Cinta pertama suamiku terkena gagal ginjal akut dan akulah satu-satunya orang yang cocok untuk menjadi donor.
Demi menyelamatkan cinta pertamanya, suamiku memaksaku menggugurkan kandungan ketika kandunganku berusia enam bulan.
Suamiku berkata dengan suara yang sangat lembut dan menusuk, "Bisakah kamu sedikit berbaik hati? Kamu cuma kehilangan seorang anak. Tapi, dia kehilangan hidupnya!"
Aku berusaha menolak, tetapi suamiku mengancam akan bunuh diri.
Aku dan anakku pun tidak selamat di meja operasi.
Sementara cinta pertamanya berhasil menjalani transplantasi dan bertahan hidup.
Segalanya berjalan seperti yang suamiku inginkan, tetapi setelah dia tahu bahwa aku sudah meninggal, dia pun menjadi gila.
Setelah meninggal, rohku perlahan-lahan terlepas dari tubuhku dan melayang tanpa arah di udara.
Perutku belum dijahit dan di tubuhku hanya tersisa satu ginjal. Di sampingku ada anak yang belum terbentuk sempurna. Keadaannya sangat mengenaskan.
Tidak lama kemudian, tubuhku ditutup rapat dengan sehelai kain putih. Mayat pun didorong keluar dari ruang operasi.
Aku melihat bahwa suamiku, Candra Wongso berdiri di depan pintu ruang operasi yang lain. Kecemasan yang belum pernah aku lihat memenuhi wajahnya.
Ketika melewati Candra, dia bahkan tidak menoleh sedikit pun.
Apa yang sedang kuharapkan? Dia hanya mengkhawatirkan orang lain.
Ketika pintu operasi di depan Candra terbuka, dia langsung berlari menghampiri dokter dan berkata, "Dokter, gimana kondisi Yuli?"
"Operasi transplantasi ginjalnya sangat sukses. Begitu efek anestesinya hilang, kamu bisa menemuninya." Candra tersenyum lebar mendengar itu.
Yuli yang ada di kamar tampak pucat. Mata Candra memerah ketika melihatnya. Dia menggenggam tangan perempuan itu dengan erat dan berkata dengan penuh kasih sayang, "Yuli, kamu sudah menderita."
"Nggak kok." Yuli mengangkat tangan perlahan-lahan dan menyentuh pipi Candra dengan lembut. Yuli terdiam sejenak dan berkata, "Candra, kamu seharusnya nggak ada di sini. Kamu seharusnya menemani Susan. Aku berutang padanya."
Usai mengatakan itu, Yuli menitikkan air mata.
Candra memotong, "Sampai kapan kamu akan memikirkan dia? Kalau bukan karena wanita jahat itu, operasimu nggak akan tertunda sampai sekarang, 'kan? Semua ini salahnya. Dia membuatmu menderita seperti ini."
Kata-kata Candra penuh kebencian dan nada menyalahkan.
Napasku terhenti seketika. Jantungku seolah-olah diremas oleh rasa sakit yang tak kasat mata.
Susan disebut Candra sebagai wanita jahat itu adalah aku.
Konon katanya...
Ketika orang mati, hidup akan berputar seperti kilasan cahaya terakhir. Namun, yang aku lihat adalah dua orang yang berpelukan dengan erat.
Yang tersisa dibenakku hanyalah rasa takut yang menggulung seperti ombak dan nyeri tak berujung saat Candra memaksaku naik ke meja operasi.
Waktu itu Candra memegang tanganku dan berkata dengan mata merah, "Susan, aku bersumpah. Asalkan kamu selamatkan Yuli, kita akan hidup bahagia. Tapi, kalau Yuli mati, aku nggak akan mau hidup lagi." Nada bicaranya seperti memohon, tetapi sebenarnya itu adalah ancaman.
Sejak orang tuaku meninggal, aku tidak punya apa-apa. Perusahaan peninggalan mereka terlilit utang dan Keluarga Wongso membantuku membayarnya.
Sejak Keluarga Wongso membantuku waktu itu, nyawaku sudah menjadi milik Candra.
Aku jelas-jelas tahu bahwa Candra tidak akan benar-benar bunuh diri. Namun, ancaman itu sudah cukup untuk membuatku luluh.
Aku pun menyerah ketika menatap pria yang aku cintai selama lima tahun ini. Aku rela menggugurkan anak kami dan mendonorkan ginjalku untuk Yuli, menantikan kehidupan bersama kami kelak bisa membaik.
Namun, pada saat operasi, pendarahan hebat terjadi. Dokter berkali-kali mencoba menghubungi keluarga, tetapi tidak ada yang menjawab. Dalam kesadaranku yang mulai memudar, samar-samar kudengar beberapa helaan napas panjang penuh keputusasaan.
Akhirnya, aku mengembuskan napas terakhirku.
Saat ini, tubuhku terbaring kaku di ruang jenazah yang sangat dingin, sementara Candra masih setia menemani cinta pertamanya.
Sebulan kemudian, Yuli akhirnya keluar rumah sakit. Tanpa pikir panjang, Candra bersikap dermawan dan membelikan sebuah vila mewah khusus untuk Yuli memulihkan diri.
Untuk merayakan kesembuhan Yuli, Candra mengundang banyak teman dan mengadakan pesta besar.
Kekuatan yang tak kasat mata seolah mengikatku di samping Candra. Aku melihat mereka pergi bersama kemana-mana.
Yuli memang selalu senang menjadi pusat perhatian. Meski tubuhnya belum benar-benar pulih, dia tetap menghadiri pesta itu sambil bersandar manja pada Candra.
Mereka begitu terang-terangan. Tak heran apabila para tamu mulai bergosip.
Ketika teman Candra menyebut namaku, Yuli tentu tidak senang. Namun, Yuli tidak menunjukkannya. "Candra, seharusnya kita nggak kayak gini, 'kan? Lagi pula, aku nggak punya status. Kalau Susan tahu, dia pasti marah."
"Di hari baik ini, kenapa kamu sebut namanya? Bawa sial!" Ketika menyebut namaku, wajah Candra dipenuhi dengan kekesalan.
Di hadapan semua orang, Candra menggenggam tangan Yuli dan berkata dengan lantang, "Yuli adalah perempuan yang aku cintai seumur hidupku. Aku harap kalian semua nggak membicarakan orang lain yang nggak ada hubungan apa-apa lagi denganku."
Keramaian mendadak hening. Semua orang saling menatap dan tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Semua orang tahu jelas apa artinya tidak boleh menyebut istri sah.
Tatapan Candra suram. Perkataan yang keluar dari bibirnya menghantamku dengan keji.
Mataku seketika memerah dan panas oleh air mata yang nyaris tak tertahankan.
Benar. Aku hanyalah bayangan tak terlihat, pengganti Yuli. Dari awal sampai akhir, orang yang Candra cintai adalah Yuli.
Semua orang pernah mengatakan bahwa kami adalah kekasih masa kecil. Karena Candra pernah mengatakan suka padaku waktu masih kecil, aku mencintainya selama 10 tahun.
Sayangnya, cinta masa muda itu terlalu rapuh. Candra pun bertemu dengan cinta sejatinya, Yuli waktu kuliah. Segala perasaan di antara kami seketika lenyap begitu saja.
Karena aku hanya bisa menyembunyikan perasaanku, aku melihat mereka dari jauh, dan menjadi saksi bisu kebahagiaan mereka.
Akhirnya, Yuli memutuskan pergi keluar negeri dan hubungan mereka pun berakhir.
Saat Candra mabuk berat, dia diserang oleh para penculik. Aku mengalihkan perhatian para penculik seorang diri dan memberi Candra kesempatan untuk melarikan diri.
Sebelum aku hilang kesadaran, Candra berjanji padaku, "Susan, asal kamu tetap hidup, aku akan memperlakukanmu dengan baik …"
Setelah tersadar, Candra ternyata memang menepati ucapannya. Dia benar-benar memperlakukanku dengan penuh perhatian. Akhirnya, kami pun menikah.
Selama menikah dengannya, Candra benar-benar suami teladan. Tutur kata dan perbuatannya padaku begitu sempurna. Di mata orang lain, kami adalah pasangan ideal yang mencontohkan kisah cinta yang sempurna.
Tapi kepulangan Yuli bagaikan petir yang menyambar permukaan danau yang tenang, menimbulkan gelombang dahsyat yang mengobrak-abrik semuanya.
Yuli mengatakan bahwa dia pergi keluar negeri karena sakit. Satu kalimat ini saja sudah cukup untuk mengguncang hati Candra yang sebelumnya begitu teguh.
Awalnya Candra sering pulang terlambat, lama kelamaan dia tidak pulang bermalam-malam tanpa kabar. Namun, begitu pulang ke rumah, Candra selalu mengatakan hal-hal mengenai Yuli.
Aku pernah berpikir, apabila aku tetap bersabar, aku pasti bisa meluluhkan hatinya, dan membuatnya kembali. Aku tidak tahu bahwa itu akan menjadi tragedi. Dua nyawa pun terenggut di meja operasi.
"Candra, Ibu sudah lama nggak bertemu kalian. Besok ajak Susan pulang buat makan di rumah. Telepon Susan nggak bisa dihubungi sejak lama. Kalian sibuk apa akhir-akhir ini?" Beberapa hari kemudian, Lisa, ibunya Candra pun menelepon. Pada saat itu, Yuli sedang bersandar manja di dada Candra.
Begitu mendengar suara Lisa, mataku mendadak terasa perih. Lisa adalah sahabat terbaik ibuku. Setelah orang tuaku kecelakaan, dia membawaku ke rumahnya.
"Bu. Dia memang nggak tahu berterima kasih. Walau dia marah padaku, dia seharusnya tetap jawab telepon Ibu!" Ekspresi Candra sangat kesal ketika menyebut namaku.
Aku berdiri di depan Candra dan menertawakan diriku sendiri. Cinta yang dulu sudah lenyap. Dia bahkan mengatakan bahwa aku orang yang tidak tahu berterima kasih.
"Candra, aku tahu di hatimu ada wanita itu. Tapi, kamu sudah menikahi Susan. Kamu harus bertanggung jawab padanya. Kalau nggak, gimana aku menjelaskan ini pada ibunya?" Lisa berkata dengan cemas.
Ekspresi Candra pun menjadi suram. Dia jawab seadanya sebelum menutup telepon.
Lalu, Candra menatap Yuli dengan penuh kasih sayang, seolah-olah ingin menenangkan hatinya.
"Candra, Susan akhir-akhir ini nggak menghubungimu, ya?" Yuli bertanya dengan lirih, seolah-olah baru teringat sesuatu.
"Hubungi aku?" Candra mengerutkan kening. "Dia hampir saja membuatmu mati. Kenapa kamu begitu peduli padanya? Baguslah kalau dia menghilang."
"Yuli. Tunggu aku. Begitu aku resmi cerai dengannya. Aku akan memberimu sebuah status." Candra tiba-tiba berjanji dengan serius.
Aku hanya melihat Yuli memeluk Candra dan bersandar dengan manja di dadanya. "Aku nggak masalah. Asalkan … Asalkan Susan nggak membenciku."
"Memangnya dia berani?" Candra memotong, memeluk bahu Yuli, menarik Yuli lebih dekat ke dadanya, dan menenangkan dengan nada lembut.
Aku menyaksikan semua ini dengan mataku sendiri. Dadaku terasa panas, seolah terbakar oleh api yang tak bernama.
Mungkin karena berniat membicarakan perceraian, setelah hari itu, Candra pulang ke rumah untuk pertama kalinya.
Begitu sampai di rumah, Candra tidak menemukan keberadaanku.
Secara logika, dengan kemampuan dan koneksi yang Candra miliki, mencariku bukanlah hal yang sulit.
Namun, Candra masih belum menemukanku hingga sekarang. Bukannya dia tidak mampu, tetapi dia jelas-jelas tidak ingin melakukannya. Dia hanya menungguku untuk muncul sendiri.
Ketika hari-hari berlalu tanpa kabar dariku, dia mulai gelisah. Dia mulai meneleponku berkali-kali. Dia makin tidak sabar dan penuh amarah.
Hingga suatu hari, sebuah panggilan dari nomor tidak dikenal meneleponnya. Dia mengira itu adalah aku. Dia langsung menekan tombol terima tanpa berpikir panjang. "Susan. Kamu hebat juga, ya. Berani-beraninya nggak angkat teleponku."
"Apa Anda keluarga Nona Susan? Jenazahnya sudah disimpan di rumah sakit selama hampir dua bulan. Mohon Anda segera datang untuk melakukan proses identifikasi." Petugas medis menelepon dan berkata dengan nada dingin.
Aku melihat Candra langsung berdiri dan tubuhnya menegang. Tangannya membeku beberapa detik di udara sebelum tersenyum sinis. "Jangan konyol. Susan, si sialan itu, meski dunia kiamat, dia belum tentu rela mati."
"Maaf, Pak. Bapak satu-satunya kontak darurat yang terdaftar atas beliau. Kami hanya bisa menghubungi Bapak."
"Huh! Kalau begitu anggap saja jenazah nggak dikenal!" Candra menjawab dengan nada dingin dan menutup telepon begitu saja.
Aku melihat tatapan matanya suram. Candra pasti marah.
Aku pun tertawa.
Sepertinya, Candra sama sekali tidak pernah membayangkan bahwa hidupku benar-benar sudah berakhir.
Di mata Candra, aku hanyalah seorang perempuan licik yang akan melakukan apa pun demi mencapai tujuanku. Dia sangat berharap aku yang dia benci ini bisa meninggal.
"Kirana, di mana Susan? Suruh dia segera kembali. Jangan coba-coba sembunyi." Begitu menutup telepon, Candra menelepon Kirana dan berkata dengan nada bicara yang menggebu-gebu.
Kirana adalah satu-satunya teman yang aku miliki. Aku bahkan tidak sempat berpamitan padanya.
"Candra, apa kamu gila? Aku justru mau tanya, kamu bawa Susan ke mana? Sudah sekian lama dia nggak bisa dihubungi." Kirana yang ada di ujung telepon juga tersulut emosi karena kemarahan Candra.
"Kamu kasih tahu dia. Suruh dia segera pulang besok. Kalau nggak, meski dia mati di luar sana pun, aku nggak akan mengurus jenazahnya!" Candra panik. Aku tidak tahu kenapa Candra begitu panik hingga napasnya begitu tidak beraturan.
"Candra. Susan hilang! Kalau terjadi sesuatu padanya, aku nggak akan pernah melepaskanmu!" Kirana berteriak dan memaki Candra sambil menangis.
Namun, Candra malah tertawa sinis dan berkata dengan nada mencemooh, "Ini trik barunya, ya? Pura-pura menghilang supaya aku merasa bersalah? Ah. Sungguh murahan."
Air mata membuat pandanganku kabur. Ketika Candra mengatakan hal itu, perasaanku padanya benar-benar mati.