Matahari pagi menyusup masuk melalui celah gorden mewah, menyinari kamar pengantin yang semalam terasa dingin. Anya terbangun dengan kepala berat, sisa-sisa tangisan semalam masih membekas di kelopak matanya yang bengkak. Ia melirik ke arah sofa. Kosong. Reza sudah tidak ada di sana. Ruangan terasa sunyi, hanya suara AC yang mendesau pelan.
Anya bangkit dari ranjang, merapikan selimut yang tak terpakai, seolah tak ada yang pernah tidur di sana. Ia melangkah ke kamar mandi, membasuh wajahnya dengan air dingin, mencoba menghapus jejak kesedihan. Di cermin, ia melihat pantulan dirinya: seorang wanita yang baru saja menikah, namun tanpa sorot bahagia sedikit pun. Ia adalah Anya Wijaya sekarang, bukan lagi Anya Pramudita. Nama belakang itu terasa asing, seperti gaun pengantin yang ia kenakan kemarin, indah namun tak terasa pas di tubuhnya.
Setelah mandi dan berpakaian, Anya keluar dari kamar. Ia merasa bingung. Haruskah ia ke dapur? Haruskah ia menunggu dipanggil? Rumah ini terasa asing, meskipun ia tahu ini adalah bagian dari penthouse mewah milik Wijaya Corp, tempat ia akan tinggal bersama Reza.
Suara langkah kaki mendekat, dan tak lama kemudian, pintu kamar terbuka. Helena, Nyonya Besar Wijaya, masuk dengan senyum tipis di bibirnya. Ia mengenakan blus sutra berwarna pastel dan rok pensil yang rapi, tampak elegan seperti biasa.
"Sudah bangun, Sayang?" sapa Helena, suaranya terdengar ramah, namun ada nada pengawasan yang terselip di sana. "Reza sudah menunggu di ruang makan. Kita sarapan bersama."
Anya mengangguk. "Baik, Nyonya Helena."
"Panggil saja Mama," kata Helena, senyumnya semakin lebar. "Kau sudah menjadi bagian dari keluarga kami sekarang."
Kata "Mama" terasa haku dan aneh di lidah Anya. Ia tak bisa membayangkan memanggil wanita ini dengan sebutan sehangat itu. "Baik, Ma." Ia memaksakan senyum tipis.
Mereka berjalan menuju ruang makan. Ruangan itu besar dan mewah, dengan meja makan panjang yang terbuat dari kayu jati ukiran. Reza sudah duduk di sana, membaca koran bisnis dengan wajah datar. Tuan Wijaya juga sudah ada, sibuk dengan tabletnya. Suasana pagi itu terasa sangat formal, jauh dari kehangatan keluarga.
"Selamat pagi, semuanya," sapa Helena, duduk di kursinya.
"Pagi," sahut Tuan Wijaya tanpa mengangkat kepala.
Reza hanya melirik sekilas, lalu kembali pada korannya. Seolah Anya tidak ada di sana. Anya merasakan hatinya berdenyut sakit, namun ia berusaha mengabaikannya. Ini adalah awal dari kehidupannya yang baru, dan ia harus terbiasa dengan kepalsuan ini.
Seorang pelayan muncul, membawa berbagai hidangan sarapan: roti panggang, telur, daging asap, buah-buahan segar, dan berbagai kue-kue kecil. Anya mengambil sehelai roti dan sedikit buah, selera makannya hilang entah kemana.
"Bagaimana tidurmu, Anya?" tanya Helena, suaranya renyah.
Anya merasakan tatapan Reza yang menusuknya. Ia tahu Reza sedang menunggu jawabannya. "Nyenyak, Ma. Terima kasih." Ia melirik Reza. Pemuda itu mengernyitkan dahi, seolah tak percaya.
Helena tersenyum puas. "Baguslah. Nanti sore, kita akan menjenguk orang tuamu, ya. Mereka pasti senang melihatmu."
Anya mengangguk. Ia tahu itu hanya formalitas belaka, sebuah cara untuk menunjukkan pada dunia bahwa mereka adalah keluarga yang harmonis.
Selama sarapan, percakapan didominasi oleh Tuan Wijaya dan Helena, membahas berita bisnis terbaru, merger perusahaan lain, dan rencana ekspansi Wijaya Corp. Reza sesekali menanggapi dengan singkat, sementara Anya hanya mendengarkan, mencoba mencerna semua informasi yang begitu asing baginya. Ia adalah orang luar di meja ini, di keluarga ini.
"Reza, nanti setelah ini kau temani Anya melihat-lihat rumah," perintah Helena. "Dia harus tahu di mana letak semuanya. Kalian akan tinggal di sini sementara, sebelum rumah baru kalian siap."
Reza menurunkan korannya. "Baik, Ma." Suaranya datar, tanpa antusiasme sedikit pun.
Setelah sarapan, Reza bangkit. "Ayo," katanya singkat kepada Anya.
Anya mengangguk, lalu mengikuti Reza. Mereka berjalan melewati koridor-koridor panjang, melewati ruang tamu yang mewah, ruang keluarga yang luas, hingga ke perpustakaan yang berisi ribuan buku. Reza menjelaskan setiap ruangan dengan nada tanpa emosi, seolah ia sedang memberikan tur kepada turis asing.
"Ini ruang kerjaku," kata Reza, membuka pintu sebuah ruangan. Di dalamnya, ada meja kerja besar, komputer canggih, dan rak-rak buku yang penuh dengan buku-buku bisnis dan hukum. "Kau bisa menggunakan ruangan ini jika kau butuh tempat untuk bekerja."
Anya melirik. "Aku punya ruang kerjaku sendiri di rumah. Tapi terima kasih."
Reza mengangkat bahu. "Terserah kau."
Mereka terus berjalan, hingga tiba di area kamar tidur. Ada beberapa kamar kosong di sana, dengan pemandangan kota yang menakjubkan.
"Ini kamar kita," kata Reza, menunjuk sebuah pintu ganda. "Dan ini... kamar tamu di sebelah, jika kau ingin tidur terpisah."
Anya menatapnya. "Kau serius?"
Reza mengangguk. "Aku tahu ini bukan pernikahan yang kita inginkan. Aku tidak akan memaksamu untuk... berbagi ranjang jika kau tidak mau."
Anya merasakan sedikit kelegaan bercampur dengan rasa hampa. Kelegaan karena ia tidak harus berpura-pura lebih jauh, hampa karena ia tahu betapa rusaknya hubungan mereka bahkan sebelum dimulai.
"Terima kasih," kata Anya pelan. "Aku akan menggunakan kamar tamu."
Reza mengangguk. "Baiklah. Jika kau butuh sesuatu, panggil saja pelayan. Mereka akan membantumu." Ia lalu berbalik. "Aku ada rapat. Sampai nanti."
Dan dengan itu, Reza pergi, meninggalkan Anya sendirian di lorong yang sunyi. Anya membuka pintu kamar tamu yang ditunjuk Reza. Kamar itu sama mewahnya dengan kamar utama, namun terasa lebih dingin dan sepi. Inilah realitasnya. Ia adalah istri Reza, namun mereka akan hidup terpisah, dalam satu atap yang sama.
Beberapa hari berikutnya, hidup Anya di rumah Wijaya terasa seperti berada dalam sangkar emas. Ia memiliki segala kemewahan yang bisa dibayangkan, namun kebebasannya sangat terbatas. Helena selalu punya jadwal untuknya: makan siang bersama sosialita, kunjungan ke acara amal, atau sekadar minum teh dengan kerabat jauh. Setiap pertemuan adalah kesempatan bagi Helena untuk memperkenalkan Anya sebagai menantu barunya yang "cerdas dan berkelas," seolah Anya adalah piala yang baru saja mereka menangkan.
Anya dengan sabar menjalani semua itu. Ia tersenyum, mengobrol, dan menjawab pertanyaan dengan anggun. Ia tahu ini adalah bagian dari perannya. Ia harus terlihat sempurna, tanpa cela, untuk menjaga citra keluarga Wijaya dan juga agar Pramudita Global bisa mendapatkan suntikan dana yang dijanjikan.
Namun, setiap malam, setelah semua kepalsuan itu berakhir, Anya kembali ke kamar tamunya yang sepi. Ia menghabiskan malam dengan membaca buku, atau terkadang, diam-diam menyelinap ke ruang kerja orang tuanya yang ia bawa serta, mengecek email dan laporan keuangan Pramudita Global. Kondisi perusahaan masih sangat kritis. Dana yang dijanjikan keluarga Wijaya belum juga cair sepenuhnya, hanya sebagian kecil yang mereka berikan sebagai "tanda jadi."
Reza, di sisi lain, sangat jarang terlihat. Ia pergi pagi-pagi sekali dan sering pulang larut malam. Jika pun ada, mereka hanya berpapasan di ruang makan saat sarapan atau makan malam, dan itupun hanya ada keheningan di antara mereka. Reza menjaga jarak, dan Anya pun tidak berusaha mendekat. Mereka adalah dua orang asing yang dipaksa hidup bersama.
Suatu sore, saat Anya sedang membaca buku di taman belakang, ia mendengar suara tawa riang dari kolam renang. Ia melirik, dan melihat Reza sedang berenang bersama seorang wanita. Wanita itu memiliki rambut panjang berwarna cokelat madu, tawanya renyah dan lepas. Kirana.
Hati Anya mencelos. Ia tahu Kirana adalah kekasih Reza, namun melihat mereka berdua begitu dekat, begitu bahagia, di rumahnya sendiri, rasanya tetap menyakitkan. Ada rasa terkhianati yang Anya sendiri tidak mengerti mengapa ia merasakannya. Ia tidak mencintai Reza, jadi mengapa ia harus merasa sakit?
Anya buru-buru memalingkan wajah, kembali pada bukunya, berpura-pura tidak melihat apa-apa. Ia merasakan pipinya memanas. Ini adalah realitas yang harus ia hadapi. Reza akan membawa Kirana ke rumah ini. Ini adalah rumah Reza, dan ia tidak memiliki hak untuk melarangnya.
Beberapa saat kemudian, ia mendengar langkah kaki mendekat.
"Hai, Anya," sapa suara lembut.
Anya mendongak. Kirana berdiri di depannya, mengenakan gaun pantai yang tipis, rambutnya basah dan meneteskan air. Senyumnya ramah, namun ada gurat sedih di matanya.
"Hai, Kirana," balas Anya, berusaha terdengar setenang mungkin.
Kirana duduk di kursi di samping Anya. "Aku tahu ini mungkin canggung, tapi aku ingin bicara denganmu."
Anya menutup bukunya. "Silakan."
Kirana menarik napas dalam-dalam. "Aku tahu kau tidak mencintai Reza. Dan aku tahu Reza tidak mencintaimu. Dia mencintaiku." Suaranya bergetar. "Aku hanya ingin kau tahu, aku tidak akan menyerah pada Reza. Aku akan berjuang untuknya."
Anya menatap Kirana, ada rasa kasihan yang tulus di hatinya. Kirana adalah korban lain dalam drama ini. "Aku tidak akan menghalangimu, Kirana," kata Anya lembut. "Aku tidak pernah menginginkan pernikahan ini. Kau harus tahu itu. Aku hanya... terpaksa."
Air mata mulai menggenang di mata Kirana. "Aku tahu. Reza sudah menceritakan semuanya. Tentang perusahaanmu yang bangkrut, dan bagaimana orang tuanya menggunakan itu untuk memaksanya menikahimu."
Anya merasakan sedikit kelegaan. Setidaknya Kirana tahu bahwa ia bukan penjahat dalam kisah ini. "Aku minta maaf atas semua ini. Aku tahu ini sulit bagimu."
Kirana mengusap air matanya. "Sulit itu understatement, Anya. Aku sudah bersama Reza sejak SMA. Kami punya begitu banyak rencana." Ia terdiam sejenak. "Aku hanya berharap... kau tidak akan jatuh cinta padanya. Aku tidak bisa membayangkan jika aku harus bersaing denganmu."
Anya tersenyum tipis, senyum yang getir. "Kau tidak perlu khawatir tentang itu, Kirana. Aku tidak percaya pada cinta. Dan bahkan jika aku percaya pun, aku tidak akan pernah jatuh cinta pada pria yang menganggapku sebagai beban, atau alat."
Kirana menatap Anya dengan sedikit keterkejutan, seolah baru pertama kali ia melihat sisi lain dari Anya yang selama ini terlihat sempurna dan tanpa cela. "Kau... kau terdengar sangat sedih."
Anya mengangkat bahu. "Memang. Siapa yang tidak sedih jika harus menikah dengan cara seperti ini? Tapi, hidup harus terus berjalan, kan?"
Reza muncul dari dalam rumah, memakai kaus dan celana pendek. Ia melihat Anya dan Kirana sedang berbicara, dan ekspresinya sedikit tetidur. "Ada apa?" tanyanya.
Kirana buru-buru berdiri. "Tidak ada apa-apa, sayang. Aku hanya mengobrol dengan Anya."
Reza melirik Anya. Anya hanya mengangguk, tanpa berkata apa-apa. Ia tak ingin memperkeruh suasana.
"Kalau begitu, aku harus pergi sekarang," kata Kirana, memaksakan senyum pada Reza. "Sampai nanti."
Kirana pergi, meninggalkan Anya dan Reza dalam keheningan yang canggung.
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Reza, suaranya terdengar dingin.
"Tidak ada yang penting," jawab Anya. "Hanya obrolan perempuan."
Reza menghela napas. "Dengar, Anya, aku tahu ini sulit. Tapi aku tidak ingin kau mengganggu hubunganku dengan Kirana. Dia adalah segalanya bagiku."
Anya merasakan amarah membuncah di dadanya. "Mengganggu? Aku tidak melakukan apa-apa! Aku sudah bilang padanya bahwa aku tidak akan menghalangimu. Dan lagi, siapa yang mengganggu siapa? Aku yang dipaksa menikah denganmu, Reza! Aku yang terjebak dalam semua ini!"
Reza terdiam, matanya menatap tajam ke arah Anya. Ada kilatan penyesalan di sana, atau mungkin hanya kelelahan. "Aku tahu," katanya pelan. "Aku tahu ini semua salah. Tapi... aku tidak bisa mengubahnya."
"Jadi, kau akan terus membawa Kirana ke sini?" tanya Anya, suaranya bergetar. "Ke rumah ini? Apa kau tidak memikirkan bagaimana perasaan orang tuamu? Bagaimana perasaan orang lain jika melihat ini?"
Reza mengusap wajahnya dengan kasar. "Aku tidak peduli apa kata orang lain! Dan orang tuaku... mereka yang memulai semua ini!" Ia berhenti sejenak, lalu menatap Anya. "Lagipula, kita sudah sepakat, kan? Ini hanya perjanjian. Kita tidak akan mencampuri urusan pribadi masing-masing."
Anya terdiam. Kata-kata Reza menamparnya. Ia memang yang mengatakan itu. Ia yang mengatakan bahwa mereka harus menjalani ini sebagai sebuah perjanjian, tanpa melibatkan perasaan. Tapi entah mengapa, melihat Reza dan Kirana begitu dekat, begitu mesra, membuatnya merasa lebih sakit dari yang ia bayangkan.
"Baiklah," kata Anya, suaranya lirih. "Aku mengerti."
Reza mengangguk, lalu berbalik dan pergi. Anya ditinggalkan sendirian lagi di taman, dengan hati yang hancur berkeping-keping.
Pramudita Global tetap menjadi beban pikiran utama Anya. Meskipun ia telah menyandang nama Wijaya, dan keluarga Wijaya telah menjanjikan suntikan dana, kenyataannya tidak semudah itu. Setiap kali Anya bertanya kepada Tuan Wijaya tentang progres pencairan dana, ia selalu mendapatkan jawaban yang sama: "Sedang dalam proses, Anya. Ada banyak prosedur yang harus dilewati."
Sementara itu, perusahaan keluarganya semakin terpuruk. Anya mencoba mencari solusi lain. Ia diam-diam menghubungi beberapa kenalan lama di dunia startup teknologi, meminta saran dan peluang. Ia ingin membuktikan bahwa ia bisa menyelamatkan perusahaannya sendiri, tanpa bergantung sepenuhnya pada belas kasihan keluarga Wijaya.
Suatu malam, Anya sedang bekerja di ruang kerjanya yang ia bawa dari rumah. Ia sedang menyusun proposal bisnis baru, mencari celah untuk Pramudita Global. Ia ingin mengubah lini bisnis, mungkin fokus pada teknologi yang selama ini ia kuasai, daripada terpaku pada bisnis manufaktur tradisional yang kini lesu.
Pintu terbuka, dan Reza masuk. Anya terkejut. Ini adalah pertama kalinya Reza datang ke ruang kerjanya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Reza, mendekati mejanya.
"Bekerja," jawab Anya singkat, mencoba menyembunyikan dokumen-dokumennya.
Reza melirik layar laptop Anya. Ada beberapa grafik keuangan dan analisis pasar yang terbuka. "Kau masih mengurus Pramudita Global?"
Anya mengangguk. "Tentu saja. Itu adalah tanggung jawabku."
Reza terdiam sejenak. "Aku dengar dari Ayah, kau sering bertanya tentang dana perusahaan."
"Ya. Karena dana itu belum cair sepenuhnya," kata Anya, ada nada kesal dalam suaranya. "Perusahaan kami sedang sekarat, Reza. Mereka berjanji akan membantu."
Reza menghela napas. "Ayah memang sengaja menunda-nunda. Dia ingin memastikan kau benar-benar patuh. Dan juga... dia ingin melihat seberapa jauh kau bisa berusaha sendiri."
Anya menatap Reza tak percaya. "Jadi, ini adalah ujian? Mereka mempermainkanku?"
Reza mengangguk pelan. "Itulah cara mereka. Mereka suka menguji orang. Dan jujur saja, mereka ingin kau fokus pada Wijaya Corp. Mereka melihat potensimu. Mereka ingin kau bekerja di sini."
Anya mengepalkan tangannya. Ia merasa marah, sangat marah. Mereka tidak hanya memperjualbelikan dirinya, tapi juga bermain-main dengan nasib perusahaannya.
"Aku tidak akan menyerah pada Pramudita Global," kata Anya tegas. "Dan aku tidak akan berhenti mencari cara untuk menyelamatkannya. Aku tidak akan membiarkan mereka memanfaatkanku dan perusahaan keluargaku seperti ini."
Reza menatap Anya, ada kilatan kekaguman di matanya, meskipun ia berusaha menyembunyikannya. "Kau... kau sangat gigih."
"Aku harus," jawab Anya. "Ini adalah kehormatan keluargaku. Dan aku tidak akan membiarkannya hancur."
Reza terdiam, lalu duduk di kursi di hadapan Anya. "Apa yang sedang kau coba lakukan? Kau punya rencana?"
Anya ragu sejenak, namun ia memutuskan untuk terbuka. Mungkin Reza, dengan segala koneksinya, bisa sedikit membantu. "Aku sedang menyusun rencana restrukturisasi. Aku ingin mengalihkan fokus Pramudita Global ke sektor teknologi, menggabungkan pengalaman manufaktur kami dengan inovasi teknologi. Aku yakin itu bisa berhasil."
Reza mendengarkan dengan seksama, sesekali mengangguk. "Itu ide yang berani. Dan berisiko."
"Aku tahu," kata Anya. "Tapi kita tidak punya pilihan lain. Aku sudah menghubungi beberapa mantan rekan kerjaku, mereka bersedia membantu sebagai konsultan."
Reza berpikir sejenak. "Bagaimana jika aku membantumu?"
Anya menatapnya, terkejut. "Membantuku? Kau?"
"Ya," kata Reza. "Aku punya beberapa koneksi di dunia investasi teknologi. Dan aku juga tahu sedikit tentang restrukturisasi perusahaan. Aku bisa membantumu menyusun proposal yang lebih kuat, atau bahkan mencarikan investor lain di luar keluarga Wijaya."
Hati Anya berdebar. Tawaran Reza sangat menggiurkan. Namun, ia juga merasa curiga. Mengapa Reza tiba-tiba ingin membantunya?
"Mengapa kau ingin membantuku?" tanya Anya curiga. "Bukankah kau tidak peduli?"
Reza menghela napas. "Aku memang tidak peduli dengan pernikahan ini, Anya. Tapi aku tidak suka melihat bagaimana orang tuaku memperlakukanmu. Aku tidak suka melihat mereka bermain-main dengan nasibmu dan perusahaan keluargamu. Dan lagi... aku tahu kau serius. Kau berbeda dari kebanyakan orang yang pernah kutemui."
Anya menatapnya, mencari kebohongan di matanya, namun ia tidak menemukannya. Ada kejujuran di sana. Atau setidaknya, Reza sedang mencoba untuk jujur.
"Aku tidak akan mencampuri urusan pribadimu," kata Anya. "Aku tidak akan bertanya tentang Kirana. Tapi jika kau bersedia membantuku dalam masalah ini... aku akan sangat berterima kasih."
Reza mengangguk. "Deal. Anggap saja ini sebagai... bentuk kompromi di antara kita. Kita akan bekerja sama untuk menyelamatkan perusahaanmu, dan kau akan berpura-pura menjadi istriku yang sempurna di depan orang tuaku."
Anya tersenyum tipis, senyum pertama yang tulus sejak pernikahan itu. "Deal."
Malam itu, untuk pertama kalinya, Anya dan Reza bekerja sama, bukan sebagai suami istri, melainkan sebagai rekan kerja. Mereka membahas strategi, menganalisis data, dan bertukar pikiran. Anya menemukan bahwa Reza, di balik sikap dinginnya, sebenarnya cukup cerdas dan memiliki pemahaman yang baik tentang dunia bisnis. Ia juga menyadari bahwa Reza tidak seburuk yang ia kira. Ia hanya terjebak, sama seperti dirinya.
Hari-hari berikutnya, hubungan Anya dan Reza mulai berubah, sedikit demi sedikit. Mereka masih tidur di kamar terpisah, dan Reza masih sesekali bertemu Kirana, namun mereka mulai menghabiskan lebih banyak waktu bersama untuk membahas proyek Pramudita Global. Diskusi mereka tidak lagi canggung atau dipenuhi ketegangan. Mereka mulai berbicara tentang hal-hal lain di luar bisnis, tentang buku, tentang musik, tentang impian yang mereka miliki sebelum kehidupan membelokkan mereka.
Anya menemukan bahwa Reza memiliki selera humor yang gelap, dan ia bisa membuatnya tertawa, sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan. Ia juga melihat sisi lain dari Reza, sisi yang peduli dan protektif, terutama ketika Reza membela ide-idenya di hadapan Tuan Wijaya yang skeptis.
"Ide Anya ini cukup inovatif, Yah," kata Reza suatu sore, saat mereka makan malam bersama Tuan dan Nyonya Wijaya. Anya baru saja mempresentasikan garis besar rencana restrukturisasi Pramudita Global. "Transformasi ke teknologi adalah langkah yang tepat. Banyak perusahaan tradisional yang gagal karena enggan beradaptasi."
Tuan Wijaya mengerutkan kening. "Tapi itu risiko besar, Reza. Pramudita Global tidak punya pengalaman di bidang itu."
"Anya punya," sahut Reza cepat. "Dia sudah membangun startup teknologi yang sukses. Dia punya visi dan kemampuan untuk mewujudkannya."
Helena menatap Anya dengan sedikit kejutan. Ia tidak menyangka Reza akan membela Anya sekuat itu. "Tapi Reza, bukankah lebih baik jika Anya fokus pada Wijaya Corp saja? Kita bisa menyelamatkan Pramudita Global dengan cara lain."
"Kita tidak bisa terus-menerus menunda pencairan dana, Ma," kata Reza. "Mereka butuh kepastian. Dan Anya berhak memperjuangkan perusahaannya."
Anya menatap Reza, hatinya menghangat. Ia merasa Reza benar-benar ada di pihaknya. Itu adalah perasaan yang menyenangkan, dan asing.
Tuan Wijaya akhirnya mengalah. "Baiklah, Anya. Jika kau yakin, kami akan mendukungmu. Tapi kau harus membuktikan bahwa idemu ini bisa berhasil."
Anya tersenyum lega. "Saya akan membuktikannya, Tuan Wijaya. Terima kasih."
Malam itu, saat mereka kembali ke penthouse, Anya menatap Reza. "Terima kasih, Reza. Kau sudah membantuku."
Reza mengangguk. "Itu sudah menjadi janji kita, kan?" Ada senyum tipis di bibirnya, senyum yang berbeda dari senyum palsu yang sering ia tunjukkan.
"Aku tidak tahu mengapa kau bersedia melakukan ini untukku," kata Anya pelan.
Reza menatap Anya, matanya lembut. "Mungkin karena aku melihat sesuatu yang istimewa dalam dirimu, Anya. Kau berbeda. Dan aku tidak suka melihat bakatmu terbuang sia-sia."
Hati Anya berdebar kencang. Ia tidak tahu bagaimana menanggapi pujian itu. Ia hanya tahu bahwa ada sesuatu yang mulai berubah di antara mereka. Sebuah ikatan tipis mulai terbentuk, bukan dari cinta, tapi dari rasa hormat dan pemahaman, dan mungkin... persahabatan yang tak terduga.
Namun, di tengah semua ini, bayangan Kirana selalu ada. Anya tahu, cepat atau lambat, ia harus menghadapi kenyataan bahwa hati Reza masih milik wanita lain. Dan pertanyaan itu terus menghantui Anya: akankah ikatan tipis ini cukup untuk menopang mahligai emas yang berkarat ini, ataukah akan hancur ketika diuji oleh realitas yang pahit?
Keesokan harinya, dinamika antara Anya dan Reza berubah secara signifikan. Ketegangan yang sebelumnya menyelimuti setiap interaksi mereka mulai mencair, digantikan oleh sebuah kolaborasi yang aneh namun efektif. Mereka menghabiskan berjam-jam di ruang kerja Anya, yang kini menjadi "markas" mereka, menganalisis data, merancang strategi, dan menyusun proposal.
Anya menyadari bahwa Reza memiliki pemikiran yang tajam dan pandangan bisnis yang luas, jauh melampaui citra playboy yang melekat padanya. Ia mampu melihat celah, mengidentifikasi risiko, dan menawarkan solusi yang tak pernah terpikirkan oleh Anya sebelumnya. Begitu pula sebaliknya, Reza terkesan dengan ketelitian Anya, kemampuan analitisnya yang luar biasa, serta visi inovatifnya di bidang teknologi.
"Kau yakin model proyeksi ini akurat?" tanya Reza suatu sore, menunjuk grafik di layar laptop Anya. "Penurunan pasar untuk produk manufaktur konvensional terlalu drastis di sini."
Anya menggeser kursornya. "Berdasarkan data riset pasar terbaru, trennya memang menunjukkan ke arah sana. Pergeseran ke produk yang lebih sustainable dan berteknologi tinggi semakin kuat. Pramudita Global harus berani mengambil langkah ekstrem jika ingin bertahan."
Reza mengangguk. "Logis. Tapi bagaimana dengan transisi karyawan? Kita tidak bisa begitu saja merumahkan ribuan orang yang sudah bekerja puluhan tahun di sana."
"Itulah tantangannya," Anya mengakui. "Aku sudah memikirkan program pelatihan ulang, mungkin bekerja sama dengan politeknik atau lembaga kejuruan. Kita bisa melatih mereka untuk lini produksi baru yang berbasis teknologi, atau bahkan mengalihkan beberapa ke departemen lain yang membutuhkan skill digital."
Reza menyilangkan tangan di dada, memandangi Anya dengan ekspresi kagum. "Kau benar-benar memikirkan segalanya, ya?"
Anya tersenyum tipis. "Ini perusahaan keluargaku, Reza. Dan mereka adalah orang-orang yang sudah mengabdi. Aku tidak bisa membiarkan mereka terlantar."
Reza menghela napas. "Aku mengerti. Dulu, aku tidak pernah memikirkan hal serumit ini. Pekerjaanku hanya sebatas formalitas, datang ke kantor, menandatangani dokumen, menghadiri rapat. Aku tidak pernah merasa ada tanggung jawab sebesar ini."
"Mungkin karena kau tidak pernah punya alasan kuat untuk merasakannya," kata Anya lembut. "Bagiku, ini adalah segalanya."
Reza menatapnya, ada sorot mata yang dalam, yang belum pernah Anya lihat sebelumnya. "Mungkin kau benar. Kau membuatku melihat sisi lain dari bisnis, Anya. Bukan hanya tentang keuntungan, tapi juga tentang orang-orang di baliknya."
Percakapan itu, meskipun sederhana, terasa seperti sebuah terobosan. Untuk pertama kalinya, Reza menunjukkan kerentanan, mengakui bahwa ada hal-hal yang belum ia pahami atau rasakan. Anya merasakan sesuatu yang hangat menjalar di dadanya. Ia mulai melihat Reza bukan hanya sebagai pria yang terpaksa menikahinya, tapi sebagai seseorang yang kompleks, dengan perjuangan dan pemikiran sendiri.
Di tengah fokus mereka pada proyek Pramudita Global, dinamika di rumah Wijaya tetap menjadi tantangan. Helena dan Tuan Wijaya terlihat puas dengan "kemajuan" hubungan mereka. Mereka sering memuji Anya di depan publik, menyebutnya "menantu idaman" yang membawa aura baru ke dalam keluarga. Pujian itu terasa seperti pisau bermata dua bagi Anya. Ia senang mereka percaya pada kemampuannya, namun ia tahu itu hanyalah bagian dari permainan mereka.
Meskipun Reza dan Anya menghabiskan banyak waktu bersama, mereka tetap menjaga jarak fisik. Kamar tamu masih menjadi tempat tidur Anya, dan mereka selalu bersikap profesional saat ada orang lain di sekitar. Namun, garis batas antara formalitas dan kedekatan personal mulai samar. Mereka mulai berbagi cerita pribadi, tawa, bahkan keluhan tentang orang tua mereka.
Suatu malam, setelah menyelesaikan revisi proposal, Anya menguap. "Sudah larut sekali. Aku harus tidur."
Reza mengangguk. "Ya, aku juga. Aku akan siapkan beberapa data tambahan besok pagi."
Anya membereskan mejanya, lalu berdiri. Ketika ia berbalik, ia melihat Reza menatapnya. Tatapannya intens, berbeda dari biasanya. Ada sesuatu yang tak terucap di sana.
"Ada apa?" tanya Anya, jantungnya berdebar tanpa sebab.
Reza menggeleng. "Tidak ada. Hanya... kau terlihat cantik, Anya."
Pujian itu membuat Anya terpaku. Pipinya merona merah. Ia tak menyangka Reza akan mengatakan hal seperti itu. Selama ini, interaksi mereka selalu tentang bisnis, tanpa ada sentuhan pribadi seperti itu.
"Terima kasih," bisik Anya, merasa canggung. Ia buru-buru berbalik, berjalan menuju pintu.
"Anya, tunggu," panggil Reza.
Anya berhenti, namun tidak berbalik.
"Kau... kau tidak menyesal, kan?" tanya Reza pelan. "Menikah denganku?"
Anya terdiam. Pertanyaan itu menohok hatinya. Ia menyesal, tentu saja. Ia menyesal karena harus menjual kebahagiaannya. Ia menyesal karena harus terjebak dalam situasi ini. Tapi ia juga tahu, ini adalah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan keluarganya.
"Menyesal itu relatif, Reza," jawab Anya, akhirnya berbalik. "Pada akhirnya, kita berdua melakukan apa yang harus kita lakukan. Tidak ada pilihan lain, kan?"
Reza tidak menjawab. Ia hanya menatap Anya dengan sorot mata yang sendu. Ada pemahaman yang mendalam di sana, rasa sakit yang mereka berdua bagi.
"Selamat malam, Reza," kata Anya, lalu buru-buru keluar dari ruangan. Ia berjalan cepat ke kamarnya, jantungnya masih berdebar. Pertanyaan Reza, dan tatapan matanya, telah mengusik ketenangannya. Ia mulai bertanya-tanya, apakah ia benar-benar bisa menjaga jarak dengan Reza selamanya?
Beberapa minggu berlalu. Proposal restrukturisasi Pramudita Global telah rampung dan diserahkan kepada dewan direksi Wijaya Corp. Reza dan Anya bekerja keras untuk itu, bahkan berhari-hari mereka sampai pulang larut malam dan makan malam di ruang kerja. Mereka menjadi sebuah tim yang tak terpisahkan.
Di tengah kesibukan itu, Kirana kembali muncul. Kali ini, ia muncul di kantor Wijaya Corp, tepat saat Anya dan Reza sedang makan siang di kantin eksekutif.
"Reza!" sapa Kirana, suaranya ceria. Ia langsung berjalan ke meja mereka, tanpa peduli tatapan ingin tahu dari karyawan lain.
Reza terlihat terkejut melihat Kirana di sana. "Kirana? Ada apa?"
Kirana tersenyum manis. "Aku hanya ingin makan siang denganmu. Aku merindukanmu." Ia melirik Anya, senyumnya sedikit memudar. "Kau tidak keberatan, kan, Anya?"
Anya merasakan sebuah gumpalan di tenggorokannya. Ia tahu Kirana punya hak untuk bersama Reza, tapi berada di tengah-tengah mereka seperti ini terasa sangat tidak nyaman. "Tentu saja tidak," kata Anya, mencoba terdengar ramah. "Aku sudah selesai. Kalian bisa makan berdua."
Anya buru-buru bangkit. "Aku harus kembali ke ruanganku. Ada beberapa hal yang harus kuselesaikan."
"Tapi, Anya..." Reza memanggilnya, ada nada protes di suaranya.
Namun Anya tidak menunggu. Ia langsung pergi, meninggalkan Reza dan Kirana berdua. Ia berjalan cepat menyusuri lorong kantor, dadanya terasa sesak. Ia merasa seperti orang ketiga, padahal ia adalah istri Reza yang sah. Ironis sekali.
Saat ia sampai di ruang kerjanya, ia mencoba melanjutkan pekerjaannya, namun pikirannya terus kembali pada pemandangan Reza dan Kirana yang sedang makan siang bersama, tertawa, dan terlihat begitu bahagia. Rasa sakit itu, rasa cemburu yang tak seharusnya ada, mulai menyelinap masuk ke dalam hatinya. Ia benci perasaan ini. Ia benci bahwa ia mulai merasakan sesuatu yang ia anggap tabu: cinta.
Beberapa saat kemudian, pintu ruang kerjanya terbuka. Reza masuk, wajahnya terlihat kesal.
"Kenapa kau pergi begitu saja?" tanya Reza, suaranya sedikit meninggi.
Anya tidak menatapnya. "Aku tidak ingin mengganggu kalian. Kalian terlihat bahagia."
Reza menghela napas. "Kau pikir aku bahagia? Kau pikir aku ingin Kirana datang ke sini dan membuat drama di depan umum?"
"Itu kekasihmu, Reza," kata Anya, akhirnya menatapnya. Matanya penuh rasa sakit. "Kau mencintainya. Dan kau selalu mengatakan itu padaku. Aku tidak bisa berpura-pura tidak melihat itu."
Reza mendekat, berdiri di depan meja Anya. "Dengar, Anya. Aku tahu ini rumit. Tapi... kita sudah sepakat untuk berpura-pura, kan? Di depan umum, kita adalah suami istri. Apa kau ingin orang tuaku tahu bahwa kita punya masalah?"
Anya tertawa getir. "Masalah? Reza, seluruh pernikahan ini adalah masalah! Kau mencintai wanita lain, aku dipaksa menikahimu, dan orang tuamu mempermainkan perusahaan keluargaku! Apanya yang bukan masalah?"
Reza terdiam. Ia menatap Anya dengan sorot mata yang tak bisa Anya baca. "Aku tahu. Aku minta maaf. Aku tidak pernah ingin kau merasakan ini."
"Tapi aku merasakannya, Reza!" seru Anya, suaranya bergetar. "Aku lelah berpura-pura. Aku lelah menjadi boneka yang sempurna. Aku lelah melihatmu bersama wanita lain, sementara aku harus menjadi istrimu!" Air mata yang sudah ia tahan mati-matian, kini mengalir deras di pipinya.
Reza terlihat terkejut melihat Anya menangis. Ia jarang sekali melihat Anya menunjukkan sisi rentannya. Ia mengulurkan tangannya, ragu-ragu, lalu menyentuh pipi Anya, mengusap air matanya dengan ibu jarinya.
Sentuhan Reza terasa hangat, dan mengejutkan Anya. Ia tidak menyangka Reza akan melakukan itu. Selama ini, sentuhan mereka sangat minim, dan selalu formal.
"Jangan menangis, Anya," bisik Reza, suaranya lembut. "Aku tidak suka melihatmu menangis."
Anya menepis tangan Reza. "Jangan sentuh aku! Jangan membuatku berpikir bahwa ada sesuatu di antara kita, Reza. Aku tidak mau merasakan ini. Aku tidak mau jatuh cinta padamu, karena aku tahu itu tidak akan pernah terbalas."
Kata-kata Anya membuat Reza terdiam. Ia menarik tangannya, wajahnya berubah menjadi muram. "Jatuh cinta? Kau pikir aku bisa membuatmu jatuh cinta, Anya?" Ada nada terluka dalam suaranya.
"Aku tidak tahu," kata Anya, suaranya serak. "Aku hanya tahu bahwa semua ini... terlalu berat bagiku. Aku mencoba untuk menjadi kuat, tapi aku juga manusia."
Reza menghela napas panjang. "Maafkan aku, Anya. Aku tidak menyadari bahwa ini akan sesulit ini bagimu. Aku... aku akan mencoba lebih berhati-hati. Aku tidak akan membawa Kirana ke sini lagi jika itu membuatmu tidak nyaman."
Anya menatapnya. Ada ketulusan di mata Reza. "Kau akan melakukannya?"
Reza mengangguk. "Ya. Aku tidak ingin membuatmu menderita lebih jauh. Ini sudah cukup sulit bagi kita berdua."
Anya merasakan sedikit kelegaan, namun juga kebingungan. Perasaan apa ini yang ia rasakan terhadap Reza? Apakah ia benar-benar mulai jatuh cinta padanya? Atau hanya sekadar perasaan nyaman karena mereka berada dalam satu perahu yang sama?
"Terima kasih," bisik Anya.
Reza mengangguk. "Sekarang, bisakah kau berhenti menangis? Aku tidak tahu bagaimana menghadapi wanita yang menangis." Ia mencoba melontarkan candaan, namun suaranya masih terdengar serius.
Anya tersenyum tipis, menghapus sisa air matanya. "Sudah."
Reza kembali ke tempat duduknya, mengambil proposal yang mereka kerjakan. "Kita harus menyelesaikan ini. Besok ada rapat penting dengan dewan direksi."
Mereka kembali bekerja, namun suasana di antara mereka telah berubah. Ada sebuah kesadaran baru, sebuah pengakuan tak terucap tentang perasaan yang mulai tumbuh di antara mereka, meskipun mereka berdua mencoba menolaknya. Garis batas antara formalitas dan kedekatan, kini semakin samar.
Rapat dewan direksi berjalan tegang. Tuan Wijaya memimpin rapat dengan wajah serius. Anya dan Reza mempresentasikan proposal restrukturisasi Pramudita Global. Anya berbicara dengan lancar dan meyakinkan, menjelaskan setiap detail rencana dengan data dan analisis yang kuat. Reza mendukungnya, menambahkan poin-poin penting dan menjawab pertanyaan-pertanyaan sulit dari para direksi.
Namun, Helena, yang juga hadir dalam rapat, terlihat tidak senang. Ia sesekali melirik Anya dengan sorot mata yang penuh perhitungan, seolah mencoba membaca apa yang sebenarnya terjadi. Ia tampaknya tidak suka melihat Anya dan Reza bekerja sama seakrab itu.
Setelah presentasi, salah satu direksi senior, Pak Hendra, mengajukan pertanyaan. "Nona Anya, ini proposal yang sangat ambisius. Kami mengagumi semangat Anda. Namun, ini juga berarti Anda akan mencurahkan sebagian besar waktu dan energi Anda untuk Pramudita Global. Bagaimana dengan komitmen Anda terhadap Wijaya Corp? Bukankah itu yang diharapkan dari seorang menantu keluarga Wijaya?"
Anya menatap Pak Hendra dengan tenang. "Saya memahami kekhawatiran Anda, Pak Hendra. Namun, saya percaya bahwa keberhasilan Pramudita Global akan membawa dampak positif yang besar bagi citra dan ekosistem bisnis Wijaya Corp secara keseluruhan. Selain itu, saya berjanji akan tetap menjalankan semua tanggung jawab saya sebagai bagian dari keluarga Wijaya. Saya akan membuktikan bahwa saya mampu menyeimbangkan kedua hal ini."
Reza menimpali. "Anya memiliki kemampuan manajemen waktu yang luar biasa, Pak Hendra. Dan saya sendiri akan ikut memantau progress Pramudita Global. Kami akan bekerja sebagai tim untuk memastikan ini berhasil."
Tuan Wijaya mengangguk. "Saya setuju dengan Reza. Kita harus memberi kesempatan pada Anya. Lagipula, ini adalah investasi besar bagi kita." Ia melirik Helena, seolah memberi isyarat.
Helena tersenyum tipis, senyum yang dingin. "Baiklah. Kami akan menyetujui proposal ini, Anya. Dana akan dicairkan secara bertahap, sesuai dengan milestone yang telah disepakati. Tapi ingat, kami akan memantau ketat setiap progresnya. Dan kami berharap, kau akan segera bisa bergabung secara aktif di Wijaya Corp setelah Pramudita Global stabil."
Anya menghela napas lega. Ia tersenyum tulus. "Terima kasih, Tuan Wijaya, Nyonya Helena. Saya tidak akan mengecewakan Anda."
Setelah rapat selesai, Anya dan Reza keluar dari ruang rapat, keduanya merasa lega.
"Kita berhasil, Reza!" seru Anya, ada kegembiraan nyata dalam suaranya.
Reza tersenyum. "Ya, kita berhasil. Kerja keras kita terbayar." Ia menatap Anya. "Kau hebat di sana, Anya. Kau sangat percaya diri dan meyakinkan."
Pujian dari Reza terasa manis di telinga Anya. "Kau juga. Dukunganmu sangat membantu."
Mereka berdua berjalan menyusuri lorong kantor, perasaan hangat mulai menyelimuti mereka. Ada rasa bangga atas apa yang telah mereka capai bersama.
Namun, di tengah perasaan itu, ada sebuah pikiran yang mengganggu Anya. Bagaimana jika ia mulai benar-benar menyukai Reza? Bagaimana jika ia mulai berharap lebih dari sekadar perjanjian? Itu adalah sesuatu yang ia coba hindari mati-matian, karena ia tahu, hati Reza masih terikat pada Kirana.
Malam harinya, saat makan malam, Helena kembali memancing.
"Anya, kau dan Reza terlihat sangat kompak belakangan ini," kata Helena, senyumnya tipis. "Mama senang melihatnya. Kau benar-benar menantu yang kami impikan."
Anya tersenyum canggung. "Terima kasih, Ma. Kami hanya... bekerja sama untuk Pramudita Global."
"Oh, hanya itu?" Helena mengangkat alis. "Mama melihat ada sesuatu yang lebih dari sekadar pekerjaan di antara kalian." Ia melirik Reza. "Benar, Reza?"
Reza meletakkan garpunya. "Mama, kami hanya fokus pada proyek. Itu saja."
Helena terkekeh. "Baiklah, baiklah. Tapi Mama harap, kalian tidak akan melupakan tugas utama kalian sebagai suami istri. Sudah waktunya kalian berdua memikirkan kelanjutan keluarga. Mama ingin segera punya cucu."
Pernyataan Helena membuat Anya tersedak makanannya. Reza terlihat kaget dan tegang. Suasana di meja makan tiba-tiba menjadi sangat canggung.
"Mama!" seru Reza, nadanya memperingatkan. "Itu bukan hal yang harus dibicarakan di meja makan."
Helena hanya tersenyum. "Apa salahnya? Itu adalah tugas seorang istri. Dan Anya adalah wanita yang cerdas, Mama yakin dia bisa mengurus keluarga dan juga bisnis."
Anya merasakan pipinya memerah padam. Ia menatap Reza, matanya meminta bantuan.
Reza menghela napas. "Ma, biar itu menjadi urusan kami. Kami akan membahasnya sendiri."
Tuan Wijaya akhirnya menengahi. "Helena, biarkan mereka. Mereka masih muda. Jangan terlalu menekan."
Helena mendengus, namun akhirnya mengalah. Namun, kata-katanya telah menanamkan benih kecemasan baru di hati Anya. Tugas seorang istri. Kelanjutan keluarga. Cucu. Semua itu adalah hal-hal yang tidak pernah ia pikirkan ketika ia setuju untuk menikah dengan Reza.
Malam itu, Anya tidak bisa tidur. Kata-kata Helena terus terngiang di benaknya. Ia tidak hanya harus berpura-pura menjadi istri Reza, tapi ia juga harus memikirkan tentang kewajiban perkawinan. Ia melihat ke kamar Reza. Lampunya masih menyala. Ia tahu Reza juga pasti memikirkan hal yang sama.
Garis batas yang sebelumnya hanya samar, kini terasa semakin nyata dan menekan. Perasaan Anya terhadap Reza mulai berkembang, namun ia tahu ia harus menahannya. Ia tidak bisa jatuh terlalu dalam, karena ia tahu hati Reza masih milik Kirana. Dan kewajiban baru ini, yang menuntut lebih dari sekadar pura-pura, akan menjadi ujian terberat bagi pernikahan mereka yang penuh kepalsuan ini.