Bab 2

"Bagaimana Keyla?! Apa kamu sudah mengingatku?" desak Dion menggebu. Ia tidak ingin melihat Keyla terpaku hanya diam.

Keyla yang merasa masih di bawah alam sadarnya, menepuk-nepuk kedua pipinya. ‘Sadar Keyla! tenanglah ... ini hanya mimpi di siang hari. Sebentar lagi kamu akan terbangun dari mimpi burukmu ini.’

"Auw ... sakit!" Ia sungguh tidak percaya. Kalau yang ada di hadapan dirinya sekarang, adalah seorang Dion Prakasa. Mantan kakak kelasnya yang cupu. Dion menatapnya sombong. Sorot mata itu, menegaskan kalau ia sedang merendahkan Keyla yang masih meringis.

Dion pun tersenyum smirk setengah puas. Ia mengubah posisinya. Mendorong kursi ke belakang dengan kekuatan punggungnya. Dan beranjak dari situ. Berjalan mendekati Keyla. Lalu berdiri di samping wanita itu. Sembari melipat kedua tangannya.

"Kenapa tadi menatapku seperti itu, terkejut hah?!” tanya Dion angkuh setengah menggertak.

Keyla yang masih termangu menoleh. Ia berusaha menormalkan detak jantungnya, yang sedari tadi berdetak lebih cepat. Sadar kalau itu bukan mimpi. Keyla mencoba mengusir rasa gugup yang mendominasi luar biasa. Ia ingin terlihat baik - baik saja di hadapan Dion, yang ingin menghakiminya. Wanita berkepribadian tangguh ini, tidak mau terlihat lemah di hadapan mantan rivalnya.

"Dasar curang!" tuding Keyla lantang.

Dion menyatukan alisnya, "Apanya yang curang?"

Keyla ikut beranjak dari kursinya. Berdiri tepat di depan Dion. Ia mesti mendongak. Karena tubuh Dion yang masih terlalu tinggi darinya.

Keyla tidak mau di remehkan. Hanya karena kini, Dion adalah seorang CEO. Keyla mulai menduga, Dion sudah merencanakan semuanya. Keyla juga menganggap Dion telah menyalah gunakan kekuasaannya, untuk menekan bawahannya.

"Apa - apan ini, jelas kamu curang?! Kamu seorang CEO di perusahaan ini. Seharusnya Pak HRD yang menginterview diriku!” cecar Keyla tak terima.

“Jelas ini bukan tugasmu!" sanggah Keyla menambahkan.

Mendengarnya, membuat gelak tawa Dion pecah. Ia gemas, melihat wajah Keyla penuh amarah. Tapi wanita itu, seakan tidak berdaya menumpahkannya.

"Hahahaha!" Dion menggelengkan kepalanya. Sembari berjalan menuju kursinya. Ia kembali duduk di sana. Dion melonggarkan dasinya, yang terasa ketat.

Keyla semakin geram dengan tingkah Dion. Keyla merasa Dion mempermainkannya. Matanya melotot, dan rahangnya mengatup kuat.

"Keyla… Keyla! Kamu ini lucu sekali. Perusahaan ini milikku! Aku CEO di sini!” ungkap Dion bangga.

“Wajar saja aku yang memegang kendali di tempat ini. Sudah jadi tanggung jawabku, apapun yang berhubungan dengan perusahaan ini. Termasuk karyawan, bawahan, manager, apapun itu!" lanjut Dion berdalih.

Sejatinya ia sudah merencanakan semua itu. Karena Keyla yang selalu mengirimkan CV -nya berulang. HRD selalu mengirimkan data karyawan baru. Termasuk data pelamar kerja. Namun, Dion tegas menolaknya, dan untuk yang kesekian kalinya. Tetapi, wanita itu juga tidak menyerah. Dion pasrah, meski akhirnya ia harus melawan lukanya, untuk menghadapi wanita yang pernah singgah di hatinya itu.

"Lalu, di mana letak kecuranganku?" tanya Dion lagi mengangkat dagunya.

"Ya, aku tahu kamu CEO di perusahaan ini. Bukankah sangat tidak etis kalau kamu langsung yang menginterview?!” protes Keyla keberatan.

“Apalagi calon karyawan baru sepertiku! Setahuku ini bukan tugasmu,” tambah Keyla mencecrca.

Keyla kembali ikut duduk, dan menghempaskan tubuhnya ke kursi. Dadanya bergemuruh, menahan amarah dari tindakan Dion.

Dion membuang nafas kasar.

"Sudahlah Keyla, terima saja! Saat ini kamu berhadapan dengan siapa?!”

“Sedari dulu, aku memang selalu memeriksa data karyawan baru dan karyawan lama. Semua itu kulakukan demi mempertahankan kesuksesan perusahaanku. Jangan GR kamu!" timpal Dion meluruskan.

Mendengar penjelasan Dion, Keyla mulai menerimanya. Logikanya itu memang benar. Lagi pula perusahaan itu sudah sangat besar dan berjaya, sejak beberapa tahun silam.

Kesuksesannya melebihi beberapa pesaing perusahaan di bidangnya. Tetapi, ada hal yang menjadi pertanyaan. Kenapa Dion bisa menjadi CEO di situ?

"Hem ... baiklah,” dengus Keyla menyerah.

"Lalu bagaimana dengan interview ku hari ini? Dan bagaimana bisa kamu menjadi CEO di perusahaan ini?" lanjut Keyla masih meragukannya.

"Apakah jawaban itu penting untukmu?" tanya Dion sinis.

"Ya!" jawab Keyla singkat seraya mengangkat kedua alisnya.

"Aku Dion Prakasa! Pewaris tunggal PT. PERKASA. Perusahaan ini adalah milik Ayahku, kamu puas?!”

Entah kenapa Keyla masih belum bisa menerimanya. Namun, fakta itu ada di depan matanya. "Tapi bagaimana bisa?" Keyla lagi - lagi mempermasalahkannya.

Dion mengusap kilas wajahnya.

"Sudah kuduga kamu pasti tidak yakin, dengan semua yang kamu lihat. Maka dari itu aku selalu menolak CV yang kamu kirimkan,” beber Dion kecewa.

Melihat raut wajah Dion, Keyla menjadi merasa bersalah. ‘Apa yang ku lakukan? Seharusnya aku tahu diri!’

"Oke baiklah! Kembali ke tujuan awal. Bagaimana dengan CV-ku? Aku yakin kamu pasti sudah memeriksa lembar demi lembar CV yang sudah aku kirimkan."

Dion mengangkat kedua alisnya, "Menurutmu bagaimana?"

"Bukankah kamu yang menentukan?"

Keyla terpancing emosi.

"Sabar, Nona Keyla! Sejak tadi kamu emosi. Apa menurutmu sikap seperti ini yang harus ditunjukan ke atasan sepertiku?" cecar Dion menyayangkan.

Tetapi, secara tidak langsung sikapnya memang membuat Keyla gerah, Dion sengaja melakukannya. Tujuannya hanya ingin balas dendam, dengan kejadian masa lalu di antara mereka.

Meski begitu perasaan Dion tak banyak berubah. Ia masih mengagumi sosok Keyla. Yang dulu adalah gadis lincah, dan periang. Keyla sangat supel dalam berteman, tetapi sedikit pemilih.

Selain itu Keyla juga cukup cerdas dalam setiap mata pelajaran. Ia juga gigih dan rajin. Parasnya yang cantik, memang membuat mata kaum adam terpikat.

Nasihat Dion kali ini harus Keyla terima. Bagaimana pun ia harus menunjukkan sikap profesionalnya dalam bekerja. Tanpa harus mengaitkannya dengan masa lalu.

Tekadnya kuat, ia ingin berkerja dan meraih cita-citanya. Keyla menghela nafasnya ringan. Lalu menghembuskannya perlahan.

"Baik Pak Dion! Apakah saya diterima bekerja di perusahaan, anda ini?" tanya Keyla kesekian kalinya dengan sabar.

Dion bungkam. Ia pura - pura memeriksa CV milik Keyla lagi. Mimik wajahnya ia buat seserius mungkin, untuk menakuti wanita itu. Keyla kembali gelisah.

"Bagaimana, Pak?! Apa saya di terima di perusahaan ini?" tanya Keyla mempercepat.

Merasa cukup puas, mempermainkan emosi Keyla. Dion menutup sampul lembaran kertas di mejanya. Menatap Keyla lekat.

"Setelah meninjau semua yang berkas kamu berikan. Saya akan memutuskan_?” Dion sengaja memotong perkataannya.

"Memutuskan apa, Pak?!” sambar Keyla bertanya.

"Saya memutuskan, kalau kamu akan menjadi Sekretaris sekaligus asisten pribadi saya, kamu setuju?" lontar Dion mengejutkan.

"Apa? Sekertaris, Asisten? Saya tidak salah dengarkan, Pak?!” sahut Keyla terhenyak.

"Kamu tidak salah, saya sudah memikirkannya matang.”

"Tapi, bukankah ada yang lebih baik dan lebih berpengalaman dari pada saya? Saya masih terlalu baru, Pak untuk itu?!" bantah Keyla keberatan.

Jujur saja dalam hati Keyla senang. Baru masuk kerja ia sudah diangkat menjadi Sekretaris. Tapi disisi lain, sebenarnya ia risih kalau harus menjadi asisten pribadi seorang Dion.

Firasatnya tidak enak. Keyla sempat menduga Dion merencanakan sesuatu yang buruk untuknya. Tapi, tidak ada salahnya untuk mencoba. Ia akan bekerja untuk pertama kalinya. Di perusahaan impiannya. Ia tepis jauh prasangka buruk nya itu, demi cita - citanya.

"Semua keputusan ada di tanganmu! Aku hanya memberi tawaran,” tegas Dion seolah membuat Keyla di lema.

‘Ini adalah impianku! Tidak ada yang bisa menghalangiku, bahkan Dion sekali pun. Meski kamu CEO di sini, aku yakin aku pasti bisa menghadapinya.’

"Baiklah Pak! Aku setuju," angguk Keyla menerima.

"Kalau begitu tanda tangani surat perjanjian ini!" Dion menyodorkan selembar kertas yang berisi pernyataan perjanjian itu.

Tanpa membacanya Keyla menandatangani surat tersebut. Di mana surat itu, akan membawa malapetaka baginya. Karena Dion akan menjeratnya melalui surat berharga itu.

Bab 3

Bab 3

Drrrttt

Drrrttt

Gawai itu bergetar, tepat berada di samping bantal tidur Keyla. Ia sengaja, mengatur alarm di ponselnya tepat pukul enam pagi. Tangannya meraba, mencari benda tersebut. Sementara matanya masih terpejam.

Keyla masih merasa sangat mengantuk. Setelah tadi malam, ia memutuskan untuk begadang. Karena menonton episode terakhir dari drakor favoritnya tadi malam.

Berhasil meraih ponselnya, Keyla memilih mematikan alarmnya. Rasanya begitu mengusik telinga. Keyla malah memilih untuk tidur lagi. Padahal hari ini, adalah hari pertamanya bekerja.

“Huah! Masih terlalu pagi untuk bangun. Aku ingin tidur 15 menit lagi," tawarnya sambil menguap.

Satu jam berlalu. Matahari terbit sangat cerah pagi ini. Bunyi bising motor pun mulai terdengar lalu lalang, di pekarangan halaman depan rumah.

Terlihat juga lelaki paruh baya yang kini tengah memanaskan mesin motor. Mungkin usianya sekitar 45 tahun.

Lelaki itu ialah Pak Arman, ayah kandung Keyla. Arman lelaki yang bertanggung jawab dan rajin. Meski hanya memiliki satu putri, yang sudah dewasa. Ia masih memutuskan untuk tetap bekerja.

Arman tidak ingin, melimpahkan beban dan tanggung jawab keluarga kepada Keyla. Meski Keyla kini besar dan mandiri. Baginya, sampai kapanpun ia tetap kepala keluarga. Dan bertanggung jawab penuh atas keluarganya.

“Pak! Sarapan sudah siap. Ayo makan dulu!" ajak wanita yang kini usianya sudah tak muda lagi. Namun, masih terlihat cantik dan anggun. Separuh wajahnya sangat mirip dengan putrinya Keyla.

Diana Rose istri Pak Arman. Merupakan ibu kandung dari Keyla. Usianya terpaut, lebih muda 2 tahun dari suaminya. Diana adalah putri dari keturunan orang kaya di kampungnya. Dia adalah anak pemilik perkebunan teh yang luasnya berhektar-hektar.

Namun, Diana muda telah memilih menambatkan hatinya, pada Arman. Pemuda tampan sederhana, tetapi pemberani yang bersahaja. Yang pasti dia bertanggung jawab dan pekerja keras.

Kegigihan perjuangan cinta Arman, untuk mendapatkan Diana. Mampu meluluhkan hatinya. Namun ibunya, kala itu sempat menentang hubungan mereka.

Nenek Keyla takut, kalau Arman tidak bisa mencukupi nafkah pada putrinya Diana. Sebab, Arman hanyalah seorang montir motor, yang bekerja di bengkel kecil dengan penghasilan yang tidak menentu.

Kini, Arman bisa membuktikan jika dirinya mampu dan layak disebut sebagai kepala keluarga. Nenek pernah menawarkan tinggal bersama di kampung. Dan semua biaya hidup di tanggung olehnya. Dari harta warisan yang melimpah peninggalan mendiang suaminya.

Namun Arman sama sekali tidak tertarik, menumpang hidup pada mertua. Ia yakin ia bisa. Dengan pengorbanan dan kerja kerasnya, untuk membahagiakan putrinya Keyla dan Diana istri tercinta.

Hal itu membuat Diana semakin jatuh hati pada Arman. Hingga akhirnya ia mantap untuk tinggal di kota, bersama anak dan suaminya.

Arman tersenyum sumringah, menatap istrinya di depan pintu. “Keyla mana, Bu?! Apa dia sudah bangun?”

“Belum, Pak! Sepertinya tadi malam dia begadang.”

Ya ampun Keyla! Ini sudah jam 7, Bu! Bukannya Keyla hari ini harus masuk bekerja?” timpal Arman menghampiri istrinya yang berdiri di depan pintu.

Diana mengernyit, “Oh iya, ya Pak! Aduh Keyla kebiasaan."

Diana menghampiri Keyla ke dalam kamarnya.

Sedangkan Arman ke dapur untuk sarapan.

“Keyla! Ayo bangun, sudah siang sayang!" bisik Diana lembut ke telinga putrinya. Keyla yang masih tengkurap mengucek matanya.

“Emh … memangnya sudah jam berapa Bu?”

“Jam 7 sayang!" bisiknya lagi.

Seketika mata Keyla terbelalak. ‘Hah jam tujuh!’

batin Keyla cemas.

“Aduh, Ibu! Kenapa tidak dari tadi membangunkan Keyla?!” gerutunya kesal. Sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal. Keyla membangkitkan tubuhnya. Dari kasur, dan menyingkap selimutnya.

“Ibu sibuk, Sayang! Ayo cepat mandi dan sarapan!” timpal Diana mengingatkan.

Byur … byur …

Keyla menyelesaikan mandinya, secepat kilat. Ia mengguyurkan air ke tubuhnya, sekenanya saja. Bahkan, rambutnya pun tidak basah. Tak sampai 5 menit Keyla keluar dari kamar mandi. Keyla terburu melilitkan handuk ke tubuhnya. Keluar kamar mandi dengan berlari.

“Keyla hati - hati!” teriak ibunya yang juga ada di dapur. Lantai rumah pun menjadi basah karena ulahnya.

Di kamar, selesai mengeringkan badannya dengan handuk. Keyla berlari menuju lemari. Ia bergegas, mengenakan kemeja kerjanya. Keyla memakai blouse berwarna putih cream. Di padu dengan rok hitam selutut. Membuatnya terlihat elegan.

Wanita ini beruntung, mempunyai ibu yang sangat baik. Yang begitu teliti memperhatikan semua kebutuhan putri cantiknya. Semua baju, dan pakaiannya tertata rapi di dalam lemari. Sehingga ia tinggal memilih dan menggunakannya saja. Di depan cermin, Keyla menyisir rambutnya yang sedikit kusut. Ia memberikan sedikit sentuhan hair spray. Karena rambutnya, yang kering terlihat seperti tidak mandi. Ia tidak percaya diri, jika harus berhadapan dengan Dion. Dengan tampilan kucel dan kusam.

“Hari ini kubiarkan saja rambutku tergerai," ucapnya sembari menepuk spons bedak tabur ke pipinya yang chubby.

“Aku tak punya banyak waktu untuk menatanya," sambungnya lagi sambil mengoleskan tipis, lipstik ke bibir dengan warna favoritnya yaitu pink cherry.

Selesai!

Keyla menutup riasannya. Dengan sedikit olesan maskara ke bulu matanya yang sudah lebat. Cantik! Wanita ini memang asli cantik.

Keyla meraih tas selempang yang ada di meja kamarnya. Langsung menuju ruang dapur. Di meja makan, sudah tersedia susu hangat dan roti selai bakar. Menu tiap hari yang selalu tersaji untuknya.

Keyla menghabiskan susunya dengan cepat. Matanya terus melirik jam di tangannya. Karena takut telat.

“Pelan - pelan sayang!” tegur Diana pada putrinya yang masih saja bersifat kekanak - kanakan. Usai meletakkan gelas, Keyla segera menghampiri ibunya untuk berpamitan.

“Keyla berangkat ya, Bu!" ucapnya manja sembari tersenyum centil mencium pipi ibunya.

“Rotinya di makan dulu sayang! Nanti maag kamu kambuh lo?!” paksa Diana lagi. Tetapi Keyla tidak menggubris ibunya. Ia malah meraih punggung jemari sang ibu dan menciumnya lagi.

“Sudah ya, Bu! Nanti Keyla terlambat," tolaknya. Sang ibu yang merasa gemas, dan tidak ingin berdebat mencubit lembut hidung Keyla. Ia memilih mengiyakan saja kemauan putrinya yang sedikit keras kepala karena sifat manjanya.

“Iya, Sayang! Hati - hati!”

Dengan langkah cepat Keyla menuju keluar rumah. Memakai high heelsnya. Ayahnya sedari tadi sudah menunggunya. Terlihat telah menaiki motor. “Ayo!” ajak ayahnya.

“Sabar, Yah!" pinta Keyla sedikit kesulitan memakai sepatu berhak tinggi tersebut, ke sepasang kakinya.

Mereka berdua berangkat berboncengan. Karena perjalanan mereka yang satu arah. Lagi pula Arman khawatir kalau harus melepas putri tunggalnya pergi sendirian. Pernah, tapi hanya sesekali.

Di pertengahan jalan. Sepertinya nasib kurang beruntung hari ini, di alami Keyla. Tiba - tiba saja, laju motor yang mereka bonceng bergerak kian lambat dan motor pun akhirnya terhenti mendadak.

Beberapa kali Arman mencoba menyalakannya, akan tetapi kuda besi tua itu, seolah merajuk. Karena usaha ayahnya tidak membuahkan hasil Keyla buru - buru turun, dan melepaskan helmnya.

“Duh! Kenapa, Yah motornya?” keluh Keyla cemberut. Tampak Arman mengerutkan keningnya, ia tengah berpikir.

“Ayah baru ingat kalau aki motornya sudah lama tidak diganti," jawab Arman merasa bersalah pada putrinya.

Keyla kembali melirik jam tangannya. Yang sudah hampir menunjukkan pukul 8.

“Jadi, Keyla harus bagaimana?”

“Mau bagaimana lagi? Kamu naik angkot saja! Ini masih setengah jalan lagi,” sahut Arman memaparkan.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED