Bab 1

Teriakan seorang perempuan menggema pada salah satu kamar di rumah mewah itu. Isakannya terdengar sangat memilukan. Tangan perempuan itu berkali-kali mencakar punggung lelaki yang menindih tubuhnya. Kakinya menendang-nendang tanpa arah, sekuat tenaga dia melawan. Namun, apalah daya. Dia adalah perempuan bertubuh kecil.

"Tolong, lepas ...!"

Sangatlah sulit menyingkirkan monster yang terus menekannya. Permohonan gadis itu untuk berhenti, sama sekali tak dipedulikan lelaki tersebut. Akan tetapi, Pukulan demi pukulan harus ia terima secara bertubu-tubi di wajahnya karena memberontak.

Perempuan itu kemudian diam dan pasrah karena pukulan yang sangat kuat menghantam mulutnya. Tangan lelaki itu mencengkeram lengan perempuan dengan sangat kuat sehingga kuku lelaki itu menembus kulit mulusnya.

Suara tawa layaknya iblis jahanam menggema di telinga sang perempuan. Ia tidak akan pernah lupa semua yang terjadi padanya. Kehormatannya telah terengut, menangis pun percuma. Lelaki itu tidak melepaskan raganya yang telah lemah. Ia terus menindas dan mengabaikan tubuh lemah perempuan itu.

Darah menetes di mulut perempuan itu dan juga merasakan pangkal paha yang sakit tak terkira. Pergelangan tangan yang dicengkeram dengan paksa, terasa kebas. Hanya air mata yang dapat mewakili perasaan sakitnya sekarang.

Setelah menyelesaikan hajatnya, lelaki tersebut menyeret tubuh perempuan muda itu keluar ruangan. Muka lebam, baju yang telah koyak, dan luka di sekujur tubuh menjadi pemandangan yang sangat memilukan di rumah besar itu.

"Kau pantas mati jalang angkuh! Dunia bukan tempatmu!" Suara penuh dendam dan amarah terdengar jelas dari pria itu.

Pria bertubuh besar itu memukul kepala sang perempuan, kemudian menjambak rambutnya. Tak berapa lama, pria kejam itu menyuntikkan obat bius ke lengan si perempuan. Beberapa saat kemudian, perempuan itu terkapar tak sadarkan diri.

Dua orang laki-laki bertubuh besar membopong perempuan itu ke mobil dan menaruh tubuhnya di bagasi. Begitu sampai di hutan, kedua lelaki itu membuang sang perempuan ke tempat yang jauh dari manusia.

"Aman?" Salah satu dari pria itu bertanya.

"Aman! Lima menit lagi dia pasti mati!"

Sebelum pergi, mereka memeriksa perempuan itu yang sudah tak berdaya. Mereka yakin jika korbannya akan mati keesokan hari karena obat bius yang diberikan melebihi dosis atau akan mati karena diterkam binatang buas. Setelah itu mereka pergi, meninggalkan tubuh tak berdaya itu sendiri.

Sinar matahari dari celah pohon yang besar membuat perempuan tersebut sadarkan diri. Ia meraba seluruh tubuhnya yang sudah tak ada daya lagi. Perempuan tersebut berusaha untuk menyeret tubuhnya keluar dari reruntuhan dahan pohon dan dedaunan.

Sakit yang ia rasakan di sekujur tubuh tak seberapa dibanding dendamnya kepada iblis yang telah merengut kesuciannya. Dengan derai air mata dan tenaga yang tersisa, perempuan tersebut berusaha untuk bangkit.

Ia berhasil berdiri. Namun, perih yang ia rasakan bagian bawah tubuhnya, membuat perempuan itu sangat sulit untuk berjalan. Ia terjatuh, kemudian bangkit lagi. Setelah beberapa langkah, ia tak sanggup melanjutkan perjalanan.

Perempuan itu bersandar di pohon besar. Dia melihat sekeliling. Hutan belantara tanpa penghuni. Mungkin juga ada binatang buas di tempat ini. Namun, rasa takut sudah tidak dihiraukan lagi. Lebih baik mati diterkam binatang buas daripada harus hidup menanggung malu.

Beberapa saat kemudian, ada suara tapak kaki. Ia waspada. Dalam benaknya berpikir jika itu suara binatang buas. Ia pasrah jika harus mati saat itu juga. Jikapun harus hidup, sudah tak ada gunanya lagi. Perempuan itu memejamkan mata. Pasrah. Namun, teriakan seorang wanita mengejutkannya.

"Mayat!"

Wanita tua itu melemparkan kayu yang dipanggulnya, kemudian berlari untuk menolong perempuan tersebut. Ia adalah warga desa yang sedang menebang kayu. Perempuan tersebut merasa aman saat ini. Ada seseorang yang melihatnya dan akan menyelamatkannya.

Rupanya, wanita itu tak sendiri. Ia bersama dua orang laki-laki separuh baya yang datang menghampiri. Mereka berusaha untuk membantu. Salah seorang di antara mereka lari ke desa untuk segera meminta bantuan.

"Dia masih hidup," kata wanita renta itu.

"Ru-rumah cat hijau, blok Golden Flower ...," gumam perempuan tersebut sebelum pingsan kembali.

"Apa katanya?"

"Itu mungkin rumahnya!"

"Kita harus ke sana!"

"Itu jauh di kota."

"Kita harus kasih tau keluarganya."

Suara bersahutan

memperdebatkan kalimat terakhir perempuan tersebut.

Bab 2

Ruang kerja itu terasa sepi, hanya terdengar suara jari yang sedang beradu dengan keyboard komputer. Sesekali suara decakan seorang pria memecah keheningan sore itu. Tiba-tiba, suara pintu berdecit membuat pria itu mengalihkan pandangan dari komputer kerjanya.

"Kasus baru lagi, motif sama." Pria paruh baya dengan wajah teruk duduk di kursi kayu sambil mengembuskan asap rokoknya.

"Yang kampus, apa Bengawan Solo?" Pria berambut ikal itu meninggalkan pekerjaan dan lebih fokus pada atasannya.

"Kampus. Motif sama dengan yang di Tawangmangu, abis diperkosa, dibunuh." Komandan itu menjelaskan sambil meletakkan map di meja.

Rama Aditya. Seorang intel kepolisian terbaik itu mengambil map yang diletakkan di mejanya. Kemudian ia membaca rincian kasus yang sedang dihadapi saat ini.

"Diperkosa hingga rusak genital, kemudian dibunuh. Sama. Anehnya, kasusnya selalu ditutupi oleh pihak kampus, nggak ada jejak. Wartawan lokal juga nggak ada yang bahas setelah kasus selesai, apalagi masuk headline news nasional. Menurutmu gimana, Ram?" Abimanyu Chandra, komandan dari sebuah kepolisian mencoba mengurai kasus yang sudah enam bulan diselidiki dan tanpa hasil memuaskan itu.

Semua sudah dilakukan dengan hati-hati dan teliti, tetapi pelaku sangatlah licin dan rapi sehingga kepolisian dibuat kebingungan akan kasus ini.

"Apa semua korban dari universitas yang sama, Pak?" Rama mencoba menganalisis.

"Yes! Semua mahasiswi di tempat yang sama. Kampus Madina!" Abimanyu Chandra menjawab dengan tegas.

Rama menerawang ke langit-langit kantornya. Tiba-tiba saja, badannya bergetar, telapak tangannya mengepal dan mengeluarkan keringat dingin, seketika amarah menguasai dirinya.

Pria berkulit putih itu terkenang dengan adik perempuan satu-satunya. Tiga bulan yang lalu, adik Rama menjadi korban pemerkosaan dan tubuhnya ditemukan di hutan lereng Gunung Lawu.

Nadya, gadis cantik berambut panjang. Kata teman-teman kuliahnya, ia mirip dengan artis Korea. Gadis itu meminta izin pada saudaranya untuk pergi ke Tawangmangu. Di sana, Nadya akan melakukan kegiatan kemahasiswaan yang diadakan oleh himpunan prodinya.

Hari pertama semua berjalan lancar. Nadya masih sering menghubungi Rama dan memberikan kabar tentang kegiatan yang dilakukannya. Namun, setelah tiga hari di sana, Nadya hilang kontak.

Dengan perasaan khawatir, Rama menghubungi semua teman-teman Nadya. Namun, betapa terkejutnya Rama ketika mengetahui jika kegiatan itu dipercepat dan hari ke dua semua mahasiswa telah kembali ke kota.

Pria berpostur tinggi itu mencari ke vila tepat Nadya menginap, tetapi vila itu telah kosong dan Rama kehilangan jejak Nadya. Dia juga sempat mengabarkan pada rekan sesama polisi, sehingga semua mencari keberadaan adik Rama itu.

Tiga hari Nadya menghilang dan tidak ada kabar ataupun petunjuk dari gadis cantik itu. Pihak kepolisian juga sudah mencari sesuai prosedur, tetapi semua sia-sia. Nadya bagai hilang ditelan bumi.

Sore, hari ketiga Nadya hilang, dua orang penduduk desa mendatangi rumah Rama. Saat itu dia baru saja kembali dari pekerjaannya. Mereka memberitahu jika seorang gadis tengah sekarat di Puskesmas desa.

Rama segera menghampiri Puskesmas di daerah pelosok Tawangmangu dan menemukan adiknya di sana dengan luka babak belur di sekujur tubuhnya. Parahnya, Nadya dalam keadaan setengah sadar. Setelah itu, Rama segera memindahkan adiknya ke rumah sakit di kota Solo-tempatnya tinggal- dan dia juga memerintahkan rekannya untuk tidak memviralkan kasus sang adik. Semua dilakukan demi privasi keluarganya. Apalagi profesi Rama yang seorang intelejen. Semua menyelidiki kasus ini secara diam-diam.

Dua hari Nadya berada di ICU. Ia mengalami kekerasan seksual yang berakibat rusaknya genital. Obat bius yang disuntikkan secara berlebihan di tubuh gadis itu juga mempengaruhi syarafnya. Selama itu, Nadya sama sekali belum pernah siuman dan Rama selalu menunggu di samping Nadya. Pria itu ingin mengetahui siapa manusia kejam yang memperlakukan adiknya secara tak manusiawi. Padahal Nadya adalah seorang mahasiswi tingkat akhir yang cerdas dan berprestasi. Ia masih kecil untuk menerima semua ini, apalagi almarhum ayah dan ibu Rama menitipkan adiknya untuk dijaga. Rama merasa sangat bersalah dengan semua yang dialami sang adik.

Takdir Tuhan berkata lain. Manusia berusaha. Namun, Tuhan juga yang menentukan nasib manusia tersebut. Saat itu Rama sedang bertugas di luar kota dan suster di rumah sakit memberitahunya jika Nadya telah sadar. Gadis berkulit sama dengan kakaknya itu terus memanggil nama Rama. Namun, Rama sama sekali tidak hadir di samping sang adik.

Satu jam berlalu dan Rama baru selesai dari tugasnya di luar kota. Pria itu segera menuju rumah sakit dan setibanya di kamar sang adik, dia sangat terkejut, Nadya telah meninggal.

Hari itu adalah detik di mana Rama mengalami depresi terberat dalam hidupnya. Dia merasa menjadi manusia tergagal di dunia karena sang adik terluka oleh keteledorannya, yaitu memberikan izin sembarangan.

"Woe, Ram! Ngapain ngelamun?" Pak Chandra melambaikan tangan di depan wajah Rama.

Agen rahasia itu hanya diam menanggapi komandannya. Kemudian mengusap wajahnya berkali-kali. Berharap semua yang dijalaninya hanya mimpi, tetapi pak Chandra ada di hadapannya dan semua yang terjadi tiga bulan lalu adalah nyata. Ia harus bangkit kembali demi adiknya.

Rama mengambil map yang diletakkan di mejanya. "Tugas saya apa?"

"Kamu selidiki dari dalam!" Pak Chandra bicara sedikit berbisik.

"Bagaimana bisa?" Rama terkejut dengan keputusan Pak Chandra.

"Ada lowongan jadi administrasi perpustakaan di kampus itu. Aku udah daftarkan kamu di sana." Pak Chandra memajukan kursinya supaya lebih dekat dengan Rama. Ia melihat kanan dan kiri seakan di sekitarnya ada musuh yang mengintai.

"Kemudian?" Rama mengerutkan keningnya.

"Selidiki! Cari sebanyak-banyaknya! Bisa jadi kasus ini berhubungan dengan adikmu!"

Rama mengusap wajahnya. Mata sipitnya menatap tajam atasannya. "Tapi saya tidak bisa!"

"Bisa! Nggak ada yang secerdik kamu saat menyamar. Kamu juga jeli!" Pak Chandra berapi-api. Ia harus bisa meyakinkan Rama karena hanya laki-laki itu yang bisa diandalkan saat ini.

Rama semakin bimbang. Jika ia menyelidiki kasus ini, pasti kenangan adiknya yang sudah dianggap berlalu akan muncul kembali.

"Dalam enam bulan sudah ada tujuh korban, termasuk adikmu. Motifnya, semua adalah mahasiswi di kampus yang sama." Pak Abimanyu Chandra memperjelas kasus yang sedang dihadapi saat ini.

"Semua mulus, Ram. Nggak ada sidik jari, nggak ada petunjuk apa pun. Rapi!" Pak Chandra terlihat sangat geram.

Rama melihat atasannya itu, kemudian dengan mantap ia mengangguk. "Baiklah, saya terima tugas ini."

"Oke, mulai besok, nama kamu adalah Dandy."

**

Pagi yang cerah di langit kota Solo, tetapi tidak secerah wajah Rama yang selalu suram akhir-akhir ini.

Pria dengan setelan kemeja dan celana bahan itu bergegas ke ruang perpustakaan setelah memarkirkan motor sport-nya. Kemudian ia bertanya pada satpam kampus dan diperintahkan untuk langsung menuju ruang pemimpin perpustakaan.

Pria itu melihat ke kanan dan kiri ruangan, tetapi tiba-tiba tubuhnya bersentuhan dengan seorang dan terdengar suara benda jatuh dengan sangat keras.

"Mata kamu di mana!" Suara teriakan perempuan membuat Rama melotot.

Bab 3

Rama melihat gerbang yang terpampang jelas di depannya. Di sana tertulis "Universitas Madina" dengan huruf kapital berwarna biru tua. Pintu gerbang itu menyimpan sejuta kenangan di dalamnya, kemudian Rama mengalihkan pandangannya kembali menikmati mie ayam yang sudah dipesan.

Saat ini, Rama sedang berada di warung depan kampus. Warung yang berjejer di sepanjang jalan kampus itu menyuguhkan berbagai menu. Rama memilih mie ayam sebagai makan siangnya hari ini.

Tiba-tiba ingatan laki-laki itu berkelana beberapa bulan yang lalu saat ia sering mengantar adiknya ke kampus. Apalagi dulu, Rama dan Nadya selalu makan bersama di warung itu. Rama mengembuskan napas berat. Mie ayam yang menjadi makanan favoritnya tak berasa sama sekali-tak nafsu makan. Beberapa saat kemudian, Rama meninggalkan makanan yang isinya masih setengah mangkuk itu dan berlalu menuju perpustakaan tempat bekerja untuk sementara.

Mata sipit itu melebar saat melihat perempuan di depannya. Ia terpaku sejenak, saat kembali tersadar, ia berbalik, dan pergi mencari jalan lain supaya tidak bertemu dengan perempuan itu.

"Sial! Baru hari pertama udah malang nasibku!" Rama terus menggerutu.

Laki-laki berbadan kekar itu mengalami nasib buruk pagi tadi saat akan masuk ke perpustakaan. Ia menabrak seorang mahasiswi dan buku yang dibawanya berserakan di lantai. Anehnya, gadis itu tidak marah kepada Rama, tetapi dia melihat pria itu seperti idolanya.

Setelah berada di meja admistrasi, Rama segera mengambil posisi. Ia mulai menghidupkan komputer, duduk menghadap rak buku yang berderet-deret, sedangkan para mahasiswa sibuk dengan bukunya. Tugasn Rama adalah mendata mahasiswa yang meminjam buku dan meminta uang denda jika ada mahasiswa yang terlambat mengembalikan buku. Pekerjaan yang membosankan bagi Rama, tetapi ini semua demi penyelidikan.

Rama kembali mendelik saat melihat sosok perempuan mendekatinya. Gadis cantik dengan busana mewah itu berdiri tepat di depan Rama. Setelah itu, dia membungkukkan badannya dan mata beriris cokelat itu melihat lekat ke wajah sang pria.

"Tadi ngapain menghindar?"

Rama menjauhkan diri dari sang gadis. "Hah! Maksudnya?"

"Nggak usah ngelak, Mas. Siapa namanya?" Gadis itu menarik name tag di dada sebelah kiri Rama dan membaca namanya.

"Dandy Prasetyo. Oke mas Dandy, kenalin, aku Joana Rachel. Mahasiswi Fakultas Hukum. Aku tiap hari ke perpus buat pinjam buku karena ada dosen killer yang menuntut harus ada buku referensi setiap kuliah. Jadi, tiap hari nanti kita bakalan ketemu terus." Kemudian Joana mengedipkan sebelah matanya.

Rama terkejut. Berurusan dengan perempuan seperti Joana tidak terpikirkan sama sekali dalam misinya. Apalagi gadis itu banyak bicara. Rama semakin pening dibuatnya.

"Oke, Mas Dandy. Aku mau cari buku dulu, ya." Kemudian Joana pergi meninggalkan Rama yang masih bengong.

"Maafin teman saya, ya, Mas. Dia emang gitu." Gadis berkacamata dan berambut keriting tiba-tiba berada di depan Rama dan tentu saja membuat pria itu terkejut untuk kedua kalinya.

"Aku Shela, Mas. Temannya Joana." Gadis itu tersenyum manis, kemudian pergi meninggalkan meja admistrasi menuju rak buku, tempat Joana berada.

Rama mengembuskan napas lega. "Mending aku ketemu Yakuza dari pada ketemu dua mahluk tadi." Rama mengelus dadanya berkali-kali.

Malam ini Rama menyempatkan untuk mampir ke kantor. Ada banyak keluhan yang akan dibicarakan dengan komandannya. Pria jangkung itu menunggu sang atasan di kantornya sambil memainkan ponsel.

Rama mengerutkan keningnya saat melihat ada nomor baru di room chat-nya. Segera dia membuka pesan tersebut.

Pesan dari 081354168666:

Mas Dandy lagi apa?

Laki-laki itu menjauhkan ponsel dari wajahnya dan seketika bulu kuduknya meremang.

"Dari mana dia tau nomorku?"

Pintu ruangan terbuka dan membuat Rama kaget.

"Nggak salam dulu, Bos?"

Pak Chandra tersenyum mengejek. "Nggak tau ada kamu di dalam."

"Kan, saya udah bilang sama orang depan." Rama memasang wajah kesal, kemudian ia memasukkan ponsel ke kantong celananya.

"Ada apa? Sudah ada info?" Chandra duduk di kursi kebesarannya.

Rama berdecak. "Baru hari pertama sudah sulit, Bos."

"Maksudnya?" Chandra terkejut dengan jawaban anak buahnya karena ia sudah memastikan jika semua baik-baik saja.

"Baru mau kerja, sudah ada penghalang." Rama memasang wajah memelas.

"Apa? Siapa?" Chandra bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati Rama.

Rama meremas rambut ikalnya. "Itu, Bos, kan, tau kalau saya nggak suka ada perempuan pengganggu. Di sana ada makhluk jenis itu."

Chandra terbelalak, tetapi kemudian dia terbahak-bahak karena cerita Rama.

"Sama Triad berani, tapi sama perempuan melempem." Chandra menyindir sambil tertawa.

Rama merasa malu. Ia tidak menyangka jika akan diledek oleh komandannya seperti itu.

"Ram, fokus saja! Waktu kita tidak banyak. Jika satu minggu ini kita tidak dapat petunjuk apa pun, maka pekerjaan yang menjadi taruhan. Masih mau naik jabatan, kan?"

Rama mengangguk. Kalimat sang komandan membuatnya semakin bersemangat. Ia hanya perlu menyelidiki kasus ini selama seminggu kemudian akan pergi dari sana untuk selamanya.

**

Esok pagi sebelum bekerja di perpustakaan, Rama pergi ke gedung 'E' tempat korban ditemukan tewas tak berbusana.

Pria itu mengamati aula Fakultas Tehnik yang sedang diperbaiki. Garis polisi sudah tidak ada lagi di sana. Aneh memang, seharusnya garis polisi masih ada di sini, tetapi ini baru dua hari dan kasus pembunuhan itu lenyap begitu saja. Padahal polisi belum menyimpulkan apa pun.

Detik berikutnya Rama masuk ke tempat itu. Ruangan kosong dengan atap setengah berlubang karena gedung yang sudah tua, juga tembok yang sudah retak sana-sini. Seharusnya gedung ini diperbaiki dua hari yang lalu, tetapi setelah para pekerja menemukan mayat di ruangan ini, pembangunan ditunda.

Rama berdiri di posisi mahasiswi itu ditemukan. Mata sipit Rama mengamati pintu keluar yang ada di samping kanan gedung.

"Pasti mayat itu diseret melalui gedung itu." Rama berjalan menuju pintu keluar.

Dari depan pintu, Rama mengamati keadaan sekitar. "Pintu ini berseberangan langsung sama parkiran perpus. Depannya lagi gedung perpus." Rama berjalan menyusuri tempat parkir yang masih sepi.

"Tempat yang paling dekat dengan aula Fakultas Tehnik cuma gedung perpus. Kalau mahasiswi itu diperkosa di situ enggak mungkin. Anak tehnik suka lembur sampai malam." Rama terus menganalisis dalam hati.

Kemudian pria itu berjalan perlahan sambil mengamati sekitar. "Kalau kejadian nahas itu terjadi di Fakultas Ekonomi, enggak mungkin juga. Karena kalau dari sana pasti lewat bengkel anak tehnik."

Rama kembali mundur menuju tempat parkir perpustakaan. "Nggak salah lagi, pemerkosaan itu terjadi di dalam perpustakaan, setelah itu korban diseret ke aula ini untuk dibunuh."

Saat Rama sedang berpikir, tiba-tiba ada suara manja memanggilnya. "Mas Dandy, ngapain di sini?"

Rama memejamkan mata, perlahan menoleh ke belakang. Saat melihat wajah ceria Joana, Rama berdecak, kemudian melangkah cepat menuju perpustakaan.

"Eh, kok, kabur. Tunggu aku, Mas!" Joana mengejar Rama dengan langkah terseok. Apalagi sekarang ia menggunakan sepatu hak tinggi.

"Mas, lihat aku kok kayak lihat setan. Aku jadi tersinggung loh, Mas." Joana berhasil menyejajarkan langkahnya dengan Rama.

Rama sama sekali tidak melihat Joana. Ia terus saja berjalan.

"Mas jahat, ya! Aku lagi ngomong, kenapa nggak ditanggapi!" Joana manyun.

Joana tetap mengejar Dandy yang semakin melebarkan langkahnya. "Mas bisu? Kok, nggak jawab pertanyaanku?"

Rama menghentikan langkahnya. "Mau kamu apa!"

Joana berhenti melangkah. Bukannya takut dengan bentakan Rama, gadis itu justru tersenyum lebar. "Aku suka Mas Dandy kalau nanggepin omonganku. Berati aku ada yang perhatiin."

Rama heran dengan perempuan di depannya. "Emang nggak waras." Rama bicara lirih kemudian ia pergi meninggalkan Joana yang masih mengejarnya.

Saat akan masuk ke perpustakaan, kepala perpustakaan dan rektor baru saja keluar dari ruangan dua lantai itu. Mereka terlihat berbincang dengan serius.Rama menunduk untuk menghormati keduanya, tetapi berbeda dengan Joana, gadis itu tak acuh dengan dua orang penting itu dan berlalu begitu saja.

"Gadis aneh. Tadi ceria, sekarang mukanya berubah drastis!" batin Rama sambil berjalan menuju meja kerjanya.

Dari jauh, Rama melihat Joana sedang berdiri di depan rak buku. Semakin lama, gadis itu semakin menunjukkan keanehannya. Ia bukan mencari buku, tetapi hanya melamun saja di depan rak besar itu. Karena penasaran, Rama berjalan mendekati sang gadis dan memastikan keadaannya.

"Kenapa?"

"Bisa diam nggak! Nggak usah ikut campur urusanku! Kamu pergi!"

Rama menautkan alisnya. "Emang perempuan aneh!"

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED