Bab 2

Selamat Membaca

Pov Rheinata

Pagi menjelang siang, aku dan Langit sampai di depan sebuah rumah. Bangunannya kecil, tetapi halam dan dinding-dinding rumah itu seolah terawat dengan rapi. Pemiliknya pasti begitu telaten.

Aku bisa merasakan kedamaian dengan hanya berdiri mematut sekeliling. Mataku menjamah setiap rumput dan bunga yang tertata rapi. Ingin rasanya kupetik setangkai mawar untuk diletakkan di kamar tidur.

"Ayo masuk." Ardi mengajakku untuk masuk ke kediaman keluarganya. Tepatnya, tempat dia dan sang ibu hidup dengan saling mengasihi.

Tanpa ragu, kuayun langkah santai. Aku akan bertemu dengan ibu dari laki-laki yang mungkin kusuka. Artinya, aku akan filihat sebagaimana yang orang tua harapkan untuk mendampingi putranya.

Wah, apa lagi yang bersarang di kepalaku. Pikiran-pikiran nakal tentang rencana hidup bersama Ardi. Aku harus sadar, bahkan Ardi tentu saja membawaku kemari karena ia selalu bercerita soal perempuan bernama Sera. Perluku ingat, ternyata aku itu pun bukan kekasihnya. Hal ini perlu digaris bawahi.

"Rheina?" Panggilan lembut Langit membuyarkan lamunan. Rupanya diriku belum melangkahkan kaki. Bagaimana bisa aku tidak menyadari.

"I, iya, Ardi ," balasku gugup. Sejujurnya aku dilema antara malu dan bingung.

"Kenapa melamun, Rhein " Kali ini Langit bertanya seraya mengernyitkan dahi.

"Eh, tidak apa-apa, kita jadi masuk?" Mlah aku yang bertanya. Padahal sedaei tadi Langit juga sudah mengajakku ke dalam. Kenapa tiba-tiba diriku jadi tidak jelas begini.

Setelah sepakat untuk masuk ke rumah, kami mulai menaiki satu per satu anak tangga. Sessekali kamu saling melempar senyum. Kemudian, aku mebghela napas panjang.

"Ciee, ibu sibuk-sibuk menyiapkan makanan. Sudah seperti menunggu calon mantu saja." Apa, aku mendengar Ardi sedang mencandai sang ibu. Dengan jenakan dirinya menggoba ibu. Dia bilang, ibusudah seperti menunggu calon mantu saja sampai sibuk-sibuk sendiri.

Aku tau bahwa wajahku sedang bersemu merah. Hal ini kusadari saat kurasakan hawa panas menjalar di kedua pipi. Andai saja itu benar.

"Eh, kalian sudah datang, ayo masuk dulu." Ibunda Ardi segera menyongsong kami ke pintu. Wajahnya berseri dihiasi senyum teramah yang pernah kutemui setelah orang tuaku. Paling tidak, senyum orang tuaku itu pernah kulihat semasa aku kecil. Sewaktu Ardi mengenalku sebagai gadis berkepang dua.

"Jadi ini yang namanya Rheinata ? Duh, cantik sekali." Ibunda Langit menangkup pipiku menggunakan dua telapan tangannya. Aku hanya tersenyum. Namun, dia seolah mengisyaratkan sesuatu pada Ardi . Pada saat mengatakan bahwa aku cantik, ibu memandang ke arah Langit dengan memainkan ekor mata.

"Terima kasih, Bu." Tidak sopan sekali aku jika setelah dipuji, tapi tidak mengucapkan terima kasih.

Kucium punggung tangan wanita itu saat kami bersalaman. Aku merasa sedang menyalami ibuku sendiri. Tidak hanya itu, kami berdua berpelukan begitu hangat. Aku tahu, di saat yang bersamaan, Langit justru terharu melihat aku dan ibunya berpelukan.

"Oh iya, Bu, Rhein punya sesuatu untuk ibu." Setelah melepaskan pelukan, kuserahkan sebuah bingkisan cantik.

"Apa ini, Nak?" tanyanya padaku.

"Ini khusus Rhein buatkan intuk ibu." Aku tersenyum manis.

"Ehm, jadi orang istimewa itu ibu, padahal aku sudah terlalu PD, lho." Kami berdua hampir lupa, bahwa di dekat kami berdiri, masih ada Ardi sebagai pengamat.

Aku dan ibu hanya tertawa mendengar celotehannya. Kami saling meledek. Pada akhirnya, lagi-lagi melahirkan tawa.

"Kita duduk dulu, yuk." Kami bertiga pun duduk. Tidak di sofa tamu. Bukan juga di meja makan. Akan tetapi, kami duduk di atas karpet yang terbentang. Di tengahnya terletak sebuah meja osin bundar.

Sederhana memang, tapi aku mememukan kenyamanan di tengah-tengah mereka. Hidup berdua, tetapi harmonis. Kurasa rumah ini jauh dari kata sepi, meskipun hanya dihuni dua makhluk Tuhan yang istimewa.

"Dibuka dong, Bu, hadiahnya. Itu Sera sendiri yang buat. Semoga ibu suka." Perlahan ibu membuka tutup kotak yang dihiasi bunga warna biru muda itu.

"Wah, bagusnya." Ibu mengeluarkan sebuah syal. Benda itulah yang kurajut semalam suntuk.

Kurain syal itu dari tangan wanita tua yang tidak lain adalah ibu dari lelaki terdekat denganku saat ini. Lipatannya kuurai. Setelah itu kupasangkan secara melingkar di lehernya. Kami tersenyum. Dia pun untuk kesekian kalinya membelai pipiku.

"Terima kasih ya, Cantik, ini sangat berguna bagi ibu yang sudah tua." ucapnya lembut.

"Rhein juga berterima kasih atas makanan-makanan yang ibu kirimkan di saat Rhein sakit. Makanan-makanan itu lezat, Bu." Sepantasnya aku berterima kasih atas makanan-makanan itu. Wanita yang kantung matanya sudah turun ini terlalu baik, bahkan di saat kamu belum pernah bertemu atau berkenalan secara langsung.

"Syukurlah kalau kamu suka masakan ibu, Nak. Oh iya, tadi ibu juga membuat beberapa camilan untuk kita." Bergegaslah wanita tua itu pun bergegas mengambil camilan-camilan yang ia maksud.

Wanita itu menyajikan makanan itu di meja osin tempat aku, ibu, dan Langit duduk. Baru saja terletak di meja, langung saja tangan Langit bersiap. Seketika itu pula ibu menahan tangannya.

"Biar tamu kita dulu yang ambil." Ibu melototi putra sematawayangnya. Melihal hal tersebut, aku jadi tertawa.

"Tidak apa-apa, Bu." Aku tidak keberatan jika Ardi ingin mengambilnya terlebih dahulu. Biarkan saja, sebab melihat kedekatan dan kehangatan antara ibu dan anak ini, aku jadi terhibur.

Diiringi canda tawa, kami asyik mengunyah dalam rangka menghabiskan kudapan yang disajikan ibu. Cerita-cerita kami tidak terlepas dari Ardi kecil, ayah yang meninggalkan keluarga , dan keluarga ini secara umum. Tidak ketinggalan juga ibu mengisahkan kenakalan kanak-kanak bernama Langit.

Kami tertawa geli ketika tiba pada momen-momen lucu yang dikisahkan dari mulut ibu. Sampai akhirnya, waktu makan siang hampir tiba. Ibu mngajakku ikut memasak di dapur bersama.

"Memangnya kamu bisa masak?" ledek Ardi seraya menjawil lenganku.

"Idih, belum tahu dia." Kami berdua tertawa. Duh, rumah ini nyatanya umpama bonaza bagi kehidupan siapa pun yang tinggal dan singgah.

Tidak membiarkan ibu menunggu, aku segera mengikutinya ke dapur. Dapurnya saja sebersih itu. Pantaslah ibu sangat senang melakoni aktivitas masak memasak.

Sambil memasak, kami mengobrolkan banyak hal. Aku juga merasa lapang setelah mengutarakan hal-hal pribadi dalam hidupku. Dia juga memintaku agar menganggapnya sebagai ibuku sendiri.

Setelah menu makan siang siap disajikan, kami menatanya sedemikian rupa pada meja yang tadinya ditempati kudapan. Ini untuk pertama kalinya kami makan bersama. Namun, hatiku merasa ingin momen ini tetap ada bersamanya.

Selesai makan siang dan sejenak mengobrol, satu kuapan hadir. Tidak lama kemudian, disusul lagi kuapan kedua. Oh, aku mulai mengantuk.

Awalnya aku ingin pulang saja. Namun, Ardi sedang pergi keluar. Katanya tadi hanya sebentar.

Seringnya kuapan dan didukung mata merah, ibu paham bahwa aku mengantuk. Sambil menunggu Langit, ibu menyilakanku beristirahan siang di sana. Wanita baik hati itu memperlakukanku bagai seorang anak gadisnya, bahkan aku sampai diambilkan bantal agar dapat beristirahat dengan nyaman.

Bersambung

Bab 3

Selamat Membaca

"Bagaimana keadaan sampean?" tanyaku setiba dalam ruangan.

"Alhamdulillah, mulai membaik."

Aku mengangguk mendengar jawaban temanku Bara. Selepas lelaki itu menyapa, aku urung meninggalkan bangsal rawat inap ini, memilih masuk ruangan, lalu berbasa-basi menanyakan keadaannya.

"Tidak ada sakit di bagian dalam? Area kepala? Bahu? Atau lainnya?" tanyaku lagi.

"Tidak ada. Kalau ada, hanya bekas benturan aja. Insya Allah saya baik-baik saja, Ar ... maaf. Bu Dokter." Bara tersenyum, pandangannya mengarah pada snelli di genggaman dokter wanita yang cantik itu.

Dokter wanita itu tersenyum simpul membalas, dalam hati bersyukur, setidaknya tak butuh waktu lama untuk Bara segera pulih. "Oh ya, saya benar-benar minta maaf soal kecelakaan itu. Saya ceroboh."

"Tidak apa, saya juga ceroboh karena tidak konsen bekerja ."

Dokter wanita cantik itu bergumam sambil mengangguk. Entah kenapa aku canggung, mungkin karena gaya bicara Bara yang singkat dan tenang membuatku mendadak kehabisan kosakata. Mungkin juga aku tidak biasa berbicara dengan orang baru apalagi lawan jenis.

Sekalipun pekerjaan dokter itu membawanya menemui banyak orang, tetapi mayoritas adalah kaum perempuan, bayi, balita juga remaja di bawah 18 tahun. Lagi-lagi gambaran masa lalu lah hal yang mendasarinya.

Bahkan untuk Bara, butuh satu tahun lebih membuatku percaya dia orang baik, dan menjadikannya teman. Selebihnya, untuk dokter wanita lain, aku menyapa formal dan bila ada kepentingan saja.

Tak lama, seorang suster datang membawa nampan berisi makan sore. Suster bernama Nia itu menyapa Bara sebelum meletakkan makanan di nakas. "Makan sorenya, Pak Bara," ucapnya.

Bara mengangguk dan berterima kasih. Setelahnya Suster Nia melakukan pengecekan tensi darah, infus dan luka di kepala Bara.

"Saya bisa pulang hari ini, Sus?" tanya Bara. Membuat Suster Nia mengerut dahi.

Aku sendiri tak kalah mengerut dahi, heran. Baru semalam dirawat sudah bertanya pulang? Aku meyakini keadaannya belum stabil, mengingat lukanya termasuk luka sedang. Lebam dan lecet di wajahnya saja masih kentara dan luka bekas tembakan di kakinya.

"Belum, Pak. Luka di kepala Pak Bara butuh pengawasan dokter biar tidak infeksi, juga bahu Pak Bara yang butuh terapi supaya kembali seperti semula. Kalau Pak Bara mau tanya kepastian kapan pulang, nanti nunggu dokter saja." Penjelasan Suster Nia membuat wajah Hayyid terlihat kecewa, ia mengembus napas.

"Ya, terima kasih, Sus."

Suster Nia berpamit bersamaan dengan dokter cantik itu. Tak lama, dering ponsel Bara terdengar, lelaki itu hanya menilik lalu memilih mengabai, mengamati sampai dering berakhir dengan sendirinya.

Tidak ingin terjebak situasi yang tidak enak, di mana Bara benar-benar tampak gelisah dan sepertinya mempunyai masalah, aku pun berdeham.

"Saya ... pamit dulu, Pak Bara. Saya harus bertugas," pamit dokter wanita cantik itu.

Pandangan Bars yang tadinya mengarah ke ponselnya beralih pada dokter itu. Ia mengangguk menanggapi. "Silakan, Bu Dokter," ucap Bara.

"Ya, cepat sembuh. Assalamualaikum."

"Aamiin. Waalaikum salam."

Dokter wanita itu meninggalkan ruang ini menuju ruangannya di lantai bawah. Sesampai poli, kudapati sudah ada beberapa pasien yang mengantre. Dokter itu mengangguk sebelum masuk ruangan.

Di dalam ada asisten dokter yang membantunya tengah menyiapkan dan menata alat-alat penunjang. Juga ada seorang lelaki.

"Hai," sapanya yang bangkit dari duduk di depan meja kerjaku.

"Hai," sapa ku. Lelaki tersenyum.

"Ditunggu Dokter Azlan dari tadi, Dok," ucap Yuna asisten dokter wanita sembari tersenyum.

"Kamu mau konsultasi apa, Azlan ? Perihal Gizi?" tanyanya sembari duduk, merapikan meja, memindahkan beberapa map ke sisi lain.

Dari ekor mata, dokter yang memakai snelli itu tertawa kecil. "Ini." Sesuatu Azlan letakkan di meja lalu menggeser ke hadapannya .

Gerakan tangannya terhenti, menatap sebuah kotak berukuran kurang lebih 10×9 senti. "Apa ini?" tanya dokter wanita.

"Open it!"

Dokter meraih kotak itu, membuka lalu melihat sebuah jam tangan merk ternama, yang harganya jangan ditanya berapa, pun untuk mendapatkannya harus memesan jauh-jauh hari. "Azlan , ini--"

"Yes. Just for you."

"Kamu -"

"Bintang . Jangan tanya kenapa. Untuk hari ini hanya itu yang bisa kuberikan."

Suasana mendadak hening, beberapa saat sempat terpecah saat Hanggini berpamit mengecek daftar pasien di luar. Setelah itu hening lagi.

"Azlan , sudah jam-nya aku bertugas, pasienku menunggu." Dokter wanita itu mengalihkan pembicaraan.

"Wait. Beri aku kesempatan bicara." Azlan menarik napas dalam. "Aku berharap segera tiba waktunya memberi hadiah yang bagiku sangat berarti. Di mana aku bisa memberikan cincin bukti--"

"Azlan . Udah, ini bukan waktunya bahas hal seperti itu."

"Aku bukan anak Kiai, Bin. Ayahku orang Semarang, Ibuku dari Jerman. Mungkin itu salah satu alasanmu tidak bisa menerimaku sampai hari ini."

"Bukan, Azlan . Aku juga bukan anak Kiai. Kamu tahu itu. Aku hanya anak seorang perempuan yang berhasil mendirikan pesantren dengan jerih payahnya sendiri, dengan keringat dan kekuatan tanpa siapa-siapa yang mendukung."

Azlan mengangguk, sedang aku langsung menunduk, merasai sesuatu di pelupuk hampir luruh. Dada dokter itu mendadak serasa menyempit hingga susah bernapas. Ingat perjuangan Ibu untuk sampai di titik ini.

Ini tidak seperti kisah Roro Jonggrang, Bandung Bondowoso dan Candi Prambanannya yang bisa dibangun dalam satu malam. Butuh waktu nyaris 20 tahun bagi Ibu benar-benar melihat impiannya terwujud, mendirikan bangunan yang awalnya hanya musala tempat anak-anak mengaji berubah menjadi Pondok Pesantren Darussolah. Berbekal harta warisan kakek nenek, dan gaji yang dulunya beliau pernah menjadi seorang dosen Ibu berusaha.

Pesantren itu memang tidak besar, tidak banyak pula santrinya, sekitar 150 orang, putra dan putri, tapi setidaknya tempat itu alasan Ibu tetap bisa tersenyum sampai hari ini. Ganti dari Allah untuk kesabaran dan keikhlasan yang belum bisa kucontoh sampai hari ini.

"Bintang ." Panggilan Azlan terdengar. Aku lekas menyeka buliran air mata di pipi. "Maaf sudah membuatmu bersedih."

"Ya, tidak apa, Azlan ," sahut Bintang tanpa menatapnya.

"Aku masih menunggumu terbuka, Bin. Membagi alasan apa yang membuatmu bersedih seperti ini."

"Terima kasih, Azlan "

Tampak Azlan bangkit dari duduknya, ia mengucap salam sebelum meninggalkan ruangan ini. Bintang menatap punggung Azlan yang kemudian menghilang di balik pintu.

Bintang menghela napas, memejam sesaat merutuk diri. Sampai kapan aku akan seperti ini? Aku wanita normal, yang juga bisa merasai suka pada seseorang, tapi kenapa semuanya tertahan saat trauma itu datang? Seketika melebur semua dan berakhir pada sebuah kata 'pengkhianatan'.

Aku yang melihat semuanya itu tersenyum dan ada kesedihan mendalam pada dokter wanita itu.

Aku pun melanjutkan menengok Bara, dan membicarakan tentang penyelidikannya tentang sang bos mafia, Bara tertembak dan Ingin segera bertugas kembali, namun aku melarangnya untuk beristirahat dulu sampai keadaannya membaik.

Bersambung

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED