Bab 1

Di dalam dapur berukuran 3×5 itu, bau harum dari dalam oven menguar. Perempuan yang tengah berkutat dengan buku resep buatannya itu begitu fokus. Hingga suara ting dari oven terdengar, perempuan itu baru bangkit, menggapai oven glove.

Ketika tutup oven dibuka, bau harum langsung menyerbu keluar. Perempuan itu, Tari, tersenyum senang melihat resep barunya berhasil. Dia mengeluarkan nampan dari dalam ovel, lalu meletakkannya di meja.

"Cantiknya."

Kue dengan kombinasi abstrak warna merah dan putih. Tari sendiri memang suka membuat resep baru yang terinspirasi dari resep lainnya. Dia mempunyai sebuah toko kue yang dia bangun sendiri. Dengan uang tabungannya selama kuliah, yah tentu saja uang sakunya dia dapat dari orang tuanya.

"Oby pasti suka," ujarnya, menyebut panggilan sayang untuk suaminya, Deo.

Ponsel yang tergeletak di sampingnya bergetar. Tari menggapainya, melihat nama Oby tertera di layar. Dia melepas oven glove di tangannya, lalu menjawab panggilan dan menempelkan ponsel ke telinga kiri.

"Ada apa by?"

Dua detik kemudian baru terdengar suara. Namun, itu bukan suara Deo, melainkan seorang pria yang tak Tari kenal. Alisnya mengernyit, mendengar suara di sebrang bergumam canggung.

"Siapa?" tanya Tari.

"Sorry … lo istrinya Deo, kan? Gue bartender di club tempat dia tampil malam ini. Gue ambil hpnya buat hubungin lo karena dia mabuk berat. Tadi hampir adu tinju sama pacar Nadine."

Alis Tari bertaut. Dia merubah ponselnya ke telinga kanan. "Nadine? Kok bisa? Eh, nggak usah diceritain. Club Hourse, kan? Gue ke sana sekarang."

"Iya—"

Tari mematikan sambungan sepihak. Dia langsung melepas apronnya, melipatnya asal. Kaki melangkah cepat, menggapai long blazer dan kunci mobil di atas meja.

"Ada-ada aja. Bisa-bisanya berantem sama pacar orang. Pacarnya si uler lagi," gerutunya, berlari cepat keluar unit apartemennya.

Tari memarkir mobilnya di tengah mobil-mobil kecil dengan harga selangit. Tentu saja. Club yang dia datangi adalah salah satu club terbesar di Jakarta, yang hanya bisa didatangi orang-orang ber-uang. Biaya masuknya saja lebih mahal dari harga menginap di hotel bintang lima.

Tari tersenyum pada kedua penjaga di pintu, yang dibalas denagn anggukan kecil. Dia tak perlu membayar atau memesan dahulu. Pelanggan VIP kalau kata Deo, karena suaminya yang tampan itu adalah disjoki kebanggaan Hourse Club.

"Tar!"

Seorang perempuan berambut merah berlari mendekat. Dia adalah teman SMA Tari dan Deo, Cloe namanya. Anak orang kaya, yang sukanya bermain di club bahkan sejak masih SMA.

"Lo lihat Deo nggak?" Tari menggelengkan kepala, melihat Cloe yang terhuyung-huyung.

"Enggak, tuh! Kenapa? Dari pada urusin suami lo itu, mending ikut gue seneng-seneng yok! Ada bule di sana beb!" Nada bicara Cloe naik turun, tak beraturan.

"Lo minum berapa botol sih?" Aroma alkohol menyapa hidung Tari, membut kepalanya pening. Dia tidak suka minuman yang memiliki rasa tajam itu. "Lo beneran nggak lihat Deo? Katanya ada job di sini malam ini. Oh, iya. Dia tadi juga ada ribut sama pacar Nadine."

Cloe menggaruk kepala dengan bibir mengerucut. "Nadine …? Oh! Iya, beb. Tadi ada Nadine di sini. Sendirian kok, dia langsung ke sana."

Telunjuk Cloe bergetar, mengarah ke lorong gelap. Tari mengernyitkan alis, sangat tahu tempat apa itu. Tempat para pasangan yang ingin menuntaskan kesenangan, melewati malam-malam penuh jrit mesra bersama-sama.

"Nadine ke sana sendirian?"

Cloe mengangguk. Tari berdecak, dia memberi tepukan singkat di bahu Cloe. "Jangan minum lagi, pulang aja," nasihatnya, sebelum memutuskan melihat tempat yang Cloe maksud.

Setahunya Nadine akhir-kahir ini hidup dengan benar. Dia juga beberapa kali mendengar dari Deo kalau Nadine sudah tidak pernah mabuk-mabukan di club, atau menari dengan pakaian minim di atas lantai dansa seorang diri.

Tari menghentikan langkahnya setelah masuk lumayan jauh ke dalam lorong temaram itu. "Gue ngapain ke sini? Nadine mau ngapain juga bukan urusan gue."

Tujuannya adalah mencari Deo, sang suami yang entah ada di mana. Dia jadi meragukan ucapa si penelpon yang berbeda dengan Cloe. Dia hampir saja kembali, tapi seorang pria yang menggenggam ponsel dengan gantungan serupa dengan miliknya membuatnya berhenti.

Gantungan kupu-kupu dengan sayap berwarna merah dan biru. Itu ponsel milik Deo. "Lo! Stoo!" Melangkah cepat, Tari menghampiri pria bertopi hitam itu. Tanpa aba-aba dia menarik ponsel Deo, memastikan itu benar-benar ponsel suaminya.

"Lo yang nelpon gue?" tanyanya, setelah melihat wallpaper ponsel, fotonya bersama dengan Deo.

Pria itu mengangguk. "Deo ada di salah satu kamar," ucapnya.

Tari menoleh ke belakang, melihat kamar-kamar yang tertutup dengan alis mengernyit. "Dia semabuk itu?" tanyanya.

Pria bertopi hanya mengangguk singkat. "Nomor 25," beritahunya.

"Oke. Makasih, yah." Dia kembali melangkah di lorong dengan lampu redup berwarna-warni itu. Matanya menatap awas sampai menemukan papan bertulis angka 25. Sebelum mendorong pintu, Tari menatap pria bertopi lagi untuk memastikan.

Pintu kayu itu dia dorong perlahan. Kegelapan menyambut Tari. Tangannya meraba-raba dinding, menekan saklar di dekat pintu. Seketika ruangan itu diterangi cahaya dari lampu di langit-langit. Tari bisa melihat dengan jelas setiap inci dalam kamar itu.

Di atas ranjang, dua orang tengah saling menindih, tanpa satupun busana di tubuh mereka. Si wanita mendongak menatap langit-langit, membiarkan pria di atasnya bermain-main di lehernya.

Tari mengerjap pelan. Dia hampir saja menutup pintu lagi, kalau tidak menangkap tato kupu-kupu di bahu si pria. Alisnya bertaut, mulutnya terbuka kecil.

"D-deo?"

Gerakan pria itu terhenti. Dia mengangkat kepala, tanpa sengaja beradu pandang dengan Tari. Mulut Tari terbuka lebar, melihat wajah yang teramat familier itu. Dia membuang muka, di detik selanjutnya dia keluar dan membanting pintu kasar.

"Ah! S-sial! Apa-apaan!"

Menjambak rambut, Tari berkedip beberapa kali menatap pintu yang tertutup. Dia ganti melihat pria bertopi yang hanya berdiri diam. Tangan Tari kembali menyentuh gagang pintu. Tetapi, dia tidak mampu untuk mendorong sebilah pintu itu.

"Bangsat!"

Memilih pergi, Tari melangkah cepat menjauh dari kamar itu. Dia berhenti sejenak di samping pria bertopi yang kini menunduk. Tari baru bisa mengenali wajah pria itu, dia mantan pacar Nadine yang dicampakkan beberapa bulan lalu.

"Sial! Lo nggak mau putus sendiri?"

Dengan sengaja Tari menabrak bahu pria itu. Keluar dari lorong menyesakkan itu. Dia melangkah bertambah cepat, membelah kerumunan orang yang makin ramai karena sudah malam. Dia tidak peduli walau beberapa orang berteriak marah karena tertabrak olehnya.

Keluar dari club, Tari merogoh saku blazer untuk menemukan smart key, menekan salah satu tombol hingga mobilnya berbunyi. Tari berlari menghampiri mobilnya. Tangannya yang bergetar menarik pintu mobil kuat.

Dia masuk, menutup kembali pintu lalu langsung berusaha menyalakan mesin mobil. "Ahh!" Tetapi, mesin tak juga menyala. Dia kembali mencoba, hingga percobaan ke lima baru berhasil.

Namun, wajah Deo tiba-tiba muncul di kaca jendela. Pria itu mengenakan kaus yang terpasang terbalik, memukul-mukul kaca sambil berteriak memanggil Tari. Sekalipun Tari tak menoleh. Dia segera menginjak gas, memutar setir keluar dari parkiran.

Dia masih bisa mendengar umpatan Deo, yang langsung berteriak mencari kunci mobilnya. Tari tak peduli, menambah kecepatan hingga mobilnya sampai di jalan raya. Pandangannya kabur, membuatnya tak bisa melihat dengan benar.

Berada di jalan dua arah, hampir saja Tari melewati garis batas. Beberapa mobil membunyikan klakson, membuat Tari terkejut dan menginjak rem. Klakson semakin kencang orang bunyikan saat mobil Tari berhenti di tengah jalan.

Perempuan itu panik, menginjak gas dan menepikan mobil ke kiri. Napasnya memburu, kepalanya terasa pening bukan main. Menjambak rambut hingga ikatannya berantakan.

Tari membenturkan kepalanya ke setir beberapa kali. Dia menggeram keras, mengertakkan gigi kuat. Tangannya mengepal, memukul setir hingga memerah.

"Ahh!" teriaknya. Dia menggigit bibir kuat, membuang muka ke jendela, menatap beberapa pejalan kaki yang berjalan di trotoar. Tanpa bisa dia cegah, air matanya menetes begitu saja.

Bab 2

Dua bulan sudah berlalu sejak hakim mengetuk palu, memutuskan ikatan suami istri antara Tari dan Deo. Keduanya duduk seakan mereka orang asing, lalu pergi begitu saja setelah sidang berakhir. Proses perceraian berjalan tak terlalu rumit.

Tak ada satupun sidang yang mereka datangi selain sidang putusan terakhir. Walau awalnya Deo menolak keras, tapi dia tak bisa melakukan apapun ketika Tari akhirnya menunjukkan foto-fotonya ketika bersama dengan Nadine.

Tari mendapatkan semua foto itu dari mantan pacar Nadine, lelaki yang menghubunginya malam itu, membuatnya menyaksikan kelakuan bejat suaminya. Dia tidak berterima kasih, karena pria itu pun langsung menghilang kembali.

Sekarang, Tari melanjutkan hidupnya seakan tak ada yang terjadi. Dia sibuk bekerja di toko kuenya, menciptakan berbagai resep baru yang membuat pelanggannya semakin betah. Toko kuenya semakin besar, bahkan Tari berencana membuka cabang baru.

Perempuan yang memakai jumpsuit berwarna maroon dengan sepatu hak putih itu tersenyum menyapa para karyawannya. Dia berhenti di depan etalase kue, melihat tart ulang tahun yang dihias sedemikian rupa.

"Selamat siang, Bu. Tumben sudah keluar dari kantor," sapa seorang pria, salah satu pegawainya.

"Iya, Di. Udah selesai semua kerjaannya. Sama pengen lihatin kalian kerja, takutnya ada yang males-malesan," gurau Tari.

Adi menegakkan badan, meluruskan tangan di kanan dan kiri tubuh. "Aman, Bu Boss. Kita semua bekerja dengan giat. Apalagi toko selalu rame. Walau sebenarnya lelah, tapi harus tetap alhamdulillah."

Tari menggelengakn kepala. "Kalau toko sepi, gaji kalian terpaksa nunggak."

Langsung saja Adi mengangkat kedua tangan di depan wajah. "Ya Tuhan, tolong bantu toko Lovely Tar tetap jaya sepanjang masa," do'anya.

Tari tertawa. Dia menggelengkan kepala melihat tingkah salah satu karyawannya. Karena toko masih ramai, Adi pun kembali bekerja, menyajikan kue ke meja-meja di ujung ruangan. Selain take away, toko kue Tari juga menyajikan meja untuk pelanggan yang ingin makan kue langsung di tempat. Karena tak hanya kue utuh, tapi ada juge kue slice.

"Kerja yang semangat."

Setelah memberi semangat dengan senyum manis, Tari pun melangkah ke dinding, lalu duduk di tembok setinggi paha yang memang dibuat agar pelanggan bisa menunggu sambil bersantai.

Suara bel berbunyi ketika pintu toko terbuka. Tari tersenyum melihat siapa yang datang. Dia bangkit ketika pria dibalut kemeja biru langit itu mendekatinya. Parfum dengan bau khas yang membuat Tari merasa seakan ada di tengah hutan hijau tercium ketika pria itu berdiri di depannya.

"Mau beli apa, Mas?"

Pria yang satu kancing atasnya tak tertaut itu tersenyum, memperlihatkan satu-satunya lesung yang berada di pipi bagian kanan. Namanya Noah, tapi dia tak punya bakat dalam musik sama sekali. Suaranya sumbang, dan juga suka mendahului nada lagu asli.

Noah memasukkan tangan kirinya ke dalam saku celana kain. "Beli resep baru."

Alis Tari mengernyit. "Nggak ada resep baru perasaan. Adi! Emang ada resep baru?"

Adi, yang tengah mengantar sepotong kue coklat menggelengkan kepala. Tari kembali menatap Noah. "Nggak ada kue baru, Mas. Mas salah info kali. Emang kata siapa ada resep baru di sini?"

Menggedikkan bahu santai, Noah menjawab, "Katanya ada resep baru istimewa. Manisnya bikin diabetes melonjak tinggi."

Semakin dalam kernyitan di kening Tari. Tapi bibirnya malah mengulas senyum, merasa lucu dengan perkataan Noah. "Itu mah bukan istimewa Mas, tapi kemanisan. Lo kayaknya dibohongin deh, Mas. Emang nama resepnya apa?"

Noah menaikkan satu alisnya. "Tar … Tari?"

Tawa Tari menyembur. Tangannya terangkat, memukul lengan Noah keras. Hanya beberapa detik, dan tawanya langsung lenyap. Dia menatap Noah dengan raut datar.

"Gombal," ujarnya.

Ganti Noah yang tertawa. "Lagian tanyanya ada-ada aja. Gue ke sini ya udah pasti beli kue, Tar."

"Kue Tar?"

"Kue, Tar!"

Tari tersenyum. "Gantian, Mas," ujarnya.

Noah menggelengkan kepala. Tari memang selalu membalas secepat kilat ketika dijaili. Perempuan itu tak terima kalau harus menunda 'balas budi' barang satu detik. Masalahnya Noah sangat suka mengisengi Tari, yang membuat perempuan itu pun tak segan membalas.

"Jadi, mau beli kue apa, nih?"

Tari duduk kembali. Noah bergabung dengannya, menatap karyawan yang berlalu lalang dengan nampan di tangan mereka. Ada juga yang membawa satu kotak kue, memberikannya pada driver online yang sudah menunggu.

"Kayak biasa. Burning eyes cake."

Tari tertawa mendengar perkataan Noah. Kue itu, menjadi kue favorit Noah. "Kira-kira kapan Mas bakal berhenti order Burning eyes dan coba resep lain?"

"Nggak akan, Tar. Gue suka cuma sama yang satu itu?"

Tari mengangguk-angguk mengerti. "Aneh. Si paling nggak suka manis tapi malah jadi pelanggan setia toko kue."

"Burning eyes kan istimewa. Ada rasa asam yang segar di mulut, manisnya pas, nggak bikin gedek dan merinding."

"Iya. Burning eyes emang resep yang istimewa." Tari menepuk pahanya, lalu bangkit berdiri. "Ayo. Kayaknya tadi ada yang mateng."

"Panas, dong."

Tari berbalik. "Biar lidah lo menyala, Mas."

Noah tergelak. Dia mengikuti Tari ke etalase kue, membuat matanya bisa menyaksikan berbagai macam bentuk kue yang amat sangat cantik. Seperti yang Tari katakan, dia itu sebenarnya tidak suka makanan manis.

"Desi, Burning eyes spesial satu."

Desi, karyawan yang memakai jilbab paris itu mengangkat jari telunjuk dan jempol yang membentuk lingkaran. Sebisa mungkin karyawan toko itu mnwgurangi bicara saat berada di depan kue, walau masker plastik khusus sudah terpasang di dagu mereka.

Tak butuh waktu lama. Sebuah kue yang tersaji di dalam bungkus coklat Desi hidangkan. Dia mengoperkannya pada Noah, tersenyum ramah. Noah membayar menggunakan ATM, membiarkan Tari mengketuk-ketuk lantai menungguinya selesai.

"Udah. Ayo," ajaknya, memasukkan ATM ke dompet.

"Hati-hati di jalan, Mas," pesan Tari, melambaikan tangan.

Tetapi Noah malah berhenti. "Ayo pulang bareng. Udah nggak ada kerjaan, kan?"

"Kok tahu Mas kalo gue udah nggak ada kerjaan?"

Noah mengantongi tangan kirinya, menggedikkan bahu santai. "Kalau kamu masih ada kerjaan, nggak mungkin keluar dari kantor. Setiap aku ke sini pun harus telpon kamu dulu baru keluar."

Benar juga. Tari terkekeh. "Yaudah. Ayo. Kuenya biar aku yang bawa."

"Nanti di taruh belakang aja," ujar Noah, tak ingin menyulitkan Tari.

"Jangan. Nanti kebalik. Sayang." Tari meraih paper box di tangan Noah. Bagian atas kotak itu terbuat dari plastik transparan, membuat tari bisa melihat kue berpola abstrak dengan paduan warna merah dan putih itu.

"Iya, Sayang," balas Noah.

Sontak saja Tari mengangkat kepala, melotot mendengar jawaban pria di depannya ini. Tangannya terangkat, memukul dada Noah keras. Pria itu malah tergelak, senang sekali mengusili Tari.

Tari mencebik. "Asbun banget sih, Mas. Gue jahit juga mulutnya."

Setelah itu Tari berjalan lebih dahulu, meninggalkan Noah di belakang.

"Tunggu, Tar!"

Tari pura-pura tak dengar. Noah terkekeh, merasa tingkah Tari begitu menggemaskan. Satu ujung bibirnya naik. "Sayang, tunggu!" serunya, yang membuat Tari sontak berbalik dengan raut kesal.

Karyawan dan pelanggan yang mendengar pun langsung melempar godaan-godaan untuk mereka berdua. Noah tersenyum lebar, senang sekali melihat mata Tari memicing galak.

"Gue cukur kepala lo, Mas!"

Bab 3

Tari menyatukan rambutnya dalam satu kepalan, lalu mengambil karet yang dia selipkan di bibir. Rambut panjangnya dia ikat erat, agar tak mengganggu aktifitasnya. Baju dan celana tidur hitam dengan motif bibir berwarna merah melekat di tubuhnya.

Tari keluar dari kamar dan menuju dapur. Kontrakan berukuran 7×7 meter ini sudah dia tempati kurang lebih dua bulan. Yang pasti setelah memergoki Deo dan Nadine malam itu, Tari tidak pulang ke rumah. Dia menginap di tempat temannya, Vania. Esoknya ia langsung mengemasi pakaian dari rumahnya, bahkan sebelum Deo pulang.

Sekarang dia hidup seorang diri. Tak ada siapapun yang harus dia urus, bagus juga. Tapi, walau begitu cucian piring dan baju tetaplah banyak. Tari berkacak pinggang, menatap tumpukan piring di wastafel dapur. Tak ada noda bumbu apapun karena dia biasanya hanya menggoreng atau merebus bahan masakan. Tari tak bisa memasak makanan berbumbu.

"Lama-lama gue pake kertas minyak biar nggak perlu cuci piring. Makan juga cuma dua kali, kadang satu kali malahan. Kok bisa sampe numpuk gini?"

Dia memakai sarung tangan karet khusus untuk mencuci piring. Dia meminggirkan gelas, lalu memilih sebuah piring yang hanya ditempeli

sedikit kerak nasi. Busa yang sudah dia beri sabun cuci piring pun dia gosokkan ke bagian permukaan, sedikit diberi tekanan agar kerak nasi itu menghilang.

Tari membersihkan alat makannya dengan sungguh-sungguh. Kurang lebih tiga puluh menit, semua piring maupun gelas sudah terbalur busah tertumpuk rapi menunggu dibilas. Tari memutar keran, tapi air tak kunjung mengalir.

"Kenapa lagi ini gusti?"

Tangannya memutar-mutar keran walau tak juga berhasil. Air yang dia dan piring-piring itu tunggu tak kunjung mengalir. Menyerah. Tari melepas sarung tangan karetnya dan melemparnya ke atas tumpukan piring. Dia menghela napas frustasi.

"Gue udah berusaha ngalahin rasa malas buat cuci piring loh, Ran. Tapi lo malah macet kayak gini, mau ngajak berantem?" tanyanya, pada benda mati berwarna silver itu.

"Masak dibiarin gini aja? Atau gue beli kotak nasi, biar piring-piring ini gue buang," monolognya

Tari menggaruk kepala, membuat beberapa helai rambut keluar dari ikatan. Namun, hal itu membantunya mendapat solusi. Matanya sedikit membesar, senang. Dia berdecih pada keran air yang mempersulit hidupnya, lalu pergi begitu saja keluar dari rumah.

Tujuannya adalah rumah tetangga yang berada tepat di sampingnya. Pintu rumah itu tertutup, tapi di dalamnya pasti ada orang. Karena rumah Tari pun selalu tertutup walau dia ada di dalamnya.

Tari mengetuk pintu dengan tulang di punggung tangannya, sehingga bisa mengeluarkan bunyi yang lumayan nyaring. Salah satu keahliannya adalah mengetuk pintu tanpa merasa ngilu, bahkan setelah bermenit-menit berlalu.

Namun, belum juga dua menit Tari sampai di teras rumah itu, pintu sudah dibuka oleh si tuan rumah. Pria yang mengenakan kaus polos dan celana pendek selutut itu muncul di ambang pintu, mengundang senyum di wajah Tari.

"Mas Noah. Gue mau minta tolong buat benerin keran gue yang mati. Katanya Mas lulusan SMK, kan?"

Alis Noah naik. "Gue lulusan SMA," ujarnya santai.

Tari berkedip-kedip polos. Bodoh. Bisa-bisanya dia berkata dengan begitu yakin tanpa tahu kebenarannya. Padahal dia sudah berharap Noah bisa membantunya untuk memperbaiki kerannya.

"Eh, maaf Mas. Kayaknya gue salah inget. Yaudah kalo gitu, maaf udah ganggu malam-malam, ya. Good night."

Tari menunduk singkat, lalu hampir berlalu pergi. Tetapi tangan Noah menahan tangannya, membuatnya kembali berbalik menatap pria itu dengan alis bertaut.

"Tunggu, gue pake celana dulu."

Setelah mengatakan itu Noah melepas tangan Tari. Dia bergegas masuk kembali ke dalam rumahnya, meninggalkan Tari seorang diri di teras. Tak berselang lama, hanya lima menit tepatnya, Noah sudah kembali dengan kaki yang sudah terpasang celana jeans.

Dia mengunci pintu. "Ayo," ajaknya.

Mereka berdua kembali ke rumah Tari. Tari memimpin jalan menuju dapur, menunjukkan kerannya yang rusak. Piring yang tertumpuk sudah bersih dari busah. Pasti butiran buih-buih itu sudah menguap, hanya meninggalkan tekstur lengket pada permukaan piring.

"Lo ada alat-alatnya?"

Tari mengangguk. Dia mengambil kotak kayu di gudang dan memberikannya pada Noah. Di dalamnya ada berbagai macam peralatan seperti paku, palu, obeng, dan beberapa lainnya. Noah berjongkok di depan saluran keran yang menempel di dinding meja dapur. Pria itu terlihat begitu fokus, membuat Tari yang berjongkok di sampingnya ikut menatap palaron yang tengah dia perbaiki.

"Mas, jadi masalahnya ap—"

Saat tengah memutar kunci inggris, tiba-tiba air menyembur dari celah paralon. Semburannya begitu besar, mampu membasahi sekujur tubuh Tari dan Noah. Keduanya hingga jatuh terduduk di atas lantai yang kini tergenang air.

"Mas Noah! Kenapa kok gini?" teriak Tari, beringsut menjauh.

"Matiin saluran utamanya Tar!" teriak Noah, berusaha mengencangkan kembali celah palaron yang merenggang.

Tari bergegas lari ke luar. Dia menghampiri flow meter yang ada di bagian pojok rumah. Walau panik, akhirnya Tari bisa mematikan laju air. Menghela napas lega, dia kembali ke dapur untuk melihat keadaan Noah. Pria itu sedang duduk dengan satu kaki ditekuk sedang satunya diluruskan. Tangannya masih menggenggam kunci inggris, sedangkan sekujur tubuhnya basah.

Tari meringis. Walau lebih baik, tapi pakaiannya pun sama basahnya. "Mas …."

Noah mendongak. Saat melihat keberadaan Tari, dia tersenyum. Senyumnya semakin lebar, hingga berubah menjadi sebuah tawa. Layaknya virus, tawa Noah kini menular pada Tari. Keduanya menertawakan keadaan mereka, basah sekujur tubuh seperti orang bodoh.

Noah menatap dirinya di pantulan cermin. Pakaiannya sudah berganti dengan kemeja hitam milik Tari. Perempuan itu tadi begitu senang saat menemukan kemeja dengan ukuran besar di dalam lemarinya, dan langsung menyuruh Noah berganti di kamar tamu, atau yang lebih pantas disebut gudang karena dipenuhi tumpukan barang-barang.

Noah mengedar pandang, lalu menatap sebuah figura yang sedang dalam keadaan tertelungkup di atas laci usang. Dia menghampirinya, membalik figura itu karena penasaran. Di dalam figura kayu itu, Tari terlihat begitu cantik dibalut oleh gaun pengantin. Senyum indah dan matanya yang dilapisi cairan bening mampu menyentuh hati Noah.

Namun, di samping Tari ada seorang pria asing. Senyumnya sama lebarnya, matanya bahkan sampai menyipit seakan ikut tersenyum juga. Keduanya memakai pakaian pengantin, saling menautkan lengan layaknya pasangan paling berbahagia di dunia.

"Mantan suami Tari?"

Noah tahu bahwa Tari sudah bercerai, tapi dia tidak pernah melihat wajah mantan suami perempuan itu. Dia berdecak, lalu memasukkan figura itu ke dalam laci. Siapapun pria itu, dia sangat bodoh karena melepaskan Tari.

"Ganteng gue," ucapnya pongah.

Noah mencebikkan bibir, lalu keluar dari kamar itu. Dia menghampiri Tari di ruang tamu. Perempuan itu juga sudah berganti pakaian. Menggunakan kaus dan kulot yang memiliki pita di bagian perut.

"Syukur deh Mas kemejanya pas. Maaf ya Mas, gara-gara bantuin gue sampe basah semua tadi bajunya."

"Santai aja Tar. Lo juga nggak papa, kan? Takutnya nanti masuk angin karena tadi sempet keluar juga."

Tari menggelengkan kepala. "Aman, Mas. Oh iya, makasih Mas udah perbaikin kerannya. Besok gue buatin Burning eyes cake spesial sebagai balasan."

Noah mendekat ke sofa panjang di hadapan sofa yang Tari duduki. "Gue duduk dulu, ya?"

Tari langsung berdiri. "Sampe lupa nyuruh duduk," katanya.

Noah hanya tertawa. Dia mengayunkan tangan, menyuruh Tari kembali ke posisinya. "Kuenya lo buat sendiri, kan? Kan spesial," tanyanya, kembali membahas janji Tari.

"Iya, dong Mas. Gue buatin langsung di rumah. Khusus buat Mas Noah."

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED