Bab 1

Hai, Ukhtie, Bestie, Kunti, semuanya, salam kenal, namaku Cantika Ayu Jelita. Kepanjangan? Cukup panggil Cantik saja, sesuai nama depanku. Aku anak bungsu dari lima bersaudara, perempuan sendirian. Dua masku sudah menikah dan punya anak. Dua lagi belum, katanya masih nimbun harta, dan ngumpulin modal buat nikah. Soalnya, akhir-akhir ini pihak peremuan seneng banget minta mahar tinggi-tinggi.

Seperti yang lagi fyp di akun tik-tokku. Bayangin H minus 3 hari pernikahan, malah minta sertifikat rumah atas namanya. Menangis notaris seluruh Indonesia melihat permintaan seseembak yang sedang viral sekarang. Aku yakin banget dia sudah ditandai oleh asosiasi calon mertua se Indonesia, sebagai bukan kriteria menantu idaman.

Oke, back to topik. Sebagai konten kreator pemula. Aku suka mereviem ragam jenis skin care yang sedang viral, hanya reivew pribadi, tapi kadang terima endorse juga. Yah, lumayan uangnya bisa aku jadikan jajan seblak, dan bakso, dan buat bayar biaya kuliah sendiri. Fyi, aku nggak bisa masak, ukthie. Memasak adalah urusan nomor 3000 dalam hidupku.

Terus nanti kalau udah nikah, gimana? Nggak bosan-bosan aku meminta sama penguasa bumi dan langit yaitu Allah SWT, untuk mendatangkan calon suami yang akan jadi suami yang harus bisa masak. Kenapa begitu? Suka-suka aku, donk. Kita, kan, punya kriteria masing-masing. Kalau yang laki-laki sekarang pada minta calon istri yang bisa cari uang sendiri, emang kita nggak boleh cari yang bisa masak juga.

Nah, kali ini adalah bulan kedua aku memakai rangkaian lengkap perawatan wajah dari brand yang sedang viral. Fyi, dulu aku itu tomboy, rambut pendek, kulit item, dan dekil dan gara-gara itu aku diputusin sama pacarku. Sampai akhirnya aku nangis bombay tiga malam empat hari. Masih teringat olehku sumpah mantan yang mukanya kayak keset welcome, dengan pedenya dia bilang.

“Kamu jelek gini, hidup lagi, nggak akan ada yang mau.”

Aku mengulang perkataannya yang masih aku ingat sampai mampus satu tahun lalu. Sambil memakai pelembab dari salah satu brand. Dari sana aku rajin perawatan wajah. Coba-coba mulai dari yang murah, sampai akhirnya aku cocok dan betah pakai satu paket dengan harga cukup mehong bok. Nggak apa-apa, karena kita juga perempuan mahal, ukthie, bestie, kunti.

“Can, cepetan, kita datang ke akadnya Mas Jimmi pagi-pagi, loh.” Masku yang nomor tiga udah gedor pintu.

Ya, memang harus datang sekeluarga, karena Mas Jimmi itu masih saudaraan sama kami. Kalau sama aku hitungannya bukan sepupu lagi, sih, tapi bisa dua pupu, tiga kali kayaknya, jauh banget, deh, yang jelas.

Tiga puluh menit kemudian, aku sudah siap, dengan make up tipis aja pakai cussion dikit dan lipstik yang makanable, dibawa makan pun tidak luntur warnanya. Kami pergi sama mama, papa, masku nomor tiga satu mobil, yang nomor empat katanya pergi sama pacarnya. Setengah jam perjalanan kami sampai di sebuah gedung. Masih pagi jadi cuma pihak keluarga yang datang.

“Kok, kayaknya ada yang aneh, ya, Ma. Pengantin laki-lakinya kasak-kusuk gitu.” Aku memperhatikan dari pintu masuk. Eh, pengantin perempuannya mana, kok, belum kelihatan. Akad nikah harusnya mulai lima menit lagi.

“Entar, Mama cari tahu dulu, ya, Can. Kamu duduk aja deket masmu sana.” Mamaku kebetulan masih temenan sama mamanya Mas Jimmi.

Nama lengkapnya Jimmi Zola. Agak familiar namanya, tapi memang begitulah dari kecil sudah dipotongin kambing sama orang tuanya. Mas Jimmi ini chef. Dia sudah sering menang event-event besar dan mulai dilirik jadi juri. Cuma, aku nggak suka sama dia. Kalau ngomong galak bener, suaranya tegas dan berat, gak ada lembut-lembutnya sama sekali. Cewek yang mau sama dia pasti mentalnya sudah teruji untuk dicekek, dilempar, dan dibanting.

“Can, mau tahu gosip baru, nggak?” Mas Hilmi, dia ini pasti sudah dapat bocoran. Kemampuannya stalking sangat handal luar biasa.

“Langsung aja to the point, Mas,” jawabku saking penasarannya.

“Manten ceweknya kabur, nggak mau nikah sama Jimmi.”

“Kan, udah kudugem, siapa, sih, yang tahan sama Mas Jimmi, ganteng sih, tapi galak.” Tapi kasihan juga lihatnya, wajah Mas Jimmi dilihat dari tempat kami duduk kayak gugup dan panik gitu, kalau perempuan pasti sudah nangis. Kalau aku yang ngalamin, bakalan aku upload ke tik-tok buat konten.

“Pengantin perempuan minta mahar dinaikkan tiga kali lipat, Can, dari kesepakatan,” lanjut masku.

“Wow, kok, mendadak banget, emang kesepatakan awalnya berapa?”

“Denger-denger udah disediain sekian gram emas, sama uang tunai 50 juta, nah dia minta uang tunainya jadi 150 juta.”

“Eh, buset, dikira nyari duit kayak cabut bulu ketek apa?” Aku aja yang perempuan gemes dengernya, apalagi pihak laki-laki sebagai penyedia mahar.

“Ya, makanya itu lagi panik, mana siang bentar lagi tamu pasti datang. Nggak mungkin undangan ditarik, kan?” Mas Hilmi masih memperhatikan keributan di depan matanya, sedangkan aku memperhatikan mamaku bisik-bisik tetangga sama mama Mas Jimmi.

“Tapi kayaknya sekelas Mas Jimmi, uang 150 juta pasti ada, kan? Chef, loh, kerja di hotel bintang tujuh terpercaya sejak jaman penjajahan. Terus udah mulai terkenal.”

“Bukan masalah nominalnya, Can, tapi caranya itu yang nggak enak. Kenapa harus deket hari H minta tambahannnya, kenapa nggak dari kemarin-kemarin. Mas lebih milih batal nikah deh, daripada dipaksa punya banyak uang detik itu juga.”

“Ya, kan, Mas, kere, beda sama Mas Jimmi. Jadi gimana, donk, batal nih nikahannya? Mana udah capek-capek dandan lagi.” Aku lihat memang Mas Jimmi berbicara dengan mama dan papaku. Ada juga mas-masku yang lain udah mulai ngumpul.

“Hmm, perasaan, Mas, nggak enak ini.” Mas Hilmi mulai jadi detektive.

Terus dia berdiri karena dipanggil sama keluarga cemaraku yang lain, tapi, kok, aku nggak dipanggil, ya? Setidak penting itukah aku di mata mereka? Dilihat dari tempatku duduk Mas Jimmi kayaknya pasrah aja sama keputusan yang diambil keluarganya.

Nah, itu, mamaku datang. Tanya, ah, ada diskusi apa tadi? Bisa buat bahan konten di tik tok. Apalagi kalau fyp, bisa nambah followers dan cepet deh centang biru. Ta-ta-tapi, kok, senyum mamaku jadi rada aneh gini, ya. Duh, perasaanku jadi nggak enak ini.

“Can, kamu, beneran masih jomlo, kan?” tanya mamaku, aku bilang iya.

Emang sejak memutuskan pakai jilbab walau belum lebar, aku belum mau punya pacar lagi. Satu, dosa, dua akunya belum laku sampai sekarang. Ish kayak barang aja jadinya. Mungkin standarku ketinggian, padahal aku cuma minta calon suamiku bisa masak aja.

“Kriteria kamu belum berubah, kan. Suka sama yang umurnya beda jauh, terus bisa masak?” Aku mengangguk lagi mendengar kata Mama.

Ya, jangan terlalu jauh juga umurnya. Aku 21 tahun calon suami 65 tahun ya aku nggak mau juga. Kecuali udah ada kepastian besok dia login ke alam lain dan semua harta warisan buat aku, gas aja kalau begitu.

“Nah, berarti cocok ini, Pa.” Mamaku agak teriak memanggil Papa.

Fyi, mamaku itu dulu pernah ngejar maling dan dapat. Agak preman dikit, tapi dia Mama yang sangaat baik. Sudah bisa ditebak kelanjutannya, Papa datang mendekat padaku. Terus mama memegang tanganku yang halus dan wangi karena pakai body care.

“Cantika Ayu Jelitta, anak perempuan mama dan papa satu-satunya. Nak, pagi ini kamu gantikan posisi calon pengantinnya Mas Jimmi, ya, kasihan dia panik gitu mukanya.” Sek, kok aku ora reti maksud mamaku.

“Duduk di sana doank, kan, Ma, temenin Mas Jimmi, nggak ngapa-ngapain lagi, kan?” Hal ini harus diperhatikan sejelas-jelasnya.

“Iya, duduk di sana, Nak, kamu nikah pagi ini sama Mas Jimmi.” Gantian papaku yang buka suara.

Terus tiba-tiba dunia serasa berputar begitu cepat di mataku. Yang terbayang olehku suara orang pridapan lipsing lagu it’s my life dengan aksen India kentalnya.

“Mama sama Papa berjanda, kan?” Ada aja ya ampun hal-hal nyeleneh di dunia ini.

“Nggak, Nak, ayo, Mama sama Papa sudah kenal siapa Jimmi. Dia cocok sama kamu.” Bagai petir menyambar-nyambar di atap rumahku saat sedang mati lampu, jedar, jeder, jedur. Seseorang, tolong selamatkan akuuh.

Bersambung

Bab 2

Di sinilah aku sekarang, Bestie. Duduk di sebelah Mas Jimmi, menunggu akad nikah segera dilaksanakan. Besar harapanku Mas Jimmi mati sesak napas tiba-tiba karena keselek mikropon. Tadi hampir aku kabur, tapi, ancaman dari mamaku, hiks. Potong uang jajan lima puluh persen selama enam bulan. Oh, tidak, Bestie, aku paling nggak bisa kalau miskin uang jajan. Nanti aku ngemil apa? Masak minta sama suami orang?

“Saudara Jimmi Zolla, apakah anda sudah siap menikah dengan Saudari Cantika Ayu Jelitta Binti Rahmat Syarifuddin.” Pertanyaan dari pak penghulu.

Ayo, Mas, jawab, nggak siap. Males aku lihat mukamu itu. Ditekuk aja dari tadi, kayak sedotan es cendol. Duh, jam segini kebayang segarnya minuman dingin pelepas dahaga.

“Siap, Pak!” jawab si Mamas tanpa keraguan.

Aku melirik sebentar ke arahnya. Pandangan kami bertemu sejenak. Apa lihat-lihat, tak senang. Pengen banget rasanya teriak gitu di depan Mas Jimmi, kalau aku nggak tahu malu sih.

“Saudari Cantika Ayu Jelita, Nduk, sudah siap menjadi istri dari mamasmu, ini?”

Eh, bentar, aku perhatikan dulu. Ini, kan, penghulu viral yang sering sliweran di tik tok itu, tapi tetep aja pernikahan ini bukan yang aku inginkan. Warna baju pengantinnya aja kontras banget. Mas Jimmi baju putih, aku baju biru laut mati.

“Nggak!” jawaban spontan yang keluar dari bibirku.

Ya, memang gitu isi hatiku, masak mau dipaksakan. Mudah-mudahan habis pernikahan sandiwara ini Mas Jimmi menceraikan aku. Bodo amatlah jadi janda di usia muda. Janda kembang high class apa salahnya.

“Ndak siap untuk langsung malam pertama, toh, aaa ketahuan dari raut mukanya.” Dih, si bapak penghulu viral. Apaan, malam pertama. Mikir nanti malan makan seblak atau bakso aja aku bingung. Dua-duanya sama-sama enak.

“Maklum, Pak, anak saya masih kecil, tontonannya aja Boboiboy kartun setiap hari,” sahut mamaku, buka kartu depan orang.

“Yo, ndak apa-apa, nanti bisa buat anak sehebat Boboiboy.” Dih, masih bahas anak juga, pengen kabur rasanya aku dari sini.

“Sudah siap, ya. Ayok kita mulai ijab kabulnya,” kata pak penghulu viral lagi.

Aku risih beud denger kata-kata suci ini diucapkan oleh papaku terus dihawab sama Mas Jimmi.

Bayangiiiin, dalam beberapa jam aja statusku dari gadis suci harum mewangi berubah jadi istri. Mana Mas Jimmi lancar banget lagi, tuh, akadnya. Nggak ada acara salah sebut nama atau salah sebut nominal. Aje gile, pagi ini aku adi orang kaya dadakan, mahar emas sama uang lima puluh juta rupiah itu jadi punya aku. Ya, aku cuman fokus di bagian itu. Yang lain bukan urusanku.

Eh, tapi ndak bisa juga ndak jadi urusanku. Secara kerjaan, ngepel, nyuci piring, bersihin rumah, cuci baju dan segala macamnya pasti jadi bagianku. Makanya zaman sekarang cewek-cewek banyak takut nikah, sih. Udah disuruh pinter cari uang, eh, masih dikasih beban ngurus rumah, kebanyakan lakinya nggak mau tahu. Udah berasa raja banget di rumah. Untungnya mama sama papaku nggak gitu. Nggak tahu, deh, sama Mas Jimmi. Awas aja kalau nuntut macem-macem. Aku tinggalin seperti calon istrinya baru tahu.

“Nak Cantika, hayoo, melamunkan apa? Ndak sabar malam pertama ya?” celetuk pak penghulu membuyarkan lamunanku. Hadeeeh, malam pertama melulu yang dibahas.

“Ayo, coba sekarang Mas Jimmi dicium kening istrinya. Terus Nak Cantika, dicium tangan suaminya.”

Hmmmh, kenapa harus ada adegan ginian, sih. Apa nggak bisa langsung bubar gitu aja. Perutku udah laper lagi. Mana makanan di meja kayaknya udah melambai-lambai minta dijamah.

Aku diminta berhadap-hadapan sama Mas Jimmi. Untuk pertama kalinya, aku dan dia saling menatap begitu dalam. Apakah aku jatuh cinta pada pandangan pertama seperti di novel-novel? Tidack, Bestie! Itu tidak akan pernah terjadi. Yang ingin aku lakukan justru menculek dua bijik matanya sampai Mas Jimmi nangis. Gemes, geregetan, orang yang paling aku benci dari dulu tiba-tiba saja menjadi suamiku.

“Awas kamu, ya!” Aku berbicara perlahan di depan wajahnya. Mas Jimmi diam saja. Aku tahu, aku paham, pasti dia nggak mau aku jadi istrinya. Secara dulu dia sering marahin aku waktu sowan ke ruamh mama sama papa.

“Masak anak gadis nggak bisa masak!” Inget banget aku kata-kata dia itu.

Iiih pengen aku remes-remes mulutnya pakai cabe merah, biar pedes. Urusan masak nggak mandang gender. Zaman sekarang laki-laki sama perempuan dituntut untuk sama-sama bisa cari uang, jadi nggak salah, donk, kalau kita harus sama-sama bisa masak?

“Jangan deket-deket!” Aku bicara pelan lagi, tapi gigiku rapat luar biasa. Mas Jimmi berkedip sebentar, kemudian mencium keningku sekilas. Gitu doank, udah selesai!

“Loh, kok, malu-malu gitu. Ulang lagi, donk, sekalian buat kenang-kenangan.” Pak penghulunya bisa pulang aja ngga, sih, nyebelin banget dari tadi.

Terpaksa jadinya adegan cium kening diulang lagi. lebih perlahan seperti slow motion. Serius bibir Mas Jimmi rasanya pengen aku tonjok, Ya Allah. Akhirnya, kesucianku ternodah. Serius sekali Mas Jimmi mencium keningku. Detik itu juga rasanya kami berubah jadi artis yang dikeliling paparazzi. Orang ambil foto di mana-mana, blitz kameranya nggak dimatiin lagi. Udah berasa Lisa Black Pink aku jadinya.

“Mundur, Mas, aku santet baru tahu rasa nantik.” Kelamaan bibir Mas Jimmi nempel di keningku. Dia langsung mundur perlahan mendengar ancamanaku. Ahahahaha, aku memang sesepikopat itu jadi orang.

Terus orang-orang ngelihatin aku. Ya, aku harus ngapain? Masak disuruh salto.

“Nak, Cantika, ayo, dicium tangan suaminya. Cari keberkahan di sana.” Oh, harus, ya, ternyata. Kirain bisa di-swipe karena aku nggak like.

Kembali pandangan mata kami bertemu. Aku yakin Mas Jimmi pasti udah kesel sama aku. Bodo amat, bukan urusanku. Aku meraih tangan si galak ini, terus sengaja aku remas kuat-kuat. Dia agak kaget, biarin, dikira aku mau apa jadi istrinya. Tapi, akhirnya aku cium juga sih tangannya, dan adegan berlanjut sampai seterusnya. Minus pamer buku nikah, dengan kata lain pernikahan kami berdua ini sirri saja, karena belum ada kekuatan di depan hukum.

Kita sama-sama tahu, ya, Bestie, dari dulu kalau nikah sirri yang rugi selalu perempuan. Yang laki-laki enak, tinggal kabur aja mereka. Mau nikah banyak kali juga bebas.

Dari jauh aku lihat Mas Hilmi ketawa sama masku yang lain. Apes beud aku hari ini. Lalu apakah aku harus bersedih hari ini? Tentu tidack, karena perutku lapar sekali.

“Can, nanti dandan sama MUA ya. Gantian pakai baju yang sama dengan Mas Jimmi,” kata mamaku.

Terserah, deh, rasanya hari ini aku nggak punya hak sama hidupku. Oke, Cantika, masalah seberat apa pun kamu bisa hadapi, asal jangan lupa satu hal, makan. Aku harus makan, makan, dan makan.

“Eh, kamu mau ke mana?” Mamaku memegang tanganku.

“Mau makan, laper. Ada soto betawi kayaknya.”

“Duduk di sini, Can, kalian itu pengantin, biar Mama ambilin sotonya.”

“Dagingnya yang banyak, ya, Ma, bawang gorengnya juga, cabenya tiga sendok.” Ya, aku suka makan pedes.

Sisa kami berdua duduk di pelaminan sebentar menjelang ganti baju. Aku nggak terlalu memperhatikan Mas Jimmi ngapain. Yang jelas aku lihat dia tiap sebentar mencet-mencet hapenya. Pasti mau hubungi calon istrinya yang udah kabur duluan. Salah sendiri, ngapain galak-galak jadi orang.

“Nak Jimmi mau makan juga?” Mamaku baik sekali mau nawarin makan sama manusia kanebo kering di sebelahku. Aku sendiri mengaduk-aduk soto betawi yang aromanya sudah sampai ke kepala. Aku makan duluan tanpa memandang kiri dan kanan lagi.

“Can, Nduk, mbok, ya ditawarin gitu suaminya makan,” tegur mamaku.

Ah, ngapain juga, Mas Jimmi, kan, bisa jalan sendiri. Sekali lagi bodo amat, aku lapar. Lebih baik makan soto daripada makan Mas Jimmi. Dia juga dari tadi bengong aja, entar lagi kesambet baru tahu rasa.

Aku lihat Mas Jimmi buka-buka galeri ponselnya. Ada banyak fotonya sama calon istrinya di sana. Mulutku fokus makan, tapi mataku sibuk ngintip. Pastilah foto-foto itu akan disimpan sampai mati kalau perlu. Namanya lakik, katanya nggak akan pernah lupa sama cinta pertamanya. Terus cinta selanjutnya buat pasangan cuman sisa-sisa remahan rengginang aja.

Eh, ta-ta-tapi, tapi, eh, fotonya di-delete semua sama Mas Jimmi. Aku membelalakkan mata dan spontan mendekat ke arah Mas Jimmi. Kuah sotoku tumpah kena bajunya. Terus nggak sengaja pandangan mati kami bertemu lagi.

Jeng, jeng, jeng. Woow, apakah semudah itu bagi laki-laki menghapus sebuah kenangan. Aing tidack percaya sama sekali. Lebih percaya kalau buaya bisa tobat dari sifat suka menggodanya.

“Mas minta maaf, sudah menyusahkan kamu.” Wiiih akhirnya, es batu ini ngomong juga.

“Bayar!” jawabku asal. See, dia diam aja.

Bersambung

Bab 3

Bagian 3

Tak Terduga

Di sini aku sekarang. Sedang melihat gadis yang disandingkan terpaksa di sebelahku. Tak aku sangka sama sekali, Kayla—perempuan yang telah menjalin hubungan denganku selama lima tahun, harus mencampakkanku dengan cara memalukan seperti ini.

Padahal dari awal kami sudah sama-sama sepakat masalah mahar. Aku hanya mampu memberinya lima puluh juta rupiah saja. Bukan karena aku tak cinta, tetapi hanya itu kesanggupanku. Uangku ada lebih. Rencananya akan aku gunakan untuk membangun restaurant impianku sejak dulu.

Kayla tahu semua mimpi-mimpiku. Ternyata dia juga yang menghancurkannya. Benar kata orang, siapa yang paling dekat dengan kita, dia yang akan menikam kita paling dalam dengan rasa sakit tak terkira.

Sehari sebelum akad aku bahkan sudah meyakinkan Kayla, bahwa aku akan bertanggung jawab penuh pada gaya hidupnya. Tapi, apa mau dikata, satu jam sebelum akad nikah dia membatalkan semuanya, kecuali aku mempersiapkan mahar senilai 150 juta rupiah.

Kayla bilang kalau aku mencintanya, pasti aku akan memenuhi semua permintaannya. Ya, tapi tak begini juga caranya. Dia kira mempersiapkan pesta pernikahan dengan semua dana dariku ini tidak memakan sedikit biaya?

100 juta lebih uang yang sudah aku gelontorkan. Hasil menabung uang gaji selama jadi chef, menang lomba dan menerima iklan skala kecil. Konsep pernikahan bahkan sesuai dengan keinginan Kayla. Hasilnya, aku seperti menghangatkan makanan basi, dan akhirnya tak layak untuk ditelan lagi.

Sebenarnya, jauh di dalam lubuk hatiku. Aku sudah sangat ragu menikah dengan Kayla. Aku termasuk laki-laki biasa, berbeda dengan teman-teman satu profesiku yang ada juga berasal dari luar negeri. Mereka sudah biasa minum dan tidur dengan wanita yang bukan istrinya. Tidak denganku, aku masih menjunjung tinggi adat ketimuran. Juga aku memiliki banyak saudari perempuan. Aku takutnya perbuatan yang aku lakukan, kata orang karmanya bisa menimpa saudari kita.

Satu hari Kayla pernah mengajakku buka kamar di hotel tempatku bekerja. Sekuat tenaga aku menolak. Walau aku tak bisa berbohong, normalnya sebagai seorang laki-laki aku juga ingin sekali. Namun, demi mengingat semua akibatnya, aku tak jadi. Terbayang olehku, mama dan adik-adik perempuanku diperlakukan seperti demikian.

Salah satu adik perempuan jauhku ialah, Cantika. Gadis yang dulu aku kenal, hitam, dekil, dan tomboy habis yang sekarang secara ajaibnya sudah menjadi istriku. Cantika menggantikan posisi Kayla. Dia menyelamatkan aku dan keluargaku dari rasa malu.

Tak aku sangka dari sekian banyak gadis, Cantika yang dipilih. Dulu aku sering membullinya. Jarak usia kami cukup jauh, sampai sebelas tahun lamanya. Ketika aku sowan saat hari raya ke rumah om dan tante. Saat itu kalau tak salah ingat umurku sudah 26 tahun dan Cantika 15 tahun.

Jangan tanya lagi istriku yang sedang asyik makan nasi kuning satu piring setelah habis memakan soto betawi satu mangkuk penuh dulu seperti apa. Tidak ada cantik dan sisi perempuannya sama sekali. Dia baru pulang dari main di luar, dengan teman laki-lakinya. Membawa mangga muda yang baru dipetik dari pohon. Nyelonong masuk ke dalam rumahnya sendiri tanpa salam denganku.

“Can, ini, loh, ada Mas Jimmi. Mbok, ya disalam gitu,” kata mamanya menegur anak itu.

Dia menoleh sebentar sambil menaikkan celana pendeknya yang melorot. Muka berkeringat dan bau matahari tercium jelas. Padahal gadis seusianya seharusnya sudah belajar merawat diri.

“Malas!” Ketus memang mulutnya dari dulu denganku, sebab itu aku suka membullinya.

“Kenapa? Sini, Mas, belikan es cream campina,” jawabku waktu itu.

“Dikiranya Can nggak punya duit apa. Pah, minta duit, donk. Beli es cream di depan jalan.” Jawabannya berhasi membuatku tertawa. Om Rahmat mengeluarkan selembar uang 20 ribuan dan Can mengambilnya.

“Mau ditambahin nggak. Duit, Mas, banyak, loh.” Aku habis menerima THR dari hotel. Saat itu aku belum mulai berpacaran dengan Kayla, dan tak ada sedikitpun niatku untuk menggoda Cantika. Nama yang waktu itu bertolak belakang dengan kepribadian sepupu jauhku ini.

“Eeeh, maulah, Mas. Lumayan beli tambahan buat beli gundam.” Tanpa malu tangannya terulur meminta uangku. Ya, aku berikan saja, walau hobi laki-laki itu tak cocok untuk anak perempuan.

“Can, kamu nggak mau nikah sama Mas Jimmi. Mas pinter masak loh. Kamu rebus air aja gosong,” kata mamanya lagi. Hah, baru tahu aku anak segede batang pisang ini teryata agak oon dikit. Semalas-malasnya orang memasak, bisa sampai air gosong dibuatnya.

“Malas!”

“Kenapa?” Aku bertanya saking penasarannya. Aku tak bohong, banyak pegawai hotel yang cantik-cantik mengajakku berkenalan, tapi getaran di dalam hati belum juga ada.

“Ganteng, bisa masak, nggak cukup, Ma. Suami Can besok nggak boleh galak jadi orang. Iuuw, Mas Jimmi galaknya minta ampun. Udah gitu mulutnya lemes lagi bulli orang tiap bentar.”

“Yang mau sama kamu emang siapa, Can?” Aku bertanya kembali.

“Malas, ah, ngomong ama dia. Mending makan lontong sayur pakai rendang daging sama serundeng. Eeem, enaaak masakan Mama.”

Begitulah sekelumit kisah kami di masa lalu. Dan aku terkejut luar biasa ketika saat batal akad nikah antara aku dan Kayla, Cantika ditunjuk sebagai pengantin penggantinya. Aku nggak menyangka itu dia. Kenapa sekarang namanya sesuai dengan kepribadiannya?

Terakhir aku bertemu enam bulan lalu dengan sepupu jauhku ini. Belum secantik sekarang. Itu juga ketemunya di suatu acara. Saat dia hampir berantem dengan seorang petugas gara-gara perkara uang parkir. Can kekeh nggak mau bayar seharga lima ribu rupiah. Padahal waktu itu sedang ada event besar. Jadilah aku yang mengambil jalan tengah.

Uang lima ribu waktu itu kecil bagiku. Sekarang saja lima puluh juta rupiah akan masuk ke kantongnya. Beruntungnya kamu, Cantika Ayu Jelitta yang sekarang pakai kebaya setelan berwarna biru langit dengan kerudung warna senada. Sudah gitu pakai bedak dan lipstick yang warnanya kalem. Cantika terlihat semakin anggun. Walau mulutnya masih ketus. Aku ingat dia tadi bilang ingin meyantetku. Susah sepertinya nanti berdamai dengannya.

“Kok, masih laper, ya?” ucap Can.

Heran aku, padahal sudah makan soto dan nasi kuning. Perutmu terbuat dari apa, Can? Karet gelang apa karet ban? Semakin diisi semakin melar. Aku yakin permintaan maafku tadi nggak didengar sama dia. Nanti saja kita urus itu, yang jelas kami harus tampil meyakinkan di depan para tamu undangan yang siang nanti akan mulai berdatangan.

“Kalau laper, ya, makan,” jawabku pada Can.

Nasi sebutir pun tidak tertinggal di piringnya. Sebagai chef cara makan seperti Can menunjukkan cara pelanggan menghargai yang memasak. Lagi pula bisa jadi keuntungan tersendiri kalau orang doyan makan seperti Can di dunia ini ada banyak.

“Mas, kenapa nggak makan? Emang kenyang makan cinta?” Mulai lagi dia seperti ini.

“Duluan aja, Can. Mas nanti aja.”

“Mau disuapin?” Agak terkejut aku mendengar pertanyaan istriku yang tak terduga ini.

“Jangan mimpilah yaaa, ha ha ha.” Belum sempat aku menjawab sudah dibantahnya lebih dahulu. Ternyata hanya tampilan luar saja yang berubah. Dalamnya masih ketus dan cuek luar biasa.

Sebagai pengantin dia benar-benar turun ke tempat makan. Aku melihat Can mengambil es cendol sampai penuh. Tanpa rasa berdosa dia bawa segelas saja lalu duduk kembali. Tidak pula menawarkanku. Tak sampai sepuluh detik es cendol itu sudah berpindah ke dalam perutnya. Aku sampai geleng-geleng kepala dibuatnya. Kegalauanku ditinggal Kayla sedikit terobati dengan sikap konyol Can.

Hampir Can sendawa keras. Refleks aku menutup mulutnya. Bukan apa-apa, malu didengar banyak orang. Dia ini, astaga, seharusnya bisa jaga sikap sebentar saja sampai pesta berakhir. Tanganku ditepisnya.

“Apa, sih, Mas, cari-cari kesempatan aja.” Dia menatapku tak senang.

“Tolong, ya, Can, sekali ini aja, Mas mohon bersikaplah seperti ratu sehari aja. Biar Mas dan orang tua nggak malu.”

“Bayar!” jawabnya yang kedua kalinya.

“Oke, nanti Mas bayar. Tapi kamu tenang dulu, ya.”

“Oke.” Can berpaling.

Entah berapa lama kami duduk di sini. Lalu tamu yang khusus datang saat akad saja sudah mulai pulang dan menyalami kami satu per satu. Untuk resepsi nanti undangan yang datang lain lagi.

“Jimmi, semoga cepet dapat anak, ya.”

“Semoga rumah tangga kalian samawa sampai kakek nenek.”

Bergantian para tamu mengucapkan selamat. Pelan-pelan aku dengar Can menggerutu. Dia tak mau mengaminkan, tapi menolak doa juga nggak berani.

Datang salah seorang pamanku dari Kepulauan Riau. Dia memberikan amplop padaku. Pamanku yang satu ini mahir membuat pantun.

“Bulan puasa memakan kurma. Satu butir untuk berdua. Yang menunggu lama-lama. akhirnya bersanding penuh bahagia.”

“Eaaak,” sahut Can di depan paman kami berdua.

“Langit membentang warnanya biru. Datang hujan menimpa batu. Selamat menempuh hidup baru. Semoga bahagia sepanjang waktu.” Aku tersenyum mendengar pantun pamanku.

“Eaak, eaak, eaak.” Makin menjadi tingkah Cantika. Gusti Allah, paringi hamba sabar.

“Can juga punya pantun, Om.” Dia nggak mau kalah.

“Apa?” tanya kami kompakan. Baru aku tahu kalau sepupu jauhku ini pandai juga bersilat lidah.

“Tanam jengkol di tepi bukit.” Habis itu Can diam aja.

“Terus?” tanya kami semua karena saking penasarannya.

“Ngapain nanam jengkol sampai ke tepi bukit. Mending beli di pasar, ha ha ha.” Tawa Can pecah seketika. Lucu? Kayaknya lucu, buktinya omku tertawa sama istrinya.

“Buah kelapa jatuh ke sungai.” Om kami masih lanjut pantun.

“Terus?” tanya Can.

“Byur jatuh hanyut dibawa air.” Beliau masih tak mau kalah.

Kemudian mamaku datang. Beliau mengatakan MUA sudah harus merias ulang kami berdua. Siang nanti kami akan bersanding sampai tamu undangan pulang. Muka Can terlihat malas sekali. Soal uang aja dia cepat.

“Can, nggak, nyangka, loh. Akhirnya kamu juga yang jadi menantu Tante. Kalau tahu gini, dari habis kamu tamat SMA udah diajak nikah.” Mamaku memang akrab dengan mama Cantika.

“Jangan, Tante, jangan, Can masih kecil,” jawab anak ini absurd.

Kecil apanya? Makan sebanyak itu nggak sadar diri. Mamaku pergi duluan mengurus yang lain. Kami berdua menunggu sampai benar-benar dipanggil oleh MUA.

“Mas, pernikahan kita ini sandiwara apa beneran?” tanya adik sepupuku. Entahlah, aku pun bingung harus jawab apa.

Bersambung …

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED