“Mama ....!”
Aku sontak menoleh dan segera melebarkan senyum, kepada kedua bocah lelaki menggemaskan yang sedang berlari ke arahku saat aku baru saja datang selepas pulang bekerja di sebuah bengkel milik teman lamaku.
Segala rasa penatku menguap ketika melihat kelucuan mereka.
Segera aku merentangkan tangan menunggu kedua anak lelaki berumur tiga tahun itu menghambur ke dalam pelukanku.
“Kalian wangi sekali, kalian udah mandi?” tanyaku gemas sembari mengusap pipi gembul keduanya.
Struktur wajah mereka nyaris sama. Maklum mereka kembar. Tapi aku selalu bisa membedakan mereka karena aku yang sudah merawat keduanya sejak masih bayi.
Benar mereka bukan terlahir dari rahimku sendiri. Aku hanya tante bagi kedua anak kembar yang sama-sama memiliki rambut lurus berkilau, warisan dari kakak lelakiku yang telah berpulang tiga tahun silam, saat Ghara dan Ghana baru berumur satu bulan.
Mas Gio meregang nyawa dalam sebuah kecelakaan tunggal tak lama setelah perceraiannya dengan sang istri yang sudah meninggalkannya demi lelaki lain.
Sampai saat ini aku tak pernah bisa memaafkan wanita yang sudah melahirkan Ghana dan Ghara itu. Karena wanita itu Mas Gio menjadi sangat kacau dan terus menyalahkan dirinya sendiri terlebih juga karena kebangkrutan usahanya yang sempat beberapa saat pernah maju pesat sebelum pernikahannya dengan wanita yang bernama Lia itu.
“Tentu saja kami udah mandi. Ghara dan Ghana mandi sama eyang tadi.”
Ghara menjawab pertanyaanku dengan lidahnya masih cadel yang akan selalu terdengar lucu di telinga.
“Ayo sekarang kita masuk ke dalam,” ajakku pada mereka.
Tapi mereka tak beranjak malah menatapku dengan cemas.
“Kenapa?”
Aku malah menjadi bertanya-tanya, saat melihat ekspresi wajah keduanya yang terlihat tegang.
Celoteh keduanya segera menarik perhatianku kembali pada tingkah lucu mereka. Aku sudutkan kembali bayanganku tentang Mas Gio yang kepergiannya masih begitu aku sesalkan.
“Ma, di dalam ada tamu,” ucap Ghana memberikan jawaban.
“Tamu siapa sayang?” tanyaku kian ingin tahu.
“Aku nggak tahu, tapi dia bukan orang yang akan membawa Mama pergi kan?”
Aku mengerutkan kening menjadi semakin tak paham dengan pembicaraan mereka.
“Untuk apa orang itu membawa mama pergi?”
“Katanya kalau Mama nikah sama orang itu, maka Mama akan dibawa pergi. Terus gimana sama nasib kami?” tanya Ghara keponakanku yang bertubuh agak kecil dari Ghana yang celotehnya terdengar lebih jelas daripada saudara kembarnya yang satunya.
“Ih kata siapa itu? Itu nggak benar sayang.”
Aku lalu merengkuh kedua keponakanku lagi ingin melerai ketakutan mereka berdua.
Setelah itu aku kembali berdiri tegak bersiap menemui orang-orang yang dibilang si kembar sebagai tamuku, tentu saja dengan membusungkan dada menunjukkan sebuah keberanian untuk menghadapi apapun.
“Assalamualaikum,” sapaku pada semua orang yang segera menginterupsi pembicaraan dari orang-orang yang sekarang sedang berkumpul di ruang depan tampak begitu serius sedang membahas sesuatu yang masih belum aku tahu.
Untuk beberapa saat tatapanku memindai pada setiap wajah yang saat ini sedang duduk di ruangan mungil dari rumah petak yang saat ini menjadi tempat tinggalku bersama bunda juga si kembar.
Ketika aku melihat wajah pria jangkung yang akhir-akhir ini sedang gencar mendekatiku, tanpa sadar aku langsung mendengus jengah.
Meski setelah itu aku harus melebarkan senyuman saat bunda memintaku untuk segera ikut duduk dan menyambut para tamu yang masih belum aku ketahui tujuannya bertandang.
“Mala, kamu sudah pulang?” tanya pria jangkung itu yang selama ini kabarnya selalu sering membanggakan statusnya yang seorang PNS di sebuah instansi daerah itu.
Aku hanya mengukir senyuman tipis pada pria berhidung mancung ke dalam itu. Meski aku harus menyimpan rasa muakku dalam-dalam saat memandang wajahnya yang sok simpati padaku.
Bahkan saat ini aku harus semakin lihai bersandiwara saat aku sadari ternyata pria yang biasanya disapa dengan panggilan Bang Jamal itu malah datang bersama dengan kedua orang tuanya.
Jangan lewatkan juga dengan aneka macam barang yang turut serta dibawa oleh mereka pada sore ini.
Ada setandan pisang, satu kardus mie instan bahkan sekarung beras, yang mirip barang sumbangan untuk korban kebanjiran.
Aku mencebik dalam hati, sembari tak bisa menahan diriku untuk menebak apa tujuan Bang Jamal datang ke rumahku dengan membawa semua barang itu.
Aku kian memindai waspada kala mendengar celetukan wanita berhijab hijau pupus yang saat ini memenuhi pergelangan tangannya dengan gelang emas serupa rantai kapal nan besar.
“Oh jadi ini calon menantuku itu?”
Sontak aku membeliak tajam pada lelaki yang biasanya menyapaku dengan malu-malu di ujung gang saat kami berpapasan ketika sama-sama akan berangkat kerja.
Jelas ini sangat mengagetkan karena bujang lapuk yang tak pernah terlibat percakapan apapun denganku itu kini datang menyatakan lamarannya padaku bahkan mengajak kedua orang tuanya.
Sejurus kemudian Ghara dan Ghana masuk ke dalam ruang tamu dan memanggilku.
“Mama ....”
Sontak pria dan wanita yang tampil dengan dandanannya yang full color itu membeliak tajam.
Aku menanggapi dengan acuh bahkan mengulurkan tangan untuk kedua keponakanku yang kini sudah datang mendekat.
“Apa wanita yang kamu suka itu janda Jamal?” tanya wanita bergelang besar itu pada anaknya yang sejak tadi terus menerus mencuri pandang padaku.
Pria jangkung itu tampak tergeragap ketika mendengar cecaran ibunya.
Aku masih saja tenang. Malah menjadi berharap jika lamaran mereka akan segera dibatalkan karena mereka pasti mengira bahwa saat ini statusku adalah seorang janda.
Aku melirik pada pria berambut klimis itu yang wangi aroma minyak rambutnya sedikit membuat perutku mual.
“Aku tidak tahu Mak,” jawab Jamal pada akhirnya.
Sementara bunda yang sejak tadi diam, mulai terlihat membuka mulut tapi aku segera berdesis kepada wanita yang sudah menghadirkan aku ke dunia itu, memberi isyarat untuk tak angkat bicara.
“Aku nggak suka punya mantu janda, punya buntut dua lagi, bisa-bisa mak nggak akan kebagian gaji kamu lagi. Kita nyari mantu itu buat membantu pekerjaan mak di rumah. Kalau punya anak kayak gini yang ada malah bikin repot.”
Wanita bertubuh bongsor itu langsung bangkit sembari berkacak pinggang.
“Kenapa sih Buk, nggak bilang dari tadi kalau anaknya itu janda?”
Wanita itu kini malah menyalahkan bunda.
Aku langsung tersengat emosi dan ikut berkacak pinggang di depannya.
“Situ sendiri yang main lamar aja, kenapa sekarang malah nyalahin orang?”
Jamal segera menghampiri ibunya yang sekarang bahkan sudah membulatkan mata dan menatapku tajam, tampak kaget saat mendapati keberanianku untuk membantahnya.
Tapi aku memang tak pernah peduli tentang anggapan orang walau bagaimanapun.
Aku masih saja menatapnya dengan tegas walau sekarang bunda sudah mulai mendekat untuk meleraiku. Tapi aku masih tak peduli.
"Emang kenapa? Mau aku perawan atau janda?"
***
“Mau aku janda atau aku perawan bukan urusan kamu. Lagian siapa juga yang mau jadi menantu keluarga kalian?”
Aku terus menyergah dengan berani, membuat wanita yang memakai hijab hijau pupus itu, semakin membeliakkan matanya yang tajam ke arahku.
“Kamu itu gimana sih Jamal, kalau milih perempuan itu yang benar, perempuan seperti serigala gini mau kamu peristri, bisa-bisa kamu dicakari terus, sampai mampus sama dia.” Wanita itu mulai menudingkan jarinya padaku.
Aku mendengus jengah dengan nafas memburu karena tersengat emosi saat mendengar kata-katanya yang pedas padaku.
Tatapanku kemudian terarah nyalang pada lelaki bernama Jamal yang sekarang tampak canggung, sembari terus menerus mengelus rambut klimisnya, yang aroma minyaknya semakin membuatku mual.
Semua gaya pria itu benar-benar membuatku mati kutu.
“Kamu sendiri Bang Jamal, siapa juga yang nyuruh kamu datang?”
Aku mendesah jengah dan mencebik sarkas ke arahnya.
“Secara aku nggak kenal sama kamu Bang. Lain kali kalau mau ngelamar perempuan itu, kamu tanya dulu perempuannya mau atau tidak?”
Aku membalas dengan sengit ucapan pedas dari wanita yang menjadi ibu dari lelaki yang bernama Jamal itu.
Aku benar-benar dibuat kesal oleh mereka, ditambah tubuhku yang capek karena baru pulang dari bekerja, membuatku benar-benar tak bisa menolerir sikap sarkas mereka.
Melihat tanggapanku yang sedikit kasar, bunda segera menegur dengan tatapannya yang tajam.
Sikap bunda yang selalu lemah lembut itu tentu saja tak menghendaki aku memaki tamu yang datang ke rumah kami ini, yang awalnya berniat untuk melamarku.
“Maafkan sikap putri saya, Pak, Bu,” ungkap bunda pada akhirnya.
Tentu saja aku tak bisa menerima dan membuatku sedikit membeliakkan mata pada sosok bersahaja yang sudah menghadirkan aku ke dunia itu.
“Tidak apa-apa kok Bu, maafkan juga sikap istri saya,” sahut lelaki yang sejak tadi tak bersuara ketika istrinya mencak-mencak di depanku.
“Eh, Pak, kenapa Bapak malah minta maaf? Si janda gatel ini yang udah menggoda anak kita dan membuat kita tertipu dan malah datang ke sini.”
Wanita bergelang besar itu masih saja setia dengan anggapannya yang salah padaku. Dia masih saja menganggapku janda.
Benar-benar mengesalkan, yang membuatku ingin menarik lidahnya yang sudah asal mengataiku sebagai janda gatal. Sangat keterlaluan memang.
“Ayo, Jamal, ayo kita pulang, aku nggak mau ikut ketularan jadi gatel di sini.”
Wanita bertubuh bongsor itu lalu menarik tangan anak dan suaminya, dan mengajaknya pergi dari rumah petak keluargaku yang selama beberapa tahun terpaksa kami tempati semenjak prahara menimpa, ketika ayah kami tergoda oleh wanita lain dan mengabaikan anak-anak beserta istrinya sendiri.
Aku membiarkan saja mereka pergi dan malah merasa lega saat mereka sudah meninggalkan rumah.
Ketika melihat semua tamu sudah pergi, Ghana dan Ghara langsung berlari mendekatiku lagi.
“Mereka orang-orang jahat ya Ma?” Ghara menyela sembari bergayut di kakiku.
Sementara bunda malah memberikan tatapannya yang luruh padaku, yang menyiratkan sebuah kekhawatiran.
Aku berusaha untuk tak menanggapi, meski hatiku disusupi kesedihan setiap kali melihat tatapan khwatir beliau.
Hingga kemudian keponakanku yang lain Ghana, langsung memeluk pinggangku.
“Ma, aku lapar, aku pengen makan sama Mama,” rajuk Ghana.
Mereka berdua selalu saja ingin bermanja setiap kali aku baru pulang selepas bekerja. Seperti biasa aku akan selalu menyediakan waktuku untuk mereka sampai menjelang maghrib dan selalu Ghana dan Ghara akan aku ajak ke mushola terdekat untuk menjalankan sholat berjamaah yang kemudian dilanjutkan dengan mengaji.
***
Aku masih sibuk memeriksa mesin mobil dengan kap yang aku buka lebar, ketika kemudian aku rasakan seseorang menepuk pundakku dengan tegas.
Aku bisa merasakan jika saat ini Jason sedang mendekatiku. Pria yang sudah bertahun-tahun menjadi sahabatku bahkan semenjak aku masih tinggal di komplek perumahan mewah ketika kehidupan keluargaku masih berkelimpahan ketika ayah kami masih memenuhi tanggung jawab pada keluarganya.
“Ini sudah hampir maghrib, kamu nggak pulang?” tanya pria beriris coklat yang merupakan keturunan Jerman seorang anak pengusaha perhiasan dan pakaian branded, yang nyatanya malah memilih untuk membuka bengkel dan berusaha untuk membiayai kuliahnya sendiri yang sudah sampai di semester akhir itu.
“Nanggung, ntar lagi aku pulang. Lagian kamu tahu sendiri kan kalo aku siang ini baru datang, jadi aku harus mengerjakan bagian aku sampai selesai.”
Aku beralasan dan masih saja tekun mengotak-atik mesin mobil yang sedang bermasalah dengan injeksinya itu.
“Kamu kan datang siang karena kamu masih harus kuliah?”
Aku mendesah panjang dan mulai melirik pada temanku sejak kecil yang sudah menjelma menjadi seorang pemuda gagah yang seringkali digilai banyak wanita itu.
“Iya, tapi aku gak mau anak yang lain iri, karena aku nggak nyelesain pekerjaanku.”
Jason menatapku lebih lekat. Kilat simpati bisa aku tangkap dari sorot matanya saat ini.
Sejak awal hanya Jason yang selalu ada di sampingku di saat keluargaku jatuh dan kami terusir dari rumah mewah yang sebenarnya merupakan peninggalan dari kakek dan nenekku sendiri, orang tua dari bunda.
Semua karena kelicikan pelakor keji bernama Lola yang membuat ayahku kehilangan kewarasan dan begitu tega menelantarkan keluarganya sendiri.
“La, sejak dulu kamu emang tidak berubah, pekerja keras.”
“Aku kerja keras kan bukan buat aku sendiri, tapi juga buat bunda dan kedua anak aku, Jas,” tegasku sembari sedikit melirik pada pria berhati baik yang selalu saja sering menolongku selama ini.
“Kamu memang tak pernah egois tetap saja memikirkan orang lain.”
“Ish kamu ini, bunda dan anak-anakku itu bukan orang lain lho Jas?”
Aku lihat sekarang Jason malah menarik nafas dalam.
“Padahal mereka adalah keponakan kamu, tapi kamu selalu saja menganggap mereka sebagai anak-anakmu.”
“Mereka memang anak-anakku, Jas, sejak kecil secara mereka udah aku asuh.”
Sejurus kemudian aku malah mendapati Jason sedang memindaiku dengan sorot matanya yang tampak penuh arti.
Aku enggan untuk mengeja sedikitpun dan lebih memilih untuk meneruskan pekerjaanku.
Tapi nyatanya aku merasakan Jason masih ada di dekatku, dan mulai mengulurkan sebotol air mineral yang sudah ia bawa.
“Kamu minum dulu,” ucap Jason penuh perhatian.
Aku hanya melirik sekilas pada botol air segar yang sedang diberikan Jason padaku.
Aku sungguh tergoda untuk menegaknya. Tapi segera aku sadar kalau tanganku sekarang sangat kotor berlumuran oli meski aku memakai sehelai sarung tangan.
Jason segera paham sontak membuka botol itu untukku dan meminumkannya tepat di depan mulutku hingga aku bisa menegaknya tanpaa harus repot melepas sarung tanganku.
Di saat bersamaan mendadak seorang wanita cantik memasuki ruangan dalam bengkel dan langsung melihat apa yang sedang dilakukan Jason padaku.
Ketika melihat wajahnya yang glowing hasil perawatan salon mahal lengkap dengan skincarenya yang menguras isi kantong itu, hatiku segera mencelos jengkel.
Setelah ini aku yakin, wanita yang selama ini sudah mengklaim Jason sebagai miliknya itu pasti akan menumpahkan sumpah serapahnya padaku, meski gadis genit yang selalu suka memakai gaun kurang bahan itu akan bersikap pura-pura kalem jika masih ada Jason di antara kami.
“Jason, aku tahu kamu pasti masih di sini. Karena itu aku mampir ke bengkel untuk ketemu kamu,” ucap gadis bernama Vania itu manja.
Aku rasakan bola mata Vania yang selalu memakai soft lens berwarna biru itu melirik jengah padaku, penuh aura cemburu saat melihat kedekatanku bersama Jason, ditambah dengan perhatian yang sedang diberikan Jason padaku saat ini.
Aku mengabaikan semua itu, kembali fokus dengan pekerjaanku.
Jason hanya menanggapi dengaan datar kedatangan Vania yang aku rasakan sedang tak diharapkan oleh pria yang sudah bertahun-tahun menjadi sahabatku itu.
Seorang teman yang sudah memberikan pertolongan dengan memberikan aku pekerjaan di bengkelnya ini. Jason tahu keahlianku tentang mobil yang sebenarnya aku pelajari dari ayahku sendiri juga kakak lelakiku yang memang penggemar otomotif.
Siapa sangka keahlianku ini yang sebelumnya hanya sekedar hobi bisa menyelamatkan aku dan keluargaku dari kelaparan.
“Kamu mau apa ke sini?” tanya Jason sarkas.
Tentu saja Vania menjadi kecewa berat dengan tanggapan acuh dari lelaki yang ia suka.
Kekesalannya itu dilampiaskan padaku.
Tapi aku tentu saja tak peduli dengan tatapannya yang tajam itu dan lebih memilih kembali mengotak-atik mesin mobil sampai aku berhasil menemukan masalahnya dan segera memperbaiki.
“Kamu kok nanya gitu sih? Tante Anggun sendiri lho yang meminta aku datang buat nyusul kamu agar kamu bisa makan malam di rumah.”
Aku mendengar Vania sedikit mengeluarkan rajukannya. Gadis itu pasti akan menyebutkan nama maminya Jason, demi membenarkan setiap hal yang dilakukannya untuk Jason.
Jason mengerutkan dahinya sejenak sebelum kemudian memandang ke arahku yang pastinya saat ini wajahku belepotan oli.
“Setelah mobil ini kelar, kamu harus segera pulang. Karena aku juga akan pulang.”
Setelah berucap seperti itu Jason lalu masuk ke dalam ruangannya dan pastinya sedang bersiap untuk pulang dengan mengambil barang-barang pribadinya di sana.
Kini tinggallah aku dan Vania yang sekarang sudah berkacak pinggang di depanku sembari memandangku dengan angkuh.
“Dasar janda gatel.”
***
“Dasar janda gatal!” sergah Vania mulai menyerangku dengan kata-katanya yang pedas.
Untuk ke sekian kalinya aku harus menerima stigma buruk juga kalimat yang mengkerdilkan hanya karena aku mengasuh kedua keponakanku seperti anakku sendiri.
Nyaris semua orang salah menganggapku, mereka menyangka aku janda. Bahkan Vania juga menilaiku dengan seenaknya.
Saat mendengar ucapannya yang tajam sontak aku menyergapnya dengan tatapan nyalang.
Satu persatu aku mulai melepaskan sarung tangan karet yang biasa aku gunakan saat bekerja dengan sorot mata yang kian tajam terunggah.
Perlahan aku mendekati gadis itu.
Gadis manja yang suka berkata pedas, yang sekarang mulai terlihat agak ketakutan. Sesekali ia melirik ke arah ruang kerja Jason, berharap pria yang diklaim sebagai kekasihnya segera muncul dari sana dan akan segera ia dekati untuk bisa mendapatkan perlindungan.
Aku sudah sangat bisa membaca apa yang ada di dalam pikirannya saat ini.
Tapi sekarang aku sudah sangat marah saat mendengar ucapannya itu.
“Kamu bilang apa tadi?” sergahku menentang.
Vania memundurkan langkahnya saat aku kian mendekat.
“Ih kamu emang janda kan? Kalau nggak mau dibilang janda gatel ya jangan goda pacar orang lain dong. Kamu itu harusnya ngaca, emangnya pantas Jason bersanding sama cewek pekerja bengkel kayak kamu, udah dekil miskin lagi.”
Nyatanya wanita itu tetap saja memuntahkan segala penghinaan untukku. Benar-benar memuakkan.
Vania masih enggan untuk menyadari kesalahannya.
“Lagian apapun yang kamu lakukan, Jason nggak akan pernah tertarik sama cewek model kayak kamu. Cewek kayak kamu itu paling banter hanya bisa menggoda abang-abang tukang siomay, atau preman pasar. Sampai kapanpun kamu itu nggak level sama Jason.”
Gadis bermulut seperti comberan itu masih saja tidak berhenti melontarkan ejekannya yang pedas padaku. Sangat menguji kesabaranku memang.
Aku mulai tersengat amarah, hingga tanpa sadar aku mengepalkan kedua tangan.
Melihat sepasang mataku menyala karena marah, Vania mulai semakin ketakutan.
Gadis yang mengumbar pangkal dadanya itu terus melangkah mundur.
Aku terus saja melangkah maju menyergapnya dengan sorot mata penuh emosi. Aku benar-benar ingin mengintimidasinya
Tapi sebelum aku melakukan apapun untuk memberinya pelajaran karena mulutnya yang asal ngomong itu mendadak Jason sudah muncul dengan membawa tas ranselnya.
“Aku pulang dulu La, kamu bawa kunci bengkel ini ya. Biar besok aku akan samperin kamu ke rumah kamu,” ucap Jason ketika sudah berada di depanku.
Jason kemudian melemparkan kunci bengkel padaku, yang segera aku tangkap dengan tangkas. Kedatangan Jason membuatku urung untuk memberi pelajaran pada Vania yang kelakuannya selalu saja seperti ulat, suka gatal mengurusi orang lain.
Sementara Vania langsung menyongsong mendekati Jason yang malah tampak risih saat didekati.
Aku mencibir ke arahnya meski masih tak terlihat oleh Jason. Karena sahabatku itu sedang sibuk ingin menjauhkan lengannya yang terus ditarik Vania agar bisa bersenggolan dengan dadanya yang dipasang implan agar terlihat membusung menggoda.
“Ayo Jason kita pulang sama-sama,” ajak Vania sembari bergayut manja masih saja menempelkan dada besarnya itu pada lengan kokoh Jason.
Nyatanya pria blasteran itu malah menampakkan gurat tidak sukanya di hadapan Vania yang aku tahu jelas sedang berusaha untuk menggoda sahabatku itu dengan sentuhannya yang seduktif.
“Kamu apa-apaan sih Vania?”
Jason mendesah jengah sembari menjauhi Vania yang berusaha untuk terus menempel padanya.
“Kita pulang sendiri-sendiri, lagian aku bawa mobil sendiri dan kamu juga kan?”
“Tapi kita bisa satu mobil kok, kamu tinggal aja mobil kamu, terus kita bisa barengan.”
“Ish, apa kamu nggak dengar tadi, kalau pagi-pagi sekali aku harus ke rumahnya Mala?” sergah Jason kesal.
“Nggak kita tetap pulang sendiri-sendiri, aku tetap butuh mobilku buat besok.” Jason memutuskan dengan tegas.
Vania langsung terlihat bersungut-sungut sembari memajukan bibirnya yang diberi filler hingga tampak tebal seperti disengat tawon kalau menurutku.
“Ya udah La, aku pulang dulu,” ungkap Jason sembari membalikkan badan ke arah pintu keluar dan setelah itu melangkah mengabaikan Vania yang sudah tampak merajuk karena Jason tak mau menuruti keinginannya.
Tentu saja Vania akan mengejar Jason dan pastinya akan tetap berusaha untuk membujuk temanku yang tampan itu, yang memiliki sepasang mata sipit yang tajam menggoda. Pasti dia ingin menghindari seranganku untuk memberinya pelajaran karena mulutnya lemesnya yang sering kelewatan mengatai orang lain.
Tapi ketika wanita penggoda itu melirik ke belakang, aku segera mengacungkan jari tengah padanya sembari menyergapnya dengan tatapan tajam, karena aku benar-benar tidak suka dengan segala usahanya yang murahan untuk menggoda Jason.
Setelah itu aku mengabaikan mereka yang bahkan sudah tak lagi berada di dalam bengkel.
Aku benar-benar tak peduli kalaupun Jason akan tetap pulang bersama Vania. Bagaimanapun aku merasa tak perlu ikut campur dengan persoalan mereka berdua. Sampai saat ini Jason hanyalah aku anggap sahabat.
Lagipula aku cukup tahu diri, keadaan keluargaku saat ini sangatlah tak sepadan dengan keluarga Jason yang kaya raya. Yang sudah jelas aku tahu bahwa Tante Anggun sudah tak lagi suka denganku semenjak aku sudah tak dianggap anak oleh ayahku sendiri dan seluruh harta yang dimiliki bunda dirampas dengan licik oleh wanita pelakor yang bahkan sebelumnya adalah seseorang yang pernah ditolong oleh bunda.
Pada akhirnya aku kembali menekuni pekerjaanku sampai aku bisa menyelesaikannya bahkan tak sampai sepuluh menit, yang membuatku bisa menyusul waktu maghrib, tidak sampai terlewat, dan menjalankan kewajibanku sebagai hamba di mushola bengkel.
***
Karena kemarin aku pulang telat Ghana dan Ghara di pagi hari jadi semakin manja padaku. Kedua keponakanku yang sejak bangun tidur hanya ingin bersamaku, bahkan soal mandi dan sarapan pagi, mereka hanya ingin melakukannya denganku.
Mereka yang selama ini selalu memanggilku mama itu, akhirnya sekarang sudah aku dandani rapi dan bersiap untuk pergi ke sekolah.
“Sekarang kalian udah ganteng-ganteng,” ucapku sembari memberikan ciuman sayang pada kedua pipi Ghara dan Ghana setelah aku selesai menyisiri rambut mereka yang berombak.
“Nanti kalau di sekolah, dengerin kata-kata bunda-bunda pengajar ya, jangan nakal,” imbuhku sembari memandangi wajah-wajah mereka yang menggemaskan.
“Iya Ma, di sekolah aku biasanya juga membantu bunda-bunda,” kata Ghara jelas dengan menampakkan tampang polosnya yang begitu lucu.
Aku tersenyum lebar kelucuan mereka memancingku untuk mencubit dengan sayang kedua pipi Ghara yang memang lebih tembem.
Nyatanya setelah itu mereka berdua malah bergayut manja padaku.
Sementara bunda berdiri di dekat kami, menunggu Ghara dan Ghana bersiap dan akan segera di antar pergi ke sekolah, dengan berjalan kaki bersama karena letak sekolah mereka yang memang dekata rumah.
“Udah sekarang kalian berangkat, Eyang udah nungguin kalian.”
“Ayo kita berangkat,” ajak bunda bahagia sembari mengembangkan senyumnya yang sumringah.
Setelah segala kepahitan yang terjadi di dalam hidup bunda, kehadiran Ghara dan Ghana sungguh bagai oase yang menyejukkan hati beliau. Hingga aku melihat bunda sekarang semakin jarang meratap seakan menangisi takdir buruk yang digariskan Tuhan dalam hidupnya.
Baru saja aku akan melepas mereka hingga di depan pintu mendadak, sesosok pria muncul di ujung jalan dan segera memanggilku dengan antusias, yang membuat kami semua segera menoleh padanya.
“Mala!”
Ketika melihat kedatangan Jason, aku langsung menahan langkahku untuk menunggunya sampai ia mendekat.
Sementara bunda yang sudah menggandeng Ghara dan Ghana yang sudah aku bantu menyandang tas ransel mereka, ikut melirik pada pemuda jangkung itu, seorang blasteran yang selalu menarik perhatian para tetangga julidku setiap kali dia datang.
“Tuh Mala, pacarnya yang ganteng udah nyamperin,” celetuk salah seorang tetangga depan rumahku yang leher panjangnya langsung terulur ke arah jalan saat melihat kedatangan Jason.
Aku hanya melirik malas pada wanita berdaster batik yang warnanya sudah pudar itu, yang sekarang bahkan sudah keluar dari rumahnya, hanya demi bisa menyapa Jason yang sudah terlihat di depanku.
“Mas Jason kok pagi datangnya?” sapa wanita yang ditinggal merantau oleh suaminya itu yang tinggal di rumahnya hanya bersama seorang bibi.
Jason mengacuhkan sapaan wanita yang biasa aku panggil Mpok Lala itu.
Aku menanggapi dengan senyuman tersungging, sampai Jason, sahabat tampanku itu mulai mengajakku berbicara.
“Ayo Mala, kita ke bengkel bareng!”
***