Bab 1

Malam itu terasa lebih kelam dari biasanya, dengan langit yang dipenuhi awan gelap dan hujan yang turun tanpa ampun. Valeria berjalan dengan langkah ragu menuju gedung tinggi tempat ia bekerja, lampu jalanan yang temaram hanya menambah kecemasan dalam hatinya. Ia tahu bahwa hari ini, seperti biasa, ia akan menjadi orang terakhir yang meninggalkan kantor. Namun, ada sesuatu yang berbeda. Entah mengapa, perasaan takut itu menyelimuti dirinya lebih dalam malam ini.

Valeria adalah seorang asisten di perusahaan besar yang bergerak di bidang teknologi. Meskipun sering kali dipandang sebelah mata oleh rekan-rekannya, ia berusaha untuk tetap menjalani pekerjaannya dengan baik. Namun, ia tahu bahwa ada harga yang harus dibayar. Banyak dari seniornya yang suka mengejek dan membuatnya merasa tidak berharga, namun itu sudah menjadi bagian dari rutinitas yang harus ia jalani demi mempertahankan posisinya.

Setiap malam, setelah semua orang pulang, Valeria akan mengambil tugas untuk membersihkan ruang CEO yang baru. Tidak ada yang pernah menawarkan bantuan, dan ia terpaksa melakukannya sendirian. Meskipun ia merasa lelah dan tertekan, ia tak punya pilihan selain menurut. Namun malam ini, ia merasa ada yang aneh. Tugas itu seolah menjadi lebih berat, dan jantungnya berdebar lebih cepat.

"Tak ada jalan lain, Valeria," gumamnya pada diri sendiri, mencoba menenangkan hati yang gelisah.

Ketika akhirnya ia memasuki gedung, suasana sepi menyelimuti ruangan yang luas dan dingin. Lantai marmer yang berkilau memantulkan cahaya dari lampu-lampu yang redup. Valeria melangkah ke ruang utama, menuju ruang CEO baru yang terletak di lantai atas. Pria itu baru saja dipromosikan beberapa minggu lalu, dan meskipun ia belum pernah bertemu langsung dengannya, namanya sudah cukup terkenal di kalangan pegawai perusahaan.

Tangan Valeria menggenggam lap mikrofiber dengan erat. Setiap langkahnya terasa semakin berat, seolah beban yang harus ia tanggung makin menumpuk. Saat ia tiba di pintu ruang CEO, ia menarik napas dalam-dalam, berusaha mengumpulkan keberanian. Ruangan itu begitu besar, hampir seperti sebuah istana kecil dengan perabotan mewah yang tidak pernah ia impikan sebelumnya. Dindingnya dipenuhi dengan lukisan-lukisan abstrak, sementara furnitur yang ada tampak sangat mahal dan canggih. Valeria bergegas membersihkan meja besar yang ada di tengah ruangan. Ia tidak menyukai pekerjaan ini, tetapi ini adalah cara untuk memastikan dirinya tetap memiliki pekerjaan.

Namun, saat ia sedang membersihkan permukaan meja, sesuatu yang tak terduga terjadi. Pintu ruang CEO terbuka tanpa ada suara. Valeria terkejut, melompat mundur, hanya untuk menemukan seorang pria berdiri di ambang pintu, matanya tajam menatapnya dengan ekspresi tak terbaca.

"Siapa...?" suara Valeria serak, terhenti saat ia menyadari siapa yang berdiri di depannya.

Pria itu mengenakan jas hitam yang pas dengan tubuh tegapnya. Wajahnya tampak dingin, dengan garis-garis tajam yang memberi kesan tak kenal ampun. Itu adalah pria yang selalu dibicarakan di kantor, Dmitri, CEO baru yang baru saja diangkat menggantikan atasan lama mereka. Semua orang mengatakan bahwa ia adalah sosok yang tidak bisa dipahami, penuh dengan rahasia, dan memancarkan aura kekuasaan yang menakutkan.

"Valeria, kan?" Suaranya dalam, tegas, dan sedikit mengintimidasi. "Ada yang harus saya bicarakan denganmu."

Valeria terdiam, tubuhnya kaku di tempat. Semua pikiran dan kata-kata yang biasanya ada di kepalanya seperti lenyap begitu saja. Hanya ada satu hal yang ia tahu, dan itu adalah rasa takut yang semakin mencekam.

"Apakah... ada yang bisa saya bantu, Tuan Dmitri?" Valeria mencoba berbicara dengan tenang, meskipun suaranya bergetar.

Dmitri hanya memandangnya dengan tatapan tajam, seolah menilai setiap gerakan kecilnya. Lalu, dengan satu gerakan cepat, ia melangkah maju, dan dalam sekejap, tangan besar itu meraih pergelangan tangan Valeria dan menariknya dengan kekuatan yang mengejutkan.

"Bukan kamu yang akan membantu, Valeria," katanya dengan suara yang menggetarkan. "Kamu yang akan saya bantu."

Valeria terkejut, namun ia tidak sempat berteriak. Dmitri menariknya lebih dalam ke ruang yang lebih gelap di dalam gedung-sebuah ruangan tersembunyi yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Begitu pintu ditutup dengan suara keras, Valeria merasa dunia di sekitarnya semakin sempit. Ruangan itu terasa asing, jauh lebih intim dan menakutkan daripada ruang CEO tempat ia bekerja.

Ruangan itu luas, dengan perabotan yang tampaknya lebih pribadi, dan di tengahnya, sebuah kasur king-size dengan tirai gelap yang menutupi sebagian besar ruangan. Tidak ada jendela, hanya lampu remang-remang yang mengalirkan cahaya dingin ke seluruh ruangan.

Valeria merasa tubuhnya terdorong ke kasur dengan kasar, sebelum dirinya terjatuh di atasnya. Jantungnya berdegup kencang, dan ia hanya bisa menatap Dmitri yang kini berdiri di atasnya, dengan wajah yang tak menunjukkan sedikit pun belas kasihan.

"Apa... apa yang kamu inginkan?" suara Valeria hampir tak terdengar, suaranya tersendat. Ketakutannya membuatnya kesulitan untuk bernapas dengan baik.

Dmitri membungkuk, dan Valeria bisa merasakan hembusan napasnya yang panas di wajahnya. "Aku tahu kamu merasa takut, Valeria. Tapi itu adalah bagian dari permainan ini."

Apa yang dimaksudnya dengan permainan? Kenapa harus seperti ini? Pikir Valeria, meskipun rasa takut dan kebingungannya menguasai pikirannya. Ia mencoba untuk melawan, tapi tubuhnya terasa seperti dibekukan, tidak dapat bergerak sedikit pun.

"Jangan khawatir," kata Dmitri pelan, "Aku hanya ingin memastikan bahwa kamu tahu posisimu di sini."

Valeria mengerjap, berusaha memahami maksudnya. Tapi kata-katanya itu semakin membingungkan, dan ia hanya bisa terdiam, tidak tahu harus berbuat apa.

Tiba-tiba, Dmitri melepaskan cengkeramannya. Namun, ia tetap berdiri di dekat Valeria, matanya tidak pernah lepas darinya.

"Ini bukan ancaman, Valeria," katanya dengan nada datar, "Ini adalah kesempatan."

Valeria merasakan dada yang sesak. Apa yang sebenarnya dimaksudkan oleh pria itu? Bagaimana ia bisa keluar dari situasi ini tanpa terluka lebih dalam? Semua yang ia tahu adalah bahwa hidupnya tidak akan pernah sama setelah malam ini.

Dmitri kemudian berdiri tegak, menatapnya sekali lagi, dan berkata dengan suara rendah dan berbahaya, "Kamu akan tahu apa yang aku maksud, tetapi hanya jika kamu mau bermain sesuai aturanku."

Dengan kata-kata itu, ia berbalik dan meninggalkan ruangan, meninggalkan Valeria yang terbaring bingung di kasur, dengan jantung yang masih berdegup keras.

Dalam kesendirian yang mencekam itu, Valeria hanya bisa terdiam, memikirkan apa yang baru saja terjadi. Ada sesuatu yang besar yang sedang dimainkan, dan ia merasa bahwa dirinya tidak bisa menghindarinya.

Bab 2

Valeria terdiam, tubuhnya masih tergeletak di atas kasur king-size yang terasa aneh. Begitu banyak pertanyaan berputar di benaknya, tetapi ia tidak tahu harus mulai dari mana. Pikirannya masih terhenti pada apa yang baru saja terjadi-kehadiran Dmitri yang begitu mendominasi, kata-kata tajamnya yang penuh makna ganda. Semua itu terasa seperti sebuah permainan yang dimainkan oleh seseorang yang jauh lebih kuat dan berpengalaman.

Suaranya yang rendah, penuh perhitungan, masih terngiang di telinganya. "Kamu akan tahu apa yang aku maksud, tetapi hanya jika kamu mau bermain sesuai aturanku."

Apa artinya itu? Apa yang diinginkannya darinya? Valeria menatap langit-langit ruangan dengan perasaan cemas yang semakin dalam. Ia merasa terkunci dalam sebuah permainan yang tidak ia pilih, dan ia tidak tahu apakah ia memiliki kekuatan untuk keluar dari situasi ini.

Waktu terasa berjalan sangat lambat, setiap detik yang berlalu menambah ketegangan dalam dirinya. Setiap detik itu seperti menyimpan ancaman yang lebih besar, sesuatu yang lebih mengerikan yang ia belum pahami sepenuhnya. Ia ingin melarikan diri, tetapi ia tahu itu tidak mungkin. Dmitri adalah sosok yang terlalu berkuasa, dan meskipun ia belum sepenuhnya mengerti apa yang sedang terjadi, ia tahu bahwa mencoba melawan hanya akan memperburuk keadaan.

Valeria memaksa dirinya untuk duduk di tepi kasur, meremas tangan dengan kuat, berusaha untuk mengendalikan perasaan paniknya. Beberapa menit berlalu, dan ketegangan di dalam dirinya semakin memuncak. Ia harus mencari tahu apa yang Dmitri inginkan darinya. Lebih penting lagi, ia harus mencari cara untuk bertahan, untuk keluar dari sini dengan utuh.

Akhirnya, pintu terbuka kembali. Langkah kaki berat Dmitri terdengar mendekat, dan Valeria segera berdiri, berusaha menampilkan wajah yang lebih tegas, meskipun hatinya berdegup kencang. Pria itu tidak memberi isyarat apa-apa saat memasuki ruangan, hanya menatapnya dengan tatapan penuh teka-teki, seolah sedang menilai reaksi setiap gerakan Valeria.

"Kenapa kamu masih di sini?" tanya Dmitri, suaranya dingin, namun ada ketegasan yang menggetarkan dalam kata-katanya.

Valeria menelan ludah. "Saya... saya tidak tahu apa yang Anda inginkan dari saya, Tuan Dmitri," jawabnya dengan suara pelan. Ia berusaha untuk tidak menunjukkan rasa takut yang masih menguasainya, meskipun napasnya terasa terengah-engah.

Dmitri mendekat, wajahnya semakin dekat dengan wajah Valeria. "Kamu benar-benar tidak tahu?" katanya dengan senyum tipis yang sulit dimengerti. "Kamu benar-benar tidak tahu apa yang kamu hadapi?"

Ada rasa bahaya yang menyelimuti kalimat itu. Valeria merasakan tenggorokannya tercekat. "Saya... saya hanya ingin melakukan pekerjaan saya, Tuan. Saya tidak ingin terlibat dalam apapun yang tidak seharusnya saya lakukan."

Dmitri tetap diam beberapa saat, menatapnya dengan tatapan tajam yang hampir menembus dirinya. Sepertinya ia sedang menganalisis setiap kata yang keluar dari bibir Valeria, mencari sesuatu yang tersembunyi.

Akhirnya, Dmitri membuka mulutnya, suaranya tetap rendah namun penuh dengan kekuatan. "Kamu sudah terlibat lebih dari yang kamu kira, Valeria. Tidak ada jalan mundur. Ini bukan soal pekerjaanmu lagi. Ini tentang siapa yang kamu pilih untuk menjadi, dan bagaimana kamu bertahan di dunia yang penuh dengan kekuasaan dan intrik."

Valeria merasa tubuhnya kaku. "Saya tidak mengerti, Tuan."

Dmitri mendekat lagi, kali ini menatapnya dengan tatapan yang lebih dalam, seolah menelusuri isi hatinya. "Kamu sudah ada di sini terlalu lama, Valeria. Terlalu lama berada di bawah bayang-bayang orang lain. Kamu mungkin tidak menyadarinya, tapi ini adalah kesempatanmu. Peluang untuk mengendalikan takdirmu sendiri."

Valeria merasa cemas, namun ia berusaha untuk tetap tenang. "Apa yang harus saya lakukan?"

Dmitri tertawa pelan, suaranya seperti desir angin yang dingin. "Itu bukan pertanyaan yang tepat. Pertanyaan yang tepat adalah, apakah kamu berani mengambilnya?"

Perasaan cemas yang sebelumnya hanya muncul sebagai bayangan kini berubah menjadi gelombang emosi yang mengguncang seluruh tubuhnya. Valeria merasa dirinya terperangkap dalam permainan yang tidak ia pilih. Sepertinya, Dmitri sedang menawarkannya sesuatu-sesuatu yang sangat besar, dan itu akan mengubah hidupnya selamanya. Tapi apakah ia siap untuk itu?

"Jika kamu ingin bertahan, jika kamu ingin menjadi lebih dari sekadar pion dalam permainan ini," lanjut Dmitri, "maka kamu harus menunjukkan kekuatanmu. Kamu harus tahu bagaimana cara bertahan, dan lebih penting lagi, bagaimana cara menguasai dunia ini."

Valeria terdiam, bingung. "Tapi saya hanya seorang asisten. Apa yang bisa saya lakukan?"

Dmitri mendekat lebih jauh, kini hanya beberapa inci dari wajahnya. "Tidak ada yang namanya 'hanya seorang asisten', Valeria. Kamu hanya perlu tahu bagaimana memanfaatkan apa yang ada di depanmu."

Ia menarik mundur sedikit, menatap Valeria dengan tatapan yang tajam. "Kamu akan mengerti lebih cepat daripada yang kamu kira. Tetapi ingat, dunia ini bukan tempat untuk orang yang lemah. Ini adalah dunia kekuasaan."

Valeria merasa tercekik oleh kata-kata itu. Dunia kekuasaan. Ia telah mendengar banyak hal tentang dunia seperti itu-tentang bagaimana seseorang bisa mendapatkan segalanya dengan kekuatan dan pengaruh. Namun, ia selalu merasa bahwa dunia itu terlalu jauh untuknya. Sekarang, Dmitri mengingatkannya bahwa ia telah memasuki dunia itu tanpa disadari.

"Saya... saya tidak tahu apakah saya siap untuk itu, Tuan," Valeria berkata pelan, hampir seperti berbisik.

Dmitri tersenyum tipis, senyum yang begitu dingin dan penuh perhitungan. "Kamu tidak perlu siap, Valeria. Kamu hanya perlu mengikuti jalan ini. Jika kamu ingin bertahan hidup di sini, kamu harus belajar cara bertindak tanpa ragu, tanpa rasa takut."

Kata-kata Dmitri menggema di benaknya, dan dalam diamnya, Valeria tahu bahwa ia berada di persimpangan jalan. Dunia yang baru ini, dunia yang penuh dengan permainan kekuasaan dan ketegangan, bukan sesuatu yang bisa ia hindari lagi. Ia telah terperangkap, dan meskipun ia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, ia tahu satu hal-kehidupannya tidak akan pernah sama lagi.

Seiring dengan semakin banyaknya perasaan dan pemikiran yang berputar di dalam dirinya, Valeria tidak bisa menghindari kenyataan bahwa ia harus memilih. Ia harus memilih untuk bertahan atau menyerah. Tetapi jika ia memilih untuk bertahan, maka harga yang harus dibayar mungkin lebih besar daripada yang bisa ia bayangkan.

Dmitri kemudian berbalik dan berjalan menuju pintu, meninggalkan Valeria yang masih terdiam, terperangkap dalam pikiran dan perasaan yang semakin menggelora. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi pada dirinya-apakah ia akan menjadi bagian dari permainan ini atau terjerat dalam jebakan yang lebih dalam. Tapi satu hal yang pasti, malam ini, ia telah melangkah ke dunia yang sama sekali berbeda.

Dan dunia itu tidak akan pernah membiarkannya pergi begitu saja.

Bab 3

Keesokan harinya, Valeria terbangun dengan perasaan aneh yang menggelayuti dirinya. Rasa lelah yang menghinggapinya tidak hanya datang dari fisik, tetapi juga dari pikiran yang masih kacau setelah malam yang penuh dengan intrik dan ancaman. Ia tidak bisa mengabaikan kata-kata Dmitri, yang terus berputar dalam benaknya. Dunia kekuasaan yang ia masuki, dunia yang sebelumnya terasa begitu jauh dan asing, kini semakin mendekat dan menekan.

Dengan langkah lesu, Valeria pergi menuju kantornya, berusaha untuk mengalihkan pikirannya dari pertemuan yang telah terjadi. Namun, setiap sudut kantor itu terasa berbeda. Semua yang sebelumnya tampak biasa, kini seakan-akan dipenuhi dengan tanda tanya. Ia merasa setiap orang yang melihatnya menyimpan rahasia, seperti mereka tahu lebih banyak tentang permainan yang sedang berlangsung daripada yang ia ketahui.

Di ruang kerjanya, Valeria duduk di mejanya dengan gelisah. Seorang rekan kerja mendekatinya, wajahnya penuh perhatian. "Kamu baik-baik saja? Sepertinya ada yang mengganggumu," ujar wanita itu, suara lembut namun penuh keprihatinan.

Valeria menatapnya sebentar, mencoba menampilkan senyum yang meyakinkan. "Ya, saya hanya sedikit lelah. Terima kasih sudah khawatir."

Namun, dalam hati Valeria, kekhawatiran itu tidak hilang. Ia tahu, meskipun ia berusaha untuk bersikap biasa, segalanya telah berubah. Semalam, Dmitri telah mengingatkannya bahwa ia berada di dunia yang penuh dengan permainan tak terlihat-permainan yang hanya bisa dimenangkan dengan keberanian dan kecerdasan. Tapi, apakah ia siap untuk itu?

Seperti yang Dmitri katakan, ia harus memutuskan: bertahan atau menyerah.

Di tengah kebingungannya, pintu kantornya terbuka, dan seorang pria dengan pakaian formal memasuki ruangan. Matanya tajam, langkahnya penuh percaya diri-tanda bahwa ia adalah seseorang yang berkuasa di sini. Valeria menatapnya dan merasakan gelombang ketegangan yang datang bersamanya.

"Valeria, aku ingin berbicara denganmu," kata pria itu dengan nada yang tegas. "Ikuti aku."

Tanpa menunggu jawaban, pria itu berbalik dan berjalan keluar. Valeria tidak punya pilihan selain mengikuti langkahnya. Setiap langkah yang ia ambil terasa berat, seolah ada sesuatu yang besar sedang menantinya di ujung jalan.

Mereka sampai di sebuah ruang rapat yang terletak di ujung lorong. Pria itu membuka pintu dan memberi isyarat agar Valeria masuk terlebih dahulu. Di dalam, duduk beberapa pria dengan ekspresi serius. Salah satunya, Dmitri, yang langsung menangkap pandangannya dengan tatapan penuh makna.

"Silakan duduk, Valeria," kata Dmitri, suaranya rendah namun penuh wibawa. "Kami perlu berbicara."

Valeria duduk dengan hati berdebar, matanya melirik ke seluruh ruangan. Ruangan itu terasa begitu dingin, penuh dengan ketegangan yang hampir bisa dirasakan. Para pria di sekeliling meja tampaknya menunggu sesuatu, dan Valeria merasa seperti seorang pion yang tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

"Bagaimana perasaanmu setelah semalam?" tanya Dmitri, tidak langsung membahas urusan penting, tetapi memberikan kesan bahwa ia sedang mengamati Valeria dengan seksama.

Valeria menelan ludah, berusaha untuk tidak menunjukkan rasa takut yang menguasainya. "Saya... saya merasa bingung, Tuan Dmitri. Ada begitu banyak yang saya tidak mengerti," jawabnya, suaranya masih penuh ketegangan.

Dmitri tersenyum tipis, namun senyumnya kali ini lebih penuh arti. "Begitulah seharusnya. Semua hal baru akan membuatmu merasa bingung pada awalnya. Tapi, seiring waktu, kamu akan mulai melihat gambaran yang lebih besar."

Valeria tidak tahu apa yang lebih besar itu, dan tidak tahu apakah ia ingin tahu lebih banyak. Namun, ia tahu satu hal: ia tidak bisa mundur sekarang.

"Jangan khawatir," lanjut Dmitri, seolah membaca pikiran Valeria. "Kamu tidak perlu tahu semuanya sekarang. Kita mulai dengan hal kecil. Kamu akan belajar banyak hal dari sini, dan siapa tahu, mungkin kamu akan menemukan jalanmu sendiri."

Valeria hanya bisa menatapnya, bingung namun juga mulai merasa bahwa ada sesuatu yang lebih besar yang sedang disusun di balik semua ini. Ketegangan di ruangan itu semakin meningkat, dan ia tahu bahwa ia tidak bisa hanya duduk diam. Ini adalah permainan yang tidak bisa ia hindari, dan entah ia suka atau tidak, ia harus memainkan perannya dengan baik.

Seorang pria di sebelah Dmitri membuka mulut, memecah keheningan. "Kamu tahu, Valeria, di dunia ini, hanya ada dua pilihan: menang atau kalah. Tidak ada ruang untuk setengah-setengah. Kita tidak punya waktu untuk bermain-main."

Kata-kata itu seperti cambukan yang membuat Valeria terdiam. Semua yang terjadi begitu cepat. Ia hanya seorang asisten biasa yang baru beberapa minggu bekerja di perusahaan ini, dan sekarang ia telah terjerat dalam jaringan yang begitu besar, yang tampaknya penuh dengan ambisi dan rahasia gelap.

"Apakah kamu ingin menang, Valeria?" tanya Dmitri, tatapannya penuh makna.

Valeria menatap matanya yang tajam. Ia merasa ada sesuatu yang lebih dari sekadar pertanyaan biasa di balik kata-kata itu. Ini adalah ujian. Ujian yang akan menentukan apakah ia siap untuk terjun lebih dalam ke dalam permainan ini, atau apakah ia akan menjadi korban dalam permainan yang lebih besar.

"Apa yang harus saya lakukan?" tanya Valeria, suaranya kini lebih tegas. Ia tahu bahwa jawabannya akan menentukan arah hidupnya selanjutnya.

Dmitri tersenyum. "Bagus. Kamu mulai memahami. Yang perlu kamu lakukan sekarang adalah mengikuti arus, dan mengerti kapan harus membuat langkahmu sendiri. Di dunia ini, hanya mereka yang cerdas dan berani yang bisa bertahan."

Ruangan itu terdiam sejenak, dan Valeria merasakan sebuah beban yang semakin berat di pundaknya. Semalam, ia merasa terjebak. Hari ini, ia merasa lebih terperangkap lagi. Apa yang harus ia lakukan untuk bertahan hidup di dunia ini? Apa yang harus ia korbankan?

Ketegangan semakin meningkat saat Dmitri berdiri dan berjalan menuju pintu. Sebelum keluar, ia menoleh lagi pada Valeria. "Kamu punya waktu untuk berpikir, Valeria. Tapi ingat, keputusan yang kamu buat hari ini akan menentukan apakah kamu bertahan atau jatuh."

Valeria hanya bisa menatap Dmitri yang meninggalkan ruangan itu, bersama pria-pria lainnya yang mengikutinya keluar. Ia duduk diam, tubuhnya lelah, tetapi pikirannya penuh dengan pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab.

Ini bukan hanya tentang bertahan hidup. Ini tentang memilih apakah ia akan menjadi bagian dari dunia ini-dunia yang penuh dengan kekuasaan, permainan, dan pengkhianatan. Dunia yang kini tak bisa lagi ia hindari.

Valeria tahu, ia harus membuat keputusan, dan tidak ada jalan untuk kembali.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED