******
"OH MY GOD!"
"Damn! Kau ... sialan!" umpat seorang wanita yang kini sibuk mengibas-ibaskan kertas di hadapannya.
Wanita pemilik mata kucing itu mengerang marah penuh emosi, ketika salah satu pelayan kafe tidak sengaja menumpahkan jus kiwi pesanannya dan mengenai map yang berisikan beberapa lembar sketsa bangunan milik kliennya.
Pelayan itu bergidik ketakutan saat mendengar makian kasar terlontar dari salah satu pelanggan akibat kecerobohannya.
"Ma---, maaf ... Maafkan saya, Nona. Sa---, saya tidak sengaja," ucap pelayan itu dengan gugup penuh dengan rasa bersalah.
Tatapan tajam begitu menghunus tepat menghujam wajah si pelayan.
"Apa? Maaf? Kau buta? Kau tidak lihat semua ini?" bentak pelanggan wanita itu dengan suara lantang.
"Panggil manajer kafe ini. Sekarang juga!" perintah wanita cantik itu pada si pelayan.
Pelayan yang wajahnya sudah pucat pasi itu berjalan mundur lantas segera berlalu dari hadapan wanita yang telah membentaknya kasar dan mencari manager cafe sesuai permintaan wanita cantik itu.
Seorang pria dengan kemeja biru dan dasi bergaris-garis menyilang berwarna merah kontras dengan kemeja yang dikenakannya berdiri di hadapan wanita yang tengah mengibas-ibas lembar demi lembar kertas.
"Maaf, apa ada yang bisa saya bantu? Saya kebetulan manager kafe ini. Perkenalkan nama saya---,"
Belum sempat sang manager berbasa-basi, sang wanita sudah menyemburkan amarahnya lagi.
"Dengar dan lihat semua ini! Semua lembar pekerjaanku basah dan beberapa robek akibat kecerobohan yang dilakukan pegawai kafe anda ini!"
Dengan berkacak pinggang wanita cantik itu memerintahkan manager cafe itu untuk memecat pegawainya. "Aku ingin kau memecat pegawai bodohmu itu!"
Pegawai tersebut menunduk, gemetar ketakutan di belakang managernya mendengar ucapan kejam yang dilayangkan wanita itu untuknya.
"Maaf, tapi pegawai saya tidak sengaja melakukannya, Nona. Dia juga sudah meminta maaf pada---" Lagi-lagi terhenti karena wanita itu sudah kembali menyela.
"Kau dan pegawaimu sama bodohnya! Kalian membuang-buang waktuku. Sialan sekali kafe ini. Sangat tidak bertanggung jawab!" Wanita cantik itu membereskan semua barangnya dan melenggang pergi meninggalkan kafe dengan emosi memuncak.
Seluruh mata memandang wanita yang baru saja melangkah keluar pintu kafe, sedangkan manajer dan pegawai yang melakukan kesalahan tadi masih berdiri kaku mengamati pundak yang semakin menjauh itu.
******
Wanita cantik yang memiliki mata tajam seperti tatapan mata kucing bernama Amanda Altakendra. Seorang arsitek yang namanya sudah tersohor di kalangan pebisnis lokal maupun internasional. Begitu banyak perusahaan yang menginginkan sentuhan tangan wanita itu untuk membangun gedung atau apa pun.
Amanda menghempaskan tubuh dan pinggulnya ke atas sofa empuk di dalam apartemen miliknya. Ia memilih menetap di Indonesia untuk sementara waktu ketimbang ikut bersama kedua orang tuanya di Korea Selatan. Ayah Amanda adalah seorang pria asli Korea Selatan. Ayahnya merupakan seorang pengusaha terkenal dan kaya, memiliki beberapa perusahaan besar di bidang otomotif dan elektronik, sedangkan Ibu Amanda adalah wanita yang berasal dari Manhattan. Untuk itu, Amanda terlihat seperti wanita keturunan yang tampak begitu cantik meskipun gen ayahnya yang mendominasi dirinya.
Wanita itu menghela napas gusar menatap tumpukan kertas di dalam map yang sudah basah dan beberapa yang robek. Kepalanya berdenyut pening memikirkan jika lembaran-lembaran itu merupakan deadline yang akan ia serahkan pada kliennya, seorang pengusaha asal Italia.
"Hei, what's up, Baby! Kenapa wajahmu seperti remasan kertas?" tanya Belina, sahabat terbaik Amanda.
Belina merupakan supermodel Internasional yang namanya sudah tersohor di seluruh dunia. Wanita bermata hijau itu menetap di New York, tapi saat ini ia sedang menikmati cuti panjang dan memilih Indonesia sebagai destinasi kunjungannya. Amanda melemparkan map di hadapannya ke sofa, tempat Belina duduk. Nana mengambil lembaran yang sudah rusak dan juga basah itu, mengangkatnya ke udara dengan mata terbelalak dan mulut menganga.
"What the fvxx! Bagaimana bisa? Inikan ..." Nana tidak menyelesaikan ucapannya.
"Semua sketsa yang sudah aku kerjakan, hancur berantakan dalam hitungan detik akibat tindakan ceroboh pegawai kafe tadi," gerutu Amanda.
"It's Crazy! Pantas saja wajahmu sangat tidak bersahabat,"
"So, apa yang akan kau lakukan dengan semua ini?" tanya Nana khawatir.
Amanda mengedikkan bahu sambil mengurut dahi. Amanda terlihat begitu frustasi, pekerjaannya yang dikerjakan selama satu minggu terakhir dan hanya tinggal finishing ternyata harus hancur dalam hitungan detik. Padahal lusa nanti, sketsa itu harus diberikan pada seorang pengusaha asal Italia yang sudah membayarnya dengan harga tinggi. Lebih sialnya, ternyata file terakhir untuk sketsa itu tidak tersimpan di laptop atau flashdisknya. Sebuah kecerobohan yang menghancurkan semua kerja kerasnya.
"Aku harus mengulang semuanya dari awal," keluh Amanda.
Nana duduk mendekati Amanda dan merangkul bahu sahabatnya.
"You can do it!" Nana memberikan semangat pada Amanda.
"Yeah," jawab Amanda lemah.
******
Di sebuah ruangan besar yang bernuansa kuning gading bergaya khas eropa. Pria berkemeja berwarna navy duduk di balik meja kerjanya yang berukuran besar. Jari jemari panjang pria itu membuka satu per satu lembaran pekerjaannya. Membaca dengan teliti setiap laporan yang dibuat oleh pegawainya.
Ia menarik satu map yang berisikan gambar rancangan sebuah bangunan. Pria yang memiliki tatapan super tajam dan berwajah datar nan dingin itu melihat segalanya dengan begitu detail. Bibirnya tersungging senyum tipis saat mencapai pada lembar akhir.
Pria itu menghubungi seseorang melalui telepon yang ada di hadapannya.
"Ke ruanganku sekarang," perintah sang pria pada seseorang.
Tak lama ketukan pintu ruangan terdengar. Seorang pria dengan jas hitam sedikit menunduk saat menghadap pimpinannya.
"Siapa yang membuat gambar ini?" tanya pria tampan itu tanpa ekspresi. Suara pria itu rendah, tapi terdengar seksi.
Sang asisten mendekat untuk melihat dan kemudian kembali lagi berdiri tegak.
"Oh, itu kontrak kerja sama yang diajukan oleh Altakendra Corp. Mereka ingin menjalin kerja sama untuk membangun sebuah resort di Amsterdam,"
"Amanda Altakendra adalah seorang arsitek yang kini menetap di Indonesia. Wanita itu sudah beberapa kali bekerja sama dengan perusahaan ini. Ia yang mendesain perusahaan di Jepang dan Austria. Sebagai informasi tambahan, wanita itu begitu cantik dan seksi serta masih lajang," jelas Brian.
Sebuah senyuman samar muncul di wajah tampan pria yang sedang menatap lekat map di tangannya saat mendengar penjelasan Brian, asisten pribadinya.
"Berikan aku informasi lengkap mengenai wanita ini. Aku ingin melihatnya secara langsung," titah Darko.
"Saya akan mengumpulkan dan memberikan informasi secepatnya" Brian pamit dari ruangan itu.
Darko Dio Archelaus, pria mapan yang masih berstatus single memiliki wajah tampan, alis tebal, hidung mancung serta dagu yang belah, tatapan tajam serta dingin, jarang berekspresi, ia lebih suka menampilkan raut wajah datar. Pria yang begitu pemilih untuk berhubungan dengan seorang wanita terutama untuk urusan di atas ranjang.
Ia juga pemilik serta pewaris Archelaus Corp. Darko dinobatkan sebagai pengusaha muda terkaya nomor dua di dunia. Pria ini juga terkenal kejam dan tidak ingin dibantah dalam hal apa pun. Rekan kerja atau orang sekelilingnya sudah begitu hafal dengan sifat seorang Darko.
"Let's start the game!" gumam Darko sambil menggenggam berkas yang berisikan ajakan kerja sama dari Altakendra Corp.
*****
*****
Amanda larut dalam pekerjaan untuk mengulang kembali membuat gambar rancangan bangunan yang diinginkan kliennya yang akan ia temui lusa nanti. Ia menghabiskan waktu semalaman untuk mengerjakan itu semua. Bersyukur jika Amanda dikaruniai otak yang cerdas dan rasa tanggung jawab yang tinggi terhadap pekerjaannya. Wanita itu melewatkan jadwal makan malam dan sarapan paginya, bahkan kini jam di dinding telah menunjukkan pukul sepuluh pagi.
Wanita itu memulai kerja keras bagai kuda pada pukul lima sore dan sekarang sudah pukul sepuluh pagi. Tujuh belas jam dilewatinya begitu saja. Kantong mata menjadi penghias wajah cantiknya, karena semalaman Amanda sama sekali tidak tidur dan beristirahat. Wanita cantik itu benar-benar fokus menyelesaikan pekerjaan deadlinenya. Kini ia baru bisa merenggangkan otot punggung serta pinggang, ketika semua pekerjaan yang telah dirusak kemarin telah selesai dikerjakan.
"Finally! Please, Tuhan, jangan ada lagi kejadian seperti kemarin terulang lagi. Aku bisa gila jika terus-terusan seperti ini," gumam Amanda.
Amanda memegang hasil print out desainnya, senyum puas terukir di wajah lelahnya.
"Aku yakin, mereka akan sangat puas dengan hasil kerja kerasku kali ini. Ahh ... ya Tuhan, perutku lapar sekali. Aku juga butuh tidur, wajahku sudah tampak seperti zombie terkutuk." Amanda berbicara pada dirinya sendiri.
Amanda mengisi perutnya yang keroncongan dengan memesan makanan lewat aplikasi. Wanita itu memakan berbagai makanan yang dipesannya ditemani dengan kicauan suara yang berasal dari televisi. Nana sahabatnya, kemarin sudah meminta izin padanya untuk kembali ke New York karena ada pekerjaan yang mendadak. Maka dari itu, kini Amanda berada sendirian di dalam apartemennya itu. Setelah makan, Amanda memilih untuk mengistirahatkan mata dan tubuhnya. Wanita itu akan menghabiskan waktu sepanjang waktu untuk tidur sepuasnya, agar besok ia kembali tampak segar.
*****
Nicole's Kitchen and Restaurant menjadi tempat pilihan untuk Amanda bertemu dengan kliennya. Seorang pengusaha muda yang berasal dari Italia, menanamkan investasinya berupa hotel berbintang lima di salah satu kota besar Indonesia. Untuk itu, pengusaha itu memilih Amanda sebagai arsitek untuk bangunan hotel tersebut.
Ravi Rusic, pengusaha di bidang perhotelan yang kini menjadi klien Amanda. Pria itu membenahi jasnya sebelum melangkah masuk ke dalam Restoran tersebut. Ternyata pria itu datang terlebih dahulu dibanding Amanda. Pengusaha tampan itu duduk santai menanti kedatangan sang arsitek cantik yang ingin ia temui secara langsung tanpa melalui perantara. Itu sebabnya, Ravi memilih untuk terbang langsung dari Italia menuju Indonesia hanya untuk bertemu Amanda.
Seorang wanita menyapa Ravi ramah dari arah kanan, "maaf, saya terlambat ...,"
Sorot mata Ravi menjalar liar ke seluruh bagian tubuh Amanda. Wanita itu memakai kemeja berbahan sifon berwarna merah maroon serta rok slim fit berwarna hitam. Rambut ombre perpaduan hitam dan merah maroon dibiarkan terurai. Amanda menyadari sorot tatapan kotor pria yang tengah duduk di hadapannya ini. Ia segera berdeham agar pria itu berhenti menatapnya secara kurang ajar.
"Hmm ... Maaf, Sir, anda mendengar sapaanku, bukan?" sapa Amanda sarkas.
Ravi menyudahi tatapan mesumnya dan kini ia salah tingkah dengan berpura-pura membenahi jas yang dikenakannya.
"Oh, yah. Maaf. Aku terlalu kagum melihatmu secara langsung seperti saat ini," kata Ravi mengelak.
Amanda hanya berekspresi datar mendengar perkataan pria di depannya itu.
"Sebelum memulai semuanya. Kau bisa memesan sesuatu terlebih dahulu." Ravi menawarkan buku menu pada Amanda.
"Terima kasih. Saya hanya ingin Ice Green Tea," jawab Amanda seadanya.
"Hanya minum? Kau tidak ingin memesan makanan?" tanya Ravi lagi dan dijawab Amanda dengan gelengan.
"Tidak terima kasih. Saya masih harus menemui klien lainnya, setelah urusan kita selesai." Ravi mengangguk dan segera memanggil pelayan untuk mendekat serta memesankan pesanan milik Amanda.
Amanda mengeluarkan map yang telah ia bawa dan menyerahkan pada Ravi lembaran-lembaran yang berisi gambar rancangan bangunan pesanannya.
"Jika Anda kurang puas atas rancanganku atau ada bagian yang masih kurang menurut anda, saya bisa memperbaikinya." Ravi terlihat serius menatap lembaran yang tengah ia pegang.
Ini merupakan kali ketiga Ravi bekerja sama dengan Amanda, tapi baru hari ini, ia bertemu secara langsung dengan wanita yang merancang bangunannya.
"Aku selalu puas akan hasil kerjamu, Miss Amanda. Pekerjaanmu selalu memukau dan tidak pernah mengecewakan. I love this!" puji Ravi yang hanya ditanggapi Amanda dengan senyum tipis.
"Terima kasih atas pujiannya, Mr. Ravi. Saya hanya melakukan sesuai dengan arahan anda," ucap Amanda merendah.
"Aku mengatakan apa yang sebenarnya, Miss Amanda. Kau memang wanita sempurna, berbakat dan begitu cantik serta menarik." Kalimat bualan Ravi terdengar begitu menjijikkan di telinga Amanda .
Amanda mulai mengisap sedikit Ice Green Tea yang telah datang di hadapannya, sebelum ia berpamitan pada Ravi. Ia sudah sangat tidak betah berlama-lama di dekat pria ini.
"Sepertinya urusan kita sudah selesai. Jika ada kendala atau hal yang ingin ditanyakan mengenai desain tersebut, anda boleh menghubungi saya atau asisten saya. Saya harus pamit pulang terlebih dahulu," jelas Amanda sambil membereskan map-map yang dibawanya.
"Miss Amanda," panggil Ravi dengan suara lembut, mau tak mau membuat Amanda menoleh dengan tatapan penuh tanya.
"Ya? Ada apa?" tanya Amanda.
"Apakah nanti malam kau ada waktu luang?" Ravi bertanya balik.
"Memangnya ada apa?" Amanda menjawab dengan pertanyaan lagi.
"Jika kau luang, datanglah ke hotel tempat aku menginap. Aku akan memberikan apa pun dan berapa pun yang kau inginkan untuk kita bersenang-senang," kata Ravi dengan senyum mesum di wajahnya.
Amanda berdecak mendengar kalimat sampah yang menggores harga dirinya itu.
"Cih! Anda pikir saya pelacur! Silakan anda cari wanita lain yang bersedia dibayar dengan uang anda. Pekerjaan saya hanya sebagai seorang arsitek, tidak memiliki selingan sebagai jalang," sembur Amanda dengan emosi.
"Come on, Amanda. Kau tidak perlu munafik! Jangan takut, aku bisa membayar dengan harga tinggi. Kau tinggal sebut saja berapa nominal yang kau mau," kata Ravi dengan nada mengejek.
Amanda tersenyum sinis sambil menyiramkan Ice Green Tea miliknya tepat ke wajah Ravi. Wanita itu melenggang ke luar tanpa ucapan apa pun, meninggalkan Ravi dengan kondisi begitu memalukan.
Semua pengunjung di sana menatap Ravi dan Amanda dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Sialan! Dasar wanita jalang munafik!" umpat Ravi sambil membersihkan wajahnya dengan tisu.
******
Amanda masuk ke dalam mobilnya dan memukul stir dengan keras sambil mengumpat kesal. Pria gila yang sangat kurang ajar.
Ia merogoh tasnya mengambil smartphonenya untuk berbagi kekesalan yang tengah ia rasakan pada seseorang. Empat kali dering sambungan teleponnya tidak diangkat, tapi pada nada kelima, seseorang di sana mengangkat teleponnya.
"Kau sedang sibuk? Apa aku mengganggumu, Na?" tanya Amanda pada Nana.
"Ummh ... Yah! Tidak ... Aku tidak ... Ergh ..."
Amanda mengernyitkan dahi saat mendengar jawaban Nana. Suara desahan seperti orang yang tengah melakukan kuda-kudaan.
"Apa yang sedang kau lakukan?" desak Amanda.
"Shit! Ugh ... Aku sedang bermain kuda-kudaan, Amanda saaaayaaaang ... ugh!" jawab Nana.
Amanda memijat dahi dan memejamkan mata, mencoba menenangkan diri agar umpatan kasar tidak keluar dari bibirnya.
"Shut Up! Lanjutkan kegiatan olahraga panasmu. Dasar B*tch! Kau mengotori telingaku dengan suara desahanmu, Nana sialan!" Amanda mematikan sambungan telepon saat ia menyadari jika ia menelepon sahabatnya di waktu yang salah.
"Kenapa sahabatku mudah sekali memberikan tempat untuk celupan lolipop pria itu? Astaga! Kapan Nana akan berhenti bermain?" gumam Amanda.
*****
Setelah beristirahat sejenak di apartemen, Amanda memilih untuk memenuhi undangan dari salah satu kliennya di sebuah kelab malam ternama di Ibukota. Sudah nyaris hampir dua bulan Amanda tidak menghabiskan waktunya di sana akibat pekerjaan yang begitu padat.
Saat kaki jenjangnya yang dibalut dengan high heels merah melangkah ke dalam kelab dan tubuhnya dibungkus dengan black dress hitam tanpa lengan yang cukup menonjolkan beberapa bagian tubuh membuatnya tubuhnya terlihat sangat seksi. Para mata pria memandangnya dengan tatapan lapar dan buas. Akan tetapi, Amanda seperti biasa mengacuhkan tatapan pria-pria mesum hidung belang di sana. Ia tetap berjalan menuju meja bartender dan memilih untuk menyapa pria gemulai yang sudah lama tidak ditemuinya.
"Wow! My sexy princess garang akhirnya, kau muncul kembali setelah menghilang beberapa bulan lamanya," pekik pria cantik yang gemulai mendekati Amanda dan memeluk wanita itu dengan erat.
"Ck! Selalu saja kau bersikap berlebihan Louis," gerutu Amanda saat pelukan mereka terlepas.
"Louisa ... panggil aku Louisa, Amanda! Jangan membuatku marah padamu," rajuk pria cantik itu.
Amanda tertawa renyah, tingkah Louis, manajer kelab ini selalu membuat bebannya sedikit berkurang. Ia begitu benci ketika dipanggil dengan nama prianya, ia lebih suka dipanggil Louisa. Menggelikan.
"Baiklah Louisa!" ucap Amanda akhirnya membuat pria itu tersenyum manis.
"Kau ke mana saja, wanita garangku. Kau sudah lama sekali tidak kemari. Aku merindukanmu,"
"Pekerjaanku begitu padat. Aku bahkan tidak sempat untuk menghabiskan waktuku bersenang-senang di sini. But, I miss you too," kata Amanda.
Amanda dan Louisa terlibat percakapan cukup seru sampai wanita itu tidak menyadari jika ada sepasang mata tajam nan dingin tengah mengamatinya dari kejauhan.
"Perfect!" gumam seseorang tersenyum simpul sambil menyesapi wine yang berada dalam genggamannya.
*****
*****
Amanda pamit pada Louisa untuk menemui klien yang telah mengundangnya malam ini. Kaki jenjangnya berjalan memasuki sebuah ruangan yang telah disewa secara privat oleh si pemilik acara. Di sana ada belasan orang yang sedang berjoget-joget meliukkan tubuh, saling mengimpitkan badan masing-masing, bertukar saliva dan meremas apa pun yang bisa diremas.
Pemandangan yang lumrah di mata Amanda, meskipun wanita itu sangat jarang melakukan adegan remas meremas lagi akhir-akhir ini. Ia normal, tapi untuk melakukan free sex, dia tidak mau dan belum ada satu pria pun yang berhasil membuatnya ingin melakukan itu. Biasanya Amanda hanya mencari kepuasan biologisnya sebatas orgasmee dengan bantuan tangan seorang pria tidak dengan bantuan benda tumpul milik seorang pria. Amanda merasa ia belum siap untuk bercocok tanam dengan pria mana pun. Namun, berbeda jika 'Dia' yang mengajak Amanda bercocok tanam, maka Amanda akan membuka lebar kedua pahanya secara sukarela. Ya, 'Dia' yang tidak mungkin menoleh pada Amanda. 'Dia' yang hanya menjadi masa lalu Amanda. Lupakan saja.
Gamora, si pemilik acara yang juga seorang pengusaha restoran ternama yang memiliki beberapa cabang di Mall besar tersebar di Indonesia.
"Amanda! Thank you sudah hadir. Aku senang sekali melihatmu di sini," pekik Gamora excited.
"Kebetulan aku sudah sedikit luang. Selamat atas pertunanganmu dan Ardine, semoga kalian berdua selalu hidup bahagia," kata Amanda tulus.
"Thank you, Darling. Sayang sekali kau tidak bisa hadir di hari H pertunanganku. Sialan sekali, negara ini tidak melegalkan hubungan sejenis. Jadi, aku harus pergi ke negara lain untuk melegalkannya," gerutu Gamora.
Ya, Gamora dan Ardine adalah pasangan kekasih lesbian. Amanda hadir di sini, karena ia tidak enak hati jika tidak pernah menampakkan diri ketika Gamora, mantan kliennya itu telah mengundangnya beberapa kali dan ia selalu berhalangan hadir.
"Nikmati pesta ini, Amanda. Kau bisa minum sepuasnya. Aku harus menemui tamu yang lain yah. Aku permisi terlebih dahulu." Gamora meninggalkan Amanda sendirian.
Mata tajam Amanda berkeliling, menatapi satu persatu pasangan yang tengah bercumbu tak tahu malu di sekitarnya. Amanda tidak ingin ikut berbelok arah jika lebih lama berada dalam ruangan ini. Bisa dipastikan, sebagian besar tamu undangan Gamora adalah wanita-wanita lesbian dan ia tidak ingin dicap dengan sebutan yang sama karena berkumpul bersama mereka. Amanda masih mencintai lolipop pria. Meskipun ia tidak pernah memberikan wadah untuk para pria itu mencelupkan lolipopnya.
Amanda memilih untuk keluar dari private room itu dan melangkah menuju meja bartender. Sang bartender sudah sangat mengenal wanita garang yang tengah duduk manis di hadapannya ini. Tanpa Amanda menyebutkan apa yang ingin ia minum, sang bartender telah menuangkan segelas minuman berwarna merah maroon di hadapannya.
"You know me so well, Kai." puji Amanda dengan senyum smirknya.
Sang bartender tersenyum manis mendengar pujian Amanda. "Kau selalu sendirian. Kasihan sekali," ejek Kai.
Mata kucing Amanda melirik sinis pada Kai mendengar ejekan yang dilontarkan pria itu.
"Ck! Kau tidak pernah berubah, selalu menyebalkan seperti biasanya. Bahkan mulutmu lebih tajam dari mulutku sepertinya," sindir Amanda.
Kai tertawa renyah. Ia senang sekali menggoda Amanda dan membuat kesal wanita di hadapannya itu.
"Aku merindukan Belina," ucap Kai.
"Dia baru saja pulang. Akan kusampaikan perasaan rindumu padanya." Kai memutar bola matanya malas.
"Jika ia kembali lagi ke Indonesia, ajak ia kemari. Aku akan memberikan kalian minuman gratis sepuasnya," ucap Kai.
"Kupegang janjimu. Akan kutagih di kemudian hari."
"Trust me! Aku harus melayani yang lain. Nikmati malammu, jangan mabuk ingat itu." Sebelum pergi dari hadapan Amanda, Kai memberikan peringatan untuknya agar tidak mabuk.
Ya, kebiasaan buruk Amanda adalah jika terlalu berlebihan mengkonsumsi alkohol, ia akan mabuk berat dan itu menyusahkan semua orang. Sungguh payah!
Wanita bermata kucing itu mengedarkan pandangannya ke segala arah. Ia memainkan gelas yang tengah dipegangnya dengan gerakan begitu seksi. Di sekelilingnya sudah banyak pria yang menatapnya dengan tatapan lapar dan buas, siap untuk menerkam Amanda kapan pun. Namun, wanita itu sama sekali tidak terpengaruh. Ia tetap menyesapi minumannya dengan pelan.
Saat ia memutar tubuhnya, menghadap ke beberapa meja yang tadi berada di belakangnya, kini sudah dipenuhi para pengusaha muda yang Amanda cukup kenal karena wajah mereka sering muncul di berita televisi. Tanpa sengaja, mata Amanda bersitatap dengan sepasang mata yang menurut wanita itu begitu tajam dan dingin. Sepasang mata itu secara terang-terangan sedang menatap ke arahnya.
Pandangan Amanda beralih pada wajah pria itu. Tidak ada ekspresi, datar, dingin, kaku, rambutnya tertata begitu rapi, alisnya tebal, hidungnya mancung, bibirnya merah, memiliki belahan pada dagu dan wajahnya ditumbuhi bulu-bulu halus, membuat pria itu terlihat begitu jantan dan misterius. Pria itu memakai kemeja putih slim fit untuk membungkus tubuhnya. Amanda yakin dibalik kemeja putih itu tersimpan otot-otot dada yang bidang serta lengan yang kekar.
Perfect! Satu kata untuk menggambarkan fisik pria itu.
Ini kali pertama bagi Amanda memberikan penilaian begitu detail pada seorang pria asing yang tidak dikenalinya. Sial! Kenapa otak Amanda kini malah dipenuhi pujian mendewakan pria asing itu. Ia benci harus memuji seorang pria. Di mata Amanda yang paling sempurna hanyalah 'Dia', seseorang di masa lalunya yang telah memberikan luka begitu besar padanya, tapi begitu sulit untuk amanda lupakan.
Amanda menghela napas panjang dan pandangan pria itu sama sekali tidak beralih ke mana pun. Pria itu masih menatap Amanda dengan tatapan yang tidak bisa Amanda artikan. Sekilas Amanda melihat pria itu tersenyum simpul. Mata Amanda begitu tajam meskipun dari jarak yang cukup jauh, wanita itu masih mampu mendeteksi pergerakan ekspresi seseorang.
Wajah pria itu berlipat-lipat semakin menjadi tampan ketika senyuman itu tersungging di wajahnya. D*mn! Minuman terkutuk ini sepertinya membuat isi kepala Amanda menjadi sedikit eror karena selalu memuji pria yang tak dikenalinya itu. Adegan tatap menatap itu terhenti ketika Louisa lagi-lagi menghampiri Amanda.
"Kenapa kau berada di sini? Kau tidak jadi menemui Gamora?" tanya Louisa penasaran ketika melihat Amanda berada di luar Private room.
"Aku sudah menemuinya tadi dan memberikan ucapan selamat untuknya. Akan tetapi, untuk menetap di sana? Oh, come on, Louisa. Aku ini straight, aku tidak ingin berada dalam jurang kaum kalian semua," jelas Amanda dan Louisa tertawa terbahak.
"Sial*n! Mulutmu selalu saja tajam. Kau secara terang-terangan mengejekku," kata Louisa.
"Bukankah kenyataannya memang seperti itu. Kau penyuka lolipop, bahkan kau sendiri memilikinya!" Kalimat Amanda terus saja membuat Louisa tertawa terbahak.
Amanda yang Louisa kenal adalah wanita yang begitu menikmati menjadi dirinya sendiri tanpa memikirkan ocehan orang lain mengenainya. Wanita itu berbicara apa adanya tanpa memikirkan lawan bicaranya, maka dari itu ia terkenal dengan wanita bermulut pedas dan garang.
"Lain kali aku akan membawa ikat rambut, agar bisa menguncir bibirmu yang tajam itu," kata Louisa.
"Aku menunggu saat itu tiba, Louisa," jawab Amanda sekenanya.
"Aku harus meninggalkanmu lagi. Aku harus menemui klien. Enjoy your time. Jangan minum alkohol berlebihan. Aku tidak mau menggendongmu pulang lagi." Louisa memberi peringatan dan Amanda mengacungkan jari tengahnya sambil tersenyum cukup lebar.
Amanda kembali lagi menempelkan bibir yang dipoles dengan lipstik merah cerah itu di pinggiran gelas. Ia menyesapi minuman itu dengan nikmat.
Rasa penasaran menghampirinya, membuat matanya kembali menoleh ke arah pria misterius yang memiliki tatapan tajam dan dingin yang menatapnya begitu intens tadi. Namun, Amanda harus kecewa karena pria itu sudah tidak ada di sana lagi. Wanita itu mendesah dan kembali menunduk memainkan pinggiran gelas dengan jempolnya yang berisi wine dengan pikiran kemana perginya pria itu. Saat Amanda larut dalam pertanyaan-pertanyaan yang tak masuk akal menurutnya, tiba-tiba wanita itu meremang saat suara rendah dan berat berbisik di samping telinganya.
"Kau mencariku?" Amanda menoleh cepat. Suara bisikan itu tidak hanya rendah dan berat, tapi juga terdengar seperti desahan membuat gelenyar aneh muncul pada diri Amanda.
Pria yang tengah menari-nari dan menghiasi isi kepala Amanda kini tengah berdiri tepat di depannya. Tubuh atletis pria itu condong ke depan tubuh Amanda dengan kedua lengan kekarnya mengungkung wanita itu berpegangan pada meja bar. Aroma parfum maskulin dan juga mahal yang dipakai pria itu terendus di kedua lubang hidung Amanda. Aroma yang memabukan yang bisa merusak sarap otaknya jika terus menerus dihirupnya.
Amanda memberanikan diri untuk menatap kedua bola mata dengan manik cokelat terang milik pria asing itu. Tatapan pria itu begitu tajam dan mengintimidasi Amanda. Jika lebih lama ditatap, Amanda yakin ia akan terhipnotis.
"Siapa kau!" desis Amanda.
Senyum smirk yang ditampilkan pria itu membuat bagian paha dalam Amanda berkedut tanpa diminta. Double Sialan! Wajah pria itu berlipat menjadi lebih mempesona dan seksi dalam satu waktu.
"Siapa aku? Itu bukan hal penting!" ucap pria itu.
Amanda masih menunggu kelanjutan ucapan pria tampan misterius itu. Mendengar suaranya mampu meremangkan sekujur tubuh Amanda. Hampir lima menit hening. Pria itu tidak melanjutkan ucapannya, membuat Amanda bertanya lagi.
"Lalu, untuk apa kau berdiri di depanku!" desis Amanda dengan suara ketusnya.
Pria itu tersenyum lebih lebar dan mendekatkan wajahnya membuat Amanda refleks membuang muka menghindar, siapa tahu pria itu akan menciumnya sembarangan. Akan tetapi, kenyataannya pria itu hanya berbisik di telinga Amanda.
"Aku hanya ingin kau bersamaku. Di ranjangku!" bisik pria itu tanpa wajah bersalah.
Amanda tersenyum miring mendengar bisikan pria itu. Sebelah tangan kanan Amanda dengan gelas yang berisi separuh wine miliknya sudah berada di atas kepala pria malang itu. Rambut pria itu sudah basah akibat perbuatan Amanda dan gelas nakalnya.
"Hanya dalam mimpimu, Tuan!" desis Amanda.
Tubuh pria itu didorong dengan kuat sehingga Amanda bisa lepas dari kukungannya dan berjalan melenggang ke luar kelab tanpa rasa bersalah. Raut wajah puas tercetak di wajah cantiknya, sedangkan pria itu hanya tersenyum miring menanggapi perlakuan yang menurutnya menantang ini.
"Let's see! Awal permainan yang bagus, Amanda," gumam pria yang menjadi korban kesekian tuangan minuman milik Amanda.
Darko menyeringai menatap punggung dan bokong sintal wanita pemberani itu yang perlahan menghilang dibalik pintu.
***