Penyihir, ya, penyihir.
Penyihir adalah ras tertinggi di antara manusia, memiliki kekuatan sihir yang berasal langsung dari dalam tubuh mereka, tanpa memerlukan tongkat atau buku sebagai medium.
Berbeda dengan manusia biasa yang memerlukan medium untuk menyalurkan energi sihir, penyihir dapat memanipulasi energi tersebut langsung dari tubuh mereka.
Penyihir tidak terikat oleh batasan usia seperti manusia pada umumnya, yang biasanya hanya hidup hingga 50 atau 60 tahun. Ketika seorang penyihir mencapai usia 20 tahun, mereka terbebas dari penuaan dan bisa hidup selama berabad-abad.
Secara fisik, penyihir hampir tidak bisa dibedakan dari manusia biasa. Mereka memiliki penampilan dan ciri fisik yang sama, dengan satu-satunya perbedaan yang terletak pada energi sihir yang mereka miliki.
Pada titik tertentu dalam kehidupan mereka, banyak penyihir memilih untuk mengembara atau hidup berdampingan dengan manusia biasa. Mereka sering membuka toko obat-obatan, menggunakan ilmu mereka untuk membantu manusia.
Manusia sangat bergantung pada para penyihir, sehingga mereka mengistimewakan para penyihir. Namun, para penyihir menolak perlakuan istimewa ini dan hanya ingin hidup berdampingan secara damai.
Penyihir memiliki aturan ketat dalam kehidupan mereka, salah satu yang paling penting adalah larangan menikah dengan manusia. Aturan ini muncul dari pengalaman pahit di masa lalu.
Pernah ada seorang penyihir yang menikah dengan manusia biasa. Saat manusia itu menua dan meninggal, penyihir tersebut tetap awet muda dan tidak menua sedikitpun. Rasa kehilangan yang mendalam membuat penyihir itu patah hati, hingga akhirnya memilih untuk mengakhiri hidupnya, meninggalkan anak mereka yang setengah manusia dan setengah penyihir.
Beberapa tahun kemudian, manusia membentuk sebuah kekaisaran besar dengan menyatukan semua kerajaan di belahan timur yang diberi nama Kekaisaran Elde.
Kekaisaran ini kemudian mengusir para penyihir karena rasa iri terhadap kekuatan mereka. Tragedi ini mempertegas betapa pentingnya aturan yang telah dipegang teguh oleh para penyihir selama berabad-abad.
Para penyihir pun mengikuti langkah manusia dengan mendirikan Kekadipatenan yang diberi nama sebagai Kadipaten Elzir demi mempertahankan diri mereka dari keserakahan manusia yang mulai merusak alam.
Meski tidak sebesar Kekaisaran, Kadipaten ini cukup untuk menampung semua penyihir yang ada di dunia.
Kaisar pertama Elde kemudian memerintahkan para pejabatnya untuk mengambil upeti dari Kadipaten Elzir, awalnya Adipati penyihir memberi upeti pada manusia tapi lambat laun besaran upeti bertambah dan para penyihir merasa tertekan.
Para penyihir meminta pada Adipati mereka untuk bernegosiasi dengan manusia agar menurunkan biaya upeti untuk dibayar. Sang Adipati itu menyetujuinya, dia bergegas ke Kekaisaran Elde untuk bernegosiasi.
Namun ketika sampai di perbatasan antara Kekaisaran dan Kadipaten, Adipati melihat rombongan tentara dari Kekaisaran tengah berbaris rapih masuk ke dalam kota benteng di perbatasan itu.
Dia tidak menaruh curiga dan masuk ke dalam kota untuk bernegosiasi dengan pejabat lokal. Tapi ternyata di dalam kota itu ada Kaisar dari manusia yang sedang beristirahat, lalu dumulailah niatnya untuk bernegosiasi langsung dengan Sang Kaisar.
Kaisar tidak menerima negosiasi, dia mengancam jika para penyihir tak memberikan upeti maka akan dibantai.
Adipati penyihir tak tinggal diam, ia berusaha untuk menenangkan dan meredakan situasi yang menegang. Tapi sayangnya dia tidak berhasil.
Kaisar mengancam akan menusuk dan melenyapkan Adipati jika menolak, tentu saja Adipati tak bergeming. Ia paham betul jika tak ada satupun senjata buatan manusia yang mampu menyakiti para penyihir kecuali kekuatan penyihir itu sendiri.
Tiba-tiba, Kaisar menghunuskan pedangnya dan menusuk Adipati dengan gerakan cepat.
Jleb!
Pedang itu menusuk perut Adipati penyihir dan menembusnya, Adipati yang tak menyangka hal itu tak bisa berbuat apa-apa. Dia baru menyadari kalau manusia baru saja mengembangkan senjata yang dapat melenyapkan para pehihir.
Saat ia berusaha untuk memulihkan lukanya dengan sihir, pedang lainnya menusuk dadanya dan membuat Sang Adipati meninggal di tempat.
“Malam ini kita akan memburu para penyihir!”
Teriak Kaisar dengan keras dan disahut oleh semua prajuritnya yang ada di situ.
Dengan kematian Adipati Kadipaten Elzir, rencana pembantaian para penyihir oleh Kaisar menjadi mulus. Malam harinya, seluruh prajurit Kekaisaran dikerahkan untuk menyerbu wilayah Kadipaten Elzir tanpa sepengetahuan para penyihir.
Ribuan pasukan berkuda, ribuan ksatria, ribuan pemanah, dan puluhan ribu rakyat Kekaisaran ikut ambil bagian dalam serangan itu, berharap bisa menjarah barang-barang milik penyihir untuk diri mereka sendiri.
Tengah malam, ribuan pasukan Kekaisaran dengan baju zirah mengkilap menerjang masuk ke desa-desa penyihir. Para penyihir yang sedang terlelap terbangun dengan teriakan panik.
Bola api dan petir sihir beterbangan menghantam para penyerang. Namun, dengan senjata baru yang mereka miliki, prajurit Kekaisaran mampu menangkis dan menghancurkan serangan sihir tersebut.
Sebuah ledakan besar mengguncang desa saat beberapa prajurit menggunakan bom sihir yang mereka ciptakan khusus untuk menghancurkan rumah-rumah penyihir. Para penyihir muda berusaha melawan, namun satu per satu tumbang oleh senjata campuran antara emas dan perak yang mematikan.
Seorang penyihir tua berusaha melindungi anak-anak dengan perisai sihirnya, namun perisainya hancur oleh serangan bertubi-tubi dan dia pun tewas.
Di kesunyian malam, desa-desa penyihir di Kadipaten dibantai dan dibakar satu per satu. Teriakan dari para penyihir yang disiksa dan dibantai menggema, menambah horor malam itu.
Para penyihir yang terkejut mencoba melawan dengan sihir serangan mereka, tetapi sia-sia saja. Manusia telah diam-diam menciptakan senjata dari campuran emas dan perak yang dapat menghancurkan syaraf dan peredaran darah para penyihir, yang sebelumnya kebal terhadap senjata apapun.
Para penyihir yang melakukan perlawanan sia-sia kini lari tunggang-langgang demi menyelamatkan diri. Hingga akhirnya, pasukan besar manusia tiba di ibu kota Kadipaten Elzir.
Tak butuh waktu lama bagi Kekaisaran untuk meratakan ibu kota kadipaten. Semua penduduk yang tertangkap dibantai tanpa ampun, tak menyisakan satu nyawa pun.
Di tengah kekacauan, seorang bocah lelaki berlari di antara reruntuhan, diikuti oleh gadis yang mencoba melindunginya. Gadis itu melemparkan bola api dan petir ke arah prajurit yang mengejar, tetapi mereka terus mendesak maju.
Saat mereka terpojok, gadis itu dengan nekat melompat ke arah prajurit, menahan serangan tombak yang diarahkan pada bocah tersebut. Dia menjerit kesakitan namun berhasil melantunkan mantra terakhirnya, mengirim bocah itu jauh ke dalam hutan.
Prajurit Kekaisaran berhenti sejenak, terkejut dengan sihir yang dilancarkan gadis itu, namun segera kembali ke tugas mereka, membantai setiap penyihir yang mereka temui.
Seratus tahun kemudian.
Bocah lelaki yang kini telah dewasa kembali ke tempat asalnya. Dengan penuh dendam dan kepedihan, dia berjanji akan membalas dendam atas apa yang telah dilakukan manusia kepada kaumnya.
Hutan tempatnya berlindung menjadi saksi bisu dari tekad dan rencananya untuk mengembalikan kejayaan para penyihir dan menuntut keadilan bagi mereka yang telah dibantai.
“Inikah balasan dari kebaikan kaum kami pada kalian, wahai manusia?”
Dia bergumam, matanya menatap sisa-sisa kehancuran seratus tahun lalu dengan penuh dendam dan kepedihan.
Seorang penyihir muda melangkah perlahan di antara reruntuhan bekas ibu kota yang hancur, mengingat masa lalu yang masih menghantuinya.
Langit yang kelabu dan reruntuhan bangunan yang ditumbuhi lumut menjadi saksi bisu dari kehancuran yang terjadi seratus tahun lalu. Tangannya yang halus namun kuat mencoba mengais-ngais reruntuhan itu, berharap menemukan sesuatu yang berharga.
"Kalau tidak salah ini adalah rumah Kak Naila, pasti banyak artefak di ruang bawah tanahnya," gumamnya sambil menyeka keringat di dahinya yang mulai berminyak.
Dia membersihkan reruntuhan dengan hati-hati, memastikan setiap batu dan puing yang dipindahkannya tidak menimbulkan kerusakan lebih lanjut.
Pemuda itu memiliki rambut hitam legam yang panjang, mata coklat yang penuh determinasi, dan kulit putih mulus yang kontras dengan pakaian serba hitam yang dikenakannya.
Dia adalah satu-satunya penyihir yang selamat dari pembantaian yang dilakukan oleh manusia seratus tahun lalu. Dia adalah Zephyr, satu-satunya kerabat yang tersisa dari Adipati Kadipaten Elzir dan satu-satunya seorang penyihir yang selamat.
Dia merupakan putra dari kakak laki-laki Adipati Elzir yang mengakhiri hidup setelah ditinggalkan istrinya yang seorang manusia.
Ya, Zephyr adalah setengah manusia dan penyihir. Orang tuanya seorang penyihir dan manusia, mereka menikah meskipun perbedaan usia mereka bagai bumi dan langit.
Penyihir bisa hidup berabad-abad, bahkan bisa mencapai keabadian jika mencapai tingkatan tertentu dalam ilmu sihir. Sejak kejadian tragis yang menimpa keluarganya, kaum penyihir melarang pernikahan dengan manusia.
"Ini dia!" seru Zephyr ketika menemukan sebuah pintu rahasia di lantai reruntuhan bekas rumah Naila. Gadis itu merupakan anak dari Adipati dan sepupunya yang menyelamatkan hidupnya seratus tahun lalu.
Dia menarik gagang pintu rahasia itu tapi gagal, ternyata pintu itu terlindungi oleh segel sihir yang kuat.
Zephyr menatap segel sihir tersebut dengan seksama. Cahaya biru bersinar samar-samar dari lambang bintang besar berwarna hitam yang berkelip.
"Ini... ini segel tingkat tinggi," gumamnya dengan nada kagum. "Sepertinya Kak Naila menyimpan benda-benda berbahaya di ruangan bawah tanahnya. Jika tidak, maka tidak mungkin dia menyegelnya dengan segel tingkat tinggi seperti ini."
Zephyr berpikir keras, mencoba mengingat pelajaran sihir yang pernah diajarkan oleh para tetua.
"Bagaimana cara melepaskan segel ini?"
Dia merapalkan mantra pelindung untuk memastikan dirinya tetap aman jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Dengan hati-hati, dia mulai mengamati pola dan simbol pada segel itu, mencari petunjuk yang bisa membantunya.
Tiba-tiba, ingatan tentang sebuah buku tua yang pernah dia baca muncul dalam benaknya. Buku itu berisi tentang berbagai jenis segel sihir dan cara membukanya.
Dia mengeluarkan buku tersebut dari tasnya dan membolak-balik halaman dengan cepat. "Ah, ini dia," ujarnya ketika menemukan halaman yang memuat segel yang mirip dengan yang ada di hadapannya.
Zephyr mengikuti instruksi dalam buku dengan cermat. Dia menggerakkan tangannya dengan gerakan yang rumit, merapalkan mantra dengan suara yang tenang namun penuh kekuatan.
Lambang bintang besar itu mulai bergetar, cahaya birunya semakin terang. Setelah beberapa saat, terdengar suara klik lembut dan segel itu pun terbuka.
Dengan hati-hati, Zephyr membuka pintu rahasia tersebut dan melihat tangga yang menurun ke dalam kegelapan. Dia menjentikkan jarinya lalu api kecil muncul di telunjuk tangannya dan mulai menuruni tangga dengan hati-hati.
Setiap langkah terasa berat, seakan dia membawa beban masa lalu yang masih menghantuinya. Setiap anak tangga yang ia lewati membawa kenangan masa kecilnya ketika dirinya bersama Naila belajar sihir dari Adipati di ruang bawah tanah itu.
Di ujung tangga, dia menemukan ruangan bawah tanah yang penuh dengan artefak kuno dan buku-buku sihir.
Lalu dia merapalkan mantra sihir untuk menerangi ruang bawah tanah itu.
"Ini pasti yang disembunyikan Kak Naila agar tidak dicuri oleh para manusia yang serakah," bisiknya dengan mata yang berbinar. Zephyr merasa seolah dia kembali ke masa lalu, merasakan kehadiran Naila di sekitarnya.
Dia berjalan menuju sebuah meja besar yang penuh dengan gulungan dan buku-buku. Di tengah meja, terdapat sebuah kotak kecil yang bersinar lembut.
Zephyr membuka kotak itu dan menemukan sebuah kalung dengan liontin berbentuk bintang. Dia tahu, ini adalah artefak yang sangat berharga dan memiliki kekuatan besar.
"Sekarang, dengan ini, aku bisa melindungi diriku dan menghentikan kejahatan yang pernah menghancurkan kita," gumamnya dengan tekad yang membara.
Zephyr memasukkan kalung itu ke dalam sakunya dan bersiap untuk keluar dari ruangan bawah tanah tersebut. Masa lalunya mungkin penuh dengan kesedihan, tapi masa depannya penuh dengan harapan dan perjuangan.
Saat hendak keluar dari ruangan bawah tanah, mata Zephyr tanpa sengaja tertumbuk pada pedang yang terletak di sudut gelap ruangan.
Pedang itu tampak berkilauan dengan aliran sihir tingkat tinggi, bentuknya berliuk-liuk seperti keris dan berwarna hitam pekat.
"Kenapa aku tak menyadari pedang itu saat masuk tadi? Seolah dia menarikku agar menghampirinya," gumamnya dengan alis terangkat. Perlahan, Zephyr mendekati pedang tersebut, langkahnya hati-hati agar tidak memicu perangkap yang mungkin dipasang oleh Naila, sepupunya yang dikenal sebagai penyihir tingkat tinggi yang sangat berhati-hati.
Setiap langkahnya dia perhatikan dengan seksama, matanya selalu waspada terhadap setiap sudut ruangan, mencari-cari tanda-tanda segel atau perangkap tersembunyi.
Jantungnya berdegup semakin kencang saat dia mendekat. Tangannya mulai terjulur untuk meraih pedang itu, namun tiba-tiba lingkaran sihir terbentuk di bawah kakinya.
Sinar biru muncul dengan lambang bintang berwarna putih, khas rapalan sihir Naila. Zephyr mundur beberapa langkah, merapalkan mantra penguat tubuh, siap menghadapi segala kemungkinan.
Tapi ternyata, dari sinar sihir itu muncul sosok Naila.
Zephyr terperangah, matanya terbuka lebar melihat sosok yang menyelamatkannya seratus tahun lalu. Dengan refleks, dia memeluknya, namun pelukannya hanya tembus melewati tubuh Naila.
"Ini... ini sihir hologram?" gumamnya dengan suara bergetar.
Hologram Naila bergerak, tersenyum lembut. "Zephyr, aku tahu kau akan selamat dari malam yang mengerikan itu," kata Naila. "Jika kau melihat sihir hologram ini, maka sudah dipastikan bahwa aku telah tiada. Aku membuat sihir ini terpicu jika diriku tak ada lagi di dunia ini dan saat kau mendekati pedang itu."
Zephyr mendengar dengan seksama, merasakan kerinduan mendalam terhadap sepupunya.
"Pedang itu," lanjut Naila, "aku tempa sendiri secara khusus. Aku beri nama pedang Elzir untuk mengingatkan tempat kita berasal, aku membuatkannya khusus untukmu agar bisa bertahan hidup."
Zephyr meraih pedang itu dengan hati-hati. Saat tangannya menyentuh gagang pedang, dia merasakan aliran kuat sihir mengalir ke dalam tubuhnya. Pedang itu seolah hidup, berdenyut dengan kekuatan yang dahsyat.
"Zephyr," suara Naila melanjutkan, "Sekarang, kau bisa membalaskan dendam kaum kita. Tapi aku beri saran agar tidak melakukannya, karena dendam akan berakhir dengan buruk. Hiduplah dengan damai sampai ajal menjemputmu, itulah kata terakhirku untukmu sebagai penyihir terakhir."
Sihir hologram itu perlahan redup, kemudian menghilang, meninggalkan Zephyr dalam kebingungan dan dilema.
Pedang Elzir di tangannya terasa berat, bukan hanya karena kekuatannya, tetapi juga karena beban moral yang disampaikan oleh Naila.
Zephyr duduk di lantai dingin ruangan bawah tanah itu, memandangi pedang yang kini berada di pangkuannya. Dia merenung, memikirkan kata-kata Naila.
Dendam memang menggoda, membakar semangatnya untuk membalas rasa sakit dan kehilangan yang dia rasakan. Namun, nasihat Naila juga mengingatkannya akan konsekuensi dari membiarkan dendam menguasai dirinya.
"Apakah aku benar-benar harus membalaskan dendam ini?" pikir Zephyr dalam hati. "Atau mungkin ada cara lain untuk menghormati kaumku dan mencapai kedamaian?"
Zephyr berdiri, memutuskan untuk membawa pedang itu bersamanya, bukan sebagai alat pembalasan, tetapi sebagai simbol kekuatan dan pengingat akan nasihat bijak dari sepupunya. Dengan langkah tegas, dia meninggalkan ruangan bawah tanah itu.
Sinar matahari siang yang terik membuat Zephyr menyipitkan mata saat keluar dari ruang bawah tanah milik Naila. Dia mengangkat tangannya untuk melindungi matanya dari sinar yang menyilaukan, merasakan kehangatan yang tiba-tiba kontras dengan kegelapan yang baru saja ditinggalkannya.
Setelah beberapa saat, dia perlahan menutup pintu rahasia itu kembali, memastikan segel sihir yang kuat melindunginya.
Zephyr kemudian menumpukkan reruntuhan di atas pintu, memastikan tidak ada orang lain yang bisa masuk ke dalamnya.
“Mulai hari ini, aku akan kembali tinggal di bekas reruntuhan ibu kota. Aku akan membangun sebuah rumah yang tak jauh dari sini,” katanya pada dirinya sendiri, bertekad untuk menghidupkan kembali kenangan dan kekuatan yang tersisa di tempat itu.
Matanya memandang ke sekitar, mencari-cari lokasi yang tepat. Tiba-tiba, sebuah ide terlintas di benaknya.
“Seharusnya aku membangun ulang rumah Kak Naila saja!” serunya, penuh semangat.
Zephyr menjulurkan kedua tangannya dengan telapak terbuka, berkonsentrasi penuh dan mulai merapalkan mantra.
“Sihir, penggerak benda.”
Sinar berwarna hitam mulai muncul dari depan telapak tangannya yang terbuka, menciptakan efek magis yang mempesona. Bebatuan dari reruntuhan itu perlahan-lahan bergerak, seolah-olah hidup kembali di bawah kendali sihirnya.
Zephyr menggerakkan tangannya dengan lembut namun tegas, mengarahkan bebatuan itu untuk saling menempel dan membentuk struktur yang kokoh.
Perlahan-lahan, bentuk rumah mulai terbentuk. Dinding-dinding yang kuat dan tebal terbentuk dari batu-batu yang sebelumnya berserakan.
"Sihir, membangun rumah," gumamnya, memastikan setiap detail sudah sesuai dengan yang dia inginkan.
Lantai mulai menyatu, membentuk permukaan yang rata dan kuat. Jendela-jendela yang elegan dengan bingkai batu mengisi dinding, memberikan rumah itu nuansa yang indah dan berkelas.
Genting-genting bergerak ke posisi mereka, membentuk atap yang melindungi dari hujan dan panas. Pintu kayu yang kokoh dengan ukiran indah terbentuk di depan rumah, memberikan sentuhan akhir pada bangunan itu.
Zephyr menyelesaikan mantra penggerak benda dengan sempurna. Dia memandang rumah yang baru terbentuk itu dengan rasa puas.
Rumah itu tidak hanya tampak kokoh dan nyaman, tetapi juga memiliki sentuhan magis yang memancar dari setiap sudutnya.
Zephyr mendekati rumah yang baru saja dia bangun, merasakan angin sepoi-sepoi yang membawa aroma tanah dan batu basah. Dia membuka pintu rumah, merasakan nostalgia yang mendalam.
Ruangan dalam rumah tersebut tampak sederhana namun penuh dengan energi sihir yang kuat. Di sudut ruangan, terdapat tempat tidur yang nyaman, meja kayu dengan kursi yang kokoh, dan rak-rak yang siap diisi dengan buku-buku sihir dan artefak.
Zephyr berjalan ke jendela, memandang ke luar dan melihat reruntuhan ibu kota yang masih berdiri sebagai saksi bisu dari sejarah yang kelam. “Aku akan membangun kembali kejayaan tempat ini,” katanya dengan penuh tekad. “Dan melindungi apa yang tersisa dari warisan kita.”
Dia kemudian duduk di kursi dekat meja kayu, merasakan kehangatan dari rumah barunya. Di meja itu, Zephyr meletakkan pedang Elzir, artefak yang dia temukan di ruang bawah tanah. “Ini adalah awal yang baru, aku akan melindunginya kali ini, Kak Naila,” bisiknya pada dirinya sendiri.
***
Sementara itu, jauh di timur tempat Zephyr berada, tepatnya di Ibu kota Kerajaan Elde, seorang putri kerajaan berjalan tergesa-gesa.
Putri Fania Ars Elde, mengenakan seragam militer dengan rambut hitam panjang yang tergerai hingga pinggang, berjalan dengan langkah cepat.
Wajahnya yang cantik terlihat kesal, kulit putihnya semakin kontras dengan rona merah di pipinya yang menunjukkan kemarahan.
“Kenapa masalah ini muncul kembali? Bukankah sejak kekaisaran kita terpecah menjadi beberapa negara kecil, masalah itu sudah selesai?” tanyanya dengan nada marah dan terganggu pada pembawa pesan yang mengikutinya dari belakang.
“Tapi, Tuan Putri. Kerajaan Loven tetap bersikukuh menyalahkan kita tentang pembantaian seratus tahun lalu pada penyihir,” jawab pembawa pesan itu dengan hati-hati.
“Astaga, sudah lima puluh tahun berlalu sejak pecahnya kekaisaran kita dan kakek tua itu masih menyalahkan kita?” Putri Fania berhenti sejenak dan menatap pembawa pesan itu.
“Dia kembali mendesak kita untuk membayar uang ganti rugi.” ujar pembawa pesan itu.
Putri Fania menghela napas panjang, lalu menjawab dengan nada kesal. “Sebenarnya, uang ganti rugi itu untuk apa, hah? Apa dia penyihir yang keluarganya dibantai seratus tahun lalu? Tidak, bukan? Dia adalah adik dari kakekku yang menentang pembantaian penyihir, tapi dia... arghh, aku kesal! Diberi usia panjang tapi membebani sanak saudaranya dengan mendeklarasikan kerajaan baru yang membuat Kekaisaran Elde terpecah belah seperti ini!”
Putri Fania merasa frustrasi dengan adik dari kakeknya yang berumur panjang, yang selalu menyalahkan, menyudutkan, dan bahkan selalu mengancam untuk membumihanguskan Kekaisaran yang sekarang berubah menjadi Kerajaan Elde jika tidak membayar upeti padanya.
Tiba-tiba, dari arah depan, seorang prajurit wanita mendekatinya.
“Tuan, Putri Fania,” sapa prajurit wanita itu sambil membungkukkan kepala. Prajurit itu berambut pendek sebahu berwarna perak, berkulit putih, dan sangat cantik.
“Sarina? Ada apa?” tanya Putri Fania dengan nada serius.
“Saya menemukan catatan tua yang mengatakan bahwa di reruntuhan Kadipaten Elzir banyak terdapat harta yang tertimbun,” kata Sarina dengan tenang namun penuh keyakinan.
Putri Fania memandang prajurit wanita bernama Sarina itu dengan tatapan serius. “Reruntuhan dari negara penyihir yang telah kita bantai, ya? Tapi jalan menuju ke tempat itu sangat berbahaya karena ditumbuhi banyak sekali tanaman beracun dan dihuni hewan buas.”
“Saya sarankan untuk melakukan ekspedisi dengan membawa banyak pasukan untuk kembali membuka hutan itu, Tuan Putri,” saran Sarina dengan tegas.
Putri Fania nampak berpikir sejenak, tangannya yang ditempelkan ke dagunya sambil menatap lantai, memikirkan kemungkinan dan risiko yang terlibat.
“Jika ekspedisi dilancarkan dan berhasil merangsek ke reruntuhan, apa mungkin kita menemukan harta?”
“Tentu saja, Putri,” jawab Sarina dengan penuh keyakinan.
“Kau nampak konyol, Sarina. Itu adalah bekas negeri sihir, catatan lama mencatat bahwa orang-orang terdahulu yang membantai para penyihir pun pulang dengan tangan hampa setibanya dari sana. Mereka pasti menyegel harta dan artefak mereka dengan segel sihir yang kuat.”
“Anda sudah lupa, Tuan Putri? Negeri kita sekarang sudah memiliki ahli pemecah sihir,” jawab Sarina dengan senyum tipis.
Seketika, mata Putri Fania terbuka lebar dan senyum terpancar di wajahnya. “Kau benar, Sarina. Kita memiliki ahli pemecah sihir. Ini bisa menjadi kesempatan kita untuk menemukan harta yang tertimbun di reruntuhan itu.”
Sarina mengangguk. “Saya akan segera menyiapkan ekspedisi, Putri. Kita akan membutuhkan pasukan terbaik dan persiapan yang matang untuk menghadapi bahaya di sana.”
Putri Fania tersenyum penuh semangat. “Lakukan, Sarina. Ini bisa menjadi solusi untuk masalah kita dengan Kerajaan Loven dan mungkin juga membuka rahasia yang telah terkubur selama seratus tahun. Pastikan semuanya siap secepat mungkin.”
Sarina membungkuk hormat sebelum berbalik dan pergi untuk mempersiapkan ekspedisi. Putri Fania merasa jantungnya berdegup kencang, bukan hanya karena marah, tetapi juga karena harapan baru yang muncul di benaknya.
Ini adalah kesempatan untuk mengakhiri ancaman dari Kerajaan Loven dan mungkin menemukan sesuatu yang berharga di reruntuhan Kadipaten Elzir.
Dengan langkah yang lebih ringan, Putri Fania melanjutkan perjalanannya, memikirkan langkah-langkah yang harus diambil untuk memastikan keberhasilan ekspedisi ini.