final.
Lia langsung panik. Kamar 305? Kamar apa?
"Tunggu! Maksudnya apa kamar 305? Saya nggak ikut!" Lia berbisik, matanya melebar.
Pria itu menoleh lagi, tatapannya kini berubah menjadi gelap dan mendesak. "Kamu datang ke sini mencari sesuatu yang akan membuatmu lupa diri, kan? Aku akan memberikannya. Tapi kamu nggak punya pilihan lain selain ikut permainanku. Karena kalau kamu menolak, kamu akan membuktikan kalau kamu memang ratu es yang pengecut, seperti kata teman-temanmu."
Gila. Dia tahu itu juga? Bagaimana?
Rasa takut Lia kini benar-benar kalah sama rasa penasaran dan gengsi yang membakar. Ratu es yang pengecut. Kata-kata itu lebih menyakitkan daripada ancaman fisik apa pun.
"Siapa kamu?" tanya Lia, suaranya kini sudah mantap.
Pria itu hanya menyeringai, senyum yang menjanjikan dosa dan kenikmatan sekaligus. "Seorang pria yang nggak kamu kenal sama sekali. Dan nama nggak penting malam ini."
Dia berdiri, menawarkan tangan besarnya ke Lia. "Ayo. Tantanganmu baru saja dimulai."
Lia menatap tangannya. Tubuhnya terasa berat, tapi jiwanya terasa ringan, tertarik oleh kekuatan gelap dan misterius dari pria di depannya. Dia tahu ini salah, dia tahu ini bahaya, tapi rasa ingin tahu untuk merasakan 'sesuatu' itu kini jauh lebih besar daripada akal sehatnya.
Perlahan, Lia mengulurkan tangan, menyambut sentuhan dingin dan kuat pria itu. Saat tangan mereka bersentuhan, Lia merasa bukan cuma tangannya yang ditarik, tapi seluruh dunianya.
Di malam yang dingin dan gelap di Elysium, Aurelia Safira-si gadis yang tak pernah jatuh cinta-melangkah menuju Kamar 305 bersama pria asing yang tidak dia kenal sama sekali, membuka gerbang menuju bahaya, gairah, dan takdir yang nggak akan pernah dia duga. Dan malam itu, dia benar-benar melupakan namanya sendiri.
Bau wiski yang tipis bercampur aroma kayu manis. Itu yang pertama kali Aurelia Safira cium saat matanya perlahan terbuka. Kepalanya berdenyut, bukan karena mabuk-dia ingat cuma minum mocktail-tapi karena kurang tidur dan mungkin, karena terlalu banyak adrenaline semalam.
Dia mengerjap. Langit-langitnya tinggi, dicat hitam pekat, dengan lampu kristal yang cahayanya dimatikan, hanya menyisakan bias lembut dari jendela besar yang tertutup tirai tebal. Dia ada di mana?
Ingatan itu langsung menghantamnya, bertubi-tubi seperti ombak ganas. Kamar 305. Elysium. Pria asing itu.
Lia langsung terduduk tegak di kasur yang entah kenapa terasa sepuluh kali lebih lembut dari kasurnya di rumah. Tubuhnya ditutupi selimut sutra yang entah milik siapa. Dia melirik pakaiannya. Pakaiannya masih lengkap-gaun hitam backless yang sama, bahkan lipstik merahnya pun masih sedikit menempel di bantal.
Tapi, tempat ini kosong.
"Pria itu... ke mana?" bisiknya pelan.
Dia melompat turun dari kasur, kakinya menjejak karpet tebal yang empuk. Lia celingukan mencari. Nggak ada tanda-tanda kehadiran pria itu lagi. Hanya ada botol Dom Pérignon yang masih tertutup, ice bucket yang sudah mencair, dan dua gelas kristal yang bersih.
Dia berjalan cepat ke meja nakas. Nggak ada catatan. Nggak ada kartu nama. Nggak ada apa-apa, kecuali jam tangan mahal yang dia lepaskan sebelum... sebelum semuanya terjadi.
Lia memegang dadanya. Jantungnya berdebar, tapi bukan lagi karena takut. Ada rasa aneh yang mengisi kekosongan di perutnya. Rasa... puas? Nggak, bukan puas. Tapi ada sesuatu yang terpecahkan. Ada kunci yang baru saja memutar gerendel yang sudah lama berkarat.
Malam itu. Malam itu sungguh gila. Pria itu nggak melakukan apa-apa yang kotor atau kasar. Justru, yang dia lakukan jauh lebih gila dari sekadar fisik.
Pria itu mengajaknya ngobrol. Obrolan yang panjang, gelap, dan sangat personal. Mereka bicara tentang ketakutan Lia, tentang kenapa dia nggak bisa jatuh cinta, tentang bagaimana Lia selalu membangun tembok tinggi di sekeliling perasaannya. Dan pria itu, tanpa Lia sadari, membongkar semua tembok itu hanya dengan kata-kata.
Dia bilang, "Kamu nggak jatuh cinta, bukan karena kamu nggak bisa, Aurelia. Tapi karena kamu nggak pernah mau. Kamu takut kalau kamu membuka hati, isinya cuma kehampaan."
Lia ingat, dia marah banget waktu itu. Tapi pria itu cuma senyum, dan kemudian dia melakukan sesuatu yang membuat Lia kaget dan nggak bisa bernapas. Dia mendekat, menempelkan dahinya ke dahi Lia, dan membisikkan sesuatu yang kini, di pagi yang dingin ini, masih bergetar di telinga Lia.
"Jangan takut. Hati yang kosong itu cuma butuh keberanian buat diisi, bukan cinta. Dan aku, malam ini, aku kasih kamu keberanian itu."
Setelah itu, semuanya buram. Lia ingat dia tertawa, dia menangis, dia bahkan teriak. Dia meluapkan semua emosi yang selama ini dia tahan. Pria itu nggak menciumnya, nggak menyentuhnya dengan agresif, tapi kehadirannya, obrolannya, tatapan matanya... itu jauh lebih intim dan menghancurkan dibandingkan sentuhan fisik apa pun.
Lia meraih tas tangannya yang tergeletak di lantai. Ada ponsel di dalamnya. Pukul 06.15 pagi. Gila. Dia semalaman di sini.
Dia melihat refleksi dirinya di cermin kamar mandi. Matanya sembab, tapi ada kilatan aneh di sana, kilatan yang belum pernah dia lihat sebelumnya. Dia sudah membuka 'sesuatu' yang Rina maksud. Sesuatu yang gila, yang liar, yang nggak terduga. Adrenaline rush yang membuat dia lupa bahwa dia adalah Aurelia Safira yang kaku.
"Oke, tantangan selesai," gumamnya, bibirnya membentuk senyum kecil, senyum kemenangan yang bercampur rasa ngeri. "Sekarang, pulang."
Lia bergegas meninggalkan Kamar 305, tanpa menoleh lagi. Nggak ada yang tahu siapa pria itu, dan Lia memutuskan dia nggak perlu tahu. Itu hanyalah bagian dari tantangan gila yang dia menangkan. Malam itu sudah berakhir, dan dia sudah berhasil membuktikan bahwa dia bukan lagi 'Ratu Es'.
Aurelia sampai di rumah pukul tujuh pagi. Dia langsung lari ke kamarnya, berharap nggak ada yang lihat. Tapi terlambat.
Baru saja dia menutup pintu kamar, suara langkah kaki ibunya, Bu Ratih, sudah terdengar di lantai kayu.
"Aurelia Safira! Kamu dari mana jam segini?!" Suara Bu Ratih selalu terdengar tegas, khas seorang ibu yang punya standar tinggi.
Lia memejamkan mata. Mampus. "Maaf, Ma. Lia nginep di rumah Rina. Ngerjain tugas, terus ketiduran."
Dia mencoba berbohong sehalus mungkin, tapi Bu Ratih sudah berdiri di ambang pintu, matanya menyapu penampilan Lia dari atas ke bawah. Gaun backless yang lecek, rambut yang sedikit berantakan, dan wajah yang pucat.
"Tugas apa yang harus dikerjakan sambil pakai gaun mini dan lipstik merah begini, Lia?" Bu Ratih menunjuk lipstik yang sudah agak luntur itu dengan tatapan mengintimidasi.
Lia langsung merasa ciut. "Ehm... presentasi besok, Ma. Sekalian rehearsal," jawabnya asal.
"Cukup." Bu Ratih menghela napas panjang, tatapannya melembut, tapi suaranya tetap penuh otoritas. "Kamu mandi sekarang, pakai baju yang rapi. Jangan tidur. Kita ada tamu penting jam sepuluh."
"Tamu? Siapa, Ma? Lia capek banget."
"Calon mertua kamu," kata Bu Ratih datar, seolah dia baru saja mengatakan, 'besok kita sarapan nasi goreng.'
Lia terdiam. Calon mertua?
Dia menatap ibunya, mencoba mencari jejak bercanda atau senyum jahil di wajah wanita itu, tapi nihil. Bu Ratih benar-benar serius.
"Ma... Mama ngomong apa? Calon mertua siapa? Lia nggak punya pacar, Ma. Lia kan..."
"Terserah kamu nggak punya pacar atau nggak. Tapi Tante Anita, teman lama Papa, datang dari Jakarta. Mereka mau menjodohkan kamu dengan putra sulungnya."
Dunia Lia langsung runtuh. Ini bahkan lebih gila dari tantangan Elysium. Dijodohkan? Di zaman modern ini? Tanpa persetujuan dia?
"Mama nggak bisa seenaknya begini, dong! Lia udah 19 tahun, Ma! Lia berhak milih!"
"Pilihan apa yang kamu punya, Lia?" Bu Ratih kini kembali ke mode 'keras.' "Sejak dulu, semua laki-laki yang mendekat kamu tolak. Kamu bilang kamu nggak mau pacaran karena nggak ada 'rasa'. Sekarang, Mama dan Papa yang akan carikan laki-laki yang 'pantas' untuk kamu. Laki-laki ini mapan, cerdas, dan keluarganya terpandang."
"Tapi, Ma..."
"Nggak ada tapi-tapian, Lia. Ini urusan bisnis dan masa depan. Kamu mandi sekarang. Jangan buat Mama malu. Kalau kamu berani membuat masalah di depan tamu, Mama dan Papa nggak akan segan-segan mengirim kamu jauh-jauh dari sini."
Ancaman itu membuat Lia terdiam. Dia tahu, kalau Bu Ratih sudah melibatkan Papa, artinya ini serius dan nggak bisa diganggu gugat. Lia yang baru saja merasakan sedikit kebebasan semalam, kini merasa terkurung lagi dalam sangkar emas.
Dia masuk ke kamar mandi, dan air dingin di shower nggak bisa memadamkan api amarah dan rasa nggak berdaya di dadanya. Dijodohkan. Dengan siapa? Dengan pria asing yang mungkin sama kaku dan membosankan seperti batu?
Pukul sepuluh kurang sepuluh. Lia sudah duduk manis di sofa ruang tamu, mengenakan dress selutut berwarna mint yang sopan, rambutnya diikat rapi. Wajahnya cantik, tapi ekspresinya dingin. Jauh lebih dingin daripada Lia yang mereka tuduh 'Ratu Es' sebelumnya.
Papa, yang biasanya santai, tampak tegang. Dia sesekali melirik Lia, seolah memperingatkan agar Lia nggak bikin drama.
Tepat pukul sepuluh, bel berbunyi. Bu Ratih langsung menyambut hangat keluarga tamu itu.
Lia menatap mereka. Keluarga ini terlihat sangat terhormat. Ada sepasang suami istri paruh baya yang terlihat sangat elegan dan ramah. Bu Anita, si ibu, langsung memeluk Lia dengan hangat.
"Aduh, Aurelia! Kamu cantik sekali, Nak. Persis seperti Ratih saat muda," kata Bu Anita, nadanya lembut dan penuh kasih sayang.
Lia cuma bisa tersenyum kaku dan mengangguk.
"Maaf, Tante. Kok kita nggak pernah ketemu?" tanya Lia, berusaha tetap sopan.
"Oh, Tante sudah lama tinggal di luar negeri, baru pindah lagi ke Jakarta setahun terakhir. Kamu pasti sibuk kuliah, ya? Nak Darius juga begitu. Kerjaannya menumpuk," jelas Bu Anita sambil terkekeh.
Lia mendengar nama itu: Darius. Calon suaminya.
"Darius belum datang, Nak?" tanya Papa pada Bu Anita.
"Maafkan dia, Herman. Darius itu lagi ada urusan mendadak. Kamu tahu sendiri, kan, pekerjaan dia nggak mengenal waktu. Tapi sebentar lagi dia pasti datang. Dia sudah di jalan," kata Tuan Fernandez, ayah dari Darius, dengan wajah santai.
Pekerjaan apa? Lia mulai penasaran. Pejabat? Pengusaha? Tapi kenapa harus mendadak begini?
Mereka duduk mengobrol tentang banyak hal: bisnis, cuaca, sampai rencana pernikahan. Lia merasa semakin sesak. Rencana pernikahan? Padahal dia bahkan nggak tahu wajah suaminya.
Setengah jam berlalu. Lia sudah mulai bosan mendengarkan obrolan orang tua yang membahas harga tanah dan saham. Dia melirik jam tangannya. Darius ini nggak sopan banget. Udah tahu mau ketemu calon istri, malah ngaret.
"Maaf, Om, Tante. Saya boleh permisi ke dapur sebentar, ambil minum?" Lia meminta izin.
Bu Ratih langsung menatapnya tajam, tapi Lia nggak peduli. Dia butuh udara segar.
Lia baru saja menuangkan air dingin ke dalam gelasnya di dapur, ketika tiba-tiba dia mendengar suara mobil berhenti mendadak di depan rumah. Suara itu begitu keras, sampai dia yakin itu bukan suara mobil biasa.
Bu Anita langsung sumringah. "Nah, itu dia! Dasar anak itu, selalu datang dramatis!"
Lia yang penasaran langsung berjalan ke ruang tamu, membawa gelas minumannya.
Di ambang pintu, berdiri seorang pria.
Lia berhenti di tengah-tengah ruang tamu, gelas di tangannya terasa sangat dingin. Jantungnya, yang baru saja dia yakini sudah 'terbuka' semalam, kini terasa seperti dihantam palu godam, kembali tertutup dan membeku dalam sekejap.
Dia menatap pria itu.
Tinggi, sangat tinggi. Posturnya tegap, mengenakan kemeja biru tua yang mahal dan celana bahan yang presisi. Dia nggak tersenyum. Raut wajahnya dingin, bahkan terkesan kejam. Matanya hitam, tajam, dan penuh dominasi.
Itu Darius Aksara.
Bukan cuma Darius Aksara yang akan dijodohkan dengannya. Tapi, Darius Aksara, si dosen killer di kampusnya. Dosen mata kuliah Pengantar Hukum Bisnis yang selalu membuat kelas hening dan aura kelas terasa seperti ruang sidang. Dosen yang terkenal dengan julukan 'Malaikat Maut' karena nggak segan-segan ngasih nilai E total kalau mahasiswanya terlambat semenit doang, atau salah satu koma dalam tugas.
Dan yang paling parah... Lia merasakan sensasi aneh. Entah kenapa, aura Darius, postur tubuhnya, cara dia menatap ruangan... terasa familiar.
Sangat familiar.
Tiba-tiba, mata Darius menangkap sosok Lia yang mematung di tengah ruangan. Tatapan itu menyapu Lia, dari ujung rambut sampai ujung kaki, berhenti sebentar di wajah Lia, lalu di mata Lia.
Di sana, di tatapan Darius, Lia nggak menemukan kehangatan atau senyum kaku calon pengantin. Yang Lia temukan cuma sebuah kilatan... pengakuan.
Kilatan itu hanya sepersekian detik, tapi cukup bagi Lia untuk membaca seluruh pesan tersembunyi. Seolah mata Darius berkata, 'Aku tahu kamu. Aku tahu siapa kamu, dan aku tahu apa yang kamu lakukan.'
Bukan cuma itu. Wajah Lia mendadak panas. Tiba-tiba, semua detail tentang pria asing di Elysium semalam kembali menghantamnya. Kemeja hitam, postur tinggi, suara bariton yang dalam... Aroma kayu dan mint.
Ya Tuhan. Jangan bilang....
Napas Lia tercekat. Dia menjatuhkan gelasnya.
Pyar!
Gelas itu pecah berkeping-keping di lantai marmer, membuat semua orang di ruangan itu kaget dan menoleh.
Bu Ratih langsung panik. "Aurelia! Astaga!"
Lia nggak peduli. Matanya hanya terpaku pada Darius. Rasa dingin menjalar di seluruh tubuhnya, bukan karena air di lantai, tapi karena kesadaran yang mengerikan.
Pria yang semalam membongkar habis semua pertahanan emosinya di Kamar 305, pria yang menjadi bukti kemenangannya atas tantangan 'Ratu Es', adalah Darius Aksara. Dosen killer-nya. Calon suaminya.
Darius melangkah masuk, nggak peduli pada pecahan gelas di lantai. Dia berjalan ke ayahnya, menyalami sebentar, dan kemudian menoleh lagi ke Lia. Wajahnya kini datar total, seperti nggak terjadi apa-apa. Nggak ada jejak senyum dingin yang dia tunjukkan di Elysium. Yang ada cuma ekspresi profesional yang membuat Lia makin ngeri.
"Maaf atas keterlambatan saya," kata Darius, suaranya dalam dan berwibawa, persis seperti di kelas. Dia nggak meminta maaf karena gelas pecah. Dia hanya meminta maaf atas keterlambatan.
Bu Anita tersenyum. "Nggak apa-apa, Nak. Kenalkan, ini Aurelia Safira. Calon istrimu."
Darius mengangguk kaku, kemudian mengulurkan tangannya ke Lia. "Darius Aksara. Senang bertemu denganmu, Aurelia."
Suaranya sangat formal, sangat dingin, dan sama sekali nggak menyinggung pertemuan semalam. Dia bertindak seolah mereka baru pertama kali bertemu.
Lia, tangannya gemetar, menyambut jabatan tangan Darius. Kulitnya dingin, tapi genggamannya kuat. Sama persis seperti genggaman di Elysium.
"Aurelia Safira," balas Lia, suaranya bergetar. Dia merasa tangannya kini dipegang oleh dua identitas yang berbeda. Satu adalah dosen yang siap memberinya nilai E, dan satu lagi adalah pria asing yang mencuri jiwanya semalam.
Setelah bersih-bersih pecahan gelas, suasana kembali formal, tapi bagi Lia, ruangan itu terasa seperti kuburan.
Bu Ratih dan Bu Anita sudah mulai membahas tanggal baik dan konsep pernikahan. Lia dan Darius didorong untuk duduk bersebelahan di sofa.
Lia menunduk, menghindari tatapan Darius, tapi dia bisa merasakan tatapan pria itu menusuknya. Dia nggak tahan lagi.
Lia berbisik, sangat pelan, hanya untuk didengar Darius. "Kamu... kenapa kamu nggak bilang?"
Darius nggak bergerak. Matanya tetap fokus pada percakapan antara kedua orang tua mereka, tapi dia membalas bisikan Lia, suaranya nyaris nggak terdengar. "Bilang apa? Bahwa kita pernah bertemu? Atau bahwa aku tahu kamu bolos kuliah minggu lalu?"
Lia langsung terkesiap. Dia tahu tentang Elysium, tapi Lia nggak menyangka Darius akan menyentil urusan kuliahnya.
"Aku nggak bolos," balas Lia. "Aku cuma... nggak masuk."
"Sama saja. Dan untuk yang semalam..." Darius memajukan wajahnya sedikit ke Lia. Aroma kayu manis dan mint itu kembali tercium, membuat Lia nggak bisa bernapas. "Apa yang terjadi di Elysium, tinggal di Elysium. Anggap itu... kelas praktek yang kamu ambil secara ilegal."
"Kelas praktek?" Lia mendongak, matanya penuh amarah dan penghinaan.
"Ya. Kamu bilang kamu butuh 'keberanian' untuk mengisi kekosongan. Sudah aku kasih. Sekarang, kamu punya tantangan yang lebih besar: menjadi istriku."
"Aku nggak akan mau! Aku akan bilang ke Mama kalau aku menolak perjodohan ini!" Lia berbisik, suaranya sudah seperti geraman tertahan.
Darius akhirnya menoleh sepenuhnya ke Lia. Tatapannya itu... itu bukan tatapan dosen ke mahasiswa. Itu tatapan predator ke mangsa.
"Kamu pikir kamu punya pilihan, Aurelia? Pertama, nama baik keluargamu sudah dipertaruhkan. Kedua, kamu pikir setelah yang semalam, kamu bisa bilang ke semua orang kalau kamu nggak mau menikah denganku?"
"Apa maksudmu?"
"Aku nggak pernah main-main, Aurelia. Dan aku nggak pernah melakukan sesuatu tanpa hasil. Semalam, kamu sudah menunjukkan kelemahanmu. Kamu sudah menunjukkan craving kamu pada kegilaan dan bahaya. Dan kebetulan, aku adalah paket lengkap dari semua itu."
Darius menyandarkan bahunya ke sofa, santai, seolah dia baru saja membahas cuaca. "Jadi, kamu mau mempermalukan kedua keluarga kita dengan bilang 'tidak', atau kamu mau mengambil 'tantangan' ini, dan melihat sejauh mana hidupmu bisa berubah bersamaku?"
Lia benar-benar speechless. Dia dijebak! Pria di Elysium itu sengaja membiarkan Lia melampiaskan emosinya, sengaja nggak mengenalkan dirinya, karena dia sudah tahu bahwa ini akan terjadi. Dia sengaja datang larut, membiarkan Lia berada di ambang keputusasaan sebelum mengungkapkan bahwa dia adalah dosen paling mengerikan di kampus.
"Aku nggak ngerti kenapa kamu mau dijodohkan. Kamu kan dosen. Kamu pasti punya banyak pilihan wanita," kata Lia, mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Aku butuh stabilitas di publik. Aku butuh istri yang nggak rewel, yang bisa menjaga citraku sebagai dosen yang berwibawa. Dan kebetulan, kamu adalah pilihan terbaik. Karena kamu nggak punya perasaan, jadi kamu nggak akan mengganggu pekerjaanku."
Kata-kata Darius itu menampar Lia keras-keras. Nggak punya perasaan. Ternyata Darius sudah tahu semua tentang dia, bahkan dari sebelum malam di Elysium.
Darius melihat ke Lia, senyum tipis-senyum Elysium-itu kembali muncul sebentar di sudut bibutnya, sebelum hilang lagi.
"Anggap ini seperti proyek akademik yang nggak bisa kamu tolak. Kita akan menikah. Kamu akan jadi Nyonya Aksara. Kamu harus patuh pada aturan di rumah. Dan di kampus, aku akan tetap jadi Malaikat Maut-mu. Kamu nggak akan dapat perlakuan spesial, kecuali... kamu yang memintanya."
Dia mencondongkan tubuhnya lagi, suaranya sangat rendah dan penuh janji yang berbahaya.
"Dan jangan khawatir. Aku pastikan, kehidupan rumah tangga kita nggak akan pernah membosankan. Apalagi setelah kamu tahu... pekerjaanku yang lain."
Lia menatap matanya. Di sana, di balik tatapan dingin dosen itu, ada janji bahaya yang mengerikan, janji petualangan yang semalam dia rasakan di Elysium. Dan tanpa sadar, Lia merasakan 'sesuatu' itu berdesir lagi di dalam dirinya. Itu bukan cinta, itu bukan nafsu. Itu adalah keinginan untuk tahu lebih banyak. Keinginan untuk mengintip ke dalam dunia gelap Darius Aksara.
Lia menghela napas, kekalahan terasa pahit di lidahnya, tapi ada semacam antisipasi yang manis.
"Oke," kata Lia, suaranya nyaris nggak terdengar. "Aku terima tantangan ini, Profesor Aksara."
"Bagus, Aurelia," jawab Darius, dan kali ini, senyumnya nyata, tapi sangat kejam. "Selamat datang di neraka. Sekarang, tersenyumlah. Mereka sedang melihat ke arah kita."
Lia menarik napas, memaksakan senyum paling palsu di wajahnya, lalu menoleh ke orang tua mereka yang sedang tersenyum bahagia.
Di satu malam, Aurelia Safira sudah kehilangan status Ratu Es, dan di pagi hari berikutnya, dia menemukan dirinya terjebak dalam sangkar emas, menikah dengan Malaikat Maut yang menyimpan rahasia pekerjaan paling berbahaya.
Sejak hari itu, hidup Aurelia Safira mendadak berubah jadi film dokumenter yang dikontrol penuh sama sutradara paling killer: Darius Aksara.
Nggak ada istilah pacaran, nggak ada kencan romantis. Yang ada cuma rapat. Rapat pernikahan.
"Kita mau konsep garden party yang santai, Kak. Nggak usah terlalu formal," Lia mencoba memberikan pendapat saat mereka bertemu dengan wedding organizer (WO) di sebuah hotel mewah minggu depannya. Lia masih nggak nyaman manggil Darius dengan sebutan lain selain 'Profesor' di dalam hati, tapi di depan umum dia harus terlihat sebagai calon istri yang patuh dan sedikit manja.
Darius, yang duduk di sampingnya, nggak peduli sama sekali dengan katalog bunga atau warna dekorasi. Dia sibak katalog itu, tatapannya datar ke arah Lia.
"Nggak. Aku mau konsepnya classic indoor. Undangan terbatas, hanya keluarga dan kolega penting. Nggak ada garden party, Aurelia. Itu terlalu... berisik."
Lia menahan napas. Berisik? Ini pernikahan, bukan pertemuan dewan direksi!
"Tapi, Kak Darius..." Lia mencoba bernegosiasi, nadanya dibuat semanis mungkin di depan WO. "Aku pengen yang intimate aja, Kak. Biar bisa lebih santai."
"Santai?" Darius menyeringai tipis, senyum yang sama persis kayak di Elysium, senyum yang cuma Lia yang tahu artinya. "Pernikahan ini bukan tentang kesenangan, Aurelia. Ini tentang kemitraan dan citra publik. WO, catat. Lokasi di Grand Ballroom Harsa. Warna: monochrome. Nggak ada bunga mencolok. Dan pastikan daftar tamu yang hadir sudah melewati screening dari asisten saya."
Lia langsung melotot ke arah Darius, tapi Darius pura-pura nggak lihat. Screening? Kayak mau seleksi agen rahasia aja.
Darius kemudian mencondongkan tubuh ke arah Lia, sedikit berbisik di telinganya. "Kita sudah sepakat, kan? Ini adalah tantangan. Dan di tantangan ini, aku yang pegang aturannya. Jangan buang waktu dengan bunga-bunga nggak penting."
Lia mengepalkan tangan di bawah meja. Nggak adil banget! Dia bahkan nggak bisa milih kue pengantin. Tapi Lia tahu, kalau dia melawan di sini, Darius pasti akan mencari cara lain yang lebih menyebalkan, mungkin dengan mengungkit lagi kejadian Kamar 305.
Sejak hari itu, Lia memilih pasrah, setidaknya di depan umum. Dia membiarkan Darius mengatur segalanya, mulai dari gaun yang super elegan dan tertutup, sampai souvenir pernikahan yang ternyata adalah bookmark berlapis perak yang sangat kaku.
Teman-temannya, Rina, Shasa, dan Dara, nggak berhenti terkejut.
"Lo yakin lo nikah sama manusia, Lia?" tanya Rina, nggak percaya saat mereka mencoba gaun pengantin. "Masa first dance lo mau dihapus dari rundown? Alasannya apa? 'Nggak efisien?' Gila, dia Malaikat Maut beneran, ya."
"Dia bilang itu nggak perlu. Dia nggak suka jadi pusat perhatian," jawab Lia lesu, sambil menatap gaunnya di cermin. Gaun itu indah, sangat mewah, tapi Lia merasa itu bukan gaunnya. Itu gaun milik Nyonya Aksara, yang perannya harus dia jalani.
"Tapi, lo... udah mulai ada rasa, nggak?" Shasa bertanya hati-hati.
Lia terdiam lama. Dia memikirkan Darius. Dosennya, suaminya, pria asingnya.
"Gue nggak tahu, Sha," kata Lia jujur. "Gue nggak ngerasain cinta. Nggak ada deg-degan kayak di film-film. Yang gue rasain cuma... penasaran. Rasa penasaran yang gila. Gue pengen tahu, kenapa dia jadi kayak gini? Kenapa dia seaneh ini? Dan... kenapa dia yang ada di Elysium malam itu?"
Rina menyentuh bahu Lia. "Hati-hati, Lia. Rasa penasaran itu sering banget disalahartikan jadi cinta. Apalagi kalau orangnya sekeren Darius. Tampangnya emang kayak Dewa Yunani yang turun jadi dosen."
Lia nggak menanggapi pujian Rina. Tapi Rina benar. Darius Aksara itu tampan, sangat tampan. Tapi ketampanannya itu dingin, seperti patung marmer yang mahal. Semakin Lia mengenalnya, semakin Lia yakin ada jurang misteri yang sangat dalam di balik mata hitamnya.
Hari pernikahan tiba.
Acaranya mewah, formal, dan sedingin kutub utara, persis seperti yang Darius mau. Lia berjalan di atas karpet beludru, tangannya menggenggam tangan Papanya. Matanya mencari Darius di ujung altar.
Darius sudah berdiri di sana, mengenakan jas tuxedo hitam yang sangat pas di tubuhnya. Dia terlihat seperti model sampul majalah bisnis-sempurna, tanpa cela, dan... tanpa emosi.
Saat Papa menyerahkan Lia ke Darius, tangan Darius menggenggam tangannya erat. Genggaman yang terasa seperti rantai, bukan janji.
Upacara itu berjalan cepat dan sangat khidmat. Saat mengucapkan janji, suara Darius terdengar tegas, jelas, dan profesional. Sama sekali nggak ada getaran kasih sayang di sana. Lia menirukan janji itu, bibirnya terasa mati rasa.
Puncak kedinginan itu terjadi saat sesi ciuman. Darius hanya membungkuk sedikit, menempelkan bibirnya ke dahi Lia. Hanya sentuhan singkat dan dingin, nggak lebih intim daripada ciuman yang diberikan ke anak kecil. Tapi di momen itu, saat dahi mereka bersentuhan, Darius membisikkan sesuatu, lagi-lagi hanya untuk didengar Lia.
"Selamat datang, Nyonya Aksara. Permainan baru saja dimulai."
Lia membalas bisikannya, bibirnya tetap tersenyum untuk kamera. "Profesor Aksara, semoga kamu menikmati tantangan ini."
Malam itu, mereka sudah berada di rumah baru mereka. Rumah itu nggak bisa dibilang rumah. Itu lebih mirip mansion mewah dengan desain minimalis, didominasi warna hitam, abu-abu, dan putih. Dingin, steril, dan besar sekali. Lia yakin, kalau dia teriak di lantai dua, suaranya nggak akan kedengaran sampai dapur.
Di kamar utama-yang ukurannya sebesar apartemen studio Lia-Darius sudah duduk di sofa tunggal, masih dengan kemeja tuxedo-nya, sedang memegang tablet dan membaca sesuatu.
Lia baru saja selesai membersihkan make up tebalnya. Dia berjalan keluar dari kamar mandi dengan kimono sutra. Canggung. Sangat canggung. Ini malam pertama mereka sebagai suami istri.
"Kamu nggak tidur?" tanya Lia, mencoba memecah keheningan yang menyesakkan itu.
Darius mendongak, matanya nggak menunjukkan kejutan sedikit pun. Seolah Lia adalah perabot yang tiba-tiba bersuara.
"Belum. Ada beberapa hal yang harus aku selesaikan," jawabnya datar.
"Pekerjaan apa yang harus kamu selesaikan di malam pernikahan?" Lia memberanikan diri.
Darius menutup tabletnya dengan bunyi klik yang keras. Dia berdiri. Langkahnya ke arah Lia terasa sangat mengancam, bahkan tanpa dia melakukan apa-apa.
"Dengar, Aurelia," katanya, berdiri kurang dari satu jengkal di depan Lia. Lia harus mendongak untuk menatapnya. "Pernikahan ini punya tujuan. Kamu tahu itu. Kita sudah sepakat. Tapi ada beberapa aturan yang harus kamu camkan."
Privasi: "Area kerjaku di lantai dasar, dan ruanganku di ruang bawah tanah, out of limits. Jangan pernah masuk tanpa izin. Kalau kamu melanggar, aku anggap kamu melanggar kontrak."
Hubungan Publik: "Di depan umum, kamu adalah istri yang ideal. Kamu harus tahu semua tentang bisnis keluargaku, tersenyum, dan berinteraksi dengan kolega. Kamu akan kupersiapkan untuk itu."
Hubungan Pribadi: "Di sini," dia menunjuk ke lantai kamar, "kita adalah dua orang asing yang dipaksa tinggal di bawah satu atap. Kita nggak punya kewajiban untuk menjadi suami istri yang romantis. Kita tidur di kamar yang sama, ya. Tapi jangan pernah berharap lebih, kecuali aku yang memintanya."
Lia merasa pipinya memanas. Rasa malu, marah, dan penasaran itu bercampur jadi satu.
"Aku nggak sebodoh itu, Profesor Aksara," kata Lia, menekankan gelar itu. "Aku tahu di mana tempatku. Aku nggak akan pernah mencintai kamu. Kamu terlalu kaku dan... mengerikan."
Darius tersenyum lagi. Senyum yang membuat darah Lia berdesir. "Bagus. Pertahankan itu. Aku nggak butuh cinta dari kamu. Aku butuh kepatuhan. Dan satu hal lagi, kamu masih harus kuliah. Kalau nilaimu turun, atau kamu bikin onar di kampus, aku sendiri yang akan mengurusmu. Kamu tahu aku nggak segan-segan."
"Aku tahu."
Darius kemudian mengangguk, seolah obrolan itu sudah selesai. Dia berbalik, menuju lemari besar. Dia membuka lemari itu, dan Lia kaget melihat isinya. Nggak cuma pakaian formal, tapi juga ada banyak peralatan aneh, termasuk sebuah tas hitam besar yang kelihatannya berat banget.
Darius melepas kemejanya, memperlihatkan punggungnya yang bidang dan terbentuk sempurna. Di bahu kirinya, Lia melihatnya. Sebuah bekas luka yang panjang dan sedikit bergelombang, seolah itu adalah luka tembak atau tebasan pisau yang dalam.
Lia tercekat. Itu bukan bekas luka jatuh dari sepeda. Itu bekas luka yang berbahaya.
"Darius..." panggil Lia tanpa sadar.
Darius membeku, punggungnya menghadap Lia. "Jangan panggil aku Darius kalau nggak ada orang lain di dekat kita. Panggil aku Profesor, atau... bos kamu, kalau kamu mau."
"Bekas luka di bahu kamu itu... kenapa?" tanya Lia, mengabaikan instruksinya.
Darius nggak menjawab. Dia mengambil kaus hitam polos dari lemari, memakainya dengan gerakan cepat, menutupi bekas luka itu lagi.
"Itu bukan urusan kamu," jawab Darius dingin. Dia kemudian berjalan ke sisi kasur, menyingkap selimut. "Aku mau tidur. Dan besok pagi, kamu harus sudah di dapur jam enam. Ada jadwal lari pagi dan sarapan bersama."
Lia nggak bisa tidur malam itu. Dia berbaring di sisi kasur yang besar, jaraknya terasa jauh sekali dari Darius yang tidur tenang di sisi lain, seolah nggak terjadi apa-apa. Tapi pikiran Lia nggak tenang.
Dosen killer yang dia nikahi ini punya bekas luka seperti itu? Apa yang dia sembunyikan? Obrolan di Elysium, tatapan yang menguliti, screening tamu pernikahan, bekas luka, dan ruangan bawah tanah yang out of limits. Semua itu menjeritkan satu hal: Darius Aksara bukan cuma dosen atau pengusaha. Dia punya pekerjaan lain. Pekerjaan yang berbahaya.
Seminggu pertama pernikahan mereka berjalan seperti drama opera sabun yang sangat kaku.
Pagi hari, Lia harus bangun jam enam, lari pagi di sekitar kompleks perumahan yang super elit itu (ditemani bodyguard yang dia sebut "Asisten D" yang nggak pernah bicara), sarapan mewah yang dingin, lalu berangkat kuliah. Darius juga sibuk dengan pekerjaannya, kadang di rumah, kadang di kantor, dan kadang-kadang... dia menghilang.
Darius tetap bersikap profesional di kampus. Di kelasnya, Lia diperlakukan persis kayak mahasiswa lainnya, bahkan cenderung lebih keras.
"Aurelia Safira, jawaban kamu itu terlalu ambigu. Aku nggak mau opini. Aku mau fakta dan dasar hukumnya," kata Darius saat Lia mencoba menjawab pertanyaannya di kelas.
Semua mahasiswa lain, termasuk Rina dan Shasa, nggak tahu kalau dua orang itu sudah menikah. Mereka hanya tahu Lia adalah keponakan jauh yang baru ketemu lagi sama Darius-alasan yang sengaja Darius buat untuk menjelaskan kemunculan Lia di rumahnya.
Yang paling membuat Lia frustasi adalah bagaimana Darius bisa berubah. Di kampus, dia Dosen Killer yang nggak bisa disentuh. Di depan orang tuanya, dia suami yang tenang dan berwibawa. Tapi di malam hari, di rumah itu, dia adalah sosok misterius yang membuat Lia penasaran setengah mati.
Lia sering banget diam-diam mencoba mendekati ruang kerja Darius di lantai dasar. Pintu itu selalu tertutup dan dikunci elektronik. Di ruangan itu, Lia sering mendengar suara-suara aneh. Bukan suara orang bicara, tapi suara yang lebih... mekanis. Suara ketikan cepat, suara scanning, atau kadang, keheningan total yang terasa lebih mencekam daripada kebisingan apa pun.
Suatu malam, sekitar jam dua pagi, Lia terbangun karena suara yang sangat pelan dari kamar mandi. Dia melihat ke samping, Darius nggak ada di kasur.
Lia bangkit diam-diam, berjalan pelan ke arah kamar mandi. Pintu itu sedikit terbuka.
Dia mengintip.
Darius sedang bicara di telepon. Bukan telepon biasa. Itu adalah satellite phone yang aneh, dengan banyak antena yang menempel. Wajah Darius gelap, matanya tajam, dan bahasanya... bukan bahasa Indonesia, bukan bahasa Inggris. Itu bahasa yang Lia nggak kenal, terdengar seperti Eropa Timur, dengan aksen yang berat dan cepat.
Lia bersembunyi di balik lemari pakaian, jantungnya berdebar kencang.
"Ya, target sudah dieliminasi." Itu kalimat yang Lia tangkap. Walaupun pakai bahasa asing, kata 'eliminasi' (atau yang setara) dan nada bicara Darius yang dingin dan kejam itu nggak mungkin salah.
"Tidak ada saksi. Lacak data dan hilangkan jejaknya sekarang juga."
Setelah kalimat itu, Darius bicara lagi dalam bahasa asing itu, yang Lia pahami hanya satu kata: "Selesai."
Lia langsung merayap kembali ke kasur, pura-pura tidur, seluruh tubuhnya gemetar. Dia menarik selimut sampai ke leher, matanya menatap langit-langit.
Eliminasi? Target? Lacak data? Hilangkan jejak? Ini bukan bahasa dosen, bukan bahasa pengusaha properti. Ini bahasa... agen rahasia. Atau, lebih buruk lagi, pembunuh bayaran.
Saat Darius keluar dari kamar mandi, dia berjalan ke kasur, dan Lia bisa mencium bau cologne yang tajam, tapi juga bau samar-samar yang aneh, seperti bau tembaga atau-darah.
Lia menahan napas sampai Darius mematikan lampu dan berbaring. Lia menunggu sampai napas Darius teratur, memastikan dia sudah tidur pulas.
Saat sudah yakin Darius tidur, Lia membuka matanya lagi. Rasa takutnya kini berganti jadi tekad.
Aku akan bongkar rahasia ini.
Darius Aksara bilang pernikahan ini adalah tantangan? Lia akan menerima tantangan itu. Dia nggak akan jadi istri bodoh yang cuma patuh dan diam. Dia akan mencari tahu siapa sebenarnya 'Malaikat Maut' yang dia nikahi ini, dan apa yang dia lakukan dengan bekas luka di bahunya dan satellite phone-nya.
Esok harinya, Lia memutuskan untuk mengambil risiko. Dia harus masuk ke ruang kerja Darius.
Darius sudah berangkat pagi-pagi sekali. Lia tahu karena dia dengar suara mobil sport-nya meninggalkan rumah. Lia berpakaian santai, lalu berjalan santai ke ruang kerja Darius di lantai dasar.
Tepat seperti yang Lia duga, pintu itu dikunci elektronik. Lia menyentuh sensor sidik jari di samping pintu. Tentu saja, pintu itu nggak terbuka.
"Cih, ketat banget," gumam Lia.
Dia kemudian berjalan ke dapur, menemui Bi Minah, asisten rumah tangga yang sudah tua dan baik hati.
"Bi, apa Bi Minah tahu password atau kunci ruang kerja Bapak?" tanya Lia dengan senyum paling manis.
Bi Minah menggeleng. "Aduh, Nyonya. Bibi nggak tahu. Ruangan itu nggak boleh dimasuki siapa-siapa, katanya buat dokumen penting. Bapak sendiri yang bersih-bersih di sana, Nyonya."
Lia menghela napas. Jalan buntu.
Tapi Lia bukan Aurelia yang menyerah pada tantangan lagi. Dia sudah menang melawan Rina di Elysium. Dia harus menang melawan Darius di rumahnya sendiri.
Dia kembali ke ruang kerja itu, mengamati dengan teliti. Dinding ruangan itu terbuat dari kayu jati yang tebal. Di sudut ruangan, ada sedikit celah kecil di dekat lantai, tempat kabel AC masuk.
Lia tiba-tiba ingat sesuatu. Darius sangat disiplin soal kebersihan. Dia nggak suka debu. Tapi kenapa ada celah sekecil itu?
Lia berlutut, mencoba mengintip. Gelap. Tapi dia bisa mencium bau yang aneh dari sana. Bau logam dan bahan kimia.
Lia kemudian teringat pada ucapan Rina soal Malaikat Maut ini: Darius itu sangat perfeksionis. Kalau dia super perfeksionis, dia pasti akan memastikan nggak ada celah sekecil apa pun di rumahnya. Kecuali... celah itu memang sengaja ada.
Lia mengambil kunci cadangan lemari pakaian (yang untungnya nggak dikunci elektronik), lalu menusuk-nusuk celah itu pelan. Kunci itu menyentuh sesuatu yang keras di dalamnya.
Dia menghela napas, frustasi. Lia kemudian bersandar ke dinding, mencoba mendengarkan lagi. Nggak ada suara.
Tiba-tiba, dia melihat sesuatu di rak buku besar yang terletak di samping pintu ruang kerja. Rak buku itu penuh dengan buku-buku tebal tentang hukum, ekonomi, dan sejarah kuno.
Lia menyentuh salah satu buku yang terlihat lebih tua dan lebih berat dari yang lain: 'The Art of War'. Lia ingat Darius pernah bilang buku ini adalah bacaan wajib untuk kelasnya.
Lia meraih buku itu, berniat membawanya ke kamarnya. Tapi saat dia menarik buku itu, buku itu nggak bergerak. Seolah direkatkan. Lia menariknya lebih keras.
Klik!
Lia membeku. Buku itu nggak lepas, tapi terdengar bunyi klik yang sangat pelan dari dinding di sebelahnya.
Lia menoleh cepat ke pintu ruang kerja. Lampu hijau di atas sensor sidik jari itu menyala sekejap, lalu mati lagi.
Mata Lia membesar. Kode rahasia.
Dia mengembalikan buku 'The Art of War' ke tempatnya, lalu mencoba buku lain yang terlihat sama tebalnya: 'Constitutional Law'. Dia menariknya.
Klik! Lampu hijau menyala lagi.
Lia mulai bersemangat. Dia sekarang tahu rahasia Darius yang kaku itu: dia menggunakan kombinasi buku di rak buku sebagai password mekanis untuk membuka pintu rahasia.
Lia mulai mencoba semua buku tebal secara acak, menarik dan mendorongnya. Satu. Dua. Tiga. Dia mencoba sampai dia menemukan kombinasi yang tepat.
Lia berkeringat dingin, dia menghabiskan waktu hampir setengah jam. Dia mencoba kombinasi teraneh, dari buku tentang Hukum Romawi kuno, lalu buku tentang Analisis Pasar Saham, dan yang terakhir, buku tentang Criminal Psychology.
Saat buku ketiga itu dia dorong kembali ke tempatnya, dia mendengar suara blessing yang keras. Pintu ruang kerja itu nggak terbuka, tapi panel dinding yang ditutupi kayu jati di samping rak buku itu bergeser ke samping, menampakkan lorong gelap dan tangga yang menurun ke bawah.
Lia terperanjat. Ruang kerja Darius bukan di lantai dasar. Itu adalah ruang bawah tanah rahasia!
Rasa takut Lia kini sudah lenyap, digantikan euforia kemenangan. Dia berhasil! Dia berhasil membongkar salah satu rahasia Darius.
Dia melihat ke sekeliling. Rumah kosong. Bi Minah lagi di pasar. Ini kesempatan satu-satunya.
Lia menghela napas panjang, menguatkan diri. Dia harus turun. Dia harus tahu. Dia harus tahu kenapa suaminya yang bergelar Malaikat Maut ini punya bunker rahasia di rumahnya.
Dia melangkah masuk ke lorong gelap itu. Di dalamnya, ada bau yang lebih kuat: bau minyak mesin, kulit baru, dan sedikit bau tembakau.
Tangga itu curam, dengan penerangan otomatis yang menyala redup saat Lia turun. Begitu kakinya menyentuh lantai beton di bawah, dia langsung tahu: ini bukan ruang kerja. Ini semacam markas rahasia.
Di tengah ruangan yang sangat luas itu, ada meja besar dengan delapan monitor komputer yang menyala semua, menampilkan peta, grafik aneh, dan deretan kode yang Lia nggak mengerti. Di sudut, ada papan besar berisi foto-foto dan benang merah yang menghubungkan titik-titik-papan penyelidikan.
Dan yang paling membuat Lia lemas... di sepanjang dinding, tergantung berbagai jenis senjata. Senapan serbu, pistol otomatis, dan pisau tempur dengan sarung kulit yang terawat sempurna. Itu semua asli, bukan pajangan.
Lia berjalan pelan, kakinya terasa berat. Dia menyentuh meja kerja Darius. Di sana ada headset militer, beberapa paspor dengan nama dan foto yang berbeda-beda, dan sebuah lencana yang nggak Lia kenal, dengan simbol elang yang mencengkeram petir.
Ya Tuhan. Dia bukan dosen.
Dia berjalan ke papan penyelidikan. Dia melihat foto-foto yang tertempel di sana. Foto-foto politisi, pengusaha, bahkan beberapa tokoh militer. Ada benang merah yang menghubungkan foto-foto itu, dan di samping setiap foto, ada tulisan tangan Darius yang dingin: 'Target Teridentifikasi', 'Ancaman Tinggi', 'Eliminasi Diperlukan'.
Tiba-tiba, mata Lia menangkap satu foto. Foto seorang pria paruh baya yang terpotong dan dicoret silang dengan spidol merah tebal. Di bawah foto itu, ada catatan singkat dalam bahasa Inggris: "Confirmed. Completed 02:30 hours. Status: Clean."
Lia langsung ingat obrolan telepon Darius di kamar mandi tadi malam, pukul 02.30.
"Ya, target sudah dieliminasi."
Keringat dingin membanjiri Lia. Dia nggak salah dengar. Suaminya, Darius Aksara, si dosen killer yang dia nikahi, adalah... seorang eksekutor? Pembunuh bayaran? Atau agen rahasia yang kerjanya di luar hukum?
Lia menutup mulutnya, menahan jeritan ngeri yang hampir lolos. Dia mau kabur. Dia mau lari sejauh mungkin dari pria gila ini.
Tiba-tiba, salah satu monitor di meja itu berkedip. Ada notifikasi yang muncul di layar utama: 'ACCESS VIOLATION. Perimeter breached. Security protocol initiated.'
Lampu di ruang bawah tanah itu langsung berubah menjadi merah, sirine kecil berbunyi pelan.
Lia panik. Dia nggak tahu harus ke mana. Dia berlari ke tangga, mencoba naik, tapi suara pintu rahasia di atasnya sudah berbunyi.
Gedebum!
Pintu itu tertutup dengan sangat cepat, mengunci Lia di dalam markas rahasia itu.
Lia membenturkan diri ke pintu yang tertutup. "Buka! Tolong! Buka!"
Percuma. Pintu itu tebal dan tertutup rapat.
Lia kembali menatap monitor yang tadi berbunyi. Di sana, muncul pop up besar berwarna merah.
'DARIUS AKSA RA. Incoming call from primary handler.'
Jantung Lia hampir copot. Darius akan tahu. Dia akan tahu Lia masuk ke sini.
Lia berdiri mematung di tengah ruangan, dikelilingi senjata, peta target, dan kegelapan, menyadari sepenuhnya: dia bukan cuma menikah dengan dosen yang kaku. Dia menikahi bahaya. Dia menikahi Malaikat Maut yang sebenarnya. Dan sekarang, dia terjebak di dalam nerakanya.