Maya tampak tergopoh-gopoh masuk rumahnya. Rumah yang ditinggalkan selama tiga tahun itu sudah banyak berubah. Yang dulu berupa bangunan dari kayu bambu, kini sudah berupa tembok yang kokoh.
"Bapak, Ibu, ada apa ini kok ramai sekali?" teriaknya saat turun dari ojek online yang ia tumpangi. Membawa satu koper besar dan satu koper kecil yang diseretnya.
Tampak seorang perempuan menemuinya. Mengenakan kebaya dan kain panjang khas orang desa. "Syukurlah kamu sudah sampai. Adikmu sebentar lagi menikah," ujar ibu Maya, yang bernama Sumirah.
"Apa? Ibu kok tidak bilang kemarin. Tahu begitu kan aku bisa belikan kado yang istimewa," ujar Maya.
"Ibu juga lupa. Kamu datang itu sudah kado istimewa buat adikmu," ujar ibu lagi.
"Baiklah. Di mana kamarku?" tanya Maya .
"Itu di sebelah kiri, nomor dua dari depan," ujar Sumirah. Ia menunjuk sebuah kamar dengan tirai warna biru.
Maya segera menyeret kopernya ke sana. Penerbangan hampir empat jam dari Hongkong ke Indonesia cukup melelahkan. Belum lagi jalan darat delapan jam yang harus ia tempuh untuk sampai ke kampung halamannya.
"Aku akan mebersihkan diri, habis itu tidur," ucap Maya dalam hati.
Setelah meletakkan koper, Maya segera menuju kamar mandi yang terletak di dekat dapur. Beberapa tetangga yang ia lewati menyalami Maya. Biasa, di kampung begitu setiap orang yang baru datang harus menyalami orang yang ditemui. Anehnya, tidak hanya menanyakan kabar. Tapi mereka juga banyak yang menasehati Maya untuk bersabar.
"Baru pulang Mbak Maya? Yang sabar ya," ujar bude Sumi, kakak bapak Maya.
"Pasti bawa oleh-oleh banyak ya Mbak? Mbak mandi dulu habis itu makan, biar kuat menghadapi kenyataan," ucap bulik Sarmi, adik ibu.
"Bulik ini ada-ada saja. Bisa guyon kekinian. Kenapa tidak sekalian, agar silaturahmi tidak putus, boleh pinjam seratus," canda Maya.
"Akh Mbak Maya ini, pinter bercanda. Selalu ceria. Semoga apapun yang terjadi nanti Mbak Maya selalu ceria," tambah lik Yanah, tetangga ibu Maya.
"Sarah di mana sekarang?" tanya Maya mengenai adiknya.
"Kan lagi dirias, habis ini ijab qobul," jawab bulik Sarmi.
Setelah mandi, Maya kembali ke kamar dengan menggunakan handuk kimono. Ia segera berganti baju. Ia memilih baju warna peach untuk acara ijab qobul adiknya. Berdandan tipis agar terlihat lebih segar.
"Maya, ayo makan dulu. Kamu pasti belum sarapan." Bulik Sarmi membawakan sepiring nasi ke kamar Maya.
Kenapa bukan ibuku yang perhatian seperti ini kepadaku? batin Maya dalam hati.
"Terima kasih Bulik," ujar Maya. Namun bulik Sarmi sudah berlalu dan kembali ke dapur.
Setelah Maya makan, tampak rombongan pengantin pria sudah datang. Semua orang menyambut dengan suka cita. Demikian juga Maya. Meskipun ia tidak tahu calon suami adiknya tidak masalah. Meskipun ia dilangkahi adiknya yang menikah duluan, juga tidak masalah. Melihat Sarah bahagia itu sudah cukup.
Maya menuju kamar adiknya. Sejak datang ia belum menemui adiknya.
""Sarah, akhirnya kamu yang duluan dapat jodoh. Selamat ya Dik," ujar Maya.
Anehnya adiknya hanya menjawab dengan anggukan. Tidak sepatah katapun keluar dari mulutnya. Apalagi kata sambutan selamat datang. Padahal mereka sudah berpisah selama tiga tahun.
Sarah diiringi MUA keluar dari kamarnya menuju ke tempat pengantin pria yang sudah menunggu. Acara ijab ini akan dilangsungkan di sebuah masjid desa tidak jauh dari depan rumahnya. Hanya sedikit menyeberang jalan.
Sedangkan Maya sendiri baru menyusul beberapa saat kemudian. Sayang saat akan menyeberang jalan itu, Maya kurang hati-hati. Sebuah mobil mewah melintas. Maya hampir saja ditabrak mobil tersebut. Untung hanya bagian kakinya yang sedikit terluka jatuh terbentur aspal jalan.
Seorang pemuda turun dari kemudi. Mengenakan kacamata hitam. Dari penampilannya terlihat dia bukan warga desa tersebut. Mungkin pendatang yang kebetulan lewat.
"Hai kalau nyeberang hati-hati! Untung saja saya jalannya pelan," teriak pemuda tersebut dengan berkacak pinggang
"Hai Sombong. Ada orang jatuh malah dimarahi, tidak ditolong," sahut Maya balik.
"Namaku bukan Sombong, tapi Jonathan. Kamu jatuh karena kecerobohanmu sendiri, ya bangun sendiri dong," teriak pemuda tersebut tidak mau kalah.
"Awas ya kalau lewat sini lagi, aku bawakan golok!" ancam Maya.
Jonathan hanya menyeringai.
Maya segera bangkit dari jatuhnya. Ia merasakan sedikit memar pada lututnya yang terkena aspal. Ia kembali pulang, untuk berganti baju yang sedikit robek di bagian lututnya.
Melihat Maya tidak terluka serius, pemuda tersebut masuk ke mobil dan menjalankan kembali mobilnya. Warga yang menyaksikan kejadian itu juga kembali dengan aktivitas masing-masing. Sebagian menuju masjid untuk menyaksikan acara ijab qobul.
Sementara itu, saat Maya kembali pulang, acara ijab qobul pernikahan Sarah dan Agung sedang berlangsung di masjid.
"Baik, kita mulai ya acara ijab qobul pagi ini. Ananda Agung sudah siap?" tanya penghulu.
"Sangat siap!" terdengar suara pengantin pria, Agung.
Sarah berdampingan dengan Agung menghadap penghulu di depan meja. Di samping penghulu ada ayah Sutrisno dan ibu Sumirah di sisi lainnya.
"Baik ikuti kata-kata saya," ujar penghulu.
"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau Agung Firmansyah bin Sucipto dengan Sarah Febriyanti binti Sutrisno dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan uang Rp 10 juta rupiah dibayar tunai."
"Saya terima nikahnya Sarah Febriyanti binti Sutrisno dengan mas kawin tersebut dibayar tunai," ujar Agung.
"Bagaimana para saksi dan hadirin semua?" tanya penghulu.
"Saaaaaah!" ujar para hadirin yang menyaksikan acara ijab tersebut.
"Kurang ajar!" teriak Maya yang baru tiba di lokasi mengagetkan semuanya. Betapa kagetnya ia saat mengetahui pemuda yang menikahi adiknya adalah pacarnya sendiri.
Ia berjalan mendekati Agung. Mencengkeram kerah baju Agung dan menarik ke arahnya
Agung membiarkan saja ulah barbar mantan pacarnya tersebut. Sedangkan Sarah hanya terbengong kaget melihat aksi kakaknya tersebut.
Suasana menjadi gaduh. Para hadirin bergumam tidak jelas. Ada yang menyalahkan Maya, namun juga banyak yang mendukung.
"Jadi begini ya balasan usahaku sampai ke luar negeri untuk cinta kita?" teriaknya masih mencengkeram kerah baju Agung.
Bulik Sarmi yang duduk di belakang tergopoh-gopoh mendekati Maya. Dia peluk keponakannya tersebut dengan iba.
"Mbak Maya tenang Mbak. Ayo kita pulang," bulik Sarmi memeluk Maya.
Tangis Maya pecah. Semua orang memandangnya. Ada yang memandang iba, ada yang memandang mencibir karena telah merusak suasana khidmat ijab adiknya sendiri.
Maya mengikuti bulik Sarmi yang menggandengnya mengajak pulang. Dia dibawa ke kamar. "Sudah kukatakan, Maya harus bersabar," ucapnya.
"Kenapa tidak ada yang bilang dari awal. Biar aku lebih siap Bulik," ujar Maya masih menangis sesenggukan di atas kasur. Ia menutup wajahnya dengan bantal.
Tidak lama kemudian datang Sarah bersama Agung suaminya.
"Apa maksud Mbak membuat kekacauan di hari bahagiaku? Mbak tidak terima mas Agung jadi suamiku? Salah Mbak sendiri mengapa punya pacar ditinggal pergi jauh," ujar Sarah.
Kemarahan Maya semakin membuncah. "Cih begini balasanmu sebagai adik? Dasar adik durhaka!" teriak Maya.
***
"Cih begini balasanmu sebagai adik? Kau adik durhaka!" teriak Maya
Maya meludah tepat di hidung adiknya yang masih ber make up cantik tersebut.
Agung tidak terima istri yang baru dinikahi beberapa menit yang lalu diperlakukan seperti itu. "Biad*b kau Maya!" ujarnya. seraya mendorong Maya hingga jatuh. Untung jatuh ke kasur, sehingga tidak sakit.
Agung meraih kotak tisu di meja. Dibersihkan wajah Sarah dengan tisu tersebut. Seakan dengan sengaja memamerkan kemesraan di hadapan Maya .
"Kamu tidak apa -apa Sayang? Sebaiknya kita keluar saja," ujarnya pada Sarah.
"Mbak memang sudah kesetanan. Kita keluar saja biar nggak ketularan gila," kata Sarah pada suaminya.
Belum sempat mereka keluar Sumirah masuk. Ia mendengar keributan yang terjadi di kamar itu. "Ada apa Maya? Baru datang sudah bikin keributan dengan adik sendiri. Apa ngga malu dilihat tamu?" tanya ibu.
"Seharusnya dia yang malu Bu. Masak pacar mbaknya sendiri diembat. Adik macam apa itu?" balas Maya balik bertanya .
Ibunya hanya menggeleng. "Ini ceritanya tidak sesepele itu Maya. Adikmu sudah mengandung benih Agung. Jadi mereka harus menikah. Mengertilah," jelas ibu.
"Apa? Benar -benar tidak bermoral kalian semua. Pergi sana dari kamarku. Najis!" usir Maya yang kalap. Beberapa barang dilemparkan dengan asal.
Tidak mau terjadi apa-apa, ibu mengajak sepasang pengantin untuk pergi meninggalkan kamar Maya. "Sudah kita keluar dulu. Mungkin Maya butuh waktu untuk menenangkan diri dulu," ujar ibu berusaha mendinginkan suasana.
Sarah dan suaminya ikut mengekor saja. Sementara Maya menatap nanar ketiganya dan penuh amarah.
Tidak lama kemudian bulik Sarmi datang. Membawa air putih dan sepiring nasi. "Makanlah Maya, biar lebih tenang," ujar Bulik Sarmi
Maya menurut. Tapi ia hanya meminum air putih di gelas itu beberapa teguk saja. Nasi rawon di piring hanya dipandanginya sekilas. "Aku masih kenyang Bulik. Nanti saja makannya," kata Maya.
Ia termenung. Memandang luar jendela yang sudah cukup panas. Semilir angin hampir tidak berembus. Pepohonan juga tidak seberapa rindang di musim kemarau ini. Cuaca memang sepanas harinya.
"Bersabar ya Maya. Mungkin Tuhan sedang menyiapkan jodohmu yang lebih baik," nasehat Bulik Sarmi.
Maya menangis tergugu. "Kalau misalnya ibu atau siapapun mengabari sejak awal, mungkin tidak sesakit ini Bulik. Dan aku tidak akan pulang. Agar tidak menyaksikan semua drama ini. Kontrakku akan diperpanjang," ucap Maya dengan berlinang air mata.
"Semua pasti ada hikmahnya. Pokoknya kamu yang sabar saja, Nduk," ujar bulik Sarmi.
Maya hanya mengangguk. Kadang kata-kata tidak semudah penerapannya. "Setidaknya ada yang masih mau peduli di rumah ini padaku," batinnya.
Selepas para tamu pulang rencananya, Maya ingin menemui ayahnya. Ia ingin mengetahui lebih pasti mengapa hal ini terjadi. Kok sampai Sarah mengandung anak Agung, yang dulu pacar Maya.
Masing ingat saat Maya akan berangkat bekerja sebagai TKI di Hongkong. Agung adalah orang pertama yang mendukungnya. Tapi kini?
"Mas, aku berangkat untuk masa depan kita. Mas sendiri juga belum punya pekerjaan yang tetap. Aku juga tidak bekerja. Kalau aku jadi TKI kita bisa mengumpulkan uang untuk bikin rumah atau buat usaha," ujar Maya waktu itu. Tiga tahun yang lalu.
Agung juga sangat setuju. Bahkan dia juga ingin mendaftar sebagai TKI namun tidak boleh sama ibunya karena dia anak tunggal. Ayahnya sudah meninggal. Sehingga ibunya hanya sendirian.
"Tapi jangan lama-lama ya Sayang. Aku ingin kita segera menikah," ujar Agung waktu itu.
Lalu Agung sendiri melamar di beberapa perusahaan. Ia diterima sebagai karyawan di bagian produksi karena hanya berijazah SMA.
"Bulik keluar dulu ya Maya. Kamu sebaiknya beristirahat saja. Kamu pasti capek setelah perjalanan jauh," ucap bulik Sarmi mengagetkan Maya dari lamunannya
Maya hanya mengangguk. Merebahkan diri di kasur. Memandang langit-langit kamar yang sudah mulai rapuh. Beberapa bagian tampak menghitam. Mungkin bekas air hujan yang bocor. Mencoba memejamkan mata, namun beragam kejadian barusan yang dialaminya membuat matanya enggan untuk terpejam.
Ia akhirnya memilih keluar kamar. Ingin berbicara empat mata dengan ayahnya. Dari anggota keluarga intinya, hanya ayahnya yang belum diketahui sikapnya.
Maya menoleh sejenak ke beberapa arah Mencari di mana sosok ayahnya berada. Ternyata, sedang duduk sendiri di terop. Para tamu sudah pulang. Untuk acara resepsi masih nanti malam. Sehingga siang ini masih ada jeda untuk beristirahat.
"Ayah," ujar Maya seraya mencium tangan ayahnya.
"Kapan pulang?" tanya ayah Sutrisno.
"Barusan tadi pagi," ujar Maya.
"Kamu tidak usah mempermasalahkan pernikahan adikmu lagi ya," ujar Sutrisno.
"Kenapa Yah?" tanya Maya kaget.
"Itu sudah jodohnya," jawab ayah singkat. Sambil mengusap rokoknya dalam-dalam.
"Tapi kan aku yang sejak dulu pacaran dengan mas Agung, Ayah," protesku.
"Sudah jangan banyak protes kamu," tukas ayah.
Maya langsung menangis. Sosok yang diharapkan bisa berempati padanya ternyata zonk. Lalu kepada siapa ia akan mengadu. "Kenapa semua keluargaku sudah tidak peduli denganku? Mereka hanya mau uang yang aku kirim tiap bulan!" teriak Maya sambil menangis.
"Trus aku disuruh membatalkan pernikahan adikmu begitu?" bentak ayah.
"Bukan. Aku juga sudah tidak sudi menerima Agung sebagai pacarku. Aku hanya ingin tahu bagaimana ini terjadi. Mengapa? Mengapa Ayah?" sanggah Maya.
"Karena kamu bukan anakku!" tegas Sutrisno sambil berdiri.
"Apa?" tanya Maya tidak percaya.
"Lalu aku anak siapa? Bukankah dulu ayah yang memandikan aku? Menyuapi aku makan? Mengantarku ke sekolah. Mengajakku bermain di lapangan? Kalau bukan ayahku, lalu apa namanya?" tanya Maya sambil menangis lagi. Lebih keras dari sebelumnya.
Berkelebat di benaknya masa kecilnya yang indah. Saat dia masih satu-satunya anak di keluarga ini. Semua perhatian keluarga tertuju padanya. Ia ibarat porselin yang tidak semua orang boleh menyentuhnya. Semua orang menjaga dengan sangat hati hati agar dia tidak terjatuh. Masa-masa terindah dalam hidupnya.
Mendengar keributan ayah dan anak, ibunya datang. "Ada apa ini kok Maya masih menangis?" tanya Sumirah.
Ayahnya tidak bergeming. Masih menghisap asap rokoknya dalam-dalam. Lalu menghembuskan ke udara. "Maya anak siapa Bu? Kata ayah, Maya bukan anak ayah?" tanya Maya pada ibunya.
Sumirah sempat terdiam. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Karena ini memang faktanya. Memang dia yang mengandung Maya, tapi bukan dari benih Sutrisno. Tapi dengan laki-laki lain yang sudah mengkhianati dirinya.
"Suruh ibumu jawab!" bentak Sutrisno.
"Ibu tolong jawab pertanyaanku," pinta Maya sambil berlutut di kaki ibunya.
"Kamu anak Ibu Nak," jawab Sumirah dengan bibir bergetar.
"Namun dengan laki-laki lain," sahut Sutrisno sambil meradang.
"Betulkah itu Bu?" tanya Maya.
Sumirah hanya mengangguk. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya.
"Kau sudah tahu kan Maya kalau aku bukan ayahmu? Jadi mulai saat ini kamu tidak usah panggil ayah lagi," kata Sutrisno yang membuat Maya semakin lunglai.
"Lalu aku harus memanggil siapa?" ujarnya.
"Terserah! Dan ingat melihatmu mengingatkan aku pada orang yang sudah meniduri ibumu. Tolong enyahlah dari rumah ini," ujar Sutrisno dengan tubuh bergetar menahan emosi.
***
Maya menatap ibunya untuk mencari jawaban sekaligus perlindungan. Namun, yang ditatap malah melengos ke arah lain. Tampak tetes air mata ibunya menggenang di pipi.
Melihat drama itu, Maya tidak punya pilihan lain. Ia berlari ke kamarnya. Membereskan beberapa barang yang sudah sempat ia keluarkan dari koper. Dia masukkan ke koper kecilnya. Sedangkan koper besar akan dia tinggal. Karena hampir semuanya berisi oleh-oleh. Dan rasanya akan sulit bergerak kalau dia pergi dengan membawa koper sebesar itu.
Selang beberapa waktu dia memesan aplikasi ojek online yang akan mengantarnya ke terminal. Dia masih belum tahu ke mana tujuannya saat ini.
Tidak lama, tukang ojek online yang dipesannya sudah tiba. Maya menyeret kopernya keluar. Tidak lupa ia menghampiri ayah dan ibunya yang masih duduk di teras. Ia mencium tangan ibunya tanpa berkata-kata. Ibunya juga tidak berkata sepatahpun. Kemudian memeluknya sesaat. Tidak berusaha untuk mencegahnya.
"Mari Pak kita berangkat," ujar Maya seraya naik di ojek online. Koper kecilnya ia pangku di depan.
"Tujuan sesuai aplikasi ya Mbak?" tanya bapak ojek
"Iya Pak," jawab Maya.
Sepanjang perjalanan tidak ada yang saling bicara. Maya masih belum bisa menerima kejadian bertubi yang menimpanya. Kenyataan pacarnya menikahi adiknya sendiri karena hamil. Kenyataan keluarganya tidak ada yang peduli. Kenyataan dia bukan anak kandung ayahnya. Dan yang tragis kenyataan bahwa dia diusir dari rumah yang dibangun dengan uang yang dikirimkannya setiap bulan, selama tiga tahun.
"Kita sudah sampai Mbak," ujar tukang ojek tersebut.
"Makasih ya Pak sudah diantar," ujar Maya.
Sesampainya di dalam terminal, Maya memilih bus yang akan membawanya ke ibukota.
Selama perjalanan Maya mulai merancang hidupnya ke depan. Rencana ia akan mencari kost pinggir kota yang murah. Setelah itu dia akan melamar untuk mendapatkan pekerjaan. Dengan berbekal ijazah SMA dia bisa bekerja di pabrik, kantor atau setidaknya di rumah makan atau penjaga toko.
Selama belum mendapatkan pekerjaan dia akan menggunakan tabungannya untuk membiayai hidup.
Atau kalau rencana pertama belum membuahkan hasil Maya menyiapkan rencana kedua. Yaitu, dia akan berjualan atau membuka usaha sendiri dengan modal yang ada. Namun untuk usaha apa, Maya belum memiliki ide. Ia akan melihat peluang dulu.
Nah, masih ada rencana ketiga. Yakni ia akan kembali lagi ke Hongkong sebagai TKI. Dia akan melupakan Indonesia dan keluarganya.
"Turun mana Mbak?" tanya seorang perempuan paruh baya yang duduk di sampingnya.
"Ibukota Bu," jawab Maya sopan.
"Sama dong," ujar ibu tersebut yang bernama bu Anggi.
Namun karena rasa kantuk yang berlebih, ia pamit bu Anggi untuk tidur. Karena perjalanan masih panjang. Sekitar delapan jam lagi. "Maaf ya Bu, saya mengantuk sekali. Saya tidur dulu ya," ujarnya.
"Ya Nak, beristirahat saja," jawab bu Anggi.
Tidak beberapa lama Maya terlelap dalam tidurnya.
Lewat tengah malam bus yang mereka tumpangi sampai di terminal. Para penumpang turun dengan antri. Bu Anggi ternyata dijemput oleh anak mantunya dengan mobil yang bagus.
"Ayo nak Maya, bareng saya saja. Kita searah kok," ujarnya menawari Maya
"Terima kasih Bu. Tapi saya sedang menunggu jemputan kakak saya yang sudah menuju kemari," jawab Maya berbohong. Iya tidak ingin merepotkan orang lain.
"Oh ya sudah kalau begitu. Saya berangkat dulu," ujar bu Anggi sambil melambaikan tangan.
Maya membalas dengan lambaian tangan juga. Kemudian ia mencari tempat duduk di ruang tunggu seperti penumpang yang lain.
Hampir satu jam Maya duduk di situ. Para penumpang sudah dijemput oleh keluarga masing-masing. Sedangkan dia masih belum tahu harus ke mana.
"Kenapa aku tidak cari penginapan yang murmer dulu barang semalam. Biar bisa istirahat. Baru besok pagi dari kost," ide Maya baru muncul di benaknya.
Belum sempat ia bangun dari duduknya, seorang laki-laki muda menghampirinya. "Mbak mau ke mana?" tanyanya sopan.
"Mau cari penginapan Mas," jawab Maya.
"Banyak kok di sekitar sini. Kalau mau saya bisa antar," ujarnya.
"Boleh," jawab Maya. Lumayan ada yang menjadi petunjuk jalan, pikirnya.
"Mbak ikuti saya ya," ujarnya seraya berjalan mendahului.
Saat berjalan melewati jalan raya yang sepi, sebuah motor memepet Maya. Sejurus kemudian tas selempang yang dibawa Mata ditarik talinya hingga putus. Kemudian motor yang dikendarai dua orang tersebut tancap gas. Kabur membawa tas Maya.
"Copet copet!" teriak Maya.
Ada beberapa orang yang lalu lalang, namun tidak menghiraukan teriakan Maya. Juga pemuda yang berjalan di depan Maya sama sekali tidak menoleh.
Maya akhirnya terduduk di trotoar yang sepi. Meratapi nasibnya yang begitu malang. Mau ke penginapan ia urungkan. Percuma dia tidak membawa uang sepeser pun. Ponsel yang bisa digunakan untuk membayar dengan dompet digital juga ikut raib.
Dia berencana untuk kembali ke ruang tunggu terminal. Mungkin di sana sudah aman. Saat ia berdiri balik arah, pemuda yang tadi berjalan di depannya tiba tiba datang dan menyergapnya. "Tolooong!" teriak Maya.
Mulut Maya dibekap dengan tangan kiri pemuda tersebut. Kemudian kedua tangan Maya ditarik ke belakang. Seorang pemuda lain datang. Dikira Maya akan menolongnya. Ternyata pemuda tersebut malah ikut mengikat tangan Maya.
"Tolong lepaskan!" teriak Maya dengan mulut dilakban.Tentu saja tidak ada suara yang keluar. Hanya berupa gumaman yang tidak jelas.
Saat tangan Maya belum terikat sempurna, kaki kanannya menendang pemuda yang baru datang tersebut. Tepat mengenai organ vitalnya.
"Akhhhhhhhh," erang pemuda tersebut kesakitan.
Pemuda pertama yang mengajaknya kaget. Hendak menarik tangan Maya yang terlepas. Namun gerakan Maya lebih cepat. Pemuda tersebut juga mendapatkan tendangan yang sama. Di tempat yang sama pula.
"Akhhhhhh," teriaknya pula kesakitan.
Mendapatkan peluang kabur tidak disia-siakan oleh Maya. Ia berlari sekencang-kencangnya. Dengan sisa tenaga yang ada. Sampailah dia di daerah yang banyak warung dan toko-toko di pinggir jalan. "Kalau aku lari terus pasti tidak kuat. Bisa jadi tertangkap. Sebaiknya aku bersembunyi di sela-sela warung yang remang itu," ujar Maya dalam hati.
Ia pun menyeberang jalan dan menuju warung tersebut. Ternyata di antara beberapa warung tersebut ada yang kuncinya sudah rusak. Sehingga tidak dikunci oleh pemiliknya. Maya masuk ke warung tersebut dan menutupnya dari dalam.
Dalam suasana yang gelap Maya tidak bisa meraba apapun. Kakinya sering tersandung meja kursi yang ada. Beruntung ia menemukan kursi panjang yang bisa dua gunakan untuk tidur. Ia merebahkan tubuhnya di tempat itu. "Betapa nyamannya bisa merebahkan badan," ucapnya.
Sayang, kenyamanan tersebut terusik suara dari luar. Dua pemuda yang mengejarnya tadi tampaknya sudah sampai di tempat tersebut. "Tadi aku lihat dia lari ke arah sini," ujar salah satu di antara mereka.
"Mana mungkin menyeberang jalan," sanggah yang lain.
'Ayo kita periksa dulu di warung-warung tersebut. Siapa tahu dia menyelinap di sana," ujar salah satu di antara mereka.
"Hmm baiklah," jawab satunya.
Deg...dada Maya serasa mau copot. Dia sampai menahan nafas saat dia pemuda tersebut berdiri di depan warung tempatnya bersembunyi. Apalagi saat dua pemuda tersebut berusaha mendorong pintu warung. Untung sudah diselot dan diberi penghalang kursi di belakang pintu.
"Aku kira dia tidak mungkin masuk sini. Pintunya terkunci gini," kata salah satu
"Mungkin di warung yang lain. Mari kita periksa satu per satu," usul satunya.
"Baiklah," jawab temannya.
Maya sedikit bernafas lega saat kedua pemuda tersebut meninggalkan warung tempatnya berada. Terdengar keduanya tampak mendorong satu persatu pintu warung di daerah tersebut. Namun usaha mereka gagal.
"Kita istirahat di sini dulu sebentar," ujar salah satu mereka.
"Sebenarnya, kalau kita bisa mendapatkan gadis yang baru datang ini kita bisa untung besar," kara pemuda yang berambut keriting. Ini pemuda yang pertama kali menemui Maya di terminal.
"Ya pastinya. Bos akan mencicipi dulu trus dilempar ke Tante Berlian. Di rumah bordir yang terkenal itu."
"Astaghfirullah," pekik Maya. Untung tidak terdengar dua orang tersebut
"Atau mungkin bos tidak tertarik mencicipi. Tapi akan menjual keperawanannya dengan harga mahal. Bisa ratusan juta bahkan miliar untuk sekali kencan," jelas yang lain.
Maya hanya bisa mengelus dada.
"Kita kembali saja ke terminal," ujar penjahat itu.
Tidak beberapa lama keduanya pergi meninggalkan warung tersebut.
Maya kembali bernafas lega. Setidaknya salah satu bahaya yang mengincarnya sudah lewat. Meskipun dia sama sekali tidak memiliki bayangan apapun tentang kehidupannya besok. Di rimba ibukota, tanpa ada yang dikenal, tanpa ada uang sepeser pun, tanpa baju sehelai pun dan tanpa kartu identitas.
Rasa kantuknya yang sangat berat membuat Maya tetap bisa terlelap sampai pagi. Hingga terdengar seseorang yang membangunkan dia.
"Hai bangun bangun! Siapa kau di sini?" teriak seorang wanita sambil menggoyang-goyangkan tubuh Maya. Suaranya melengking keras membuat Maya segera sadar.
"Mati aku. Apakah ini bagian komplotan penjahat yang mengejar aku tadi malam?" batinnya.
***