Bab 1

Keyla Alifa!" panggil HRD menggema dari dalam salah satu ruangan perusahaan ternama. Yaitu PT PERKASA GROUP. Seorang pria, berperawakan besar. Mengenakan setelan kantornya. Penuh wibawa, memanggil nama seorang wanita yang ada di luar ruangannya. Wanita itu melangkah dengan rasa percaya diri. Menuju ke ruangan HRD tersebut.

‘Aku yakin! Aku pasti akan di terima di perusahaan ini. Itu impianku sejak dulu!’

Cetus batinnya membuncah.

Ia begitu yakin dan percaya diri. Sebelumnya, ia sudah berlatih untuk menghadapi interviewnya hari ini. Keyla membenahi sedikit penampilannya. Ia tidak ingin ada sesuatu yang salah, atau ada hal lain yang menghalangi langkahnya dalam mewujudkan cita-citanya. Ia sudah memegang gagang pintu, untuk menuju ke dalam.

Pintu terbuka!

"Permisi, pagi, Pak!" sapa Keyla menurunkan setengah punggungnya. Melangkahkan kakinya masuk ke dalam. HRD itu menyambutnya hangat. Menatapnya tersenyum tipis. ‘Sepertinya, wanita ini yang di maksud Pak CEO!’ batinnya menduga.

Keyla mendekati kursi, yang ada di depan meja kerja pria tersebut.

"Silahkan duduk!" perintah HRD itu ramah. Ia terlihat ditemani asisten pribadinya atau sekretarisnya.

Seorang perempuan, dengan usia sekitar 35 tahun. Keyla mematuhinya, dan duduk di depan pria tersebut. Ia nampak sumringah. Dengan kehadiran Keyla.

"Bagaimana, apa kamu sudah siap untuk interview hari ini?" tanyanya memastikan.

Keyla mengangguk yakin, "Iya, Pak! Saya siap."

Sang HRD, menghela nafasnya. Mengamati CV yang Keyla kirimkan secara berulang. Untuk meyakinkan bahwa benar gadis ini yang Pak CEO maksud. Melihat tindakannya, membuat Keyla sedikit gugup. Mengakibatkan muncul keraguan dalam hatinya.

"Keyla Alifa!" sebut HRD mengulang. Sekaligus membaca lembaran CV yang di pegangnya. Ia menyatukan alisnya. Menatap Keyla seksama.

‘Wanita berusia 21 tahun. Lulusan sarjana informatika terbaik di kampusnya. Dia juga mengirimkan CV - nya secara berulang.’

Batin HRD mengingat.

"Kenapa, Pak?" tanya Keyla merasa aneh. Ia menyorot seksama raut wajah pria yang ada di hadapannya itu.

HRD menggeleng, "Oh tidak apa - apa!"

"Saya baru ingat, sesuai arahan pimpinan perusahaan ini, kamu akan di interview langsung olehnya," tambahnya lagi.

Pernyataan pria itu membuat Keyla terperangah. ‘Apa?! Aku akan di interview langsung oleh pimpinan perusahaan ini.’

pekik Keyla dalam hati.

"Kenapa, Pak?! Apa ada yang salah dengan CV yang saya kirimkan?” tanya Keyla panik.

“Sebenarnya tidak ada masalah. Tetapi atasan saya berpesan, untuk interview kamu bisa langsung menunjuk ke ruangannya,” ungkap HRD membeberkan.

"Maaf Pak! Ruangan sebesar ini, terlalu asing untuk saya. Saya tidak tahu di mana ruangan beliau," keluh Keyla keberatan.

"Tenanglah! Asisten saya akan mengantarmu menuju ke sana," cetus HRD itu memaparkan.

Wanita yang sedari tadi berdiri di samping HRD tersebut. Lantas melempar senyum ke arah Keyla.

"Mari saya antar!” ajaknya santun. Keyla segera beranjak dari kursi, dan berjalan melangkah keluar ruangan mengikuti Sekretaris, dari HRD itu.

Tiga menit berselang. Setelah melewati ruang demi ruangan, dan beberapa anakan lift. Akhirnya Keyla dan Sekretaris HRD telah sampai.

Mereka tepat berada di depan sebuah pintu yang bertuliskan ruangan Chief Eksekutif Officer atau ruangan CEO. Keyla menatap tulisan itu, dengan meneguk ludahnya.

‘Ah! Yang benar saja, kenapa bisa sejauh ini?!’ batinnya mulai gugup. Firasatnya mendadak tidak enak.

Sekretaris HRD tersebut, perlahan membuka gagang pintu ruangan tersebut. Ia menyuruh Keyla untuk menunggu sebentar di luar.

Keyla mengangguk patuh. Beberapa detik kemudian, setelah Sekretaris HRD itu menyampaikan kedatangan Keyla. Ia menyunggingkan senyum simpulnya ke arah Keyla, yang semakin resah tak karuan.

"Tadi saya sudah berbicara dengan Pak CEO, dan CV kamu sudah saya serahkan, pada dirinya. Dia menyuruhmu untuk masuk ke dalam!" perintahnya menjelaskan.

Mendengarnya, Keyla lumayan bisa bernafas lega. Tapi, ia masih merasa janggal dengan semua itu.

"Baik, terima kasih atas bantuan anda," sahut Keyla tersenyum ringkas.

"Sama - sama, semoga sukses!" ucap Sekretaris HRD memberikan semangat. Meninggalkan Keyla yang masih tercenung.

Keyla menarik nafasnya. Menepis keresahannya. Ia berupaya memunculkan kembali rasa percaya dirinya yang tadi sempat hilang. ‘Kamu pasti bisa Keyla!’

Dengan harapan besar Keyla menyentuh gagang pintu ruangan itu. Ia memutarnya perlahan. Terbuka!

Keyla mengamati ruangan dingin itu dari arah luar. Ia masih takut untuk masuk. Meski ruangan itu, cukup besar. Namun, suasananya terasa horor di mata Keyla.

Banyak lampu yang terlihat sengaja dimatikan, dan hanya ada beberapa lampu yang menerangi. Tidak seperti ruangan CEO yang sering ia lihat di televisi. Keyla jadi merinding ketika memasukinya.

Nampak dari jarak satu meter. Di mana kini Keyla sedang berdiri. Terlihat di bagian ruangan tersebut, seorang pria bertubuh tinggi tegap, atletis. Dengan setelan jas dan kemejanya.

Pria itu duduk, fokus dengan laptop yang ada di meja kerjanya. Dirinya membelakangi Keyla. Ia nampak sibuk mengamati lembaran kertas yang ada di tangannya. Keyla melangkah pelan sembari menahan saliva.

"Itukah pimpinan perusahaan

ini? Dia kah yang akan menginterview diriku?" celetuk Keyla berbisik cemas.

Ia sudah sampai di depan meja sang CEO misterius itu. Keyla memberanikan diri menyapa pria yang kini tengah duduk di hadapannya.

"Pagi, Pak! Saya Keyla Alifa yang akan melakukan interview hari ini," sapa Keyla memperkenalkan diri. Suaranya bergetar karena gugup yang menguasainya.

"Maaf, Pak! Saya di perintahkan untuk langsung menuju ke ruangan, Bapak. Saya tidak salah kan, Pak?!” tambah Keyla bimbang.

Mendengarnya, pria tampan berwajah oriental ini, melirikan matanya ke arah samping. Sorot matanya tegas dan tajam. ‘Keyla! Kamu sudah datang.’

Batinnya sembari tersenyum smirk.

Pria ini meletakkan semua lembaran kertas yang ada di tangannya ke atas meja. Posisinya masih membelakangi Keyla.

rik kursi yang ada di depannya lalu mendudukinya. Kerisauan masih terus menyergapnya.

Dengan gerak lamban, pria itu memutar kursi kerjanya ke arah Keyla. Mengiringi gerakan tubuhnya. Wajah maskulin itu, kini terpampang jelas di hadapan Keyla.

Keyla sempat terpaku menatapnya. Mereka saling menatap satu sama lain. Keyla merasa wajah itu tak asing baginya. Ia merasa pernah bertemu sebelumnya. Namun, Keyla lupa entah di mana mereka pernah bertemu.

CEO ini memandangi Keyla begitu sinis. Kedua matanya tak ingin berkedip. Ada rasa rindu, bercampur kebencian dari dalam sorot matanya.

"Apa kabar, Keyla?! Apa kamu masih mengingatku?" sapanya sekaligus melontarkan pertanyaan yang cukup mengejutkan.

Deg!

Bak petir di siang bolong. Ribuan pertanyaan pun bermunculan di dalam batin Keyla. ‘Mengapa dia berkata seperti itu. Seolah - olah telah lama mengenalku. Siapakah dirimu? Pria bermata tajam!’

Keyla tertegun.

"Sudah lama kita tidak bertemu, atau kamu sudah lupa? Aku Dion Prakasa, pria cupu, kutu buku, yang pernah menyatakan cinta padamu di waktu SMA. Kamu masih ingat bukan?!" jelas CEO itu menyatukan dua tangannya untuk menopang dagunya. Sembari mengangkat kedua alisnya. Dion terlihat santai, tetapi tampak angkuh.

Mendengar pernyataan Dion. Keyla semakin tercengang. Berupaya mengingat. Dia tidak percaya.

'Apa?! Dia si culun kutu buku?'

'Tidak mungkin, ini pasti cuma mimpi?!'

'Haruskah aku pura - pura amnesia atau kabur saja...'

Bab 2

"Bagaimana Keyla?! Apa kamu sudah mengingatku?" desak Dion menggebu. Ia tidak ingin melihat Keyla terpaku hanya diam.

Keyla yang merasa masih di bawah alam sadarnya, menepuk-nepuk kedua pipinya. ‘Sadar Keyla! tenanglah ... ini hanya mimpi di siang hari. Sebentar lagi kamu akan terbangun dari mimpi burukmu ini.’

"Auw ... sakit!" Ia sungguh tidak percaya. Kalau yang ada di hadapan dirinya sekarang, adalah seorang Dion Prakasa. Mantan kakak kelasnya yang cupu. Dion menatapnya sombong. Sorot mata itu, menegaskan kalau ia sedang merendahkan Keyla yang masih meringis.

Dion pun tersenyum smirk setengah puas. Ia mengubah posisinya. Mendorong kursi ke belakang dengan kekuatan punggungnya. Dan beranjak dari situ. Berjalan mendekati Keyla. Lalu berdiri di samping wanita itu. Sembari melipat kedua tangannya.

"Kenapa tadi menatapku seperti itu, terkejut hah?!” tanya Dion angkuh setengah menggertak.

Keyla yang masih termangu menoleh. Ia berusaha menormalkan detak jantungnya, yang sedari tadi berdetak lebih cepat. Sadar kalau itu bukan mimpi. Keyla mencoba mengusir rasa gugup yang mendominasi luar biasa. Ia ingin terlihat baik - baik saja di hadapan Dion, yang ingin menghakiminya. Wanita berkepribadian tangguh ini, tidak mau terlihat lemah di hadapan mantan rivalnya.

"Dasar curang!" tuding Keyla lantang.

Dion menyatukan alisnya, "Apanya yang curang?"

Keyla ikut beranjak dari kursinya. Berdiri tepat di depan Dion. Ia mesti mendongak. Karena tubuh Dion yang masih terlalu tinggi darinya.

Keyla tidak mau di remehkan. Hanya karena kini, Dion adalah seorang CEO. Keyla mulai menduga, Dion sudah merencanakan semuanya. Keyla juga menganggap Dion telah menyalah gunakan kekuasaannya, untuk menekan bawahannya.

"Apa - apan ini, jelas kamu curang?! Kamu seorang CEO di perusahaan ini. Seharusnya Pak HRD yang menginterview diriku!” cecar Keyla tak terima.

“Jelas ini bukan tugasmu!" sanggah Keyla menambahkan.

Mendengarnya, membuat gelak tawa Dion pecah. Ia gemas, melihat wajah Keyla penuh amarah. Tapi wanita itu, seakan tidak berdaya menumpahkannya.

"Hahahaha!" Dion menggelengkan kepalanya. Sembari berjalan menuju kursinya. Ia kembali duduk di sana. Dion melonggarkan dasinya, yang terasa ketat.

Keyla semakin geram dengan tingkah Dion. Keyla merasa Dion mempermainkannya. Matanya melotot, dan rahangnya mengatup kuat.

"Keyla… Keyla! Kamu ini lucu sekali. Perusahaan ini milikku! Aku CEO di sini!” ungkap Dion bangga.

“Wajar saja aku yang memegang kendali di tempat ini. Sudah jadi tanggung jawabku, apapun yang berhubungan dengan perusahaan ini. Termasuk karyawan, bawahan, manager, apapun itu!" lanjut Dion berdalih.

Sejatinya ia sudah merencanakan semua itu. Karena Keyla yang selalu mengirimkan CV -nya berulang. HRD selalu mengirimkan data karyawan baru. Termasuk data pelamar kerja. Namun, Dion tegas menolaknya, dan untuk yang kesekian kalinya. Tetapi, wanita itu juga tidak menyerah. Dion pasrah, meski akhirnya ia harus melawan lukanya, untuk menghadapi wanita yang pernah singgah di hatinya itu.

"Lalu, di mana letak kecuranganku?" tanya Dion lagi mengangkat dagunya.

"Ya, aku tahu kamu CEO di perusahaan ini. Bukankah sangat tidak etis kalau kamu langsung yang menginterview?!” protes Keyla keberatan.

“Apalagi calon karyawan baru sepertiku! Setahuku ini bukan tugasmu,” tambah Keyla mencecrca.

Keyla kembali ikut duduk, dan menghempaskan tubuhnya ke kursi. Dadanya bergemuruh, menahan amarah dari tindakan Dion.

Dion membuang nafas kasar.

"Sudahlah Keyla, terima saja! Saat ini kamu berhadapan dengan siapa?!”

“Sedari dulu, aku memang selalu memeriksa data karyawan baru dan karyawan lama. Semua itu kulakukan demi mempertahankan kesuksesan perusahaanku. Jangan GR kamu!" timpal Dion meluruskan.

Mendengar penjelasan Dion, Keyla mulai menerimanya. Logikanya itu memang benar. Lagi pula perusahaan itu sudah sangat besar dan berjaya, sejak beberapa tahun silam.

Kesuksesannya melebihi beberapa pesaing perusahaan di bidangnya. Tetapi, ada hal yang menjadi pertanyaan. Kenapa Dion bisa menjadi CEO di situ?

"Hem ... baiklah,” dengus Keyla menyerah.

"Lalu bagaimana dengan interview ku hari ini? Dan bagaimana bisa kamu menjadi CEO di perusahaan ini?" lanjut Keyla masih meragukannya.

"Apakah jawaban itu penting untukmu?" tanya Dion sinis.

"Ya!" jawab Keyla singkat seraya mengangkat kedua alisnya.

"Aku Dion Prakasa! Pewaris tunggal PT. PERKASA. Perusahaan ini adalah milik Ayahku, kamu puas?!”

Entah kenapa Keyla masih belum bisa menerimanya. Namun, fakta itu ada di depan matanya. "Tapi bagaimana bisa?" Keyla lagi - lagi mempermasalahkannya.

Dion mengusap kilas wajahnya.

"Sudah kuduga kamu pasti tidak yakin, dengan semua yang kamu lihat. Maka dari itu aku selalu menolak CV yang kamu kirimkan,” beber Dion kecewa.

Melihat raut wajah Dion, Keyla menjadi merasa bersalah. ‘Apa yang ku lakukan? Seharusnya aku tahu diri!’

"Oke baiklah! Kembali ke tujuan awal. Bagaimana dengan CV-ku? Aku yakin kamu pasti sudah memeriksa lembar demi lembar CV yang sudah aku kirimkan."

Dion mengangkat kedua alisnya, "Menurutmu bagaimana?"

"Bukankah kamu yang menentukan?"

Keyla terpancing emosi.

"Sabar, Nona Keyla! Sejak tadi kamu emosi. Apa menurutmu sikap seperti ini yang harus ditunjukan ke atasan sepertiku?" cecar Dion menyayangkan.

Tetapi, secara tidak langsung sikapnya memang membuat Keyla gerah, Dion sengaja melakukannya. Tujuannya hanya ingin balas dendam, dengan kejadian masa lalu di antara mereka.

Meski begitu perasaan Dion tak banyak berubah. Ia masih mengagumi sosok Keyla. Yang dulu adalah gadis lincah, dan periang. Keyla sangat supel dalam berteman, tetapi sedikit pemilih.

Selain itu Keyla juga cukup cerdas dalam setiap mata pelajaran. Ia juga gigih dan rajin. Parasnya yang cantik, memang membuat mata kaum adam terpikat.

Nasihat Dion kali ini harus Keyla terima. Bagaimana pun ia harus menunjukkan sikap profesionalnya dalam bekerja. Tanpa harus mengaitkannya dengan masa lalu.

Tekadnya kuat, ia ingin berkerja dan meraih cita-citanya. Keyla menghela nafasnya ringan. Lalu menghembuskannya perlahan.

"Baik Pak Dion! Apakah saya diterima bekerja di perusahaan, anda ini?" tanya Keyla kesekian kalinya dengan sabar.

Dion bungkam. Ia pura - pura memeriksa CV milik Keyla lagi. Mimik wajahnya ia buat seserius mungkin, untuk menakuti wanita itu. Keyla kembali gelisah.

"Bagaimana, Pak?! Apa saya di terima di perusahaan ini?" tanya Keyla mempercepat.

Merasa cukup puas, mempermainkan emosi Keyla. Dion menutup sampul lembaran kertas di mejanya. Menatap Keyla lekat.

"Setelah meninjau semua yang berkas kamu berikan. Saya akan memutuskan_?” Dion sengaja memotong perkataannya.

"Memutuskan apa, Pak?!” sambar Keyla bertanya.

"Saya memutuskan, kalau kamu akan menjadi Sekretaris sekaligus asisten pribadi saya, kamu setuju?" lontar Dion mengejutkan.

"Apa? Sekertaris, Asisten? Saya tidak salah dengarkan, Pak?!” sahut Keyla terhenyak.

"Kamu tidak salah, saya sudah memikirkannya matang.”

"Tapi, bukankah ada yang lebih baik dan lebih berpengalaman dari pada saya? Saya masih terlalu baru, Pak untuk itu?!" bantah Keyla keberatan.

Jujur saja dalam hati Keyla senang. Baru masuk kerja ia sudah diangkat menjadi Sekretaris. Tapi disisi lain, sebenarnya ia risih kalau harus menjadi asisten pribadi seorang Dion.

Firasatnya tidak enak. Keyla sempat menduga Dion merencanakan sesuatu yang buruk untuknya. Tapi, tidak ada salahnya untuk mencoba. Ia akan bekerja untuk pertama kalinya. Di perusahaan impiannya. Ia tepis jauh prasangka buruk nya itu, demi cita - citanya.

"Semua keputusan ada di tanganmu! Aku hanya memberi tawaran,” tegas Dion seolah membuat Keyla di lema.

‘Ini adalah impianku! Tidak ada yang bisa menghalangiku, bahkan Dion sekali pun. Meski kamu CEO di sini, aku yakin aku pasti bisa menghadapinya.’

"Baiklah Pak! Aku setuju," angguk Keyla menerima.

"Kalau begitu tanda tangani surat perjanjian ini!" Dion menyodorkan selembar kertas yang berisi pernyataan perjanjian itu.

Tanpa membacanya Keyla menandatangani surat tersebut. Di mana surat itu, akan membawa malapetaka baginya. Karena Dion akan menjeratnya melalui surat berharga itu.

Bab 3

Bab 3

Drrrttt

Drrrttt

Gawai itu bergetar, tepat berada di samping bantal tidur Keyla. Ia sengaja, mengatur alarm di ponselnya tepat pukul enam pagi. Tangannya meraba, mencari benda tersebut. Sementara matanya masih terpejam.

Keyla masih merasa sangat mengantuk. Setelah tadi malam, ia memutuskan untuk begadang. Karena menonton episode terakhir dari drakor favoritnya tadi malam.

Berhasil meraih ponselnya, Keyla memilih mematikan alarmnya. Rasanya begitu mengusik telinga. Keyla malah memilih untuk tidur lagi. Padahal hari ini, adalah hari pertamanya bekerja.

“Huah! Masih terlalu pagi untuk bangun. Aku ingin tidur 15 menit lagi," tawarnya sambil menguap.

Satu jam berlalu. Matahari terbit sangat cerah pagi ini. Bunyi bising motor pun mulai terdengar lalu lalang, di pekarangan halaman depan rumah.

Terlihat juga lelaki paruh baya yang kini tengah memanaskan mesin motor. Mungkin usianya sekitar 45 tahun.

Lelaki itu ialah Pak Arman, ayah kandung Keyla. Arman lelaki yang bertanggung jawab dan rajin. Meski hanya memiliki satu putri, yang sudah dewasa. Ia masih memutuskan untuk tetap bekerja.

Arman tidak ingin, melimpahkan beban dan tanggung jawab keluarga kepada Keyla. Meski Keyla kini besar dan mandiri. Baginya, sampai kapanpun ia tetap kepala keluarga. Dan bertanggung jawab penuh atas keluarganya.

“Pak! Sarapan sudah siap. Ayo makan dulu!" ajak wanita yang kini usianya sudah tak muda lagi. Namun, masih terlihat cantik dan anggun. Separuh wajahnya sangat mirip dengan putrinya Keyla.

Diana Rose istri Pak Arman. Merupakan ibu kandung dari Keyla. Usianya terpaut, lebih muda 2 tahun dari suaminya. Diana adalah putri dari keturunan orang kaya di kampungnya. Dia adalah anak pemilik perkebunan teh yang luasnya berhektar-hektar.

Namun, Diana muda telah memilih menambatkan hatinya, pada Arman. Pemuda tampan sederhana, tetapi pemberani yang bersahaja. Yang pasti dia bertanggung jawab dan pekerja keras.

Kegigihan perjuangan cinta Arman, untuk mendapatkan Diana. Mampu meluluhkan hatinya. Namun ibunya, kala itu sempat menentang hubungan mereka.

Nenek Keyla takut, kalau Arman tidak bisa mencukupi nafkah pada putrinya Diana. Sebab, Arman hanyalah seorang montir motor, yang bekerja di bengkel kecil dengan penghasilan yang tidak menentu.

Kini, Arman bisa membuktikan jika dirinya mampu dan layak disebut sebagai kepala keluarga. Nenek pernah menawarkan tinggal bersama di kampung. Dan semua biaya hidup di tanggung olehnya. Dari harta warisan yang melimpah peninggalan mendiang suaminya.

Namun Arman sama sekali tidak tertarik, menumpang hidup pada mertua. Ia yakin ia bisa. Dengan pengorbanan dan kerja kerasnya, untuk membahagiakan putrinya Keyla dan Diana istri tercinta.

Hal itu membuat Diana semakin jatuh hati pada Arman. Hingga akhirnya ia mantap untuk tinggal di kota, bersama anak dan suaminya.

Arman tersenyum sumringah, menatap istrinya di depan pintu. “Keyla mana, Bu?! Apa dia sudah bangun?”

“Belum, Pak! Sepertinya tadi malam dia begadang.”

Ya ampun Keyla! Ini sudah jam 7, Bu! Bukannya Keyla hari ini harus masuk bekerja?” timpal Arman menghampiri istrinya yang berdiri di depan pintu.

Diana mengernyit, “Oh iya, ya Pak! Aduh Keyla kebiasaan."

Diana menghampiri Keyla ke dalam kamarnya.

Sedangkan Arman ke dapur untuk sarapan.

“Keyla! Ayo bangun, sudah siang sayang!" bisik Diana lembut ke telinga putrinya. Keyla yang masih tengkurap mengucek matanya.

“Emh … memangnya sudah jam berapa Bu?”

“Jam 7 sayang!" bisiknya lagi.

Seketika mata Keyla terbelalak. ‘Hah jam tujuh!’

batin Keyla cemas.

“Aduh, Ibu! Kenapa tidak dari tadi membangunkan Keyla?!” gerutunya kesal. Sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal. Keyla membangkitkan tubuhnya. Dari kasur, dan menyingkap selimutnya.

“Ibu sibuk, Sayang! Ayo cepat mandi dan sarapan!” timpal Diana mengingatkan.

Byur … byur …

Keyla menyelesaikan mandinya, secepat kilat. Ia mengguyurkan air ke tubuhnya, sekenanya saja. Bahkan, rambutnya pun tidak basah. Tak sampai 5 menit Keyla keluar dari kamar mandi. Keyla terburu melilitkan handuk ke tubuhnya. Keluar kamar mandi dengan berlari.

“Keyla hati - hati!” teriak ibunya yang juga ada di dapur. Lantai rumah pun menjadi basah karena ulahnya.

Di kamar, selesai mengeringkan badannya dengan handuk. Keyla berlari menuju lemari. Ia bergegas, mengenakan kemeja kerjanya. Keyla memakai blouse berwarna putih cream. Di padu dengan rok hitam selutut. Membuatnya terlihat elegan.

Wanita ini beruntung, mempunyai ibu yang sangat baik. Yang begitu teliti memperhatikan semua kebutuhan putri cantiknya. Semua baju, dan pakaiannya tertata rapi di dalam lemari. Sehingga ia tinggal memilih dan menggunakannya saja. Di depan cermin, Keyla menyisir rambutnya yang sedikit kusut. Ia memberikan sedikit sentuhan hair spray. Karena rambutnya, yang kering terlihat seperti tidak mandi. Ia tidak percaya diri, jika harus berhadapan dengan Dion. Dengan tampilan kucel dan kusam.

“Hari ini kubiarkan saja rambutku tergerai," ucapnya sembari menepuk spons bedak tabur ke pipinya yang chubby.

“Aku tak punya banyak waktu untuk menatanya," sambungnya lagi sambil mengoleskan tipis, lipstik ke bibir dengan warna favoritnya yaitu pink cherry.

Selesai!

Keyla menutup riasannya. Dengan sedikit olesan maskara ke bulu matanya yang sudah lebat. Cantik! Wanita ini memang asli cantik.

Keyla meraih tas selempang yang ada di meja kamarnya. Langsung menuju ruang dapur. Di meja makan, sudah tersedia susu hangat dan roti selai bakar. Menu tiap hari yang selalu tersaji untuknya.

Keyla menghabiskan susunya dengan cepat. Matanya terus melirik jam di tangannya. Karena takut telat.

“Pelan - pelan sayang!” tegur Diana pada putrinya yang masih saja bersifat kekanak - kanakan. Usai meletakkan gelas, Keyla segera menghampiri ibunya untuk berpamitan.

“Keyla berangkat ya, Bu!" ucapnya manja sembari tersenyum centil mencium pipi ibunya.

“Rotinya di makan dulu sayang! Nanti maag kamu kambuh lo?!” paksa Diana lagi. Tetapi Keyla tidak menggubris ibunya. Ia malah meraih punggung jemari sang ibu dan menciumnya lagi.

“Sudah ya, Bu! Nanti Keyla terlambat," tolaknya. Sang ibu yang merasa gemas, dan tidak ingin berdebat mencubit lembut hidung Keyla. Ia memilih mengiyakan saja kemauan putrinya yang sedikit keras kepala karena sifat manjanya.

“Iya, Sayang! Hati - hati!”

Dengan langkah cepat Keyla menuju keluar rumah. Memakai high heelsnya. Ayahnya sedari tadi sudah menunggunya. Terlihat telah menaiki motor. “Ayo!” ajak ayahnya.

“Sabar, Yah!" pinta Keyla sedikit kesulitan memakai sepatu berhak tinggi tersebut, ke sepasang kakinya.

Mereka berdua berangkat berboncengan. Karena perjalanan mereka yang satu arah. Lagi pula Arman khawatir kalau harus melepas putri tunggalnya pergi sendirian. Pernah, tapi hanya sesekali.

Di pertengahan jalan. Sepertinya nasib kurang beruntung hari ini, di alami Keyla. Tiba - tiba saja, laju motor yang mereka bonceng bergerak kian lambat dan motor pun akhirnya terhenti mendadak.

Beberapa kali Arman mencoba menyalakannya, akan tetapi kuda besi tua itu, seolah merajuk. Karena usaha ayahnya tidak membuahkan hasil Keyla buru - buru turun, dan melepaskan helmnya.

“Duh! Kenapa, Yah motornya?” keluh Keyla cemberut. Tampak Arman mengerutkan keningnya, ia tengah berpikir.

“Ayah baru ingat kalau aki motornya sudah lama tidak diganti," jawab Arman merasa bersalah pada putrinya.

Keyla kembali melirik jam tangannya. Yang sudah hampir menunjukkan pukul 8.

“Jadi, Keyla harus bagaimana?”

“Mau bagaimana lagi? Kamu naik angkot saja! Ini masih setengah jalan lagi,” sahut Arman memaparkan.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED