Sampul Novel Cintanya, Penjaranya, Putra Mereka

Cintanya, Penjaranya, Putra Mereka

7.9 / 10.0
Brama Wijaya menjebloskanku ke penjara selama lima tahun atas tuduhan palsu membunuh Kania. Begitu bebas, siksaannya berlanjut di kandang anjing hingga aku dipaksa mandul. Saat Kania terbukti masih hidup, Brama membiarkan adikku tewas di tangannya. Aku memilih mati demi membalas dendam, lalu terbangun kembali di hari kebebasanku. Di kehidupan kedua ini, aku bersumpah akan menyeret Brama dan Kania ke neraka atas semua kekejian mereka.
Ringkasan Cintanya, Penjaranya, Putra Mereka
Brama Wijaya menjebloskanku ke penjara selama lima tahun atas tuduhan palsu membunuh Kania. Begitu bebas, siksaannya berlanjut di kandang anjing hingga aku dipaksa mandul. Saat Kania terbukti masih hidup, Brama membiarkan adikku tewas di tangannya. Aku memilih mati demi membalas dendam, lalu terbangun kembali di hari kebebasanku. Di kehidupan kedua ini, aku bersumpah akan menyeret Brama dan Kania ke neraka atas semua kekejian mereka.
Baca Selengkapnya

Cintanya, Penjaranya, Putra Mereka Bab 1

Selama lima tahun, suamiku, Brama Wijaya, mengurungku di sebuah panti rehabilitasi. Dia mengatakan pada dunia bahwa aku adalah seorang pembunuh yang telah menghabisi nyawa adik tiriku sendiri.

Di hari kebebasanku, dia sudah menunggu. Hal pertama yang dia lakukan adalah membanting setir mobilnya ke arahku, mencoba menabrakku bahkan sebelum aku melangkah dari trotoar.

Ternyata, hukumanku baru saja dimulai. Kembali ke rumah mewah yang dulu kusebut rumah, dia mengurungku di kandang anjing. Dia memaksaku bersujud di depan potret adikku yang "sudah mati" sampai kepalaku berdarah di lantai marmer. Dia membuatku meminum ramuan untuk memastikan "garis keturunanku yang tercemar" akan berakhir bersamaku.

Dia bahkan mencoba menyerahkanku pada rekan bisnisnya yang bejat untuk satu malam, sebagai "pelajaran" atas pembangkanganku.

Tapi kebenaran yang paling kejam belum terungkap. Adik tiriku, Kania, ternyata masih hidup. Lima tahun penderitaanku di neraka hanyalah bagian dari permainan kejinya. Dan ketika adik laki-lakiku, Arga, satu-satunya alasanku untuk hidup, menyaksikan penghinaanku, Kania menyuruh orang untuk melemparkannya dari atas tangga batu.

Suamiku melihat adikku mati dan tidak melakukan apa-apa.

Sambil sekarat karena luka-luka dan hati yang hancur, aku menjatuhkan diri dari jendela rumah sakit, dengan pikiran terakhir sebuah sumpah untuk balas dendam.

Aku membuka mataku lagi. Aku kembali ke hari pembebasanku. Suara sipir terdengar datar. "Suamimu yang mengaturnya. Dia sudah menunggu."

Kali ini, akulah yang akan menunggu. Untuk menyeretnya, dan semua orang yang telah menyakitiku, langsung ke neraka.

Bab 1

Panti rehabilitasi itu adalah sebuah kotak putih steril di pinggiran Jakarta, sebuah tempat yang dirancang untuk menghapus keberadaan seseorang. Selama lima tahun, tempat itu telah menjadi duniaku. Dindingnya kosong, udaranya berbau disinfektan dan keputusasaan, dan satu-satunya pemandanganku adalah sepotong langit kelabu.

Aku menatap bayanganku di lantai yang mengilap. Wajah kurus kering balas menatapku, dengan mata cekung dan kulit pucat. Pakaian yang kukenakan, seragam longgar, menggantung di tubuhku yang tinggal tulang. Pakaian itu adalah pengingat terus-menerus bahwa aku bukan lagi Anjani Putri, primadona kesayangan kalangan elite Jakarta. Aku hanyalah sebuah nomor, seorang pasien, seorang pembunuh.

Lima tahun yang lalu, suamiku, Brama Wijaya, memasukkanku ke sini. Dia melakukannya setelah aku dituduh membunuh adik tiriku, Kania Anindita. Dia mengatakan pada dunia bahwa itu adalah tindakan belas kasihan, sebuah kesempatan bagi istrinya yang hancur untuk menebus kejahatannya yang mengerikan.

Aku berlutut, lutut telanjangku menekan lantai yang dingin dan keras. Rasa sakit yang sudah biasa. Di depanku ada sebuah foto berbingkai Kania, yang sedang tersenyum. Ini adalah ritual harianku, penebusan dosaku yang dipaksakan. Aku harus berlutut di hadapannya selama dua jam setiap pagi dan dua jam setiap malam.

Seribu delapan ratus dua puluh lima hari. Aku telah menghitung setiap harinya.

Sebuah gedoran keras di pintu memecah kesunyian. Sipir masuk, wajahnya tanpa ekspresi.

"Bangun, Anjani. Kau dibebaskan."

Kepalaku terangkat. Bebas? Kata itu terasa asing, mustahil.

"Suamimu yang mengaturnya. Dia sudah menunggu."

Lima tahun. Lima tahun di neraka dunia ini, yang diatur oleh pria yang seharusnya mencintaiku. Pria yang dilihat semua orang sebagai malaikat yang saleh dan penuh kasih karena tidak menceraikan wanita yang membunuh adik ipar kesayangannya. Mereka tidak melihat kebenarannya. Mereka tidak mengenal Brama.

Dia bukan malaikat. Dia adalah iblis yang telah dengan cermat menciptakan purgatorium untukku.

Aku berjalan keluar dari panti, mataku mengerjap menahan silaunya matahari yang terasa asing. Aku berharap melihat wajah yang ramah, seorang anggota keluarga, siapa pun. Tapi trotoar itu kosong. Teman-temanku telah meninggalkanku. Keluargaku telah mencampakkanku. Aku benar-benar sendirian.

Sipir itu memberiku sebuah kotak kecil. "Perintah Tuan Brama. Dia bilang kau harus melanjutkan penebusan dosamu di rumah. Benda ini harus selalu bersamamu."

Di dalamnya ada foto Kania berbingkai yang sama. Rasa dingin yang mencekam menjalari tubuhku. Penjaranya mungkin berubah, tetapi hukumannya tetap sama.

Sebuah mobil hitam berhenti. Sopir keluarga Wijaya, seorang pria yang dulu menyapaku dengan senyum hangat, sekarang menatapku dengan tatapan hina saat dia membukakan pintu. Perjalanan kembali ke rumah mewah yang dulu kusebut rumah terasa sunyi. Rumah itu sama seperti yang kuingat, megah dan dingin. Tapi sekarang, aku bukan lagi nyonyanya. Aku adalah tawanannya.

Para pelayan dan kepala pelayan berbaris, bisikan mereka seperti desisan ular. Mereka menatapku bukan dengan kasihan, tetapi dengan cemoohan.

"Dia akhirnya keluar."

"Lihat dia. Seperti hantu."

"Tuan terlalu baik. Wanita seperti itu seharusnya membusuk di penjara."

Aku mengabaikan mereka, pikiranku berpegang pada satu-satunya harapan. Sebuah janji yang kubuat pada nenekku yang sedang sekarat bertahun-tahun yang lalu.

"Anjani," bisiknya, tangannya yang rapuh berada di genggamanku, "apa pun yang terjadi, kau harus melindungi adikmu. Arga adalah satu-satunya yang kau miliki."

Arga. Adik laki-lakiku. Dialah satu-satunya alasan aku bertahan selama lima tahun terakhir. Dialah satu-satunya alasanku untuk terus hidup sekarang.

Aku memeluk foto itu ke dadaku dan berjalan menuju tangga besar, langkahku goyah. Aku harus menemuinya.

Tiba-tiba, decitan ban mobil menggema dari jalan masuk di belakangku. Aku berbalik tepat pada waktunya untuk melihat sebuah mobil sport perak melaju lurus ke arahku, mesinnya menderu. Aku membeku, tubuhku menolak untuk bergerak. Mobil itu akan menabrakku.

Pada detik terakhir, aku melemparkan diriku ke samping, terguling ke halaman rumput yang terawat rapi. Mobil itu berhenti mendadak beberapa senti dari tempatku berdiri. Lututku lecet, dan jantungku berdebar kencang di dada. Secara naluriah aku memeriksa foto di tanganku. Kacanya tidak retak. Pikiran itu membuatku merinding—naluri pertamaku adalah melindungi simbol siksaanku.

Pintu mobil terbuka.

Brama Wijaya melangkah keluar, postur tubuhnya yang tinggi terbalut setelan jas yang dijahit sempurna. Dia terlihat sama seperti lima tahun yang lalu: sangat tampan, dengan aura kesalehan dingin yang memikat semua orang yang ditemuinya. Matanya, yang sewarna langit musim dingin, menatap mataku. Tidak ada kekhawatiran di sana, tidak ada keterkejutan. Hanya ketidakpedulian yang datar dan mengerikan.

Itu dia. Dia telah mencoba menabrakku.

Napas ku tercekat. Rasa takut yang telah kuhadapi selama lima tahun melilit perutku, mencekikku. Pria ini bukan hanya penyiksaku; dia adalah cinta sejatiku.

Aku teringat pada diriku yang dulu—ceria, sedikit liar, mengejar Brama Wijaya yang sulit dipahami dan dingin. Aku telah mengubah segalanya tentang diriku untuknya. Aku melunakkan sifatku, mempelajari hobi-hobinya yang tenang, membentuk diriku menjadi istri yang sempurna dan sopan seperti yang dia inginkan.

Untuk waktu yang singkat, aku pikir aku telah berhasil. Hari pernikahan kami adalah hari terindah dalam hidupku. Aku akhirnya memenangkan hati pria yang kupuja.

Lalu Kania meninggal, dan duniaku hancur.

Sekarang, berdiri di hadapannya, memar dan gemetar, aku bukan lagi gadis itu.

Aku bergegas berdiri, suaraku serak berbisik. "Brama... aku perlu bertemu Arga."

Dia berjalan ke arahku, tatapannya menyapu penampilanku yang acak-acakan dengan jijik. Dia berhenti tepat di depanku, begitu dekat hingga aku bisa merasakan hawa dingin yang memancar darinya.

"Kau tidak dalam posisi untuk membuat permintaan, Anjani." Suaranya rendah dan halus, suara yang sama yang pernah membisikkan kata-kata cinta.

"Tolong," aku memohon, satu kata itu keluar dari tenggorokanku. "Hanya sebentar."

Dia tidak menjawab. Sebaliknya, dia membuat gerakan kecil dan tajam kepada dua pengawal besar yang telah keluar dari rumah.

"Sepertinya lima tahun perenungan tidak mengajarimu kerendahan hati," katanya, suaranya tanpa emosi. "Hukumanmu belum berakhir. Ini baru saja dimulai."

Para pengawal mencengkeram lenganku. Cengkeraman mereka seperti besi.

"Bawa dia ke kandang anjing," perintah Brama, membelakangiku seolah-olah aku hanyalah sampah yang harus dibuang.

Kandang anjing. Dia akan mengurungku di kandang anjing.

Kepanikan mencakar-cakar tenggorokanku. "Tidak! Brama, tidak! Tolong!"

Mereka menyeretku pergi, permohonanku bergema tanpa jawaban di halaman yang luas dan kosong.

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Cintanya, Penjaranya, Putra Mereka

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Kamu Mungkin Juga Suka

Novel Rilis Terbaru

Sampul Novel ASI untuk Pak Guru
8.5
Jenara Atmisly, siswi berprestasi, menyimpan rahasia medis yang memalukan. Ia mengidap galaktorea yang membuatnya memproduksi ASI tanpa pernah hamil. Saat rasa sakit akibat kondisi hormon ini tak lagi tertahankan di sekolah, ia terpaksa meminta tolong kepada gurunya di ruang guru. Kejadian tak terduga itu menjadi awal mula rahasia mereka. Hubungan guru dan murid ini pun perlahan berubah menjadi jalinan asmara rumit yang sangat berisiko bagi keduanya.
Sampul Novel Cinta Dalam Hati
8.4
Tania, pengacara pemberani yang mempertaruhkan nyawa demi keadilan, kerap berseteru dengan rival masa kecilnya yang dingin, Yudi. Walau menentang perjodohan, takdir mengikat mereka dalam pertunangan rahasia yang diatur orang tua. Di tengah konflik perasaan benci dan cinta, bahaya besar mengintai saat Tania nekat melawan Wijaya, konglomerat kejam dalang kasus perdagangan manusia. Akankah benih cinta tumbuh di antara mereka?
Sampul Novel Diagnosis Kanker di Hari Ulang Tahun Pernikahan
8.4
Delapan tahun membina rumah tangga, Jessica harus menelan pil pahit di hari ulang tahun pernikahannya. Alih-alih merayakan momen spesial, dia tidak sengaja mendengar pengakuan kejam suaminya, Rio Aditya. Rio ternyata berselingkuh dengan Nadia dan berniat menceraikannya. Di saat yang sama, Jessica didiagnosis mengidap kanker ovarium stadium akhir. Tanpa rasa cinta yang tersisa dan waktu yang kian menipis, Jessica memutuskan untuk merelakan semuanya, bersiap pergi selamanya demi kedamaiannya sendiri.
Sampul Novel En-PD158
8.7
Demi menyembuhkan putra kandungnya dengan Lin Yanran yang terkena leukemia, Zhou Yu'an meminta cerai setelah tiga tahun pernikahan. Ia memohon kepada sang istri agar diizinkan memiliki anak lagi dengan mantan kekasihnya itu sebagai pendonor sel penyelamat. Di balik janji setianya untuk kembali setelah proses medis selesai, sang istri justru menemukan pesan provokatif dari Yanran yang telah menanti kedatangan Yu'an untuk menghamilinya malam itu juga.
Sampul Novel Istri Pengganti
9.7
Rayhan hancur setelah dikhianati calon istrinya. Demi meluapkan kekecewaan, ia nekat memaksa Zahra menikah dengannya. Zahra tentu saja terkejut dan langsung menolak rencana gila itu. Tak tinggal diam, Rayhan menawarkan sebuah butik sebagai imbalan jika Zahra bersedia menggantikan posisi pengantin wanita yang kabur. Akankah Zahra menerima tawaran tersebut dan sanggup hidup sebagai istri pengganti bagi pria sedingin Rayhan?
Sampul Novel Kekayaan Besar: Aku Adalah Seorang Miliarder
9.2
Rencana kejutan ulang tahunku hancur saat memergoki kekasihku berselingkuh dengan pria kaya. Setelah dihina karena miskin, takdirku berbalik ketika pelayan keluarga terkaya mengungkap bahwa aku adalah pewaris sah Grup Nelson. Kini, berbekal kekayaan tanpa batas, aku siap membalas dendam. Saat mantan kekasihku bersujud memohon maaf, aku mengabaikannya dan melangkah ke dunia mewah. Bagiku, uang melimpah hanyalah deretan angka yang siap kuhabiskan.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED