Bab 1

Angin malam berdesir pelan di taman belakang kediaman Wibowo, membawa aroma melati yang kian pekat. Di balik jendela kaca patri yang tinggi, di ruang kerja yang diselimuti tirai beludru tebal, Mahardika Satria Wibowo duduk di hadapan meja mahoni besar. Jemarinya memijat pelipisnya yang berdenyut, matanya menerawang jauh, seolah mencari jawaban di kegelapan malam. Usianya belum genap empat puluh tahun, namun garis-garis kecemasan sudah terukir jelas di dahinya yang lebar. Tekanan yang menghimpitnya belakangan ini terasa bagai beban gunung es yang siap menenggelamkannya.

Ia adalah satu-satunya pewaris takhta keluarga Wibowo, sebuah nama yang identik dengan kekuasaan, kekayaan, dan pengaruh di seluruh negeri. Keturunan bangsawan yang darahnya mengalir dari para pendiri kerajaan masa lampau, keluarga Wibowo memegang kendali atas banyak sendi kehidupan; mulai dari industri pertambangan, perbankan, hingga media massa. Statusnya sebagai pewaris tunggal seharusnya menjadi kebanggaan, namun kini terasa seperti belenggu emas yang kian mengikat.

Penyebab utama penderitaannya adalah kehilangan yang tak terhingga. Putri tunggalnya, Paramita Ayu Wibowo, permata hatinya, telah pergi meninggalkannya setahun yang lalu. Paramita, yang seharusnya menjadi penerus klan Wibowo di masa depan, wafat tak lama setelah melahirkan cucu perempuannya, Anindya Kirana Wibowo. Sebuah tragedi yang merenggut tawa dari kediaman megah itu, dan menyisakan duka yang mendalam. Mahardika masih ingat betul bagaimana ia menggendong tubuh mungil Anindya untuk pertama kalinya, air mata membasahi pipinya, bukan hanya karena haru, tapi juga karena perih kehilangan sang ibu.

Sejak saat itu, ayahnya, Raden Mas Surya Wibowo, seorang pria tua dengan sorot mata tajam dan kharisma yang tak lekang dimakan usia, tak henti-hentinya mendesaknya. Tekanannya begitu nyata, hampir mencekiknya. "Mahardika, kau harus segera memiliki pewaris lagi! Garis keturunan Wibowo tidak boleh terputus! Anindya hanyalah seorang perempuan, ia tidak bisa mengemban nama besar ini sendirian!" Kalimat itu bagaikan mantra mengerikan yang terus menghantui setiap langkah Mahardika. Ia tahu betul, dalam tradisi keluarga mereka yang kental dan konservatif, hanya anak laki-laki yang bisa menjadi pewaris utama. Meskipun Anindya adalah cucu kandungnya, posisinya sebagai perempuan membuatnya dianggap kurang layak memimpin dinasti sekuat Wibowo.

Masalahnya, istrinya, Rengganis Kusuma Putri, adalah wanita yang dicintainya sepenuh hati. Mereka telah menikah selama hampir dua puluh tahun, dan selama itu pula hanya Paramita yang berhasil mereka miliki. Dokter-dokter terbaik sudah didatangkan, berbagai upaya medis telah ditempuh, namun hasilnya selalu sama: Rengganis tidak bisa lagi memberinya keturunan. Kenyataan pahit ini telah mereka terima bersama, dalam diam, mengubur impian akan anak-anak lain. Namun kini, impian itu kembali diungkit, bukan oleh mereka, melainkan oleh tuntutan yang tak bisa ditawar.

Mahardika menghela napas berat. Bagaimana ia bisa menjelaskan pada ayahnya bahwa cintanya pada Rengganis begitu besar, sehingga ia tak sanggup menyakitinya dengan menikah lagi? Bagaimana ia bisa mengatakan bahwa hatinya masih dipenuhi duka atas kepergian Paramita, dan belum siap menerima kehadiran wanita lain dalam hidupnya, apalagi jika itu demi sebuah "kewajiban" yang dingin dan tak berperasaan? Namun, ia tahu ayahnya tak akan mengerti. Bagi Raden Mas Surya, kelangsungan nama Wibowo jauh lebih penting daripada perasaan pribadi.

Suara ketukan pelan di pintu membuyarkan lamunan Mahardika. Rengganis masuk dengan nampan berisi teh hangat dan camilan ringan. Senyumnya samar, menyimpan duka yang sama dengan Mahardika. Rambutnya yang hitam legam kini dihiasi uban di beberapa helai, pertanda waktu dan beban pikiran yang tak ringan.

"Belum tidur, Mas?" tanya Rengganis lembut, meletakkan nampan di meja samping.

Mahardika tersenyum tipis. "Belum, Sayang. Ada banyak hal yang kupikirkan."

Rengganis duduk di kursi seberang meja, menatap suaminya dengan tatapan penuh pengertian. "Ayahmu lagi, ya?"

Mahardika mengangguk. "Ia bersikeras aku harus menikah lagi. Demi pewaris."

Hening sejenak. Rengganis menunduk, menggenggam jemarinya yang lentik. Hati Mahardika teriris melihat kesedihan di mata istrinya. "Aku minta maaf, Gannis. Aku..."

"Jangan minta maaf, Mas," potong Rengganis, mengangkat wajahnya, meski ada kilat basah di matanya. "Aku tahu ini bukan salahmu. Ini takdir." Ia mencoba tersenyum, senyum yang begitu rapuh hingga membuat Mahardika ingin memeluknya erat dan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Namun, ia tak bisa. Ia tak bisa menjanjikan itu.

"Bagaimana Anindya?" Mahardika mencoba mengalihkan pembicaraan, mencari sedikit kelegaan dalam pikiran akan cucunya.

"Sudah tidur pulas. Dia sangat menggemaskan, Mas. Mirip sekali dengan Paramita," jawab Rengganis, nada suaranya berubah lembut saat menyebut nama cucunya. "Mungkin kita bisa mengajukan Anindya sebagai pewaris, Mas. Bukankah ia darah daging kita?"

Mahardika menggeleng perlahan. "Ayah tidak akan setuju, Gannis. Kau tahu bagaimana pandangannya tentang hal ini. Ia ingin seorang anak laki-laki yang bisa memimpin perusahaan, yang bisa membawa nama Wibowo dengan kuat di dunia yang didominasi laki-laki ini." Ia tahu itu adalah argumen yang kolot, namun di mata ayahnya, itu adalah kebenaran mutlak.

Rengganis terdiam lagi, matanya menerawang. Ada keputusasaan yang kentara di sana. "Aku tidak tahu harus berbuat apa, Mas. Aku tidak ingin melihatmu terus tertekan begini. Tapi aku juga tidak sanggup membayangkanmu dengan wanita lain."

Mahardika bangkit dari kursinya, mendekat, dan berlutut di hadapan Rengganis. Ia menggenggam kedua tangan istrinya erat. "Aku juga tidak sanggup, Gannis. Tapi aku tidak punya pilihan. Aku tidak bisa mengecewakan ayah. Keluarga Wibowo akan runtuh jika aku tidak bisa memenuhi tuntutan ini."

Air mata Rengganis akhirnya tumpah, membasahi pipinya. Mahardika memeluknya, membiarkan istrinya menangis di bahunya. Ia tahu, di balik kemegahan yang mereka miliki, ada kehampaan yang terus menggerogoti. Kehampaan yang kini menuntut tumbal: pernikahan paksa.

Jauh di sudut kota yang berbeda, di sebuah rumah kontrakan kecil di gang sempit yang bising, Kirana Ayunda Putri duduk meringkuk di sudut kamarnya. Suara knalpot motor dan hiruk pikuk obrolan tetangga tak mampu menembus tembok kesedihannya. Mata sembabnya menatap kosong ke arah figura foto lusuh di meja kecil samping tempat tidurnya. Di sana, wajah Bima Senjaya tersenyum lebar, merangkulnya erat. Bima, kekasihnya, cinta pertamanya, satu-satunya harapannya di tengah badai kehidupan.

Usianya baru 19 tahun, namun bahunya sudah terbebani masalah yang tak semestinya ditanggung gadis seusianya. Ibunya, Saraswati, sudah lama mengidap penyakit jantung yang kronis. Setiap bulan, biaya pengobatan dan obat-obatan melambung tinggi, menguras habis tabungan mereka. Kirana bekerja paruh waktu di sebuah toko buku kecil, mencoba membantu sebisa mungkin, namun itu tak pernah cukup.

Penderitaan Kirana semakin diperparah dengan keberadaan pamannya, Prawira. Sejak ayahnya meninggal beberapa tahun lalu, Prawira, adik dari ibunya, adalah satu-satunya kerabat yang mereka miliki. Namun, Prawira bukanlah sosok paman yang penyayang. Ia adalah pria serakah yang hanya memikirkan keuntungan pribadi. Selama ini, ia memang membantu membiayai pengobatan Saraswati, namun bukan tanpa pamrih. Dan kini, pamrih itu datang dalam bentuk ancaman yang begitu kejam.

Beberapa hari yang lalu, Prawira datang ke rumah dengan wajah serius, membawa berita yang menghancurkan hati Kirana. "Kirana, ada seorang pria kaya raya yang tertarik padamu. Dia dari keluarga terpandang. Dia ingin kau menikah dengannya," katanya tanpa basa-basi, mata liciknya menyiratkan sesuatu yang tak beres.

Kirana tentu saja menolak mentah-mentah. "Aku tidak mau, Paman! Aku sudah punya Bima! Dan aku tidak mengenal pria itu!"

Prawira tertawa sinis. "Bima? Bocah miskin itu? Apa yang bisa dia berikan padamu? Lihat ibumu! Dia butuh perawatan terbaik. Jika kau menolak pernikahan ini, aku tidak akan lagi membiayai pengobatan ibumu. Kau mau ibumu mati karena kau terlalu keras kepala?"

Ancaman itu bagaikan belati yang menusuk jantung Kirana. Ibunya adalah segalanya baginya. Ia tidak bisa membayangkan hidup tanpa ibunya. Penyakit Saraswati sudah sangat parah, dan tanpa pengobatan rutin, kondisinya pasti akan memburuk drastis. Kirana tahu, Prawira tidak main-main dengan ucapannya. Paman itu memang kejam dan tidak memiliki belas kasihan.

Ia mencoba bicara pada ibunya, namun Saraswati hanya bisa menangis lemah. "Maafkan Ibu, Nak. Ibu tidak punya cara lain. Ibu tidak ingin jadi bebanmu."

Beban. Kata itu menghancurkan Kirana. Bagaimana mungkin ibunya, satu-satunya keluarganya, menjadi beban? Air matanya tak henti mengalir. Ia merasa seperti boneka yang tak punya pilihan, dilempar ke dalam permainan takdir yang kejam.

Malam itu, Bima datang mengunjungi Kirana, seperti biasa. Ia membawa sebungkus nasi goreng kesukaan Kirana dan senyum hangat yang selalu mampu menenangkan hati Kirana. Bima adalah seorang mekanik di bengkel kecil, penghasilannya pas-pasan, namun cintanya pada Kirana tak terbatas. Ia selalu ada, menjadi sandaran Kirana di saat-saat sulit.

"Kamu kenapa, Sayang? Kok matamu sembab?" tanya Bima cemas, menyentuh pipi Kirana lembut.

Kirana tak bisa lagi menahan tangisnya. Ia memeluk Bima erat, membenamkan wajahnya di dada bidang kekasihnya. "Bima... aku... aku harus menikah."

Bima terkesiap. Ia melepaskan pelukan, menatap Kirana tak percaya. "Menikah? Dengan siapa? Kita kan..."

"Bukan denganmu, Bim," bisik Kirana, suaranya tercekat. "Dengan seorang pria yang tidak aku kenal. Pamanku mengancam akan menghentikan pengobatan Ibu jika aku menolak."

Wajah Bima langsung memucat. Rahangnya mengeras. Ia tahu betapa berartinya Saraswati bagi Kirana. "Siapa pria itu, Kirana? Aku akan bicara dengannya! Aku akan bicara dengan pamanmu! Aku tidak akan membiarkanmu melakukan ini!"

Kirana menggelengkan kepala. "Tidak ada gunanya, Bim. Pamanku tidak akan mendengarkan. Dan pria itu... ia dari keluarga sangat kaya dan berkuasa. Aku tidak tahu namanya, tapi Paman bilang dia adalah pewaris keluarga Wibowo."

Nama "Wibowo" bagaikan guntur di telinga Bima. Siapa yang tidak kenal keluarga Wibowo? Kekuatan dan pengaruh mereka begitu besar hingga sulit dibayangkan. Melawan mereka sama saja dengan bunuh diri.

"Tidak, Kirana! Kita cari jalan lain! Aku akan bekerja lebih keras, aku akan mencari pekerjaan sampingan lagi! Kita pasti bisa membiayai pengobatan ibumu!" Bima mencoba meyakinkan, namun suaranya bergetar. Ia tahu ia tidak bisa menandingi kekayaan keluarga Wibowo.

Kirana mencengkeram lengan Bima erat. "Tidak, Bim. Ini satu-satunya cara. Aku tidak bisa membiarkan Ibu menderita. Aku harus melakukannya. Maafkan aku."

Hati Bima hancur berkeping-keping. Ia menatap mata Kirana yang penuh keputusasaan, dan ia tahu, ia tak bisa membujuk Kirana. Ia tak bisa menahannya. Cinta mereka, yang begitu kuat dan tulus, kini harus tumbang di hadapan kekejaman takdir dan kekuasaan uang. Bima memeluk Kirana erat, seolah ingin menyatukan kembali kepingan hati mereka yang berserakan. Air matanya menetes, bercampur dengan air mata Kirana.

"Aku akan selalu mencintaimu, Kirana," bisik Bima di telinga kekasihnya. Janji itu terdengar seperti lagu perpisahan yang menyakitkan.

Pernikahan itu berlangsung seminggu kemudian, dalam balutan kemewahan yang tak bisa dibayangkan Kirana sebelumnya. Ballroom Grand Wibowo Hotel disulap menjadi taman bunga yang megah. Ratusan tamu penting dari kalangan pejabat, pengusaha, dan bangsawan hadir. Kirana mengenakan gaun pengantin putih yang indah, namun ia merasa seperti mengenakan kain kafan. Wajahnya dipoles sedemikian rupa, namun matanya tak bisa menyembunyikan kesedihan mendalam. Ia berdiri di sisi Mahardika, pria yang kini adalah suaminya. Pria yang ia tahu menderita sama sepertinya, meski dengan alasan yang berbeda.

Mahardika sendiri terlihat kaku. Senyumnya dipaksakan, sorot matanya kosong. Ia tahu, Rengganis, istri pertamanya, duduk di barisan terdepan, menyaksikan pernikahan ini dengan hati yang hancur. Ia tidak berani menatap mata Rengganis, takut melihat luka yang ia torehkan.

Upacara pernikahan berjalan layaknya sebuah ritual yang dingin. Tidak ada cinta, tidak ada kebahagiaan sejati, hanya formalitas belaka. Kirana merasa seperti benda, dipamerkan dan diserahkan demi sebuah perjanjian. Ketika mereka bertukar cincin, tangan Mahardika terasa dingin, seolah tak ada kehangatan yang bisa ia berikan.

Setelah resepsi yang terasa abadi, Kirana dibawa ke sebuah kamar megah di kediaman Wibowo. Kamar itu begitu luas dan mewah, dengan perabotan antik dan lukisan-lukisan mahal di dinding. Namun, kemewahan itu terasa seperti sangkar emas yang menjebaknya. Ia duduk di tepi ranjang berukuran raksasa, masih mengenakan gaun pengantinnya, menunggu sesuatu yang tidak ia inginkan.

Tak lama kemudian, Mahardika masuk. Ia sudah berganti pakaian, mengenakan piyama sutra. Wajahnya terlihat lelah. Ia tidak mendekat, hanya berdiri di ambang pintu, menatap Kirana dengan pandangan yang sulit diartikan.

"Kau bisa tidur di sofa, jika mau," kata Mahardika, suaranya datar. "Aku tahu ini sulit untukmu. Ini juga sulit bagiku."

Kirana mendongak, menatap suaminya. Ia melihat keputusasaan yang sama di mata pria itu. "Aku mengerti, Tuan Mahardika," jawab Kirana, suaranya serak. Ia tahu Mahardika memiliki istri pertama yang sah, dan ia hanyalah istri kedua yang dinikahi karena paksaan.

"Panggil aku Mahardika saja," koreksi Mahardika. "Dan aku minta maaf atas semua ini. Aku tahu kau punya seseorang yang kau cintai."

Pengakuan itu membuat hati Kirana kembali sakit. "Tidak apa-apa," bisiknya. Ia tahu, Mahardika juga tidak menginginkan pernikahan ini. Mereka adalah korban dari keadaan yang sama.

Malam itu, Kirana tidur di sofa yang empuk, meringkuk dalam kesunyian yang mencekam. Sementara Mahardika tidur di ranjang besar itu, memunggungi dirinya, seolah ada dinding tak terlihat yang memisahkan mereka. Ini adalah awal dari kehidupan barunya, kehidupan yang penuh dengan ketidakpastian dan kesepian. Ia merindukan Bima, rindu sentuhan tangannya, rindu suaranya yang menenangkan. Ia tahu, ia harus kuat demi ibunya.

Pagi pertama Kirana di kediaman Wibowo dimulai dengan perasaan canggung dan tak nyaman. Setelah sarapan pagi yang dingin dan formal bersama Mahardika dan Raden Mas Surya, Kirana diminta untuk menghadap Rengganis, istri pertama Mahardika. Hatinya mencelos. Ia tahu pertemuan ini akan sulit.

Rengganis menunggu di ruang tamu utama, sebuah ruangan luas yang dipenuhi perabotan antik dan hiasan kristal. Ketika Kirana masuk, Rengganis menatapnya dengan tatapan tajam yang tak ramah. Wanita itu mengenakan kebaya sutra mahal, rambutnya disanggul rapi. Aura dingin terpancar darinya.

"Duduklah," perintah Rengganis, tanpa senyum sedikit pun.

Kirana duduk di kursi di hadapan Rengganis, tangannya gemetar. Ia mencoba tersenyum, namun senyum itu tidak sampai ke matanya.

"Namamu Kirana, kan?" tanya Rengganis, nadanya sinis.

"Iya, Nyonya," jawab Kirana pelan.

"Dengarkan baik-baik," kata Rengganis, suaranya rendah namun penuh penekanan. "Kau ada di sini hanya untuk satu tujuan: melahirkan pewaris laki-laki untuk keluarga ini. Setelah itu, posisimu tidak akan berarti apa-apa. Jangan pernah bermimpi untuk mengambil tempatku di sisi Mahardika."

Hati Kirana mencelos. Ia sudah menduga akan mendapatkan perlakuan seperti ini, namun mendengar langsung dari Rengganis tetap saja menyakitkan. "Saya tidak akan pernah berani, Nyonya. Saya tahu posisi saya."

Rengganis menyeringai tipis. "Bagus kalau begitu kau mengerti. Jangan pernah mencoba mendekati Mahardika di luar urusan pewaris. Jangan pernah mencoba bertingkah seperti nyonya rumah. Kau adalah pendatang, dan kau harus tahu tempatmu."

Kata-kata itu bagaikan tamparan keras di wajah Kirana. Ia menunduk, menahan air matanya agar tidak tumpah. Ia merasa begitu rendah, begitu tidak berdaya. Ia tahu, ini hanyalah awal dari semua perlakuan buruk yang akan ia terima.

"Kau mengerti?" desak Rengganis.

"Mengerti, Nyonya," bisik Kirana.

Rengganis menghela napas, seolah Kirana adalah beban yang berat. "Baiklah. Sekarang kau bisa pergi. Ingat kata-kataku."

Kirana bangkit dari kursi, membungkuk sedikit, lalu segera keluar dari ruangan itu. Ia merasa seperti baru saja melewati medan perang. Begitu tiba di kamarnya, ia langsung ambruk di tepi ranjang, air mata yang selama ini ia tahan akhirnya tumpah ruah. Ia menangis dalam diam, membenamkan wajahnya di bantal, berusaha meredam isak tangisnya agar tidak terdengar siapapun.

Ia merindukan rumah lamanya, keramaian gang sempit yang dulu membuatnya jengkel, tawa ibunya, dan senyum menenangkan Bima. Di sini, di tengah kemewahan yang dingin ini, ia merasa sendirian dan tak berdaya. Ia merasa seperti sepotong daging yang dipersembahkan ke altar demi kepentingan orang lain.

Mampukah ia melewati semua ini? Apalagi ia harus menghadapi kebencian dari istri pertama suaminya tanpa ada pembelaan berarti dari sang suami. Mahardika memang terlihat memahami keadaannya, namun ia terlalu lemah untuk membela Kirana di hadapan Rengganis. Kirana tahu, ia harus berjuang sendiri. Demi ibunya, ia harus kuat. Ini adalah takdirnya, takdir yang pahit, namun harus ia jalani. Ia hanya bisa berharap, suatu hari nanti, akan ada secercah cahaya di ujung terowongan gelap ini.

Beberapa minggu berlalu dengan lambat dan menyiksa. Kirana menjalani hari-harinya di kediaman Wibowo dengan perasaan tertekan. Ia jarang keluar kamar, kecuali untuk makan atau jika diminta oleh pelayan untuk melakukan sesuatu. Rengganis terus-menerus memberikan perintah dan tugas-tugas yang kadang tak masuk akal, seolah ingin menunjukkan siapa yang berkuasa di rumah itu. Kirana membersihkan, mengatur, dan terkadang menemani Anindya bermain, satu-satunya penghiburan kecil yang ia miliki. Anindya, cucu perempuan Mahardika, adalah anak yang manis dan ceria, dan hanya bersamanya Kirana bisa merasakan sedikit kehangatan dan kebahagiaan.

Mahardika sendiri jarang sekali terlihat. Ia sibuk dengan urusan bisnis keluarga, atau mungkin menghindar dari rumah yang terasa begitu tegang. Ketika mereka bertemu, hanya ada keheningan canggung yang meliputi. Mahardika memang tidak pernah bersikap kasar, namun ia juga tidak pernah membela Kirana saat Rengganis memperlakukannya dengan buruk. Ia hanya akan menghela napas, menatap Kirana dengan sorot mata meminta maaf, lalu pergi begitu saja.

Suatu sore, saat Kirana sedang menyiram tanaman di taman belakang, ia mendengar suara Rengganis memanggilnya dengan nada tajam. "Kirana! Kemari!"

Kirana segera menghampiri Rengganis yang berdiri di teras, menatapnya dengan tatapan menghakimi. Di tangan Rengganis ada sebuah vas bunga kristal yang sudah pecah berserakan di lantai.

"Apa yang kau lakukan?!" bentak Rengganis. "Kau memecahkan vas kesayanganku! Vas ini hadiah dari ibuku!"

Kirana terkejut. "Bukan saya, Nyonya! Saya sedang di taman."

"Jangan bohong! Hanya kau yang ada di area ini tadi! Kau sengaja, kan? Kau ingin merusak barang-barangku?" tuduh Rengganis, suaranya melengking.

Kirana menggelengkan kepala, panik. "Sungguh bukan saya, Nyonya! Saya tidak tahu bagaimana itu bisa pecah!"

Suara bentakan Rengganis menarik perhatian para pelayan. Mahardika yang baru pulang dari kantor juga muncul, terkejut melihat keributan itu.

"Ada apa ini?" tanya Mahardika, menatap vas yang pecah dan wajah Kirana yang pucat.

"Istrimu ini, Mas! Dia memecahkan vas kesayanganku!" seru Rengganis, menunjuk Kirana dengan jari telunjuknya. "Dasar ceroboh!"

Mahardika menatap Kirana. Kirana mencoba menatap mata suaminya, mencari sedikit dukungan. "Bukan saya, Mahardika. Saya sedang di taman."

Namun, Mahardika hanya menghela napas. Ia menatap vas yang pecah, lalu kembali menatap Kirana, seolah ingin mengatakan sesuatu namun tidak berani. Ia tidak membela Kirana. Ia tidak mempertanyakan tuduhan Rengganis. Ia hanya berkata, "Sudah, Rengganis. Biar nanti dibersihkan."

Rengganis mendengus. "Dia harus menggantinya! Vas itu mahal!"

"Sudah, nanti aku ganti," kata Mahardika, menghindari konflik lebih lanjut. Ia melirik Kirana sekilas, pandangannya penuh penyesalan, namun ia tidak melakukan apa pun untuk membelanya.

Kirana merasa begitu hancur. Bukan karena tuduhan itu, tapi karena ketidakberdayaan Mahardika. Ia berharap Mahardika setidaknya bertanya, menyelidiki, atau bahkan membantunya menjelaskan. Tapi tidak. Mahardika hanya ingin menghindari konflik, membiarkan Kirana menjadi korban tuduhan tak berdasar.

"Maafkan saya, Nyonya," bisik Kirana, menunduk pasrah. Ia tahu, tidak ada gunanya melawan. Di rumah ini, kata-kata Rengganis adalah hukum.

Rengganis tersenyum sinis, seolah menang. "Bagus. Sekarang bersihkan itu!"

Kirana berjongkok, mulai mengumpulkan pecahan-pecahan vas, air matanya nyaris menetes. Hatinya perih. Ia merasa seperti diperlakukan lebih rendah dari seorang pelayan. Mahardika hanya berdiri di sana, melihatnya, sebelum akhirnya membalikkan badan dan pergi, meninggalkan Kirana sendirian dengan pecahan-pecahan itu dan hatinya yang juga hancur berkeping-keping.

Ia bertanya-tanya, sampai kapan ia harus menjalani semua ini? Sampai kapan ia harus menanggung semua perlakuan buruk ini? Rasa rindu pada Bima semakin kuat mencengkeramnya. Ia tahu Bima tidak akan pernah membiarkannya diperlakukan seperti ini. Tapi Bima jauh, dan Kirana terjebak.

Malam itu, di kamarnya, Kirana menulis surat untuk ibunya, menyembunyikan semua kesedihan yang ia alami. Ia hanya menulis bahwa ia baik-baik saja, bahwa ia makan teratur, dan bahwa ia merindukan ibunya. Ia tidak ingin ibunya khawatir. Ia tahu, ibunya adalah satu-satunya alasan ia bertahan.

Namun, di dalam hatinya, sebuah pertanyaan besar terus menghantuinya: Mampukah Kirana melewati semua cobaan ini, apalagi dia kerap kali mendapat perlakuan buruk dari istri pertama suaminya tanpa ada pembelaan dari sang Suami? Jawabannya masih terlalu samar, terlalu berat untuk ia pikul sendirian. Ia hanya bisa berharap, sebuah keajaiban akan datang, atau setidaknya, ia akan menemukan kekuatan dalam dirinya untuk bertahan hingga akhir.

Bab 2

Minggu-minggu berubah menjadi bulan, dan kehidupan Kirana di kediaman Wibowo terasa bagai pusaran air yang menariknya makin dalam. Rutinitasnya monoton: bangun pagi, sarapan dalam keheningan yang menyesakkan, sesekali diminta Rengganis melakukan ini itu-seringkali tugas yang seolah sengaja diciptakan untuk merendahkannya-lalu kembali mengurung diri di kamar. Satu-satunya cahaya di hari-harinya adalah waktu yang ia habiskan bersama Anindya, cucu Mahardika yang kini genap berusia tiga tahun. Anindya adalah sosok yang polos, ceria, dan tanpa prasangka. Tawa riangnya, pelukan hangatnya, dan ocehan khas anak-anak adalah oasis bagi jiwa Kirana yang kering.

Setiap kali Anindya berlari menghampirinya dengan tangan terentang, memanggil "Tante Kirana! Main lagi!", hati Kirana menghangat. Ia akan duduk di lantai, membangun menara balok bersama Anindya, atau membacakan buku cerita bergambar. Di momen-momen itu, Kirana bisa melupakan sejenak statusnya sebagai istri kedua yang tak diinginkan, melupakan tatapan tajam Rengganis, dan kedinginan Mahardika. Ia bisa menjadi dirinya sendiri, seorang gadis muda yang merindukan kebahagiaan sederhana.

Namun, momen-momen kebahagiaan itu selalu berumur pendek. Rengganis memiliki mata di mana-mana. Ia tidak suka melihat Kirana terlalu dekat dengan Anindya. "Jangan terlalu memanjakan cucuku!" seringkali Rengganis menegur dengan nada tinggi. "Dia bukan anakmu! Jangan buat dia bingung!" Kirana hanya bisa menunduk, menahan perih. Ia tahu, Rengganis tidak ingin Kirana mengambil alih peran seorang ibu atau bahkan bibi bagi Anindya, seolah Kirana adalah ancaman bagi kedudukannya.

Hubungan Kirana dengan Mahardika sendiri tetap dingin dan berjarak. Mereka tinggal di bawah satu atap, berbagi status suami istri, namun hidup seolah di dimensi yang berbeda. Mahardika sibuk dengan pekerjaannya, seringkali pulang larut atau pergi ke luar kota. Ketika ia di rumah, ia lebih sering menghabiskan waktu di ruang kerjanya atau bersama Raden Mas Surya, sang ayah, untuk membicarakan bisnis keluarga. Percakapan mereka nyaris tidak ada, hanya sebatas sapaan formal atau pertanyaan seperlunya. Kirana sering menangkap sorot mata Mahardika yang penuh penyesalan atau bahkan kesepian, namun pria itu terlalu tertutup untuk mengungkapkan perasaannya. Ia tidak pernah membela Kirana saat Rengganis memperlakukannya semena-mena. Ini yang paling melukai Kirana. Bukan hanya perlakuan Rengganis, tapi juga ketiadaan pembelaan dari Mahardika yang seharusnya menjadi pelindungnya. Ia merasa tak terlihat, tak berharga.

Pernah suatu pagi, Kirana hendak mengambil minuman di dapur, dan secara tak sengaja menjatuhkan sebuah piring keramik antik yang dipajang di dinding. Piring itu pecah menjadi beberapa bagian. Suara pecahan itu menggelegar di dapur yang hening. Seketika, Rengganis muncul, matanya membelalak marah.

"Apa yang kau lakukan lagi, Kirana?!" teriak Rengganis, suaranya memenuhi ruangan. "Kau sengaja merusak barang-barang berharga di rumah ini, kan?! Dasar perempuan tak tahu diri!"

Kirana panik. "Maaf, Nyonya! Saya tidak sengaja! Tangan saya licin."

Rengganis tidak peduli. Ia menghampiri Kirana, tangannya terangkat hendak menampar. Namun, sebelum tangannya mendarat di pipi Kirana, sebuah tangan lain menahan pergelangannya. Mahardika berdiri di ambang pintu dapur, wajahnya tegang.

"Cukup, Rengganis!" suara Mahardika sedikit lebih keras dari biasanya. "Jangan sampai bertindak sejauh itu."

Rengganis menarik tangannya dengan kasar. "Kau membelanya, Mas? Dia merusak barang lagi! Dia tidak pantas berada di rumah ini!"

Mahardika menatap Kirana, lalu beralih menatap Rengganis. Ia menghela napas panjang. "Ini hanya piring, Gannis. Tidak perlu dibesar-besarkan. Biar nanti diganti."

Bukan pembelaan yang tulus. Kirana tahu itu. Mahardika hanya ingin meredakan ketegangan, bukan benar-benar membelanya. Namun, setidaknya, kali ini ia menghentikan Rengganis. Kirana menunduk, mengucapkan terima kasih dalam hati pada Mahardika, meskipun ia tahu ia takkan mengatakannya.

Peristiwa itu membuat Rengganis semakin membenci Kirana. Ia mulai sengaja mencari-cari kesalahan Kirana, memberikan tugas-tugas remeh, atau bahkan mengurung Kirana di kamar dengan alasan tidak jelas. Hidup Kirana terasa seperti penjara, mewah tapi tanpa kebebasan.

Satu-satunya yang membuatnya bertahan adalah tekadnya untuk memastikan ibu Saraswati mendapatkan pengobatan terbaik. Setiap kali ia merasa putus asa, ia teringat wajah ibunya yang lemah, dan ancaman Prawira. Ia tahu, pengorbanannya ini tidak sia-sia. Dari waktu ke waktu, Prawira akan menghubunginya, mengabarkan kondisi ibunya, dan selalu menekankan bahwa biaya pengobatan terus mengalir berkat pernikahan Kirana. Ironisnya, Prawira tak pernah sekalipun datang menjenguk ibunya. Hanya Kirana yang tahu betapa kesepian dan menderitanya sang ibu, meskipun berada di rumah sakit yang bagus.

Bima, kekasihnya, sudah tidak bisa lagi ia temui. Setelah pernikahan itu, ia tahu hubungan mereka harus berakhir. Namun, terkadang ia nekat meneleponnya dari telepon rumah secara sembunyi-sembunyi, hanya untuk mendengar suaranya sebentar. Obrolan mereka selalu singkat, dipenuhi keheningan canggung, dan diakhiri dengan Kirana yang harus buru-buru menutup telepon karena takut ketahuan. Bima selalu bertanya, "Kamu baik-baik saja, Kirana? Apa yang mereka lakukan padamu?" Kirana selalu menjawab, "Aku baik-baik saja, Bim. Jangan khawatirkan aku." Sebuah kebohongan yang menyakitkan.

Suatu siang, saat Kirana sedang membantu di dapur, salah satu koki senior, seorang wanita paruh baya bernama Bi Jum, menatapnya dengan iba. Bi Jum adalah salah satu dari sedikit orang di rumah itu yang bersikap baik padanya.

"Non Kirana kenapa melamun terus?" tanya Bi Jum lembut. "Apa ada yang mengganggu pikiran Non?"

Kirana tersenyum tipis. "Tidak apa-apa, Bi. Hanya sedikit lelah."

Bi Jum menghela napas. "Saya tahu, Non. Saya sering melihat bagaimana Nyonya Rengganis memperlakukan Non. Saya juga melihat Tuan Mahardika... dia sepertinya juga tidak bisa berbuat banyak."

Kirana terkejut Bi Jum tahu. Ia merasa sedikit lega ada orang yang menyadarinya. "Tidak apa-apa, Bi. Saya sudah terbiasa."

"Non harus kuat," kata Bi Jum, menepuk pundak Kirana. "Saya tahu Non menikah kemari bukan karena keinginan sendiri. Tapi ingat, di setiap kesulitan pasti ada hikmahnya. Dan ada Anindya. Cucu Nyonya Rengganis dan Tuan Mahardika itu sangat sayang pada Non. Itu artinya, ada kebaikan dalam diri Non."

Kata-kata Bi Jum sedikit menguatkan Kirana. Ia mengangguk, berterima kasih pada wanita tua itu.

Beberapa bulan kemudian, Kirana mulai merasa ada yang berbeda dengan tubuhnya. Ia sering mual di pagi hari, mudah lelah, dan nafsu makannya berubah. Awalnya ia mengira hanya masuk angin atau kelelahan biasa, mengingat tekanan yang ia rasakan. Namun, setelah beberapa minggu, ia mulai menyadari kemungkinan lain yang mengguncang jiwanya.

Jantungnya berdebar kencang saat ia memberanikan diri menggunakan alat tes kehamilan yang ia pinjam dari salah satu pelayan. Dua garis merah muncul, jelas dan tak terbantahkan.

Hamil.

Kata itu terngiang-ngiang di benaknya, membawa gelombang emosi yang campur aduk: takut, cemas, bingung, namun juga secercah kebahagiaan yang tak terduga. Ia akan memiliki bayi. Bayi Mahardika. Bayi yang diharapkan oleh keluarga Wibowo.

Berita ini, ia tahu, akan mengubah segalanya. Ia akan memiliki pewaris yang sangat ditunggu-tunggu. Namun, apakah ini akan membawa kebahagiaan atau justru lebih banyak penderitaan?

Dengan gemetar, Kirana memutuskan untuk memberitahu Mahardika terlebih dahulu. Ia menunggu Mahardika pulang dari kantor, jantungnya berdebar tak karuan. Ketika Mahardika masuk ke kamar malam itu, Kirana berdiri di hadapannya, memegang alat tes kehamilan itu erat-erat.

"Mahardika," panggil Kirana, suaranya nyaris berbisik.

Mahardika menoleh, menatapnya dengan sedikit keheranan. "Ada apa, Kirana?"

Kirana mengangkat alat tes itu, tangannya sedikit gemetar. "Aku... aku hamil."

Mahardika terdiam. Matanya membelalak, ekspresinya berubah dari lelah menjadi terkejut, lalu perlahan, secercah harapan dan kelegaan melintas di sana. Ia melangkah mendekat, mengambil alat tes itu dari tangan Kirana, dan menatapnya lekat-lekat.

"Kau yakin?" tanyanya, suaranya sedikit bergetar.

Kirana mengangguk, air mata mulai menggenang di matanya. "Aku sudah memeriksakannya. Ini positif."

Mahardika tidak segera berkata apa-apa. Ia hanya berdiri di sana, menatap Kirana, seolah mencoba mencerna berita itu. Akhirnya, sebuah senyum tipis, nyaris tak terlihat, terukir di bibirnya. Senyum yang belum pernah Kirana lihat selama ini.

"Ini... ini kabar baik, Kirana," katanya pelan. "Ayah pasti akan sangat senang."

Bukan ucapan selamat, bukan pelukan, tapi Kirana tidak mengharapkannya. Ia tahu, bagi Mahardika, ini adalah pembebasan dari tekanan ayahnya.

"Aku akan memberitahu ayah besok pagi. Dan Rengganis," tambah Mahardika.

Nama Rengganis membuat Kirana kembali cemas. "Bagaimana dengan Nyonya Rengganis?"

Mahardika menghela napas. "Dia pasti akan terkejut. Tapi dia harus menerimanya. Ini adalah yang terbaik untuk keluarga Wibowo."

Malam itu, Mahardika tidak tidur di sofa. Ia tetap di ranjang, namun tetap menjaga jarak dari Kirana. Ia memang tidak menyentuhnya, namun kehadirannya terasa sedikit berbeda. Ada suasana yang sedikit lebih tenang, lebih "lengkap" di ruangan itu. Kirana tahu, kehadirannya di rumah itu kini memiliki tujuan yang jelas: melahirkan seorang pewaris.

Keesokan paginya, berita kehamilan Kirana menyebar cepat di kediaman Wibowo. Reaksi Raden Mas Surya adalah yang paling kentara. Pria tua itu, yang biasanya terlihat kaku dan dingin, tersenyum lebar. Ia memeluk Mahardika, mengucapkan selamat berulang kali. "Akhirnya! Akhirnya garis keturunan Wibowo akan berlanjut! Kau telah memenuhi tugasmu, Mahardika!"

Namun, reaksi Rengganis jauh berbeda. Ia marah besar. Wajahnya merah padam, tangannya gemetar. Ketika Mahardika memberitahunya, Rengganis melemparkan vas bunga yang ada di mejanya.

"Tidak mungkin!" teriak Rengganis. "Kau pasti bohong! Kau melakukan ini untuk menyakitiku, kan, Mas?! Kau membiarkan pelayan itu mengandung anakmu!"

"Rengganis, tenanglah!" bentak Mahardika, berusaha menenangkan istrinya. "Ini adalah kenyataan. Kirana sedang mengandung anakku, calon pewaris keluarga Wibowo. Kau harus menerimanya."

Rengganis menangis histeris. Ia menatap Kirana dengan pandangan penuh kebencian. "Kau! Kau mengambil kebahagiaanku! Kau mengambil suamiku! Aku tidak akan memaafkanmu!"

Kirana hanya bisa diam, menunduk, menahan semua makian dan tuduhan itu. Ia merasa seperti duri dalam daging bagi Rengganis. Kebencian Rengganis kini berlipat ganda, dan itu terasa jauh lebih berat dari sebelumnya.

Raden Mas Surya, melihat keributan itu, melangkah maju. "Rengganis, cukup! Hormati Kirana. Dia sedang mengandung cucuku. Kau harus bersikap dewasa. Ingat, kelangsungan nama Wibowo adalah yang utama!"

Kata-kata Raden Mas Surya memang menghentikan amukan Rengganis, namun tidak meredakan kebencian di matanya. Sejak saat itu, Rengganis memperlakukan Kirana semakin buruk. Ia tidak lagi hanya memberikan tugas-tugas remeh, tapi juga sengaja mempermalukan Kirana di depan para pelayan, menyinggung latar belakang Kirana yang miskin, dan bahkan meremehkan kehamilannya.

"Kau pikir dengan hamil kau akan menjadi nyonya di sini?" Rengganis seringkali berbisik sinis di telinga Kirana saat tak ada orang lain. "Kau hanya rahim berjalan. Setelah anak itu lahir, kau tidak ada gunanya lagi!"

Kirana seringkali menangis di kamar sendirian, memeluk perutnya yang perlahan membesar. Ia berbicara pada bayinya, "Sayang, maafkan Ibu. Maafkan Ibu harus melewati ini. Tapi Ibu akan melindungimu. Ibu akan kuat demi kamu."

Dokter kandungan pribadi keluarga Wibowo datang secara teratur untuk memeriksa Kirana. Ia adalah wanita paruh baya yang ramah, Dr. Karina. Setiap kali Dr. Karina datang, ia akan memberikan nasihat-nasihat lembut dan menenangkan. Kirana merasa sedikit nyaman bersamanya, karena Dr. Karina adalah satu-satunya orang di rumah itu yang memperlakukannya seperti manusia biasa, bukan hanya sebagai wadah pewaris.

"Bagaimana perasaanmu, Kirana?" Dr. Karina bertanya suatu hari, memeriksa tekanan darah Kirana.

"Baik, Dokter," jawab Kirana, meski ia tahu itu bohong.

Dr. Karina tersenyum maklum. "Aku tahu ini tidak mudah. Tapi ingat, kesehatanmu dan bayimu adalah yang utama. Jangan terlalu banyak pikiran. Abaikan saja hal-hal yang membuatmu stres."

Nasihat itu memang mudah diucapkan, namun sulit dilakukan. Bagaimana Kirana bisa mengabaikan tatapan membunuh dari Rengganis, atau sikap acuh tak acuh Mahardika?

Mahardika sendiri, sejak Kirana hamil, menunjukkan sedikit perubahan. Ia tidak lagi sepenuhnya menghindari Kirana. Terkadang, ia akan menanyakan bagaimana kondisi Kirana atau apakah ia membutuhkan sesuatu. Namun, ini lebih kepada tanggung jawab terhadap calon anaknya, bukan karena perhatian terhadap Kirana sebagai istrinya. Ia masih tidak membela Kirana secara terang-terangan di hadapan Rengganis, tapi ia akan menegur Rengganis jika perbuatannya sudah keterlaluan, terutama jika Raden Mas Surya ada di dekatnya.

Suatu malam, Kirana terbangun karena mual yang luar biasa. Ia bergegas ke kamar mandi, muntah-muntah hebat. Mahardika yang tidur di ranjang terbangun mendengar suara itu. Ia segera menyusul Kirana, membantunya memegangi rambut dan memberikan segelas air.

"Kau baik-baik saja?" tanya Mahardika, nada suaranya sedikit cemas.

Kirana mengangguk lemah. "Mual sekali."

Mahardika menghela napas. Ia mengusap punggung Kirana perlahan. Sentuhan itu, meskipun sederhana, terasa begitu asing dan mendebarkan bagi Kirana. Ini adalah sentuhan pertama Mahardika yang terasa "peduli" dalam waktu yang lama.

"Kau harus istirahat lebih banyak," kata Mahardika. "Jika ada apa-apa, panggil saja pelayan."

Ia membantu Kirana kembali ke ranjang, dan kali ini, ia tidak langsung memunggungi Kirana. Ia berbaring miring, menatap Kirana dalam diam. Kirana merasa sedikit nyaman dengan kehadiran Mahardika di dekatnya, meski ia tahu, ini semua demi bayi mereka.

Kehamilan Kirana adalah topik utama di keluarga Wibowo. Raden Mas Surya sudah mulai mempersiapkan nama-nama untuk cucu laki-lakinya, meski belum diketahui jenis kelaminnya. Kirana tahu, tekanan untuk melahirkan anak laki-laki sangat besar. Jika ia melahirkan anak perempuan lagi, ia tidak tahu apa yang akan terjadi padanya. Ketakutan itu terus menghantuinya.

Dalam hati, Kirana terus berbicara pada bayinya. "Anakku, entah kau laki-laki atau perempuan, Ibu akan selalu mencintaimu. Ibu hanya berharap kau bisa lahir dengan selamat, dan membawa sedikit kebahagiaan bagi kita."

Kirana mulai merasa bahwa hidupnya di rumah ini, meskipun penuh penderitaan, telah menemukan tujuan baru. Tujuan itu adalah bayi yang tumbuh di dalam rahimnya. Bayi ini adalah harapannya, alasannya untuk terus berjuang. Ia tahu, ia harus melindungi bayinya dari semua kebencian dan tekanan di sekitarnya.

Perutnya mulai membuncit, dan gerakan-gerakan kecil di dalam perutnya menjadi hiburan tersendiri bagi Kirana. Ia seringkali duduk di tepi jendela, mengusap perutnya, dan berbicara pada bayinya. Ia membayangkan bagaimana wajah bayinya nanti, apakah akan mirip dengannya, atau mirip Mahardika.

Meskipun kehamilan seharusnya membawa kebahagiaan, bagi Kirana, itu juga berarti ia semakin terikat pada kehidupan yang tidak ia inginkan. Ia tahu, setelah bayi ini lahir, posisinya di rumah itu akan semakin jelas: ibu dari pewaris, bukan istri yang dicintai. Dan ia masih harus menghadapi Rengganis, yang semakin hari semakin menunjukkan kebenciannya. Ia juga tidak bisa melupakan Bima, cinta sejatinya, yang kini terasa begitu jauh. Kenangan akan Bima adalah satu-satunya pelipur lara, sekaligus penyesalan terbesar dalam hidupnya.

Di tengah semua itu, Kirana tahu ia harus tetap kuat. Ia harus menghadapi takdir ini, demi ibu dan bayinya. Ia hanya berharap, ada secercah harapan bahwa kelak, ia bisa menemukan sedikit kedamaian dan kebahagiaan. Apakah kelahiran sang bayi akan membawa kebaikan atau justru memperkeruh keadaan? Kirana hanya bisa pasrah, dan berdoa. Perjalanan masih panjang, dan ia harus terus berjalan, melangkah di atas beling-beling penderitaan yang tak kunjung usai.

Bab 3

Bulan-bulan berlalu, dan perut Kirana semakin membesar. Kehamilannya membawa perubahan yang signifikan dalam dinamika kediaman Wibowo. Tekanan dari Raden Mas Surya kepada Mahardika sedikit mereda, digantikan oleh antisipasi akan kelahiran cucu baru. Namun, di sisi lain, kebencian Rengganis terhadap Kirana kian membara.

Rengganis, yang selama ini merasa terancam, kini melihat kehamilan Kirana sebagai invasi langsung terhadap posisinya. Ia seringkali melontarkan kalimat-kalimat menyakitkan. "Kau pikir kehamilan itu akan mengubah apa pun? Kau tetaplah orang luar. Dan ingat, anak itu akan tumbuh sebagai pewaris Wibowo, bukan anakmu seutuhnya," ejek Rengganis suatu sore saat Kirana sedang memijat kakinya yang bengkak.

Kirana hanya bisa menunduk, menahan perih. Ia tahu, Rengganis ingin menghancurkan mentalnya. Namun, setiap kali ia mendengar kalimat-kalimat pedas itu, ia akan mengusap perutnya dan berbicara pada bayinya dalam hati. "Tidak, sayang. Kamu adalah anak Ibu. Dan Ibu akan selalu melindungimu."

Mahardika sendiri menunjukkan perhatian yang lebih. Ia mulai menanyakan kondisi Kirana secara lebih rutin, memastikan Kirana makan dengan baik, dan terkadang ia akan menyentuh perut Kirana saat Kirana sedang tidur, seolah ingin merasakan kehadiran calon anaknya. Sentuhan itu seringkali membuat Kirana terkejut, namun ia tidak pernah menolaknya. Ia tahu, di balik sikap dingin Mahardika, ada secercah harapan yang sama besar dengannya untuk kehadiran bayi ini.

Suatu malam, Kirana terbangun karena perutnya terasa kram. Ia merintih pelan. Mahardika yang sedang membaca buku di sisi ranjangnya segera menoleh.

"Ada apa, Kirana? Sakit?" tanya Mahardika, bangkit dari tempat tidur.

Kirana mengangguk, menahan nyeri. "Sedikit kram."

Mahardika segera memanggil dokter. Dalam waktu singkat, Dr. Karina sudah tiba di kediaman Wibowo. Setelah memeriksa Kirana, Dr. Karina menenangkan mereka.

"Tidak apa-apa, ini hanya kontraksi Braxton Hicks, umum terjadi di trimester ketiga. Tapi sebaiknya Kirana lebih banyak istirahat dan jangan terlalu banyak pikiran," jelas Dr. Karina. Ia melirik Rengganis yang berdiri di ambang pintu, tatapannya menyiratkan pengertian.

Setelah Dr. Karina pergi, Mahardika menatap Rengganis. "Rengganis, tolong jangan terlalu menekan Kirana. Ini demi calon anak kita. Kondisi mentalnya juga berpengaruh pada bayi."

Rengganis mendengus. "Aku tidak melakukan apa-apa! Dia saja yang terlalu lemah!"

Meski Rengganis membantah, Mahardika tahu ada benarnya perkataan Dr. Karina. Sejak saat itu, Mahardika sesekali akan menegur Rengganis jika ia melihat perlakuan Rengganis terlalu keterlaluan pada Kirana, terutama di depan umum atau jika Raden Mas Surya ada di dekatnya. Ia masih belum bisa membela Kirana secara penuh, namun setidaknya, Kirana merasa ada sedikit perlindungan yang ia dapatkan.

Seiring waktu, Anindya, yang semakin besar, menunjukkan kasih sayang yang luar biasa pada Kirana. Ia seringkali memeluk kaki Kirana, meminta Kirana membacakan cerita, atau bahkan hanya ingin duduk di samping Kirana saat Kirana mengusap perutnya.

"Tante Kirana, ada bayi di perut Tante?" tanya Anindya dengan mata berbinar suatu sore.

Kirana tersenyum, mengangguk. "Iya, sayang. Sebentar lagi bayinya lahir."

"Bayinya adik aku?" tanya Anindya polos.

Hati Kirana teriris mendengar pertanyaan itu. Ia tidak bisa menjawab. Anindya adalah cucu dari Mahardika dan Rengganis, dan bayi yang dikandungnya juga akan menjadi cucu bagi mereka. Status Anindya adalah anak dari Paramita, putri Mahardika dan Rengganis. Hubungan antara Anindya dan bayi yang dikandung Kirana akan menjadi saudara tiri, namun dalam konteks keluarga Wibowo, bayi Kirana akan dipersiapkan sebagai pewaris utama, sementara Anindya tetaplah cucu kesayangan. Ini adalah kompleksitas yang tak bisa dijelaskan kepada anak sekecil Anindya.

Namun, kedekatan Anindya dengan Kirana juga membuat Rengganis semakin cemburu. Ia seringkali memisahkan Anindya dari Kirana, atau melarang Kirana bermain dengan Anindya. "Jangan terlalu dekat dengan Kirana! Dia bukan bagian dari keluarga kita yang sesungguhnya!" bisik Rengganis pada Anindya, tanpa menyadari dampak kata-kata itu pada anak sekecil itu.

Kirana hanya bisa menghela napas. Ia tahu, Rengganis tidak akan pernah menerimanya.

Memasuki bulan kesembilan, persiapan menyambut kelahiran bayi semakin intensif. Kamar bayi mewah telah disiapkan, pernak-pernik bayi dari merek-merek ternama telah memenuhi ruangan. Raden Mas Surya tampak sangat bersemangat, ia bahkan sudah memesan berbagai barang antik untuk diberikan sebagai hadiah kepada cucu laki-lakinya. Tekanan untuk melahirkan anak laki-laki terasa semakin memuncak.

Kirana sendiri merasa campur aduk. Ia takut, namun juga sangat menantikan kehadiran bayinya. Ia seringkali memimpikan Bima, kekasihnya. Dalam mimpinya, Bima akan memeluknya erat, menemaninya melalui proses persalinan, dan menyambut bayi mereka dengan senyum bahagia. Namun, ia tahu itu hanya mimpi. Realitanya, ia akan melalui ini bersama Mahardika, pria yang ia nikahi tanpa cinta, demi kelangsungan hidup ibunya.

Suatu malam, Kirana merasakan kontraksi yang lebih kuat dan teratur. Ia mencoba menahan, berharap itu hanya kontraksi palsu seperti sebelumnya. Namun, rasa sakitnya semakin intens. Ia membangunkan Mahardika dengan gemetar.

"Mahardika... sakit sekali," bisik Kirana, napasnya tersengal.

Mahardika langsung terbangun, melihat wajah Kirana yang pucat pasi. Ia segera menghubungi Dr. Karina dan mempersiapkan keberangkatan ke rumah sakit. Selama perjalanan, Mahardika menggenggam tangan Kirana. Genggaman itu terasa hangat, memberikan sedikit kekuatan pada Kirana. Kirana melihat ada kekhawatiran di mata Mahardika, bukan hanya khawatir pada calon pewarisnya, tapi juga pada Kirana sendiri.

Di rumah sakit, proses persalinan berjalan panjang dan melelahkan. Kirana mengerahkan seluruh tenaganya. Mahardika setia mendampingi di sampingnya, memegang tangannya, sesekali menyeka keringat di dahinya. Ia bahkan membisikkan kata-kata penyemangat, sesuatu yang tidak pernah Kirana duga akan ia dengar dari pria itu.

"Ayolah, Kirana. Kau bisa. Sedikit lagi," bisik Mahardika, suaranya sedikit tegang.

Kehadiran Mahardika, meskipun tidak dilandasi cinta, memberikan kekuatan tersendiri bagi Kirana. Ia merasa tidak sepenuhnya sendirian.

Setelah perjuangan panjang, sebuah tangisan bayi memecah keheningan ruang bersalin. Suara itu adalah suara paling indah yang pernah didengar Kirana. Air mata kebahagiaan dan kelegaan membanjiri wajahnya.

"Laki-laki, Tuan Mahardika! Selamat!" seru Dr. Karina dengan wajah gembira.

Mahardika terkesiap. Wajahnya langsung memancarkan kelegaan yang luar biasa. Ia menatap Kirana, senyum tipis, namun tulus, tersungging di bibirnya. "Kita berhasil, Kirana. Laki-laki."

Bayi mungil itu segera dibersihkan dan diletakkan di dada Kirana. Kirana memeluknya erat, merasakan kehangatan tubuh mungil itu, mencium aroma khas bayi yang baru lahir. Ini adalah buah hatinya, putra yang akan menjadi pewaris keluarga Wibowo. Ia berjanji pada dirinya sendiri akan melindunginya dengan segenap jiwa.

Tak lama kemudian, Raden Mas Surya dan Rengganis tiba di rumah sakit. Raden Mas Surya langsung menghambur ke arah cucu laki-lakinya, matanya berbinar-binar penuh kebahagiaan.

"Pewaris! Akhirnya pewaris laki-laki!" seru Raden Mas Surya, menggendong cucunya dengan bangga. "Siapa namanya, Mahardika?"

Mahardika menatap Kirana. "Aku belum memikirkannya, Ayah."

Kirana menatap bayinya. Sebuah nama tiba-tiba terlintas di benaknya, nama yang ia impikan sejak lama. "Saya... saya ingin memberinya nama Arjuna," bisik Kirana, suaranya lemah.

Raden Mas Surya mengernyit. "Arjuna? Mengapa Arjuna?"

"Nama itu... indah," jawab Kirana, menatap mata Mahardika. "Dan saya ingin dia menjadi seperti Arjuna, ksatria yang kuat."

Mahardika menatap Kirana, lalu mengangguk pelan. "Arjuna. Ya, nama yang bagus."

Rengganis hanya berdiri di sudut ruangan, wajahnya masam. Ia melihat bagaimana Mahardika menatap Kirana, dan bagaimana Raden Mas Surya terlihat sangat bahagia dengan bayi itu. Rasa iri dan benci merayapi hatinya. Ia memang mengharapkan pewaris laki-laki, tapi tidak dari rahim Kirana.

Kelahiran Arjuna Narendra Wibowo membawa perubahan besar. Rumah besar Wibowo yang dulu terasa sepi kini dipenuhi tangisan bayi dan gelak tawa Anindya yang senang memiliki 'adik' baru. Raden Mas Surya sangat bangga pada Arjuna, seringkali menggendongnya dan memperkenalkannya kepada tamu-tamu penting.

Posisi Kirana di rumah itu menjadi lebih kuat. Ia bukan lagi sekadar istri kedua yang tak diinginkan, melainkan ibu dari pewaris utama. Meskipun Rengganis masih sering melontarkan komentar sinis atau mencoba mencari kesalahan, ia tidak lagi bisa bertindak semena-mena. Raden Mas Surya secara terang-terangan mengatakan kepada Rengganis untuk tidak mengganggu Kirana.

"Jaga sikapmu, Rengganis! Kirana adalah ibu dari pewaris kita. Hormati dia!" kata Raden Mas Surya dengan tegas suatu kali saat Rengganis mencoba menghalangi Kirana menyusui Arjuna.

Mahardika juga semakin sering berada di dekat Kirana dan Arjuna. Ia mengagumi putranya, seringkali menggendong Arjuna, mengajaknya bermain, dan bahkan membantu Kirana mengganti popok. Kirana melihat sisi lain dari Mahardika, sisi seorang ayah yang penuh kasih sayang. Melihat Mahardika tersenyum tulus pada Arjuna, hati Kirana merasakan kehangatan yang aneh. Bukan cinta seperti pada Bima, tapi semacam rasa nyaman dan kebersamaan.

Suatu malam, saat Kirana sedang menyusui Arjuna, Mahardika masuk ke kamar dan duduk di sampingnya. Ia memandang Arjuna dengan tatapan lembut.

"Terima kasih, Kirana," kata Mahardika tiba-tiba, suaranya pelan.

Kirana terkejut. Ia menatap Mahardika. "Untuk apa, Mahardika?"

"Untuk Arjuna. Untuk memberikan pewaris yang Ayahku impikan. Kau telah menyelamatkan nama keluarga Wibowo," jawab Mahardika. Ada ketulusan dalam suaranya.

Kirana tersenyum tipis. "Dia adalah anak kita, Mahardika."

Mahardika mengangguk. "Ya, anak kita." Ia mengulurkan tangan, mengusap kepala Arjuna lembut. "Dia sangat mirip denganmu, Kirana."

Pujian itu membuat pipi Kirana sedikit merona. Ia tidak menyangka Mahardika akan mengatakan hal seperti itu. Hening menyelimuti mereka. Kirana merasakan sebuah ikatan baru terbentuk, ikatan yang dibangun bukan di atas cinta romantis, melainkan di atas tanggung jawab bersama terhadap putra mereka.

Namun, kedamaian itu tidak berlangsung lama. Beberapa bulan setelah Arjuna lahir, masalah baru muncul. Biaya pengobatan ibu Saraswati melonjak drastis. Kondisi ibu Kirana memburuk, membutuhkan perawatan intensif dan obat-obatan yang jauh lebih mahal.

Prawira, paman Kirana, kembali menunjukkan wujud aslinya. Ia menghubungi Kirana, bukan untuk menanyakan kabar ibu atau Arjuna, melainkan untuk menagih janji.

"Kirana, kau sudah punya anak laki-laki, kan? Sekarang saatnya kau memenuhi janjimu," kata Prawira dengan nada menuntut. "Kau harus memastikan keluarga Wibowo tetap membiayai ibumu. Bahkan, kau harus meminta lebih!"

Kirana terkejut. "Janji apa, Paman? Aku sudah melakukan tugasku. Aku sudah melahirkan pewaris."

"Kau lupa? Kau berjanji akan melakukan apa saja agar ibumu sembuh! Dan sekarang, kau adalah ibu dari pewaris Wibowo. Kau punya posisi kuat! Gunakan itu untuk mendapatkan uang lebih banyak!" desak Prawira. "Jika tidak, aku akan bilang pada keluarga Wibowo tentang semua perjanjian kita. Aku akan bilang kau menikah hanya demi uang pengobatan ibumu!"

Ancaman Prawira membuat Kirana ketakutan. Ia tahu, jika Mahardika atau Raden Mas Surya tahu bahwa pernikahannya didasari oleh ancaman Prawira untuk biaya pengobatan ibunya, mereka mungkin akan marah besar. Prawira bisa saja membuat skandal, dan itu akan mencoreng nama baik keluarga Wibowo.

Ia mencoba menghubungi Bima lagi, berharap mendapatkan saran atau sekadar penghiburan. Namun, nomor Bima sudah tidak aktif. Kirana merasa putus asa. Ia tahu Bima sengaja mengganti nomornya, mungkin untuk menjauhi masa lalu yang menyakitkan.

Penderitaan Kirana semakin bertambah. Di satu sisi, ia harus menghadapi kebencian Rengganis dan kecanggungan dengan Mahardika. Di sisi lain, ia kini diancam oleh pamannya sendiri. Ia merasa terjebak di antara dua dunia: kemewahan yang dingin dan ancaman yang tak berujung.

Suatu siang, saat Arjuna sedang tidur, Kirana duduk di tepi ranjangnya, memandangi wajah damai putranya. Air matanya menetes. Ia merasa begitu lelah, begitu sendirian. Ia merindukan pelukan ibunya, bahkan di tengah penyakitnya, ibunya adalah satu-satunya yang bisa memahami Kirana tanpa syarat.

Ia merindukan masa-masa bersama Bima, tawa lepas mereka, janji-janji masa depan yang kini terasa begitu jauh. Cinta mereka yang tulus, kini hanya menjadi kenangan yang menyakitkan.

Tiba-tiba, pintu kamar terbuka. Mahardika masuk. Ia melihat Kirana yang menangis. Ekspresi wajahnya berubah menjadi khawatir.

"Ada apa, Kirana? Kenapa kau menangis?" tanya Mahardika, mendekat.

Kirana buru-buru menghapus air matanya. "Tidak ada apa-apa, Mahardika. Hanya... sedikit lelah."

Mahardika duduk di sampingnya. "Kau tidak bisa membohongiku. Aku tahu kau punya masalah. Apa ini tentang ibumu? Prawira?"

Kirana terkejut. Mahardika tahu tentang Prawira?

"Aku tahu Prawira sering menghubungimu. Aku sudah menyuruh orangku untuk mencari tahu tentang dia. Apa yang dia lakukan padamu?" suara Mahardika terdengar serius, bahkan sedikit marah.

Kirana merasa sedikit lega, namun juga takut. Ia tahu ia harus jujur pada Mahardika. Ia menarik napas dalam-dalam. "Dia... dia mengancam akan memberitahu tentang perjanjian kita. Bahwa saya menikah karena... biaya pengobatan Ibu."

Mahardika terdiam sejenak. Wajahnya mengeras. "Jadi, dia memaksamu?"

Kirana mengangguk, air mata kembali mengalir. "Iya. Dia bilang jika saya menolak, dia tidak akan membiayai pengobatan Ibu lagi. Ibu saya... Ibu saya sudah sangat sakit, Mahardika. Saya tidak punya pilihan lain."

Mahardika menghela napas panjang. Ia menatap Kirana dengan sorot mata yang sulit diartikan. Ada penyesalan, ada kemarahan, dan juga... sedikit rasa iba. Ia tahu Kirana tidak pernah menginginkan pernikahan ini, dan ia juga korban.

"Aku akan membereskan Prawira," kata Mahardika akhirnya, suaranya tenang namun penuh otoritas. "Dia tidak akan mengganggumu lagi. Dan masalah biaya pengobatan ibumu, itu sudah menjadi tanggung jawabku sebagai suamimu. Tidak perlu khawatir."

Kata-kata Mahardika bagaikan embun penyejuk di tengah gurun. Kirana menatapnya tak percaya. "Kau... kau akan membantuku?"

"Tentu saja. Kau adalah istriku, dan ibu dari anakku," jawab Mahardika. "Aku memang menikahi denganmu karena desakan, tapi bukan berarti aku akan membiarkanmu menderita. Apalagi kau sudah memberikan Arjuna untuk keluarga ini. Kau punya hak untuk hidup tenang."

Ini adalah pertama kalinya Mahardika secara eksplisit mengatakan bahwa ia akan melindungi Kirana. Hati Kirana merasakan secercah harapan. Mungkin, di balik semua kesepakatan dan tekanan ini, Mahardika memang memiliki sisi baik. Mungkin, mereka bisa menemukan cara untuk hidup berdampingan, meskipun tanpa cinta.

"Terima kasih, Mahardika," bisik Kirana, suaranya bergetar.

Mahardika mengangguk. Ia mengulurkan tangannya, dan kali ini, ia mengusap kepala Kirana lembut, sentuhan yang penuh kehati-hatian. "Istirahatlah. Aku akan mengurus ini."

Mahardika keluar dari kamar, meninggalkan Kirana dengan perasaan campur aduk. Ia merasa sedikit lega, namun juga takut. Apa yang akan Mahardika lakukan pada Prawira? Apakah ini berarti ia akan mendapatkan sedikit kebebasan? Atau justru ini adalah awal dari masalah baru?

Meskipun Mahardika sudah mengatakan akan melindunginya, Kirana tahu perjalanannya masih panjang. Kebencian Rengganis tidak akan hilang begitu saja. Dan ia sendiri, meskipun kini memiliki Arjuna, masih merindukan kehidupan lamanya, merindukan Bima. Harapan memang ada, namun badai belum sepenuhnya reda.

Ia memandang Arjuna yang tertidur pulas. Senyum tipis terukir di bibirnya. Demi putranya, ia akan berjuang. Demi ibunya, ia akan bertahan. Dan mungkin, hanya mungkin, di tengah badai ini, ia bisa menemukan sedikit kebahagiaan yang tulus. Kirana tahu, ini adalah awal dari babak baru, dan ia harus siap menghadapi apa pun yang akan datang.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED