Di era sekarang, ijazah SMA tidak menjamin mendapatkan pekerjaan dengan mudah. Aera Jung Jun bercita-cita bisa kuliah di universitas ternama di Kota Seoul, hanya sekadar angan-angan belaka. Meskipun Aera mendapatkan beasiswa, tapi dia harus banting tulang untuk menunjang kebutuhan sehari-hari. Ibunya--Nyonya Seo Jung Jun--memiliki fisik yang mudah sakit sehingga Aera mengantikan posisinya. Pascaoperasi satu tahun yang lalu, Nyonya Seo sering jatuh sakit."Ibu, minumlah dulu obatnya. Setelah itu, Ibu beristirahat," kata Aera yang duduk di samping tempat tidur."Letakkan di nakas. Ibu akan meminumnya nanti." Nyonya Seo menatap sendu putrinya yang kini telah tumbuh dewasa."Ibu, apakah tidak apa-apa jika aku pergi ke kampus? Hari ini, aku akan mengajukan skripsi. Semoga disetujui oleh Dosen," "Pergilah. Ibu akan baik-baik saja." "Ibu yakin?""Sangat yakin, Nak."Aera menyiapkan kebutuhan Nyonya Seo sebelum dia pergi. Dia yang berhasil kuliah meski bukan di universitas impiannya, bukan masalah baginya. Yang terpenting, dia kuliah di mana pun, asalkan biayanya tidak terlalu mahal. Dia harus berjuang untuk pengajuan skripsinya yang beberapa kali direvisi. Meskipun lelah, tidak jadi masalah. Baginya, setelah selesai kuliah, ia akan mencari pekerjaan dan menghasilkan uang.Setelah pertemuannya dengan Dosen, Aera meninggalkan kampus dengan perasaan yang jauh lebih tenang dari biasanya. Langkahnya ringan ke arah restoran cepat saji, tempat yang menjadi tujuannya setelah pulang dari kampus. Bekerja paruh waktu membuat seorang Aera mesti pintar membagi waktu, baik dalam pekerjaan maupun perkuliahan."Aera, bagaimana kabar ibumu? Aku dengar, ibumu kembali sakit. Apa sudah kamu bawa ke rumah sakit?"Aera mengangguk tanpa menjawab pertanyaan Ga Eun."Aera, jika kau tidak bisa bekerja dengan baik, sebaiknya kau pulang. Cepatlah rawat ibumu. Kau bisa kembali bekerja kapan pun." Ga Eun menarik pergelangan tangan Aera yang sibuk dengan pakaiannya."Ibuku baik-baik saja. Aku sudah mengantarnya ke Dokter. Kau tidak perlu khawatir, aku bisa bekerja dengan baik." Aera menutup lokernya dan melangkah. Tidak lama kemudian, dia berhenti dan berbalik ke arah Ga Eun."Terima kasih, kau perhatian pada ibuku. Sudah waktunya bekerja. Jangan sampai Manajer melihat kita." Aera kembali melangkah meninggalkan ruang ganti."Aera, kau pergilah ke sana. Ada berapa pengunjung yang membutuhkan pelayanan." Manajer Han menunjuk salah satu meja yang menunggu kedatangan Aera.Pekerjaan yang dilakukan membuat Aera tidak memikirkan dirinya walau dia memiliki tubuh yang proporsional. tingginya 170 sentimeter dan beratnya 45 kilogram. Dia pun memiliki wajah cantik alami, kulit yang putih, dan rambut yang berwarna kecokelatan. Semua itu membuatnya dia semakin cantik."Aera, kau akan pulang?" Ga Eun membuka loker, hendak mengganti pakaian sebelum meninggalkan restoran."Apa kau akan pulang bersamaku?" Aera meraih tasnya."Bisakah kau menungguku selama lima menit?" Ga Eun menarik kursi, mendudukkan Aera. "Aku tidak akan lama. Tidak apa-apa, kan?""Ya. Aku akan menunggumu. Cepatlah!"Ga Eun melirik ke arah Aera yang terus memeriksa jam tangan. Mata Ga Eun menyorotkan iba. "Aku selesai. Ayo, kita pulang."Aera beranjak dari kursi diikuti oleh Ga Eun.Ga Eun tahu kegelisahan Aera yang sibuk merisaukan kondisi sang ibu yang tengah tergeletak di rumah. Walau kondisinya jauh lebih baik, tetapi Aera tidak bisa membiarkan sang ibu sendiri di rumah tanpa ada yang memperhatikan makanan dan obatnya."Aera, ini untuk Bibi. Salam dariku. Maaf, aku tidak bisa menjenguk Bibi karena ada hal yang harus aku kerjakan."Aera mengerutkan keningnya saat Ga Eun menyerahkan paper bag berukuran sedang padanya."Ga Eun, apa ini?" "Ini untuk Bibi. Aku membelinya saat berangkat kerja. Terimalah … ini untuk Bibi," ucap Ga Eun."Ga Eun, untuk apa kamu memberikan ini untuk Ibu?" Aera menolak pemberian Ga Eun."Ini untuk Bibi. Jadi, kamu tidak perlu menolaknya karena aku memberikan ini untuk Bibi." Ga Eun menyodorkan paper bag pada Aera."Kamu tidak perlu melakukan ini. Pikirkanlah kondisi keluargamu. Ibuku akan baik-baik saja." "Aera, aku memberikan ini untuk Bibi, bukan untukmu. Jadi, terimalah dan berikan pada Bibi, kemudian sampaikan salamku kepadanya. Lusa, aku akan berkunjung." Ga Eun meninggalkan Aera yang terdiam di tempat.Ga Eun adalah sahabat yang baik untuk Aera. Ga Eun kerap memberikan makanan kesukaan ibunya."Ga Eun, terima kasih. Pasti aku sampaikan salam mu kepada Ibu." Aera kembali melanjutkan langkah. Dirinya ingin segera sampai di rumah dan bertemu dengan sang ibu. Langkah Aera semakin cepat, mengingat badai bakal datang malam ini. Dia ke supermarket untuk membeli beberapa kebutuhan. Mengingat kondisi yang tidak bersahabat, dia memilih menyiapkan semuanya untuk sang ibu dan dirinya. Setelah memilih beberapa makanan ringan, daging, dan sayuran, dia ke Kasir. Dia mengangsurkan sejumlah lembar uang sebagai alat pembayaran."Terima kasih, Nona," Dia mengangguk dan keluar dari supermarket. Aera berlari kecil agar segera tiba di rumah. Langkahnya terhenti saat seorang anak laki-laki berusaha menyeberang jalan tanpa menengok. Dari arah samping, sebuah mobil hitam melaju dengan kecepatan penuh ke arah anak itu. Aera melempar kantong belanjaan, lalu berlari menyelamatkannya."Aaargh ...." "Bruk!Ciiit!" Terdengar suara ban yang menggesek jalan aspal bersamaan dengan suara teriakan sang anak yang terjatuh berguling-guling di aspal. "Hei! Apakah kau ingin mati?! Lihatlah! Bahkan, kau tidak bisa menjaga putramu. Apa yang kamu lakukan sampai kamu tidak mengawasi putramu? Kau benar-benar orang tua yang bodoh. Membiarkan seorang anak di jalanan tanpa pengawasan."
Seorang sopir berteriak pada Aera yang memeluk si anak. Dua pria dan satu wanita berlari menuju Aera yang masih memeluk anak itu. "Tuan Muda, Anda tidak apa-apa?" Dua pria tersebut merebut anak di dalam pelukan Aera. "Nona, terima kasih." Salah satu pria, berjas hitam, mendorong tubuh Aera sedikit kasar. "Pergi! Bibi ini sudah menolongku. Kenapa kalian kasar? Akan aku katakan pada Ayah untuk memecat kalian!"
"Tuan Muda, tolong jangan seperti itu. Maafkan kami, Tuan Muda. Kami benar-benar tidak tahu kalau nona ini yang sudah membantu tuan muda."
Kedua pria berlutut, sedangkan Aera tersenyum melihat tingkah anak kecil yang ditolongnya.
"Katakan itu pada Bibi!" Lagi-lagi Aera dibuat kagum dengan tingkah anak kecil di depannya.
"Nona, maafkan kami. Dan, kami ucapkan terima kasih karena Nona menolong tuan muda kami." Aera tersenyum dan menyejajarkan posisi tubuhnya dengan anak di depannya.
"Tuan Muda, lain kali, jika ingin menyeberang, mohon beri tahu para pengawal supaya tidak terjadi apa pun kepada Tuan Muda. Mereka pasti akan mengikuti semua yang Tuan Muda katakan. Sebaiknya, tolong kembali ke rumah. Badai turun sebentar lagi. Itu berbahaya buat tubuh tuan muda." Aera, mengusap kepala anak di depannya.
"Baik, Bibi. Tapi, bolehkah Bibi mencium ku?" Area mendekat, lantas mengecup kening sang tuan muda. Kemudian, dia beranjak pergi.
"Brakkk!"
"Arghhh!"
"Aaarrggghhh!" Aera terkejut saat tubuhnya terjatuh ke aspal."Bibi tidak apa-apa?" "Tidak, Tuan Muda. Bibi baik-baik saja," sahut Aera melambai pada anak yang ditolongnya dan berlari mengambil kantong belanjaan. Namun, saat melihat jam di pergelangan tangan, Aera terkejut, lalu berkata, "Tuan Muda, maaf, ya! Bibi harus pergi dulu."Melihat itu, si bocah laki-laki mengangguk. Dia menatap Aera yang semakin menjauh."Seung, apa yang kamu lakukan? Bagaimana jika mobil itu menabrak mu?" tanya Myung Dae Hyun yang tiba-tiba datang dan mengangkat tubuh putranya. Pria itu membawanya ke dalam mobil."Bibi sudah menolongku," kata Seung dingin, membuat Myung menghela napasnya. "Ayah, kenapa tidak berterima kasih pada bibi itu? Dia yang menolongku tadi" Seung memilih duduk di samping Myung."Apakah wanita tadi yang menolongmu?"Seung terdiam memejamkan matanya tanpa memedulikan perkataan sang ayah."Ayah berbicara denganmu, Seung!" Myung meninggikan suaranya saat tidak mendapatkan jawaban dari putra tunggalnya."Ayah, aku masih mendengar. Kenapa salahkan aku yang ingin menyeberang? Bukankah Ayah bersama dengan tunangan Ayah?" Seung kembali memejamkan mata. Namun, kali ini, telinganya ditutup dengan earphone.Myung menyandarkan tubuhnya, kemudian berbicara dengan putranya, pembicaraan yang biasanya tidak akan pernah berakhir dengan perdamaian!Aera mengatur napasnya saat berada di depan rumah sederhana milik ibunya."Aku pulang. Ibu, apa semua baik-baik saja?" Aera menyalakan penghangat ruangan. Badai salju yang mulai datang membuatnya kedinginan."Ibu baik-baik saja. Kamu baru pulang?" Nyonya Seo bersuara menyambut putrinya yang pulang ke rumah."Ibu, Ga Eun menitipkan ini untuk Ibu."Melihat paper bag itu, Nyonya Seo menggelengkan kepalanya. "Anak itu! Berapa kali Ibu katakan untuk tidak mengantarkan apa pun untuk kita. Kasihan—""Ibu, Ga Eun akan berkunjung ke rumah kita besok." Aera memotong kalimat ibunya."Aera, makanlah! Ibu sudah masak makanan kesukaanmu. Cepat ganti bajumu dengan yang lebih hangat. Ibu melihat berita jika malam ini akan ada badai besar. Besok, Ibu akan bicara dengan Ga Eun." Nyonya Seo merasa iba pada Aera , terlebih jika mengenang masa lalunya yang secara tidak langsung menjerumuskan putri semata wayangnya itu yang berakibat sang putri menderita.Aera melepas bajunya dan menggantinya dengan yang lebih hangat. Bayangan anak laki-laki yang ditolongnya menari-nari di kepalanya kini.'Dia sangat tampan. Apakah putraku seusia dengannya?'Aera kembali mengingat masa lalunya. Dia harus memberikan rahimnya untuk mengandung anak milik seorang tuan muda karena ayahnya yang dipanggil Tuan Besar telah membiayai biaya operasi ibunya."Aera, apakah kamu masih lama? Ibu sangat lapar." Suara Nyonya Seo menyadarkan Aera dari lamunan."Ya, Ibu! Aku segera turun."Aera mengubah raut wajahnya, lalu berlari ke ruang makan di mana Nyonya Seo telah menunggunya."Makanlah yang banyak! Setelah itu, istirahatlah! Cuaca sangat tidak bagus jika kamu terlalu malam berada di luar," ingat Nyonya Seo. Dia ingin putrinya segera istirahat karena dia tahu kalau putrinya hampir selalu menghabiskan waktu di balkon ketika malam sangat larut."Aku mengerti Ibu." Aera menghabiskan makan malam. Setelah mengantar Nyonya Seo ke kamarnya dan menyiapkan obat yang harus diminum, Aera berbenah."Istirahat, Sayang. Ibu akan meminumnya." Nyonya Seo meminum obat di depan Aera yang kembali muncul.Senyum menghiasi wajah cantik alami Aera.Tak lama, Nyonya Seo memejamkan matanya. Dia mendengkur halus. Aera pun ke kamarnya yang berada di lantai atas.Cuaca pagi begitu dingin. Namun, itu tidak membuat Aera berdiam diri di rumah. Setelah menyiapkan obat untuk Nyonya Seo, Aera memutuskan tetap bekerja."Aera. Kamu sudah datang?""Ga Eun, ada apa?""Bagaimana kabar Bibi?" Ga Eun menolah ke arah Aera yang tengah melepas baju hangatnya."Ibu ingin bertemu denganmu. Apa hari ini ada waktu? Bukankah kamu berjanji akan mengunjungi Ibu hari ini?" Aera menyiapkan alat untuk membersihkan kaca yang terhalang kabut."Ya, aku akan berkunjung selesai bekerja nanti."Aera hanya menganggukkan kepalanya mendengar perkataan Ga Eun, lalu kembali bekerja."Aera, antarkan pesanan ke meja nomor lima!"Tanpa menunggu lama, Aera membawa pesanan ke meja yang sudah ditentukan sesuai pesanan. Saat akan kembali, Aera bertabrakan dengan seorang anak laki-laki yang sangat tampan dan menggemaskan. Dia berjongkok menyejajarkan posisi dengan anak itu. Dia, anak yang kemarin dia temui!"Bisakah kau jangan berlari? Tempat ini tidak baik untuk berlari. Bagaimana jika kau tersandung kaki meja atau kursi? Kalau terjatuh, itu sangat sakit, Sayang." Suara Aera seperti hipnotis. Anak itu langsung menganggukkan kepalanya. Tanpa mereka sadari, ini adalah kali kedua mereka bertemu."Aku minta maaf. Aku kelaparan. Itu sebabnya, aku berlari dari toilet. Bibi, maafkan aku." Anak laki-laki yang di hadapan Aera menarik kedua telinganya."Baiklah. Lain kali, jangan diulangi … oke?!" Aera mengusap kepala anak di depannya, entah mengapa perasaannya begitu dekat dengan anak itu. "Seung, kau di sini rupanya! Cepatlah kita makan. Setelah ini, kita akan menemui ayahmu." Seorang gadis cantik bertubuh langsing dengan rambut berwarna kemerahan menghampiri anak itu.Aera memperhatikan barang yang menempel di tubuhnya adalah limited edition sehingga Aera berpikir jika wanita itu merupakan ibunya. Oleh sebab itu, Aera bergegas meninggalkan Seung."Bibi, aku pergi dulu. Sampai ketemu lagi." Suara anak kecil yang tidak lain adalah Seung menghentikan langkahnya dan menoleh ke arahnya.Aera tersenyum dan menganggukkan kepala. A Young merasa heran. Selama satu tahun berusaha mendekati Seung, dia selalu gagal melakukannya. Bahkan, dia tidak mau disentuh oleh A Young sampai dengan saat ini. Namun, dia justru menyaksikan bagaimana mudahnya Seung bersikap manja pada gadis asing.'Seung nama yang memiliki artian penerus.'A Young duduk di depan Seung dan masih memikirkan kejadian tadi. Melihat anak itu makan dengan sangat anggun disertai sikap dinginnya, menurun dari ayahnya, membuat A Young kesulitan mendapatkan dua hati penerus dari kekayaan keluarga Hyun."Bibi, aku sudah kenyang." Tanpa menoleh pada A Young, Seung bergegas pergi ke parkiran sehingga membuat A Young menghentakkan kakinya. "Kalian benar-benar seperti kutub es. Sangat susah didekati. Huuuff .... Jika ayahmu tidak kaya, aku malas mendekatimu. Myung, kau sangat menyebalkan! Kenapa kau menyuruhku mendekati putramu?" gerutu A Young yang bergegas mengejar Seung yang sudah duduk manis di dalam mobil mewahnya."Bibi, sepertinya aku mengenali bibi yang bekerja di restoran tadi."A Young tidak menanggapi perkataan Seung. Dirinya meminta sopir mempercepat laju kendaraan, tidak peduli jika jalanan sangat licin. Dia ingin buru-buru bertemu dengan Myung dan menghindari Seung.Di dapur, Aera memikirkan anak laki-laki yang entah kenapa dia merasa begitu dekat dengannya.'Anak yang manis. Ahhh, siapa namanya tadi? Kalau tidak salah, Seung. Nama yang indah. Orang tuanya pasti beruntung memiliki anak seperti dia.'"Aera, kau sudah selesai? Jika sudah, mari kita pulang." Jean tiba-tiba datang."Sudah. Ayo!" "Jean, apa kau yakin ingin bekerja di cafe itu? Apa kau tidak takut andai tempat itu tidak cocok untukmu?" "Aku membutuhkan banyak uang. Pengobatan ayahku tidaklah sedikit. Ke mana lagi aku mencarinya? Gaji di restoran hanya cukup memenuhi kebutuhan sehari-hari."Aera menatap sahabatnya. Hidup Jean tidak jauh berbeda dengan hidupnya, tidak seperti Ga Eun yang memiliki kehidupan yang jauh lebih baik dibandingkan dengan mereka."Baik, semua keputusan ada padamu. Aku minta tetaplah berhati-hati. Kau tahu sendiri tempat itu seperti apa.""Terima kasih, Aera. Entah kebaikan apa yang pernah aku buat di kehidupan yang dulu sehingga aku memiliki teman sebaik dirimu.""Kapan kau memulai bekerja di sana, Jean?""Hari ini, Aera. Di persimpangan depan, kita sepertinya berpisah.""Oke, hati-hati," nasehat Aera."Kau yang seharusnya berhati-hati, Aera!" seru Jean sebelum melepas pelukannya.
Aera usai mengerjakan tugasnya. Saatnya dia pulang ke rumah. Keduanya adalah bagian dari rutinitas Aera. Dia berlari kecil menerobos salju. Sesampainya Aera di rumah, terlibat Nyonya Seo yang tengah memasak di dapur. Sesekali, dia memegangi dadanya."Ibu sedang apa? Kenapa Ibu bangun? Ayo, Ibu harus beristirahat. Jangan memaksakan diri. Ibu masih sakit," ucap Aera membantu Nyonya Seo untuk kembali ke kamarnya."Aera, Ibu tidak apa-apa. Kamu jangan bersikap berlebihan seperti ini," tolak Nyonya Seo."Tapi, Ibu--" "Kamu mandi, lalu makan. Ibu memasak makanan kesukaanmu," kata Nyonya Seo.Dengan berat hati, Aera mengikuti kata Nyonya Seo. Ibunya yang keras kepala membuatnya memilih ke kamarnya dan berganti pakaian dengan pakaian sehari-hari."Aera, cepatlah! Jika dingin, rasanya tidak akan enak lagi!" seru Nyonya Seo sambil berusaha menyembunyikan rasa sesak di dadanya yang tiba-tiba terasa semakin menjadi."Baiklah, Ibu. Aku akan turun," sahut Aera dari dalam kamar.Tidak membutuhkan waktu lama, Aera sudah kembali ke ruang makan. Melihat ibunya menyiapkan makan malam untuknya, membuat dia bahagia sekaligus sedih. Bagaimana tidak, kondisi ibunya semakin hari semakin lemah meskipun sudah dioperasi. Namun, tubuh sang ibu yang kembali melemah itu yang membuatnya sedih. "Aera. Ibu mau bicara sesuatu padamu,"" Katakan, Ibu. Ada apa?""Apa kamu baik-baik saja?"Aera mengerutkan dahinya. Pertanyaan Nyonya Seo membuatnya berpikir keras, apa maksud pertanyaan ibunya. "Kenapa Ibu bertanya begitu? Aku baik-baik saja. Ibu tidak perlu memikirkan apa pun. Saat ini, yang Ibu pikirkan adalah kesehatan Ibu. Jangan banyak berpikir yang tidak-tidak," sahut Aera seraya mengantar Nyonya Seo ke kamar, kemudian memberikan obat yang biasa diminumnya."Ibu, tidurlah, Aera akan menjaga Ibu di sini," kata Aera. Tidak ingin meninggalkan wanita yang telah melahirkannya, dia memilih menemani Nyonya Seo di dalam kamar. Akhirnya, mereka tertidur saling berpelukan.Aera terbangun. Dia mendapati sang ibu tidak ada di sampingnya. Bergegas dia mencari sang ibu. Ternyata, ibunya ke kamarnya, Aera menyiapkan sarapan untuk sang ibu. Melihat kondisi ibunya yang menurun dan susah makan, Aera memutuskan untuk membuat bubur, lantas mengantarkannya ke kamar di mana Nyonya Seo berbaring."Ibu, bangunlah! Waktunya sarapan." Aera memperhatikan sang ibu yang tertidur lelap, tidak seperti biasanya.Kali ini, sang ibu tidak langsung bangun, membuat Aera khawatir. Dia pun menggoyang tubuh ibunya, tapi tak kunjung terbangun. Kecemasan semakin melanda. "Ibu, bangun!" Lagi-lagi dia menggoyang-goyangkan badan sang ibu. Saat tak sengaja menyentuh tangan sang ibu yang telah dingin, dia pun berteriak histeris."Ibu, bangun! Ibu, bangunlah! Hiks … hiks. …. Ibuuu .... Kenapa Ibu tega meninggalkan Aera sendiri?"Mendengar teriakan Aera, para tetangga berdatangan.Aera, biarkan ibumu pergi dengan tenang. Jangan menangis, Aera," kata salah satu tetangga.Beberapa orang mengurus jenazah Nyonya Seo. Hari itu juga, Nyonya Seo dimakamkan. Aera melihat jenazah sang ibu untuk terakhir kali dengan air mata mengalir. Perlahan peti jenazah dimasukkan ke dalam tanah. Usai pemakaman, para pelayat pergi satu demi satu. Tinggal Aera sendiri. Air matanya tiada henti mengalir. Langit yang seakan mengerti kesedihan Aera, ikut menumpahkan airnya. Aera memeluk makam sang ibu. Setelah puas menangis, dia bangun, kemudian beranjak dari gundukan tanah. Dia memilih untuk kembali ke rumah. Tidak membutuhkan waktu lama Aera telah sampai di rumah, Aera memasuki kamar sang ibu. Dia membaringkan tubuhnya di sana. Tubuh dan hatinya terasa hangat. Tidak berapa lama, ia tertidur dengan lelapnya.Ketukan suara pintu membangunkan Aera dari tidurnya.Tok … tok … tok.""Aera, maafkan aku." Jean memeluk tubuh Aera.Mata sembap Aera yang terlihat jelas membuat Jean dan Ga Eun merasakan kesedihan yang dirasakan oleh sahabat mereka."Jean …. Ga Eun …, aku sudah baikan. Duduklah.""Aera, maafkan aku. Aku baru bisa berkunjung. Kemarin, banyak pekerjaan dan kamu tahu sendiri kalau Pemilik Restoran tidak akan mengizinkan kita pulang lebih awal, apa pun alasannya. Dan, aku tidak bisa meminta izin pada Atasan di tempat kerjaku yang baru. Aera, maafkan aku." Jean menyesal karena tidak ada di samping sahabatnya saat sang sahabat mengalami kesedihan dan membutuhkan dirinya."Aku tahu, Jean. Terima kasih sudah mau datang.""Aera, aku membawa sarapan untukmu. Aku yakin kamu pasti belum makan." Ga Eun membuka tiga bungkus bubur untuk mereka makan bersama."Terima kasih, Ga Eun …. Jean …, tapi aku belum lapar. Kamu letakan saja di atas meja," pinta Aera.Penolakan Aera membuat kedua sahabatnya saling pandang."Tidak. Aku yang akan menyuapi mu. Sekarang, buka mulutmu."Aera terpaksa menuruti Jean. Bubur yang dibawa Ga Eun habis juga."Aera, aku pergi dulu. Sepulang kerja, aku akan mampir lagi.""Jean, katakan pada Pak Manajer jika aku tidak masuk hari ini." "Tentu, Aera. Jaga dirimu baik-baik.""Hmmm ...."Setelah kepergian Jean dan Ga Eun, Aera memasuki kamar sang ibu. Dilihatnya foto sang ibu yang seolah tersenyum padanya. Aera mengambil baju sang ibu dari lemari. Tanpa sengaja dia melihat ada kotak berwarna cokelat. Rasa penasaran Aera pada kotak itu membuatnya cepat membuka. Adapun isinya sebuah surat, buku tabungan, serta beberapa lembar uang. Aera membaca surat tulisan tangan sang ibu"Aera Sayang …, maafkan Ibu. Selama ini, Ibu sudah banyak membohongimu. Ibu juga sudah bersikap egois. Aera, setelah kamu membaca surat Ibu, Ibu mohon kamu maafkan semua kesalahan Ibu. Aera, sebenarnya anakmu masih hidup. Dia sangat tampan seperti ayahnya. Mata dan bibirnya sama sepertimu."Aera mengamati kalimat yang tiba-tiba menusuk hatinya, bagaikan belati yang tajam menghunus dada. 'Anakku masih hidup dan Ibu mengetahui semuanya?'Air mata Aera tidak terbendung lagi. Dia tak henti bertanya mengapa ibunya setega ini. Aera melanjutkan membaca surat ibunya."Aera sayang … Ibu tahu setelah membaca surat ini, kamu membenci Ibu. Tidak apa-apa, ini semua memang kesalahan ibu. Aera, pergilah ke kota. Carilah putramu. Dia tinggal bersama Tuan Muda Hyun, ayah kandungnya. Ada beberapa lembar uang pemberianmu yang Ibu simpan untuk kamu sebagai bekal mencari anakmu. Dan, ada sedikit tabungan pemberian Tuan Besar Hyun untukmu. Ibu tidak memakainya karena Ibu tahu hari ini akan terjadi. Aera Sayang, sekali lagi maafkan ibumu ini. Ibu sudah sangat jahat padamu. Dari ibumu, Seo Jung Jun."Usai membaca surat dari ibunya, Aera tak lagi menahan gejolak perasaannya. Kecewa dan bahagia kini telah bercampur. Bahagia kerena putranya masih hidup, tetapi kecewa karena ibunya membohonginya selama ini."Aaaaggghhh ..." Aera berteriak sekencang-kencangnya "Ibu kenapa setega ini padaku?! Aku berpikir jika anakku benar-benar meninggal. Ternyata, Ibu lakukan itu agar aku tidak mencegah Ibu memberikan bayiku pada Tuan Besar Hyun." Setelah puas menangis, Aera merapikan surat dan uang yang sudah Nyonya Seo persiapkan untuknya. Dia berniat pergi ke kota untuk mencari rumah Tuan Hyun.Usai Aera membersihkan tubuhnya, dia bergegas mengambil tas dan pergi ke restoran. Dia berniat mengundurkan diri."Aera kau ke sini. Ada apa? Bukankah kau cuti hari ini?" "Manajer Han, maaf … kedatangan saya ke mari untuk memberikan surat ini.""Surat pengunduran diri?""Kenapa kamu mau berhenti dari sini, Aera?""Maaf, Tuan. Saya hanya ingin mengundurkan diri hari ini juga.""Apa alasannya?""Tidak ada. Maaf, Tuan. Anda tidak bisa mencegah saya ke luar dari sini.""Baiklah, saya setujui pengunduran dirimu."Aera bernapas lega setelah pengunduran dirinya disetujui oleh Manajer Han."Putraku, tunggu Ibu," batin Aera sambil bersiap pergi dari sana.