Seorang pria tampan nan gagah terlihat sedang mematut diri di depan cermin. Sesekali tersungging senyum tipis di bibirnya yang seksi, senyum tak lepas dari bibirnya. Jas hitam berpadu dengan kemeja putih sangat pas di tubuhnya yang tinggi menambah ketampanan pria itu berkali-kali lipat.
Laki-laki yang bernama Xavier Romanov, hari ini akan melangsungkan pernikahan. Pernikahan impiannya bersama sang kekasih hati. Sudah lama sekali ia merencanakan semua, tapi baru kali ini terlaksana.
"Aku benar-benar tidak sabar," Xavier tersenyum dan mencoba untuk membuang nafasnya secara perlahan untuk menghilangkan rasa gugup yang menyerang dirinya.
Pernikahan impian yang akan terjadi, meski harus melangkahi sang kakak. Pria itu tidak ingin lagi menunda, dia ingin menjadikan sang kekasih hati sebagai RATU di dalam hidupnya. Sambil menunggu yang lain siap, dia meraih ponsel yang tergeletak di atas meja, mencoba untuk menghubungi sang calon istri. Tapi, sayang panggilan itu tidak terhubung malah nomor ponsel sang kekasih pun sekarang tidak aktif.
"Sepertinya kamu sengaja tidak mengaktifkan ponselmu. Dasar gadis nakal," gumam pria itu di iringi tawa kecil.
Rombongan pengantin pun bersiap berangkat menuju rumah mempelai. Beberapa iringan mobil mewah terlihat berjejer di jalanan. Dengan Xavier duduk bersama sang kakak. Arshaka tersenyum menatap sang adik. Dia rela dan ikhlas jika harus di langkahi dulu olehnya.
Karena bagi pria tampan itu, menikah bukanlah sebuah kompetisi. Bukan sebuah perlombaan, Arshaka menepuk bahu sang adik. Kini mereka sudah berjejer duduk di kursi yang sudah di sediakan oleh Rini. Xavier sendiri sudah duduk di depan Penghulu. Pria itu sudah tidak sabar untuk melihat sang kekasih.
"Bagaimana sudah siap?" tanya Penghulu.
"Ya saya sudah siap," jawab Xavier tegas.
"Baiklah sebelum mengucap ijab kabul, boleh pengantin wanita di bawa kemari," ucap Penghulu.
Rini pun mengangguk dan beranjak menuju kamar sang putri lalu mengetuk pintu bercat biru itu. Lama wanita paruh baya itu menunggu tapi sayang pintu tak kunjung terbuka, perempuan itu membuka pintu yang kebetulan tidak terkunci. Alangkah terkejutnya dia ketika melihat jika kamar itu kosong.
"Kemana kamu Meylan! Jangan-jangan kamu malah kabur di hari pernikahanmu!" ucap Rini panik dan juga ketakutan sebab bila memang itu terjadi, hancur sudah hidupnya.
"Bagaimana, sudah siap?" tanya Penghulu untuk yang kedua kalinya.
Xavier terdiam, tangan pria itu mengepal, rahangnya mengeras. Dia menatap sekeliling, tidak mungkin jika kekasih hatinya kabur. Jika iya apa yang membuatnya pergi.
Laki-laki itu pun beranjak, menyusul calon mertuanya. Setelah sebelumnya dia meminta penghulu untuk menunggu sebentar. Sesampainya di kamar, alangkah kagetnya dia ketika mendapati kamar yang di tempati oleh kekasihnya itu kosong.
"Kemana dia!" tanya Xavier dingin.
Wanita paruh baya itu terhenyak kaget ketika mendapati pria yang menjadi calon suami putrinya, sudah berada di kamar. Wajah wanita itu pucat seketika, kala melihat raut muka Xavier yang sangat menakutkan. Dia hanya diam tidak bisa menjawab apapun.
"Maaf, Nak! Sepertinya Meylan, dia," ucap wanita itu terpotong. "Dia tidak ada di kamarnya!" lanjut wanita itu.
"Cepat cari dia, saya tidak ingin tahu! Pernikahan ini harus tetap berlanjut!" geram Xavier.
Wanita itu terdiam, tak lama ia pun keluar dari kamar itu. Sementara itu, Xavier lebih memilih menunggu di kamar itu tak lupa dia menghubungi anak buahnya. Dia memerintahkan mereka untuk mencari keberadaan perempuan itu.
Xavier tidak menyangka, jika kekasihnya akan berkhianat seperti ini. Dia terdiam memikirkan kesalahan apa yang sudah di perbuatnya. Tapi sayang, tidak ada cela ataupun kesalahan fatal yang di lakukannya hingga membuat perempuan itu pergi.
*
*
"Nandini," gumam wanita itu ketika melihat putri bungsunya sedang membantu orang-orang di dapur.
Lantas dia langsung menghampiri gadis kecil itu. Lalu menarik kasar tangan mungilnya, wanita itu menyeret tubuh kecil Nandini menuju sebuah kamar yang letaknya dekat dengan dapur. Dia mencengkram kuat lengan gadis itu, hingga tampak memerah, wanita itu juga menatap tajam gadis itu, hingga dia lebih memilih menundukkan kepalanya.
"Hari ini, kau akan menggantikan kakakmu, menikah dengan Tuan Xavier!" ucap wanita itu tegas.
"Mengapa harus aku yang menikah dengan kekasih kakak, Bu? Lantas kemana kakak?" tanya Nandini pelan.
Wanita yang bergelar ibu itu mendelik kala mendengar ucapan Nandini. Dia tidak suka jika gadis itu memanggilnya ibu. Bagi dirinya, gadis ini hanyalah pembawa sial.
Hari ini, wanita itu akan memaksanya menggantikan sang putri yang kabur entah kemana. Yang penting saat sekarang, pernikahan ini tidak batal. Jalan satu-satunya adalah menjadikan Nandini sebagai pengantin pengganti.
"Dengar ini! Kau tidak usah banyak bertanya, dan kau harus mau menggantikan posisi kakakmu! Jika kau tidak mau, maka kau sendiri akan tahu akibatnya!" ancam wanita paruh baya itu.
Nandini meringis kala merasakan cengkraman sang ibu semakin kencang. Ibunya begitu kuat kala memegang lengannya. Melihat kemarahan di mata sang ibu membuat Nandini takut.
"Tapi, Bu!" ucapan Nandini terpotong karena wanita itu sudah kembali menyeretnya. Membawa gadis itu pada orang yang akan meriasnya.
Sementara Xavier dia masih menunggu. Hingga beberapa menit kemudian, wanita itu kembali ke kamar putrinya dengan membawa seorang wanita yang sudah memakai baju pengantin. Wanita itu juga menjelaskan jika adik dari kekasihnya yang akan menggantikan posisi mempelai wanita.
Nandini menunduk, tidak berani menatap wajah kekasih dari kakaknya. Di mata Nandini, pria itu sangat dingin,jika pun mereka kebetulan bertemu, Nandini lebih memilih menghindar. Tapi hari ini, semesta seolah mempermainkannya.
Xavier menatap datar ke arah wanita cantik dan muda itu, raut muka pria itu masih menggambarkan sebuah amarah yang tertahan. "Bawa dia!" ucap Xavier dingin.
Kini, Nandini sedang terduduk di samping Xavier. Dan pria itu pun mulai mengucapkan ijab kabul dengan nama yang berbeda. Terdengar kasak kusuk dari mulut para undangan yang datang tapi Xavier tidak menggubrisnya.
Jantung Nandini—istri Xavier—berdebar dengan sangat cepat. Berulangkali dia berusaha mengatur napas, hingga suara seseorang menyadarkannya dan meminta untuk dia segera mengecup tangan sang suami.
Perlahan Nandini mengangkat kepala, memberanikan diri menatap wajah tampan itu. Keduanya saling beradu pandang. Entah mengapa Xavier seolah terhipnotis oleh mata hazel Nandini.
"Maaf ...!" Nandini mengucapkan kata itu lirih dalam hatinya.
"Kenapa kamu tega melakukan ini Meylan!" Xavier pun bergumam dalam hatinya, tangannya kembali terkepal.
Sepersekian detik kemudian Nandini berusaha meraih tangan Xavier. Pria itu tampak terpaksa mengulurkan tangannya. Nandini mengecupnya perlahan, bersamaan dengan itu cairan bening menetes.
Xavier merasakan hangatnya air mata itu. Dia pun repleks langsung menarik diri, kemudian bangkit hendak pergi. Namun, terhenti oleh suara perempuan yang bertugas sebagai MC acara.
"Mempelai pria sepertinya tidak sabar untuk menuju pelaminan. Tunggu sebentar, kita lakukan dulu sesi foto untuk kenang-kenangan, ya." ujar pria kemayu itu.
Fotografer mulai memberikan instruksi, mengarahkan sepasang suami-istri tersebut dengan berbagai pose. Xavier meminta untuk tidak terlalu banyak mengambil gambar tapi, ia malah diminta untuk mencium kening istrinya untuk foto terakhir setelah akad. Dengan wajah menahan amarah Xavier terpaksa melakukan apa yang di arahkan orang-orang yang menurutnya sangat memaksa.
"Dan sekarang pasangan pengantin baru kita silahkan menuju ke pelaminan, dan untuk yang mau memberikan selamat boleh ya bersiap-siap," ujar sang Mc.
Masih terdengar bisik-bisik orang-orang yang datang. Mereka tidak menyangka jika pengantin wanitanya di ganti oleh sang adik.
"Kasihan juga ya si Nandini, sudah sering di siksa oleh Ibu-Nya, sekarang di paksa untuk menggantikan kakaknya!" ucap salah satu tetangganya.
Rini mendelik mendengar bisik-bisik itu, jangan sampai apa yang mereka obrolkan sampai ke telinga menantunya. Tapi sayang sekali karena Xavier sudah mendengarnya. Iba tentu saja tidak justru dia akan menambah lagi penderitaan istri kecilnya.
Satu persatu para tamu undangan pun naik ke atas panggung. Kini tiba teman-temannya dan juga sang abang memberi selamat.
"Selamat Bro, gue nggak nyangka ternyata jodoh Lo anak kecil!" kekeh salah satu temannya.
Xavier mengepalkan tangannya hingga buku-buku di tangannya memutih. Wajahnya memerah menahan amarah. Mereka pun pergi begitu saja setelah puas mengejek sang teman.
Tak lama Arshaka Dewangga Romanov pria yang berusia 29 tahun, pria yang mempunyai wajah tegas namun lembut yang merupakan kakak dari sang pengantin pria.
"Selamat, semoga kamu bahagia. Meskipun ini bukanlah pernikahan yang kamu harapkan. Tapi Abang harap, kamu bisa menerima dia seutuhnya. Karena bagaimana pun, sekarang dia adalah istrimu," ucap Arshaka sembari menepuk punggung sang adik, lalu beralih menatap seorang gadis cantik yang memakai baju pengantin yang sangat pas dan cocok di tubuhnya. Gadis yang mungkin lebih pantas menjadi adik mereka.
"Selamat Dek, semoga bahagia," ucap Arshaka tulus.
Nandini hanya diam tanpa menjawab apapun.
Acara demi acara akhirnya selesai sudah. Kini pasangan baru itu sedang berada di dalam kamar mungil Nandini. Gadis itu menunduk memilin-milin gaunnya kebisaannya ketika gugup.
Xavier memandangi wajah yang tertunduk itu, dan menyeringai.
"SELAMAT DATANG BUDAKKU!! "
"SELAMAT DATANG BUDAKKU!" batin pria itu berbicara, tampak seringaian misterius terbit di bibir sexynya.
Xavier masih menatap gadis kecil yang sudah berstatus menjadi istrinya menggantikan kekasih yang kabur entah kemana. Tapi, dia tidak perlu khawatir karena pria itu sudah menyebar anak buah untuk mencari perempuan yang tidak tahu diri itu. Dia harus membayar semua perlakuannya yang telah membuat dia malu, dan untuk sementara adiknya lah yang akan menggantikan peran melaksanakan hukuman.
"Sampai kapan kau akan berdiri di sana hmm," ucap Xavier datar dan dingin.
Nandini perlahan mengangkat kepalanya, menatap laki-laki yang kini sedang duduk di pinggiran ranjang kecilnya. Ya Nandini di beri kamar yang mempunyai ukuran sangat kecil, berbeda dengan kedua kakaknya yang mempunyai kamar yang sangat luas. Tapi, bagi Nandini itu lebih baik daripada dia harus tinggal dan tidur di gudang yang kotor juga pengap.
"M--maaf, " cicit Nandini pelan.
Xavier menatap intens gadis itu. Ada rasa yang tak bisa dia artikan ketika menatap mata hazelnya yang berwarna coklat terang. Wajahnya yang cantik juga membuat dirinya tidak bisa berpaling, Xavier tidak menyangka jika Abrian dan Meylan mempunyai adik secantik ini, karena yang dia tahu jika Meylan hanya mempunyai satu saudara yaitu Abrian.
"Minta maaf untuk apa! Apa kamu mempunyai salah padaku?" suara bariton itu terdengar tegas dan datar. Di tambah dengan raut muka Xavier yang tegas dan terkesan dingin membuat nyali Nandini seketika menciut takut.
"A--aku meminta maaf k--karena aku terpaksa menggantikan posisi kakakku," ucap gadis itu pelan dan menundukkan kepalanya. "I--bu berkata jika aku hanya menggantikan sementara saja, kelak jika kakak kembali, dia. Dia akan kembali pada Anda," lanjutnya pelan.
Xavier tersenyum smirk. "Jika aku tidak mau, bagaimana hmm," tuturnya di sertai senyuman yang tipis.
Mendengar perkataan yang terucap dari bibir pria tersebut membuat Nandini mengangkat wajahnya, memberanikan diri kembali menatap laki-laki yang sudah berstatus suami. Ah suami? Hanya sekedar memikirkannya saja Nandini tidak berani. Keningnya mengkerut tampak heran dan tak mengerti akan maksud ucapannya. Ingin sekali dia menolak, tapi jika takdir sudah bertindak apa yang bisa dilakukannya.
"A--ku tidak tahu, " lirih Nandini.
Xavier terkekeh. "Kau.. Kau yang akan menggantikannya menjalani hukuman dariku! Bersiaplah!" ucapan datar itu terdengar menakutkan di telinga Nandini apalagi ketika melihat seringai di bibirnya.
"T--tapi kenapa harus aku! Salahku apa sehingga harus menggantikan kakakku! Ini tidak adil!" kepalanya menggeleng dan Nandini memberanikan membantah ucapan pria itu.
"Heh, baru kali ini ada perempuan yang berani membantah ucapanku!" monolognya.
"Cepatlah bersiap-siap, karena setelah ini aku akan membawamu tinggal bersamaku!" ujar Xavier datar.
Nandini menggeleng, dia tidak setuju. Dia tidak mau jika harus pergi meninggalkan rumah ini, meskipun selama tinggal di sini dia hanya mendapatkan siksaan. Berbeda cerita jika dia harus ikut dengan pria itu, tempat baru yang tentunya sangat asing baginya. Lalu bagaimana dengan orang-orang yang tinggal di rumah suaminya, dia bahkan tak mengenal karena ini pertemuan pertamanya bersama dengan laki-laki dingin itu.
"M--maaf tapi aku tidak mau!" ucapnya pelan.
"Heh, sebaiknya kamu menurut, karena sekarang nasib hidupmu ada dalam genggaman tanganku!" ucap Xavier sinis lalu melangkah mendekati gadis itu. "Sebaiknya bersiap diri, jika tidak aku akan membawamu paksa keluar dari sini," bisik Xavier di telinga Nandini.
Tak terasa setetes air mata jatuh di pipi mulus Nandini. "Tuhan, berikanlah perlindunganmu padaku," batinnya menangis pilu. Meratapi nasib dan takdir yang tidak pernah berpihak padanya. Sejak kecil Nandini sudah di anggap sebagai pembawa sial bagi sang ibu. Entah apa yang menyebabkan wanita itu begitu tega dan kejam padanya.
"CEPATLAH!" geram Xavier.
Mau tidak mau dia pun menurut dan pasrah, gadis itu berjalan pelan menuju lemarinya untuk membawa beberapa pakaian lusuhnya. Pakaian bekas pakai sang kakak. Nandini tidak pernah membeli baju baru semenjak dia kecil, dia hanya akan memakai baju sisa pakai sang kakak perempuan.
Laki-laki tampan itu terus memperhatikan apa yang di lakukan gadis kecil di hadapannya. Dia dapat melihat baju-baju lusuh itu yang sepantasnya di pakai oleh seorang pembantu. Dan tanpa mengganti gaunnya, mereka langsung berangkat menuju mansion Xavier.
"Cepatlah! Waktuku sangat berharga!" tukas Xavier.
Lalu keduanya melangkah keluar dari kamar yang begitu sempit menurut Xavier. Sungguh dia tidak betah berlama-lama tinggal di kamar itu. Sudah kecil pengap pula! Pikir Xavier.
Ketika sampai di lantai bawah tampak wanita itu sedang duduk di sofa. Tanpa menyapa wanita yang berstatus mertuanya itu, Xavier terus melangkahkan kakinya. Nandini pun terpaksa mengikuti langkah kaki lebar pria itu.
"Ah, kalian akan langsung berangkat sekarang!" sumringah suara Rini ketika dia melihat sang menantu dan anaknya akan keluar dari rumah.
"Mengapa Ibu, mengapa engkau kejam sekali terhadapku, aku pun anakmu Bu, terlepas dari kesalahan apa yang pernah aku lakukan di waktu dulu," batin Nandini perih melihat senyuman lebar yang tercetak di wajah ibunya.
Xavier menatap mertuanya datar. Dia muak melihat ekspresi wanita itu. Ingin sekali dia melenyapkannya, tapi nanti setelah dia menemukan si Meylan yang brengsek.
"Hmm," jawab Xavier singkat.
Rini masih tersenyum lebar, "Ah ya mengenai acara resepsi nanti malam, apa tidak sebaiknya Nandini di sini terlebih dahulu, lalu nanti kita berangkat bersama ke hotel," ucap Rini dengan masih mempertahankan senyumannya.
Xavier menatap datar dan tersenyum sinis. "Sayangnya, tidak akan ada resepsi apapun. Karena aku sudah membatalkannya!" jawaban Xavier terdengar datar namun tersirat nada kepuasan tatkala dia dapat melihat wajah pias mertuanya itu.
Xavier melangkah gagah meninggalkan mertuanya. Sementara Nandini masih diam, dia masih menatap wanita yang sangat berarti dalam hidupnya itu. Karena Xavier merasa kesal menunggu lama, dia pun berteriak.
"NANDINI!" teriak Xavier membahana di rumah mewah itu, tak dia perdulikan orang-orang yang masih berada di sana. "CEPATLAH! " lanjutnya lagi dengan masih berteriak.
Seketika membuat Nandini tegang dan takut. Orang-orang yang berada di sana dapat melihat dengan jelas raut ketakutan dari wajah cantik gadis itu. Dia pun berjalan cepat guna untuk menyusul sang pria yang sudah berteriak seperti orang kesetanan.
"LELET!" ketus Xavier seraya memandang tajam gadis yang kini sudah berada di depannya.
Nandini terdiam tidak menjawab apapun. Dia pun mengikuti langkah lebar suaminya. Tapi ketika hampir sampai ke dekat mobilnya tiba-tiba Nandini melihat pergerakan seseorang yang mencurigakan.
"Tuan awas!"
"Tuan Awas," teriak Nandini dari belakang tubuh kekar Xavier kala dia melihat seorang pria membawa pisau dan akan menusuk pria itu.
Nandini pun berlari dan mendorong tubuh Xavier dengan sekuat tenaga. Xavier terjatuh, terhuyung dan Nandini menahan pisau dari pria itu. Hingga darahnya menetes mengenai wajah Xavier. Bodyguard Xavier langsung bergerak meringkus pria itu, mereka kecolongan.
Karena yang akan menusuk Xavier adalah anak buahnya sendiri. Tangan Nandini terluka, dan sepertinya luka di tangan mungil itu cukup dalam. Xavier beranjak, dia mengusap wajahnya yang terkena tetesan darah Nandini.
"Apa yang kau lakukan!" suara pri itu terdengar menggelegar ketika membentak Nandini.
Gadis yang di bentaknya itu langsung menundukkan kepala. Tubuh itu bergetar mendengar bentakan yang keluar dari mulut Xavier. Orang-orang yang mendengar keributan di depan pun langsung berlari menghampiri mereka. Mereka kaget begitu melihat gadis itu berdarah.
"Kau mau berlagak jadi pahlawan hah," bentak Xavier sambil mencengkram tangan Nandini.
Gadis itu semakin ketakutan, bahkan tubuhnya bergetar. Seorang pria menghampiri mereka. Dia melepas kasar tangan yang sedang mencengkram tangan gadis itu.
"Jangan pernah membentaknya," desis Abrian menatap tajam Xavier pria yang berstatus sahabat, ipar, dan juga bosnya itu.
Xavier diam, lama dia menatap pria yang sekarang berani menatapnya dengan tajam. Bahkan dengan beraninya, pria itu menghempaskan dengan kasar tangannya. Sungguh tidak tahu malu.
"Pergilah, sekarang dia bukan tanggung jawabmu!Hidupnya ada di genggaman tanganku!" ucap Xavier tak kalah dingin dan menatap nyalang pria itu.
Laki-laki tersebut pun menatap tajam Xavier,dengan terpaksa dia mengalah. Dirinya tidak bisa menolong gadis kecil itu. "Semua sudah terlambat Abrian, kau dan Ibumu yang mengantarkannya pada penderitaan yang tak bertepi, tak puaskah kalian menyiksanya, menyisakan sebuah trauma yang mendalam. Merusak mentalnya. Lalu apa yang kau lakukan sekarang? Menolongnya? TERLAMBAT!" Batinnya bersenandika.
Pria itu menatap nanar mobil yang kini perlahan meninggalkan halaman rumahnya. Bahkan tenda-tenda pun masih berdiri dengan gagahnya. Tangan pria tampan itu mengepal, menahan rasa sesak dan juga sakit.
"MEYLAN DI MANA KAU BERADA!" geram Abrian sambil melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah.
Laki-laki itu melihat ibunya sedang membuka hantaran yang di bawa oleh Xavier. Tersungging senyuman di bibirnya, tidak ada raut sedih atau menyesal dalam raut mukanya. Hanya ada kesenangan, perempuan itu sama sekali tidak khawatir terhadap keadaan sang putri.
Pria itu melangkah menuju kamarnya yang berada di lantai atas tanpa menyapa ibunya. Kini dia menatap sebuah poto dimana dalam pigura itu ada sebuah senyuman yang tulus terukir di wajah sang ibu. Sejak kejadian itu berhasil merenggut semua kebahagiaan keluarga kecilnya. Tapi, sekali lagi dia bertanya, apakah patut Nandini di salahkan sedangkan gadis kecil itu tidak tahu apapun.
"Maafkan aku Ayah, aku tidak bisa menjaga adik kecilku. Aku sudah membuatnya hancur yah, ya secara tidak langsung aku juga ikut andil dalam penderitaannya," lirih pria itu.
*
*
Sepanjang perjalanan menuju Mansion Xavier, pria itu hanya diam menatap tajam jalanan. Dia juga sudah menyuruh anak buahnya untuk menyelidiki latar belakang salah satu bodyguard yang sudah berkhianat padanya. Sedangkan Nandini, dia meremas tangan yang terus berdarah, tidak ada rintihan atau air mata. Karena baginya, ini sudah biasa, bahkan dia pernah mendapatkan siksaan yang lebih dari ini.
Xavier sesekali melirik gadis di samping dia dengan ekor matanya. "Kenapa gadis ini sama sekali tidak merasa kesakitan?" tanya Xavier dalam hati.
Gadis kecil itu menahan rasa sakit di tangannya. "Tuhan, bolehkah aku meminta, tolong beritahu aku kehidupan seperti apa yang akan aku jalani. Apakah hidupku hanya akan terus menderita?" batin gadis itu menangis.
Tak lama kemudian, mereka pun sampai di sebuah Mansion yang sangat megah. Mansion yang mempunyai halaman yang sangat luas. Bahkan rumah Nandini saja kalah.
"Turun!"
Gadis kecil itu pun turun, dan melangkah perlahan mengikuti langkah lebar pria di depannya. Kaki kecil itu bahkan berjalan dengan cepat, terseok-seok hingga hampir terjatuh. Seorang pria paruh baya menyambut kedatangan Tuannya bersama sang istri.
"Selamat Datang Tuan," ucapnya sembari menundukkan kepala.
"Hmm," jawab Xavier singkat.
Dia pun kembali berjalan, namun tak lama berhenti dan membalikkan tubuh kekarnya itu. Pria itu menatap tajam gadis yang masih memakai baju pengantin, baju yang sudah berubah warna. Laki-laki itu pun menatap pria paruh baya yang masih setia mengekorinya.
"Bawa dia, dan obati tangannya. Tunjukkan gudang yang akan dia tempati di paviliun belakang!" suara datar itu mengalun di pendengaran Nandini.
"Baik Tuan," jawab pria paruh baya.
"Dan, berikan dia seragam maid. Beritahu juga tugasnya apa saja! Ah dan dia hanya akan bertugas mengurusku!" ucapnya kemudian melangkahkan kaki menuju ke kamar yang berada di lantai atas Mansion itu.
Lalu pria paruh baya itu menatap gadis kecil yang penampilannya sudah kacau. Namun, kecantikannya masih terpancar meski baju pengantin itu sudah tidak berbentuk. Pria paruh baya itu menatap iba, tapi tidak bisa berbuat apa-apa.
"Mari Nona, saya akan obati lukamu dan menunjukkan kamar milikmu," ucapnya sopan.
Nandini hanya mengangguk dan melangkah mengikuti langkah kaki pria itu. Sepanjang perjalanan menuju gudang yang berada di paviliun yang letaknya jauh di belakang, Nandini hanya diam saja. Tak mengeluarkan suaranya barang sedikit pun.
"Mari Nona, maaf ini gudang yang akan anda tempati . Dan saya akan meminta bantuan salah satu maid untuk membantu Anda mengobati luka Anda," tutur pria itu.
"Baik Paman, dan panggil saja saya Nandini Paman, tidak perlu memanggil saya Nona," jawab Nandini lembut.
Pria paruh baya itu pun tersenyum tipis dan berlalu dari sana. Nandini memperhatikan gudang yang akan dia tempati. Gudang itu masih kotor dan terlihat berdebu.
"Permisi Nona," sapa seorang wanita.
Nandini pun mengalihkan atensinya dan menatap seorang wanita paruh baya yang berada di hadapannya. Lalu mempersilahkannya masuk. Wanita itu pun masuk, dan sedikit meringis kala melihat tempat kotor itu.
"Saya mau mengobati luka Anda," ucap wanita paruh baya itu.
Nandini tersenyum, dan mengangguk lalu mempersilahkan wanita itu masuk ke dalam gudang. Lalu wanita itu membantunya melepaskan gaun yang sudah kotor akibat darah. Nandini hanya diam saja ketika perempuan itu membantunya.
"Kenapa anda menahan luka ini, kenapa anda tidak meminta Tuan untuk mengobati anda terlebih dahulu sebelum menuju ke Mansion," ucap wanita itu ketika melihat luka di tangan mungil Nandini.
Nandini hanya tersenyum. Tidak menjawab apapun. Wanita paruh baya itu pun ikut tersenyum.
"Istirahatlah Nona, nanti bila waktunya makan malam tiba, saya akan membangunkan Anda," ucapnya lembut.
"KASIHAN SEKALI DIA, AKAN ISTIRAHAT DI MANA DIA? SEDANG TEMPAT INI BEGITU KOTOR," batin wanita itu menatap iba gadis kecil tersebut.
Nandini pun mengangguk dan mencoba mencari alas yang akan di pakainya untuk sekedar merebahkan tubuhnya yang lelah. Tubuh kecil nan kurus itu sekarang terduduk di lantai dingin itu. Perlahan mata lelah itu menutup, menjemput sang mimpi.
Byurrr
Seember air meluncur bebas membasahi tubuh ringkih itu. Gadis yang masih terlelap menyelami mimpinya di tarik paksa menuju kenyataan. Dia mengerjapkan mata yang terasa perih dan juga hidung yang terasa sakit akibat kemasukan air.
Uhuk uhuk uhuk
Dia terbatuk, merasakan perih dan sesak di dada. Sambil berusaha menetralkan penglihatan, dia terus memukul-mukul dadanya yang terasa sakit.
"Bangun!" suara bariton nan dingin menyapa indera pendengaran Nandini.
Gadis itu berusaha memfokuskan pandangannya. Bola mata berwarna hazel itu seketika melotot tatkala melihat siluet seorang pria yang berdiri di sebelahnya.
"Ah, m--maaf s--saya t--terlambat b--bangun," ucap Nandini terbata dan ketakutan ketika melihat mata tajam itu menatap bak seekor elang yang hendak menangkap mangsanya.
Xavier menatap dingin gadis kecil di hadapannya. Lalu dia pun melirik Kepala Pelayan. Pria paruh baya itu pun mengerti dan dia pun mendekati gadis yang masih setia menundukkan kepalanya.
"Maaf, Nona bisa mengganti pakaian Nona dengan seragam maid yang ada di rumah ini," ucap Pria paruh baya itu.
Deg!
Dada Nandini seketika sesak dan sakit. Maksud suaminya apa, menyuruhnya untuk mengganti pakaian dengan seragam pelayan di Mansion mewah itu. Padahal status dirinya jelas. Yaitu Istri dari Seorang Xavier Romanov.
Gadis itu pun memberanikan menatap mata tajam itu. Wajah yang sangat dingin tidak ada senyum sama sekali yang tersungging dari bibirnya. Nandini terus menatap seolah dia bertanya lewat tatapan matanya 'Apa Maksud Dari Semua Ini!'.
"Kalian urus dia. Dan antar dia ke hadapan saya dalam waktu kurang dari sepuluh menit," ucap Xavier dan langsung berlalu dari sana tanpa mendengarkan jawaban dari para pelayan yang berada di sana.
Pria paruh baya itu menatap salah seorang wanita yang umurnya mungkin sekitar 45 tahun. Dan memintanya untuk membantu Nandini mengganti bajunya yang basah. Akibat di siram oleh Xavier.
"Urus dia, ingat dalam waktu sepuluh menit, dia harus sudah siap menghadap Tuan," ucapnya datar meski sebenarnya dia sedih melihat perlakuan majikannya terhadap gadis itu. Lalu ia pun berlalu meninggalkan gudang yang di huni oleh Nandini.
Wanita paruh baya itu pun mengangguk dan menghampiri Nandini yang masih diam menatap pintu yang perlahan menutup. Dia menatap nanar punggung yang berlalu dari hadapannya.
"Ya Allah inikah jalan hidupku, mengapa engkau tidak mengizinkan diri ini hidup bahagia. Setelah keluar dari siksaan Ibu sekarang aku masuk ke kehidupan yang sama sekali tidak aku inginkan," batin Nandini bersenandika.
"Mari Non, saya bantu melepas gaun pengantin Nona," ucapnya lembut.
Nandini pun mengangguk dan beralih berjalan menuju kamar mandi bersama dengan wanita itu. Pikirannya menerawang jauh, pandangannya kosong.
"Ayo Non, waktu kita hanya sebentar lagi, jangan sampai Tuan Muda marah, jika Tuan marah, semua yang berada di rumah ini akan kena semprot," tutur wanita paruh baya itu sambil membuka resleting yang berada tepat di belakang.
Delapan menit sudah berlalu, kini Nandini sudah siap dengan pakaiannya. Dia menatap dirinya di kaca. Dan tersenyum kecut.
"Malang sekali nasibmu," ucapnya dalam hati mengasihani diri sendiri.
Tiba-tiba wanita itu mendekat, "Non, cepat waktunya tinggal dua menit lagi," ucap wanita paruh baya itu panik.
Dia menggeret tangan Nandini bahkan terlihat menggusur tubuh kecil itu. Nandini harus menyesuaikan langkah kakinya. Jalan yang terseok-seok tidak menghentikan langkah wanita paruh baya itu. Kini keduanya sudah tiba di hadapan sang Tuan Rumah.
"Sepuluh menit lebih tiga puluh detik," ucapnya datar sambil menatap jam mewah yang ada di tangannya.
Wanita paruh baya itu menunduk takut, "M-maafkan kami Tuan, tadi ada sedikit insiden di dalam kamar mandi," ujarnya berbohong untuk menyelamatkan diri dan juga gadis yang tangannya masih dia pegang.
Ya wanita itu lebih memilih berbohong dari pada dia kena marah juga dengan yang lainnya. Xavier mengibaskan tangannya, kini yang ada di sana hanya Xavier, Nandini juga Kepala Pelayan. Yang sama-sama datarnya seperti sang Majikan.
"Jelaskan tugas-tugas dia di rumah ini," ucap Xavier.
Kepala Pelayan pun mengangguk dan membaca poin-poin tugas untuk Nandini.
* Harus bangun awal setidaknya pukul 04.00 pagi.
* Mengurus segala keperluan Tuan Muda.
* Membereskan Kamar Utama.
* Tidak boleh bermalas-malasan.
* Di Perbolehkan beristirahat hanya ketika Tuan Muda tidak ada di Mansion.
* Tidak di perbolehkan memasuki satu ruangan yang letaknya paling ujung, jika dengan sengaja memasukinya maka siap-siap akan mendapat hukuman.
* Tidak boleh tidur duluan jika Tuan Muda belum pulang.
* Tidur di gudang paviliun belakang.
Deg!
Poin terakhir yang membuat Nandini meringis. Dia tidak mau jika harus tertidur di gudang yang gelap juga pengap. Nandini trauma, ya dia trauma akan kegelapan.
"M--maaf, b-bisakah poin terakhir di ganti? Saya tidak keberatan melakukan semua pekerjaan yang ada di sini, tapi.. Bisakah poin yang terakhir Anda ganti? Saya tidak masalah tidur di kamar sempit, tapi jika.. Di gudang saya tidak bisa," ucap Nandini pelan.
Kepala Pelayan melirik Tuannya, terlihat dia sudah marah. Karena baru kali ini ada yang berani membantahnya.
Brakk
Meja kaca yang ada di hadapan Xavier seketika melayang karena di tendang olehnya. Dia menatap nyalang gadis yang berdiri itu, kaca berhamburan bahkan ada sebagian pecahan yang mengenai kaki Nandini. Tampak darah menetes.Gadis itu sedikit meringis, merasakan perih di kakinya.
"Siapa kau hah? Siapa kau berani-beraninya kau membantah perintahku!" suara itu menggelegar seakan memecahkan gendang telinga setiap orang yang mendengarnya.
Nandini semakin menunduk ketakutan, tangannya memilin-milin kain yang menempel di tubuh ringkih itu. Xavier beranjak berdiri dan menghampiri Nandini. Pria itu menunduk menatap gadis yang berstatus istrinya itu.
Sret
"Aww,"