Bab 1

Selama lima tahun, suamiku, Brama Wijaya, mengurungku di sebuah panti rehabilitasi. Dia mengatakan pada dunia bahwa aku adalah seorang pembunuh yang telah menghabisi nyawa adik tiriku sendiri.

Di hari kebebasanku, dia sudah menunggu. Hal pertama yang dia lakukan adalah membanting setir mobilnya ke arahku, mencoba menabrakku bahkan sebelum aku melangkah dari trotoar.

Ternyata, hukumanku baru saja dimulai. Kembali ke rumah mewah yang dulu kusebut rumah, dia mengurungku di kandang anjing. Dia memaksaku bersujud di depan potret adikku yang "sudah mati" sampai kepalaku berdarah di lantai marmer. Dia membuatku meminum ramuan untuk memastikan "garis keturunanku yang tercemar" akan berakhir bersamaku.

Dia bahkan mencoba menyerahkanku pada rekan bisnisnya yang bejat untuk satu malam, sebagai "pelajaran" atas pembangkanganku.

Tapi kebenaran yang paling kejam belum terungkap. Adik tiriku, Kania, ternyata masih hidup. Lima tahun penderitaanku di neraka hanyalah bagian dari permainan kejinya. Dan ketika adik laki-lakiku, Arga, satu-satunya alasanku untuk hidup, menyaksikan penghinaanku, Kania menyuruh orang untuk melemparkannya dari atas tangga batu.

Suamiku melihat adikku mati dan tidak melakukan apa-apa.

Sambil sekarat karena luka-luka dan hati yang hancur, aku menjatuhkan diri dari jendela rumah sakit, dengan pikiran terakhir sebuah sumpah untuk balas dendam.

Aku membuka mataku lagi. Aku kembali ke hari pembebasanku. Suara sipir terdengar datar. "Suamimu yang mengaturnya. Dia sudah menunggu."

Kali ini, akulah yang akan menunggu. Untuk menyeretnya, dan semua orang yang telah menyakitiku, langsung ke neraka.

Bab 1

Panti rehabilitasi itu adalah sebuah kotak putih steril di pinggiran Jakarta, sebuah tempat yang dirancang untuk menghapus keberadaan seseorang. Selama lima tahun, tempat itu telah menjadi duniaku. Dindingnya kosong, udaranya berbau disinfektan dan keputusasaan, dan satu-satunya pemandanganku adalah sepotong langit kelabu.

Aku menatap bayanganku di lantai yang mengilap. Wajah kurus kering balas menatapku, dengan mata cekung dan kulit pucat. Pakaian yang kukenakan, seragam longgar, menggantung di tubuhku yang tinggal tulang. Pakaian itu adalah pengingat terus-menerus bahwa aku bukan lagi Anjani Putri, primadona kesayangan kalangan elite Jakarta. Aku hanyalah sebuah nomor, seorang pasien, seorang pembunuh.

Lima tahun yang lalu, suamiku, Brama Wijaya, memasukkanku ke sini. Dia melakukannya setelah aku dituduh membunuh adik tiriku, Kania Anindita. Dia mengatakan pada dunia bahwa itu adalah tindakan belas kasihan, sebuah kesempatan bagi istrinya yang hancur untuk menebus kejahatannya yang mengerikan.

Aku berlutut, lutut telanjangku menekan lantai yang dingin dan keras. Rasa sakit yang sudah biasa. Di depanku ada sebuah foto berbingkai Kania, yang sedang tersenyum. Ini adalah ritual harianku, penebusan dosaku yang dipaksakan. Aku harus berlutut di hadapannya selama dua jam setiap pagi dan dua jam setiap malam.

Seribu delapan ratus dua puluh lima hari. Aku telah menghitung setiap harinya.

Sebuah gedoran keras di pintu memecah kesunyian. Sipir masuk, wajahnya tanpa ekspresi.

"Bangun, Anjani. Kau dibebaskan."

Kepalaku terangkat. Bebas? Kata itu terasa asing, mustahil.

"Suamimu yang mengaturnya. Dia sudah menunggu."

Lima tahun. Lima tahun di neraka dunia ini, yang diatur oleh pria yang seharusnya mencintaiku. Pria yang dilihat semua orang sebagai malaikat yang saleh dan penuh kasih karena tidak menceraikan wanita yang membunuh adik ipar kesayangannya. Mereka tidak melihat kebenarannya. Mereka tidak mengenal Brama.

Dia bukan malaikat. Dia adalah iblis yang telah dengan cermat menciptakan purgatorium untukku.

Aku berjalan keluar dari panti, mataku mengerjap menahan silaunya matahari yang terasa asing. Aku berharap melihat wajah yang ramah, seorang anggota keluarga, siapa pun. Tapi trotoar itu kosong. Teman-temanku telah meninggalkanku. Keluargaku telah mencampakkanku. Aku benar-benar sendirian.

Sipir itu memberiku sebuah kotak kecil. "Perintah Tuan Brama. Dia bilang kau harus melanjutkan penebusan dosamu di rumah. Benda ini harus selalu bersamamu."

Di dalamnya ada foto Kania berbingkai yang sama. Rasa dingin yang mencekam menjalari tubuhku. Penjaranya mungkin berubah, tetapi hukumannya tetap sama.

Sebuah mobil hitam berhenti. Sopir keluarga Wijaya, seorang pria yang dulu menyapaku dengan senyum hangat, sekarang menatapku dengan tatapan hina saat dia membukakan pintu. Perjalanan kembali ke rumah mewah yang dulu kusebut rumah terasa sunyi. Rumah itu sama seperti yang kuingat, megah dan dingin. Tapi sekarang, aku bukan lagi nyonyanya. Aku adalah tawanannya.

Para pelayan dan kepala pelayan berbaris, bisikan mereka seperti desisan ular. Mereka menatapku bukan dengan kasihan, tetapi dengan cemoohan.

"Dia akhirnya keluar."

"Lihat dia. Seperti hantu."

"Tuan terlalu baik. Wanita seperti itu seharusnya membusuk di penjara."

Aku mengabaikan mereka, pikiranku berpegang pada satu-satunya harapan. Sebuah janji yang kubuat pada nenekku yang sedang sekarat bertahun-tahun yang lalu.

"Anjani," bisiknya, tangannya yang rapuh berada di genggamanku, "apa pun yang terjadi, kau harus melindungi adikmu. Arga adalah satu-satunya yang kau miliki."

Arga. Adik laki-lakiku. Dialah satu-satunya alasan aku bertahan selama lima tahun terakhir. Dialah satu-satunya alasanku untuk terus hidup sekarang.

Aku memeluk foto itu ke dadaku dan berjalan menuju tangga besar, langkahku goyah. Aku harus menemuinya.

Tiba-tiba, decitan ban mobil menggema dari jalan masuk di belakangku. Aku berbalik tepat pada waktunya untuk melihat sebuah mobil sport perak melaju lurus ke arahku, mesinnya menderu. Aku membeku, tubuhku menolak untuk bergerak. Mobil itu akan menabrakku.

Pada detik terakhir, aku melemparkan diriku ke samping, terguling ke halaman rumput yang terawat rapi. Mobil itu berhenti mendadak beberapa senti dari tempatku berdiri. Lututku lecet, dan jantungku berdebar kencang di dada. Secara naluriah aku memeriksa foto di tanganku. Kacanya tidak retak. Pikiran itu membuatku merinding—naluri pertamaku adalah melindungi simbol siksaanku.

Pintu mobil terbuka.

Brama Wijaya melangkah keluar, postur tubuhnya yang tinggi terbalut setelan jas yang dijahit sempurna. Dia terlihat sama seperti lima tahun yang lalu: sangat tampan, dengan aura kesalehan dingin yang memikat semua orang yang ditemuinya. Matanya, yang sewarna langit musim dingin, menatap mataku. Tidak ada kekhawatiran di sana, tidak ada keterkejutan. Hanya ketidakpedulian yang datar dan mengerikan.

Itu dia. Dia telah mencoba menabrakku.

Napas ku tercekat. Rasa takut yang telah kuhadapi selama lima tahun melilit perutku, mencekikku. Pria ini bukan hanya penyiksaku; dia adalah cinta sejatiku.

Aku teringat pada diriku yang dulu—ceria, sedikit liar, mengejar Brama Wijaya yang sulit dipahami dan dingin. Aku telah mengubah segalanya tentang diriku untuknya. Aku melunakkan sifatku, mempelajari hobi-hobinya yang tenang, membentuk diriku menjadi istri yang sempurna dan sopan seperti yang dia inginkan.

Untuk waktu yang singkat, aku pikir aku telah berhasil. Hari pernikahan kami adalah hari terindah dalam hidupku. Aku akhirnya memenangkan hati pria yang kupuja.

Lalu Kania meninggal, dan duniaku hancur.

Sekarang, berdiri di hadapannya, memar dan gemetar, aku bukan lagi gadis itu.

Aku bergegas berdiri, suaraku serak berbisik. "Brama... aku perlu bertemu Arga."

Dia berjalan ke arahku, tatapannya menyapu penampilanku yang acak-acakan dengan jijik. Dia berhenti tepat di depanku, begitu dekat hingga aku bisa merasakan hawa dingin yang memancar darinya.

"Kau tidak dalam posisi untuk membuat permintaan, Anjani." Suaranya rendah dan halus, suara yang sama yang pernah membisikkan kata-kata cinta.

"Tolong," aku memohon, satu kata itu keluar dari tenggorokanku. "Hanya sebentar."

Dia tidak menjawab. Sebaliknya, dia membuat gerakan kecil dan tajam kepada dua pengawal besar yang telah keluar dari rumah.

"Sepertinya lima tahun perenungan tidak mengajarimu kerendahan hati," katanya, suaranya tanpa emosi. "Hukumanmu belum berakhir. Ini baru saja dimulai."

Para pengawal mencengkeram lenganku. Cengkeraman mereka seperti besi.

"Bawa dia ke kandang anjing," perintah Brama, membelakangiku seolah-olah aku hanyalah sampah yang harus dibuang.

Kandang anjing. Dia akan mengurungku di kandang anjing.

Kepanikan mencakar-cakar tenggorokanku. "Tidak! Brama, tidak! Tolong!"

Mereka menyeretku pergi, permohonanku bergema tanpa jawaban di halaman yang luas dan kosong.

Bab 2

Lututku tergesek kerikil saat para pengawal menyeretku melintasi halaman. Batu-batu kasar itu merobek kulitku, tetapi rasa sakitnya tidak seberapa dibandingkan dengan beban penghinaan yang menghancurkan. Aku ditarik seperti binatang menuju kandang anjing besar dari besi tempa di ujung taman. Itu adalah rumah bagi anjing Doberman kesayangan Brama.

"Tidak, tolong, jangan lakukan ini," aku merintih, suaraku pecah.

Para staf rumah tangga telah berkumpul untuk menonton, wajah mereka campuran antara rasa ingin tahu yang tidak wajar dan kepuasan yang kejam. Beberapa dari mereka mengangkat ponsel mereka, lensa hitam kecil itu menangkap penghinaanku. Suara tawa mereka seperti pukulan fisik.

"Lihat si 'pembunuh' itu. Dia mendapatkan apa yang pantas dia dapatkan."

"Dia pantas berada di dalam kandang."

Para pengawal melemparku ke dalam kandang dan membanting pintu berat itu hingga tertutup. Grendel logam itu berbunyi klik, suara yang terasa begitu final. Anjing-anjing Doberman, yang terganggu oleh keributan itu, mulai menggonggong, geraman mereka yang dalam dan mengancam memenuhi ruang kecil itu. Aku merangkak ke belakang kandang, menekan diriku ke jeruji yang dingin.

"Tolong, biarkan aku keluar!" aku menangis, suaraku hilang dalam hiruk pikuk gonggongan.

Brama berdiri di luar kandang, mengawasiku dengan mata kosong yang sama. Dia adalah patung penghakiman yang benar, tidak tergerak oleh ketakutanku.

Aku mencengkeram dadaku, jari-jariku mencari sesuatu, apa pun, untuk dipegang. Jari-jariku menemukan sebuah benda kecil yang halus di saku seragam murah yang kukenakan. Sebuah manik-manik lapis lazuli, hadiah dari nenekku. "Untuk perlindungan," katanya. Itu adalah satu-satunya benda dari kehidupan masa laluku yang berhasil kusimpan.

Batu halus itu terasa sejuk di kulitku, sebuah titik kecil realitas di dalam mimpi buruk ini. Pikiranku melayang kembali ke tahun-tahun yang kuhabiskan untuk mencoba mendapatkan cinta Brama. Aku pikir aku bisa melelehkan sikap dinginnya dengan kehangatanku. Aku begitu naif. Semua usahaku, semua cintaku, sia-sia. Semuanya berujung pada ini: sebuah kandang.

Harga diriku, yang pernah menjadi buah bibir masyarakat Jakarta, kini menjadi peninggalan yang terlupakan. Dia telah melucutinya dariku secara sistematis, sepotong demi sepotong, sampai tidak ada yang tersisa. Rasa sakit fisik, ketakutan yang terus-menerus, rasa malu di depan umum—semuanya melebur menjadi gelombang keputusasaan yang akhirnya menenggelamkanku. Dunia berputar, gonggongan anjing memudar, dan semuanya menjadi gelap.

Aku terbangun karena rasa sakit yang tajam dan perih di pipiku. Ibu Brama, Larasati Wijaya, berdiri di atasku, wajahnya berkerut dalam topeng kebencian murni. Aku tidak lagi di kandang, tetapi di lantai marmer dingin di ruang peringatan Kania.

"Makhluk tidak berguna," desisnya, suaranya penuh racun. "Kau pingsan hanya karena sebentar di dalam kandang? Kania mati karenamu. Mati!"

Dia menunjuk ke potret besar Kania yang tergantung di atas perapian. "Brama ingin kau bersujud. Seratus kali. Untuk memohon pengampunan Kania."

Tubuhku terasa seperti beban mati. Aku tidak bisa bergerak. Salah satu pelayan menjambak rambutku dan menekan kepalaku ke bawah, membenturkan dahiku ke lantai yang keras. Sekali. Dua kali.

"Maafkan aku," bisikku, kata-kata itu mekanis, tanpa arti.

"Lebih keras!" jerit Larasati. "Apa itu terdengar seperti kau menyesal?"

Sekali lagi, mereka menekan kepalaku ke bawah. Aliran darah hangat mengalir di pelipisku. Aku mengulangi kata-kata itu, suaraku menjadi gema kosong di ruangan yang sunyi. "Maafkan aku, Kania. Aku sangat menyesal."

Ingatan malam itu lima tahun yang lalu berputar di benakku tanpa henti. Kania, jatuh. Keterkejutan di wajahnya. Dan kemudian Brama, menemukanku di samping tubuhnya, wajahnya pecah bukan karena kesedihan, tetapi dengan kemarahan yang mengerikan dan dingin. "Kau akan membayar untuk ini, Anjani," sumpahnya. "Selama sisa hidupmu, kau akan hidup di neraka untuk menebus apa yang telah kau lakukan."

Dia telah menepati janjinya.

Aku membenturkan kepalaku ke lantai lagi. Dan lagi. Rasa sakit itu seperti denyutan yang jauh. Aku menghitung setiap benturan, sebuah litani penderitaanku. Sembilan puluh delapan. Sembilan puluh sembilan. Seratus.

Aku selesai, dahiku berdarah deras ke karpet putih bersih. Aku pusing dan mual, tetapi satu pikiran menembus kabut. Arga.

Aku menatap Brama, yang telah mengawasi dalam diam dari ambang pintu. "Aku sudah melakukan apa yang kau minta," desisku. "Sekarang, tolong, biarkan aku bertemu Arga."

Sekilas sesuatu—apakah itu rasa kasihan?—melintas di wajahnya, tetapi hilang secepat kemunculannya. Dia berjalan ke sebuah meja kecil dan mengambil sebuah botol berisi cairan gelap.

"Kau ingin bertemu adikmu?" tanyanya, suaranya lembut menipu.

Aku mengangguk, harapan beradu dengan teror di dadaku.

Dia mengulurkan botol itu. "Minumlah ini. Minumlah ini, dan aku akan membiarkanmu menemuinya."

Aku menatap botol itu, lalu ke wajahnya yang tak terbaca. "Apa ini?"

"Obat," katanya dengan lancar. "Untuk memastikan seorang pembunuh sepertimu tidak akan pernah bisa punya anak. Untuk memastikan garis keturunanmu yang tercemar berakhir denganmu."

Darahku terasa membeku. Dia ingin membuatku mandul. Dia ingin merenggut satu-satunya hal yang dianggap suci oleh seorang wanita, kemungkinan masa depan, keluarga sendiri. Semua karena kejahatan yang tidak kulakukan.

Aku memandang dari botol itu ke matanya yang dingin dan penuh tekad. Ini adalah pilihan antara masa depanku dan adikku.

Tidak ada pilihan sama sekali.

Untuk Arga, aku akan melakukan apa saja.

Dengan tangan gemetar, aku mengambil botol itu. Aku membawanya ke bibirku dan meminum setiap tetes terakhirnya.

Bab 3

Cairan itu membakar tenggorokanku, meninggalkan jejak berapi-api dan mengendap seperti bara panas di perutku. Panasnya hari musim panas di luar terasa seperti lelucon kejam dibandingkan dengan neraka yang berkobar di dalam diriku. Inilah solusi akhir Brama. Dia tidak hanya akan menghukum masa kiniku; dia akan menghapus masa depanku. Pria baik hati dan saleh yang dilihat dunia adalah monster, dan cintaku padanya telah menjadi arsitek kehancuranku sendiri.

Tapi aku harus hidup. Untuk Arga. Ingatan akan pesan terakhir nenekku menjadi mantra di tengah kekacauan rasa sakitku. Aku harus melindunginya.

Lututku lemas. Gelombang kram perut yang menyiksa mencengkeramku, begitu hebat hingga merenggut napasku. Aku menggigit bibirku untuk menahan jeritan, merasakan rasa anyir darah. Rasa sakit itu adalah makhluk hidup, memutar dan merobekku dari dalam.

Aku ambruk ke lantai, meringkuk seperti bola. Batuk hebat mengguncang tubuhku, dan aku memuntahkan seteguk darah ke marmer putih.

Di seberang ruangan, Brama tersentak. Untuk sesaat, kilatan sesuatu—kegelisahan, mungkin—melintas di wajahnya yang sempurna. Itu adalah retakan pertama yang kulihat di topeng esnya dalam lima tahun.

"Panggil dokter," bentaknya pada seorang pelayan di dekatnya, suaranya tegang.

"Tidak," aku terengah-engah, memaksakan kata itu keluar di tengah rasa sakit. "Tidak perlu dokter. Arga. Kau sudah berjanji."

Dia menatapku, wajahnya kembali menjadi topeng kemarahan dingin. Dia berbalik dan berjalan keluar ruangan, meninggalkanku menggeliat di lantai dalam genangan darahku sendiri.

Jam-jam berikutnya adalah kabut rasa sakit yang luar biasa. Seorang dokter datang, perutku dipompa, dan dunia memudar dan muncul kembali dalam gelombang penderitaan dan ketidaksadaran. Aku terbangun bukan di rumah sakit, tetapi di sebuah kamar kecil yang lembap di paviliun pelayan. Itu adalah sebuah sel.

Tubuhku adalah simfoni rasa sakit. Aku merasa kosong, cangkang rapuh yang bisa pecah kapan saja.

Pintu terbuka dengan keras, membuatku terlonjak. Seorang pelayan yang tidak kukenali berdiri di sana, wajahnya menyeringai jijik. Dia melemparkan sebuah bungkusan kain ke arahku. Bungkusan itu mendarat di atas selimut tipis yang menutupi kakiku.

Itu adalah sebuah gaun. Sepotong renda hitam yang sangat pendek dan tipis yang terlihat seperti pakaian penari telanjang. Kainnya murah dan kasar di jariku.

"Perintah Tuan," kata pelayan itu, suaranya penuh ejekan. "Kau harus memakai ini malam ini."

"Tidak," bisikku, suaraku serak. Aku mendorong gaun itu menjauh seolah-olah itu adalah ular berbisa.

Seringai pelayan itu melebar. Dia melangkah maju dan menamparku dengan keras. "Kau tidak punya pilihan." Dia merobek selimut dariku dan, dengan bantuan pelayan lain, memaksa tubuhku yang memberontak masuk ke dalam pakaian memalukan itu. "Tuan Brama sedang menjamu tamu. Dia ingin kau melayani mereka."

Mereka menyeretku keluar dari kamar, tubuhku gemetar tak terkendali. Di permukaan cermin lorong yang mengilap, aku melihat sekilas diriku sendiri. Aku adalah orang-orangan sawah yang mengenakan pakaian pelacur, wajahku pucat dan memar, mataku terbelalak ketakutan. Sulit untuk bernapas.

Mereka mendorongku ke ruang makan pribadi. Meja itu ditata untuk tiga orang, dengan gelas kristal dan peralatan perak yang berkilauan. Brama duduk di kepala meja, tampak tenang dan tak tersentuh seperti dewa. Dia bahkan tidak melirikku.

Dia akan memamerkanku di depan seseorang seperti ini. Dia akan menjual sisa harga diriku demi kepuasan gilanya sendiri.

Seorang pria besar dan berminyak berusia lima puluhan duduk di seberang Brama. Matanya menjelajahi tubuhku, senyum mesum menyebar di wajahnya.

"Jadi, ini hadiah kecil yang kau janjikan padaku, Brama," kata pria itu dengan suara keras, menjilati bibirnya. "Kudengar dia cukup liar."

Brama akhirnya menatapku, matanya dingin. "Pak Hartono, Anjani ada di sini untuk memastikan Anda menikmati malam yang menyenangkan."

Dia memberikanku pada babi ini. Sebagai hukuman.

Pikiranku kosong karena ngeri. Aku terhuyung mundur, mencoba melarikan diri, tetapi para pelayan menahanku dengan kuat.

"Brama, tidak," aku memohon, air mata mengalir di wajahku. "Tolong, jangan lakukan ini padaku."

Pak Hartono tertawa, suara yang mengerikan dan basah. Dia bangkit dan berjalan terhuyung-huyung ke arahku. "Jangan khawatir, sayang. Suamimu hanya ingin aku memberimu pelajaran. Dia menyuruhku untuk melakukannya dengan tuntas."

Dia mengulurkan tangan ke arahku, jari-jarinya yang gemuk mencengkeram lenganku. Dunia berputar, dan pikiran sadarku yang terakhir adalah jeritan yang tidak pernah keluar dari bibirku.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED