Allahu Akbar … Allahu Akbar. Laila Ila Hailahu Allahu Akbar … Allahu Akbar Walillah Ilham.
Takbir menggema diseluruh jagat raya. Sementara, aku masih mengumpulkan botol bekas untuk dijual. Besok lusa sudah ditutup tempat pengepul karena lebaran tiba. Sedangkan aku masih sibuk mencari uang untuk sesuap nasi. Memenuhi kebutuhan kelaurga kecilku. Padahal, lebaran esok hari sudah tiba. Di sini aku masih bergelut dengan peluh, dan keringat yang bercampur debu.
Ibu sudah tak lagi mampu mencari barang-barang bekas. Usaha ini terpaksa aku jalankan untuk bertahan hidup. Sudah sejak dari kemarin hujan mengguyur kotaku. Bahkan, di hari terakhir menjelang puasa ramadan tetap saja air membasahi bumi.
"Kamu mau apa? Penampungan sudah tutup sejak sore tadi. Tidak tidak lagi menerima barang bekas." Mang Damin berdiri menatapku acuh tak acuh. Pria paruh baya itu, tampak akan meninggalkan tempat penampungan barang bekas.
"Tapi, Mang. Aku dan ibuku perlu makan malam ini besok sudah hari lebaran. Tolong buka sebentar, ya," pintaku memelas. Berharap Mang Damin punya hati nurani, untuk menerima barangan rongsokan yang kubawa.
"Tidak bisa. Saya juga mau takbiran malam ini. Silahkan bawa kembali seminggu lagi kemari."
Tubuhku terasa lemas saat Mang Damin menolak barang rongsokan yang kubawa. Sudah seharian aku berkeliling untuk mencari botol bekas. Agar bisa menghasilkan uang untuk makan. Namun, semua pengepul sudah tidak lagi menerima dengan alasan malam takbiran.
"Mang, tolonglah. Aku dan ibuku bisa mati kelaparan kalau tidak ada uang buat kami makan lusa. Besok pengepul sudah tutup dan waktu akan dibuka seminggu lagi kami harus makan apa, Mang?"
"Bukan urusanku. Kalian mau makan apa. Pergi sana!" Usir Mang Damin. Pendiriannya tetap kekeh tidak mau menerima barang milikku.
Dia segera menutup pintu gudang pengepul dengan kuat. Lelaki itu, segera pergi berlalu tanpa rasa bersalah. Aku duduk terdiam sambil menenteng karung yang berisi barang rongsokan. Sedangkan Rafa, masih tetap dalam gendongan di punggung belakang. Dia sudah kehujanan dan kedinginan sejak tadi pagi. Tapi anakku yang malang masih betah tidur dalam gendongan. Mungkin Rafa tahu kesusahan orang tuanya. Harus berjuang sambil mencari nafkah.
Tubuh mungilnya pun sudah basah kuyup karena rintik hujan. Sungguh, tidak tega melihat anak malang seperti dia. Masih berumur empat tahun harus ikut merasakan derita ayahnya. Mencari sesuap nasi demi bertahan hidup. Apa hendak dikata. Nasibku yang malang tak berubah meski sudah berusaha bekerja keras.
Bukan aku tak sayang padanya, namun pilihan tidak ada lagi. Sejak umurnya tiga bulan, Rafa sudah ditinggal ibunya. Sakira pergi meninggalkanku bersama Rafa hanya karena tak tahan hidup susah. Dia memilih laki-laki lain yang lebih kaya.
Kini, sudah empat tahun berlalu. Namun, tak pernah kudengar lagi beritanya. Saat terakhir kita bertemu, dia sudah menikah dengan pria idamannya. Ya, karena aku miskin dia berpaling dan meninggalkan Rafa yang masih bayi merah.
"Mas, pokoknya aku minta cerai sama kamu. Aku tidak tahan hidup susah terus menerus denganmu, Mas. Sampai kapan hidupku begini. Sampai kapan, Mas," ucap Sakira kala itu. Matanya memerah menatapku.
"Sabar, Sakira. Mas juga lagi berusaha kerja agar hidup kita enak dan bahagia."
"Kalau begini terus aku tidak tahan, Mas. Kamu cuma kerja sebagai buruh harus menanggung ibumu yang penyakitan itu. Rumah juga masih mengontrak. Kapan kita senang, Mas."
"Istighfar, Kira. Ibu itu orang tua kandungku. Kamu gak boleh ngomong begitu. Hanya dia satu-satunya keluargaku. Kalau bukan aku, lalu siapa lagi yang akan merawatnya."
"Usaha dong, Mas. Usaha!" Teriak Sakira.
Tangisnya pecah ketika suaranya melengking tinggi. Sementara, bayi Rafa menangis karena mendengar teriakan ibunya. Mungkin dia haus karena sejak tadi Sakira belum memberinya ASI.
Kuraih tubuh Rafa yang terus menangis. Memberikan kepada Sakira. Namun, dia menolak untuk menyusui. Berbagai alasan dia katakan.
"Sakira, Rafa menangis. Tolong kamu susui dia," ucapku lembut.
"Aku tidak mau. Berikan saja dia minum susu formula."
"Astagfirullah, Sakira. Kamu itu ibunya, masa tega membiarkan Rafa minum susu formula."
"Mulai sekarang kamu yang urus Rafa, Mas. Kamu bisa membeli obat untuk ibumu. Tapi tidak bisa memberikan susu untuk anak sendiri."
"Ibu sedang sakit, Kira. Kalau dia tidak diberi obat maka bisa semakin parah penyakitnya."
"Itu urusanmu, Mas. Pokoknya aku tidak mau menyusui Rafa."
Buk!
Sakira langsung pergi ke kamar, lalu membanting pintu sekuatnya. Ibu yang mendengar pertengkaran kami pun langsung ke luar dari kamar.
"Ada apa lagi to, Le. Kamu bertengkar lagi sama istrimu?"
"Ndak, Bu. Kami tidak bertengkar kok. Ibu istirahat saja nanti malah capek," ujarku.
"Kalau hidup Ibu jadi beban buatmu lebih baik Ibu pergi saja dari sini. Ibu tidak ingin rumah tanggamu hancur gara-gara Ibu."
Ya Tuhan!
"Ibu gak usah ngomong gitu. Aku akan menjadi anak durhaka bila Ibu pergi."
Sebagai suami, tentu aku tidak ingin terus membela istri. Bukan tak mau, tetapi keadaanlah yang memaksa tetap begini. Siang dan malam sudah bekerja keras membanting tulang. Demi menutupi semua kebutuhan. Namun, nasib baik belum berpihak kepadaku.
"Itu Rafa kenapa, Le? Kok sedari tadi menangis terus?"
"Rafa haus, Bu. Sakira tidak mau menyusuinya."
"Ya Allah, kenapa ibunya gak mau menyusui, Danu?" tanya ibu lagi.
Aku bergeming. Tangis Rafa terus saja berpanjangan. Membuat hatiku terasa sakit. Bukan tak ingin membelikan dia susu, namun keuanganku tidaklah cukup. Jangankan untuk membeli susu formula, untuk makan saja harus bekerja keras.
Dari pagi sampai jam lima sore aku bekerja sebagai buruh bangunan. Selesai itu, masih harus mencari barang rongsokan dan menjual kepada pengepul barang bekas.
Gaji hasil kerja menjadi buruh kuberikan kepada Sakira untuk memenuhi kebutuhan. Uang hasil mencari barang rongsokan aku berikan pada ibu untuk membeli obat. Ibu divonis dokter terkena penyakit paru-paru. Perobatannya tidak boleh telat selama enam bulan. Setiap satu Minggu sekali, aku harus menebus di puskesmas terdekat.
"Ayah, Rafa lapar," ucap Rafa membuka mata.
"Sabar, ya, Nak. Sebentar lagi kita akan beli makanan."
"Ayah, apakah malam ini kita akan makan enak? Sekarang malam takbiran. Besok hari raya. Teman-temanku semuanya sudah membeli baju baru buat besok. Kapan aku bisa punya baju baru juga, Yah?" tanya Rafa dengan mata yang berbinar.
"Maafkan Ayah, Nak. Ayah pria yang tak berguna. Bahkan, untuk membeli sepotong baju saja tidak bisa."
Kupeluk tubuh kurus Rafa. Sembari menangis di pelukannya. Jujur, ingin sekali memberikan semua apa yang dia inginkan. Akan tetapi, keadaan ekonomiku tidak bisa membuatnya tertawa seperti anak-anak yang lainnya.
"Ayah, kenapa nangis? Rafa gak papa kok kalau Ayah belum bisa belikan baju untuk Rafa. Baju yang lama pun tak apa-apa."
"Ayah janji, bila nanti punya uang banyak akan membelikan Rafa baju baru."
"Iya,Yah. Rafa ngerti kok Ayah belum punya uang."
Oh Tuhan! Bagaimana anak sekecil Rafa bisa mengerti. Sungguh, aku malu telah menjadi ayah yang gagal. Andai, saja keajaiban bisa terjadi. Aku akan tak meminta banyak kecuali baju lebaran.
Suara takbir masih terdengar bergema dari arah masjid. Aku dan Rafa pergi meninggalkan tempat penampungan dengan langkah gontai. Usaha untuk menjual barang rongsokan telah gagal. Rencananya, akan membelikan baju baru buat ibu dan Rafa bila barang bekas terjual.
Aku sudah mengumpulkan uang tabungan beberapa bulan lalu untuk persiapan lebaran. Ditambah sedikit lagi pasti bisa membelikan mereka baju baru. Dari tahun ke tahun ibu tak pernah memakai baju baru. Ingin sekali memberikan hadiah gamis. Walau harganya tidak mahal. Pasti ibu bahagia menerima pemberian dari anak laki-lakinya.
Bahkan, baju yang dia gunakan sudah robek sana sini. Tidak layak untuk dipakai. Namun, ibu tak pernah mengeluh. Dia mengerti keadaan ekonomi kita sangat sulit. Jangankan untuk membeli baju lebaran, untuk makan besok saja uang tidak cukup. Tempatku bekerja libur satu Minggu. Otomatis aku tidak bisa bekerja selama itu. Harus ada stok makanan di rumah, sementara hasil pencarian barang bekas belum terjual.
"Ayah, apakah kita akan pulang sekarang?" Rafa bertanya sambil menatapku.
"Iya, Nak. Kita akan pulang ke rumah. Maaf, Ayah belum bisa memberikan baju lebaran untuk kamu."
"Ndak apa, Yah. Rafa ngerti kok Ayah lagi gak punya uang. Rafa tidak akan minta apa-apa," ucap Rafa menghapus jejak air mataku. Senyumnya membuatku bersemangat terus berjuang merubah nasib.
Aku terus saja melangkah menyusuri jalan yang becek. Hujan masih enggan untuk berhenti. Meski gerimis masih turun membasahi bumi. Akan tetapi, tak menyurutkan langkah sebagain orang untuk mengumandangkan takbir. Menyebut kebesaran Allah. Setelah agak jauh meninggalkan penampungan barang rongsokan tiba-tiba suara yang tidak asing lagi menyapa. Membuatku seketika menghentikan langkah.
"Danu, tunggu!"
***
Bersambung.
Aku seketika menoleh ke belakang, saat mendengar suara yang tidak asing lagi memanggil. Melihat melihat Naina berdiri di samping mobil.
Naina adalah anak—Pak Haji Agus. Pemilik tempat penampungan barang bekas. Pak Haji Agus adalah orang terkaya di kampung ini. Usahanya telah dikenal oleh masyarakat desa sekitar. Dahulu, dia juga merintis usaha rongsokan dari nol. Lama kelamaan menjadi maju, hingga bisa mengantarkan semua anak-anaknya sampai sekolah sarjana.
"Naina?!"
"Kamu mau apa malam-malam begini ke sini, Danu? Dan anakmu kelihatannya sudah kedinginan." Naina menatap heran. Mungkin sedang berpikir kenapa ada laki-laki gembel sepertiku masih berkeliaran malam-malam. Sedangkan takbiran sudah tiba. Semua orang merayakan dengan keluarga, tetapi aku malah di jalanan seperti gembel.
"Aku ingin menjual botol bekas hasil pencarian hari ini. Tapi kata Mang Damin sudah tutup. Jadi, botol bekasnya mau dibawa pulang lagi, Neng."
"Memang Mang Damin ke mana? Kok gudangnya ditutup?"
"Aku gak tahu, Neng. Dia cuma bilang mau merayakan takbiran keliling. Aku cuma disuruh balik saja. Kalau mau jual barang rongsokan datang satu Minggu lagi setelah selesai lebaran idul fitri. Kata Mang Damin tadi begitu.
"Astagfirullah, Mang Damin. Kunaon atuh. Abah meminta untuk membagi-bagikan sembako kepada para pengepul. Kenapa malah pergi, ya?"
Naina terlihat kesal. Jujur, aku tidak mengerti apa yang dia maksud. Naina hanya menggelengkan kepala saja. Kemudian, dia masuk membuka pintu gudang itu dengan menggunakan kunci cadangan.
"Danu, kalau kamu mau jual barang bekas ayo masuk. Aku akan menimbangnya dan membayar upahmu."
"Beneran masih bisa di buka, Neng Naina?"
"Benar, Danu. Sok atuh masuk! Anak kamu juga sudah kedinginan itu. Kasihan kalau dibiarkan di luar saja."
"Iya, Neng. Makasih sudah mau bantu aku."
"Sama-sama."
Naina menimbang karung yang kubawa berisi botol bekas dan juga kardus. Gadis di depanku sungguh rupawan. Selain cantik, dia juga baik hati. Lembut dan berbicara sopan. Beruntung pria yang mendapatkan dirinya. Wanita kaya dan juga soleha. AH, aku mulai berkhayal. Jangan sampai berandai-andai. Bisa kecewa bila tidak mendapatkan apa yang diinginkan. Benar bukan?
"Ini uangnya, Kang Danu," ucap Naina menyodorkan uang lembaran merah.
Aku masih memperhatikan wajahnya nan ayu. Senyumnya membuat hati berdetak dengan kencang. Andai ….
Tuh, kan aku mulai lagi berkhayal.
"Kang Danu, kenapa melamun atuh? Ini saya sudah kasih uang dari tadi kenapa tidak terima?"
"Eh, maaf atuh, Neng. Ini kebanyakan dari harga barang rongsokan yang saya jual. Biasanya, gak segitu."
"Ndak apa-apa, Kang Danu. Anggap saja ini bonus untuk Rafa."
"Tak usah, Neng. Merepotkan saja. Harga barang rongsokan itu hanya lima puluh ribu. Tapi Neng Naina memberikan dua ratus ribu. Itu kebanyakan Neng."
"Kan tadi saya sudah bilang kalau ini bonus untuk Rafa. Terima, ya, Kang?"
Naina memaksa untuk menerima uang pemberiannya. Jujur, aku malu bila harus menerima uang dari seorang wanita. Selama ini, Naina sudah banyak membantu. Dari mulai membelikan obat untuk ibu ataupun membelikan barang kebutuhan untuk Rafa. Entah bagaimana aku akan membalasnya.
Naina gadis manis yang baik hati. Siapa pun pria yang melihat kepribadiannya pasti akan jatuh cinta. Selain cantik dia juga anak orang terkaya di kampung ini. Siapa yang tidak kenal dengan Juragan Agus. Pria yang sukses menjadi pengusaha. Walau usaha yang dijalankan hanya menampung barang-barang bekas.
"Terima kasih, Neng Naina. Semoga Allah membalas kebaikanmu."
"Aamiin. Sama-sama Kang Danu."
"Maaf, Neng. Saya mau pamit pulang. Rafa ingin istirahat."
"Eh, tunggu Kang Danu!" Sergah Naina.
"Ada apa, Neng?"
"Ini ada oleh-oleh untuk Emak. Mudah-mudahan Emak suka, ya?"
Naina menyodorkan parcel berisi kue lebaran dan juga makanan lainnya. Ada juga minuman dalam botol yang biasa disuguhkan di hari lebaran.
"Apa ini, Neng?"
"Ini hadiah dari saya buat Emak, Kang. Ada beras, gula, minyak dan juga kue lebaran. Semua pemulung juga mendapatkannya tadi. Sudah dibagi sama Mang Damin."
"Subhanallah. Makasih, Neng. Semoga keluarga selalu diberi kesehatan dan rezeki yang berlimpah."
"Aamiin. Makasih atas doanya, Kang."
"Aku pamit, Neng."
"Gimana Akang pulang sambil menggendong Rafa dan bawa sembako ini?"
"Aku bisa gendong Rafa dan bawa sembako ini pulang, Neng. Gak usah khawatir. Aku orang kuat."
"Mari aku antar pulang aja, Kang. Kasihan rumah Akang jauh dari sini. Bawa Rafa dalam gendongan dan sembako pasti itu sangat melelahkan."
"Ndak usah, Neng. Aku malu kalau ngerepotin terus."
"Ndak apa-apa atuh, Kang. Manusia tolong menolong itu sudah kewajiban."
Aku bergeming. Masih terus menolak kebaikan Naina, untuk mengantarkan pulang. Tidak mungkin terus merepotkan dengan meminta bantuan. Dia sudah baik memberi uang dan sembako. Mana mungkin aku terus menerima bantuannya lagi.
Namun, dia terus memaksa hingga aku tidak bisa menolak dengan berbagai alasan. Kemudian, aku dan Rafa yang sudah basah kuyup langsung naik ke dalam mobil mewahnya.
"Duduk di samping sini atuh, Kang. Kenapa di belakang. Nanti saya dikira sopir lagi."
"Eh, iya, Neng. Tapi maaf bajuku basah. Nanti takut Neng Naina gak merasa nyaman karena duduk berdekatan denganku."
"Gak apa-apa, Kang."
Dengan malu-malu aku langsung duduk di depan. Naina menyetir dengan pelan meninggalkan gudang penampungan barang bekas. Mobil sedan berwarna merah langsung melesat menyusuri jalan. Jarak dari rumahku ke tempat penampungan sekitar lima kilometer. Bila ditempuh berjalan kaki tentu akan sangat melelahkan. Ditambah menggendong Rafa sepanjang jalan. Rasanya punggung ini hampir patah menanggung beban.
Setiap hari, aku bekerja dengan membawa Rafa. Bukan hal yang baik membawa anak balita semiran dia untuk diajak bekerja. Namun, dengan siapa dia harus kutinggalkan bila tidak ikut. Ibu tak mungkin bisa menjaganya.
Sejak Rafa ditinggal Sakira pergi, aku selalu membawanya. Ke mana pun Rafa pasti ikut walau sedang bekerja. Meski mandor tempatku melarang untuk membawa anak kecil, tetapi tidak peduli.
Bagiku, Rafa adalah segala-galanya. Dia tumbuh di lingkungan yang kurang sehat. Menjadikan pertumbuhannya kurang kuat. Tubuh kurus seperti kurang gizi. Jangankan untuk membelikan susu, untuk memberikan makanan bergizi pun aku tak sanggup.
"Danu! Anak kamu nangis tuh di ayunan!" Teriak bang mandor.
Segera aku berlari menghampiri Rafa yang masih berumur empat bulan. Kuberikan air gula yang sudah dipersiapkan dari rumah. Rafa tidak lagi menyusu pada ibunya. Sakira tanpa perasaan telah meninggalkan Rafa yang malang. Seharusnya, dia masih mendapatkan ASi dari ibunya. Namun Sakira tak mau menyusui. Dia malah memilih pergi dengan mantan kekasihnya orang kaya.
"Cup! Anak—Ayah, kamu jangan nangis, ya?" kutimang Rafa dengan lembut sembari menyanyikan lagu Nina bobo. Tak lama kemudian, dia tertidur kembali.
Seolah mengerti keadaan ayahnya yang susah. Bayiku kembali tertidur dengan nyenyak setelah puas minum air gula. Tidak memungkinkan aku untuk menggendongnya. Bila Rafa bangun dan tak ingin tidur lagi, terpaksa dia kuletakkan di atas punggung. Kubawa sambil bekerja di bawah teriknya matahari. Kadang, kala hujan turun pun dia tetap harus menamani ayahnya bekerja.
Jujur, aku tidak sanggup bila harus membayar sewa pengasuh. Gajiku sebagai buruh hanya pas untuk makan. Itu pun masih kurang bila harus membeli obat untuk ibu. Jika sudah begini, terpaksa kami harus menahan lapar. Pun dengan Rafa hanya puas minum air gula. Uang yang digunakan untuk membeli beras harus rela dipergunakan untuk membeli obat ibu.
"Ayah, kita jadi gak beli baju?" tanya Rafa tiba-tiba mengagetkan lamunanku.
"Em … ini sudah malam, Nak. Tokonya mungkin sudah tutup. Besok saja gimana?"
"Tapi besok lebaran, Yah. Rafa gak punya baju baru kayak teman-teman yang lain."
Aku terdiam. Ya Tuhan! Ayah seperti apa aku ini yang tidak bisa mengabulkan permintaan anaknya. Rafa tak pernah meminta baju yang mewah. Asal ada untuk dipakai di hari lebaran itu pun jadi. Namun, untuk mengabulkannya aku belum bisa. Sakitnya tuh di sini.
"Sabar ya, Nak. Nanti kalau ada toko yang buka kita pasti beli," ujarku menghiburnya. Barangkali Rafa mau mengerti. Jika tidak ada baju lebaran esok hari.
"Iya, Yah."
Mobil kembali meluncur. Semakin jauh meninggalkan tempat penampungan barang bekas. Naina terlihat tersenyum memperhatikan Rafa. Entah apa yang ada di dalam benak perempuan cantik itu. Sejak dari tadi mencuri pandang memperhatikan Rafa.
***
Bersambung.
Mobil berhenti tepat di sebuah toko pakaian. Naina memintaku untuk turun. Masih ada toko penjual baju yang masih buka pada malam takbiran. Padahal, waktu saat itu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Namun, keramain seakan tidak membuat para pengeruk rezeki ingin tidur.
Mereka tetap menjajakan baju hingga malam. Beruntung masih ada toko baju yang buka, hingga aku bisa membelikan ibu baju baru. Ya, impian yang selama ini telah tertunda. Melihat ibu memakai gamis baru terlihat cantik.
Bertahun-tahun memimpikan ibu memakai baju baru di hari raya idul fitri. Kemudian, kami akan datang bersilaturahmi ke rumah tetangga. Seperti tradisi yang sudah dijalankan selama ini. Saling maaf, memaafkan di hari idul fitri. Di mana manusia akan kembali suci. Bagai bayi yang baru lahir, lalu dihapuskan dosa-dosanya.
"Kang Danu, ayo turun! Kita belikan baju buat Emak," ucap Naina tersenyum lebar.
"Naina, ini toko baju yang sangat besar. Pasti harganya sangat mahal. Maaf, aku takut duitnya gak cukup buat beli baju Ibu," ujarku berkata jujur.
Baju satu set gamis biasanya akan mencapai harga dua ratus ribu. Sedangkan uang yang kupegang hanya tiga ratus ribu. Tadi bang mandor hanya membNainan uang tip saja. Katanya, gajiku sudah habis untuk dipotong hutang.
Memang selama ini, aku harus gali lubang tutup lubang untuk menutupi kebutuhan. Jika bang mandor membNainan uang tip itu pun sebagai hadiah THR untuk karyawan. Ia juga memberikan dua minuman botol soda. Setiap tahun, perusahaan tempatku bekerja tidak pernah memberikan bonus besar kepada para karyawannya. Meski kami telah bekerja keras. Ya, begitulah masih para pegawai buruh kasar. Kerja keras, tetapi hanya dibayar ala kadarnya saja.
Beruntung bang mandor tempatku bekerja sangat baik. Dia mengizinkan Rafa untuk ikut bekerja. Para pekerja lain tidak diperbolehkan. Hanya aku yang diperlakukan khusus. Walau begitu, teman-teman buruh lainnya tak pernah mengejek ataupun merendahkan. Mereka malah memberi semangat dan dukungan. Bahkan, ada yang ikut menjaga Rafa bila kami harus bergantian bekerja.
"Gak apa-apa, Kang. Biar Eneng saja yang traktir. Uangnya disimpan saja buat beli kebutuhan lainnya. Kebetulan Neng tadi dapat rezeki dari kantor. Wajar, kalau Neng juga ikut berbagi rezeki dengan keluarga Akang."
"Duh, aku jadi gak enak, Neng. Terus merepotkanmu. Aku jadi malu," ucapku menunduk. Tidak berani menatap wajah wanita cantik yang berdiri di hadapanku.
"Insya Allah, Eneng ikhlas. Akang gak perlu balas budi. Anggap saja ini kebaikkan karena Kang Danu sudah berbuat baik dengan menjaga Rafa."
"Masya Allah, mulia banget hati kamu, Neng Naina. Aku malu sama kamu."
Naina hanya tersenyum membalas kalimatku. Dia menggandeng tangan Rafa dan membawanya masuk ke dalam. Kami bak pasangan keluarga yang kecil yang bahagia. Naina cantik mempunyai kulit yang halus dan putih. Sedangkan aku … hanya seorang duda punya anak satu.
Kehidupanku pun tak pernah beruntung. Ditinggal istri karena aku miskin. Jujur, saat itu hatiku sakit karena melihat Hanum memilih pria lain yang lebih kaya raya. Dia pergi meninggalkanku dan juga Rafa yang masih membutuhkan kasih sayangnya.
"Kang Danu, ini gamisnya cocok buat Emak. Bentuknya juga simpel dan mempunyai warna coklat tua. Pas buat orang tua kalau menurutku," ucap Naina sembari menunjukkan gamis bermotif batik. Warna coklat tua serasi untuk seumuran ibu.
"Tapi harganya sangat mahal, Neng. Aku gak sanggup untuk membelinya."
Naina tersenyum, lalu berkata, "Kan saya sudah bilang. Saya yang akan membayar gamisnya, Kang."
"Tapi ini mahal, Neng. Aku gak sanggup untuk bayarnya nanti. Neng Naina sudah banyak membantu. Saya gak enak hutang terus sama Neng Naina."
"Saya gak minta balikin kok, Kang. Niat saya tulus ngasih ini ke Emak. Pasti Emak terlihat cantik bila memakai gamis batik ini," kata Naina tersenyum.
Kemudian, dia meminta pada pelayan toko untuk mengemasnya dalam kantong plastik.
"Ayah, Rafa boleh, ya beli baju Koko? Besok Rafa juga pengen ikut salat idul fitri bareng Ayah," Rafa berkata sambil menunjuk baju Koko warna putih.
"Iya, boleh, Nak. Ayah akan membelikan baju untuk Rafa."
"Hore!" Rafa akhirnya punya baju baru. Asyik! Makasih, ya, Yah?" Rafa langsung memelukku. Begitu aku mengiyakan untuk membeli sepasang baju koko.
Memang, sudah bertahun-tahun aku tak pernah membelikan baju untuk Rafa. Pakaian yang dikenakan dia semua diberikan oleh Wiji. Dia memberikan baju bekas kakaknya yang masih layak pakai. Kebetulan usia keponakan—Wiji sebaya dengan Rafa.
"Berapa harga bajunya, Nyonya?" tanyaku pada yang punya toko.
"Ini kualitas Bandung punya. Harganya satu set seratus lima puluh ribu."
Astaga!
Aku sedikit melotot ke arah penjual. Uang di saku celana hanya tiga ratus ribu untuk makan selama satu Minggu. Jika harus membelikan baju Rafa dengan harga segitu, sudah dipastikan akan berkurang.
"Ayah, jadi gak beli bajunya?" tanya Rafa dengan wajah sendu. Raut mukanya sedikit kecewa. Dia takut aku tidak jadi membelikan baju koko itu.
Untuk sesaat aku menarik napas. Memikirkan harga baju yang akan dibeli. Mungkin untuk orang lain harga itu tidak terlalu mahal. Namun untukku harga segitu terlalu tinggi. Ditambah lagi kebutuhan yang lain masih belum terpenuhi.
"Iya, jadi, Nak," jawabku mengeluarkan uang dari saku celana.
Namun dengan cepat Naina menahan. Lagi-lagi dia membayar baju yang hendak dibeli. Sungguh, aku merasa malu. Untuk kesekian kalinya dia membantu. Membuatku tak enak hati untuk menerima kebaikan dari gadis itu.
"Biar Neng aja yang bayar baju Rafa, Kang."
"Tapi, Neng."
"Udah gak usah nolak. Anggap aja sedekah."
"Aku gak enak bila Neng Naina terus membayar semuanya."
"Neng, kan sudah bilang sama Akang. Neng lakukan ini karena ikhlas gak ada maksud lain."
"Aku tahu Neng ikhlas. Tapi aku malu bila Neng terus membantu."
"Manusia memang harus saling bantu, Kang."
Akhirnya, aku harus mengalah pada Naina. Kubiarkan dia membayar semua baju itu dengan uang pribadinya. Termasuk kemeja untuk persiapan lebaran besok.
Gema takbir masih berkumandang sepanjang malam. Mobil melesat meninggalkan toko pakaian menuju pulang. Jarak yang ditempuh untuk menuju ke rumah tidak terlalu jauh. Hanya berdurasi tiga puluh menit.
Saat kami tiba di rumah, aku melihat halaman dipenuhi para warga. Ada bendera merah tertancap di depan gang. Perasaan ketika menjadi tidak enak. Jantung pun berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya.
Beberapa pasang mata memandangku kala melewati barisan para pria yang berkumpul memakai peci. Beberapa wanita di dalamnya sedang membacakan Yasin dan doa. Sepertinya ada orang yang meninggal. Namun siapa? Dalam hati pun bertanya-tanya.
"Ayah, siapa yang meninggal? Kenapa di rumah kita ramai orang baca doa?" tanya Rafa menggenggam tanganku. Jantungku seketika berdetak dengan kencang. Mungkinkah ….
Perasaan bercampur aduk menjadi satu. Semua hening tak bersuara. Tak ada satu pun yang berbicara mengatakan siapa kiranya tubuh yang sudah membeku itu.
"Ayah tidak tahu, Nak."
"Kang Danu, mungkinkah ibumu …." Kalimat Naina menggantung di udara.
Aku membisu. Tiba-tiba langkah kaki menjadi berat seperti ada batu yang menimpa.
"Assalamualaikum," ucapku masuk ke dalam.
"Waalaikumsalam."
Wiji tiba-tiba menghampiriku, dia menatap Naina yang masih memegang lenganku. Membuat perasaanku menjadi semakin tidak enak.
"Mas Danu, Ibu sudah meninggal."
"Apa?"
***
Bersambung.