"Candra, Ibu sudah lama nggak bertemu kalian. Besok ajak Susan pulang buat makan di rumah. Telepon Susan nggak bisa dihubungi sejak lama. Kalian sibuk apa akhir-akhir ini?" Beberapa hari kemudian, Lisa, ibunya Candra pun menelepon. Pada saat itu, Yuli sedang bersandar manja di dada Candra.
Begitu mendengar suara Lisa, mataku mendadak terasa perih. Lisa adalah sahabat terbaik ibuku. Setelah orang tuaku kecelakaan, dia membawaku ke rumahnya.
"Bu. Dia memang nggak tahu berterima kasih. Walau dia marah padaku, dia seharusnya tetap jawab telepon Ibu!" Ekspresi Candra sangat kesal ketika menyebut namaku.
Aku berdiri di depan Candra dan menertawakan diriku sendiri. Cinta yang dulu sudah lenyap. Dia bahkan mengatakan bahwa aku orang yang tidak tahu berterima kasih.
"Candra, aku tahu di hatimu ada wanita itu. Tapi, kamu sudah menikahi Susan. Kamu harus bertanggung jawab padanya. Kalau nggak, gimana aku menjelaskan ini pada ibunya?" Lisa berkata dengan cemas.
Ekspresi Candra pun menjadi suram. Dia jawab seadanya sebelum menutup telepon.
Lalu, Candra menatap Yuli dengan penuh kasih sayang, seolah-olah ingin menenangkan hatinya.
"Candra, Susan akhir-akhir ini nggak menghubungimu, ya?" Yuli bertanya dengan lirih, seolah-olah baru teringat sesuatu.
"Hubungi aku?" Candra mengerutkan kening. "Dia hampir saja membuatmu mati. Kenapa kamu begitu peduli padanya? Baguslah kalau dia menghilang."
"Yuli. Tunggu aku. Begitu aku resmi cerai dengannya. Aku akan memberimu sebuah status." Candra tiba-tiba berjanji dengan serius.
Aku hanya melihat Yuli memeluk Candra dan bersandar dengan manja di dadanya. "Aku nggak masalah. Asalkan … Asalkan Susan nggak membenciku."
"Memangnya dia berani?" Candra memotong, memeluk bahu Yuli, menarik Yuli lebih dekat ke dadanya, dan menenangkan dengan nada lembut.
Aku menyaksikan semua ini dengan mataku sendiri. Dadaku terasa panas, seolah terbakar oleh api yang tak bernama.
Mungkin karena berniat membicarakan perceraian, setelah hari itu, Candra pulang ke rumah untuk pertama kalinya.
Begitu sampai di rumah, Candra tidak menemukan keberadaanku.
Secara logika, dengan kemampuan dan koneksi yang Candra miliki, mencariku bukanlah hal yang sulit.
Namun, Candra masih belum menemukanku hingga sekarang. Bukannya dia tidak mampu, tetapi dia jelas-jelas tidak ingin melakukannya. Dia hanya menungguku untuk muncul sendiri.
Ketika hari-hari berlalu tanpa kabar dariku, dia mulai gelisah. Dia mulai meneleponku berkali-kali. Dia makin tidak sabar dan penuh amarah.
Hingga suatu hari, sebuah panggilan dari nomor tidak dikenal meneleponnya. Dia mengira itu adalah aku. Dia langsung menekan tombol terima tanpa berpikir panjang. "Susan. Kamu hebat juga, ya. Berani-beraninya nggak angkat teleponku."
"Apa Anda keluarga Nona Susan? Jenazahnya sudah disimpan di rumah sakit selama hampir dua bulan. Mohon Anda segera datang untuk melakukan proses identifikasi." Petugas medis menelepon dan berkata dengan nada dingin.
Aku melihat Candra langsung berdiri dan tubuhnya menegang. Tangannya membeku beberapa detik di udara sebelum tersenyum sinis. "Jangan konyol. Susan, si sialan itu, meski dunia kiamat, dia belum tentu rela mati."
"Maaf, Pak. Bapak satu-satunya kontak darurat yang terdaftar atas beliau. Kami hanya bisa menghubungi Bapak."
"Huh! Kalau begitu anggap saja jenazah nggak dikenal!" Candra menjawab dengan nada dingin dan menutup telepon begitu saja.
Aku melihat tatapan matanya suram. Candra pasti marah.
Aku pun tertawa.
Sepertinya, Candra sama sekali tidak pernah membayangkan bahwa hidupku benar-benar sudah berakhir.
Di mata Candra, aku hanyalah seorang perempuan licik yang akan melakukan apa pun demi mencapai tujuanku. Dia sangat berharap aku yang dia benci ini bisa meninggal.
"Kirana, di mana Susan? Suruh dia segera kembali. Jangan coba-coba sembunyi." Begitu menutup telepon, Candra menelepon Kirana dan berkata dengan nada bicara yang menggebu-gebu.
Kirana adalah satu-satunya teman yang aku miliki. Aku bahkan tidak sempat berpamitan padanya.
"Candra, apa kamu gila? Aku justru mau tanya, kamu bawa Susan ke mana? Sudah sekian lama dia nggak bisa dihubungi." Kirana yang ada di ujung telepon juga tersulut emosi karena kemarahan Candra.
"Kamu kasih tahu dia. Suruh dia segera pulang besok. Kalau nggak, meski dia mati di luar sana pun, aku nggak akan mengurus jenazahnya!" Candra panik. Aku tidak tahu kenapa Candra begitu panik hingga napasnya begitu tidak beraturan.
"Candra. Susan hilang! Kalau terjadi sesuatu padanya, aku nggak akan pernah melepaskanmu!" Kirana berteriak dan memaki Candra sambil menangis.
Namun, Candra malah tertawa sinis dan berkata dengan nada mencemooh, "Ini trik barunya, ya? Pura-pura menghilang supaya aku merasa bersalah? Ah. Sungguh murahan."
Air mata membuat pandanganku kabur. Ketika Candra mengatakan hal itu, perasaanku padanya benar-benar mati.
Lagi pula, di dalam hati Candra, aku selamanya adalah perempuan keji, hina, dan tak tahu malu.
Karena aku pernah mendorong Yuli hingga jatuh dari atas.
Aku teringat tiga tahun yang lalu, waktu Yuli kembali ke negara ini. Waktu itu, perusahaan sedang mengadakan pesta besar. Candra membawa Yuli ke hadapanku, istri sahnya tanpa rasa bersalah. Mereka berjalan berdampingan dan berbaur di antara tokoh ternama di dunia bisnis. Aku pun menjadi bahan tertawaan semua orang di ruangan itu.
Rasa pedih di dadaku sangat menusuk. Aku hanya bisa menahan air mata dan melangkah menjauh untuk menenangkan diri.
Namun, Yuli menghampiriku dan berpura-pura bersifat ramah padaku. Aku tidak ingin menjalin hubungan dengannya, jadi aku berbalik, dan pergi. Namun, Yuli tiba-tiba terjatuh dari tangga.
Aku pun terpaku di tempat. Aku melihat dengan jelas bahwa Yuli tersenyum dingin padaku waktu dia terjauh.
Semua orang terkejut. Aku menatap Yuli yang terbaring di lantai dan bersimbah darah dengan takut. Yuli menatap ke atas ketika Candra datang. Aku gemetar, panik, dan menggelengkan kepala.
Bukan aku. Bukan aku. Namun, tidak ada seorang pun yang memercayaiku.
[Istri Pak Candra Menghukum Selingkuhan dengan Kejam. Percobaan Pembunuhan. Metode yang Sangat Brutal!] menjadi tajuk utama yang diberitakan setiap media besar.
Candra berusaha sekuat tenaga untuk menekan berita itu agar tidak menyebar. Dia marah besar dan membawaku ke rumah sakit.
Sebelumnya, aku sudah menjelaskan berkali-kali bahwa aku tidak pernah mendorong Yuli hingga terjatuh. Aku bahkan memanggil pihak keamanan menampilkan rekaman CCTV untuk membersihkan namaku. Namun, Candra menutup mata akan semua itu.
Candra bersikeras agar aku meminta maaf. Aku memeluk bunga yang Candra siapkan untuk Yuli dan berjalan masuk ke ruang perawatan.
"Candra." Yuli yang masih pucat tersenyum manis pada Candra.
Begitu melihat aku masuk, raut wajahnya langsung berubah, dia tampak ketakutan. "Susan … aku tahu kamu nggak pernah suka sama aku, merasa aku merebut Candra. Soal aku jatuh dari tangga, aku nggak menyalahkanmu. Lagi pula, aku yang memulai semuanya."
Aku melangkah maju perlahan-lahan, berniat menjelaskan. Namun, Yuli tiba-tiba gemetar dan berteriak dengan kencang, "Ah! Susan. Aku tahu aku salah. Aku nggak akan ganggu Candra lagi. Jangan mendekat. Ah!"
Ketika melihatnya terperangkap dalam mimpi buruk, aku pun seketika bingung dan tidak tahu harus berbuat apa.
"Usir dia. Dia sudah dorong Yuli hingga jatuh dari tangga. Kenapa masih berani muncul di sini?" Perempuan kaya yang ada di samping Yuli mendorongku. Aku pun kehilangan keseimbangan dan tersungkur di lantai.
Ekspresi Candra tampak kesal, dia menatapku. "Dia datang untuk minta maaf."
"Ah. Apa gunanya minta maaf?" Perempuan kaya itu berkata sambil tersenyum sinis, "Kalau memang mau minta maaf dengan tulus, harusnya berlutut."
Yuli tersenyum lembut, pura-pura menenangkan, "Jangan gitu."
Aku kesemutan, lalu berdiri, dan bersandar di tembok. Namun, kedua tangan Candra menekan bahuku dengan sekuat tenaga. "Mereka mau kamu berlutut, kamu berlutut saja. Lagi pula, semua ini salahmu!"
Aku menggeleng, berusaha melawan tekanan Candra. "Sebelumnya aku sudah jelaskan. Aku nggak dorong dia. Kenapa kamu nggak mau memercayaiku?"
Candra mengerutkan kening dengan jengkel. Dia mengalihkan pandangan tanpa mengatakan apa pun. Tekanan di bahuku pun makin berat.
"Candra, kamu jangan paksa Susan. Aku tahu dia pasti nggak melakukan itu dengan sengaja." Yuli berkata, berpura-pura menjadi orang baik.
Aku tidak mengatakan apa pun, hanya menatap Candra dengan tatapan membara.
Suasana di ruang perawatan menjadi sunyi. Aku merasa pusing, pandanganku pun menjadi gelap. Akhirnya aku tidak tahan lagi dan pingsan.
Ketika aku kembali tersadar, kabar besar langsung mengguncangku. Aku hamil. Sudah dua bulan.
Rasanya semua kesedihan dan beban beberapa waktu terakhir sirna begitu saja. Candra tidak memaksaku untuk berlutut lagi pada Yuli. Sikapnya padaku pun melunak.
Aku mulai yakin begitu anak ini lahir, Yuli akan berhenti membuat kekacauan. Hubungan aku dan Candra mungkin bisa kembali seperti dulu. Kami akan hidup damai seperti suami istri pada umumnya.
Namun, aku terlalu naif. Ketika kandunganku memasuki usia enam bulan, Candra pulang lebih awal dari biasanya.
Ketika pulang ke rumah, dia membawa seberkas laporan medis di tangannya. Di atasnya tertulis hasil kecocokan transplantasi ginjal antara aku dan Yuli.
Aku menatap Candra dengan bingung.
Candra duduk di sampingku dan memelukku dengan erat. Pelukan itu adalah pelukan hangat yang sudah lama aku rindukan. Namun, perlukan ini terasa berbahaya.
"Kamu juga tahu, ginjal Yuli rusak." Candra berkata dengan nada datar tanpa menunjukkan sedikit emosi apa pun.
Aku mengangguk. "Lalu?"
"Gugurkan anakmu dan lakukan transplantasi. Kamu berutang padanya. Anggap saja sebagai tebusan atas dosa yang kamu buat."
Rasa dingin tiba-tiba menyeruak, seolah-olah ada seember air es yang dituangkan tepat di kepalaku hingga membuat tulang di tubuhku terasa membeku.
Ternyata, perubahan sikap Candra selama ini adalah bagian dari rencananya.
Candra tidak berniat melepaskanku. Dia hanya menunggu waktu untuk menghukumku dengan kejam.
Aku didorong ke neraka oleh pria yang paling aku cintai dan paling aku pedulikan.
Mungkin inilah bentuk balas dendamnya!
Prang! Candra menutup telepon dengan marah. Mungkin karena emosi yang meledak-ledak, dia melempar ponsel ke lantai.
Suara benda yang retak membuat lamunanku buyar.
Setelah Candra tenang, dia berbalik, dan mengambil ponsel yang sudah retak itu. Dia menelpon asistennya, menyuruh orang itu untuk mencari jejakku.
Candra mengirim pesan dengan ekspresi datar. Aku mendekat dan melihat. Di layar tertulis nomor ponselku.
[Susan, aku kasih kamu waktu satu hari. Cepat kembali ke hadapanku. Kalau nggak, tanggung sendiri akibatnya.]
Aku tersenyum getir. Sekarang aku berada di hadapanmu. Hanya saja, kamu tidak bisa melihatku lagi.
Ponselku sudah lama tersimpan di ruang penyimpanan. Mungkin sekarang sudah kehabisan baterai.
Setelah beberapa saat berlalu, tidak ada pesan yang masuk ke ponselnya. Kegelisahan dan kecemasan terlihat jelas dalam ekspresi Candra.
Tidak lama kemudian, Candra mengambil jaket yang tergeletak di sofa dan bergegas keluar. Aku segera mengikutinya. Apa dia mau mencariku?
Aku bertanya-tanya dalam hati.
Kemudian, teriakan dari kamar utama membuat Candra berubah arah. Langkahnya terhenti di pintu keluar.
Yuli yang berada di atas kasur tampak baru saja mengalami mimpi buruk. Setelah Candra masuk, Yuli pun tersadar.
"Mimpi buruk, ya?" Candra menatap Yuli dengan khawatir.
Yuli langsung memeluk Candra dan berkata sambil menangis, "Candra. Aku mimpi Susan datang meminta ginjalnya kembali. Aku juga bermimpi kamu jatuh cinta padanya dan meninggalkanku."
"Huu. Kamu nggak akan tinggalkan aku demi Susan, 'kan?" Yuli menatap Candra dengan penuh harap. Dia sengaja menyebut namaku dengan maksud jahat.
Canda mengulurkan tangan dan mengelap keringat di dahi Yuli. "Nggak akan. Aku … " Candra tampak ragu. Lalu, dia pun melanjutkan perkataannya dengan tegas. "Orang yang aku cintai itu kamu, bukan dia."
Melihat tatapan Candra yang penuh kasih sayang, aku terdiam di tempat. Meski aku hanya roh, dadaku tetap terasa sesak, perih tanpa sebab yang jelas.
Setelah mendengar itu, Yuli tampak puas. Dia berkata dengan gusar, "Kalau gitu, apa kamu sudah berhasil menghubungi Susan?"
"Ponselnya mati." Candra menjawab dengan tegang.
"Susan orang yang suka main-main. Mungkin dia sedang pergi jalan-jalan atau berlibur di tempat lain." Yuli mencoba menenangkan.
Namun, Candra tidak menjawab. Setelah menyuruh Yuli untuk istirahat lebih awal, Candra pun pergi.
Di dalam kamar hanya ada Yuli seorang. Dia duduk perlahan-lahan, menatap punggung Candra yang menjauh sambil tersenyum. Tidak ada lagi kelemahan atau ketakutan, hanya ada senyum kemenangan.
"Susan, Candra cuma milikku seorang. Nggak ada seorang pun yang bisa rebut dia."
"Tapi, kamu sudah mati. Kamu sudah tidak bisa mengancamku lagi. Hahaha."
Yuli bergumam pada dirinya sendiri dan tertawa dengan menyeramkan.
Rasa dingin yang menusuk tulang menjalar ke seluruh tubuhku. Aku membelalakkan kedua mataku. Sejak kapan Yuli tahu bahwa aku sudah meninggal?
...
Keesokan paginya, ponsel Candra berdering.
"Pak Candra, aku sudah menemukan jejak Bu Susan. Dia … " Si asisten menelepon.
Candra tampaknya tidak menyadari keanehan lawan bicaranya dan berkata dengan nada dingin, "Sudah kuduga, dia pasti berulah lagi. Triknya tetap buruk seperti biasanya."
Mungkin hanya perasaanku saja. Ketika Candra mengatakan kalimat itu, aku bisa merasakan bahwa Candra merasa lega.
"Bawa dia pulang. Aku tunggu kalian di rumah." Candra memberi perintah dengan tegas.
"Pak Candra. Bu Susan … Sejak masuk rumah sakit dua bulan lalu, Ibu nggak pernah keluar lagi. Setelah diselidiki … " Lawan bicaranya terdiam sejenak dan melanjutkan, "Bu Susan meninggal secara tidak sengaja saat operasi dua bulan lalu. Saat ini jenazahnya disimpan di kamar mayat lantai B1 rumah sakit."