Alina Darya duduk di sudut kantin kampus, matanya menatap secangkir teh hangat yang hampir habis, tangan gemetar memegang sendok plastik yang tergeletak di meja. Tentu saja, hidupnya tidak pernah sesederhana ini. Setiap pagi, dia bangun lebih awal untuk menyiapkan kue-kue buatan neneknya, sebelum membawa mereka ke kampus untuk dijual. Tidak ada pilihan lain. Tanpa orang tua, tanpa banyak dukungan, dia hanya memiliki nenek yang semakin rapuh dan masa depan yang penuh ketidakpastian.
Di luar jendela kantin, terlihat keramaian mahasiswa yang sedang menikmati istirahat sejenak. Mereka tertawa, berbicara tentang ujian, tentang tugas-tugas yang tidak pernah selesai. Namun bagi Alina, semua itu terasa jauh, seperti dunia lain yang tidak pernah bisa dia jangkau. Hidupnya penuh dengan perasaan kesepian yang dalam, sebuah keheningan yang menghimpit dada.
Tiba-tiba, sebuah suara baritone yang tajam dan penuh kuasa menginterupsi pikirannya. "Hei, kamu di sana. Itu kue apa yang kamu jual?" Alina menoleh, matanya terfokus pada sosok pria yang baru saja menghampirinya. Rayan Syahmir. Dia tidak asing di kampus ini-pria tampan dengan wajah yang sering muncul di media sosial dan acara-acara kampus. Namun ada sesuatu yang tajam dalam pandangannya, seolah-olah ia datang bukan hanya untuk membeli kue, melainkan untuk mencari sesuatu yang lebih.
Alina tersenyum kecil, berusaha untuk tidak menunjukkan kecemasannya. "Kue cubir," jawabnya pelan, "kue tradisional buatan nenek saya."
Rayan mengangguk, tetapi ekspresinya tetap dingin, seolah-olah dia sedang menilai lebih dari sekadar kue itu. "Tidak pernah dengar. Tapi apapun, aku akan coba."
Dia mengambil kue itu tanpa bertanya lebih lanjut, seperti mengambil sesuatu yang tidak berarti. Tidak ada senyuman, tidak ada rasa ingin tahu. Hanya perasaan angkuh yang memancar dari dirinya. Alina merasa sedikit terganggu, tapi dia mencoba menahannya. Sambil menunggu, dia kembali menatap langit-langit kantin, berharap Rayan segera pergi.
Namun, tak lama kemudian, pria itu kembali mendekat dengan ekspresi yang lebih serius. "Kue ini... payah," katanya dengan suara datar yang tidak mengandung belas kasihan. "Bisa dibilang ini salah satu kue terburuk yang pernah aku coba. Bagaimana bisa kau menjual ini di sini?"
Alina terkejut. Kata-katanya menusuk jauh, jauh lebih dalam daripada yang bisa dia bayangkan. Mata Rayan tajam, penuh perhitungan, seolah ia sedang memandang sesuatu yang tidak layak untuk dihargai.
"Maaf," Alina berkata dengan suara pelan, berusaha menahan air mata yang mulai menggenang. "Saya hanya mencoba yang terbaik."
"Tebakanmu salah," ujar Rayan, menyeringai sedikit, seolah menikmati penderitaan kecil yang ia sebabkan. "Cobalah sesuatu yang lebih baik. Jangan berharap orang akan membeli barang murahan seperti ini."
Alina tidak bisa berkata apa-apa lagi. Hatinya hancur, seperti ditabrak batu besar. Apa yang sebenarnya dia harapkan? Perlakuan baik? Simpati? Semua itu seolah menjadi ilusi, tergilas oleh kata-kata tajam dari seorang pria yang tidak peduli sedikit pun.
Rayan berbalik dan berjalan pergi, meninggalkan Alina yang masih terdiam di tempatnya, merasa sangat kecil. Namun, saat langkahnya semakin menjauh, ia mendengar suara tawa kecil di belakangnya. Tidak jelas apakah itu ditujukan pada dirinya atau bukan, tapi Alina merasa dihina lebih dari sebelumnya.
Di tengah kekosongan hatinya, sebuah perasaan baru muncul-sesuatu yang jauh lebih gelap dan lebih kuat dari sebelumnya. Kegagalan yang memalukan. Kehidupan yang seakan tidak pernah memberi kesempatan untuk sukses. Semua hal itu menghimpitnya dalam keputusasaan yang tidak terhingga.
Di luar, hari semakin gelap. Kejadian ini adalah bagian kecil dari sebuah hari yang buruk, namun Alina merasakannya seperti kehancuran. Kekuatan dan harapan dalam dirinya perlahan terkikis, hingga yang tersisa hanya kekosongan.
Namun, apa yang Alina tidak tahu adalah bahwa ini bukanlah akhir dari segalanya. Kejadian ini akan mengubah hidupnya dengan cara yang lebih dalam lagi, mengarah pada pertemuan tak terduga yang akan menghancurkan hidupnya lebih jauh, namun juga memberi kesempatan untuk mengubah takdir yang kelam menjadi kebahagiaan yang mungkin tidak pernah ia duga.
Rayan Syahmir, dengan segala egonya, baru saja memulai rencananya. Sebuah pernikahan terpaksa akan menjadi harga yang harus dibayar, dan Alina tidak tahu bahwa hidupnya sudah diputuskan tanpa izin darinya.
Alina terbangun keesokan harinya dengan kepala yang masih berdenyut akibat malam yang penuh dengan kecemasan. Tidur yang nyenyak sepertinya telah menjadi barang langka dalam hidupnya. Begitu banyak hal yang harus dipikirkan-kue-kue yang harus dijual, uang yang harus dikumpulkan, dan tentu saja, takdir yang seakan menjeratnya tanpa ampun. Namun, yang paling mengganggu pikirannya adalah Rayan. Kata-katanya yang tajam terus terngiang di telinganya, mengulang-ulang perasaan terhina yang tidak bisa dia lupakan.
Pagi itu, Alina berusaha melupakan pertemuan yang menghancurkan hatinya. Dia menyibukkan diri dengan pekerjaan di rumah, membantu neneknya yang sedang sakit. Neneknya satu-satunya keluarga yang dimiliki Alina setelah kedua orang tuanya meninggal. Mereka berdua sudah seperti dua jiwa yang saling bergantung, hidup dalam dunia kecil mereka yang penuh dengan kenangan pahit. Alina berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menyerah, meskipun dunia terasa begitu berat.
Namun, seperti takdir yang tidak pernah memberi ruang untuk penghindaran, Rayan datang lagi ke kantin tempat Alina bekerja. Kali ini, dia tidak datang sendirian. Di sampingnya, ada seorang pria paruh baya yang tampak sangat berkuasa. Seorang pengusaha besar yang tidak asing di telinga siapapun. Namanya, Darius Syahmir, ayah dari Rayan.
Alina terkejut melihat kedatangan mereka. Rayan mendekat, kali ini dengan ekspresi yang lebih serius, hampir seperti seseorang yang membawa beban besar. Darius, yang merupakan orang yang penuh karisma, menatap Alina dengan tatapan yang sulit dibaca. Alina merasa cemas, dan keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.
"Alina Darya, bukan?" Darius memulai percakapan dengan suara yang dalam dan penuh tekanan. "Saya dengar kamu anak yang tangguh, meskipun kehidupanmu tidak mudah."
Alina terdiam sejenak, bingung dengan arah percakapan yang baru saja dimulai. "Iya, Pak. Itu saya," jawabnya perlahan.
Rayan berdiri di sebelah ayahnya, wajahnya tetap tertutup, namun ada sesuatu dalam tatapannya yang membuat Alina merasa seperti dia sedang menjadi bahan perbincangan yang tidak diinginkan.
"Begini," Darius melanjutkan. "Rayan dan saya telah mempertimbangkan beberapa hal. Kamu tahu, keluarga kami membutuhkan seseorang yang dapat dipercaya, seseorang yang memiliki kualitas tertentu. Kami berpikir... kamu mungkin bisa membantu kami."
Alina merasa seakan bumi berguncang di bawahnya. Apa yang mereka maksud dengan "membantu"? Rayan, yang sedari tadi diam, akhirnya membuka mulut, suaranya terdengar seperti perintah.
"Kamu akan menikah dengan saya, Alina."
Kata-kata itu datang begitu saja, memukul Alina seperti petir yang menerpa tanah kering. Jantungnya berhenti sejenak. Semua yang ada di sekitar seakan menghilang. Di matanya, hanya ada wajah Rayan yang penuh dengan kebencian tersembunyi.
"Menikah? Dengan... kamu?" Alina berkata, suaranya hampir tidak terdengar, kebingungannya membuatnya kehilangan kata-kata.
"Ya," jawab Rayan dingin. "Kamu tidak punya pilihan. Pernikahan ini sudah diatur. Kamu tidak punya hak untuk menolak."
Alina memandang Rayan, namun kali ini tidak ada rasa tertarik yang ia rasakan sebelumnya-hanya kemarahan yang perlahan mengalir dalam dirinya. "Kenapa? Kenapa saya?" tanya Alina dengan suara yang sedikit gemetar, namun ia berusaha keras untuk tetap tegar.
Darius melangkah maju, menyampaikan alasan yang lebih jernih. "Kami tahu tentang kondisi keluargamu. Dan kami juga tahu kamu tidak punya banyak pilihan. Pernikahan ini adalah solusi terbaik bagi kita semua."
Rayan menambahkan dengan nada yang lebih keras, "Tidak ada yang lebih mudah daripada itu. Kamu tidak bisa berbuat apa-apa. Kita akan menikah, dan kamu akan menjadi bagian dari keluarga kami."
Alina merasa dunia terhenti. Apa yang sedang mereka bicarakan? Pernikahan terpaksa ini adalah hasil dari rencana yang lebih besar, sebuah pengorbanan yang dipaksakan. Namun, satu hal yang Alina tahu pasti-dia tidak bisa melarikan diri dari takdir ini. Hidupnya sudah berubah, dan tidak ada jalan mundur. Rayan, dengan segala keangkuhannya, telah mencap dirinya sebagai bagian dari permainan ini.
Malam itu, setelah percakapan yang menyesakkan dan tak terhindarkan, Alina kembali ke rumah neneknya dengan langkah berat. Setiap langkah yang ia ambil seakan semakin mengarah ke jurang yang lebih dalam, ke pernikahan yang tidak diinginkan. Di dalam hati, dia berdoa agar semuanya berubah, agar takdir yang kejam ini bisa diubah menjadi kebahagiaan.
Namun, meski berdoa sekeras apapun, dia tahu satu hal: hidupnya kini berada di tangan orang lain. Keputusan yang tidak bisa dia hindari akan segera terjadi. Rayan dan keluarganya sudah merencanakan segalanya, dan Alina hanya bisa mengikuti arus tanpa bisa melawan.
Pernikahan terpaksa ini adalah awal dari sebuah perjalanan yang penuh dengan kegelapan. Tetapi, mungkin di balik semua itu, ada secercah cahaya yang akan membawa perubahan. Atau justru, kebahagiaan yang diharapkannya hanyalah sebuah mimpi yang tak akan pernah terwujud.
Hari-hari setelah pertemuan itu berjalan lambat, seolah waktu menjadi semakin berat bagi Alina. Pernikahan yang dipaksakan itu seakan menjadi bayangan yang terus menghantui setiap langkahnya. Rayan, meskipun bersikap dingin dan penuh perhitungan, tampaknya tidak memberi kesempatan bagi Alina untuk berpikir atau memutuskan. Semua sudah diputuskan untuknya, tanpa pertanyaan, tanpa rasa hormat terhadap keinginannya.
Alina terus berusaha untuk menerima kenyataan ini, meskipun hatinya penuh dengan kebingungan dan amarah yang membara. Setiap malam, dia menangis di dalam kesunyian kamarnya, berdoa agar ada jalan keluar dari takdir yang begitu kejam. Namun, hari demi hari, kenyataan semakin menghimpitnya.
Pada pagi yang suram, Alina menerima surat dari keluarga Syahmir, mengundangnya untuk datang ke rumah mereka. Rasa cemas dan tertekan menyelimuti dirinya ketika dia memasuki rumah megah itu beberapa hari kemudian. Rumah itu besar, seakan mencerminkan betapa kuatnya keluarga Rayan. Tak ada kehangatan yang bisa dirasakan di sana-semuanya penuh dengan perhiasan dan kemewahan yang dingin.
Rayan sudah menunggu di ruang tamu, berdiri dengan tangan disilangkan di dada, seolah menunggu seseorang yang harus memenuhi ekspektasinya. Dia tidak menunjukkan emosi sama sekali, hanya tatapan kosong yang mengarah ke Alina ketika dia masuk ke dalam.
"Masuklah," kata Rayan, suaranya serak dan tidak berbelas kasih.
Alina hanya mengangguk pelan, menuruti perintah tanpa berkata apa-apa. Dia duduk di kursi yang disediakan, merasa seakan dirinya hanya sebuah benda yang tidak bernilai. Rayan duduk di depannya, matanya masih tidak menunjukkan kelembutan. Di sekelilingnya, kesunyian itu semakin mencekam.
"Sepertinya kita sudah sepakat," kata Rayan tiba-tiba, memecah kesunyian. "Pernikahan ini akan terjadi dalam dua minggu. Semua sudah diatur."
Alina menatapnya dengan tatapan kosong, mencoba menahan emosi yang semakin sulit untuk dikendalikan. "Apa yang sebenarnya kamu inginkan dariku, Rayan? Apa yang akan kamu dapatkan dari semua ini?" tanyanya, suaranya hampir bergetar.
Rayan menatapnya, sejenak memeriksa ekspresi Alina, lalu dia menghela napas panjang. "Aku ingin kamu menjadi bagian dari hidupku. Tidak lebih, tidak kurang. Aku butuhmu untuk menjaga citra keluarga Syahmir. Ini adalah langkah strategis, dan kamu tidak punya pilihan."
Kata-kata itu membuat Alina merasa seperti dirinya hanyalah alat dalam permainan besar ini-permainan yang tidak pernah dia pilih. Perasaan marah mulai mendidih dalam dirinya, tapi dia berusaha untuk tetap tenang.
"Jadi, semuanya ini hanya tentang keluarga dan citra? Tidak ada tempat untuk cinta dalam semuanya?" Alina berkata dengan nada yang lebih rendah, berusaha mengendalikan dirinya.
Rayan tidak menjawab langsung. Sebaliknya, dia berdiri dan berjalan ke jendela, melihat keluar dengan tatapan kosong. "Cinta itu hanyalah ilusi dalam dunia ini. Kita semua berperan sesuai dengan apa yang diinginkan keluarga, dan itu sudah cukup," jawabnya, seolah melepaskan dirinya dari tanggung jawab terhadap perasaan orang lain.
Alina merasa hatinya kembali hancur. Keputusan yang dipaksakan ini tidak hanya menghancurkan kehidupannya, tetapi juga membuatnya merasa begitu tidak berharga. Semua yang dia impikan-semua harapannya untuk hidup bahagia-seolah lenyap begitu saja.
Namun, di balik kesedihan yang mendalam, ada sebuah perasaan yang mulai tumbuh dalam dirinya-perasaan ingin melawan. Jika dia tidak bisa memilih, dia akan mencari cara untuk mengendalikan takdirnya sendiri. Dia tidak bisa hanya menjadi boneka dalam permainan ini.
"Rayan," katanya dengan suara yang lebih tegas, "mungkin kamu bisa memaksa aku menikah denganmu, tapi kamu tidak akan bisa mengendalikan hatiku. Jangan harap aku akan menyerah begitu saja."
Rayan menoleh ke arahnya, dan untuk pertama kalinya, ada kilatan rasa heran dalam tatapannya. "Kamu berani melawan?" tanyanya, suaranya sedikit lebih lembut, namun penuh dengan tanda tanya.
"Ya," jawab Alina dengan tegas. "Aku tidak akan menjadi bagian dari rencanamu tanpa melawan. Kamu mungkin sudah mengatur semuanya, tapi aku akan mencari cara untuk memperbaiki hidupku, meskipun itu berarti melawanmu."
Rayan terdiam sejenak, seolah mempertimbangkan kata-kata Alina. Akhirnya, dia kembali duduk, matanya memandangi Alina dengan intensitas yang lebih dalam. "Kita akan lihat sejauh mana kamu bisa bertahan," katanya dengan senyum tipis yang tidak menandakan kebahagiaan, hanya sebuah tantangan yang dilemparkan padanya.
Alina tahu bahwa ini bukanlah akhir dari segalanya. Ini baru permulaan. Dia mungkin tidak bisa menghindari pernikahan itu, tetapi dia pasti bisa mengubah segalanya-perjuangan untuk kebebasan, untuk menemukan kebahagiaan, dan untuk melawan takdir yang direncanakan untuknya.
Tantangan ini baru saja dimulai, dan Alina bertekad untuk bertahan, apapun yang terjadi.