Bab 1

"Bro... lu lihat deh," bisik Veron sambil nyikut lenganku pelan.

Matanya nggak menatap lurus ke depan, tapi melirik ke arah deretan tamu undangan yang baru saja lewat. Aku menoleh, dan langsung paham maksudnya.

Tante Meta, tampil anggun. Kebaya hijau tosca membalut tubuhnya dengan pas, dipadukan dengan jilbab modern yang menambah kesan rapi dan elegan. Kain jariknya cukup membentuk lekuk tubuhnya, dan setiap langkahnya membuat gerakan pinggulnya tampak alami, tertahan samar oleh sendal slop yang dipakainya.

Wangi parfumnya yang lembut tercium saat ia melintas di depan barisan pagar, meninggalkan jejak keharuman yang sulit dilupakan.

"Gila, pantatnya gede banget ya, Bro?" bisik Veron, sambil menahan tawa. "Coba aja dia nungging, pasti bikin semua mata terbelalak."

Aku cuma pura-pura garuk hidung, malu tapi dalam hati setuju. Bukan cuma soal kebaya atau jariknya, Tante Meta memang punya aura yang susah diabaikan. Veron bilang sesuatu yang aku nggak begitu paham-MILF katanya.

Aku sendiri nggak tahu pasti kriterianya apa, tapi yang jelas, aku merasa sungkan. Tante Meta, ibunya Alisa, teman sekelasku, walau kami memang tidak terlalu akrab.

Namun demikian, efek dari ucapan Veron membuat mataku sulit berpaling. Sekalipun mencoba menunduk atau menatap sekeliling, pandanganku selalu kembali ke Tante Meta. Ada sesuatu dalam cara dia melangkah dan tersenyum yang membuatku tak bisa tenang, seolah seluruh perhatianku terpaku padanya.

Aku tahu, rasa kagum ini sedikit berlebihan, tapi mau bagaimana lagi, Tante Meta memang punya aura yang susah diabaikan, dan aku, seorang remaja polos, tak bisa menahan diri untuk terus memandang.

Hari itu aku sedang ada di acara resepsi pernikahan Bang Yosi dan Mbak Elin, anak kedua Pak Marlon, tetanggaku yang juga kakaknya Tante Meta.

Lapangan depan rumahnya disulap jadi lautan kursi plastik dengan tenda warna-warni. Musik organ tunggal sudah siap di panggung, meski pengantinnya belum juga keluar dari kamar rias.

Aku dan beberapa anak muda kompleks mendapat tugas menjadi pagar bagus dan pagar ayu, menyambut tamu yang datang dengan pakaian adat Sunda yang disediakan panitia. Para pagar bagus mengenakan beskap ungu dipadu bendo dan kain jarik bernuansa megamendung putih. Penampilan kami jauh berbeda dari sehari-hari, dan aku jelas termasuk yang paling menonjol karena postur tubuhku.

Kami berdiri berdampingan, menyalami setiap tamu yang datang dengan senyum yang terlatih. Sesekali aku mencuri pandang ke arah kerumunan. Bukan pada gadis-gadis sebayaku, tapi pada ibu-ibu yang melangkah anggun dengan kebaya berwarna-warni dan riasan mencolok.

Entah kenapa, mataku lebih betah mengikuti gerakan mereka, cara tersenyum, cara kain panjang kebaya menyapu lantai dengan lembut, seolah ada ritme sendiri yang menarik perhatian.

Veron masih ngoceh, membahas detil lekuk ibu-ibu cantik dengan nada mesum, aku berusaha tetap menjaga senyum formal saat menyambut tamu. Tapi bayangan Tante Meta terus menghantui pikiran, seolah tamu-tamu lain mendadak sedikit buram.

Tiba-tiba, Tante Meta mendekat. Wajahnya cerah, senyumnya khas, hingga pipi kanannya muncul lesung pipit kecil. Aku refleks merapikan beskap putih yang kupakai, merasa jantungku berdegup lebih cepat.

"Eh, Raka, ternyata kamu di sini?" tanyanya sambil sedikit menengadah karena aku lebih tinggi. Matanya berbinar, ternyata dia masih mengenalku.

"Eh, iya Tante, sama Veron juga," jawabku agak gelagapan, buru-buru menunjuk ke arah Veron yang lebih akrab dengannya.

Veron, yang tadi semangat berbisik soal kebaya dan kain jarik Tante Meta, mendadak salah tingkah. Senyum sok manisnya jadi kaku, dan dia cuma bisa angguk-angguk tanpa suara.

Tante Meta terkekeh kecil, lalu menatapku lagi.

"Alisa gak ikut, Tan?" tanyaku basa-basi.

"Katanya mau nanti malam pas acara khusus. Oh iya kebetulan Tante bisa minta nomor kamu nggak?"

"Untuk?" Aku balik bertanya konyol.

"Alisa kadang telat pulang sekolah, susah dihubungi. Maksud Tante... biar nanti kalau perlu, bisa tanya sama kamu, kan teman sekelas ya?"

Aku tercekat sepersekian detik. Kenapa harus ke aku, kenapa gak ke Ivone, Ivanka, Jesyn atau Widia, teman deketnya?

Tante Meta menatap serius menunggu jawabanku.

"Oh... iya Tan, boleh," jawabku, berusaha terdengar tenang meski telapak tanganku mulai terasa dingin.

Dia merogoh tas kecilnya dan mengeluarkan ponsel dengan casing bening, jemarinya lentik dan kuku rapi berwarna nude. Wangi parfumnya makin terasa dekat, membuat jantungku semakin tak karuan.

"Nomornya ketik aja langsung ya, Ka."

Aku meraih ponselnya, sementara dari samping, Veron menelan ludah keras-keras. Matanya melotot, jelas masih syok karena kenyataan berada dekat Tante Meta, jauh lebih mendebarkan daripada bisikannya tadi.

Aku cepat-cepat memberikan ponselnya kembali.

"Ini, Tante, sudah saya simpan nomor saya," ucapku pelan.

Seperti etika para pagar bagus, aku langsung menyilangkan kedua tangan di depan tubuh, berusaha menjaga wibawa. Kain jarik yang kupakai memang agak sempit, membuatku sadar harus berhati-hati dengan tonjolan di selangkanganku.

Sialnya, mata Tante Meta sempat menatap ke arah dua tanganku yang tersilang lebih lama dari yang kusangka. Lalu ia mendekat sedikit, bibirnya bergerak dalam bisikan.

"Kenapa sih harus ditutupi pake dua tangan segala, Ka?"

Tubuhku sontak membeku. Wajahku panas, napasku tercekat. Di sampingku, Veron sampai terbatuk-batuk menahan kaget. Bikin aku gelagapan kehilangan kata-kata untuk menjawabnya.

"T-tidak, Tante..." suaraku nyaris tak terdengar.

Tante Meta tersenyum samar, matanya masih berkilat. Ia menepuk bahuku ringan, seolah tak terjadi apa-apa, lalu melangkah anggun meninggalkan aku dan Veron. Aku masih terpaku di tempat, sementara Veron melirikku dengan ekspresi setengah panik, setengah iri.

"Anjir, Bro... Tante favorit brondong sekomplek bisikin gituan sama lu?" bisiknya, seperti masih tak percaya.

Aku hanya bisa garuk tengkuk, mencoba menutupi rasa malu dan degup aneh di dada.

Tak lama kemudian rombongan pengantin bergerak ke masjid kompleks, hendak melaksanakan ijab kabul.

Setelah itu, kami para pagar bagus dan pagar ayu, diberi jeda. Veron langsung ikut rombongan, kebagian tugas membawa kotak cenderamata. Aku memilih duduk sebentar di kursi kosong di deretan tamu. Dan saat itulah tersadar, tepat di depanku ternyata ada Tante Meta.

Dia tidak ikut ke masjid, hanya duduk manis sambil merapikan lipatan kain jariknya. Kebaya hijau tosca yang tadi membuatku salah tingkah kini terasa lebih menyilaukan, dadanya tampak membusung, walau jarak kami agak berjauhan.

Yang bikin dadaku makin berdebar, matanya. Ia tak berhenti curi-curi pandang ke arahku, terutama kain jarikku. Begitu aku berani memandangnya, cepat-cepat ia alihkan tatapannya, pura-pura sibuk memainkan ponselnya atau membetulkan jilbabnya. Tapi beberapa detik kemudian, aku kembali menangkap sorot matanya ke arahku.

Aku menelan ludah. Ruangan yang tadinya riuh kini terasa sepi. Kipas angin berdengung pelan, suara anak-anak kecil berlarian terdengar samar. Tante Meta tersenyum tipis. Senyum yang tidak biasa. Bukan sekedar basa-basi ibunya Alisa temanku, tapi senyum yang penuh makna dan sontak membuat tengkukku sedikit merinding.

Aku berusaha menunduk, merapatkan kedua tanganku di pangkuan, tapi jantungku makin berdegup tak karuan. Aku lantas pura-pura main ponsel biar nggak kikuk. Tiba-tiba ada notifikasi WhatsApp masuk. Jantungku langsung loncat begitu lihat nama pengirimnya:

Tante Meta: [Yang ditutup tadi, ternyata besar banget ya. Keliatan lho tonjolannya dari sini]

Pesannya singkat, tapi bikin darahku naik ke wajah. Aku bahkan hampir menjatuhkan ponsel dari tangan. Kelabakan, buru-buru menengok sekilas ke depan. Tante Meta masih duduk manis, wajahnya datar seolah tak terjadi apa-apa. Hanya mata yang menyimpan kilatan aneh saat sesekali ia mengangkat pandangannya.

Tanganku gemetar. Mau pura-pura nggak baca dan mengabaikannya, tapi malah jari-jariku bergerak sendiri. Ada dorongan aneh buat membalas, setengah nekat, setengah penasaran.

Aku: [Iya Tante, jadinya nggak enak gini... takut ada yang liatin terus lepas deh]

Begitu pesan terkirim, aku langsung menutup layar, menahan napas. Degup jantungku makin keras. Dari depan, Tante Meta melirik ke bawah, senyumnya muncul samar di sudut bibirnya.

Ia mengetik balasan. Titik-titik tiga di layar membuat perutku seperti dikocok.

Tante Meta: [Lepas juga nggak papa kok... asal jangan di sini, bisa heboh sekompleks]

Aku refleks menutup mulut dengan tangan, pura-pura batuk biar nggak ketahuan panik. Dari depan, Tante Meta hanya menyilangkan kaki, gerakannya pelan, matanya sesekali menatapku penuh tantangan.

Aku menggertakkan gigi, mencoba tenang. Tapi entah kenapa, jemariku kembali mengetik.

Aku: [Kalau lepasnya dipegangin sama Tante, mungkin aman ya?]

'Gila kenapa aku makin berani gini?' Aku memaki kesal dalam hati.

^*^

Bab 2

Balasan Tante Meta kembali datang.

Tante Meta: [Heh, dasar anak nakal. Tapi tangan Tante kan kecil... cukup nggak ya? Punya kamu keliatannya beda banget, Ka.]

Aku hampir ngakak saking absurdnya, tapi kutahan kuat-kuat. Keringat dingin mulai mengalir di pelipis. Rasanya mustahil ini beneran terjadi, tapi notifikasi di layar ponsel membuktikan segalanya.

Tante Meta menatapku sekali lagi, kali ini jelas, senyumannya mirip tantangan.

Entah mengapa darahku makin berdesir, detak jantungku makin nggak karuan, dan sialnya, sesuatu di balik kain jarikku yang sempit itu malah ikutan berdiri. Rasanya jelas menggeliat, menekan kuat, seolah nggak peduli tempat maupun waktu.

Aku refleks menunduk, tangan buru-buru menyilang lagi di depan. Tapi justru semakin terasa menonjol.

Mataku berani melirik ke depan, dan benar saja. Tante Meta memperhatikan dengan pandangan yang sulit kuterjemahkan. Bibirnya terangkat sedikit, senyum separuh, lalu jemarinya pelan-pelan mengetik sesuatu di ponselnya.

Ponselku kembali bergetar.

Tante Meta: [Kok malah bangun? Lagi mau ngajak salaman sama siapa itu dedenya?]

Aku hampir tersedak udara. Napasku pendek-pendek. Tanganku gemetar saat membalas, kali ini nekat sekalian.

Aku: [Dia nggak salaman, Tan... cuma nyari yang bisa nenangin aja. Mungkin capek berdiri terus dari tadi.]

Begitu balasan itu kukirim, kepala dan pipiku panas membara. Tante Meta membaca cepat, lalu matanya naik menatapku, lama. Seolah-olah hanya kami berdua yang mengerti percakapan absurd itu di tengah keramaian hajatan.

Tak lama masuk lagi balasan.

Tante Meta: [Awas Raka... jangan bikin Tante makin penasaran.]

Aku hanya tertegun membacanya, bingung mau balas apa.

Layar ponsel kembali bergetar.

Tante Meta: [Baru diliatin aja udah bisa bikin Tante basah... padahal masih di sangkarnya ya, bagaimana kalau udah dilepas]

Darahku berdesir lebih kencang. Kepalang berani, jari-jariku mengetik lagi, meski tangan terasa dingin.

Aku: [Kalau udah keluar dari sangkarnya, Tante... takutnya malah kebanjiran.]

Sialan, ini gara-gara Veron mesum, sampai aku berani membalas demikian, makiku lagi.

Butuh beberapa detik sebelum balasan datang. Dari depan, Tante Meta menatapku, matanya penuh tantangan, lalu jemarinya kembali bergerak di atas layar.

Tante Meta: [Ya udah, nanti Tante siapin ember buat nampungnya deh. Tapi jangan bikin orang lain tau ya, cukup Tante saja yang kebagian.]

Aku menelan ludah keras. Napas tercekat, kain jarik di selangkanganku makin sesak.

Aku: [Asal Tante tahan, aku bisa banjirin sepuasnya, loh.]

Balasanku makin kurang ajar.

Kali ini, Tante Meta tak langsung membalas. Ia justru menegakkan duduknya, menyilangkan kaki dengan gerakan pelan yang sengaja dipamerkan. Senyum tipis menghiasi bibirnya. ponsel di tangannya diletakkan sebentar di pangkuan, sementara tatapannya mengikatku erat.

Tak berapa lama kemudian, suasana berubah riuh kembali. Rombongan pengantin sudah selesai akad, musik organ tunggal mulai lagi, tamu-tamu berdatangan membawa amplop. Aku sibuk di pos pagar bagus, menyalami orang yang datang sambil menjaga senyum formal.

Di sela-sela itu, mataku tak lepas dari Tante Meta. Ia benar-benar seperti gasing, ngatur sana, nyuruh sini, kadang sibuk memeriksa buku tamu. Dari luar, ia tampak seperti panitia hajatan paling sigap. Tapi setiap kali ia bergerak mendekat ke arahku, ada sesuatu yang berbeda.

Pertama kali, ketika ia pura-pura melihat daftar tamu, tubuhnya merapat sedikit. Jari-jarinya menyentuh pinggangku, sekejap saja, lalu pergi.

Kedua kalinya, ia lewat sambil membawa catatan. Tangannya tiba-tiba mencubit halus di sisi pinggangku. Aku terlonjak kecil, buru-buru menegakkan badan.

Yang ketiga, lebih gila. Ia mencondongkan tubuh, seolah hendak mengecek kertas di meja tamu, tapi telapak tangannya dengan sengaja mengusap tonjolan selangkanganku.

Gerakannya singkat, tapi jelas terasa. Aku tercekat. Mau menoleh, tapi dia sudah menjauh dengan wajah datar, seakan tak ada apa-apa. Hanya senyum kecil yang terselip di bibirnya, seperti kode rahasia.

Aku berdiri kaku, tanganku kembali menyilang di depan selangkangan, mencoba menyembunyikan reaksi batang di selangkanganku yang makin sulit dikendalikan.

Sementara itu acara terlus bergerak semakin meriah, tak terganggu oleh apapun.

Sebelum waktu istirahat tiba, kami para pagar bagus dan pagar ayu duduk di belakang untuk makan. Suasana agak santai, tapi tetap ramai oleh percakapan ringan dan canda tawa. Tiba-tiba, Tante Meta muncul, membawa nampan kecil berisi air mineral dan potongan buah semangka.

"Raka, ini Tante bawain buat kamu," katanya sambil tersenyum hangat.

Seketika teman-temanku langsung pecah tawa. "Waduh, Raka dapat layanan VIP ini dari Tante Meta!" seru salah satu dari mereka.

"Semangka khusus untuk Raka!"

"Raka ini kan teman sekelasnya Alisa, jadi udah Tante anggap anak sendiri," jawab Tante Meta tanpa beban.

Aku cuma bisa tersenyum canggung, berusaha santai sambil menikmati semangka itu. Suasana jadi lebih hangat; canda tawa teman-teman dan perhatian Tante Meta membuat hati terasa ringan.

Waktu berlalu begitu cepat, jam hampir setengah dua. Setelah prosesi formal selesai, panitia memberi kami waktu istirahat dan ganti pakaian. Malam nanti akan ada resepsi santai dengan tamu terbatas, kebanyakan teman dekat kedua mempelai.

Aku langsung pulang, rumahku cuma sepuluh rumah dari lokasi hajatan. Veron ikut nimbrung, alasan klasik: rumahnya terlalu ramai dengan adik-adiknya.

Di kamar aku rebahkan. Veron selonjor di lantai dengan kaos oblong dan kolor, asyik main ponsel sambil tertawa sendiri.

Pikiranku masih tak tenang. Bayangan Tante Meta, dengan kebaya hijaunya, lirikan matanya, cubitannya di pinggang, dan elusan manja di selangkanganku, terus menghantui.

Aku melirik ke arah Veron.

"Eh, bro," kataku, pura-pura santai. "Tadi waktu lu ikut ke masjid... gue sama Tante Meta sempet-"

Belum selesai kalimatku, Veron langsung menoleh, wajahnya curiga sekaligus penasaran. "Apaan, Bro? Jangan bikin gue kepengen dong. Serius, apaan tadi?"

Aku cuma nyengir, menimbang-nimbang: apakah harus cerita jujur soal chat absurd itu, atau biarkan dia penasaran.

"Ya... biasa ngobrol basa-basi lah. Sekalian jaga hubungan baik sama nyokap temen."

Veron langsung meledak ketawa, sampai ngeplak jidatnya sendiri.

"Basa-basi pala lu, Raka! PDKT sama tante-tante gayanya gitu amat, basi. Hahaha!"

Aku agak panas juga, pikiranku sudah ngebayangin dia bakal iri atau kepo. Ternyata malah diketawain.

"Apaan sih, Bro. Emang kenapa kalau PDKT?" tanyaku, agak sewot.

Veron malah meraih ponsel-nya, buka aplikasi chat, lalu nyodorin ke mukaku. "Nih, liat! Lu kira lu paling jago? Gue udah lebih jauh, Bro."

Aku melirik ke layar ponsel-nya, dan langsung melongo. Nama kontaknya jelas: Bu Lely. Tetangga kami, panitia hajatan juga, yang terkenal cerewet tapi supel.

Isinya bikin kuping panas.

Mbak Sri: [Ron, nanti kalo ibu lagi di dapur, kamu jangan cuma lewat. Sekalian aja curi sentuh biar ibu makin semangat masaknya]

Veron: [Halah, Ibu ini masih belum puas ya semalam... Hati-hati loh, bisa ketahuan]

Mbak Sri: [Lagian siapa juga yang mau ketahuan. Yang penting kamu berani kaya semalam]

Aku nyengir kecut. Pantes aja Veron nggak panas pas aku cerita soal Tante Meta, ternyata dia udah main di level absurd yang lebih gila.

"Gimana, bro? Lu baru PDKT, gue udah sparing di pojok taman belakang tadi malam," ejek Veron sambil ngakak.

Aku menepuk jidat. "Edan lu, Ron. Sama Mbak Sri berani. Suaminya preman, galak banget dia!" pekikku tak percaya.

Veron makin ngakak, "Justru itu tantangannya, bro. Lu masih bocah sih, hahaha!"

"Ron... lu kenal nggak sama Alisa, anaknya Tante Meta?" tanyaku, penasaran.

"Alisa teman sekelas lu? Kenal, cuma selewat aja. Ayahnya Dokter Richard, kan? Kadang mereka main ke rumah si Yuda, jadi ya otomatis gue kenal dikit," jawab Veron sambil nyengir.

"Nah itu dia masalahnya. Masa gue godain ibunya teman sendiri?" Aku mengernyit.

Veron tertawa ngakak, matanya bersinar nakal. "Bro, jangankan ibu teman, ibu tiri, menantu, ipar... semua bisa diembat kalau nafsu udah nguasain."

Aku cuma geleng-geleng kepala. "Gue bimbang, bro..."

Veron mencondong, setengah serius setengah usil. "Lu deket banget nggak sama si Alisa?"

"Gak terlalu deket,... cuma waktu kelas dua lumayan deket, satu kelompok belajar, sering main juga ke rumahnya. Makanya gue kenal Tante Meta," jelasku.

Veron terkekeh. "Sikat aja, bro. Kapan lagi dapat kesempatan emas, Tante tajir yang ngebet duluan sama kita, susah dicari zaman sekarang!"

Aku menghela napas panjang. Di satu sisi, rasa bersalah masih menghantui, tapi di sisi lain, hasrat yang sejak lama tertahan kini menuntut realisasi.

"Kita liat saja nanti perkembangannya di acara malam, oke!" pungkasku sambil tiduran.

^*^

Bab 3

Setelah maghrib, aku dan Veron kembali ke rumah Pak Marlon, kali ini tampil sebagai undangan biasa dari kalangan anak muda, bukan sebagai pagar bagus yang berapakian ribet.

Suasana malam berbeda drastis. Halaman belakang rumah sang pengusaha disulap jadi garden party: lampu bohlam kecil melingkari pepohonan, musik akustik terdengar pelan, dan meja-meja berjajar rapi. Kolam renang biru di sisi halaman berkilau kena pantulan lampu, memberi kesan mewah ala pesta pejabat.

Kami berdiri sebentar, memandang kerumunan anak-anak muda yang foto-foto, nyanyi bareng, atau ngemil. Tapi mataku segera tertuju pada satu sosok: Tante Meta.

Dia tampak anggun dalam gaun krem keemasan yang ringan, jilbab modern senada, menambah kesan santai tapi tetap berkelas. Dari jauh, aura "tante paling berkelas" langsung terpancar, membuatku sulit berkedip.

Veron nyikut lenganku. "Tuh, incaran lu udah nongol. Buktiin kalau kontol lu yang gede panjang itu, bisa naklukin istrinya dokter Richard."

Aku mendengus, setengah kesal, setengah tertantang. "Entar gue buktiin, bro. Jangan kira gue cuma bisa PDKT doang."

Veron ngakak, lalu langsung ngilang ke arah prasmanan.

Aku masih berdiri, menatap Tante Meta dari jauh. Saat ia berbalik, matanya tak sengaja menangkap tatapanku. Senyum kecilnya muncul, bukan basa-basi.

Baru saja aku mengumpulkan nyali untuk mendekat, mataku tertumbuk pada Alisa. Gaun biru mudanya mengalir, rambut tergerai, berjalan ke pesta sambil digandeng cowok tinggi pakai kemeja putih. Napasku langsung drop. Semua keberanian yang baru saja terkumpul buyar seketika.

Tapi dahiku mengernyit. Alisa ternyata sibuk dengan pacarnya, bukan nempel terus sama mamanya. Aku melirik Tante Meta. Dia tetap tenang, malah tersenyum tipis ke arahku, sekilas menatap Alisa, lalu kembali ke mataku. Pandangan itu bikin darahku berdesir.

'Kalau Alisa sibuk sama pacarnya, berarti Tante Meta bebas kudekati...' pikirku setengah girang.

Ponselku bergetar: chat dari Tante Meta. [Alisa cuma sebentar kok, dia mau ke acara temannya yang lain]

Aku cepat membalas, [Memang suami Tante gak ke sini?]

Tante Meta: [Tenang saja, beliau sudah dua bulan tugas kemanusiaan di Gaza]

Napasku plong. Aku menatap sekitar, mencari sudut redup dekat gazebo kecil, cahaya remang, sebagian tertutup pohon pucuk merah. Pas banget.

Pelan-pelan aku geser, pura-pura main ponsel, lalu duduk di kursi rotan kosong. Dari jauh, Tante Meta masih sibuk ngobrol dan mengatur acara, tapi matanya sesekali mencariiku. Saat Alisa pamit, jelas terlihat ekspresi lega di wajah Tante Meta.

Tak lama, ponselku bergetar lagi.

Tante Meta: [Sabar ya, Raka. Tante bentar lagi ke situ.]

Darahku berdesir kencang. Tanganku sampai basah oleh keringat. Aku menegakkan duduk, pura-pura cuek sambil mengetik balasan.

Aku: [Aku udah siap dari tadi, Tante. Di sini remang banget, pas buat ngobrol.]

Balasan cepat datang.

Tante Meta: [Ngobrol doang, ya? Atau... ada yang lain? 😉]

Jantungku serasa hampir copot. [Boleh juga kalau mau sambil ngemil, wkwkwkw]

Dari balik kerumunan, Tante Meta mendekat ke arahku. Gerakannya elegan, tapi jelas disengaja, sambil pura-pura menyapa beberapa kenalannya, menepuk bahu, dan tertawa kecil. Padahal matanya sesekali melirik lurus ke arah tempatku duduk.

Sialnya, batangku makin menggila. Jantung berdebar tak beraturan, apalagi nggak pakai celana dalam, bikin setiap gesekan langsung pada kain celan panjang, terasa sangat rawan berdesir.

"Edan, dasar Veron bajingan...!" Aku menggerutu dalam hati. Kenapa juga harus nurutin saran konyolnya, tidak pakai celana dalam.

'Dalam keadaan begini, kita harus cepat dan tepat, jadi lebih enak gak pakai daleman, Bro!' itulah saran biadabnya tadi saat kami akan ganti pakaian,

Aku coba menutupinya dengan melipat kaki, tapi justru selangkanganku makin sesak. Keringat dingin menetes di pelipis.

Tante Meta sampai di dekatku. Mencondongkan tubuh sedikit, pura-pura merapikan taplak meja kecil di samping kursi. Aroma parfumnya langsung menyeruak, bikin kepalaku makin ringan.

"Gak lama kan nunggunya..." katanya lirih, senyum samar di bibirnya.

Dari samping, aku melihat jelas matanya melirik ke arah selangkanganku yang tegang. Senyum itu berubah jadi nakal sekejap, lalu kembali normal saat ada tamu lain lewat.

"Raka, bantuin Tante sebentar, yu," katanya datar, tapi matanya menyimpan kode. Ia meraih lenganku sekilas, lalu melangkah pelan ke arah belakang gazebo.

Aku mengikuti dan nggak kenal area di ini. Gelap, sepi, dan agak jauh dari riuh pesta. Tapi Tante Meta jelas hapal, secara dia adiknya Pak Marlon sang pemilik rumah ini.

Semakin jauh, semakin sepi, napasku makin berat. batangku di dalam celana seperti tak bisa kompromi, makin liar berdiri tanpa ada penghalang daleman. Aku terus menunduk, takut kalau tiba-tiba ada orang lewat.

Begitu sampai di sisi belakang sebuah gazebo, suasana makin gelap. Hanya temaram cahaya dari kolam renang yang berkilau di kejauhan. Tante Meta berhenti, berbalik menatapku. Senyumnya kali ini penuh arti.

"Deg-degan banget, ya?" bisiknya.

Aku menelan ludah, kaku. "I-iya, Tan... aku... aku belum pernah kayak gini."

Dia mendekat selangkah, tangannya dengan santai merapikan kerah bajuku. Sentuhan kecil itu saja bikin tubuhku kaku.

"Wajar lah," katanya pelan, hampir seperti gumaman. "Tapi kalau tegangnya sampai keliatan gitu..." matanya turun sebentar ke arah depan celanaku,"tante jadi susah menahan diri."

Aku reflek menutupi selangkangan dengan kedua tangan, wajah panas membara.

"Tan... jangan gitu, nanti kalau ada yang liat..."

Dia malah terkekeh kecil, ujung jarinya menyentuh punggung tanganku sebentar. "Di sini aman, nggak ada undangan yang ke sini. Yang ada cuma kita berdua."

Aku benar-benar mati kutu. Jantungku berpacu tak karuan, tubuh gemetar antara takut ketahuan dan dorongan aneh yang belum pernah kurasakan.

Tiba-tiba tangan Tante Meta bergerak turun mengusap tonjolan celanaku. Napasku tercekat, tubuhku kaku, tak tahu harus mundur atau maju.

"Tante -" suaraku makin tercekat.

"Sudah tante duga..." bisiknya. Jemarinya terus bergerak pelan, menekan lembut, membuatku hampir kehilangan pijakan. "Besar dan panjang banget sih, Raka..."

Aku menganga, mataku membelalak. Detak jantungku menghantam dada seperti mau pecah. Ini gila. Ini terlalu nyata.

Jarak Tante Meta begitu dekat. Napasku tersengal saat bibirnya perlahan menempel di bibirku. Awalnya lembut, seperti menyapa, tapi tekanannya makin lama makin terasa, membuat seluruh tubuhku menegang.

Refleks, aku menutup mata, mencoba memahami sensasi itu. Jantungku berdetak keras, dada naik-turun cepat. Rasanya aneh, antara takut, kaget, dan... penasaran yang sulit dijelaskan.

Setelah beberapa detik, aku memberanikan diri sedikit demi sedikit mencondongkan kepala, meniru gerak bibirnya, belajar membalas dengan hati-hati. Rasa canggung awalnya sangat terasa, tapi perlahan mulai mengerti ritmenya.

Tante Meta tersenyum tipis, matanya tetap menatapku, seakan memberikan dorongan agar aku lebih berani.

"Bagus...," bisiknya pelan, suara hangat menyentuh telingaku.

Aku tetap berdiri, tubuh masih tegang, tapi sedikit demi sedikit mulai merasa nyaman. Ciuman pertama terasa aneh, tapi membuatku penasaran dan ingin belajar lebih banyak. Dunia di sekitar kami seolah hilang, hanya tersisa napas kami, detak jantungku, dan tatapan penuh hasrat Tante Meta.

Aku mulai berani memeluk pinggangnya dan tangannya kembali memegang batang kejantananku. Tanganku bergetar, refleks ingin menepis, tapi entah kenapa malah berhenti di piangganya. Tante Meta makin berani, meremas dan mengegam batangku dari balik celana, lalu mengusap naik-turun dengan ritme pelan seperti tadi.

"Kamu masih polos banget ya, Raka..." katanya, suaranya rendah, nyaris seperti dengungan. "Itu yang bikin tante tambah penasaran."

"Aduh!" Aku sontak melepaskan ciumannya, saat telingaku tiba-tiba mendengar suara langkah mendekat. Aku hampir melompat mundur, dan jantung serasa langsung merosot ke perut.

"Tante, ada orang!" bisikku panik.

Aku ingin menyingkir, tapi tubuhku langsung kaku begitu melihat siapa yang lewat begitu saja.

Mereka ternyata Veron dan Mbak Sri.

Keduanya jalan agak terburu-buru ke arah belakang, melewati sisi gazebo tanpa memperhatikan kami. Veron sempat menoleh sekilas, tapi sepertinya pura-pura nggak kenal atau memang gak peduli. Sementara Mbak Sri malah cekikikan kecil sambil narik lengannya.

Mereka berbelok ke arah rumpun bambu kerisik di ujung paling belakang halaman, area yang lebih gelap lagi. Nggak perlu imajinasi panjang buat nebak apa yang akan mereka lakukan di balik rumpun tanaman hias itu.

Aku terpaku, mulut setengah terbuka. Tante Meta menahan tawanya, lalu berbisik di telingaku.

"Ternyata bukan cuma kita yang nakal malam ini, Raka..."

Aku makin gemetar, campuran antara syok, deg-degan. Absurd rasanya, aku yang selama ini masih polos terjebak di lingkaran orang-orang dewasa yang sangat mesum dan main rahasia di balik meriahkanya pesta keluarga.

^*^

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED