Bab 1

Enjoy reading ...

Rita tertegun melihat kesibukan pagi ini di rumah. Sang mertua sedang sibuk di dapur memerintah beberapa pembantu untuk memasak besar hari ini. Sementara setahu dirinya tidak ada acara apapun hari ini.

"Jangan lupa buah-buahan itu dicuci dulu baru masukkan kulkas. Ingat makanan sehat harus selalu ada mulai hari ini," perintah Rakmi.

"Ada acara apa, Bu?" tanya Rita. Ia merasa tidak enak hati karena hari ini bos besar dari kantor pusat akan datang dan ia tidak bisa membantu karena hari cuti sudah hampir habis untuk tahun ini.

"Tidak ada apa-apa. Kejutan untukmu, ibu yakin kamu akan senang nantinya."

Melihat Rita yang tertegun di tempatnya berdiri, Rakmi kembali menambahkan. "Sungguh. Ya, sudah sana siap-siap sarapan terus berangkatlah kerja."

"Maaf ya Bu, Rita tidak bisa membantu."

"Sudahlah, tidak apa-apa. Kamu sudah cukup menemani Ibu saat di Rumah Sakit. Itu saja sudah membuktikan kalau kamu berguna."

Rita tersenyum menanggapi, tidak seperti adat biasa ibu mertua beramah tamah seperti itu dengannya. Namun demi menghormati sang mertua ia menuruti permintaan dengan berbalik badan dan segera menuju ruang makan. Hari ini ia juga sarapan sendirian karena sang suami belum kembali dari luar kota. Ia sudah dua hari tak bisa menghubungi sang suami dan hanya mendapatkan pesan tadi pagi untuk tidak mengkhawatirkan keadaannya.

Rita mendongak saat melihat Yuda datang menemuinya di ruang makan.

"Mobilnya sudah saya siapkan Bu. Pak Anton bilang pimpinan baru akan datang," kata Yuda, "Ibu yakin tidak mau saya antar saja?"

"Iya saya sudah tahu. Tapi tidak perlu saya bisa pergi sendiri untuk hari ini. Besok lusa saya baru kembali. Terima kasih ya." Rita lantas berdiri dan menyambar tas dinasnya.

Ponselnya berdering dan panggilan dari mamanya menyapa pagi ini. Setidaknya hatinya yang merasa kesepian selama dua bulan terakhir ini sering ditinggal pergi sang suami.

"Hai Nak, gimana kabarmu hari ini?"

"Baik Ma. Hari ini Rita harus ke kota sampai lusa baru kembali. Ada pimpinan baru yang akan ditempatkan di cabang."

"Mama sudah bilang bukan. Lebih baik kamu pindah dari desa itu. Tidak ada gunanya kamu berlama-lama di sana. Suamimu juga sudah jarang di rumah."

Rita tertegun mendengarkan perkataan sang mama. Ia tidak pernah menceritakan perihal sang suami yang sangat sibuk beberapa tahun terakhir ini kepada keluarganya.

"Kenapa diam? Benarkan apa yang Mama bilang. Kamu juga lebih mudah untuk bekerja lebih hemat waktu perjalanan."

"Mas Apri tidak mau pindah, Ma. Kasihan ibu. Ibu nggak mau pindah dari desa ini."

"Dan menyusahkan anak dan menantunya. Seharusnya ibu mertuamu itu sadar memiliki anak yang memiliki pekerjaan mapan di kota dan juga menantu yang menjadi wanita karir, bukannya memaksakan kehendak untuk tetap tinggal di desa. Contoh seperti Mama ini, tau dirilah Abangmu pindah ke kota dan meminta Mama sama papa ikut. Ya, kami ikut bukan? Kami juga tidak ingin merepotkan kamu juga. Kewajibanmu sudah berubah untuk mengurus mertua dan suami."

"Rita rasa bukan begitu Ma. Rita yakin maksud ibu itu baik untuk tidak meninggalkan peninggalan bapak."

"Sudahlah berhenti membela mertuamu itu. Mama sudah tahu bagaimana perlakuan beliau terhadap kamu. Coba kamu keluar dari rumah itu. Toh, ada menantunya yang lain di sana. Andai kamu mau menuruti Mama. Saat ini kamu pasti sudah hamil, lagi."

"Ma .... Tolong jangan ungkit itu lagi," ujar Rita lirih. Hatinya sedih mengingat janin yang sudah gugur dua kali.

"Mertuamu itu terlalu keras terhadapmu. Pembantunya saja sudah banyak tapi masih juga memaksa kamu untuk mengurus rumahnya yang besar. Mama tahu, mertuamu itu keras sama kamu dan membedakan perlakuannya terhadap menantunya yang lain."

"Mereka punya anak yang harus di urus, Ma. Sementara Rita hanya mengurus diri sendiri dan Mas Apri." Dengan sabar, Rita menanggapi ucapan Daya yang memang benar adanya. Namun ia tahu, tak patut jika orang tuanya memiliki pikiran negatif terhadap besan.

"Mama tetap yakin, jika kamu keluar dari rumah itu. Pasti kamu akan cepat memiliki anak kembali dan kali ini pasti cucu Mama akan berhasil lahir dengan sehat. Terlalu banyak tekanan kamu terima di sana Nak. Tidak semua menantu bisa cocok tinggal dengan mertua apalagi dengan mertua yang pilih kasih. Percaya deh sama Mama. Ya sudah kalau begitu, tolong pikirkan kembali permintaan Mama ya?"

"Baik Ma," jawab Rita yang ini pembicaraan ini cepat berakhir. Perasaannya tidak menentu juga terus diungkit tentang hal itu. Memang benar mertuanya selalu pilih kasih antara dirinya dan menantu yang lain. Namun hal itu tidak ingin terlalu ia pikirkan. Ia cukup percaya dengan sang suami, Apriyanto yang akan selalu setia terhadapnya.

"Aku nggak mungkin salah lihat Ya. Itu tadi beneran suami mbak Rita," kata Mia sekali lagi mencoba meyakinkan Evi.

"Pak Apri itu sedang keluar kota, Mbak," kata Evi.

"Itu buktinya. Nggak cuma aku, suamiku juga lihat kok. Kamu nggak lupa 'kan, kalau suamiku salah satu mandornya Pak Apri?"

"Ada apa ini?" tanya Rita begitu tiba di bilik kerjanya.

"Eh, Mbak Rita. Ini mbak Mia katanya kemarin lihat suami Mbak di restoran," ujar Evi dengan meringis tidak enak kepada Rita.

"Benar begitu Mbak?" tanya Rita pada rekan kerjanya itu.

"Benar Rit. Aku sendiri juga kaget dan tak mungkin salah lihat. Aku nggak tega sebetulnya mau ngomong ini tapi mungkin sudah saatnya kamu menuruti permintaan suami untuk tinggal di rumah. Supaya suami betah dan mungkin saja tidak main serong di luar. Maaf loh, Rit. Kadang kala pria memang suka begitu. Tapi kalau suamiku sih setia," ujar Mia.

"Wah, kalau aku jadi Mbak Rita tentu nggak akan berhenti bekerja. Apalagi punya suami tukang selingkuh nggak banget deh. Mending cerai deh aku," ujar Evi sebelum meneguk teh hangat dari cangkir dalam genggamannya.

"Mbak, aku nggak bisa berhenti bekerja. Tahu sendirikan mertuaku seperti apa. Tambah nggak ada artinya aku kalau nganggur di rumah. Aku juga yakin kalau Mas Apri setia. Mungkin dia sedang bertemu dengan kliennya."

"Aku tahu itu. Kamu cobalah program kandungan."

Rita menghela napas panjang. "Mas Apri dah nggak mau lagi setelah aku keguguran yang kedua kalinya. Dia nggak mau bikin aku sakit lagi."

"Lalu sampai kapan kamu akan menerima cibiran dari keluarga besar suamimu?"

"Aku akan terus bertahan, selama Mas Apri masih bisa setia, Mbak. Bukankah anak itu rejeki dari Tuhan. Kita hanya bisa berdoa dan berikhtiar saja. Selebihnya keputusan hakiki dari Yang Maha Esa."

"Iya, Mbak paham itu. Semoga saja, desas-desus jika ibu mertuamu akan menyuruh suamimu untuk menikah lagi. Cuma hanya isapan jempol saja ya? Terutama apa yang aku lihat dan suamimu lihat juga bukan apa-apa. Kamu juga sudah punya suami kaya masih juga kerja."

"Iya Mbak. Aku juga sempat mendengar hal itu. Tapi ya, kamu tahu sendiri sekarang ibu mertuaku seperti menjaga jarak denganku. Mungkin beliau masih kecewa saat aku keguguran."

"Bu Rahmi nggak seharusnya melakukan hal seperti itu. Yang berhak sangat kecewa di sini itu kamu."

Bab 2

Enjoy reading ....

Untuk kesekian kalinya Rita mendengar hal itu, namun dirinya sendiri tidak pernah mengetahui langsung perkara sang mertua ingin mencarikan istri muda untuk sang suami. Suaminya sendiri, Apriyanto juga tidak pernah menyinggung hal itu dengannya. Jujur, sebagai wanita biasa walau tak ingin mempercayai hal itu, tetap saja membuat dirinya cemas. Bahkan kini muncul rasa curiga di hatinya, dan rasa itu semakin kuat seiring berjalannya waktu. Sudah sering ia mencoba meredam rasa khawatir dan curiga itu supaya tidak terjadi tentu saja, namun dengan seringnya sang suami pergi keluar kota demi mengurus ladang dan kebun warisan ayahnya turun temurun tak ayal membuatnya curiga. Menepis rasa curiga dengan berpikir bahwa dirinya hanya kesepian itu bukan perkara yang mudah.

Bagi Rita, mendengar suara bayi dan anak-anak di rumah mertuanya saja sudah membuatnya sedih dan terharu. Dua kali keguguran membuatnya takut untuk memiliki momongan lagi tapi juga rindu memiliki anak dari rahimnya sendiri. Ia sering menawarkan diri ikut mengasuh keponakan suaminya tetapi sering kali tak mendapat izin dari ibu mertuanya dengan alasan dirinya tak memiliki anak jadi tidak mampu untuk mengasuh anak dengan baik. Rita hanya bisa mengalah, walaupun dulu saat ia kuliah, dirinya pernah membantu temannya untuk memberikan les private anak-anak usia pra sekolah kursus piano. Di rumah mertuanya juga dirinya tak leluasa menyalurkan hobinya tersebut.

“Kamu sudah siapkan semua bukan? Saya harap kamu akan betah di kantor pusat,” ujar Anton.

“Maksud Bapak?” tanya Rita yang kini duduk di depan Anton setelah menyerahkan dokumen yang akan mereka bawa ke pusat hari ini.

“Permintaan berubah. Direktur memintamu menjadi asisten pribadinya. Beliau tidak jadi pindah ke sini.”

Mata Rita membulat tidak percaya dengan apa yang dikatakan sang bos. “Maaf Pak, kenapa mendadak sekali? Saya harus izin suami dulu. Kalau saya dipindahkan ke kantor pusat sudah bisa dipastikan jika tempat tinggal saya juga harus berpindah.”

Anton menghela napas panjang dan menatap Rita dengan tatapan prihatin. “Saya tahu Rita, tapi beliau mendadak sekali bilang hari ini. Dan itu pun harus kamu. Saya tahu, kamu pasti akan mempertanyakan kenapa tidak sekretaris yang lebih muda bukan? Dan jawabannya adalah tidak. Beliau meminta dirimu secara langsung. Saya yakin kamu belum membaca surel pagi ini, benar bukan?”

Rita menunduk mengakui kekhilafannya belum memeriksa pagi ini akibat mendengarkan ghibahan antara Mia dan Evi tadi.

“Belum Pak.” Jawabnya lirih.

“Bicarakan hal itu dulu dengan suamimu. Kamu masih ada waktu untuk memutuskan. Saya akan bicara dengan direktur baru nanti. Tapi, hari ini kamu tetap ikut ya?”

“Iya Pak. Saya akan bicarakan dulu dengan suami saya.”

Sepuluh menit kemudian, Rita menghempaskan tubuhnya kembali di kursi kerjanya seraya menghela napas panjang berkali-kali. Rasanya hidupnya semakin pelik akhir-akhir ini. Sekarang dirinya harus memutar bagaimana caranya untuk membujuk sang suami dan juga ibu mertua agar mengizinkan dirinya merantau. Karirnya juga harus dipertimbangkan. Toh, sang suami juga jarang berada di rumah.

‘”Bagaimana hasil hari ini?” tanya Evi yang sudah bersandar di tepi mejanya.

“Maksud kamu?” tanya Rita yang tersadar dari lamunan.

“Aku tahu kamu mau di mutasi ke pusat.”

Rita mengusap sisi kepalanya frustasi dan menyangga kepala dengan kedua tangannya seraya menumpukan siku di meja.

“Aku benar-benar bingung sekarang. Satu sisi aku tidak ingin mengecewakan petinggi perusahaan tapi juga bagaimana dengan suami dan mertuaku?”

“Kalau aku jadi kamu, aku jelas akan menerima mutasi ini. Lagi pula jika apa yang dikatakan mbak Mia adalah benar. Maka sudah tidak sepatutnya kamu pertahankan lagi pernikahanmu. Aku tahu, omonganku ini terdengar kasar dan frontal. Tapi kamu harus membuka mata lebar-lebar dan cari buktinya. Kesempatan besar untukmu mengumpulkan bukti di kota. Dengarkan aku, kita sudah berteman sangat lama bahkan sejak sebelum kamu mengenal suamimu. Tolong, pikirkan baik-baik ya?” nasehat Evi dengan menekankan nada suaranya hingga sangat menyakinkan pada dua kalimat terakhir.

Rita tertegun mendengarkan semua perkataan Evi, marah ataupun tersinggung dengan pernyataan sahabatnya tidak bisa ia lakukan. Jika menuruti batinnya yang gelisah, ia setuju dengan semua ucapan sang sahabat. Namun menimbang usia pernikahannya yang sudah menginjak sepuluh tahun dan juga perlakuan suaminya yang selama ini sangat baik terhadapnya, rasanya tidak mungkin sang suami bermain api di belakangnya.

“Aku benar-benar bingung,” ujar Rita.

Evi lantas meraih kedua tangan Rita dan menggenggamnya erat. “Nggak usah bingung. Buktikan dulu ya. Aku akan bantu kamu, aku juga akan di mutasi ke kantor pusat. Kita cari bukti sama-sama. By the way, aku kenal dengan direktur kita. Jadi santai saja, walaupun dia sangat serius orangnya. Kamu pasti akan betah nantinya jika sudah kenal,” kata Evi seraya tersenyum tipis dengan kedua alisnya yang menggoda Rita.

“Gila kamu ih …. Ingat aku ini istri orang.”

“Eleh … semoga aja apa yang dikatakan mbak Mia benar. Kamu tahu kan dari dulu aku sangat tidak suka dengan suamimu. Bisa jadi memang dia selama ini selingkuh di belakangmu.”

“Jangan gitu, semangatin aku lah,” ujar Rita dengan raut wajah cemberut menatap Evi.

“Ini aku sedang menyemangati kamu. Dengar Rita, usiamu masih muda dan masih bisa mencari yang lain. Sejujurnya ini bukan kali pertama aku dengar jika suamimu selingkuh. Aku sering lihat dia bersama wanita muda. Tapi aku nggak tahu apakah ini adalah orang yang sama dengan yang dikatakan sama mbak Mia. Aku selama ini diam, demi menjaga perasaanmu tetapi sejak mendengar desas-desus pembicaraan mertuamu itu kayaknya memang sudah kelewat batas mereka itu,” ujar Evi dengan raut wajah serius dan prihatin, “aku saja heran bagaimana kamu bisa bertahan di rumah itu dengan perlakuan berbeda dari mertuamu.”

“Dari mana kamu tahu?”

“Iparmu sering cerita sama adikku Herni. Dia merasa tidak enak hati karena sering dianak emaskan oleh mertuamu hanya karena dia lebih dulu memberikan cucu.”

“Entahlah, aku tidak tahu harus bagaimana untuk saat ini,” kata Rita.

“Kita lanjutkan nanti saja. Sebelum bosmu tahu kita ngerumpi, hi hi,” kata Evi seraya melirik cctv dan melenggang meninggalkan meja Rita.

“Kamu di mana?” Pesan singkat dari Apriyanto.

“Kerja Mas.”

“Pulang jam berapa?” tanya Apriyanto lagi.

Rita mengerutkan dahinya. Ia heran, tidak biasanya suaminya menanyakan hal yang memang suaminya tahu. Walau jarang berkirim pesan atau telepon saat dinas keluar tetapi Rita setiap hari selalu memberikan kabar kegiatannya kepada sang suami.

“Seperti yang aku chat tadi malam Mas. Hari ini aku tidak pulang. Ada dinas ke kantor pusat.”

“Apa tidak bisa diwakilkan?”

Rita menghela napas panjang membaca pesan itu. Selalu begitu, suaminya akan sangat keberatan jika dirinya pergi ke kantor pusat. Ini lah sebabnya Rita sangat bingung untuk mengutarakan izin mutasinya.

“Mas, perusahaan ini bukan punyaku. Tidak bisa seenaknya minta ganti orang lain. Aku sudah terlalu sering meminta hal itu juga Mas.”

“Kalau begitu keluar saja. Aku mampu menghidupimu!”

Tanda seru yang disematkan di akhir kalimat jelas menunjukkan jika sang suami sudah sangat marah kepadanya saat ini.

“Tidak bisa Mas, demi karirku juga. Mas sudah berjanji untuk mendukungku ‘kan?”

“Kamu sudah mulai senang membantah suami ya?!”

Kalimat keras dari Apriyanto seketika membuat Rita tertegun dan hanya bisa mengamati layar ponselnya. Suaminya berubah, suami yang selama ini ia tahu adalah orang yang lembut dan penyabar berubah menjadi pemarah dalam waktu singkat.

“Maaf, Mas hanya kangen sama kamu.” Begitu pesan dari Apriyanto berikutnya.

“Kalau begitu pulanglah, Mas.”

“Segera.”

Sementara itu dari pintu kantin berdiri Anton yang menatap pada meja yang ditempati oleh Rita dan beberapa rekan kerjanya.

“Bagaimana apa dia setuju?”

“Belum, dia akan membicarakan dengan suaminya terlebih dahulu.”

“Aku tunggu kabar secepatnya.”

“Ck … dasar anak tidak sabaran,” gerutu Anton pada seseorang yang terhubung dengannya di ponsel yang kini menempel di telinganya.

“Om, usiaku sudah 35 tahun.”

“Lalu?”

“Sudah cukup lama aku menunggunya dan ini adalah kesempatan baik.”

Bab 3

Arka mematikan layar laptopnya saat bersamaan pintu kantornya terbuka muncul-lah sang ayah, Bisma.

“Tumben Ayah mampir, bukannya Ayah akan mempercayakan urusan kantor sepenuhnya kepada Arka?”

“Tentu saja. Ayah hanya penasaran kepada kamu membatalkan kepindahan ke kantor cabang?” ujar Bisma seraya mendudukkan diri di seberang meja sang anak.

“Kekasihku akan pindah ke sini, Yah.”

Bisma menyipitkan matanya. “Jangan main-main Arka. Ingatlah dia sudah menjadi istri orang.”

Arka menggeleng cepat dan yakin disertai seringai lebar di wajahnya. “Tidak akan lama lagi, ia akan menjadi janda.”

“Bagaimana kamu bisa seyakin itu?”

“Ayah masih ingat bukan saat aku bersumpah akan merebutnya dari Apri jika pria itu melukainya?”

“Iya. Kamu mengatakan dengan sangat yakin saat itu. Tapi itu 'kan saat kalian bahkan baru lulus kuliah. Ingat Arka, Apri itu sahabatmu.”

“Justru karena dia sahabatku dan merebut wanita yang aku sukai maka dari itu aku tidak akan tinggal diam dia melukai, Ritaku.”

“Apa yang akan kamu lakukan?”

“Tidak ada. Waktu yang akan melakukan semuanya. Aku yakin Rita tidak akan sebodoh itu bertahan di sisi Apri setelah mengetahui kenyataan yang ada.”

“Apa kamu menjebak Apri?” tanya Bisma dengan nada resah. Ia sangat tahu jika putranya ini bisa melakukan segala cara paling licik sekalipun untuk mewujudkan keinginannya.

“Tidak perlu, Yah. Sikap tidak setia Apri sendiri yang akan membuat Rita berpaling kepadaku.”

“Astaga, kamu sudah memperhitungkan semuanya?”

“Aku harus mengambil peluang bukan? Tanpaku, Rita juga tidak mungkin akan bekerja di kantor cabang.”

Bisma hanya mengangguk menanggapi ucapan sang anak. Bagaimanapun dirinya juga tahu jika sang anak sudah mencintai Rita sejak masih belia. “Ayah hanya bisa menasehatimu untuk berhati-hati. Ayah juga tahu Apri orang yang seperti apa. Dia pasti tidak akan mudah melepaskan Rita begitu saja, bagaimanapun tabiatnya diluaran sana.”

“Ayah tidak perlu khawatir tentang itu. Dia sudah sekali menghancurkan masa depan yang aku rancang dengan Rita dan kali ini aku tidak akan tinggal diam."

"Jangan nekad, kamu tadi sudah bilang jika tidak akan melakukan apapun bukan?"

"Ayah tahu, banyak hal yang sudah terjadi pada rumah tangga mereka. Hal buruk yang mungkin tidak akan terbayangkan oleh Ayah. Sepertinya aku akan berubah pikiran. Aku akan merebut Rita."

Bisma bangun dan berjalan ke pintu, namun sebelum ia membuka pintu ruangan itu ia kembali bertanya kepada Arka, “Bagaimana jika Rita tahu yang sebenarnya jika selama ini kamulah atasannya?”

“Kaget mungkin. Tapi Arka yakin dia pasti bisa menerima semuanya.”

“Jangan lupa kamu juga berhutang maaf kepadanya.”

“Tentu Ayah. Aku masih sangat mengingatnya. Sebentar lagi dia datang dengan om Anton.”

“Ada rapat?”

“Tidak ada. Aku hanya mencari alasan supaya dia bisa kesini saat suaminya membawa madunya ke rumah.”

“Apa maksudmu?”

“Apri membawa madunya ke rumah ibunya dan akan memperkenalkan kepada Rita.”

“Apakah dia tahu jika suaminya membawa madunya?”

“Tidak Ayah. Itu sebabnya aku bilang Rita tidak akan lagi mau bertahan di samping Apri aku sangat yakin.”

“Ayah tidak menyangka jika Apri akan setega itu,” ujar Bisma dengan tatapan tidak percaya ke arah Arka, “Yusuf sahabatku yang setia bisa bangkit dari kuburnya jika tahu apa yang diperbuat anaknya.”

Arka menghela napas panjang. “Perlu Ayah ketahui. Tidak semua buah akan jatuh tak jauh dari pohonnya.”

“Aku penasaran dengan Rakmi?”

Arka mendengkus jijik. “Wanita tua itu tentu saja akan membela anak kesayangannya.”

“Kenapa begitu?” tanya Bisma dengan penasaran dan kembali menghempaskan tubuhnya yang masih gagah itu di kursi semula.

“Dari dulu dia tidak menyukai Rita karena rasa tidak sukanya terhadap tante Daya. Wanita itu sungguh tidak bisa memilah urusan pribadi dan juga urusan anak-anaknya. Ditambah lagi Rita tak juga memberikan dia cucu. Lengkap sudah.”

“Wanita itu ternyata masih sama jahat dan Ayah yakin, judesnya pasti sama.”

“Yang terpenting Ayah dan Bunda bisa menerima Rita sebagai pendampingku nantinya.”

“Seperti yakin saja jika dia mau menerimamu,” cibir Erni ibu Arka dari ambang pintu, “wanita pujaanmu sudah datang tapi masih di lobi.”

“Bunda sudah bertemu dengannya?”

“Bunda melihatnya tetapi dia tidak melihat Bunda.”

“Ayo cepat kita berangkat sama-sama.”

“Ke mana?” tanya Bisma dengan kebingungan.

“Makan malam dengan calon menantumu,” jawab Erni.

“Erni jangan keterlaluan. Anak itu masih menjadi istri seseorang.”

“Iya, iya. Seorang yang bahkan tidak bisa menjaga perasaan wanitanya. Tidak perlu diperpanjang lagi. Aku berdoa anak itu segera bercerai dan bisa bersatu dengan anak kita. Terdengar jahat aku ya? Pede pula. Biarlah.” Erni bertanya dan menjawab sendiri kata-katanya yang mendapat balasan satu alis terangkat dari suaminya. Erni mengedikkan bahu dan keluar lebih dahulu disusul suami dan anaknya.

“Lama sekali kalian. Aku sudah ingin pulang bertemu keluargaku,” sungut Anton kepada mereka bertiga begitu bertemu di depan lift.

“Kami sudah di sini jangan cemberut begitu,” tukas Erni dengan menepuk bahu adiknya itu.

“Aku pun sudah lapar. Kamu ikut dengan kami atau tidak?” tanya Bisma.

Anton menggeleng. “Tidak. Istriku sudah memasak di rumah. Aku pulang kalau begitu.”

Sementara itu di lobi kantor. Beberapa kali Rita sudah melirik jam pada ponselnya karena wanita cantik itu tak pernah sekalipun menggunakan jam tangan ataupun perhiasan apapun. Bukannya tidak suka, hanya saja suaminya tidak suka jika ia berhias diri. Dadanya bergemuruh keras sejak Anton meninggalkan dirinya di lobi. Kata atasannya itu ingin menemui bos mereka dulu.

Rita tersenyum begitu melihat Anton berjalan ke arahnya. “Bagaimana Pak? Apa yang harus saya lakukan?” Rita sudah setengah mati penasaran. Biasanya mereka akan mengantarnya ke penginapan yang sudah disediakan kantor bukannya ke kantor pusat diluar jam kerja seperti ini.

“Makan malam,” jawab Anton singkat sebelum kembali menambahkan, “tapi saya nggak bisa ikut. Kamu pergi dengan pimpinan.”

Rita terbelalak. “Apa yang harus saya lakukan?” Tanyanya panik. Ia sangat yakin dandanannya kali ini juga sudah tidak rapi ditambah perjalanan jauh dari kantor cabang ke kota.

Anton dengan serius menatapnya. “Kamu masih segar seperti saat saya melihatmu tadi pagi, jadi tidak perlu panik seperti itu. Mungkin kamu bisa ke toilet dulu untuk memoles lipstick atau lip glos apapun itu namanya.”

Rita menghela napas panjang penuh kelegaan saat Anton dengan gambang mengutarakan itu semua. “Bapak tunggu ya. Saya ke toilet dulu sebentar.”

Anton tidak menyahut, ia pun pergi saat Rita sudah menghilang dibalik koridor yang menuju toilet.

“Mana dia Om?” tanya Arka dengan celingukan mencari keberadaan Rita.

“Di toilet,” jawab Anton singkat seraya menghentikan langkahnya. Ia sudah sangat rindu kepada istri dan kedua anaknya. Mereka sudah lebih dulu berada di kota sejak dua hari yang lalu selama itu dirinya tidak bertemu dan rindu itu harus segera terobati.

“Om, buru-buru banget sih?”

“Kamu ini tidak tahu saja orang sudah kangen rumah begini,” jawab Anton ketus dengan cemberut.

“Maklum Ton. Lakik kelamaan jomlo ya begini mana tahu arti rindu,” sindir Bisma yang kemudian menyikut Arka.

“Ck … Arka hanya menjadi orang yang setia, bukan seperti suami wanita yang ku cinta,” balasnya membela diri.

“Iya, iya.”

“Kak Arka?” tanya Rita yang sudah berdiri di belakang Arka.

Seketika Arka seperti membeku di tempat sembari menduga-duga apakah kekasih hatinya itu mendengar kata-kata terakhirnya. Arka memejamkan mata seraya menghela napas cepat sebelum berbalik berhadapan dengan Rita.

“Iya Rita, saya atasanmu.”

Rita sendiri hanya bisa tertegun di tempatnya berdiri seraya menatap pria tampan yang dahulu kala telah menorehkan luka di hatinya itu dengan mulut setengah terbuka.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED