Wajahnya selalu menunduk dan tak pernah berani menatap orang lain. Ia adalah salah satu siswa tingkat dua di Woodstone Private High School namun tak ada yang mengenal namanya. Ketika ia turun dari bis sekolah berwarna kuning, ia hampir terjerembab diantara kendaraan dan para siswa yang berebutan keluar. Anak itu begitu pemalu dan selalu merasa dirinya tak sebanding dengan orang lain.
Aidan Orlando hanya bisa menghela napas dan menunggu semua orang pergi meninggalkannya baru ia akan melanjutkan berjalan kaki masuk ke pekarangan sekolah. Sambil menggenggam tali ransel dengan erat, Aidan menelan ludah dan memperbaiki letak kacamatanya.
Ia sempat terdiam sejenak memandang bangunan besar di depannya. Jika ia bisa kembali, rasanya ia ingin pulang saja. Hidup di LA sudah cukup sulit baginya, lalu masuk ke sekolah swasta seperti ini makin membuatnya frustasi. Aidan cukup lama terdiam merutuki dirinya yang terlahir pengecut dan tak mampu melawan keadaan yang membelenggunya bertahun-tahun.
"HEY, MORON!” (bodoh) teriak salah seorang siswa senior pada Aidan. Aidan terpaksa berhenti dan menundukkan kepalanya. Siswa itu mendekat padanya dan membully-nya seperti biasa.
"Kamu ingatkan janjimu hari ini? Jangan bilang kamu melupakannya!" ujar senior itu sambil memukul bagian belakang kepala Aidan. Aidan tidak menjawab dan menelan ludahnya dengan perasaan takut. Tangannya yang gemetaran kemudian merogoh saku celana lalu mengeluarkan uang sakunya hari ini dan menyerahkannya pada senior itu.
"What a nerd!" ejek (dasar kuper) para senior yang mengerjai Aidan. Mereka kemudian tertawa keras dan Aidan pun pergi tanpa bicara sepatah kata pun.
Aidan masih berjalan sendirian masuk ke bangunan sekolahnya, SMA Woodstone Private ketika bel tanda masuk tengah berbunyi dengan keras. Semua siswa bersiap akan masuk kelas seperti biasa. Aidan kemudian berjalan ke arah loker untuk mengambil beberapa buku dan menyimpan tas. Tiba-tiba ia didorong dengan keras sehingga keningnya membentur pintu loker.
"Aah!" hanya suara kecil kesakitan yang keluar dari mulutnya. Ia menegakkan lagi tubuhnya dan menoleh ke belakang melihat kumpulan anak-anak populer di sekolah yang sengaja mendorongnya hingga membentur loker dan mereka pura-pura tidak sengaja. Aidan masih diam saja, ia membuka pintu loker dan mengambil buku yang diperlukan untuk kelas Sains pagi ini.
"BALL CHEEK!" (pipi bola) teriak salah seorang siswa yang menggunakan skateboard lalu menabrak Aidan tiba-tiba. Ia terjatuh dengan keras seperti pin bowling. Aidan lalu meringis kesakitan sedangkan siswa yang menabraknya dengan sengaja, melakukan tos bersama teman-temannya sambil berteriak "STRIKE!" tanda pin bowling jatuh.
Satu koridor tertawa lepas melihat bahan buruan mereka kesakitan dan bisa saja cedera. Tapi bagi mereka, mengerjai anak seperti Aidan adalah sebuah lelucon wajib setiap hari. Tak jarang, siswa-siswa populer itu seakan berlomba memberikan bully-an yang paling menyakitkan sekalipun dan memamerkannya.
Aidan kemudian duduk sambil memegang sikunya di tengah meledaknya tawa seluruh siswa di sana. Untung ia memakai hoody besar, jika tidak seluruh tubuhnya pasti lecet. Seorang guru kemudian berteriak di ujung lorong membubarkan tertawaan dan kerumunan anak-anak itu.
"Apa yang kamu lakukan disitu! Bangun dan masuk ke kelasmu!" hardik guru itu pada Aidan yang masih terduduk di lantai. Dengan tubuh kesakitan, Aidan berusaha berdiri sambil memungut buku-bukunya. Ia menutup pintu loker dan menguncinya sebelum berjalan ke arah kelas.
Begitulah keseharian yang dialami oleh Aidan Orlando, siswa kelas dua SMA Woodstone Private, Los Angeles. Ia menjadi bahan bullyan dan jahilan adalah makanannya sehari-hari semenjak ia masuk ke sekolah itu.
Aidan sebenarnya siswa yang pintar, meski bukan jenius tapi ia cukup cepat menyerap pelajaran. Namun kepintaran sepertinya hanya akan jadi alasan bagi siswa di sana untuk mendapatkan bullyan.
Aidan hidup berdua dengan ibunya, Celia Orlando di sebuah flat di pinggiran LA. Mereka tidak kaya tapi juga bukan orang miskin. Celia sendiri bekerja sebagai sekretaris sebuah perusahaan perhotelan dan resort.
Ayah Aidan pergi meninggalkan dirinya dan Ibunya untuk alasan yang tidak ia ketahui sampai hari ini. Yang ia tahu sang Ayah pergi saat ia masih sangat kecil, ia bahkan tak bahkan tak ingat nama dan wajahnya. Ibunya Celia tak menyimpan satu pun foto ayahnya. Aidan akhirnya memakai nama belakang Kakeknya, Demian Orlando sebagai nama keluarga karena sang Ibu tak mau memakai nama belakang Ayahnya.
Di dalam kelas, Aidan tak luput dari ejekan atau kejahilan siswa lain. Permen karet yang melekat di tempat duduk, kepala disiram air atau buku yang dirobek plus disiram air adalah hal yang mulai biasa baginya. Sesungguhnya ia sudah tak tahan lagi. Namun, Aidan begitu mencintai Ibunya.
Jika ia bercerita tentang luka-lukanya selama ini di sekolah, maka Ibunya akan kecewa. Masuk menjadi siswa di Woodstone Private High School adalah impian hampir seluruh anak di LA. Sekolah bergengsi itu tak bisa hanya dimasuki oleh anak pintar saja tapi juga memiliki banyak uang.
Celia, Ibu Aidan sudah mengorbankan seluruh tabungan dan asuransinya demi bisa menyekolahkan putranya di sekolah tersebut. Itu sebabnya mengapa Aidan menelan bulat-bulat rasa sakitnya.
"Hei, gendut!" pluk kepala Aidan ditimpuk menggunakan gumpalan kertas oleh seorang siswa anggota tim football di sekolahnya. Aidan menoleh ke belakang.
"Berikan kertas jawabanmu!" bisiknya sambil mengancam menggunakan kepala tangan. Aidan terpaksa memberikan kertas jawaban kuisnya ke belakang. Guru yang tengah mengawasi ujian melihat hal itu.
"Tuan Orlando, kemari kamu!" panggil guru tersebut. Aidan maju dengan takut-takut.
"Kuis mu aku batalkan!"
"Tapi Pak ..."
"Tidak ada ampun untuk penyontek," sahut guru itu dengan suara mulai tinggi. Setengah kelas sedang menertawakan Aidan kini.
"Bukan aku yang melakukannya, tapi ..."
"Aku tak mau mendengar alasanmu, kembali ke tempat dudukmu!" perintah guru itu. Aidan mendapat cemoohan dari seluruh siswa di kelas itu. Sekali lagi seperti biasa, ia hanya bisa menghela nafas dan melipat kedua lengan di meja. Entah sampai kapan penderitaan itu akan berakhir.
Saat makan siang adalah penderitaan tersendiri. Nampan makan siangnya sering ditepis atau dibuang oleh siswa-siswa yang menjahilinya. Terutama oleh Quarterback Eagle Wood football team, Jason Holland. Jason yang merupakan kapten sekaligus Quarterback tim football sekolah mereka adalah pria paling tampan di Woodstone Private.
Ia playboy dan terkenal suka gonta ganti pacar. Statusnya sebagai Quarterback membuatnya mudah menggaet gadis manapun yang ia inginkan sekaligus menjadikannya raja di SMA itu. Ia bisa dengan mudah menunjuk "punch bag" atau sasaran empuk perundungan seluruh tim dan kelompok anak-anak populer lainnya.
Dan Aidan adalah "favorit" nya. Aidan yang berwajah polos dan chubby membuat Jason kesal setengah mati. Ia senang mendorong atau menendang Aidan sampai ia tersungkur.
"Minggir gendut, tubuhmu berlemakmu menghalangi jalanku!" hardik Jason mendorong Aidan sehingga kotak susu Aidan jatuh dan pecah. Aidan terpaksa memunggutnya dan tetap meminum sisanya karena ia sudah tak punya uang membeli susu baru.
Tak ada siswa yang mau duduk bersama pecundang seperti Aidan Orlando. Lebih parahny lagi, tidak ada satu pun siswa yang mengenal namanya atau tau siapa dia. Aidan nyaris tak memiliki teman sama sekali.
Kemana-mana ia hanya sendirian dan Aidan sudah biasa diperlakukan seperti itu. Seperti hari ini ia tengah menikmati sendiri makan siangnya di salah satu sudut kantin, sendirian.
Namun tak semua anak populer mau membully siswa lain. Siswa seperti Mars Callesthene King dan Caleb Konstantine yang selalu bersamanya, lebih tidak perduli daripada membully. Mereka terkenal dengan ketampanan dan kekayaannya.
Terutama Mars yang merupakan anak pengusaha kaya raya asal Seattle, Geovanni King. Mars dan Caleb lebih sering terlihat berkonfrontasi dengan siswa seangkatan mereka namun tak pernah satu kelas dengan Aidan, yaitu Jared Klaus Wright.
Di SMA itu, Mars dan Caleb yang terkenal seorang playboy lebih banyak ditakuti. Gosip tentangnya memimpin gangster di LA barat dan bukan orang memiliki belas kasihan jika sudah berkelahi. Namun pada gadis menyukai pria bad boy seperti Mars. Mereka kadang berkerumun hanya untuk melihat anak tampan itu lewat dengan penampilan model papan atas.
Seperti biasa, Mars dan Caleb berjalan berdua melewati kantin dan kerumunan tim football Eagle Wood yang sedang makan di salah satu sudut paling istimewa di kantin itu. Sama seperti Aidan, Mars selalu hanya terlihat dengan Caleb meski belakangan kabarnya dia dekat dengan salah seorang siswa pertukaran pelajar.
Setelah mengambil tray makanan, dengan santai keduanya duduk di salah satu bangku yang langsung kosong begitu Mars dan Caleb tiba. Keduanya terlihat mengobrol seperti biasa dan tak ada siswa yang berani menghampiri sampai si kapten Football datang.
"Hey, King!" panggil Jason sambil menyengir angkuh. Mars mendengus terlihat enggan menoleh sehingga Jason jadi kesal. Beberapa orang siswa mulai melihat ke arah bangku Mars dan Caleb.
"Aku bicara padamu!" hardiknya lagi. Aidan akhirnya ikut menaikkan pandangannya melihat sudut tempat Jason dan teman-teman se timnya berkumpul. Seluruh kantin mendadak senyap seolah akan terjadi perkelahian.
Mars terkenal gampang marah dan tak segan memukul sampai babak belur. Kabarnya membunuh adalah rutinitasnya karena ia dikenal sebagai pemimpin berandalan dan gangster. Bahkan para guru pun tak berani terlalu ikut campur kecuali memberikan hukuman biasa jika Mars berkelahi.
"Aku tidak tuli!" hardik Mars balik membalas. Aidan sedikit tersenyum. Satu-satunya siswa yang berani menghadapi Jason hanyalah Mars King. Setidaknya ia dapat lawan yang sepadan.
"Aku memberikan kamu tawaran sekali lagi. Masuklah ke timku, kamu akan kuberikan posisi Wide Receiver atau Tackle!" tawar Jason makin mengeraskan suaranya. Mars mendengus sambil melirik dengan pandangan sinis. Ia tau persis apa maksud Jason mengeraskan suaranya menawarkannya seperti itu.
Selain karena Jason pikir dirinya bisa mengatur orang lain tapi juga ingin menjebak Mars. Jika Mars menolak di depan semua orang, maka ia dengan leluasa dapat memanggilnya dengan sebutan "fedget" atau banci.
"Aku tidak tertarik," jawab Mars singkat lalu meneruskan makan. Caleb Konstantine tergelak mendengar jawaban Mars. Jason pun tertawa mengejek.
"Ayolah, Mars King. Aku pikir kamu pemberani!" ejek Jason lagi lalu disambut tertawaan teman-teman satu timnya.
"Kenapa kamu tidak menawarkan itu padaku!" tiba-tiba sebuah suara muncul dan seorang siswa dengan tubuh tinggi berambut hitam duduk di depan Mars. Mars menyengir lalu menoleh lagi pada Jason.
Arjoona Harristian menyengir pada Jason. Ia adalah siswa yang sama yang menantang Jason Holland melempar bola football melewati tiang pembatas gol minggu lalu di kelas PE (physical exercise). Tapi ia kalah sebagai Quarterback, hal itu sangat memalukan. Kini Arjoona menantang agar Jason untuk memasukkannya dalam tim.
"Aku tidak punya urusan denganmu!" wajah Jason berubah saat melihat siswa pertukaran pelajar dari Indonesia itu. Tapi Arjoona malah makin menyengir lebar.
"Ayolah, aku tau kamu takut jika aku akan mengambil posisi Quarterback mu kan!" sahut Arjoona memukul dengan kata-katanya. Caleb tertawa keras dan menepuk tangannya ke udara.
"Aku dengar tak ada yang mau memberinya beasiswa. Dia bahkan tidak bisa melempar dengan baik. Seluruh siswa disini bisa mendapatkan beasiswa karya ilmiah dengan mudah, dia bahkan mendapat F untuk pelajaran Mr. Luther," ujar Caleb makin menambah masalah.
"Jika aku jadi pelatih McCarrath, aku lebih suka mengambil anak lugu di belakang sana menjadi Quarterback. Aku rasa dia bisa berlari lebih kencang dari pecundang itu, hahaha," ejek Mars menambah dengan tawa yang keras.
Mars malah menunjuk Aidan yang duduk di belakangnya sehingga satu kantin kini melihatnya. Padahal Mars tidak mengenal Aidan sama sekali. Aidan jadi menunduk dan memilih pergi dari kantin itu.
Terdengar tawa keras Arjoona, Mars dan Caleb yang bisa balik mengejek Jason. Aidan sempat tersenyum sebelum keluar kantin. Ia tidak bisa membalas Jason dan secara tidak langsung, Mars, Caleb dan Arjoona tak sengaja melakukan untuknya.
Keesokan hari semuanya memang masih sama saja. Berangkat sekolah dan dibully sepanjang hari. Namun ada yang berbeda hari ini. Aidan terpeleset karena bola sabun yang sengaja dilemparkan ke lantai tempatnya berjalan. Kepala belakang Aidan terbentur cukup keras dan terasa sakit.
"Kamu baik-baik saja?" tanya seorang gadis tiba-tiba berdiri di atas kepalanya. Mata Aidan membesar saat melihat wajah gadis yang berdiri melihatnya di terlentang di lantai. Sesaat Aidan tak bergerak melihat wajah gadis itu, dia sangat cantik seperti boneka. Gadis itu masih menatap Aidan dengan pandangan heran namun tersenyum. Aidan yang menyadari lalu bangun dan langsung berdiri.
"A-aku baik-baik saja," jawab Aidan dengan nada gugup. Ia tak berani memandang gadis itu terlalu lama. Gadis itu masih tersenyum tipis lalu pergi bersama dua orang teman-temannya. Ia meninggalkan Aidan yang terpaku tak berkedip melihat gadis secantik itu. Aidan malah tersenyum merona lalu meringis karena kepalanya masih sakit.
Bertemu dengan gadis misterius yang cantik dan imut adalah hal yang tak pernah dibayangkan Aidan sebelumnya. Tapi kini ketika ia pergi sekolah, ia memiliki semangat lain. Ia ingin bisa melihat gadis berambut pendek dengan wajah imut seperti boneka itu. Gadis itu kini berada tiga meter dari loker Aidan. Ia sedang berbicara dan tertawa dengan teman-temannya.
Dari lokernya, Aidan mencuri-curi pandang untuk bisa melihat gadis pujaan hatinya. Dan jika gadis itu melihat ke arahnya, Aidan membuang mukanya dan langsung pergi. Ia gadis yang modis dan ceria, temannya banyak dan yang tak Aidan tau adalah gadis itu menyukai sang Quarterback, si pirang Jason Holland.
Hari ini di kelas pelajaran Bahasa Perancis, Aidan memilih duduk di sudut belakang. Dua meja di sebelah kanan di depannya, gadis pujaannya duduk disana memperhatikan penjelasan guru di depan kelas. Sedangkan Aidan mengambil kesempatan itu untuk melukis sketsa wajah gadis cantik itu dari samping. Aidan diam-diam menggambarkannya di buku tulisnya sambil tersenyum. Lalu menggambarkan emoji hati.
'Mungkin aku sudah jatuh cinta,' ujar benaknya sambil tersenyum menundukkan wajah.
Rasanya Aidan Orlando benar-benar merasa beruntung hari ini. Ia tak pernah membayangkan akan berada satu kelas dengan gadis yang bersedia menanyakan keadaannya satu minggu lalu. Aidan jadi berterima kasih pada sabun yang membuatnya jatuh sehingga bisa bertemu dengan bidadari secantik itu.
Saat yang ditunggu pun tiba, yaitu ketika seluruh nama siswa di absen sebelum kelas berakhir. Aidan sangat ingin tau siapa nama gadis yang menarik hatinya. Ia menunggu dengan sabar, gadis yang berada tak jauh darinya itu menaikkan tangannya saat namanya dipanggil.
"Malikha Swan," panggil Miss Thundberg, guru Bahasa Perancis mereka. Gadis itu kemudian menaikkan sebelah tangannya. Saat itulah Aidan tau jika namanya ternyata adalah Malikha Swan.
"Namamu secantik wajahmu, Malikha Swan," gumam Aidan pelan pada dirinya sendiri sambil tersenyum melirik pada Malikha. Aidan lalu menundukkan kepala dan menikmati desiran tak biasa dalam hatinya. Semuanya hangat dan indah. Malikha tak menyadari jika ada seorang pengagum rahasia yang mencuri-curi pandang padanya.
Beberapa hari kemudian, sebelum ujian tengah semester, Aidan mengalami perundungan lagi. Kali ini tengah disiksa di ruang kamar mandi laki-laki, tepat di dekat basin cuci tangan dan cermin.
"Dasar pecundang, aku sudah bilang kerjakan PR ku! Kenapa kamu tidak melakukannya, HAH!" Jason berteriak di depan wajah Aidan yang sudah ia pukuli beberapa kali. Kali ini Aidan mencoba melepaskan diri dari Jason dengan tidak menuruti perintahnya.
"Aaakhh ... lepaskan aku!" pinta Aidan memohon tapi seseorang malah memukul perutnya. Ia meringis kesakitan dan punggungnya meluncur di dinding kamar mandi siswa pria. Aidan masih ditendang saat tasnya direbut dan diobrak abrik isi di dalamnya. Ia sudah tak sanggup melawan atau memang ia tak melawan karena terlalu takut.
"Jangan ... aku baru membeli buku itu!" ujar Aidan mencoba meraih buku barunya. Tapi Jason yang berang makin menaikkan buku itu lebih tinggi sehingga tak bisa diraih oleh Aidan.
"Oh ya! Aku rasa kamu tidak keberatan jika kubakar saja bukumu, bukan!" ancam Jason dengan wajah kesal.
"Jangan! Tolong!"
Tiba-tiba pintu terbuka, lalu siswa bernama Arjoona dan Mars masuk dengan santainya ke toilet laki-laki. Mereka melewati Aidan yang tengah disiksa oleh kelompok Jason dengan santainya dan hanya melirik seperti tak terjadi apa pun di sana. Jason yang melihat Mars dan Arjoona melewati dan berlaku tidak sopan padanya, mulai menegur.
"Hey, apa yang kalian lakukan disini!" hardiknya dengan angkuh.
"Buang air kecil, apa kamu buta tidak bisa melihat!" balas Mars lalu membuka resleting celananya dan menuntaskan keperluannya. Begitu pula dengan Arjoona yang hanya mendengus dan tersenyum saja.
"Aku sedang ada urusan di sini!" hardik Jason lagi makin kesal.
"Lalu urusan kami apa?" Arjoona balik bertanya pura-pura polos. Aidan sudah meringkuk kesakitan dan ikut bengong melihat Arjoona.
"Kalian berdua selalu menggangguku!" sahut Jason benar-benar kesal.
Arjoona dan Mars saling melihat satu sama lain dan dengan cueknya, mengancing celana lalu berjalan ke wastafel untuk mencuci tangan. Arjoona lalu sedikit melirik pada Aidan yang berada di dekat kakinya.
"Kenapa kamu duduk di lantai?" tanya Arjoona pada Aidan. Aidan menaikkan pandangan pada Arjoona tapi dengan wajah keheranan. Baru kali ini siswa transferan itu menyapanya. Arjoona lalu menjulurkan sebelah lengannya agar Aidan bangun dari lantai. Aidan yang awalnya ragu lalu kemudian meraih lengan Joona.
"Hey, jangan ikut campur urusanku!" tunjuk Jason dengan marah pada Joona. Dengan santai, Joona berbalik dan tersenyum mengejek.
"Aku tidak mencampuri urusanmu, aku hanya membantunya berdiri," jawab Arjoona santai makin membuat Jason kesal. Jason benar-benar kehilangan akal jika menghadapi dua orang itu, Arjoona dan Mars. Jason yang tak tau harus berbuat apa lagi kemudian mengambil buku-buku Aidan dan merobeknya. Ia lantas mengambil korek dari balik saku celananya dan mengancam seperti akan membakar buku-buku itu.
"Jangan ... kumohon!" ujar Aidan masih meminta. Arjoona menghalangi tubuh Aidan yang hendak menghampiri Jason dengan sebelah tangannya.
"Apa yang kamu lakukan?" hardik Mars menunjuk pada Jason dengan nada kesal.
"Aku mau membakarnya!"
"Kamu sudah gila ya! Kamu bisa menyulut api maka alarm asap dan air akan keluar. Lalu pemadam kebakaran akan datang dan aku akan bilang kamu yang menyulut api!" sahut Mars dengan nada tinggi.
Jason yang tak berpikir sejauh itu, akhirnya menghentikan aksinya. Ia membuang buku tersebut lalu menginjaknya dan menunjuk wajah Aidan sambil mengancam.
"Lihat saja, jika PR itu tidak ada besok, akan ku buat kamu babak belur. Dasar gendut jelek!" umpat Jason lalu keluar bersama teman-temannya. Arjoona menghela napas dan menggeleng melihat tingkah Jason. Mars lalu memungut tas dan buku Aidan yang berserakan lalu sedikit membereskannya. Ia mengembalikannya pada Aidan sambil tersenyum tipis.
"Jangan diam saja, jika dia membully-mu, pukul saja kepalanya," ujar Mars asal sambil memberikan tas Aidan. Arjoona tergelak dan menepuk pundak Aidan sedangkan Mars berjalan lagi ke wastafel untuk mencuci tangannya.
Aidan masih tertegun dan syok dengan hal yang terjadi dengannya baru saja. Sekarang ia makin tertegun karena seorang Mars King dan si genius yang terkenal SMA Woodstone, Arjoona Harristian menolongnya.
"Aku sering sekali melihatmu dipukuli oleh si Quarterback itu, kenapa tidak melawan atau melapor pada sekolah?" tanya Arjoona mencoba bicara pada Aidan. Aidan nampak introvert dan sering kali menunduk.
"Aku tidak mau membuat orang lain dalam kesulitan," jawab Aidan dengan suara rendah. Mars mendengus tersenyum sambil bergeleng.
"Bantulah dirimu sendiri." Mars menyahut lalu meneruskan cuci tangan.
"Siapa namamu?" tanya Arjoona dengan nada ramah.
"Aidan ... Aidan Orlando." Arjoona mengangguk.
"Namaku Arjoona Harristian dan dia adalah Mars King."
"Aku tau siapa kamu, kamu adalah satu dari dua siswa tergenius di Woodstone. Dan Mars King adalah siswa paling populer," jawab Aidan masih dengan suara kecil dan tersenyum. Mars dan Arjoona saling berpandangan. Mars kemudian menaikkan bahunya tanda tidak perduli.
"Ayo kita keluar!" ajak Arjoona pada Aidan dan Mars yang sudah keluar lebih dulu. Aidan tak lupa berterima kasih pada Arjoona dan Mars yang sudah menolongnya.
“Terima kasih sudah menolongku tadi, Arjoona Harristian!” ujar Aidan begitu ia keluar dan Arjoona masih merangkul bahunya. Arjoona tersenyum menoleh ke samping sedangkan Mars lebih memilih berjalan di belakang Aidan sambil memeriksa ponselnya.
“Panggil saja aku Joona!” Aidan masih tersenyum dan mengangguk.
Namun sebuah cekikikan menghentikan langkah Arjoona, Aidan dan Mars yang hendak kembali ke kelas.
Perasaan kecewa langsung masuk ke dalam hati Aidan saat melihat gadis pujaannya, Malikha Swan berada di depannya. Ia terlihat berciuman dengan Jason Holland yang baru saja memukulnya.
Mars menggelengkan kepala dan mengajak Arjoona serta Aidan mengambil jalur lain. Aidan tidak bisa berhenti melihat ciuman yang menghancurkan cinta pertamanya.
"Gross!" (menjijikkan) ujar Mars sambil berbalik mendorong Aidan menjauh dari lorong tempat Jason dan Malikha berciuman.