Bab 1

“Ini surat gugatan cerai, tolong ditanda tangani. Dan silahkan angkat kaki dari sini, tidak usah pikirkan kami lagi. Aku sanggup ngasih makan anak-anak” kata Nadia, istriku sambil menyodorkan amplop coklat ketanganku.

Kutatap wajahnya, meneliti kebenaran dari apa yang barusan aku dengar. Bingung, benarkah itu keluar dari mulut sang istri yang selama ini aku cintai dengan sepenuh hati, dan selalu kuturuti setiap kemauannya.

“Apa lagi yang kau tunggu. Cepat tanda tangani surat ini dan segera pergi dari sini. Ingat jangan bawa apa-apa dari rumah ini. Karena ini sudah jadi hak anak-anak,” bentaknya.

“Astagfirullah. Apa maksud semua ini? Aku baru saja sampai, bukannya disuruh masuk malah disuruh tanda tangan surat cerai?” kataku masih dengan lembut.

Tapi sepertinya Nadia sudah seperti orang kesetanan. Kutatap ayah dan ibunya yang juga berada disana. Berharap akan mengatakan kalau semua ini tidak benar. Tapi mereka hanya diam seakan-akan mereka juga menginginkan aku pergi dan menceraikan anak mereka.

“Apa salahku? Sepuluh tahun lebih kita bersama. Menjalani suka duka bersama. Selama itu pula aku berjuang, bekerja apa saja asalkan kalian bisa hidup layak. Tak peduli siang malam aku membanting tulang. bahkan aku rela jauh dari anak-anak asalkan aku bisa menabung dan membangun restoran impianmu sejak dulu.

Tapi kenapa setelah semua nya tercapai dan aku ingin pulang dari pekerjaan yang jauh diluar kota. Kepulanganku karena aku ingin membantumu menjadikan restoran ini lebih besar lagi. Kenapa Nadia? kenapa kamu sekarang berubah? Ada apa?”.

“Tak perlu lagi kau bertanya. Jawab nya aku sudah tidak mencintaimu lagi”. Katanya sambil menatapku dengan marah.

“Sudahlah Rud… Tanda tangani saja. Apa juga susahnya sama kamu. Toh anak-anak jadi Tanggungjawab Nadia semuanya. Kamu bisa bebas sekarang. Mau cari istri lagi juga tidak akan ada yang larang” kata mertuaku.

Langit serasa runtuh, bumi tempat aku berpijak pun terasa bergoyang untuk sesaat aku merasa dunia berhenti berputar. Bukan karena aku kecewa berpisah dengan Nadia yang memang sudah sering kudengar kabar kalau dia sering berselingkuh di belakangku.

Tapi berpisah dengan anak-anakku yang masih kecil-kecil merupakan pukulan yang sangat berat bagiku. Perlahan ku ambil kertas dan pena di atas meja. Kutanda tangani surat cerai itu. Dan berjalan keluar sambil menyambar ransel yang tadi kuletakkan dilantai. Sesampai didepan pintu aku menoleh kebelakang dan berkata

“Nadia. Aku sudah menceraikan kamu. Semoga kamu bahagia dengan semua yang kamu punya. Selamat tinggal” kataku dan berjalan cepat menuju jalan raya tanpa menoleh lagi.

Tak terasa airmataku bercucuran, bersamaan hujan lebat mengguyur tubuhku. Kuseret langkahku menuju sebuah warung dipinggirkan jalan. Warung kecil dengan atap terpal berwarna biru itu persis dibawah pohon besar. Aku berharap bisa berteduh disana. Hatiku lebih pasrah jika saat itu ada sebuah truk yang lalu lalang menabrak tubuh tak berguna ini. Atau halilintar yang menyambar menghanguskan semua kenanganku tentang Nadya dan juga kota ini.

Namun, tiba-tiba terbanyang senyum manis putri kecilku yang ceria, senyum dan tawanya saat menyambutku datang. Tapi hari ini aku bahkan belum sempat bertemu dengannya. Ingin kucium lagi wajah manis nan mungil itu, ingin kupeluk lagi tubuh kurus itu. Dia akan terkekeh geli saat kusodorkan sebatang coklat dihidung mancungnya itu.

“Oh, Tuhan. Aku sangat merindukannya”.

Kulangkahkan kakiku menuju warung itu, sambil tersenyum aku berkata pada pemilik warung itu. “Teh hangat satu, mba”. Sekilas pemilik warung menatapku, lalu mengangguk. Wanita bergamis dan berhijab lebar itupun berlalu. Tak berapa lama keluar dan meletakkan teh manis yang masih mengepul didepanku. “Silahkan, mas” katanya lalu duduk dipojok.

Setelah hujan agak reda, aku pun membayar teh dan beberapa cemilan yang kumakan untuk mengganjal rasa lapar. Aku pun melangkah keluar dan kembali menyusuri jalanan yang tadi kulewati, Aku ingin ketemu dengan putriku, Maura.

Terbayang tawa riang nya saat menyambutku, sudah sebulan aku tak bertemu dengannya. Seperti apa gadis kecilku itu sekarang. Baru saja aku melangkah memasuki restoran, suara garang Nadia langsung terdengar.

“Mau apa lagi kamu kemari? “

“Aku tidak ingin menemuimu Nad, aku ingin ketemu Maura. Aku merindukan anakku”. Kataku perlahan. “Tidak perlu. Maura tidak butuh kamu lagi”.

“Dimana dia, Nad? “.

“Aku tidak akan izinkan Maura bertemu dengan ayahnya lagi, kalau kamu ingin bicara dengannya bicara saja ditelpon. “

Sia-sia sudah aku merendahkan diri dengan datang lagi kerestoran itu, baiklah aku akan kerumah mereka saja.

Kuketuk pintu perlahan, wajah gadis 8 tahun itu selalu bermain dimataku.

Tok tok tok

“Assalamualaikum”

“Wa alaikum salam”

Tergesa pintu dibuka, keluarlah seoarang gadis kecil dari balik pintu dan tersenyum padaku. Tapi tunggu, dia bukan Mauraku

“Cari siapa, Om? ” sapanya mengagetkanku.

“Maura nya ada? Kamu teman Maura ya? Nama kamu siapa? ” kataku. Aku yakin gadis kecil berhijab ini adalah teman anakku yang datang main kerumah.

“Saya tidak kenal dengan Maura, Om. Mungkin Om mencari penghuni lama rumah ini. Udah hampir sebulan saya dan umi tinggal disini”. Kata gadis kecil itu.

Aku terhenyak mendengar keterangan anak itu, kemana anakku? Apa mungkin Nadia sengaja menghindarkan anakku dariku.

Kutanyakan pada pemilik kontrakan dan para tetangga. Namun nihil.

Mereka tidak ada yang tahu. Kata mereka Nadia sudah membeli sebuah rumah namun, tidak ada yang tau alamatnya.

Azan maghrib mulai berkumandang, pertanda pergantian siang menjadi malam. Kulangkahkan kaki menuju sebuah musholla, setelah sholat aku akan mohon izin pada penjaga mushalla itu agar aku diizinkan bermalam disini, malam ini saja. Besok pagi aku akan mencari Maura kesekolahnya.

Pagi harinya aku sudah duduk di sebuah warung diseberang jalan depan gerbang sekolah Maura. Sengaja duduk disamakan supaya Nadia tidak melihatku saat dia mengantar Maura. Namun sampai siang tak terlihat Maura ataupun Nadia.

Setelah semua murid pulang, akupun masih setia duduk disana. Kuhampiri seorang anak yang sebaya dengan Maura, sepertinya dia sedang menunggu jemputan.

“Dek, kamu kenal dengan Maura? ” tanyaku sambil tersenyum.

“Kenal, Om. Tapi Maura tidak sekolah disini lagi”. Katanya takut-takut.

Mataku terasa panas. Kuputuskan kembali kekota tempatku bekerja. Aku berjanji akan mencari Maura. Pintar sekali Nadia menyiksaku. Dengan menjauhkanku dari putri kesayanganku adalah siksaan buatku.

Bab 2

Bagiku hujan membawa rasa dingin yang menyebabkan perasaan nyaris beku. Itu terasa selama bertahun-tahun. Namun, hujan kali ini terasa berbeda. Aku menikmati dinginnya. Ternyata, dingin itu tidak menakutkan. Aku hanya harus berani menghadapinya.

Mama selalu bilang hujan bermakna keberkahan. Titik-titik air itu menjadi simbol rezeki. Kehidupan tetap berjalan karena terpenuhinya salah satu sumber hidup itu sendiri.

Hujan selesai turun. Namun, mendung masih tebal. Aku berlari-lari kecil menghindari kubangan air. Sepatuku basah. Demikian juga pakaian yang kukenakan. Aku merindukan sofa, secangkir kopi, dan buku yang ingin kubaca. Itu sebabnya, sesampai di rumah, segera kututup pintu. Dengan tergesa-gesa kubersihkan tubuh. Dengan hanya berbalut jubah mandi, kujerang air.

Ternyata benar. Hujan turun lagi. Lebih cepat dari dugaanku semula. Gemuruh guntur terdengar. Tempias hujan mengumpulkan titik-titik embun di jendela. Kusentuh kaca jendela dan kugerakkan telunjuk di sana. Kucoba menulis sesuatu meski tahu tulisan itu akan hilang beberapa saat kemudian. Tak apa. Aku hanya ingin menulis di sana.

“Kamu masih menyukai hujan meski tak suka dinginnya?” Aku terkejut dan lekas menoleh. Kamu berdiri dengan kedua tangan berada di saku celana. Tubuhmu setengah bersandar di pintu. Tatapanmu mengingatkanku pada masa bersama selama dua belas tahun.

Tanganku bergerak merapatkan jubah mandi yang kukenakan. Dalam hati aku menyesal tidak segera berpakaian. Namun, sebenarnya aku tidak salah. Ini rumahku. Aku berhak mengenakan apa pun di sini. Pertanyaannya, mengapa kamu ada di sini?

Baca juga: Meneguk Air Mata

Aku merasa gugup. Memang kamu juga punya kunci pintu rumah ini. Aku baru ingat kuncinya memang belum kamu kembalikan padaku. Suara air mendidih mengalihkan perhatian. “Kopi?” tanyaku.

Kamu mengangguk. Kusiapkan dua cangkir kopi. Satu cangkir kopi tanpa gula untukmu, dan satu cangkir kopi dengan sedikit gula untukku. Kuletakkan cangkir kopi. Kita duduk berseberangan di meja bundar yang ada di tengah dapur.

Aku tak tahu apa yang membawamu hadir di sini, di tengah hujan seperti ini. Jadi, kuputuskan menunggu penjelasanmu. Kupandangi cangkir kopi yang mengepulkan uap. “Apa kabarmu?” Suaramu masih begitu tenang. Seolah memang tak pernah ada badai mengamuk di dalam hatimu.

Aku mengalihkan perhatian dari cangkir kopi ke wajahmu. “Baik seperti yang kamu lihat.”

“Kamu tampak bahagia dan sedikit gemuk.” Aku mengangkat bahu. Perempuan tidak suka dianggap gemuk. Berat badanku memang sedikit bertambah. Namun, bagiku itu bukan masalah.

“Kamu bahkan minum kopi manis sekarang.” Bagiku, sesekali menambahkan sedikit gula juga bukan masalah. Kutelusuri bibir cangkir dengan jemariku. Kurasai hangat cangkir kopi itu. Kamu berdeham. Mungkin kamu ingin membuatku mengalihkan perhatian dari cangkir ini kembali padamu. Namun, aku lebih suka memandangi cangkir kopi ini. Bahkan, aku lebih suka mendengar bunyi hujan yang sepertinya makin deras saja di luar sana.

“Re, aku minta maaf.” Aku diam saja. Untuk apa kamu datang dan mengucapkan ini?

“Aku minta maaf jika selama kita bersama, kamu sedemikian tersiksa denganku. Setelah kita berpisah dan kulihat kamu makin bahagia, akhirnya bisa kupahami bahwa inilah yang kamu butuhkan. Kamu menunggu cukup lama, dua belas tahun, bersama lelaki yang salah.”

Aku masih menunduk dan memandangi kopi. Sesungguhnya aku pernah menunggu kata-kata ini. Namun, akhirnya kutahu sesuatu. Aku tidak membutuhkan itu. Aku hanya ingin kamu jauh, meski tak berarti membencimu.

“Bagaimana studimu?” Kali ini aku mengangkat wajah. Empat puluh lima usiamu. Wajahmu terlihat tirus. Kantung mata menggayut menunjukkan kamu masih suka menghabiskan waktu bekerja nyaris tanpa istirahat. Sebenarnya apa yang kamu cari?

“Lancar,” jawabku pendek. Kulihat kamu tersenyum. “Syukurlah. Anak-anak pun tampaknya tidak mengalami kendala yang berarti. Setiap kali bersamaku, mereka tampak bahagia. Kuharap setiap mereka bersamamu pun mereka merasakan hal yang sama.”

“Ya. Bertahun-tahun aku khawatir dengan mereka. Nyatanya, kekhawatiran itu tidak beralasan. Mereka baik-baik saja.” Aku mengangkat bahu. Sudah kualami masa ketika anak gadisku menolak keputusan berpisah ini dan membela ayahnya. Namun, itu sudah berlalu.

“Mereka sempat merasa sedih juga,” kataku setelah menyesap kopi.

Kamu mengangguk. “Ya, benar. Sesekali dalam hidup ini memang kita mengalami masa seperti hujan menjelang Imlek. Hujan yang meski menjadi pertanda keberkahan, tapi juga terasa dingin dan membuatmu mudah sakit.”

Ah, kamu masih ingat rupanya kalau aku mudah sakit karena dingin. Kupikir selama ini kamu bahkan tak tahu kalau aku tak bisa terkena dingin. Kunyalakan sebatang rokok. Kubiarkan asap rokok menyatu dengan uap kopi. Kemudian kubayangkan keduanya berlarian ke luar dan berbaur dengan angin yang menyertai hujan yang masih turun.

Baca juga: Berenang di Kala Hujan

“Apakah kamu membenciku, Re?” Pertanyaanmu membuatku bingung. Mengapa aku harus membencimu? Bukankah sudah sangat jelas apa yang kulakukan selama ini?

“Kupikir akulah hujan itu untukmu. Hadir meski kamu tak peduli. Kamu mungkin tak tahu apa bedanya hujan ini dengan hujan di waktu yang lain. Semakin lama bersamamu, semakin aku tahu bahwa aku tidak pernah berada di prioritasmu. Tapi aku bisa apa? Atau aku memangnya mau apa? Kupikir anak-anak yang ada di urutan pertamamu. Nyatanya tidak. Semua yang kamu lakukan sebenarnya adalah tentang dirimu sendiri.”

Kamu terdiam. Kamu pandangi cangkir kopi itu. Aku baru sadar kamu tak mengeluarkan rokok. Kamu juga tidak tergoda mengambil rokok milikku. Apakah aku melewatkan banyak hal? Rasanya tidak. Kamu memang sudah lama tidak merokok. Sedangkan aku, seperti keinginanku dulu, kembali merokok.

“Aku mungkin yang harus minta maaf padamu karena mengambil keputusan berpisah. Muncul pemikiran dalam diriku bahwa kehidupanku sama pentingnya dengan kehidupanmu. Itu sebabnya, kupikir tak ada yang lebih bijak dari keputusan berpisah ini. Lagi pula, sama seperti hujan yang turun, kita harusnya bisa saling menghidupi bukan sibuk dengan diri sendiri,” kataku.

“Apakah …”

“Tidak ada.” Aku tahu apa yang ingin kamu tanyakan. Sudah terlalu banyak orang yang bertanya hal yang sama. Dengan nada ragu-ragu yang sama dan kekentalan kecurigaan yang sama. “Tidak ada siapa-siapa. Baik itu yang memengaruhi, atau menunggu kesendirianku,” kataku. Kulihat kamu menghela napas. Mungkin terselip sedikit rasa malu.

“Selama ini kupikir kamu adalah batu yang akan terkikis karena tempaan hujan. Aku pikir kamu akan berubah. Maksudku, keputusan untuk menikah kan berarti ada banyak yang harus diubah.” Aku berdeham. Kutegakkan posisi dudukku kemudian kembali berkata, “Bagaimana pun, setiap orang yang memutuskan menikah mestilah saling menyesuaikan diri. Tapi kurasa, aku salah. Kamu bisa meneruskan apa yang selama ini kamu lakukan. Aku bisa meneruskan hidupku.”

“Tapi aku mencintaimu.”

Aku ingin tertawa. Tawa yang keras dan deras serupa hujan di luar sana. Kumatikan rokokku. Kulirik jam dinding dan berkata, “Sudah malam. Anak-anak sedang di rumah Mama selama akhir pekan ini. Ada baiknya kamu pulang.”

Sama seperti hujan yang turun, kita harusnya bisa saling menghidupi bukan sibuk dengan diri sendiri.

Kulihat selarik luka di sorot matamu. Kamu kemudian berdiri, tersenyum sekilas lalu melangkah menuju pintu. “Aku ingin mengajakmu memulai lembaran baru,” katamu perlahan.

“Kita baru saja memulai lembaran baru, bukan?” tanyaku.

Kamu mengangguk. Kemudian pergi, berjalan perlahan di bawah guyuran hujan. Hujan yang tak bisa kamu bedakan dengan hujan di masa yang lain.

Bab 3

Setiap malam Ayah dan Ibu selalu bertengkar entah apa masalahnya tapi aku sangat takut ketika Ibu dibentak oleh Ayah. Setiap mereka bertengkar aku selalu diam di kamar dengan perasaan sedih dan memeluk adikku.

Namaku Sinta umurku 10 tahun. Aku tidak mengerti kenapa mereka selalu bertengkar. Saat Ayah pulang larut malam saat itulah mereka selalu bertengkar saat itu aku dan adikku sedang tidur tapi terbangun mendengar suara bentakan Ayah kepada Ibu.

Ingin rasanya ku menanyakan hal ini tapi jika aku menanyakan ini kepada Ibu atau Ayah mereka pasti marah dan jika aku menanyakannya kepada Nenek. Aku belum tau jawabannya dan saat aku ke rumah Nenek aku akan menanyakannya.

“Sinta, besok kita ke rumah nenek ya” Kata Ibu

“Iya bu” Kataku

“Ya sudah sekarang kamu tidur” Kata Ibu sambil mengecup keningku. Namun kelihatannya Ibu menangis, tapi entahlah. Aku pun tertidur bersama adikku. Umur adik ku 5 tahun ia bernama Syila.

Esok harinya. Aku, Ibu dan Syila pergi ke rumah Nenek. Disana Ibu dan Nenek mengobrol dan terlihat Ibu menangis. Aku berpikir mungkin Nenek memarahinya srperti Ibu memarahiku jadi menangis. Saat Ibu pergi ke dapur aku menghampiri Nenek.

“Nek apa yang terjadi pada Ibu dan Ayah” kataku

“Sudahlah jangan pikirkan mereka, Belajar saja yang benar dan jaga adikmu itu” Jawabnya singkat yang membuatku tidak puas akan jawabannya.

Hari berlalu begitu cepat. Aku melihat Ayah pergi meninggalkan rumah, aku sudah mencegah Ayah namun Ayah hanya memelukku erat dan berpesan “Jaga Ibu dan adikmu jangan tinggalkan mereka”. Aku hanya tersenyum dan aku tidak mengerti kenapa Ayah pergi dari rumah. Ibu hanya terdiam dan menarik tanganku untuk masuk ke dalam rumah.

“Bu Ayah mau kemana Bu?” kata ku

“Dia bukan Ayahmu lagi” kata Ibu membentakku

“Dia Ayahku Bu!” Aku pergi ke kamar dan menangis tersedu-sedu.

Hari berlalu begitu cepat. Di sekolah aku selalu jadi bahan bullyan oleh temanku katanya “Ayahnya pergi dan tidak punya Ayah lagi” Saat itu aku selalu berfikir kemana Ayah. Aku merindukannya aku ingin bertemu dengannya. “Ya allah aku mohon pertemukan aku dengan Ayah aku sangat merindukannya, biarkan jika aku harus bertemu dengannya di dalam mimpi aku sangat bahagia” Ucapku dalam hati.

Suasana di rumah sejak tidak ada Ayah jadi berbeda Ibu selalu pulang malam dan aku selalu dimarahi. Aku mengerjakan semua pekerjaan rumah sendiri tanpa bantuan karena adikku masih kecil jadi tugasku untuk mengurusnya karena Ibu jadi berbeda. Aku bertanya kepada Nenek “Kemana Ayah?” namun Nenek menjawab

“Ayah dan Ibumu bercerai”. Aku tidak tau apa arti perceraian yang aku tau mungkin Ayah pergi karena alasan tersebut. Ingin rasanya aku disayangi oleh Ibu dan Ayahku seperti dulu tidak seperti sekarang Ayah pergi dan Ibu jadi berubah.

AKU INGIN SEMUANYA SEPERTI DULU

Hidupku berubah sejak Ayah pergi dan Ibu berubah.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED