Tangisan Bram, mamanya serta neneknya di liang lahat Migo.. Orang - orang sudah paad berpulangan, hanya tersisa mereka bertiga disana.. Bram memeluk mamanya erat, dilihatnya batu nisan Migo.. Mata Bram sangat tajam menatap batu nisan itu, kedua tangan anak kecil itu di kepal kuat.. Dia sangat hapal seperti apa wajah pria yang sudah membunuh papanya..
"Ningsih.. Sebaiknya kita pulang, keburu sore nak.. Kita iklaskan Migo.. Mama juga sudah berusaha untuk iklas nak.. Kita hanya bisa berdoa untuk suami mu.." Ujar seorang wanita paru baya..
Hatinya sangat sakit, anaknya satu - satunya harus merenggang nyawa oleh ulah orang yang tidak bertanggung jawab..
"Hiks, Hiks.. Aku tidak tau harus apa ma, anak mama sudah pergi, aku harus apa ma, aku sangat mencintai suami ku, kenapa ma, kenapa ada orang yang tega melakukan itu para suami ku.. Suami ku selama ini tidak punya musuh. Kami datang ke desa ini untuk mengunjugi mama. Tapi malah mengantar nyawa suami ku.. Hiks, hiks.."
"Nak, iklaskan suami mu, kau harus kuat, ingat. Masih ada Bram yang butuh kamu, jangan sampai rasa sedihmu membuat mu lupa sama anak kamu.. Migo anak yang baik, semoga saja dia ditempatkan disisinya.."
"Ayo, kita pulang.. Sudah semakin sore.. Bram pasti lelah.. Dia juga butuh istirahat.." Wanita paru baya itu membawa cucu dan menantunya pergi dari pemakaman.. Sebagai seorang ibu, dia sangat sedih atas kehilangan anaknya..
Ningsing mengangguk. Dia merangkul anaknya sambil berjalan. Bukan hanya Ninsih saja, Bram putranya juga ikut terisak..
"Sayang, kita pulang ya. Besok kita kemari lagi menemui papa.. "
Bram mengangguk.. Dia menuruti apa kata mamanya..
Berjalan sambil terisak menuju mobil mereka.. Disaat mereka berada di pintu depan pemakanan, ada banyak pria berseragam hitam.. Mata Bram membulat, masih ingat dengan wajah orang - orang yang ada di depan mereka..
Deg..
"Siapa kalian?" Tanya Ninsih..
Bram mengeratkan pelukan nya pada Ningsih.. Dia ketakutan.. Tapi mata Bram tak luput mencari seseorang.. Seseorang yang sudah menembak papanya..
"Ternyata yang datang ke pemakanan hanyalah anak buah nya saja, yang di perintahkan untuk melenyapkan keluarga Migo hingga tak tersisa.."
"Hahahaha.. ternyata kalian disini. Kami capek mencari kalian ke kota.. Rumah kalian kosong, dan ternyata kalian malah di desa ini.. Katakan selamat tinggal untuk dunia yang penuh dengan kebahagiaan ini, nyonya..."
"Apa maksdu mu, apa kalian tidak tau, kami sedang berduka, anak ku baru saja di makam kan.. Pergi kalian, jangan ganggu kami.." Teriak mamanya Migo..
"Haha.. Kami akan pergi, tapi setelah kalian kami lenyapkan.. Bos kami meminta kami untuk melenyapkan kalian. Jika kalian sudah lenyap, maka perusahaan serta seluruh aset Migo akan jatuh ketangan bos kami.."
"Bunuh mereka, lakukan dengan cepat.." Jawab bos dari anak buah itu..
"Lari Bram.. Lari sana.."
Ningsih melakukan perlawanan, dia bahkan mengigit tangan pria yang berusaha mencekik dirinya..
"Mau kemana kamu anak manis.. Sini sama om, biar om berikan kamu kedamaian.. Duni ini terlalu kejam untuk kami, sayang.."
"Tidak, jangan sakiti aku. Kalian sudah membunuh papaku, kalian jahat.." Bram pun mengigit tangan pria itu..
"Agkkhh.. Kurang ajar, beraninya kau melakuakn ini padaku.. Rasakan ini,.."
Belum juga tangan pria itu sampai mencekik Bram, Tapi Bram sudah memukul aset berharga miliknya dengan kuat..
"Argkkk.. Kurang ajar, beraninya kau anak kecil.. Rasakan ini.." Bram pun di cekik..
"Agkkk.. Ma, tolong Bram.." Teriak anak kecil itu, suara tangisan nya melengking kuat..
"Bram.." Lirih Ningsih. Dia mengejar Bram, lalu di pukulnya kepala pria itu kuat..
"Agrhkk. sialan, wanita ja-lang. Berani sekali kau memukulku, akan kuhabisi kau dan anakmu, pergilah menyusul suamimu ke neraka.."
Ningsih menendang aset pria itu. Hingga tersungkur di tanah.
"Ayo Bram, kita lari.."
"tapi ma, nenek bagaimana..?" Langkah Ningsih pun terhenti. di lihatnya di belakang, jika mertuanya sedang di cekik dua orang pria, sedang satu pria tertawa melihat nenek itu kesakitan..
"Pergi Ningsih, jangan perdulikan mama, bawa Bram pergi, selamatkan diri kalian, mama sudah tua, nak. Mama mohon.." Pinta Wanita paru baya itu dengan memohon..
Ningsih menangis, entah apa yang harus dia lakukan, tidak tega meninggalkan mama mertuanya disana.. Ningsih pun menurut, dia kembali berrbalik, meraih tangan anaknya, lalu berlari dari sana, Ningsih membawa Bram menuju mobilnya.. Dia memacu mobil dengan kecepatan penuh..
"Brengsek, wanita itu berhasil kabur,, kejar dia, jangan sampai lolos.. Tuan bisa marah, kalau wanita itu berhasil lolos dari kita.."
Mereka berempat pun langsung menuju mobil, memacu mobil mereka dengan cepat, mengejar Ningsih yang sudah pergi sejak tadi..
"Ma, nenek ma.."
"Tenang sayang, kita pasti kembali menolong nenek, kamu jangan khawatir ya.."
"Ma, mereka yang sudah membunuh papa, aku melihatnya, ma.." Jawab Bram dengan isakan pilu.. Ningsing meremas dadanya satu tangan.. Rasanya sangat sakit.. Sakit sekali..
Ningsih melihat sekolah SMA, dia berhenti disana.. Ayo, nak. Turun..
"Kita mau kemana , ma.."
"Turun saja nak, kita pergi lagi menolong nenek.."
"Tapi ma, penjahat itu.."
"Tidak apa, nak. Kita pergi lagi, penjahat itu pasti sudah pergi.."
Ningsing menyetop taksi yang lewat.. Dia kembali kepemakaman, dan benar saja mertuanya sudah terlelatk disana..
"Mama.."
"Nenek.."
Ibu Win membuka mata, dilihatnya menantu serta cucunya dengan senyuman..
"Ningsih, jangan kembali lagi ke ibu kota, pergi lah yang jauh, selamatkan dirimu dan juga cucu mama.. Pergilah ke desa mama.. Disaan desa yang sangat terpencil, mereka pasti tidak akan menemukan kalian disana.."
"Tapi, ma.."
"Nak, dengar kan mama.. Mama sudah tua, waktu mama juga sudah tidak banyak lagi.. Biarkan mama menemani, Migo suami kamu.. Jaga cucu mama, jaga diri kalian.. Kau bisa berkebun disana, kau bisa menghidupi Bram hingga dia dewasa disana.. percaya sama mama, nak.. Tolong jangan membantah.."
Ningsih menangis, entah dosa apa yang sudah dia lakukan hingga cobaan hidupnya sangat berat. Di waktu yang bersamaan, akan kah dirinya kehilangan orang - orang yang dia cintai..
"Ma, kita bisa pergi bersama.. mama harus kuat, kita bisa pergi ke desa yang mama maksdu, Jangan tinggalin kami lagi, Ma. Ningsih mohon.. Ningsih sudah cukup terpukul dengan kepergian suamiku, mama harus kuat, kita ke rumah sakit, ma.."
"Tidak, nak. Mama sudah tidak sanggup lagi.. Mama hanya pesan, jaga Bram cucu mama.. Jaga diri kalian berdua. Mama sayang sama kamu, nak. Mama juga sayang sama cucu mama.."
"Nenek, hiks, hiks, Jangan tinggalin, Bram nek, Bram takut.. Hiks.."
Tangan wanita paru baya itu terangkat, di elusnya wajah menantu dan cucunya, tersenyum hangat..
"Jaga mama kamu, nurut sama mama kamu.." Selesai mengucapkan kata itu, dia menutup mata, bersamaan dengan tangannya jatuh ke bawah..
"Mama.. Hiks, Hiks"
"Nenek. Hiks, Hiks.."
Ningsih membawa Bram ke desa mertuanya.. Desa masa kecil wanita paru baya yang sudah merenggang nyawa.. Selesai mertuanya dimakan kan, Ningsing langsung membawa anaknya ke desa..
Tidak tau entah apa yang sudah terjadi sebelumnya, Ningsih juga tidak tau masalah apa yang dialami suaminya hingga mereka mendapat masalah bertubi - tubi..
Hanya cara itu satu - satunya agar Ningsih bisa selamat dari bahaya, mertuanya benar. dia harus menyelamatkan anaknya, masa depan Bram masih sangat panjang.. Bram harus tetap hidup. Ningsih akan berjuang demi putranya.
"Ma, kita mau kemana, Bram lapar.."
Lamunan Ningsih bubar akibat mendengar suara rengekan anaknya..
"Sabar ya, sayang, nanti kalau kita sudah sampai, mama akan cari makan, kamu minum dulu nak.."
Bram pun mengangguk, sejak tadi tangan anak kecil itu tidak lepas dari lengan mamanya.. Dia takut, jika sampai ada orang jahat lagi yang membunuh mamanya, Bram tidak akan tau mau pergi kemana.. Bram sangat takut dengan yang namanya kematian.. Papa dan neneknya tewas di saat yang bersamaan..
"Ma, kenapa orang jahat itu membunuh papa dan nenek, memangnya apa salah papa dan nenek ma.. Papa itu orang baik, nenek juga orang baik.."
"Sttt, sudah. Jangan di pikirkan, yang penting kita harus berdoa untuk papa dan nenek... Semoga mereka baik - baik saja disana, ya?"
Sampai di alamat yang di tuju, Ningsih turun dari mobil pikap pembawa sayur ke pinggiran kota.. Matanya melirik desa kecil itu, mertuanya benar, desa itu sangat terpencil, jauh dari jangkauan kota.. Rasanya hidup disana akan sulit untuk berkembang..
"Ma, ini rumah siapa?"
"Rumah nenek. Nenek minta kita ketempat ini.. Nanti, kalau keadaan sudah aman, kita bisa pergi mengunjugi papa dan nenek, sayang.."
Bram, mengangguk di pegang nya botol minum yang di berikan mamanya.
"Ma, Bram lapar.."
"Ah, ia. Biar mama periksa dulu ke dalam, ya nak.. Mari kita masuk.."
Ninsih melihat rumah itu sangat kecil, tapi tidak buruk, masih layak untuk di pakai.. Ningsih pun tidak menemukan sesuatu yang bisa di makan..
Yang namanya tinggal di desa, Ningsih tidak bisa menemukan rumah makan, untuk membeli makanan..
Mau tak Mau, Ningsih akhirnya minta makanan pada tetangga. Dia juga sekalian bersilaturahmi pada tetangga disana..
"Oh, menantunya Bu Win toh.. Bu Win aap kabar nya? Sudah lama bu Win tidak berkunjung ke mari. Biasanya sih, bu Win setiap akhir tahun nyekar ke makan orang tuanya.. Hidup Bu Win pasti enak hidup dirumah peninggalan suaminya ya nduk.."
Ningsih hanya tersenyum kecut, enak apanya, nyatanya mertuanya itu sudah tiada.. Ningsih pun akhirnya bercerita tentang kejadian yang sudah menimpa keluarganya, mulai dari suaminya hingga mertuanya. Ningsih juga bercerita, jika dia mengetahui tempat itu atas petunjuk dari mertuanya sendiri..
"Oh, jadi kalian akan tinggal disini toh? Baguslah, desa ini akan semakin ramai nantinya, soalnya ada neng dari kota.."
"Ini anaknya, toh. Tampan sekali.. Sudah kelas berapa?" tanya ibu tetangga itu..
"Kelas lima tante.."
"Wah.. Anaknya sopan ya? "
Dengan kemurahan hati orang disana, Ningsih mendapat makan malam untuk malam itu juga.. Selesai makan, Ningsih meminta Bram untuk segera istirahat. Sedang dirinya sibuk membersihkan rumah tersebut..
"Papa.. Tidak, jangan sakiti papaku. Papa, papa.."
Ningsih kaget, segera dilihatnya anaknya. Ternyata anaknya mengigau. Mimpi buruk di dalam tidurnya. Ningsih memeluk Bram sangat erat..
"Tenang nak, papa sudah tidak ada, papa baik - baik saja. Ada mama, ada mama sayang.." Ningsih terisak sambil memeluk putranya..
Di lihatnya Bram sudah tenang, Ningsih tidak lagi lemanjutkan beres - beresnya. Dia pun ikut tidur disamping anaknya, memeluk anak itu, khawatir, anaknya kembali bermimpi buruk..
***
Pagi pagi sekali, Ningsih sudah bangun.. Dia kembali mengerjakan pekerjaan rumah, berberes, menata isi rumah itu agar lebih rapih..
Termenung sesaat, terbayang dengan masa - masa ketika dia masih tinggal dirumah mereka di ibu kota bersama siaminya.. Ningsih kembali terisak, belum percaya rasanya jika saat ini hidupnya jungkir balik.. Hidup tanpa suami. Hidup hanya berdua dengan anaknya.. Mampukah dia menjalani harinya bersama anaknya..
"Mama.."
"Sayang, kamu sudah bangun, nak?"
"Ma, apa Bram akan sekolah.. Apa Bram akan pindah sekolah?" Pertanyaan anak itu membuat Ningsih sakit kepala, bagaimana caranya mengurus surat pindah anaknya.. Beruntung dia menyimpan kontak ponsel kepala sekolah.. Dengan begitu dia bisa minta tolong pada kepala sekolah untuk mengurus kepindahan anaknya..
"Ia, kamu akan sekolah disini. Tidak apakan nak..?"
"Tidak apa, ma. Asal Bram selalu bersama mama.."
"Tenang nak, kita akan selalu bersama. Mama mohon, Bram harus tetap kuat, harus baik - baik saja.. Jangan tinggalin mama ya nak.."
"Hem.."
*
Hari sudah terang, Ningsih pun melihat kebelakang rumah, ada sebidang tanah. Mertuanya memintanya untuk berkebun disana. Ningsih mengetahui, jika di desa itu masyarakatnya menanam sayuran, lalu akan di jual ke kota..
Dia harus bisa berbaur bersama masyarakat disana.. Demi menyambung hidupnya dan juga anak nya..
"Hai, kamu anak kota itu ya, mama ku bilang, ada orang yang baru datang dari kota, kalau boleh tau, siapa nama mu.."
"Nama ku, Bram.. Kalau nama mu siapa?"
"Kanaya.. Panggil Naya saja.. Dada Bram, aku pergi sekolah dulu ya, nanti telat, kalau telat suka disiplin sama ibu guru.. Soalnya ibu gurunya galak.."
Bram, mengangguk lalu mencari keberadaan ibunya, tadinya Bram pergi melihat - lihat di sekitaran rumahnya.. Dibukanya pintu, ada beberapa anak berjalan kaki hendak pergi kesekolah..
"Ma,.."
"Ya, nak. Ada apa. hem?"
"Apa Bram belum sekolah, tadi ada anak yang pergi sekolah, tapi kenapa mereka tidak naik mobil.. Biasanya kan Bram diantar sama supir ke sekolah, atau diantar sama papa.."
"Sayang, disini mana ada mobil seperti di kota.. Dengarin mama ya, nak.. Kehidupan di kota sama disini itu beda.. Kita harus terbiasa hidup seperti orang - orang disini.. Contohnya seperti berkebun.. "
"Oh, jadi mama mau berkebun juga..?"
"Hem."
"Ya sudah, biar Bram bantuin mama, nanti kita bisa jual sayuran seperti orang - orang disini.."
Bram, seketika ceria, dia senang jika mereka berkebun.. Ningsih lega melihat perubahan anaknya, berharap di hari - hari berikutnya senyum anaknya itu tidak pudar.. Ningsih ingin anaknya ceria seperti sebelumnya.. Biarlah dia yang memendam rasa. Memendam semua rasa pahit yang sudah menimpa keluarganya..
"Ya Tuhanku, tolong jauhkan kami dari orang - orang serakah itu, jangan kau ambil nyawa anak ku.. Cukup aku sudah kehilangan suami dan mertuaku.. Sudah sejauh ini kamu kabur, biarlah kami hidup tenang disini.." Doa Ningsih dalam hatinya.. Doa seorang ibu yang ingin buah hatinya tetap hidup dan baik - baik saja..