Bab 1

Amara membuka matanya perlahan, dan dunia seakan berhenti berputar. Langit-langit putih polos dengan lampu gantung kecil yang pernah ia benci begitu akrab di matanya. Hidungnya mencium aroma mawar lembut dari jendela yang sedikit terbuka. Dia mengenali tempat ini. Sangat mengenalinya.

Tangannya yang gemetar meraba seprai kasur. Seprai ini, warna biru pudar dengan bordir bunga melati di pinggirannya, adalah favorit ibunya. Perlahan, ia turun dari tempat tidur, berdiri dengan kaki yang terasa lemah. Jantungnya berdegup kencang ketika matanya menangkap bayangan dirinya di cermin kecil di sudut kamar.

Rambut hitam panjangnya yang pernah patah-patah karena stres kini kembali sehat dan berkilau. Wajahnya, yang dulu dipenuhi garis-garis luka karena tangisan malam panjang, kini tampak mulus tanpa cela. Tapi yang paling mengejutkan adalah matanya-mata itu bukan lagi mata seorang wanita yang kalah, tapi mata seorang gadis berusia 22 tahun, penuh dengan kemungkinan.

"Tidak mungkin..." bisiknya, suaranya gemetar.

Amara berlari ke jendela. Pandangannya menyapu halaman rumah kecil yang dulu ia tinggali bersama mendiang ibunya sebelum menikah dengan Rafael. Setiap sudut tampak sama persis seperti delapan tahun lalu-sebelum hidupnya berubah menjadi neraka yang tak berujung.

Tubuhnya lunglai. Lututnya jatuh ke lantai dengan gemeretak pelan. "Ini... mimpi? Tidak mungkin... aku sudah mati! Aku meminum racun itu. Aku mati sambil memeluk guci abu anakku!" Air matanya tumpah tanpa bisa ditahan, tetapi kali ini bukan hanya air mata kesedihan. Ada rasa lega, rasa harapan yang muncul perlahan di antara isakannya.

"Aku diberi kesempatan kedua..."

Namun, rasa lega itu tak berlangsung lama. Amara teringat semua kengerian yang pernah ia alami. Ingatan akan suara Rafael yang memaki dirinya sebagai istri tak berguna, wajah Isabella yang pura-pura tak bersalah saat merebut tempatnya sebagai istri sah, bahkan bayangan terakhir putrinya, Kayla, yang meninggal karena kelalaian Rafael, menghantam benaknya seperti gelombang badai.

Amara meremas lantai kayu di bawahnya, kuku-kukunya meninggalkan bekas yang dalam. "Tidak lagi," desisnya dengan suara rendah, hampir seperti ancaman pada dirinya sendiri. "Aku tidak akan membiarkan mereka menghancurkan hidupku lagi. Rafael, Isabella... kalian akan menyesal pernah meremehkanku."

Amara membersihkan wajahnya dan mengganti pakaiannya dengan gaun sederhana yang tergantung di lemari. Dia berjalan keluar kamar, melewati ruang tamu yang penuh dengan kenangan masa kecilnya. Ibunya, Siti, sedang duduk di meja makan, menyiapkan sarapan dengan senyum hangat yang sama seperti dulu.

"Amara? Kamu kenapa, Nak? Kok nangis?" suara ibunya memecah lamunannya.

Amara menatap wanita itu dengan mata memerah. Dia ingin memeluk ibunya, mengatakan betapa dia merindukannya, betapa dia menyesal karena dulu tidak cukup memperhatikan wanita itu di tengah perjuangannya melawan kanker. Tapi dia menahan diri. Dia tidak bisa membiarkan emosinya menguasai rencana besarnya.

"Tidak apa-apa, Bu," jawab Amara, suaranya nyaris bergetar. "Aku cuma... mimpi buruk tadi malam."

Ibunya tersenyum, meski tatapannya penuh rasa khawatir. "Sudah, duduk sini. Sarapannya masih hangat."

Amara mengangguk dan duduk di meja makan, memandangi wajah ibunya dengan hati yang penuh tekad. Di kehidupan ini, dia akan melindungi ibunya. Tidak akan ada lagi malam-malam panjang penuh rasa bersalah karena kehilangan satu-satunya orang yang benar-benar mencintainya tanpa syarat.

Selesai sarapan, Amara mengunci diri di kamar. Dia mulai merencanakan langkah-langkahnya dengan hati-hati. Pernikahannya dengan Rafael belum terjadi, dan ini adalah peluang emas untuk menghancurkan pria itu sebelum dia bisa menyentuh hidupnya.

Dia tahu apa yang harus dilakukan. Rafael, dengan wajah tampan dan kekayaan keluarganya, adalah pria yang banyak diidamkan wanita. Namun, di balik semua pesonanya, dia adalah pria dingin dan egois yang hanya peduli pada dirinya sendiri. Amara tersenyum dingin. Kali ini, dia yang akan memainkan Rafael seperti boneka di tangannya.

Lalu ada Isabella. Wanita itu berpura-pura menjadi teman baiknya hanya untuk menusuknya dari belakang. Di kehidupan sebelumnya, Isabella mencuri desain perhiasan Amara dan membuatnya dituduh plagiat hingga kehilangan reputasi di dunia desain. Amara mengepalkan tinjunya. Kali ini, dialah yang akan merusak reputasi Isabella, menghancurkan hidup wanita itu hingga tak ada yang tersisa.

Namun sebelum itu, ada satu orang lagi yang harus dia pikirkan-Andre, sahabat lamanya yang selalu hadir di saat-saat sulit. Di kehidupan sebelumnya, Amara telah mengabaikan perhatian tulus Andre, terlalu sibuk mengejar cinta Rafael yang tak berharga. Kali ini, dia bertekad untuk memperbaiki kesalahan itu.

Amara menatap dirinya di cermin. Mata itu kini menyala penuh dengan kebencian dan tekad. "Hidupku adalah milikku. Tidak ada yang bisa menghancurkannya lagi."

Babak baru telah dimulai, dan Amara siap memainkan perannya dengan sempurna.

Bab 2

Amara menghela napas dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya sebelum keluar dari kamarnya. Kunci keberhasilannya ada pada ketenangan. Ketenangan untuk mengamati, untuk memahami, dan untuk membalas setiap perlakuan yang pernah dia terima. Di kehidupan ini, dia tahu bahwa tidak ada lagi ruang untuk kelemahan, tidak ada lagi alasan untuk menangis diam-diam di sudut kamar. Dia harus kuat-lebih kuat dari sebelumnya.

Langkah kakinya mantap saat melangkah keluar dari rumah. Di luar, matahari pagi berkilau hangat, tapi tidak ada kehangatan yang dirasakannya. Hanya udara dingin yang menyentuh kulitnya. Dunia seolah menantinya untuk bertindak, untuk mengubah nasibnya yang telah ditulis ulang.

Ia mengingat pertemuannya dengan Rafael yang pertama kali terjadi delapan tahun lalu-sebuah pertemuan yang penuh dengan janji dan harapan palsu. Saat itu, Rafael datang dengan pesona yang luar biasa, senyumnya yang memikat membuat Amara merasa seperti dia adalah satu-satunya wanita di dunia ini. Mereka jatuh cinta begitu cepat, atau lebih tepatnya, Amara jatuh cinta pada seorang pria yang ternyata hanya melihatnya sebagai objek untuk kepuasan pribadinya.

Rafael, pria yang selalu menganggap dirinya lebih baik.

Amara menarik nafas, menepis kenangan itu dengan keras. Tidak lagi. Aku tidak akan menjadi wanita itu lagi.

Langkahnya menuju kafe kecil yang biasa ia kunjungi bersama ibunya, tempat di mana pertama kali Rafael memperkenalkannya pada dunia gemerlap yang penuh tipu daya. Amara duduk di meja dekat jendela, memandang ke luar dengan mata yang tajam. Di sana, di tengah keramaian, ia bisa melihat sosok pria yang pernah menjadi segalanya bagi dirinya-Rafael.

Dia mengenakan jas hitam rapi, berdiri di samping Isabella, wanita yang selalu merasa lebih berhak atas segala sesuatu. Amara memandang mereka dengan tatapan penuh kebencian. Isabella sedang tertawa dengan Rafael, seolah dunia ini adalah milik mereka berdua. Tanpa rasa bersalah, wanita itu berbicara tentang bisnis mereka yang berkembang, merencanakan masa depan yang sempurna.

Mereka begitu percaya diri.

Amara bisa merasakan betapa busuknya kebahagiaan mereka. Isabella, dengan segala kecantikannya, menyembunyikan ambisinya yang tak terbatas. Amara pernah percaya bahwa wanita itu teman baiknya, sampai akhirnya dia menyadari bahwa Isabella hanyalah seekor ular berbisa yang menunggu waktu untuk menggigit.

Namun kali ini, semuanya akan berbeda. Amara tahu siapa yang harus dia hadapi dan bagaimana cara menghancurkan mereka satu per satu. Setiap langkah yang diambil harus dihitung dengan cermat, setiap keputusan harus memiliki dampak yang besar.

Rafael dan Isabella terlihat begitu bahagia, tapi Amara tahu bahwa kebahagiaan itu rapuh. Seperti yang pernah dia alami, kebahagiaan palsu itu hanya akan bertahan sementara. Tak lama, semuanya akan runtuh.

Amara memutuskan untuk tidak menghampiri mereka dulu. Dia harus memulai dari yang lebih kecil, dari hal-hal yang selama ini terlupakan oleh mereka. Sebuah senyum kecil terukir di bibir Amara saat matanya tertuju pada ponselnya. Ada pesan dari Andre-sahabat lama yang pernah sangat berarti dalam hidupnya.

"Amara, aku tahu kamu sedang melalui banyak hal. Jika kamu butuh tempat untuk beristirahat, aku di sini. Selalu untukmu."

Pesan itu memicu perasaan campur aduk dalam dirinya. Andre adalah satu-satunya orang yang tak pernah berusaha mengubah dirinya. Andre adalah pria yang selalu ada di saat-saat buruk, yang selalu mendukung keputusan-keputusannya tanpa pernah menghakimi. Namun, di kehidupan sebelumnya, Amara tidak pernah menghargai kehadirannya. Dia terlalu sibuk mengejar Rafael yang tidak pernah memperhatikannya dengan sepenuh hati.

Kali ini, dia tidak akan mengabaikannya.

Amara membalas pesan itu, mengatur janji untuk bertemu. Mereka tidak perlu tahu tentang rencananya. Andre tidak perlu tahu tentang kebenciannya pada Rafael dan Isabella, dan tentang bagaimana Amara berencana membalas dendam. Dia hanya ingin melihat Andre, untuk merasa bahwa dia masih memiliki satu orang yang benar-benar peduli padanya.

Setelah menulis balasan, Amara berdiri, melangkah keluar dari kafe, dan menuju jalanan yang lebih sepi. Hatinya terasa lebih ringan setelah mengirim pesan itu. Langkahnya tidak lagi dipenuhi kebencian, namun lebih pada rasa tenang yang aneh. Mungkin ini adalah langkah pertama menuju penebusan, atau mungkin, ini adalah awal dari sesuatu yang lebih besar.

Namun, begitu ia melangkah ke sudut jalan, suara familiar memanggilnya, membuat tubuhnya menegang.

"Amara, kita perlu bicara."

Amara menoleh. Di sana, berdiri Rafael dengan wajah serius. Wajah yang dulu begitu ia cintai, tapi kini hanya mengingatkan dirinya pada penderitaan.

"Apa yang kamu inginkan, Rafael?" suara Amara terdengar datar, meski di dalam hatinya, ada gemuruh yang tak bisa ia tahan.

Rafael mendekat, matanya penuh dengan tatapan khawatir yang ia tahu hanyalah topeng. "Amara, aku tahu kamu marah. Tapi... kita bisa perbaiki semuanya. Aku akan menjelaskan semuanya."

Amara menghela napas, menatap Rafael dengan tatapan tajam yang penuh kebencian. "Jangan berpura-pura peduli sekarang. Semua sudah terlambat, Rafael. Aku tidak butuh penjelasanmu."

Rafael tampak terkejut dengan jawaban dinginnya. "Amara, tolong. Jangan buat ini lebih sulit. Kamu tahu aku mencintaimu."

"Cinta?" Amara tertawa pelan, tapi suara tawanya begitu tajam. "Jika itu cinta, Rafael, aku adalah orang bodoh yang mempercayainya. Tapi aku sudah tidak bodoh lagi. Jadi, simpan semua kata-kata manismu untuk Isabella."

Rafael terdiam sejenak, ekspresinya berubah. "Isabella... itu tidak seperti yang kamu pikirkan."

Amara tersenyum sinis. "Aku sudah cukup mendengar kebohonganmu. Sekarang pergilah sebelum aku menyesal telah mendengarkanmu sama sekali."

Rafael memandangnya dengan tatapan campuran antara terkejut dan kecewa. "Amara, aku akan membuatmu menyesal."

Amara hanya memandangnya dengan tatapan kosong, menyadari bahwa kalimat itu tidak lagi menakutkan. Rafael tidak tahu, tapi sekarang dia adalah bagian dari rencananya. Dan kali ini, Amara yang akan membuatnya menyesal.

Bab 3

Langkah Rafael mundur perlahan, tetapi tidak ada penyesalan yang terlihat di wajahnya-hanya ada sedikit kebingungannya, yang disertai dengan sedikit kesombongan yang mulai ia hilangkan. Amara tidak peduli. Semua kata-kata manis Rafael, yang dulu membuat hatinya berdebar, kini hanyalah serpihan-serpihan dusta yang sudah tak berarti lagi.

"Dengar, Rafael. Aku sudah selesai denganmu," ujar Amara dengan suara yang dingin, terputus di antara udara yang terasa sangat berat. Kata-katanya mengalir begitu cepat, seolah setiap kalimat merupakan pukulan yang dia simpan bertahun-tahun, tak pernah diungkapkan, kini keluar begitu saja. "Aku tidak peduli dengan penjelasanmu. Aku tidak peduli dengan apa yang kamu rasa. Semua yang kamu katakan hanya kebohongan, dan aku sudah terlalu lelah untuk mendengarnya."

Rafael tampak kehilangan kata-kata. Di mata Amara, itu adalah ekspresi pertama yang tulus ia lihat dari pria itu dalam waktu yang lama. Bukan penyesalan, bukan cinta, hanya kebingungan-sebuah kebingungan yang seharusnya datang jauh lebih dulu, saat dia pertama kali mengkhianati dan mengecewakannya. Namun, seperti yang biasa Amara lakukan, dia menahan emosinya, menyembunyikan segala rasa sakitnya di balik lapisan keteguhan hati yang tak akan pecah.

"Amara," panggil Rafael lagi, suaranya kali ini lebih rendah, hampir seperti permohonan. "Tolong beri aku kesempatan untuk menjelaskan. Aku-"

"Cukup!" Amara memotongnya dengan keras, suaranya penuh keteguhan yang membuat Rafael terdiam. "Tidak ada yang perlu kamu jelaskan. Aku sudah tahu semuanya. Kamu hanya menginginkan Isabella. Kamu hanya menginginkan kesenanganmu sendiri. Aku... aku hanya sebuah bagian kecil dari permainanmu."

Rafael terdiam. Tak ada jawaban. Ia hanya menatap Amara dengan tatapan kosong, seakan mencoba memahami perubahan yang begitu drastis pada dirinya-perubahan yang seharusnya ia sadari jauh lebih dulu, tapi ia terlalu sibuk bermain dengan perasaannya sendiri.

Amara tidak lagi merasa marah. Yang ada hanyalah rasa kosong yang dalam, rasa lelah yang begitu berat. Semua kebohongan yang pernah ditutupi dengan senyum dan janji-janji manis kini terbuka begitu saja di hadapannya. Ia merasa begitu bodoh pernah mempercayakan hidupnya pada seseorang yang hanya menganggapnya sebagai sebuah alat untuk mencapai tujuannya.

"Amara..." Rafael memanggilnya lagi, kali ini ada sedikit penyesalan yang terlihat di matanya, namun itu hanya menambah kebencian dalam diri Amara.

"Jangan sebut namaku lagi," katanya, suaranya teredam, namun tegas. "Jangan sebut namaku lagi, Rafael, karena aku tidak akan pernah menjadi orang yang kamu kenal lagi."

Dia melangkah pergi begitu saja, tidak menoleh sedikit pun. Hatinya terasa begitu berat, namun dia tahu, setiap langkah yang ia ambil adalah langkah yang membawanya lebih dekat pada tujuannya. Amara tidak ingin menghabiskan lebih banyak waktu dengan Rafael-tidak ada lagi alasan baginya untuk mengingat pria itu sebagai bagian dari hidupnya. Kehidupan yang dulu penuh dengan harapan, kini hanya menjadi kenangan yang tak akan pernah ia biarkan menguasai dirinya lagi.

Amara berjalan menyusuri trotoar yang ramai, namun hatinya terasa sunyi. Dia merasa kosong, namun pada saat yang sama, ada perasaan kuat yang mulai tumbuh di dalam dirinya-sebuah tekad yang bahkan ia sendiri tidak bisa menghindari. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Amara merasa seperti wanita yang benar-benar memegang kendali atas hidupnya.

Ia melangkah tanpa tujuan, tanpa rasa takut, karena kali ini, dia tahu apa yang harus dilakukan. Ini adalah hidup barunya. Ini adalah hidup yang telah diberikan kembali padanya.

Setelah beberapa saat berjalan tanpa arah, Amara tiba di sebuah taman kecil yang sepi. Dia duduk di bangku yang menghadap ke kolam dengan air yang berkilauan, mencoba menenangkan pikirannya yang masih dipenuhi amarah.

Tiba-tiba, sebuah suara mengganggu ketenangannya.

"Amara?"

Amara menoleh, matanya langsung tertuju pada sosok yang muncul dari balik pohon-Andre, pria yang selama ini selalu ada di sampingnya, namun yang selalu ia abaikan. Andre memandangnya dengan tatapan lembut, namun ada kecemasan yang jelas terlihat di matanya.

"Amara, kau baik-baik saja?" tanya Andre, langkahnya mendekat, berhenti beberapa langkah di depan Amara.

Amara menghela napas. Ini adalah pertemuan yang sudah lama ia hindari, namun sekarang, rasanya seperti tak ada pilihan.

"Aku baik, Andre," jawab Amara, meski ada sedikit keraguan dalam suaranya. "Aku hanya... aku hanya perlu waktu untuk diriku sendiri."

Andre duduk di sebelahnya, namun tidak mencoba untuk menyentuh atau mendekatkan diri. Ia tahu betul, Amara butuh ruang, butuh waktu untuk memahami semua yang terjadi.

"Aku tahu," ujar Andre pelan. "Tapi kamu harus tahu, Amara, aku selalu ada untukmu. Apapun yang terjadi, aku tidak akan pergi. Aku... aku sangat peduli padamu."

Amara menatap Andre, ada sedikit rasa terkejut di matanya. Selama ini, dia selalu melihat Andre sebagai teman, namun ada sesuatu dalam tatapan pria itu kali ini yang membuatnya merasa cemas-sesuatu yang lebih dari sekadar persahabatan.

"Aku tahu," jawab Amara dengan suara rendah. "Aku... aku juga peduli padamu, Andre."

Namun, meski kata-katanya terdengar manis, ada jarak yang besar antara mereka. Amara tahu bahwa dirinya masih jauh dari siap untuk membuka hatinya kembali. Semua yang telah terjadi-semua yang telah dia alami-terlalu berat untuk diungkapkan begitu saja.

Tapi di sisi lain, ada perasaan hangat yang mulai tumbuh dalam dirinya setiap kali Andre ada di dekatnya. Perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya-perasaan yang mungkin, hanya mungkin, bisa memberinya alasan untuk merasa sedikit lebih hidup.

Namun, semua itu masih terlalu dini. Amara tahu bahwa langkah pertama yang harus ia ambil adalah melawan Rafael dan Isabella, bukan membuka hatinya pada seseorang yang belum ia pahami sepenuhnya.

Untuk saat ini, Amara hanya perlu fokus pada satu hal: balas dendam.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED