Bab 1

Suro Joyo menyusuri perbukitan dengan langkah pasti. Baru saja dia menyelesaikan tugas yang diberikan oleh ayahandanya untuk menumpas Riris Manik. Ayahandanya, Agung Paramarta, penguasa di Kerajaan Krendobumi. Riris Manik pernah melakukan perbuatan yang meresahkan Kerajaan Krendobumi, sehingga Agung Paramarta menugaskan Suro Joyo agar menangkap dan membawanya ke Istana Krendobumi untuk diadili.

Namun Riris Manik malah melarikan diri dan bersembunyi di Pesanggrahan Alas Waru milik Keksi Anjani. Suro Joyo melacak buron sampai ke pesanggrahan milik Keksi Anjani. Dalam upaya menangkap Riris Manik, Suro Joyo bertarung habis-habisan melawan Keksi Anjani dan anak buahnya.

Saat bertarung, Suro Joyo hampir tewas di tangan lawan. Banaswarih, putra mahkota Kerajaan Karangtirta menyelamatkan nyawa Suro Joyo. Kebaikan hati Banaswarih kini akan dia balas dengan kebaikan pula. Suro Joyo yang kini mengenakan pakaian berwarna serba kuning berjalan tegap menuju Karangtirta.

“Aku ingin balas budi pada Pangeran Banaswarih,” gumam Suro Joyo dalam perjalanannya melewati bukit bebatuan. “Kemarin, sebelum kami berpisah, Pangeran Banaswarih minta diriku untuk datang ke Kerajaan Karangtirta. Sepertinya ada bahaya tersembunyi yang mengancam Karangtirta.”

Dugaan Suro Joyo memang tepat. Saat ini kerajaan yang dipimpin Raja Tiyasa sedang berada dalam masa kelam. Masa kelam bukan karena ketidakmampuan sang raja menyejahterakan rakyatnya, tapi karena adanya desas-desus yang membuat rasa cemas.

Rakyat Kerajaan Karangtirta dirundung kecemasan. Kabar tentang pergerakan bawah tanah yang dilakukan orang-orang yang ingin melakuan pemberontakan, membuat rakyat semakin cemas. Para telik sandi, prajurit rahasia Kerajaan Karangtirta telah mengendus adanya pemberontak yang semakin banyak jumlahnya mulai melakukan gerakan-gerakan yang lebih berani. Ada yang berani memaksa penduduk perbatasan mengikuti mereka. Kalau tidak mau mengikuti, dibunuh atau dibantai secara keji!

“Putraku Banaswarih, lakukan apa saja yang perlu kamu lakukan untuk meredam gerak para pemberontak yang mulai berani ngelunjak!” perintah Raja Tiyasa suatu malam. “Kamu ambil tindakan yang tegas. Kalau perlu keras! Siapa saja yang ketahuan mendukung atau malah menjadi pelaku pemberontakan, habisi tanpa perlu diadili!”

“Siap, Ayahanda!” kata Banaswarih.

Malam makin larut. Hanya ada anak dan bapak di pendapa kerajaan yang semakin lengang.

“Bawalah Soka Pratanda ini!” kata Tiyasa sambil menyerahkan logam berbentuk segi empat bergambar simbol Kerajaan Karangtirta. “Simpanlah dengan rapat! Gunakan kalau benar-benar dibutuhkan.”

Banaswarih menerima Soka Pratanda dari Tiyasa. Pemegang logam segi empat itu mendapatkan kepercayaan mutlak dari sang raja. Soka Pratanda hanya satu. Benda berfungsi sebagai ‘pengganti raja’ itu hanya diberikan kepada orang yang dipercaya ketika situasi benar-benar darurat!

“Ayahanda,” kata Banaswarih, “Ananda ingin menyampaikan sesuatu yang mungkin bisa membuat Ayahanda lebih tenang menghadapi situasi sekarang ini.”

“Tentang apa, Banaswarih?” tanya Tiyasa dengan rasa ingin tahu yang tinggi.

“Ananda telah menyampaikan permintaan bantuan kepada Pangeran Suro Joyo dari Krendobumi. Semoga Pangeran Suro Joyo bisa membantu kita menyelesaikan kemelut yang terjadi di Karangtirta.”

***

Senapati Tunggulsaka bersama puluhan prajuritnya menyusuri perbatasan wilayah Kerajaan Karangtirta dengan Kerajaan Parangbawana. Mereka berjalan dari arah selatan menuju ke utara. Menjelang matahari tegak di atas kepala, Senapati dan para prajurit tersebut sampai di pantai utara.

Menurut kabar dari beberapa telik sandi atau prajurit rahasia yang ditugaskan Tunggulsaka ke seluruh wilayah Karangtirta, ada gerombolan perampok yang bersarang di perbatasan. Gerombolan itu dipimpin Olengpati. Cukup lama mereka bersarang di perbatasan Karangtirta dengan Parangbawana. Kerajaan Karangtirta dan Parangbawana bertetangga baik sejak lama, sejak ratusan tahu silam. Dua kerajaan yang saling membantu bila satu dari keduanya membutuhkan bantuan.

“Apa benar kabar dari telik sandi itu, Senapati?” tanya seorang prajurit kepada Tunggulsaka. Karangtirta

“Aku yakin, benar,” jawab Tunggulsaka yakin. “Memangnya kenapa? Kamu tidak yakin bahwa laporan telik sandi itu benar?”

“Bukan begitu, Senapati. Bisa saja telik sandi salah menyerap kabar, sehingga kurang tepat ketika memberikan laporan.”

Benar juga ya kata prajuritku ini. Kata Tunggulsaka dalam hati. Namanya saja manusia, bisa saja dia salah dalam menyerap warta yang beredar di masyarakat. Wah, kalau prajurit telik sandi salah memberikan laporan, bisa membahayakan Karangtirta.”

Saat ini Tunggulsaka dan para prajuritnya merasakan bahwa keadaan tenang. Kawasan Hutan Ugeran termasuk wilayah Kerajaan Karangtirta dan Hutan Rukem kelihatannya aman-aman saja. Tak ada sesuatu yang mencurigakan. Senapati andalan Karangtirta itu sejenak bertanya-tanya dalam hati. Salahkah berita yang disampaikan para para telik sandi itu? Semoga laporan mereka tidak ada yang salah.

Selama ini para prajurit telik sandi selalu memberikan kabar yang tepat. Mereka memberi laporan padanya setelah melakukan penyelidikan secara sungguh-sungguh. Dalam laporan itu disebutkan bahwa mereka mengetahui tentang kebeadaan gerombolan perampok pimpinan Olengpati bersembunyi di Hutan Rukem, wilayah Parangbawana, dekat perbatasan dengan wilayah Karangtirta.

“Para perampok pimpinan Olengpati itu diduga kuat ada hubugan erat dengan pemberontak yang saat ini sedang menyusun kekuatan. Mereka menyusun kekuatan fisik berupa jumlah pasukan. Mereka juga mengumpulkan uang dan harta untuk membiayai para pemberontak,” kata Tunggulsaka.

“Dengar-dengar, ada anggota pemberontak berani mengancam penduduk perbatasan sini,” kata seorang prajurit yang lain. “Apa benar, Senapati?”

“Ehm…, ya, begitulah laporan yang kuterima. Sebentar…, sebenarnya mereka belum bisa disebut pemberontak,” Tunggulsaka meluruskan kata-kata anak buahnya. “Mereka sekumpulan orang yang sedang menggalang kekuatan. Mereka diduga kuat akan melakukan pemberontakan. Kapan melakukan pemberontakan? Kita tidak tahu.”

“Walau mereka belum melakukan pemberontakan, mereka sudah layak disebut pemberontak. Mereka suka membangkang terhadap semua peraturan yang ada di Kerajaan Karangtirta. Masyarakat Karangtirta yang tidak suka pada kelakuan mereka, sampai ada yang beramai-ramai mengusir orang-orang yang mendukung pemberontak.”

“Mengapa sampai bertindak sepertti itu?”

“Mereka kesal, Senapati. Masyarakat yang tidak suka kepada pendukung pemberontak itu punya alasan yang masuk akal, Senapati.”

“Apa alasannya?”

“Alasannya, para pendukung pemberontak itu cari makan dan menikmati segala hal diberikan pihak Kerajaan Karangtirta, tapi malah suka menjelek-jelekkan Raja Tiyasa dengan alasan ngawur. Alasan yang tidak masuk akal. Mereka hanya asal mangap saja. Asal membuka mulut, tanpa menggunakan otaknya.”

Senapati Tunggulsaka bisa memahami perkataan anak buahnya. Gerombolan Olengpati yang dicurigai ada hubungan dengan para pemberontak bawah tanah, sering membuat keonaran. Mereka membuat keonaran di desa-desa wilayah Karangtirta. Akibat ulah Olengpati dan anak buahnya, desa-desa tersebut tidak aman.

Penduduknya sering berjaga siang malam. Mereka berjaga-jaga dari segala kemungkinan yang bisa menimpa penduduk desa. Para penduduk sering berjaga semalam suntuk, sehingga paginya mengantuk. Akibatnya mereka bekerja secara malas-malasan pada siang harinya. Hal ini menimbulkan perasaan penduduk tidak tenang, penghasilan mereka dalam bertani juga berkurang.

“Agaknya itulah tujuan Olengpati dan gerombolannya,” kata Tunggulsaka. “Mereka menebar keonaran yang membuat penduduk desa di seluruh wilayah Kerajaan Karangtirta resah. Karena resah, para penduduk menjadi lemah. Baik lemah badannya, juga lemah semangat hidupnya. Hal ini tidak akan kubiarkan terjadi berlarut-larut. Maka aku segera mengambil tidakan. Aku ingin segera menumpas Olengpati dan gerombolannya. Tentu saja yang kulakukan ini atas sepengetahuan Paduka Raja Tiyasa.”

Tunggulsaka tidak ingin penduduk desa atau rakyat jelata dalam keadaan tidak tentram, rasah, dan selalu khawatir sepanjang masa. Kalau rakyat dalam keadaan tidak aman, maka akan meruntuhkan kewibawan Karangtirta.

Maka dari itu, Tunggulsaka mohon ijin Raja Tiyasa yang menjadi orang paling berkuasa di Karangtirta. Tunggulsaka minta ijin untuk menumpas gerombolan Olengpati. Raja Tiyasa mengijinkan. Sehingga saat ini Tunggulsaka dan empat puluhan prajuritnya telah berada di perbatasan.

”Prajurit, berhenti di sini!” kata Tunggulsaka. ”Kita istirahat sebentar.”

”Baiklah, Senapati...,” sahut para prajurit serentak.

Para prajurit segera duduk-duduk di berbagai tempat. Ada yang duduk di bawah pohon besar, ada pula yang duduk di balik batu besar. Mereka duduk sambil menikmati bekal yang mereka bawa dari kerajaan.

”Lunjak, apa pendapatmu tentang situasi di perbatasan ini?” tanya Tunggulsaka setelah makan siang.

“Maaf, Senapati, saya belum punya pendapat,” kata Lunjak.

”Kalau kamu bagaimana, Bandem?” Tunggulsaka bertanya kepada Bandem.

”Menurut saya, ini barangkali cuma jebakan, Senapati,” jawab Bandem.

”Maksudmu?”

”Maksudnya begini, Senapati, Olengpati membuat daerah perbatasan ini seolah-olah aman. Padahal siapa tahu dia dan anak buahnya bersembunyi di sekitar sini. Pada saat rakyat lengah, dia keluar dari persembunyiannya. Mereka lalu merampok harta rakyat secara tiba-tiba dan tak terduga.”

”Ya..., aku juga berpikiran demikian. Cuma sekarang kita bingung mau bertindak apa? Karena kita belum menemukan persis di mana persembunyian mereka.” kata Tunggulsaka sambil menghela napas.

Ketika Tunggulsaka dan kedua anak buahnya sedang bercakap-cakap, tiba-tiba terdengar teriak kematian dari seorang prajurit yang sedang duduk di bawah pohon besar. Leher prajurit itu tertembus anak panah!

***

Bab 2

Tubuh prajurit yang lehernya tertembus anak panah runtuh ke bumi. Tergeletak dengan mata menatap ke langit. Semua prajurit yang melihat terbelakak kaget. Mereka terlihat panik. Mereka dalam hati terdalam khawatir nasib serupa menimpa mereka.

Tunggulsaka segera mendekati tubuh prajurit yang naas tersebut. Dia raba urat nadi di tangan kiri. Sudah tidak ada denyutan.

Dia sudah tak ada lagi. Kata Tunggulsaka dalam hati. Lalu dia tutup matanya. Istirahatlah dengan tenang di alam sana, Prajurit. Kami yang masih hidup akan meneruskan kridabaktimu mengabdi pada Kerajaan Karangtirta.

Kematian prajurit secara misterius ini membuat prajurit yang lain panik.

”Cepat sembunyi! Ayo, cepat sembunyi!” perintah Tunggulsaka.

Mereka segera bersembunyi di balik batu atau pohon. Mereka menyebar ke wilayah hutan. Namun sebagian prajurit masih terlihat bingung. Rasa panik membuat sebagian prajurit merasa bingung. Saking bingungnya, sebagian kesulitan mencari tempat sembunyi.

Wut! Wut! Wut!

Puluhan anak panah melesat sangat cepat dari kedalaman Hutan Rukem. Panah-panah itu seperti muncul dari kegelapan. Seperti tidak ada yang memanahkannya. Para pemanah tidak terlihat sama sekali.

Panah-panah tajam itu menembusi leher dan dada empat prajurit Karangtirta yang belum sempat bersembunyi. Mereka bertumbangan ke bumi dalam keadaan tak bernyawa lagi. Keempatnya jatuh bergelimpangan di semak belukar secara mengenaskan.

”Cabut senjata kalian!” teriak Tunggulsaka dengan suara keras dan menggelegar. Geram dan marah terdengar dari suara sang senapati. “Kita balas menyerang! Kalau perlu, mereka semua kita habiskan! Tebas mereka sampai tak tersisa!!!”

Para prajurit mencabut pedang masing-masing. Mereka siaga. Di balik persembunyian, mereka berjaga-jaga dari segala bahaya.

Suasana hutan yang lengang terasa mencekam. Hutan yang lengang terasa menyimpansegala mara bahaya yang mengancam jiwa para prajurit Karangtirta.

Sekarang posisi prajurit Karangtirta berada di tempat terbuka, sedangkan para pemanah di persembunyian. Keadaan seperti ini kalau berlangsung terus-menerus, bisa berakibat buruk. Prajurit bisa tumpas habis kalau tidak segera balas menyerang.

Tunggulsaka melesat ke atas. Tubuhnya nangkring di dahan pohon tinggi. Dari ketinggian, Tunggulsaka bisa melihat keluasan areal di hutan yang ada di bawahnya. Di kejauhan, di balik semak belukar Hutan Rukem, terlihat puluhan manusia berpakaian serba hitam. Tubuh mereka sangat tersembunyi, sehingga sulit dilihat dari arah yang datar. Mereka berpakaian hitam, menyatu dengan warna dedaunan yang hijau.

Manusia-manusia berpakaian serba hitam itu siap dengan busur dan anak panah. Mereka siap memanahkan senjata maut mereka ke arah prajurit Karangtirta. Mereka siap melepaskan anak anah kalau aak buah Senapati Tunggulsaka muncul dari persembunyian.

“Para pemanah tersembunyi ini harus dihabisi sekarang,” gumam Tunggulsaka lirih yang hanya bisa didengar diri sendiri. “Mereka biang utama kekacauan di Karangtirta. Kalau sekarang sebagian dari mereka dihabisi, maka pelan-pelan kekacauan akan surut. Atau setidaknya berkurang.”

Berdasarkan laporan telik sandi, gerombolan perampok yang dipimpin Olengpati berada di perbatasan. Tunggulsaka merasa yakin bahwa orang-orang yang memanahi anak buahnya adalah gerombolan perampok itu. Dari gerakan yang telah dilakukan, mereka ternyata bukan sekadar gerombolan perampok. Mereka sudah bisa bergerak layaknya prajurit saat melakukan penyerbuan ke daerah lawan. Mereka ternyata sudah seperti gerombolan pemberontak.

Dengan satu gerakkan cepat, Tunggulsaka mematahkan dahan pohon, lalu dilemparkan ke arah anak buah Olengpati yang ada di bawah sana. Para pemanah melihat ada bahaya menimpa. Mereka cepat-cepat berlompatan ke segala penjuru untuk menghindari timpaan dahan.

Para pemanah lolos dari timpaan dahan yang dilemparkan Tunggulsaka. Mereka langsung membalas dengan memanah secara bersamaan ke arah Tunggulsaka.

Tunggulsaka menangkisi beberapa anak panah yang melesat ke arah dirinya. Panah-panah berpatahan dan jatuh di belukar. Senapati itu langsung meluncur cepat menuju persembunyian para pemanah.

Pada saat tubuhnya meluncur, Tunggulsaka mencabut pedangnya. Pedang sangat tajam berkilat-kilat yang siap mencari mangsa.

Begitu kaki menapak di rerumputan, pedang Tunggulsaka berkelebat sangat cepat. Empat pemanah tersabet secara bersamaan oleh kelebatan pedang Tunggulsaka. Kilatan pedang menyabet kepala dan dada empat gerombolan. Keemparnya tewas seketika. Sementara yang lain lari tunggang langgang masuk Hutan Rukem.

”Serbu...!” perintah Tunggulsaka kepada prajuritnya dengan semangat tinggi. Secara cepat seluruh prajurit Karangtirta mengejar gerombolan yang tadi secara licik memanah dari persembunyian. Mereka bersemangat tinggi ingin menghabisi. Mereka bernafsu untuk memburu.

Namun sesuatu yang tak diperhitungkan terjadi. Benar-benar telah terjadi.

Para gerombolan anak buah Olengpati tiba-tiba lenyap. Lenyap tak berbekas. Tidak ada bekas sedikit pun. Mereka laksana ditelan belantara yang kini kembali sunyi.

Tidak diketahui tempat persembunyiaan anak buah Olengpati. Para prajurit terus masuk hutan yang termasuk wilayah Kerajaan Parangbawana. Mereka merangsek, menasak rimba yang belum mereka kenal sebelumnya. Sambil memangkasi belukar, pandangan mata mereka mengedar. Saat itu mereka mengedarkan pandangan ke segala penjuru.

Broool!

Mendadak tanah yang diinjak dua orang prajurit ambrol. Keduanya terjebak lobang besar menganga. Di bawah sana terdapat puluhan tombak tegak ke langit tombak lancip yang sangat tajam ujungnya. Tubuh kedua prajurit tertembus tombak-tombak tajam. Mereka tewas seketika di dalam lobang jebakan!

Tiga prajurit yang lain secara tak sengaja menginjak perangkap. Mereka menginjak sesuatu yang menyebabkan ada puluhan tombak melesat dari empat penjuru mata angin. Tombak-tombak itu melesat ke arah tiga prajurit. Ketiganya tak sempat menghindar. Mereka bertiga tumbang ke bumi dalam keadaan tewas. Tombak-tombak tajam menembusi tubuh mereka.

Di tempat lain, yang tidak jauh dari tiga prajurit yang tewas ada beberapa prajurit tertindih gelondongan-gelondongan kayu. Mereka tewas karena tergencet benda yang sangat berat. Rupanya Olengpati telah mempersiapkan jebakan-jebakan itu jauh-jauh hari sebelumnya. Olengpati menyambut kehadiran Tunggulsaka dan anak buahnya dengan pesta maut. Pesta termangsa senjata tak kasat mata sebelumnya.

”Mundur...!” perintah Tunggulsaka. “Mundur! Mundurrr…!!!”

Suara gelegar Tunggulsaka membahana memecah kesenyapan belantara. Suara gelegar yang penuh amarah dan tak berdaya.

Prajurit-prajurit yang selamat segera mengikuti perintah sang senapati. Mereka lari tunggang langgang menuju perbatasan. Namun langkah mereka terhenti oleh hadangan ratusan anak buah Olengpati yang bersenjata golok!

Olengpati dan gerombolannya kini mengepung Tunggulsaka dan sisa-sisa prajuritnya dari delapan penjuru mata angin. Mata para gerombolan ini tajam menghujam. Seperti mata binatang yang haus darah.

”Huahahaha...! Senapati Tunggulsaka..., ayo tangkaplah aku sekarang juga, huahahaha...!” ejek Olengpati dengan cingkaknya, merasa dirinya unggul dibanding lawan.

”Iblis laknat kerak neraka!” umpat Tunggulsaka kesal. Kesal pada diri sendiri. Lebih kesal lagi pada gerombolan lawan. “Pantas rakyat Kerajaan Karangtirta ketakutan terhadap gerombolanmu. Ternyata kamu suka menggunakan cara keji dan licik untuk memperdaya musuh-musuhmu.”

“Huahahaha..., biasa..., itu biasa kan? Untuk mengalahkan musuh-musuhku, aku menempuh segala macam cara. Menjebak dan menghabisinya! Bukan hanya itu..., aku juga memasang mata-mata di kota Kerajaan Karangtirta, huahahaha....”

Tunggulsaka terdiam beberapa saat. Pantas, selama ini aku dan prajuritku selalu gagal menumpas gerombolan Olengpati. Batin Tunggulsaka. Grombolan bisa bebas beraksi danpa bisa ditanggulangi. Ternyata iblis laknat ini ‘menanam’ orangnya di kota kerajaan. Siapa pengkhianat ini?

***

Bab 3

Tunggulsaka merenungi kenyataan yang terjadi di kota kerajaan. Ternyata ada mata-mata yang tinggal di wilayah dekat istana. Hal itu tak pernah dia duga sebelumnya. Bahkan tidak pernah terlintas sedikit saja tentang adanya mata-mata yang ada di jantung Kota Kerajaan Karangtirta.

Keberadaan mata-mata di dekat Istana Kerajaan Karangtirta sangat membahayakan bagi kelangsungan kekuasaan Raja Tiyasa. Adanya mata-mata, maka gerak apa pun yang akan dilakukan pihak Kerajaan Karangtirta bisa diketahui para pemberontak.

Olengpati sebagai pimpinan perampok yang menjalin hubungan rahasia dengan para pemberontak sangat diuntungkan dengan mata-mata ini. Mereka bisa leluasa bergerak di luar sana untuk mengacau. Kalau pihak Kerajaan Karangtirta akan menumpas, Olengpati dan gerombolannya bisa menahan dan menghancurkannya.

Brengsek! Ternyata ada mata-mata bagi perampok dan pemberontak. Rutuk Tunggulsaka dalam hati. Kalau aku bisa menemukan, maka aku sendiri yang akan memenggal kepalanya! Hanya ada satu hukuman paling tepat untuk pengkhianat. Hukuman mati!

”Senapati Tunggulsaka tidak tak usah mencari-cari siapa mata-mata yang kutanam di kota Kerajaan Karangtirta! Karena sebentar lagi kalian semua akan kutumpas habis sampai tak tersisa!” sesumbar Olengpati merasa telah berada di atas angin.

Tunggulsaka tak menggubris ejekan Olengpati. Sebagai seorang senapati yang telah kenyang makan asam garam pertempuran, kata-kata menekan seperti itu sudah biasa dia dengar dari musuhnya. Kata-kata bualan itu hanya untuk menjatuhkan mental lawan.

Namun Olengpati salah menakut-nakuti orang. Senapati Tunggulsaka kebal terhadap kata-kata gertakan semacam itu. Bagi Tunggulsaka, sesumbar loo itu hanya angin lalu yang tidak perlu dimasukkan ke dalam hati.

Olengpati ini satu-satunya sisa Gerombolan Iblis Barong. Tunggulsaka membatin. Dulu aku pernah mendengar selentingan kabar tentang gerombolan itu . Gerombolanitu itu mempunyai hubungan akrab dengan seorang punggawa Kerajaan Karangtirta. Walau kabar itu masih kabar burung, tetapi dengan adanya pengakuan Olengpati tadi berarti kuat dugaan kabar itu benar. Kemungkinan besar, ada punggawa Kerajaan Karangtirta yang menjalin hubungan rahasia dengan gerombolan Olengpati.

”Heh..., aku sekarang sudah tahu, siapa orang yang menjalin hubungan denganmu di kota Kerajaan Karangtirta,” kata Tunggulsaka dengan nada sinis dan senyum mengejek. ”Agaknya kalian telah menjalin hubungan sejak lama. Sejak Gerombolan Iblis Barong masih utuh. Karena hubungan kalian saling menguntungkan, maka kau meneruskan hubungan itu sampai sekarang. Walau keempat temanmu dalam Gerombolan Iblis Barong telah menjadi tanah dan tinggal tulang belulang!”

Tunggulsaka puas hatinya karena bisa mengungkapkan latar belakang Olengpati. Olengpati merasa tahu segalanya tentang Kerajaan Karangtirta. Tunggulsaka membalas dengan mengungkap latar belakang Olengpati, seolah-olah Tunggulsaka tahu segalanya tentang Olengpati!

Mata Olengpati terbelalak lebar. Tepatnya terbelalak lebar-lebar saking kagetnya. Dia kaget sekaligus marah. Kaget karena kemungkinan Tunggulsaka tepat dalam memberikan tebakan siapa orang yang bekerja sama dengan Olengpati selama ini. Kecerdasan otak senapati itu sungguh mengagumkan. Namun Olengpati merasa tersinggung dan marah karena Tunggulsaka menyebut keempat temannya yang sudah tewas itu ‘telah menjadi tanah dan tinggal tulang belulang’.

Tunggulsaka tersenyum simpul melihat kekagetan Olengpati. Benar-benar Olengpati kaget. Bahkan sangat kaget. Saking kagetnya, dia tak sempat menyembunyikan kekagetannya. Dari perubahan wajah Olengpati bisa diketahui kalau pimpinan perampok tersinggung. Bahan bisa saja dia marah. Namun Olengpati berusaha menahan kemarahannya.

”Senapati Tunggulsaka..., memang benar kamu senapati berotak cerdas,” Olengpati berkata sambil memandangi wajah Tunggulsaka. “Sayang sekali, kecerdasan otakmu tidak berguna saat ini. Sekarang ini, kecerdasan otakmu tidak bisa menolongmu dari kematian. Kamu dan prajuritmu tak bakalan lolos dari tanganku!”

Tunggulsaka kembali tersenyum. Dia merasa heran dengan orang-orang semacam Olengpati ini. Kata-kata gertakannya yang itu-itu saja. Gaya bicaranya seperti itu-itu terus. Bagi yang biasa mendengar gertakan kelas coro seperti itu pasti akan tersenyum. Bahkan malah bisa tertawa-tawa.

”Aku sudah tahu watakmu Olengpati. Selama hidupmu, kamu tak pernah bertarung secara jantan!” ejek Tunggulsaka. “Kamu bisanya hanya menggertak lawan dengan kata-kata yang mengancam. Hanya itu yang bisa kamu lakukan supaya kamu terlihat hebat di depan teman-teman atau anak buahmu.”

Tunggulsaka berjalan pelan mendekati Olengpati. Olengpati mundur beberapa langkah. Olengpati seperti waspada, mungkin juga takut kalau tiba-tiba diserang oleh Senapati Tunggulsaka. Olengpati tahu bahwa Tunggulsaka merupakan senapati andalan Kerajaan Karangtirta. Tunggulsaka dikenal sebagai senapati yang pilih tanding. Selain ilmu silatnya tinggi, juga ahli memainkan berbagai macam senjata. Pedang adalah senjata yang paling dia kuasai, sehingga ketika Tunggulsaka bertarung menggunakan pedang, senjata harus lebih waspada kalau tidak mau celaka.

“Hahaha…, ketahuan kan sekarang!” kata Tunggulsaka menyertai tawa ejekannya. “Beranimu hanya keroyokan dengan mengandalkan anak buah yang berjumlah banyak. Dengan nyalimu yang kecil kalau bertarung satu lawan satu dan jiwamu yang kerdil itu, mana mungkin mampu mengalahkan kami?”

Tubuh Olengpati bergetar menahan marah yang meluap-luap. Ejekan yang dilontarkan Tunggulsaka sangat manjur untuk memancing kemarahan Olengpati. Tunggulsaka tidak peduli ejekannya tadi sesuai dengan kenyataan atau tidak. Yang penting, tujuan utamanya untuk memancing rasa marah dari Olengpati, telah berhasil.

Akibat ejekan itu, Olengpati tidak bisa menahan kemarahan. Orang yang berada dalam kemarahan, nantinya tidak akan bisa bertarung secara baik. Dia pasti akan menyerang tanpa menggunakan pemikiran yang bersih. Ketika seseorang marah, akalnya kurang bisa berfungsi dengan baik.

Nah, saat seorang petarung dikuasai kemarahan, maka serangannya akan asal-asalan dan tidak terarah. Bila lawannya berada dalam keadaan seperti itu, Tunggulsaka berharap dapat memperolah keuntungan. Keuntungan yang diharapkan Tunggulsaka yaitu bisa keluar dari situasi yang menyulitkan dirinya sebagai senapati dan para prajuritnya yang masih tersisa.

“Tunggulsaka! Kamu jangan asal ngomong!” bentak Olengpati dengan suara bergetar. “Jelek-jelek begini aku pernah menjadi anggota andalan Gerombolan Iblis Barong! Kalau aku seorang pengecut, mana mungkin aku bisa bertahan hidup? Kamu berani menghinaku sama saja cari mati. Bangsat elek! Rupanya kamu ingin segera menemui ajalmu.”

Olengpati mengedarkan pandangan ke seluruh anak buahnya, ”Serbuuu...!”

Olengpati mencabut golok andalannya. Golok Wojogeni! Golok sakti yang terbuat dari baja yang menebarkan hawa panas ketika dicabut dari sarungnya. Dia bersama ratusan anak buahnya segera merangsek ke depan untuk menghabisi lawan!

Tunggulsaka dan anak buahnya menghadapi serangan lawan dengan segala kemampuan yang dimiliki. Namun karena kalah banyak, beberapa prajurit Karangtirta tewas dikeroyok anak buah Olengpati. Mereka tewas secara mengenaskan akibat tusukan golok-golok gerombolan Olengpati.

“Iblis laknat padha gegojekan,” umpat Tunggulsaka di dalam gumaman lirih. “Mereka berperang menggunakan cara ampyak-ampyak awur-awur. Mereka bertarung seperti tidak mengenal aturan. Mengeroyok lawan dengan biadab asalkan bisa menang!”

Melihat kematian para prajuritnya, senapati Karangtirta itu segera mencari akal. Dia saat ini sedang berhadapan dengan Olengpati. Kalau diukur dalam kepandaian memainkan senjata, Tunggulsaka merasa mampu mengalahkan lawan. Namun kalau diukur dalam jumlah anak buah, Olengpati lebih unggul.

Secara cepat Tunggulsaka bersalto melompati tubuh Olengpati. Kedua kaki Tunggulsaka menapak tepat di belakang Olengpati. Dengan gerak cepat pula, pedang Tunggulsaka tersebut menempel di leher Olengpati. Pedang menyilang di depan leher Olengpati. Tubuh Tunggulsaka berada di belakang pimpinan perampok itu. Gerakan kecil saja dari pedang di tangan Tunggulsaka bisa berakibat sangat buruk bagi Olengpati!

”Suruh anak buahmu mundur dan meninggalkan hutan ini!” perintah Tunggulsaka dengan nada lirih dan dingin. ”Kalau tidak mau menyuruh mereka mundur, kepalamu akan berada di telapak kakimu! Setelah itu, seluruh anggota gerombolan perampok itu akan kutumpas dengan pedangku, sendirian!”

***

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED