Bab 1

BAB 1

HARI PERNIKAHAN

"Saya terima nikah dan kawinnya Anindya Larasati Utami binti Slamet Baskoro dengan mas kawin seperangkat alat salat dan uang tunai seratus juta rupiah dibayar tunai."

"Bagaimana saksi? Sah?"

"Sah!"

"Alhamdulillahirobbil 'alamin."

Sang penghulu memimpin doa.

Usai penghulu membacakan doa, Pak Slamet menghembuskan napas terakhir. Tunai sudah tanggung jawabnya. Kini, dia bisa pergi dengan tenang.

"Bapak!" teriak Nindy.

"Pak, jangan tinggalkan Nindy, Pak! Bapak!" teriak Nindy histeris. Rukmini, Ibu Nindy pun tak kuasa menahan air matanya.

"Nindy, kamu yang sabar! Bapak kamu sudah tenang!" ujar Jarvis, Papa Nathan, suami Nindy.

"Nindy sekarang sudah tidak punya siapa-siapa, Om!" ujar Nindy sembari menangis.

"Tenang saja! Sekarang kan, kamu sudah punya kami! Nathan, kamu tenangkan istri kamu! Biar Papa urus administrasinya!" ujarnya.

"Papa disini saja, biar aku yang urus administrasi! Papa kan gak boleh kecapekan!" sahut Nathan.

"Baiklah!"

Nathan segera melangkah meninggalkan ruangan mertuanya. Dia tak mau berlama-lama disana, apalagi duduk berdua dengan wanita yang baru saja dinikahinya.

*************

Jarvis Dharmawangsa adalah seorang pengusaha kaya raya. Dia memiliki seorang anak laki-laki bernama Nathan Ivander Dharmawangsa. Istrinya bernama Adelia.

Slamet Baskoro adalah ayah Nindy. Dia dan Papa Nathan bersahabat. Sebenarnya, perkenalan mereka awalnya tanpa sengaja.

Saat itu, Jarvis kemalaman pulang dari kantor. Tiba-tiba, dia mengalami insiden ban pecah. Dengan terpaksa, Jarvis meminggirkan kendaraannya.

Saat dia tengah memeriksa roda mobilnya, tiba-tiba datang dua orang pemuda yang membawa senjata tajam hendak merampoknya. Beruntung, saat itu Pak Slamet sedang melewati jalan itu dan menolong Jarvis.

Meski harus mengalami memar di wajahnya, Pak Slamet berhasil mengalahkan dua orang berandalan itu. Jarvis merasa sangat berhutang budi kepada Pak Slamet. Sejak saat itu, mereka bersahabat.

Saat itu, Pak Slamet sedang pulang berjualan. Dia adalah penjual nasi goreng keliling. Untuk membalas jasanya, Jarvis membuatkan sebuah kedai nasi goreng sederhana di depan rumah Pak slamet.

Kedai sederhana karena memang itu keinginan Pak Slamet. Dia tidak mau dianggap memanfaatkan kebaikan orang lain. Lagi pula, kedai sederhana itu adalah impiannya sejak lama. Sudah lama, dia berencana membuka kedai nasi goreng di depan rumah mereka agar dia tak lagi capek berkeliling dan tidak perlu meninggalkan putri semata wayangnya. Meski sederhana, beliau merasa sangat bersyukur.

Sejak saat itu, ketika ada waktu senggang, Jarvis sering mengunjungi kedai tersebut. Kesederhanaan Pak Slamet benar-benar membuatnya terpesona dan betah berlama-lama berdiskusi di sana.

Di kedai tersebut, Jarvis sering bertemu Nindy. Dia setiap hari membantu ayahnya berjualan disela-sela tugas kuliahnya. Kesederhanaan Nindy pun juga membuatnya terpesona dan dia berencana akan menjodohkan putranya dengan Nindy.

Akhir-akhir ini, kondisi kesehatan Pak Slamet terus menurun. Dia mengkhawatirkan putrinya. Bagaimana dengan putrinya jika dia sewaktu-waktu dipanggil Tuhan?

Hari itu adalah hari kelulusan Nindy. Dia lulus dengan nilai terbaik. Jarvis datang mengunjungi Pak Slamet dan menawarkan pekerjaan untuk Nindy di perusahaannya. Saat mereka sedang berbincang, tiba-tiba

Pak Slamet pingsan. Jarvis bersama Nindy segera membawa Pak Slamet ke rumah sakit. Ternyata, radang paru-paru yang dideritanya sudah cukup parah.

Satu harapan terakhir Pak Slamet, dia ingin menjadi wali di pernikahan putrinya. Akhirnya, rencana pernikahan itu dipercepat. Hari ini pernikahan tersebut digelar secara sederhana di kamar rumah sakit. Nindy, gadis sederhana berusia 22 tahun dinikahkan dengan Nathan, CEO muda yang kini berusia dua puluh tujuh tahun.

***********

Selama acara pemakaman, Nindy tak berhenti menangis. Para tetangga yang datang melayat, memandang heran atas kedatangan keluarga Jarvis.

Usai pemakaman, rencananya Nindy segera diboyong ke rumah besar Jarvis.

"Nindy, sekarang kan kamu tinggal sendiri. Sebaiknya, kamu ikut kami sekarang. Lagi pula, kamu dan Nathan kan sudah sah menjadi suami istri,"ujar Jarvis.

"Maaf, Om, kalau boleh, Nindy mau disini dulu sampai selesai acara tujuh harian bapak," sahut Nindy.

"Baiklah, biar Nathan yang menemani kamu disini."

"Pa, masak Nathan disuruh tinggal di gubuk sih? Gak mau!" protes Nathan.

"Iya, Pa. Lagian, Nathan mana bisa tidur di tempat seperti ini?" sahut Adel, istri Jarvis yang tampak jijik melihat kondisi rumah Nindy.

"Tidak perlu, Om. Saya bisa ditemani Bu Asih," sahut Nindy.

"Baiklah, jika itu mau kamu. Nanti, Nathan yang akan jemput kamu usai acara tujuh harian. Ini terimalah, untuk biasa selamatan! Jangan ditolak!" ujar Jarvis.

"Terimakasih, Om!"

"Mulai sekarang, jangan panggil Om. Panggil Papa! Sekarang, kamu sudah menjadi menantu Papa!"

"Iya, Pa!" sahut Nindy sembari menunduk.

***************

Tepat usai tujuh harian Pak Slamet, Nathan datang menjemput Nindy.

"Masuk dulu, Mas!" ujar Nindy sopan. Dia mencoba meraih tangan Nathan dan menciumnya, namun ditepis oleh Nathan.

"Mau ngapain kamu? Gak usah aneh-aneh. Aku nikahi kamu itu karena dipaksa Papa. Udah, cepetan beberesnya," sentak Nathan.

Nindy tersentak kaget mendapati respon Nathan. Segera, dia membereskan barangnya yang tak banyak. Setelah memastikan rumahnya terkunci, dia segera menyusul Nathan ke mobil.

Sepanjang perjalanan, tak ada perbincangan sama sekali. Mereka sama-sama larut dalam pikiran masing-masing. Setelah menempuh perjalanan selama hampir satu jam, kini mereka memasuki pelataran sebuah rumah mewah.

Setelah memarkirkan kendaraannya, Nathan segera masuk ke dalam rumah tanpa menunggu Nindy. Nindy yang ditinggalkan pun merasa kebingungan.

"Non Nindy, ya?" sapa seorang wanita paruh baya.

"Iya, Bu!" sahutnya sopan.

*Ayo masuk, Non! Bapak sudah menunggu di dalam!" ujar wanita tersebut.

"Iya, Bu!"

Wanita tersebut terkekeh melihat tingkah kikuk Nindy.

"Panggil saya Bik Siti saja! Saya asisten rumah tangga disini! Mari, saya bawakan barangnya!"

"Gak usah, Bik! Cuma sedikit, kok!" tolaknya.

Sementara di dalam rumah, Nathan langsung duduk di ruang tengah.

"Mana Nindy?" tanya Papanya.

"Tuh, di depan," sahut Nathan cuek.

"Kenapa kamu tinggal? Ajak dia masuk!"

"Dia sudah besar, Pa. Bisa jalan sendiri."

"Nathan!" bentak Papanya.

Dengan malas, Nathan bangkit dan menjemput Nindy.

"Lelet sekali sih, jalannya!" ujar Nathan, lalu menarik tangan Nindy kasar. Dengan terseok, Nindy mengikuti langkah panjang Nathan.

"Nih, pesenan Papa," ujar Nathan.

Nindy berdiri sambil menunduk. Adel mencebik menatap penampilan menantunya itu.

"Nindy, duduklah!" ujar Jarvis.

Dengan ragu, Nindy duduk tak jauh dari Nathan.

"Nathan, Nindy, sekarang kalian sudah menikah! Jadi, Papa harap, kalian mau saling mengenal. Nathan, tolong jaga Nindy. Perlakukan dia dengan baik!" ujar Jarvis.

"Iya, Pa!" sahut Nathan ogah-ogahan.

"Nathan, yang serius kamu. Kalau sampai kamu menyakiti Nindy, Papa tak segan-segan mencoret nama kamu dari daftar ahli waris," bentak Jarvis.

"Iya, Pa. Nathan paham."

"Ya sudah, ajak dia ke kamar. Biarkan dia Istirahat," ujar Jarvis.

"Pa, boleh Nathan mengajukan permintaan?"

"Apa itu?" tanya Jarvis.

Bab 2

Bab 2

PAGI PERTAMA

"Nathan, Nindy, sekarang kalian sudah menikah! Jadi, Papa harap, kalian mau saling mengenal. Nathan, tolong jaga Nindy. Perlakukan dia dengan baik!" ujar Jarvis.

"Iya, Pa!" sahut Nathan ogah-ogahan.

"Nathan, yang serius kamu. Kalau sampai kamu menyakiti Nindy, Papa tak segan-segan mencoret nama kamu dari daftar ahli waris," bentak Jarvis.

"Iya, Pa. Nathan paham."

"Ya sudah, ajak dia ke kamar. Biarkan dia Istirahat," ujar Jarvis.

"Pa, boleh Nathan mengajukan permintaan?"

"Apa itu?" tanya Jarvis.

"Pa, kami kan belum saling mengenal. Kami juga baru beberapa kali bertemu. Jadi, kalau boleh, aku mau bawa Nindy tinggal di apartemen saja," ujar Nathan.

"Kenapa harus di apartemen, sih? Kenapa gak disini saja?" protes Mamanya.

"Ma, kami kan pengantin baru. Jadi, perlu privasi. Lagipula, aku ingin belajar mandiri," sahut Nathan.

Jarvis tampak berpikir.

"Bagaimana menurut kamu, Nindy?" tanya Jarvis.

"Saya terserah Mas Nathan saja, Pa!" sahut Nindy lirih.

"Baiklah, Papa kasih izin kalian tinggal di apartemen, tapi mulai besok. Malam ini, kalian menginap disini. Sekarang, ajak dia ke kamar! Biarkan dia istirahat!" ujar Jarvis.

"Iya, Pa! Terimakasih!" sahut Nathan sembari tersenyum.

"Ayo!" ajaknya kepada Nindy.

Nindy mengikuti langkah panjang Nathan.

Nathan membuka pintu kamarnya. Nindy memandang takjub. Kamar itu sangat luas, bahkan lebih luas dari rumahnya. Warna catnya dominan abu menampilkan ciri khas sang pemilik yang selalu tampil maskulin. Nathan terus melangkah masuk dan berbaring. Nindy yang tampak kebingungan hanya berdiri saja di tengah ruangan.

“Ngapain bengong disitu? Sini, aku mau ngomong!” ujar Nathan dingin.

Nindy melangkah mendekati Nathan.

“Barang kamu taruh situ saja, gak usah dibongkar, besok kita pergi. Itu kamar mandinya!” ujar Nathan memberi penjelasan.

“Iya, Mas!” sahut Nindy.

“Oya, satu lagi. Malam ini kamu tidur di sofa. Nih, selimut sama bantal! Sudah sana, aku ngantuk, mau tidur!”lanjut nathan sembari melemparkan selimut dan bantal ke arah Nindy.

Nindy menerimanya dengan sedih. Meski ini pernikahan karena terpaksa, dia tetap berharap merekabisa menjalani pernikahan ini seperti orang lain.

“Mungkin dia perlu waktu!” pikir Nindy.

Nindy segera menuju kamar mandi, membersihkan badan, lalu membaringkan badan di sofa.

Sembari berbaring, dia memandang suaminya. Ternyata, pria itu belum tidur. Dia sedang berbalas pesan sambil senyum-senyum. Cukup lama nindy memperhatikan mereka, hingga akhirnya dia tertidur.

Tepat pukul 03.00 WIB Nindy terbangun. Dia melangkah ke kamar mandi untuk mengambil wudhu dan melaksanakan sholat tahjjud, lalu dlanjutkan tilawah. Nindy menangis dalam doanya. Dia merindukan orang tuanya, meski hidup mereka tergolong sederhana namun kala itu rasanya penuh kedamaian. Dia merindukan masa-masa itu. Dia juga berdoa semoga rumah tangganya bisa langgeng hingga kahir hayat.

Dilhatnya, sang suami masih tertidur pulas. Usai melaksanakan salat subuh, Nindy membangunkan Nathan.

“Mas, bangun, ayo salat subuh dulu!” ujar Nindy.

“Mas!” panggil Nindy lagi, namun Nathan tampak tak bergeming.

Perlahan, Nindy menepuk-nepuk bagu Nathan.

“Mas!” panggilnya lagi.

“Apa sih? Pagi-pagi sudah berisik!” bentaknya.

Nindy tampak terkejut.

“Ada apa?” tanya Nathan lagi.

“Salat subuh dulu, Mas! Udah mau jam lima!” ujar Nindy.

Nathan kembali memejamkan matanya.

“Kamu salat sendiri sana! Aku masih ngantuk!” sahut Nathan.

Nindy tak berani membangunkan Nathan lagi. Perlahan, Nindy membuka pintu kamar dan menuruni tangga. Dia berkeliling mengamati rumah tersebut dan berhenti di dapur.

“Non Nindy mau apa? Biar saya ambilkan!” sapa Bik Siti.

“Gak ada, Bi. Saya hanya berkeliling saja. Bibi masak apa?” tanya Nindy.

“Masak cap cay, nasi goreng, sama udang goreng tepung, Non!”

“Saya bantu ya, Bi!”

“Jangan, Non! Non Nindy duduk saja disana!” ujar Bibi sembari menunjuk meja makan.

“Gak enak, Bi. Aku bantu masak nasi goreng saja, ya!”

“Ya sudah, terserah Non saja!” sahut Bibi pasrah.

Sambil memasak, mereka berbincang ringan. Ternyata, Nathan tak suka makan sayur. Nindy tertawa terpingkal mendengar cerita Bibi.

“Masak gak mau sayur sama sekali, Bi? Kayak anak kecil saja!!” ujar Nindy.

“Beneran, Non! Dulu pernah Den Nathan mogok makan karena dipaksa Papanya harus makan sayur.”

Tanpa terasa, seluruh masakan mereka sudah matang. Dengan dibantu Tiwi, anak Bi Siti, mereka menata makanan di meja makan.

“Sudah siap, Bi?” tanya Adel.

“Sudah, Nya!”

“Ya sudah, sana panggil Nathan!” perintahnya.

“Biar saya saja, Ma!” sahut Nindy.

“Terserah!” sahutnya cuek.

Nindy melangkah naik dan memasuki kamar Nathan. Disana, tampak Nathan sudah selesai bersiap.

“Ada apa?” tanyanya.

“Dipanggil Mama, disuruh sarapan!”

“Hmm!” sahut Nathan singkat.

Nindy segera berbalik dan hendak turun kembali.

“Tunggu!” panggil Nathan.

“Iya, Mas?” tanya Nindy. Dia segera menghentikan langkahnya.

Nathan mendekati Nindy. Berada pada jarak sedekat itu dengan lawan jenis, membuat jantung Nindy berdetak kencang.

“Jangan bilang-bilang kalu tadi malam aku menyuruh kamu tidur di sofa! Ingat itu!” ujar Nathan, lalu mendahului menuruni tangga. Nindy mengikuti dari belakang.

“Selamat pagi, Ma! Selamat pagi, Pa!” sapa Nathan.

“Pagi! Ayo, sarapan!” ajak Mamanya.

Nathan segera duduk di kursinya. Dengan kikuk, Nindy pun ikut duduk di sebelah Nathan.

“Nindy, ayo makan! Jangan malu-malu!” ujar Jarvis.

“Iya, Pa!” sahut Nindy.

“Tumben nasi goreng Bibi rasanya beda!” ujar Adel.

“Iya, Ma, malah lebih enak dari biasanya!” sahut Nathan.

“Masak, sih?” tanya Jarvis yang memang memilih sarapan menggunakan cap cay.

“Beneran, Pa. Cobain deh!” ujar Adel, lalu menyuapkan satu sendok ke mulut suaminya.

“Bener, kan?” ujar istrinya setelah satu suapan mendarat dengan manis di mulut suaminya.

“Ini masakan Nindy, Ma! Papa hafal sama rasa nasi gorengnya!” ujar Jarvis.

Uhuk . tiba-tiba, Adel tersedak.

“Hati-hati, Ma, kalau makan!” ujar Jarvis sembari menyerahkan segelas air minum.

“Terima kasih, Pa!” sahut Adel setelah agak tenang.

“Udah,lanjutkan makannya! Jangan sambil ngobrol!” lanjut Jarvis.

Mereka menyelesaikan acara makan pagi mereka dengan tenang.

“Kalian ke apartemen berangkat jam berapa?” tanya Jarvis.

“Setelah ini kami langsung berangkat, Pa, soalnya kan, agak siangan nanti ada janji sama klien,” sahut Nathan.

“Apa gak sebaiknya kamu ambil cuti dulu? Kasihan Nindy, masak baru menikah sudah kamu tinggal. Ajaklah dia jalan-jalan!”

“Gak bisa sekarang, Pa! Kantor sedang sibuk-sibuknya! Lagian, kami masih bisa jalan-jalan kok, walau hanya dalam kota saja!”

“Terserah kamu sajalah! Oya, mulai besok, Nindy akan bekerja di kantor kita!”

“Apa? Memangnya dia bisa bekerja?” ejek Adel.

“Ma, jangan merendahkan orang seperti itu! Dia itu menantu kamu!” tegur Jarvis kepada istrinya.

Adel tak menanggapi ucapan suaminya.

“ Lagipula, apa kamu tidak tahu, dia ini sarjana ekonomi. Dia lulusan terbaik di kampusnya,” lanjut Jaevis.

“Trus, dia mau ditempatkan dimana? Kantor kita kan, sedang tidak membutuhkan karyawan,” tanya Nathan.

Bab 3

Bab 3

BERTEMU TETANGGA

“Terserah kamu sajalah! Oya, mulai besok, Nindy akan bekerja di kantor kita!”

“Apa? Memangnya dia bisa bekerja?” ejek Adel.

“Ma, jangan merendahkan orang seperti itu! Dia itu menantu kamu!” tegur Jarvis kepada istrinya.

Adel tak menanggapi ucapan suaminya.

“ Lagipula, apa kamu tidak tahu, dia ini sarjana ekonomi. Dia lulusan terbaik di kampusnya,” lanjut Javis.

“Trus, dia mau ditempatkan dimana? Kantor kita kan, sedang tidak membutuhkan karyawan,” tanya Nathan.

“Dia akan menjadi sekretaris kamu!”

“Sekretaris, Pa?” tanya Nathan tak percaya.

“Iya, kenapa? Keberatan?”

“Bukan begitu, Pa. Dia itu kan belum punya pengalaman kerja, apa gak sebaiknya dimulai dari bawah dulu?” tanya Nathan yang tampak keberatan.

“Benar itu, Pa. Meskipun dia menantu Papa, Papa tidak boleh mengistimewakannya. Nanti jadinya manja,” sahut Adel.

“Saya yakin dia bisa. Keputusan Papa sudah bulat. Mulai besok, dia akan menjadi sekretaris kamu.”

Nathan menghembuskan nafas panjang.

“Ya sudah, jika itu keputusan Papa, aku gak bisa menolak, tapi aku minta satu hal,” ujar Nathan.

“Apa itu?”

“Aku mau statusnya sebagai istriku dirahasiakan dulu,” ujar Nathan.

“Kenapa begitu?” tanya Jarvis heran.

“Biar dia bisa berbaur dengan pegawai lain, Pa. Kalau mereka tahu dia menantu Papa, pasti tidak ada yang berani dekat dengan dia, apalagi menegurnya saat melakukan kesalahan.” Nathan memberi penjelasan.

“Bagaimana menurut kamu, Nindy?” tanya Jarvis kepada Nindy.

“Aku rasa Mas Nathan benar, Pa. Aku harus banyak belajar dari karyawan lain yang lebih senior.”

“Baik, jika itu keputusan kalian, Papa bisa menerimanya. Tapi ingat, jika tiba waktunya, Papa mau kalian mengumumkan pernikahan kalian dan mengadakan resepsi.”

“Pasti, Pa!” sahut Nathan sambil tersenyum sumringah.

“Nindy, sudah selesai belum sarapannya?” tanya Nathan.

“Sudah, Mas. Aku bantu Bibi beres-beres dulu, ya!” sahutnya.

“Gak perlu, ayo kita berangkat sekarang!” ajak Nathan.

“Iya, Mas! Aku ambil barang dulu di atas!” sahut Nindy.

Setelah mengambil barangnya yang tak seberapa, Nindy segera berpamitan kepada mertuanya dan mencium tangannya.

“Ma, Nindy pamit dulu!” ujarnya.

“Hm!” sahut Adel acuh.

“Pa, nindy pamit dulu!”

“Iya, Papa titip Nathan ya. Kalau dia macam-macam, kamu lapor saja sama Papa!”

“Iya, Pa!” sahut Nindy.

Dengan mengendarai mobil sport miliknya, Nathan membawa Nindy ke apartemen miliknya. Selama perjalanan, tak ada obrolan di antara mereka.

Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Setelah menempuh perjalanan selama hampir tiga puluh menit, mereka sudah sampai di tujuan.

Nathan membawa Nindy ke lantai sepuluh.

"Dihafalkan caranya. Setelah ini, kamu harus bisa keluar masuk apartemen ini sendiri. Aku tidak mungkin mengawalmu terus-menerus," ujar Nathan.

"Iya, Mas!" sahut Nindy.

Nathan membuka kunci apartemen dan memasukinya.

"Itu kamarku dan itu kamarmu!" tunjuknya.

"Selebihnya, kamu bisa melihat-lihat sendiri. Sudah, aku mau pergi!" ujar Nathan.

"Mas!" panggil Nindy.

"Apa lagi?" tanya Nathan.

Nindy meraih tangan Nathan dan mencium tangannya.

"Kamu tidak perlu melakukannya! Ralat, kamu tidak perlu melakukan kewajiban apapun! Kita jalani kehidupan kita masing-masing!" ujar Nathan, lalu melangkah meninggalkan Nindy.

"Satu lagi, jangan coba-coba masuk ke kamarku! Aku tidak suka kamarku disentuh sembarangan orang!" ujarnya.

Nindy menghela nafas panjang.

Dia mencoba menghibur hatinya dengan berkeliling. Dia ingin melihat seluruh ruangan di apartemen ini.

Apartemen ini cukup luas. Desainnya minimalis tapi memberikan kesan elegan dengan warna dominan putih. Apartemen ini memiliki dua buah kamar tidur, ruang tamu, ruang tengah untuk menonton televisi, dapur yang menyatu dengan ruang makan, dan balkon.

Hatinya tertarik untuk melangkah ke area balkon. Dari sana, tampak pemandangan kota dan gedung-gedung di sekitar apartemen.

"Halo, tetangga!" sapa seseorang dari balkon sebelah.

Nindy tampak terkejut. Pria tersebut memberikan senyum termanisnya.

"Kenalkan, saya Aron, baru pindah hari ini. Nama kamu siapa?" tanyanya ramah.

Nindy tak menanggapi. Dia tak berani berbincang dengan orang asing. Dia segera melangkah masuk ke dalam apartemen kembali.

"Yach … kok pergi sih!" teriaknya.

Nindy tak menggubris. Dia segera melangkah ke kamarnya dan menata barang-barangnya.

Usai berbenah, Nindy segera menuju ke dapur dan membuka kulkas. Ternyata, tak ada apapun disana. Dia ingat, di lantai bawah ada supermarket.

Segera dia mengambil dompet di kamarnya dan melangkah keluar apartemen. Usai mengunci pintu apartemen, Nindy melangkah menuju lift.

Sesampainya di lantai dasar, Nindy segera menuju supermarket dan berbelanja beberapa kebutuhan dapur. Saat sedang asyik memilih-milih, tiba-tiba seseorang menyapanya.

"Halo, tetangga! Kita ketemu lagi!" sapa pria tersebut.

Nindy memandang pria tersebut sekilas, lalu kembali asyik dengan belanjaannya.

"Sombong amat, sih! Diajak kenalan gitu aja gak mau!" ujar Aron yang masih mengikuti langkah Nindy.

"Maaf, saya tidak biasa berbincang dengan orang asing!" ujar Nindy sambil terus melangkah.

"Saya bukan orang asing! Kita tetangga, lho!" ujar Aron lagi.

Nindy menghela nafas panjang.

"Mau kamu apa, sih, sebenarnya?" tanya Nindy pasrah.

"He … cuma mau kenalan doang! Aku Aron!" ujarnya sambil mengulurkan tangannya.

"Nindy!" sahut Nindy singkat. Usai berjabat tangan, Nindy melanjutkan aktivitasnya.

"Kamu sudah lama tinggal disitu?" tanya Aron yang masih mengikutinya.

"Tidak, baru hari ini."

"Tinggal sama siapa?"

"Sama suami," sahut Nindy singkat.

"Suami?" tanya Aron tak percaya.

"Iya, kenapa?"

"Gak … aku pikir … kamu masih sendiri."

"Apa di keningku harus aku tulis kalau sudah ada pemiliknya?" ujar Nindy.

"Gak gitu juga, hanya saja kamu masih tampak seperti …." Aron tak melanjutkan kalimatnya.

"Kayak apa?"

"Kayak ABG, he …. Abisnya, masih kelihatan imut gitu," sahut Aron.

Nindy tak menanggapi ucapan Aron. Dia segera menyelesaikan acara belanjanya dan menuju ke kasir. Usai membuat belanjaannya, dia segera kembali ke apartemennya.

"Hei, tunggu!" teriak Aron.

"Apa lagi?" tanya Nindy jengah.

"Bareng. Kita kan tetanggaan," ujar Aron santai.

"Memang kalau tetangga harus barengan gitu?" tanya Nindy sewot.

"Gak juga, hanya saja kan lebih enak kalau ada temannya. Lagian, kamu kan penghuni baru juga, pasti belum punya teman. Iya kan?"

"Sok tahu!" sahut Nindy.

"Lha, kan emang bener!" ujar Aron ngotot.

Sesampainya di depan apartemen, Nindy segera membuka pintu dan masuk.

"Kamu tidak mengundang tetanggamu berkunjung?" tanya Aron.

"Maaf, suamiku sedang tidak di rumah. Permisi!" ujar Nindy, lalu segera menutup pintunya.

"Galak amat, tapi manis. He …. Sayang, sudah punya suami!" ujar Aron kepada dirinya sendiri

Di dalam apartemen, Nindy segera membongkar barang belanjaannya, lalu melanjutkan aktivitasnya dengan memasak.

Sore ini, Nindy ingin memasak sesuatu untuk suaminya. Nindy memutuskan untuk membuat ayam saus pedas manis. Usai memasak dan menyiapkan makanan, Nindy menunggu sang suami pulang.

Ceklek.

Terdengar, suara pintu apartemen dibuka tepat saat masakannya sudah siap.

Nindy segera menyongsong kedatangan suaminya.

Dia segera meraih tangan Nathan dan hendak menciumnya, namun Nathan segera menghempaskannya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED