Bab 1

Calista menatap lembar kontrak di depannya seolah-olah benda itu bisa meledak kapan saja. Matanya terpaku pada nama-nama yang tercetak rapi di atas kertas itu-termasuk namanya sendiri, seakan ia baru saja menandatangani surat kematiannya.

"Ini hanya sembilan bulan, Cal. Setelah itu semuanya selesai," kata Mireya dengan suara lembut tapi dingin. Nada suaranya tak selaras dengan ketegangan yang menggantung di antara mereka.

Calista masih diam. Tangannya gemetar di bawah meja kayu restoran hotel tempat mereka bertemu diam-diam malam itu. Matanya lalu berpindah pada pria yang duduk di samping Mireya-Darian Evander. Dingin, rapi, berjarak. Seorang pewaris tunggal dari keluarga pengusaha properti terbesar di negara itu. Pria yang selalu dilihat Calista sebagai bayangan pendukung dalam cerita cinta sahabatnya. Tak pernah ia pikirkan Darian akan menjadi bagian dari hidupnya-secara harfiah.

"Jadi... ini bukan hanya untuk hari ini, ya?" gumam Calista, suaranya nyaris tak terdengar.

Mireya tersenyum miring. "Tentu saja tidak. Ini untuk masa depan. Kamu tahu aku nggak mau punya anak. Aku sudah bilang dari awal, aku mau childfree. Tapi keluarganya Darian nggak berhenti menekan. Mereka ancam kalau Darian nggak punya anak dalam waktu dekat, warisan itu akan jatuh ke tangan pamannya. Itu tidak boleh terjadi."

Calista mengerjap. Uang lima ratus juta memang bukan angka kecil. Jumlah itu bisa menyelamatkannya dari jeratan utang rumah sakit mendiang ibunya, bisa membebaskannya dari tuntutan hidup yang sejak kecil tak pernah memberinya pilihan.

Namun tetap saja... ini bukan sekadar uang. Ini tentang kehidupan. Tentang tubuhnya. Tentang menyerahkan sesuatu yang suci-rahimnya-untuk seseorang yang bahkan bukan miliknya.

"Aku hanya perlu hamil, lalu melahirkan... dan setelah itu semuanya selesai?" tanyanya pelan.

Darian akhirnya angkat bicara, suaranya berat, tegas, tapi netral. "Kamu tidak akan diminta bertanggung jawab terhadap anak itu. Tidak ada tuntutan hak asuh, tidak ada ikatan hukum apa pun setelah lahiran. Kami sudah siapkan surat legalnya."

"Kamu nggak akan kehilangan apapun, Cal," tambah Mireya cepat, menekan lengan Calista dengan manis. "Sebaliknya, kamu justru dapat sesuatu yang akan menyelamatkan hidupmu. Kamu bilang sendiri, kamu sedang butuh uang, kan?"

Kalimat itu menyayat seperti pisau. Benar. Ia sedang butuh uang. Sangat. Tapi kenapa harus seperti ini?

Calista menarik napas dalam. Dunia selalu menyudutkannya, bahkan sekarang pun ia dipaksa memilih antara harga diri atau kelangsungan hidup.

"Aku... butuh waktu berpikir."

"Kamu sudah berpikir cukup lama," kata Mireya sambil tersenyum kaku. "Darian harus memberi jawaban ke keluarganya minggu depan. Kalau kamu nggak bisa... aku harus cari orang lain."

Nada ancaman itu jelas. Mireya sedang menggertaknya. Mengusik rasa bersalahnya.

Calista mengangguk pelan. "Baik. Aku akan tandatangani."

Tangan Calista menggenggam pena seperti memegang pisau. Setiap goresan tanda tangannya terasa seperti pengkhianatan-pada dirinya sendiri, pada batas-batas yang dulu ia pikir tak akan pernah ia langgar.

Saat pulpen itu selesai menari di atas kertas, Mireya berseru kecil penuh kemenangan. "You're saving my life, Cal. Aku bakal utang budi sama kamu selamanya."

Calista hanya mengangguk lemah. Ia tahu itu bohong.

Hari-hari setelahnya berubah drastis.

Calista harus melalui serangkaian pemeriksaan medis dan sesi konsultasi dengan dokter kesuburan yang semuanya sudah diatur oleh Darian. Semuanya begitu cepat dan terorganisir, seperti proyek korporat. Emosi dikesampingkan. Hanya prosedur. Efisiensi.

Darian nyaris tidak bicara banyak padanya. Sikapnya dingin, profesional. Mereka hanya bertemu saat proses pembuahan dilakukan secara medis di klinik fertilitas mewah.

Mireya tak pernah ikut hadir. Ia bilang ia terlalu sibuk dengan pekerjaannya sebagai direktur kreatif sebuah agensi fashion terkenal. Tapi Calista tahu alasan sebenarnya-Mireya ingin menjauhkan dirinya dari proses ini. Ia hanya ingin hasilnya. Bukan prosesnya.

Dua minggu setelah prosedur pertama, dokter mengonfirmasi bahwa embrio berhasil menempel. Calista hamil.

Dan semuanya berubah.

Tubuhnya mulai merespons dengan mual di pagi hari, migrain, dan kelelahan tak berujung. Namun bukan itu yang paling menyakitkan-melainkan kesendirian. Mireya tak lagi sering menghubunginya. Bahkan saat Calista menelepon untuk memberitahu kabar kehamilannya, suara sahabatnya terdengar hambar.

"Oh, oke. Jaga kesehatanmu ya," katanya singkat, lalu menutup telepon sebelum Calista sempat berkata lebih banyak.

Lucunya, justru Darian yang mulai lebih sering muncul. Awalnya hanya untuk membawakan vitamin dan makanan sehat. Lalu mulai mengantar Calista ke dokter kandungan. Dan kini, duduk di ruang tamu apartemen kecil Calista, ia bahkan terlihat lebih peduli daripada Mireya sendiri.

"Kalau butuh sesuatu, jangan sungkan bilang. Aku bertanggung jawab penuh," ucap Darian suatu sore, setelah menaruh sekantong belanjaan di meja makan.

Calista hanya menatapnya dengan pandangan sulit dijelaskan. "Kenapa kamu repot-repot datang sendiri?"

Darian menatap balik. "Karena Mireya nggak datang."

"Aku cuma rahim sewaan, Darian. Kamu nggak harus berpura-pura peduli."

Darian menghela napas pelan, lalu bersandar di sandaran kursi. "Aku nggak pura-pura. Aku cuma... merasa ini salah. Meminta kamu melakukan ini."

Kata-katanya membekas.

Dan di hari-hari setelahnya, Calista mulai melihat sesuatu yang tak seharusnya ia lihat-kelembutan dalam mata Darian. Kekhawatiran tulus dalam caranya memeriksa makanan yang ia makan. Dan kehangatan yang... tak seharusnya ia harapkan.

Empat bulan kemudian, perut Calista mulai terlihat. Dan rasa bersalah mulai tumbuh bersamaan dengan janin dalam tubuhnya. Bukan rasa bersalah karena mengandung anak pria yang mencintai sahabatnya, tetapi karena ia mulai merasakan hal yang tak seharusnya-ia ingin Darian menatapnya... lebih lama. Ia ingin sentuhan itu... bertahan lebih lama.

Hingga suatu malam, setelah ia muntah hebat dan Darian datang menemaninya, terjadi sesuatu yang mengubah semuanya.

"Kamu nggak harus melakukannya sendirian," ucap Darian sambil memegang handuk dingin di dahinya.

"Aku memang sendiri," bisik Calista. "Mireya bahkan nggak pernah menelepon. Ini anak kalian, tapi aku yang mual, aku yang gemetar sendirian setiap malam. Kenapa dia nggak pernah datang?"

Darian menatapnya lama, lalu berkata, "Mireya hanya ingin hasil. Dia bahkan tidak peduli bagaimana caranya."

"Lalu kamu?"

Darian tak menjawab. Ia hanya menatapnya lama, dan untuk pertama kalinya, Calista merasa... dilihat. Bukan sebagai alat, bukan sebagai kontrak berjalan. Tapi sebagai perempuan. Sebagai seseorang.

Dan itu menakutkan.

"Aku harus pergi," bisik Calista sambil beranjak.

Namun Darian menggenggam lengannya. "Tunggu."

Tatapan mereka bertemu. Dan di dalamnya ada badai yang tak bisa lagi mereka kendalikan.

Calista menarik napas. "Jangan perlakukan aku seperti istrimu. Jangan buat ini jadi lebih sulit."

Darian masih menatapnya, tapi ia melepaskan genggamannya perlahan.

"Kalau kamu pikir aku tidak bingung, kamu salah."

Tapi Calista tahu, ini baru awal. Ia mulai mencintai pria yang seharusnya bukan miliknya. Ia mengandung anak dari pria yang tak akan pernah jadi miliknya. Dan sahabat yang dulu ia percaya... kini mulai menunjukkan warna aslinya.

Dan dari balik semua itu, Calista mulai mencium sesuatu yang jauh lebih mengerikan:

Mungkin ini bukan sekadar perjanjian rahim. Tapi jebakan yang sejak awal sudah dirancang untuk menghancurkannya.

Malam itu, saat Calista tertidur dengan tangan di perutnya, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.

"Kau pikir anak itu akan jadi milikmu? Lihat saja nanti."

Bab 2

Kalimat itu terus berputar di kepala Calista sepanjang malam. Pesan singkat dari nomor tak dikenal yang menyiratkan ancaman tanpa nama. "Kau pikir anak itu akan jadi milikmu? Lihat saja nanti."

Matanya tak bisa terpejam. Bayangan sosok yang mengirim pesan itu seperti bayang-bayang gelap yang menghantui setiap sudut pikirannya. Siapa? Mireya? Atau... seseorang yang lebih berbahaya?

Pagi itu, Calista memutuskan untuk mencari jawaban. Ia tahu ia tak bisa hanya diam dan berharap semua ini akan selesai dengan aman. Ada sesuatu yang salah. Ia bisa merasakannya sampai ke tulang-tulangnya.

Di sebuah kafe kecil yang sering ia kunjungi saat butuh waktu sendiri, Calista menghubungi temannya, Raka, seorang hacker amatir yang pernah membantunya melacak pesan-pesan mencurigakan di masa lalu. Mereka duduk berhadap-hadapan, dan dengan hati-hati Calista menunjukkan pesan itu.

Raka mengangguk pelan. "Nomor ini memang palsu, tapi aku bisa coba lacak lokasi pengirimnya. Jangan khawatir, aku akan cari tahu siapa yang main-main sama kamu."

Calista mengangguk. Ada kelegaan kecil karena setidaknya ia tidak menghadapi ini sendirian.

Namun, di saat yang sama, teleponnya bergetar lagi. Sebuah pesan baru masuk, kali ini dengan isi yang lebih tajam:

"Jangan coba-coba mencampuri urusan kami. Kau sudah memilih jalanmu sendiri."

Calista menutup ponselnya dengan napas tertahan. Seolah-olah ancaman itu sudah terlalu dekat, dan bahaya benar-benar mengintainya.

Hari-hari berikutnya menjadi semakin berat. Mireya mulai berubah-dari sahabat yang dulu hangat menjadi sosok yang dingin, bahkan kasar saat berbicara.

"Apa kamu nggak ngerti posisimu, Cal? Ini bukan hanya tentang kamu atau aku. Ini soal keluarga Darian, soal masa depan kami," kata Mireya dengan nada yang menusuk.

Calista yang dulu percaya, kini mulai ragu. Apakah Mireya benar-benar memikirkan masa depan Darian? Atau ada sesuatu yang lebih gelap yang tersembunyi di balik sikapnya?

Suatu malam, saat mereka bertiga bertemu di rumah Darian untuk membicarakan perkembangan kehamilan, konflik memuncak.

"Kalau kamu nggak bisa jaga diri, jangan harap aku yang akan selamatkan kamu," Mireya menatap Calista dengan tatapan penuh amarah yang tak biasa.

Calista membalas, suaranya bergetar, "Aku ini bukan alatmu, Mireya. Aku manusia, bukan boneka yang bisa kamu mainkan sesukamu."

Darian yang duduk di antara mereka berusaha menenangkan, tapi ketegangan sudah terlanjur memuncak. "Cukup, kalian berdua. Ini bukan saatnya bertengkar."

Namun Mireya tak mau mundur. "Aku hanya ingin kalian sadar, ini perjanjian bisnis. Jangan sampai Cal lupa posisinya."

Kalimat itu menusuk dada Calista seperti belati tajam.

Malam itu, Calista tak bisa tidur. Bayangan wajah Darian dan Mireya berputar di pikirannya. Ada cinta yang tak terucapkan antara dirinya dan Darian, ada kebencian yang perlahan tumbuh dari Mireya.

Lalu sebuah keputusan mengerikan datang menghampirinya.

Ia harus menghadapi kebenaran: kehamilan ini bukan sekadar transaksi. Ada sesuatu yang jauh lebih besar dan berbahaya sedang terjadi. Dan ia terjebak di tengahnya.

Sementara itu, di sisi lain kota, Mireya duduk di ruang kerjanya yang mewah. Ia membuka laptopnya dan menatap layar dengan tatapan dingin.

Sebuah pesan masuk dari seseorang dengan nama samar: "Calista mulai curiga. Apa kita lanjutkan rencananya?"

Mireya tersenyum kecil, lalu mengetik balasan singkat: "Lanjutkan. Semua harus berjalan sesuai rencana."

Di rumah Calista, hari-hari berlalu dengan tekanan yang kian berat. Darian mulai lebih sering datang, tapi bukan hanya membawa perhatian. Ada sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang membuat Calista merasa bingung sekaligus tertarik.

"Kenapa kamu terus datang?" tanya Calista suatu sore, saat Darian membantunya berdiri setelah pusing hebat.

"Aku nggak bisa biarkan kamu sendirian," jawab Darian dengan suara rendah.

"Aku ini bukan pacarmu, Darian. Ingat itu."

Darian tersenyum pahit. "Mungkin aku nggak pernah menganggapmu seperti itu. Tapi entah kenapa, aku merasa kamu penting."

Kalimat itu membuat hati Calista bergetar.

Suatu hari, Calista menemukan sesuatu di ponsel Mireya secara tidak sengaja. Sebuah pesan yang tidak sengaja terbuka di layar, berisi percakapan antara Mireya dan seseorang yang membahas strategi menyudutkan Calista.

Calista membaca dengan napas tertahan: "Pastikan dia tetap di bawah kendali. Jangan sampai dia tahu terlalu banyak."

Denyut jantung Calista meningkat. Semua rasa percaya yang ia bangun selama ini hancur berantakan.

Ketika Calista mencoba menghadapi Mireya dengan bukti itu, sahabatnya hanya tersenyum dingin.

"Kamu pikir aku akan membiarkan kamu ambil alih hidupku? Darian dan aku sudah punya rencana lama. Kamu hanya pion."

Air mata Calista jatuh tanpa suara. Pengkhianatan ini terlalu berat untuk diterima.

Darian, yang selama ini terlihat peduli, mulai berubah. Ia menjadi lebih dingin, lebih tertutup. Calista tahu ada sesuatu yang ia sembunyikan.

Suatu malam, Darian mengundang Calista ke apartemennya.

"Kita perlu bicara," katanya serius.

Di sana, Darian mengungkap sesuatu yang tak pernah Calista duga.

"Rencana ini lebih rumit daripada yang kamu pikirkan. Mireya dan aku... kami harus melindungi bisnis keluarga. Anak ini... bukan hanya soal warisan. Ada sesuatu yang lebih besar."

Calista menatapnya bingung. "Apa maksudmu?"

Darian menghela napas panjang. "Ini bukan hanya soal uang atau anak. Ada tekanan dari luar-musuh bisnis keluarga kami. Mireya dan aku terpaksa melakukan ini demi bertahan."

Calista merasa dunianya runtuh. Semua yang selama ini ia tahu hanyalah permukaan.

Di tengah badai kebohongan dan pengkhianatan, Calista hanya punya satu pilihan: melawan atau menyerah.

Dan hatinya memilih melawan.

Ia mulai mencari cara untuk mengungkap kebenaran, melawan permainan yang telah menjebaknya. Meski itu berarti harus melawan sahabatnya sendiri, melawan pria yang mulai ia cintai, dan melawan masa depan yang telah dirancang untuknya.

"Kamu pikir kamu bisa melawan? Tunggu saja saat semua rahasia terbuka."

Bab 3

Pagi itu, Calista duduk termenung di balik jendela apartemennya. Hujan rintik-rintik menetes perlahan, seolah turut mengiringi gelombang perasaannya yang sedang kacau. Pesan terakhir yang diterimanya seperti bayang-bayang gelap yang terus menghantuinya. Ancaman yang tidak hanya mengancam masa depan anak dalam rahimnya, tapi juga nyawanya sendiri.

Ia tahu, jika ingin selamat dan melindungi bayi yang ia kandung, ia harus berani menghadapi semuanya-Mireya, Darian, bahkan keluarganya sendiri.

Pikiran Calista berkecamuk. Keputusan untuk melawan bukan sesuatu yang mudah, apalagi dengan keadaan dirinya yang semakin rapuh secara fisik dan mental. Namun, ia tidak ingin menjadi pion dalam permainan kotor itu.

Ia mengangkat telepon dan menghubungi Raka.

"Kau harus bantu aku, Raka," suaranya lirih tapi penuh tekad. "Aku perlu bukti-bukti. Bukti bahwa Mireya dan Darian punya agenda tersembunyi. Ini sudah bukan soal aku lagi. Ini soal nyawa anakku."

Raka mengerti betapa seriusnya situasi ini. "Tenang, aku akan cari apa saja yang bisa aku temukan. Tapi kau juga harus jaga diri, jangan sampai mereka curiga."

Dalam hitungan jam, Raka mengirimkan serangkaian dokumen digital dan rekaman suara yang berhasil dia ambil secara diam-diam. Calista membukanya dengan tangan gemetar. Di sana, ia menemukan bukti-bukti yang mengerikan: percakapan rahasia antara Mireya dan seseorang yang diduga kuat adalah rival bisnis keluarga Darian, rencana-rencana manipulasi, bahkan bukti bahwa bayi yang ia kandung bisa menjadi alat untuk mengamankan aliansi gelap.

Air mata mengalir tanpa henti. Semua yang selama ini ia jalani ternyata hanyalah bagian dari skema yang jauh lebih kejam daripada yang ia bayangkan.

Sementara itu, Mireya tidak tinggal diam. Ia tahu Calista mulai mencari-cari bukti dan berusaha melawan. Di balik senyum dinginnya, Mireya merancang strategi baru untuk menjatuhkan Calista.

Di sebuah pertemuan rahasia dengan Darian dan seorang pria bertubuh besar, Mireya berbicara dengan suara dingin dan penuh perhitungan.

"Kita harus hentikan Calista sebelum dia buka semua ini ke publik. Jika bocor, bisnis keluarga kita bisa hancur. Anak itu harus tetap jadi kartu kita," ujarnya.

Darian mengangguk, namun ada keraguan di matanya. "Aku tidak yakin. Aku mulai merasakan hal lain tentang Calista. Aku tidak ingin menyakiti dia."

Mireya menatap Darian dengan tajam. "Jangan bodoh. Ini bukan soal perasaan. Ini soal bertahan."

Hari-hari berlalu, dan ketegangan antara Calista dan Mireya semakin menjadi-jadi. Calista yang merasa dikhianati semakin kuat melawan, bahkan mulai mendekati Darian dengan cara berbeda.

Suatu sore, saat Darian datang menjenguknya di apartemen, Calista menatapnya dalam-dalam.

"Kau bilang kau peduli, tapi kenapa kau biarkan semuanya terjadi? Kenapa kau pilih Mireya daripada aku?" tanyanya dengan suara bergetar.

Darian terdiam sejenak. "Aku terjebak di antara dua dunia, Cal. Mireya adalah bagian dari keluargaku, dan aku punya tanggung jawab yang berat."

Calista menggenggam tangan Darian erat. "Aku hanya ingin kau jujur. Aku ingin tahu siapa sebenarnya kau."

Darian menunduk, dan untuk pertama kalinya ia membuka hati.

"Aku juga bingung dengan perasaanku sendiri. Tapi aku janji, aku akan lindungi kamu dan anak kita."

Namun, di balik kata-kata itu, Calista tahu perjuangan sesungguhnya baru saja dimulai. Mireya semakin agresif. Ia mulai menyebarkan rumor dan fitnah yang membuat Calista sulit percaya pada orang di sekitarnya.

Di kantor, para kolega mulai memandangnya dengan sinis. "Dia hanya boneka Mireya," bisik seorang rekan kerja.

Calista berusaha menahan sakit, tapi hatinya hancur. Ia mulai kehilangan dukungan, bahkan dari orang-orang yang ia anggap teman.

Satu malam, saat Calista sedang sendiri di apartemen, suara pintu diketuk keras. Jantungnya berdegup kencang. Saat membuka pintu, ia menemukan seseorang yang tidak ia sangka: Maya, adik Mireya yang selama ini jarang muncul.

Maya masuk dengan ekspresi serius. "Aku tahu apa yang terjadi, dan aku di sini untuk membantumu."

Calista terkejut, tapi juga sedikit lega. "Kenapa kau ingin bantu aku?"

Maya menatap lurus. "Karena aku benci semua kebohongan yang dibuat Mireya. Aku tidak mau keluarga kami hancur."

Maya mulai membocorkan rahasia keluarga yang selama ini tersembunyi rapat-rapat. Ternyata, Mireya sudah lama mengatur segalanya demi ambisinya sendiri, bahkan sampai mengorbankan Darian dan Calista.

Bersama Maya dan Raka, Calista mulai merancang strategi balas dendam yang akan membuka semua kebohongan dan menyelamatkan dirinya serta anaknya.

Tetapi di tengah perjuangan itu, Darian semakin menjauh. Ia terjebak dalam konflik batin yang semakin berat.

Suatu malam, Darian mengajak Calista bertemu di tempat yang sepi.

"Aku harus pergi untuk sementara," katanya berat.

Calista menggenggam tangannya. "Tinggalkan aku? Saat aku paling butuhmu?"

Darian menggeleng. "Ini untuk keselamatan kita semua, termasuk anak kita."

Dengan berat hati, Calista menerima kenyataan itu. Namun, kepergian Darian justru membuka peluang bagi Mireya untuk semakin menguasai segalanya.

Calista, Maya, dan Raka harus bergerak cepat sebelum semuanya terlambat.

Calista yang sendirian di apartemen, menerima sebuah paket misterius berisi sebuah USB berisi file rahasia yang bisa mengguncang seluruh kerajaan keluarga Darian.

"Ini saatnya semua kebenaran terbuka," pikir Calista dengan mata berapi-api.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED