Seorang lelaki terlihat menghembuskan napas lega setelah selesai mengucap kalimat ijab qobul dengan satu tarikan napas.
"Bagaimana para saksi? Sah?" tanya penghulu pada para saksi nikah yang duduk di samping kedua mempelai.
"Saahhhh."
"Saaahhhh."
Terdengar sorakan dari beberapa tamu undangan dan saksi yang menghadiri acara akad nikah Alfian dan Cassandra. Wanita cantik, berkulit putih dan berhidung bangir itu langsung mencium punggung tangan lelaki yang baru saja sah menjadi suaminya beberapa menit yang lalu dan dibalas Alfian dengan sebuah kecupan mesra di kening Cassandra.
Usai saling memasangkan cincin di jari manis, kedua sejoli itu naik ke pelaminan untuk menyalami para tamu undangan yang hendak memberikan ucapan selamat untuk kedua mempelai. Hanya Bu Yuni yang berdiri di samping keduanya sebagai orang tua karena Cassandra yang hanya hidup sebatang kara sedangkan ayah Alfian juga sudah meninggal beberapa tahun yang lalu.
Senyum kebahagiaan terus tersungging dari bibir keduanya. Sungguh Alfian tak pernah menyangka jika jodohnya adalah seorang gadis cantik nan polos yang ia kenal melalui aplikasi media sosial beberapa bulan lalu. Lelaki itu merasa sangat beruntung dapat menjadi suami dari seorang wanita bernama Cassandra Amalia, selain polos, wanita itu juga begitu lembut dan perhatian pada Bu Yuni.
Hari kian terik, para tamu undangan juga tinggal beberapa orang yang masih tersisa. Namun, wajah Alfian nampak begitu gelisah karena menunggu sang sahabat sekaligus bosnya yang tak kunjung datang.
"Mas Alfian, kok kamu kayak gelisah begitu? Apa ada masalah?" bisik lembut Cassandra di telinga sang suami.
Alfian mengulas senyum tipis menatap gadis cantik yang baru saja sah menjadi istrinya beberapa jam lalu.
"Mas lagi menunggu sahabat. Sudah jam segini kok dia masih belum datang juga, apa jangan-jangan dia nggak bisa datang ya," jawab Alfian kemudian.
Sejurus kemudian, dari kejauhan nampak seorang wanita cantik bersurai coklat yang mengenakan dress selutut berwarna soft pink. Wajah orientalnya nampak begitu cantik paripurna terpoles dengan make up natural, bibirnya yang tipis nan ranum diberi sentuhan lipstik berwarna nude, menambah kesempurnaan kecantikan seorang Dira Anindita. Seketika senyum bahagia mengembang di bibir Alfian.
"Nah itu, dia sahabat Mas, Sayang." Jari telunjuk Alfian terarah pada sosok gadis cantik yang semakin mendekat ke arah pelaminan.
Sedangkan wajah Cassandra yang sedari tadi dipenuhi binar bahagia kini berubah pias ketika melihat sosok yang tengah ditunjuk oleh sang suami. Wanita itu menundukkan kepala saat gadis bernama Dira telah naik ke pelaminan dan menyalami Bu Yuni, ibunda Alfian.
"Ya ampun Dira, kamu cantik sekali sayang," puji Bu Yuni merangkul dan mencium kedua pipi gadis itu.
"Makasih Bu, maaf ya Dira datangnya telat jadi nggak bisa lihat akad nikahnya Alfian deh," sesal Dira dengan wajah bersalah.
"Jangan bilang kamu telat datang gara-gara kelamaan dandan ya, Dira," goda Alfian pada wanita yang sudah menjadi sahabatnya sejak duduk di bangku sekolah menengah atas.
"Hehe, tau aja sih kamu. Tadi aku bingung mau pakai baju apa, oh ya istri kamu mana? Saking sibuknya aku belum sempat kenalan sama istri kamu."
"Hampir aja lupa. Sayang, kenalkan ini Dira sahabat aku. Dan Dira, kenalkan ini istriku." Alfian mengenalkan kedua wanita itu.
"Hai kenalin, aku Dira," ucap Dira sembari mengulurkan tanganya.
"Cassandra." Wanita itu menjabat tangan Dira sekilas tanpa menatap wajahnya, jatungnya berdegup kencang. Takut jika sampai Dira mengacaukan hari bahagianya ini.
"Ca-ssandra, kamu Cassandra Amelia kan?" kaget Dira saat menyadari siapa sebenarnya istri Alfian tersebut, mata wanita itu memincing memastikan jika sosok di hadapanya adalah Cassandra yang sama dengan yang ia kenal.
Dahi Alfian mengernyit, lelaki itu menatap Dira dengan wajah bingung karena nampaknya sang sahabat begitu mengenal sosok wanita yang beberapa jam lalu baru saja sah menyangdang status sebagai istrinya.
"Al, kamu kenal wanita ini di mana? Gimana bisa kamu nikah sama perempuan murahan macam dia?" Nada bicara Dira tiba-tiba berubah meninggi, beruntung sudah tak ada tamu lagi selain gadis itu di sana.
"Dira, apa maksud kamu, Nak? Kenapa sepertinya kamu kenal sekali dengan Cassandra? Apa kalian sudah pernah bertemu sebenarnya?" tanya Bu Yuni seraya mengelus punggung Dira dengan lembut.
"Bu, dia ini bukan wanita baik-baik. Dia ini wanita murahan, perusak hubungan orang. Dia sudah menghancurkan kebahagiaan Dira," histeris Dira, jari telunjuknya menunjuk-nunjuk wajah Cassandra yang hanya bisa diam membisu karena takut jika ia ikut bicara, maka semuanya akan semakin runyam.
"Dira, aku kenal Cassandra ini dari facebook beberapa bulan lalu. Tapi aku tahu banget kalau dia ini wanita baik-baik, nggak seperti yang kamu ucapkan barusan," kesal Alfian mendengar sahabatnya berbicara yang tidak-tidak tentang sang istri.
"Terserah kalau kamu nggak percaya sama aku, tapi suatu saat nanti kamu pasti akan menyesal. Bu, maaf Dira harus pergi sekarang." Gadis itu langsung turun dari pelaminan dan meninggalkan kediaman Alfian begitu saja.
Tangis Cassandra pecah setelah kepergian Dira, Air mata menganak sungai dari netra indahnya. Bu Yuni dan Alfian segera membawa wanita itu masuk ke dalam rumah untuk mendapatkan penjelasan tentang apa yang sebenarnya terjadi antara Cassandra dan Dira.
"Cassandra, ada apa sebenarnya, Nak? Kenapa Dira seolah sangat membencimu? Apa kamu ada masalah sama dia?" tanya Bu Yuni dengan lembut, tangan wanita paruh baya itu terulur membelai lembut punggung sang menantu.
"Iya Cassandra, ayo jelaskan ada apa sebenarnya. Aku sudah lama mengenal Dira, dia tak mungkin membenci seseorang tanpa sebab," desak Alfian tak sabar untuk segera mendengar penjelasan dari sang istri.
Perlahan Cassandra mengangkat kepalanya, menatap suami dan ibu mertuanya secara bergantian. Air mata masih belum berhenti mengalir dari kedua netra gadis itu.
"Iya aku mengenal Dira, dan dia membenciku karena sebuah kesalahpahaman. Dira mengira aku sudah merebut Dion darinya. Padahal Dion sendiri yang menggodaku meskipun aku selalu menolak lelaki itu," jelas Cassandra diselingi isak tangis.
"Jadi kamu yang menyebabkan Dira dan Dion putus, padahal rencananya sebentar lagi Dion akan melamar Dira?" Mata Alfian memincing manatap wajah sendu sang istri.
"Aku sudah menolak Dion, Mas. Karena aku tahu kalau dia punya kekasih dan aku juga nggak tahu kenapa Dion tetap mutusin Dira meskipun aku udah nolak dia." Air mata kian deras mengalir dari netra Cassandra, Alfian segera merengkuh wanitanya ke dalam pelukan untuk memberi ketenangan.
"Berarti semua ini hanya salah paham, dan Cassandra di sini nggak salah. Jadi nggak usah dipikirin, lebih baik sekarang kalian istirahat saja ya. Nanti kita kumpul untuk makan malam, Ibu juga capek sekali," ujar Bu Yuni bijaksana, Alfian mengangguk dan membawa Cassandra masuk ke dalam kamarnya. Beryntung pernikahan mereka hanya dilakukan secara sederhana dan saudara-saudara Bu Yuni juga langsung pulang karena jarak rumah mereka memang cukup dekat.
Setibanya di kamar, Alfian langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Membiarkan Cassandra yang masih sibuk membersihkan make up yang menempel di wajahnya. Beberapa menit kemudian Alfian keluar hanya dengan mengenakan handuk yang melilit di pinggangnya. Wajah Cassandra seketika bersemu merah melihat pemandangan itu. Buru-buru wanita itu memalingkan wajahnya ke arah lain dan masuk ke dalam kamar mandi. Alfian hanya bisa tersenyum gemas melihat tingkah istrinya yang polos itu.
Sembari menunggu Cassandra selesai membersihkan diri, Alfian memilih merebahkan diri di ranjang sembari memainkan game online di gawai miliknya. Lima belas menit kemudian pintu kamar mandi terbuka, aroma harum menguar di indera penciuman Alfian. Mata lelaki itu tak berkedip karena terpanah melihat penampilan sang istri yang hanya mengenakan lingerie hitam berbahan satin. Alfian menepuk sisi ranjang sebelahnya agar sang istri ikut merebahkan diri di sana.
Dengan malu-malu, Cassandra membaringkan diri di samping sang suami. Alfian begitu terpesona melihat kecantikan sang istri, jemari tanganya membelai lembut pipi Cassandra yang telah merona karena tatapan Alfian.
"Masih ada beberapa jam sebelum makan malam, boleh kalau aku ingin minta hakku sekarang?" bisik Alfian lembut di telinga sang istri, hangat hembusan napasnya begitu terasa di leher Cassandra hingga membuat bulu kuduknya meremang. Wanita itu mengangguk kecil mengiyakan permintaan sang suami.
Perlahan, Alfian mengecup mesra bibir ranum berwarna pink alami milik Cassandra. Entah siapa yang memulai terlebih dahulu. Kini pakaian mereka telah jatuh bertebaran di lantai. Jejak kemerahan telah terukir indah di leher jenjang dan dada putih milik Cassandra. Mata wanita itu berubah menjadi sayu terbakar gairah, seolah meminta Alfian untuk segera menuju ke inti permainan.
"Boleh aku lakukan sekarang?" Lagi-lagi Alfian meminta persetujuan yang langsung mendapat sebuah anggukan dari sang istri.
"Ini akan sedikit sakit, tapi aku janji akan melakukannya selembut mungkin," lirih Alfian memulai penyatuan mereka.
Mata Alfian melotot kala merasakan sesuatu yang tak pernah ia duga selama ini.
Alfian yang merasa begitu terkejut langsung melepaskan penyatuan antara dirinya dan Cassandra dengan kasar, lelaki itu mengacak rambutnya frustasi kemudian melangkah menuju ke kamar mandi dan mengguyur tubuhnya dengan air shower agar emosi yang bergejolak dalam batinnya saat ini dapat mereda. Apa ini, Cassandra yang ia pikir seorang gadis polos ternyata sudah tidak suci lagi.
"Apa jangan-jangan semua yang dibilang Dira tadi benar adanya, Cassandra adalah wanita murahan?" Batin Alfian dalam hati.
Prasangka buruk itu tiba-tiba melintas, membuat Alfian merasa semakin frustasi. Lelaki itu menjaga dirinya agar sang istri menjadi yang pertama, tapi apa yang ia dapat. Cassandra telah membohonginya.
Sedangkan Cassandra hanya bisa menggigit bibir bawahnya sembari menatap punggung sang suami yang menghilang di balik pintu kamar mandi. Wanita itu segera menutupi tubuh polosnya dengan selimut, air mata mulai menetes di pipi mulus nan putih milik Cassandra.
Hampir tiga puluh menit berlalu, Alfian keluar dari kamar mandi dengan wajah merah penuh amarah. Matanya menatap Cassandra dengan pandangan yang sulit diartikan. Perlahan, Alfian melangkah dan menghenyak di sisi ranjang. Menatap sang istri yang masih menangis karena perlakuannya tadi.
"Kenapa kamu nggak bilang dari awal kalau kamu sudah nggak perawan, Cassandra? Aku menjaga diriku selama ini agar istriku menjadi orang pertama yang mendapatkannya, tapi kamu ...." Alfian tak mampu lagi melanjutkan kata-katanya, lelaki itu masih belum bisa menerima kenyataan jika Cassandra Amalia. Wanita yang ia anggap polos ternyata sudah tidak suci lagi saat menikah dengannya.
Wanita cantik itu kian terisak dan memilih memutar badannya memunggungi sang suami sembari memutar otak. Memikirkan jawaban apa yang harus ia berikan pada sang suami.
"Katakan Cassandra, katakan kenapa kamu tidak jujur padaku sejak awal? Apa kamu memang sengaja membohongiku? Atau jangan-jangan yang dikatakan Dira tadi semuanya benar?" cecar Alfian dengan suara yang mulai meninggi, emosinya benar-benar sudah di ubun-ubun. Bahkan lelaki itu tak lagi peduli jika saat ini Cassandra belum memakai kembali pakaiannya.
Cassandra yang mendengar tuduhan bertubi-tubi dari sang suami segera menghapus air mata di pipinya dengan kasar. Wanita itu bangkit dari posisinya dan menyandarkan tubuhnya yang hanya ditutupi selimut itu ke kepala ranjang.
"Mas, bukankah kamu sendiri yang selalu bilang akan menerimaku apa adanya. Bahkan setiap aku akan menceritakan segala masa laluku, kamu selalu berkata itu semua tidak penting. Karena itu, aku pikir kamu juga bisa menerima semua kekuranganku. Dan asal kamu tahu saja, Mas. Aku jadi begini juga bukan mauku," teriak Casaandra histeris, air mata kembali menetes di pipi wanita itu.
"Kalau bukan maumu lalu mau siapa? Hah?" balas Alfian tak mau kalah.
"A- aku, aku kehilangan kesucianku karena aku dirudapaksa oleh teman almarhum ayahku, Mas," tangis Cassandra kian menjadi hingga terdengar di telinga Bu Yuni yang tengah beristirahat di dalam kamarnya.
Wanita paruh baya itu khawatir mendengar suara keributan dari kamar dan langsung melangkah lebar menghampiri sepasang pengantin baru itu. Pintu yang dikunci dari dalam membuat wanita paruh baya itu kian panik.
"Alfian, Cassandra, ada apa, Nak? Kenapa Cassandra menangis sampai seperti itu? Alfian, buka pintunya!" teriak Bu Yuni yang tak berhenti mengetuk pintu kamar putranya.
Alfian yang mendengar suara panik sang ibu langsung beranjak untuk membukakan pintu tanpa memikirkan Cassandra yang masih belum sempat memakai baju dan hanya menutupi tubuhnya dengan selimut. Mata Bu Yuni membola sempurna melihat penampilan sang menantu yang tengah duduk bersandar di kepala ranjang tanpa mengenakan pakaiannya, rambut berantakan dengan wajah yang dipenuhi air mata membuat wanita paruh baya itu geleng-geleng kepala.
"Cassandra, kenapa penampilan kamu seperti itu, Nak. Alfian, apa yang sudah kamu lakukan pada istrimu. Ini masih siang dan kamu sudah mau minta istrimu menunaikan kewajibannya?" cerocos Bu Yuni menatap tajam ke arah putranya.
Alfian dengan terpaksa menjelaskan apa yang telah terjadi termasuk soal pengakuan Cassandra yang telah dirudapaksa oleh sahabat almarhum ayahnya. Bu Yuni membekap mulutnya sendiri setelah mendengar penjelasan dari putranya, tak habis pikir mengapa kehidupan menantunya begitu menyedihkan. Perlahan, wanita paruh baya itu mendekat dan merengkuh tubuh Cassandra ke dalam pelukannya.
"Cassandra, apakah benar semua yang telah dikatakan oleh Alfian tadi, Nak? Bagaimana bisa sahabat ayahmu melakukan hal sekeji itu padamu?" tanya Bu Yuni sembari membelai lembut puncak kepala sang menantu.
Cassandra mengurai pelukan itu, menatap wajah Alfian dan Bu Yuni secara bergantian. Air mata masih belum mau berhenti mengalir dari kedua netra indah itu.
"Dulu sahabat ayah yang bantu biaya sekolah Cassandra setelah ayah meninggal, Bu. Sampai suatu saat Cassandra jatuh sakit dan dia yang merawat Cassandra." Wanita muda itu menjeda untuk menyeka kedua sudut mata yang basah.
"Waktu itu Cassandra juga nggak menyangka kalau saat Cassandra sakit dan nggak berdaya, dia malah tega melakukan hal sekeji itu. Sekarang Cassandra sadar kalau Cassandra memang wanita kotor, Bu. Kalau memang Mas Alfian tidak bisa menerima Cassandra, nggak apa-apa. Cassandra cukup tahu diri."
"Maksud kamu apa Cassandra?" tanya Bu Yuni seraya menaikan sebelah alisnya menatap wanita cantik itu.
"Bu, Cassandra ini wanita kotor. Wanita rusak, jadi kalau memang Mas Alfian tidak bisa menerima keadaan ini maka Cassandra akan pergi dari sini. Lalu, Mas Alfian bisa langsung mentalak Cassandra sekarang juga," tegas Cassandra menatap tajam wajah sang suami yang tadi sudah menuduhnya macam-macam.
Alfian yang sedari tadi hanya diam membisu tiba-tiba memeluk tubuh Cassandra dengan erat. Lelaki itu menyesal telah berbicara kasar pada sang istri tanpa meminta penjelasan secara baik-baik.
"Maafkan aku Cassandra, aku tak tahu kalau hidupmu semenderita itu. Aku mencintai kamu, aku akan tetap menerima kamu sebagai istriku. Lagi pula ini bukan salahmu, kamu hanya korban dari nafsu biadap sahabat ayahmu itu," ucap Alfian setelah mengurai pelukannya.
Kini, mata Cassandra beralih pada sosok Bu Yuni yang juga ikut meneteskan air mata.
"Ibu, apakah Ibu mau menerima wanita kotor sepertiku sebagai menantu?" tanya Cassandra meminta pendapat wanita paruh baya itu.
"Tentu saja Cassandra, kamu tidak kotor, Nak. Kamu hanya sebagai korban, kamu tetap menantu yang Ibu sayangi."
"Terima kasih, Bu. Cassandra beruntung sekali memiliki suami dan mertua sebaik kalian."
"Sama-sama, Nak. Sekarang kamu istirahat ya, Ibu akan masak makan malam spesial untuk kalian berdua."
Alfian dan Cassandra mengangguk, Bu Yuni segera bergegas keluar dari kamar itu. Membiarkan anak dan menantunya untuk beristirahat.
Kini, hanya tinggal Alfian dan Cassandra yang berada di dalam kamar itu, Cassandra kembali merangsek masuk ke dalam pelukan sang suami. Alfian membalas pelukan itu dan menge- cup puncak kepala sang istri penuh kasih sayang.
"Cassandra, sekarang kamu istirahat ya. Kamu pasti lelah sekali, apalagi aku sudah membuatmu menangis seperti tadi," titah Alfian pada sang istri.
Kepala Cassandra mendongak, menatap dalam ke arah manik mata sang suami yang begitu teduh dan menenangkan.
"Apa kamu tidak jadi meminta hakmu padaku, Mas? Atau ... karena kamu masih merasa jijik padaku?"
Alfian segera meletakkan jari telunjuknya di depan bibir sang istri, "Sssstt, aku akan memintanya nanti malam, sekarang kita istirahat dulu ya."
Lelaki itu membantu sang istri untuk mengenakan kembali pakaiannya sembari menahan hasrat melihat keindahan bentuk tubuh kekasih halalnya. Alfian kembali menarik selimut untuk menutupi tubuh Cassandra. Membiarkan sang istri tidur dengan berbantalkan lengan kekar miliknya.
Baru saja Casaandra hendak memejamkan mata, suara deringan handphone memaksa wanita itu untuk kembali membuka mata.
"Siapa sih, ganggu orang istirahat aja," kesal Cassandra sembari mencari-cari benda pipih di dalam tas miliknya.
"Diangkat dulu aja sayang, siapa tahu penting," sahut Alfian yang juga belum terlelap sepenuhnya.
Mata Cassandra memincing menatap nomor tak dikenal yang terpampang di layar benda pipih miliknya. Wanita itu segera menggeser icon berwarna hijau dan menempelkan benda pipih itu ke telinganya.
"Hallo, siapa ini?"
"Cassandra, berani-beraninya kamu menikah setelah menggugurkan anakku. Jangan harap kamu akan bahagia setelah ini, kamu harus kembali kepadaku."
Seketika mata Cassandra membola dengan sempurna karena mendengar suara bariton yang bernada ancaman dari ujung telepon. Tentu saja wanita itu bisa mengenali siapa yang tengah meneleponnya. Namun, Cassandra memilih untuk segera mematikan panggilan itu secara sepihak karena tak ingin sang suami kembali menaruh curiga kepadanya. Buru-buru ia meletakkan gawainya ke atas nakas dan kembali merebahkan diri di samping sang suami.
"Siapa yang telepon, Sayang? Kok langsung dimatiin gitu?" Pertanyaan Alfian berhasil membuat wanita itu sedikit tergagap.
"Eh, bukan siapa-siapa kok, Mas. Salah sambung sepertinya," bohong Cassandra yang langsung pura-pura memejamkan mata agar tak mendapat lebih banyak pertanyaan dari sang suami.
Alfian ikut terlelap sembari memeluk tubuh ramping sang istri. Pasangan pengantin baru itu terbangun kala mendengar suara pintu kamar yang diketuk oleh Bu Yuni untuk mengajak keduanya makan malam bersama.
"Alfian, Cassandra. Ayo kita makan malam, Nak," sorak Bu Yuni dari balik pintu.
Alfian mengerjab-ngerjabkan matanya, menatap ke arah jam dinding yang ternyata sudah menunjukan pukul setengah tujuh malam.
"Iya, Bu. Sebentar lagi Alfian dan Cassandra turun," ucap Alfian kemudian menatap sisi ranjang sebelahnya, di mana sang istri masih terbuai dalam lelapnya mimpi.
Lelaki itu memutuskan untuk bangkit dari ranjang dan langsung membersihkan dirinya. Baru kemudian membangunkan sang istri.
"Cassandra, bangun, Sayang. Sudah waktunya makan malam," bisik lembut Alfian diikuti dengan satu kecupan mesra yang mendarat sempurna di pipi mulus sang istri.
Cassandra yang merasa tidurnya terusik mulai membuka mata. Senyum menghiasi bibir wanita itu kala melihat wajah sang suami yang begitu dekat di hadapanya. Kembali Alfian mendaratkan bibirnya, kali ini bibir tipis nan ranum milik sang istri yang menjadi sasaranya. Kecupan lembut itu perlahan berubah menjadi semakin menuntut, bahkan keduanya sudah saling bertukar saliva. Lelaki itu buru-buru melepaskan pagutanya sebelum keduanya semakin terhanyut dan melupakan makan malam mereka.
"Kok udahan sih, Sayang," protes Cassandra seraya memberengutkan wajah ayunya.
"Nanti malam aja kita terusin, sekarang kamu mandi terus kita turun. Ibu sudah menunggu kita untuk makan makan malam bersama." Alfian mencolek ujung hidung istrinya karena gemas.
"Ya udah, aku mandi dulu ya." Wanita cantik itu segera beranjak dari ranjang dan menuju ke kamar mandi.
Beberapa menit kemudian, Cassandra kembali hanya dengan mengenakan sebuah handuk yang melilit dari dada hingga pahanya. Sungguh pemandangan yang begitu menggoda dan memanjakan mata Alfian. Cassandra berganti baju dengan daster rumahan bermotif doraemon yang justru membuatnya terlihat semakin cantik dan menggoda di mata sang suami. Andai Bu Yuni tak menunggu di bawah, mungkin saat ini Alfian sudah menerkam wanita cantik itu untuk menuntaskan hasratnya.
Pasangan pengantin baru itu segera turun ke lantai bawah, menghampiri Bu Yuni yang sudah menunggu keduanya di meja makan dengan senyum sumringah.
"Maaf ya, Bu. Cassandra keenakan tidur sampai nggak bantuin Ibu untuk masak buat makan malam," ujar Cassandra saat menghenyak di salah satu kursi.
"Tidak apa-apa, Sayang, kalian pasti capek. Ayo makan, Ibu juga ada masak tumis tauge ikan asin biar Cassandra bisa cepat hamil dan Ibu bisa gendong cucu," ujar Bu Yuni yang mulai mengambilkan nasi untuk anak dan menantunya.
Bu Yuni memang sosok Ibu yang sangat menyayangi putranya. Karena itu pula, wanita paruh baya itu tetap merestui Alfian menikah dengan Cassandra yang baru dikenal putranya melalui media sosial beberapa bulan lalu.
"Kalau gitu habis makan malam nanti Alfian langsung bikinin Ibu cucu deh," ucap Alfian yang berhasil membuat pipi sang istri bersemu merah.
"Aww," pekik Alfian karena tiba-tiba sang ibu mencubit pinggangnya dengan cukup keras.
"Rasain, ngomongnya kebiasaan nggak pakai filter. Lihat itu, wajah istri kamu jadi merah kayak kepiting rebus," ucap Bu Yuni kemudian tertawa renyah.
Ketiganya menikmati makan malam dengan dipenuhi canda tawa. Dalam hati Bu Yuni hanya bisa berdo'a, semoga rumah tangga Alfian dan Cassandra akan selalu diselimuti kebahagiaan. Usai makan malam, pasangan pengantin baru itu hendak kembali ke kamar. Namun, langkah keduanya terhenti kala mendengar suara bel pintu yang ditekan oleh seseorang.
"Biar Ibu saja yang bukain pintunya," cegah Bu Yuni saat Alfian hendak membukakan pintu, wanita paruh baya itu melangkah lebar ke arah pintu dan kembali dengan membawa sebuah kotak berukuran besar yang berhiaskan pita berwarna pink.
"Siapa yang datang, Bu?" tanya Alfian saat Bu Yuni telah berada di hadapannya.
"Kurir paket, ini ada kiriman kado pernikahan untuk kalian." Wanita paruh baya itu menyerahkan kotak yang dibawanya kepada Alfian.
"Dari siapa, Mas?" tanya Cassandra yang sudah penasaran dengan isi kotak besar itu.
"Nggak ada nama pengirimnya, kita buka sama-sama aja, yuk."
Alfian melangkah menuju sebuah sofa yang ada di ruang keluarga bersama Bu Yuni dan Cassandra di belakangnya. Perlahan, lelaki itu mulai membuka kotak yang berada di tangannya. Namun, isi kotak itu berhasil membuat Alfian langsung melemparkannya ke lantai. Cassandra dan Bu Yuni membulatkan mata mereka melihat isi kotak itu, dua bangkai tikus berlumur darah yang ditempeli foto Alfian dan Cassandra.
"Ya Tuhan, siapa yang tega mengirim ini, Nak," heran Bu Yuni menatap bangkai tikus yang kini teronggok di lantai.
Sedangkan Cassandra tak bergeming, wanita itu menatap nanar ke arah kotak itu. Pikirannya melayang, membayangkan kemungkinan jika kebahagiaan pernikahannya dan Alfian tak akan bertahan lama. Entah mengapa, Cassandra merasa pengirim paket tersebut adalah orang yang sangat ia kenal. Air mata mulai membasahi pipi mulus wanita itu, membuat Bu Yuni secara refleks merengkuh tubuh ramping sang menantu ke dalam pelukan.
"Cassandra, kamu menangis? Apa kamu takut sama bangkai tikus itu?" tanya Bu Yuni sembari mengelus rambut panjang milik sang menantu.
"Ke-kenapa ada yang tega melakukan semua ini, Bu? Apakah ada yang tidak menyukai pernikahan kami," ucap Cassandra menatap ibu mertuanya dengan pandangan nanar.
"Sudah, jangan dipikirkan. Pasti ini hanya kerjaan orang iseng, sekarang Ibu antar kamu ke kamar ya. Biar Alfian bersihkan dulu semua ini." Bu Yuni menuntun sang menantu menaiki anak tangga untuk menuju ke kamar, meninggalkan Alfian yang hendak membuang dan membakar kotak itu beserta isinya.
"Nah, Cassandra. Sekarang kamu istirahat ya, Ibu mau keluar dulu," ujar Bu Yuni setelah mendudukan Cassandra di sisi ranjang empuknya.
Wanita muda itu mengangguk, membiarkan Bu Yuni keluar dari kamar. Tepat setelah mertuanya menutup pintu, satu pesan masuk di aplikasi hijau milik Cassandra. Dengan tangan gemetar, wanita itu meraih benda pipih yang berada di atas nakas. Air mata kembali menetes dari netra indah wanita muda itu kala membaca isi pesan di layar gawai miliknya.
Cassandra, bangkai tikus itu hanya sebuah permulaan. Pilihanmu hanya dua, kamu kembali padaku atau akan aku kirim video kemesraan kita pada suamimu yang bodoh itu agar pernikahanmu hancur.
Randa.
"Mas Randa, aku kira kamu sudah benar-benar pergi setelah meninggalkanku waktu itu. Ternyata aku salah," batin Cassandra.